1 IMPLEMENTASI TEKNIK ROTOSCOPING PADA PEMBUATAN FILM PENDEK BERGENRE THRILLER MENGGUNAKAN METODE VILLAMIL-MOLINA Muhammad Adam Firdaus AZ. Muchamad Fajri Amirul Nasrullah *Jurusan Teknik Informatika. Politeknik Negeri Batam Muhammad. adam1359@gmail. com, fajri@polibatam. Keyword: Rotoscoping, adobe after effect, editing. Thriller ABSTRACT The development of the film industry is currently growing rapidly, it does have an impact on existing technologies especially in editing techniques, thereby causing the number of genres that are popping up, and one was a thriller. This can occur because the editing techniques facilitate the videographer to create a fictitious scenes become look real. Rotoscoping is one frequently used editing techniques to create it. Rotoscoping itself is a technique in film editing by means of tracing live action video footage frame by frame with filter picture selectively from each section that is in the frame and give a more realistic impression in a film. In this final task, later made a film genre thriller, which applies the technique of rotoscoping in Adobe After Effects. The film stresses on the side of his editing, and is expected to later can add insight into the young film makers in the world of cinema. PENDAHULUAN Rasa ingin tahu manusia membuat bertambahnya wawasan dan ilmu pengetahuan untuk menciptakan halhal baru yang dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hal baru yang ditemukan adalah cara untuk mengabadikan sebuah memudahkan manusia untuk mendokumentasikan segala kejadian dan peristiwa. Pada awalnya, film ditemukan oleh Edward Muybridge pada tahun 1872 dengan mengambil 16 gambar objek kuda yang sedang berlari secara berurutan. Beberapa dekade kemudian film pun berkembang dengan pesat hingga bermunculannya industri perfilman. Berkembangnya industri perfilman juga berdampak pada teknologi yang ada. Penggunaan film digantikan oleh memory card, yang perlahan-lahan membuat standard dalam dunia perfilman. Sebelum teknologi perfilman berkembang, seorang aktor memiliki resiko kecelakaan kerja saat menjalani adegan-adegan yang berbahaya dikarenakan belum adanya teknologi editing yang memadahi. Sehingga tak jarang adegan-adegan harus dilakukan secara nyata untuk menciptakan efek dramatis. Dengan adanya teknologi editing dalam dunia perfilman saat ini, resiko kecelakaan dapat Adegan-adegan berbahaya tetap dapat dilakukan dengan, atau tanpa sang aktor melakukan adegan berbahaya tersebut secara nyata. Hasil dari perkembangan teknologi editing dapat membuat adegan fiktif terlihat lebih nyata tanpa harus ada yang terluka. Seperti halnya dalam film bergenre thriller yang didalamnya terdapat adegan-adegan pembunuhan . engan darah yang berceceran dan tubuh yang hancu. Tidak mungkin hanya untuk menciptakan suatu adegan film yang terlihat nyata harus benar-benar membunuh orang atau meledakkannya sehingga adegan tersebut tidak terlihat mengada-ada . Teknologi editing yang digunakan untuk membuat sebuah adegan fiktif menjadi terlihat nyata adalah teknik editing rotoscoping. Rotoscoping merupakan satu dari sekian banyak teknik editing yang dapat digunakan untuk memanipulasi gambar. Teknik ini digunakan untuk menjiplak video live-action frame by frame dengan memfilter gambar secara selektif dari setiap bagian yang ada dalam frame. Hal tersebut mempermudah videographer untuk memberikan kesan dramatis dan menambah estetika yang ada dalam film. Dari pemaparan tersebut, muncullah ide untuk membuat film pendek bergenre thriller yang akan memberikan kesan yang nyata dalam adegan-adegannya dengan menerapkan teknik rotoscoping menggunakan Adobe after effects yang diharapkan dapat menambah pengetahuan para sineas atau videographer dalam dunia II. LANDASAN TEORI Villamil-Molina Film Penelitian ini menggunakan metode pengembangan multimedia yang berdasar pada metode Villamil-Molina untuk perancangan langkah kerjanya. Menurut Villamil-Molina pengembangan multimedia akan berhasil jika memiliki perencanaan yang teliti, penguasaan teknologi multimedia yang baik, serta penguasaan manajemen produksi yang baik juga. Metode ini merupakan metode yang memberikan gambaran tentang pengembangan multimedia melalui lima tahapan. Berikut tahapan-tahapan metode Villamil-Molina : Development Film merupakan perpaduan dari seni sastra, teater, seni rupa dan teknologi yang digunakan sebagai media komuinikasi masal audio-visual yang dapat memberikan pengaruh emosional terhadap Selain itu, film juga merupakan sarana hiburan dan dokumen sosial, karena film dapat berupa dokumenter, fiksi, horror, sci-fi dan thriller yang merupakan genre dari sebuah film. Pada tahapan ini, sebuah konsep atau ide digali dan dikembangkan menjadi sebuah kerangka Ide dikembangkan menjadi sebuah cerita untuk konten yang akan dibuat. Preproduction Setelah tahapan diatas dilalui, maka tahapan ini dapat dikerjakan. Perencanaan produksi, mencari kru, mencari lokasi untuk melakukan membuat naskah produksi, storyboard, dll. Production Setelah tahap preproduction dilakukan, maka pada tahapan ini ide-ide dan perencanaan yang sudah dilakukan di eksekusi. Dalam penelitian ini sendiri, tahapan ini diisi dengan pengambilan gambar di lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya. Post Production Setelah proses pengambilan gambar selesai dilakukan pada tahap produksi, maka semua data dan file yang diperlukan dikumpulkan menjadi satu. Pada tahapan ini proses yang dilakukan adalah menggabungkan file video, audio dan teks menjadi sebuah cerita. Delivery Memasuki pengembangan sebuah konten multimedia, tahapan ini bertujuan untuk memasarkan hasil karya atau konten kepada penonton dan melakukan pengujian. Thriller Thriller adalah genre film yang menyerang mempertontonkan hal-hal yang menegangkan pada adegan-adegannya. Adegan pada genre ini biasanya berupa adegan kekerasan fisik seperti pembunuhan, seperti halnya film Saw dan The Raid. Hal yang paling menonjol dari genre ini adalah efek-efek seperti darah yang bercipratan dan ledakan-ledakan yang mengancurkan bangunan sehingga menambah kesan menegangkan. Rotoscoping Rotoscoping juga merupakan salah satu dari sekian banyak teknik video editing yang ada. Teknik ini memiliki konsep yang hampir sama seperti green screen atau blue screen. Rotoscoping itu sendiri adalah proses manual untuk menjiplak video liveaction frame by frame, memfilter gambar secara selektif dari setiap bagian yang ada dalam frame untuk menghasilkan efek tertentu . Dan pada penelitian ini implementasi rotoscoping berfokus pada adegan kekerasan fisik, dimana pada penerapannya rotoscoping hanya berlaku pada adegan pertarungan jarak dekat seperti memukul, menusuk,dan tidak berlaku pada adegan seperti bike stunt dan terjun dari ketinggian. Special Effect Special Effect atau yang biasa disingkat SFX adalah kombinasi dari seni dan teknologi. teknologi berupa pengetahuan bagaimana hasil dari gambar dapat diterima oleh otak manusia. Sedangkan seni, berperan mewujudkan hal tersebut. SFX digunakan untuk memanipulasi dampak suatu obyek terhadap indera manusia, yang bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan seseorang terhadap obyek tersebut. Obyek yang dimanipulasi dapat berupa video, gambar atau pertunjukan. Pada video dan gambar biasanya SFX memanipulasi indera manusia seakan-akan hal itu benar-benar terjadi. Sedangkan dalam pertunjukan musik biasanya kita disuguhkan dengan segala macam sinar laser, kembang api, dan Hal tersebut juga dapat dikategorikan sebagai special effect, dikarenakan sesuai dengan tujuan dari SFX itu sendiri yaitu meningkatkan ketertarikan terhadap suatu objek . Software Pengeditan Film Software yang digunakan adalah Adobe Premiere dan Adobe After Effects sebuah software video editing milik adobe yang merupakan perpaduan dari bermacam-macam software design yang telah ada seperti tool untuk membuat shape (Seperti yang terdapat di adobe photosho. dan keyframe seperti yang terdapat di adobe flash. Adobe after effects biasa digunakan untuk kebutuhan pembuatan motion graphic, visual effect, special effect. Standar efek yang mencapai 50 macam lebih sangat mudah untuk merubah dan menganimasikan obyek . Skala Likert Skala Likert merupakan teknik pengukuran yang dikembangkan oleh Likert pada tahun 1932. Skala Likert merupakan teknik pengukuran sikap dimana subjek diminta untuk mengindikasi tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap setiap pernyataan atau pertanyaan. METODE PENELITIAN Gambar 1. Flowchart Metode Villamil Molina Berikut penjelasan dari flowchart diatas : Development Pada tahapan development ini, proses pertama yang dilakukan adalah brainstorming dan membuat daftar keperluan saat dilakukan produksi. Adapun ide yang didapat adalah membuat sebuah film pendek bergenre thriller yang berfokus pada kekerasan fisik dengan menerapkan teknik TABEL I DEVELOPMENT Development Ide Penerapan teknik rotoscoping dalam film pendek Konsep Cerita bergenre thriller yang berfokus pada kekerasan fisik Lokasi Gedung tua dan parkiran basement mall Keperluan Kamera, microphone, laptop, dan perlengkapan lainnya . ika Metode Penyelesaian Masalah Penelitian Villamil-Molina. Metode ini merupakan metode yang memberikan gambaran tentang pengembangan multimedia melalui lima tahapan penelitian yaitu development, preproduction, production, postproduction, dan berikut adalah tahapan-tahapn yang disajikan dalam bentuk flowchart pada gambar 1 Preproduction Adapun dalam tahap preproduction ini meliputi: Penulisan naskah produksi Dalam produksi sebuah video diperlukan sebuah naskah produksi dimana dalam naskah tersebut terdapat rincian adegan, percakapan, hingga sudut bidik kamera yang akan digunakan. Proses pengambilan gambar sendiri banyak dilakukan didalam ruangan tertutup seperti parkiran basement mall. Adapun pengantar sebuah naskah produksi adalah sebuah sinopis dimana sinopsis ini merupakan ringkasan dari keseluruhan cerita. TABEL II SINOPSIS Seorang wanita dikejar-kejar oleh seorang psikopat yang berusaha membunuhnya. Dengan ketakutan ia pun berusaha menghindar dengan bersembunyi dan melarikan diri. Sang psikopat pun terus berusaha mencari dan menemukan wanita tersebut, hingga akhirnya keberadaan wanita tersebut diketahui oleh sang Nasib wanita tersebut pun berakhir TABEL i NASKAH PRODUKSI SCENE 1 : EXT. GEDUNG TUA CAST : ESTABLISH SHOT (ES) Ae GEDUNG TUA Kamera memperlihatkan gedung secara keseluruhan. CUT TO : SCENE 2 : INT. GEDUNG TUA CAST : ACUL. DANA. LS Ae ACUL YANG SEDANG BERJALAN Dana berlarian dikejar oleh CUT TO : MS Ae KAKI DANA Dana berlari menaiki tangga, untuk mencari tempat DANA (BERNAFAS DENGAN TERENGAH-ENGAH KARENA KETAKUTAN) CUT TO : LS Ae ACUL Acul tampak dari kejauhan juga menaiki tangga dan mencari dana yang bersembunyi ACUL Dengan mimik wajah yang menyeramkan acul masih mencari dana dan hamper mendekati keberadaan dana. Dana yg bersembunyi pun terlihat panik dan ketakutan. CUT TO : MS Ae DANA Dana pun terpikir untuk mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk melawan acul. CUT TO : POV Ae PISAU Tampak Pisau yang diambil oleh danaa dan akan digunakan untuk melawan acul CUT TO : MS Ae ACUL Acul mendegar suara keberadaan dan dan mencoba mendekati dana. CUT TO : LS Ae DANA & ACUL acul yang mendekat pun langsung ditusuk pisau oleh dana dengan tujuan untuk membela diri CUT TO : LS Ae ACUL Setelah acul tertusuk, sontak acul pun memukul kepala dana dengan palu. CUT TO : MS Ae DANA & ACUL Dana dan acul yang sama-sama mendapat luka terjatuh. CUT TO : LS Ae DANA Dana yg kesakitanpun mencoba melarikan diri dan menendang TABEL IV STORYBOARD CUT TO : MS Ae ACUL & DANA Melihat dana yang berlari pun, acul berusaha mengehntikannya dan akhirnya menusuk kakinya dengan obeng. CUT TO : SCENE: 1 SHOT : 1 EXT Ae GEDUNG TUA Ae SORE OVER SHOULDER SHOT Ae ACUL Acul yang menangkap kaki dana, dipukul oleh dana menggunakan palu sehingga acul mati. CUT TO : CU Ae DANA Dana pun terbebas dari kejaran acul, sehingga dana bisa pergi dari gedung itu EXTRAS CUT TO : TILT UP - DINDING ATAS GEDUNG Kamera mengikuti dana yang berjalan dan menutupnya dengan mengarahkan dinding atas DESKRIPSI Terlihat dari depan gedung tua, dimana pengambilan gambar Establish Shot DIALOG SFX VFX SCENE: 2 SHOT : 1 LS Ae DANA MENYEBRANG Terlihat dari kejauhan dana yang sudah bebas dari kejaran acul hendak pulang dan menyebrang, namun tragis dana ditabrak oleh mobil. CUT TO : INT Ae GEDUNG TUA Ae SORE THE END Storyboard Pentingnya menggunakan storyboard saat membuat sebuah video akan berdampak pada saat proses produksi yang dilakukan. Kegunaan storyboard sendiri adalah sebagai alat untuk membimbing penata kamera, sutradara hingga pemain saat mengeksekusi adegan demi adegan yang akan diambil dalam proses produksi sendiri. DESKRIPSI Terlihat seorang psikopat yang menaiki tangga membawa benda di DIALOG SFX MUSIK HORROR/PHSYCO DIALOG MUSIC SFX SUARA BELING VFX TERPIJAK SCENE: 2 SHOT : 2 INT Ae VFX GEDUNG SCENE: 2 SHOT : 4 INT Ae TUA Ae PARKIRAN SORE BASEMENT Ae SORE DESKRIPSI Si dana bersembunyi dibalik dinding untuk menghindari DIALOG DESKRIPSI Psikopat SFX menggunakan pisau DRAMATICAL MUSIK VFX SCENE: 2 SHOT : 3 INT Ae GEDUNG DIALOG TUA Ae SFX DRAMATICAL HORROR MUSIC SORE SOUND AYUNAN PISAU SOUND DARAH DESKRIPSI Dana memijak beling menghasilkan bunyi yg membuat psikopat VFX CIPRATAN SCENE: 2 SHOT : 5 INT Ae tangan dana dipukul GEDUNG oleh psikopat TUAAe SORE menggunakan palu DIALOG SFX SUARA JANTUNG BERDETAK DESKRIPSI Psikopat yang tertusuk pun MUSIK HORROR VFX SCENE: 2 SHOT : 7 langsung reflek PARKIRAN memukul kepala dana BASEMENT menggunakan palu DIALOG SFX DRAMATICAL MUSIK VFX SCENE: 2 SHOT : 6 INT Ae Ae SORE INT Ae PARKIRAN DESKRIPSI Dana yang mencoba BASEMENT melarikan diripun. Ae SORE di tusuk kakinya oleh psikopat DIALOG SFX DRAMATICAL HORROR MUSIC DESKRIPSI Dana terjatuh dan berusaha mengambil benda tajam lainnya di lantai, namun SUARA DARAH VFX CIPRATAN SCENE: 2 SHOT : 8 INT Ae TABEL V TABEL TUGAS PARKIRAN Nama Tugas Muhammad Adam Firdaus AZ Sutradara Produser Director of Photography BASEMENT Ae SORE Muhammad Adam Firdaus AZ DESKRIPSI Dana yg sudah Muhammad Adam Firdaus AZ Editor Nurul Hidana Putri Talent/actor Syamsul Reza Talent/actor berhasil kabur pun berakhir dengan Pada proses ini, semua ide dan persiapan yang sudah dipersiapkan pada tahapan sebelumnya mulai dieksekusi menurut perancangan yang sudah Proses produksi yang harus dilakukan pada tahap ini, pengambilan gambar dan pengumpulan data. tragis tertabrak oleh mobil saat hendak menyebrang DIALOG SFX DRAMATICAL SUARA MOBIL BERJALAN VFX DIP TO BLACK Pemilihan kru produksi Menurut metode Villamil-Molina, pemilihan kru yang baik dapat membantu proses produksi menjadi lebih cepat. Dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia dalam penelitian ini, maka tugas dari kru tersebut akan dirangkap oleh Postproduction Pada tahapan ini, semua data hasil dari proses produksi dikumpulkan dan dipilih sebelum data tersebut masuk kedalam tahapan editing. editing akan diberi perhatian yang lebih dikarenakan pemprosesan harus dilakukan secara spesifik dan detil mengingat hasil dari pengambilan video teknik rotoscoping akan diimplementasikan. HORROR MUSIC Production Delivery Pada tahapan ini proses distribusi dilakukan. Distribusi video dilakukan secara online melalui YouTube. Setelah file video di distribsuikan maka selanjutnya dilakukanlah penyebaran kuesioner menggunakan sarana google form. Alat dan Bahan Dalam proses pengerjaan penelitian ini, dibutuhkan beberapa alat dan bahan guna mendukung kinerja. Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini 3 unit kamera DSLR yang dapat merekam gambar dan nantinya akan ditempatkan di sudut pandang yang berbeda-beda. Pada tugas akhir ini, digunakan 2 unit kamera DSLR Canon EOS 1200D dan 1 unit Canon EOS Kis X5. Gambar 4. Laptop Gambar 2. Kamera Built-in Microphone untuk merekam suara kamera DSLR. Built-in Microphone ini digunakan untuk menangkap audio dengan kualitas yang berbeda dengan microphone bawaan dari kamera DSLR. Adapun microphone yang digunakan adalah Rode Videomic Go. Adapun kebutuhan software adalah sebagai berikut Adobe After Effect Pro CS 6/CC Aplikasi ini digunakan untuk mengedit video dan mengimplementasikan teknik rotoscoping. Pemilihan aplikasi ini dikarenakan tools yang dimiliki aplikasi ini cukup lengkap dan sangat cocok untuk menunjang untuk menyelsaikan pekerjaan editing. Adobe Premiere Pro CS 6/CC Aplikasi ini merupakan aplikasi video editing yang digunakan untuk menunjang dan menyempurnakan footage menjadi video atau film yang dapat dinikmati. Fitur yang digunakan dalam aplikasi ini cukup lengkap sehingga aplikasi ini dapat mempermudah proses editing dalam penelitian ini. Gambar 3. Built-in Microphone Komputer yang dapat menjalankan aplikasi editing dengan lancar. Adapaun didalam penelitian ini, penggunaan komputer dengan spesifikasi yang mencukupi kebutuhan dapat mempermudah dan mempercepat proses editing. Pada proses produksi film ini , penulis menggunakan laptop Lenovo Ideapad 320. Adobe Audition CS6/CC Penggunaan aplikasi ini untuk mengedit audio yang akan dimasukkan kedalam video sepeti menghilangkan noise suara dan memperbesar Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi produksi Film untuk penelitian ini bertempat di Bekas Gedung Jasa Raharja. Pemilihan gedung tersebut dikarenakan mendukung untuk konsep penelitian ini. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Kemudian pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap minimal 30 responden dengan kategori umum. Secara umum jumlah sampel minimal untuk memperoleh hasil baik adalah 30 responden. Menurut Roscoe yang dikutip oleh Hendry, ukuran sampel yang lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk suatu penelitian. Pengujian yang dilakukan terhadap responden adalah dengan menggunakan kuesioner, dimana kuesioner tersebut menyangkut pertanyaanpertanyaan mengenai penerapan rotoscoping terhadap adegan-adegan kekerasan yang ada dalam film pendek Kuesioner akan disebar menggunakan Google Form. Penggunaan Google Form dipilih karena fasilitas yang disediakan oleh google untuk memudahkan pengembang untuk memasukkan link video dan kuesioner yang dapat langsung diisi oleh para responden. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data diambil dari hasil dari pertanyaan kuesioner yang telah dijawab oleh responden, yang kemudian seluruh data tersebut dikumpulkan dan dibuat perhitungannya menggunakan skala likert. Berikut table bobot skor dan presentasi penialiannya. Production Tahapan ini merupakan tahapan yang berisi tentang uraian proses pengeksekusian konsep dan ide cerita dengan melakukan pengambilan gambar. Proses produksi ini sendiri dilakukan di dalam gedung bekas Jasa Raharja. Batam Centre. Post Production Pada tahapan ini merupakan tahapan akhir setelah proses produksi dilakukan, implementasi teknik rotoscoping akan diterapkan pada semua bahan video yang telah dipilih. Lalu, setelah implementasi teknik rotoscoping selesai dilanjutkan dengan merangkai setiap adegan menjadi sebuah cerita menjadi sebuah film pendek dengan genre thriller. Musik latar dan sound effect juga akan ditambahkan sebagai pelengkap agar film terlihat lebih hidup. TABEL Vi IMPLEMENTASI ROTOSCOPING Original Shot Final Shot TABEL VI BOBOT SKOR Jawaban Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Bobot Data jumlah responden yang menjawab kemudian diolah dengan cara mengkalikan setiap point jawaban dengan bobot yang sudah ditentukan di tabel bobot nilai yang nantinya akan menjadi total skor. Kemudian untuk mendapatkan hasil akhir dari penilaian dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Rumus Index% = Total Skor / Y x 100 TABEL VII INTERVAL PENILAIAN Jawaban 0% - 19. Keterangan Sangat Tidak Setuju 20% - 39. Tidak Setuju 40% - 59. Kurang Setuju 60% - 79. Setuju 80% - 100% Sangat Setuju Adegan ke 2 pada original shot digunakan lalu diseleksi menggunakan masking pen tool, kemudian ditimpa/digabungkan ke adegan ke 1 sehingga menghasilkan sebuah adegan aktor wanita menusuk menggunakan pisau TABEL Vi PROSES MASTERING Gambar Keterangan Pemberian musik latar, effect, dan Pada Pada menit Pemberian musik latar, effect, dan yang lebih dramatis di akhir film. Pengujian Pengujian dilakukan dengan cara memberikan kuesioner menggunakan google form kepada minimal 30 responden yang kemudian hasilnya akan diperhitungkan menggunakan skala likert. TABEL X HASIL KUESIONER RESPONDEN No. Kuesioner Pertanyaan Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 1 : 19 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 1 : 20 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 1 : 28 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 1 : 39 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 1 : 41 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 2 : 13 terlihat realistik STS Implementasi Teknik Rotoscoping adegan kekerasan yang dilakukan secara langsung Implementasi Teknik Rotoscoping dapat mengurangi actor/stuntman Teknik Pengolahan dan Analisis Data TABEL XI HASIL AKHIR KUESIONER No. Pernyataan Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 01 : 19 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 01 : 20 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 01 : 28 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 01 : 39 terlihat realistik Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 01 : 41 terlihat realistik Total Skor Interpretasi(%) Penerapan Rotoscoping pada adegan kekerasan di menit 02 : 13 terlihat realistik Implementasi Teknik Rotoscoping adegan kekerasan yang dilakukan secara langsung Implementasi Teknik Rotoscoping dapat mengurangi actor/stuntman TOTAL Saran Saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah : DAFTAR PUSTAKA