p-ISSN: 2776-3919 e-ISSN: 2776-2513 Vol. No. April 2022, page 59Ai66 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/26 Ideologi Pendidikan melalui Pendidikan Seni Musik dalam Sebuah Kreativitas Educational Ideology through Music Arts Education in a Creativity Laila Fitriah*. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Islam Riau. Email: fitriahl@edu. Yofi Irvan Vivian. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Mulawarman. Email: yofiyochi@yahoo. Received: 8 April 2022 Accepted: 15 May 2022 Published: 19 May 2022 Keywords: educational ideology, traditional musical arts, educational philosophy. Kata kunci: ideologi pendidikan, seni musik tradisi, filsafat pendidikan. Abstract: Education is one of the efforts to optimize human potential. One of the educational efforts to optimize students' potential is through music education. This research aims to see if teachers can utilize their culture and art . raditional musi. as a form of education. Teachers must understand and apply educational ideology in supporting creativity in art education, especially traditional music. This study uses a qualitative descriptive method with a phenomenological approach. Education as an enculturation channel in the philosophy of education has at least three important roles: education as cultural conservation, education as cultural regression, and education as a cultural transition. Teachers or educators can be creative by correlating their cultural ownership with the three important roles of education. Through the education unit level curriculum (KTSP), the government has begun to provide space for the development of Indonesian arts . education, which has been marginalized from the younger generation's lives. Abstrak: Pendidikan menjadi salah satu usaha untuk mengoptimalkan potensi manusia. Salah satu upaya pendidikan untuk mengoptimalkan potensi siswa adalah melalui pendidikan seni musik. Tujuan penelitian ini diharapkan guru mampu memaksimalkan kebudayaan dan seni . usik tradis. yang dimiliki sebagai sarana pendidikan Guru harus mampu memahami dan menerapkan ideologi pendidikan dalam menunjang kreativitas pada pendidikan seni, khususnya musik tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi. Pendidikan sebagai saluran enkulturasi dalam filsafat pendidikan setidaknya memiliki tiga peranan penting, yaitu: education as cultural conserveation, education as cultural regression, dan education as cultural transition. Guru atau pendidik bisa berkreasi dengan mengkorelasikan kepemilikan budaya yang dimilikinya dengan ketiga peran penting dari pendidikan. Melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), pemerintah mulai memberikan ruang bagi pengembangan pendidikan seni . nusantara yang selama ini termarginalkan dari kehidupan generasi muda. Citation: Fitriah. , & Vivian. Ideologi Pendidikan melalui Pendidikan Seni Musik dalam Sebuah Kreativitas. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 2. , 59-66. https://doi. org/10. 30872/mebang. Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Ideologi Pendidikan melalui Pendidikan Seni Musik dalam Sebuah Kreativitas Pendahuluan Berbicara mengenai pendidikan tidak akan pernah habis begitu saja. Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin, yaitu ducare, berarti Aumenuntun, mengarahkan, atau memimpinAy dan awalan e, berarti AukeluarAy (Sutinah, 2021, hal. Menurut John Dewey, pendidikan merupakan sebuah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian (Darmadi, 2019, hal. Fanhas & Danhas, 2020, hal. Muin et al. , 2017, hal. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Hie, 2014, hal. Setiawan et al. , 2021, hal. Sulasmi, 2020, hal. Syam et al. , 2021, Pendidikan bukan hanya saja sekedar pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan, tetapi dalam pendidikan mempunyai fungsi, tujuan, manfaat serta konsep-konsep yang bersinergi di dalamnya untuk mencapai sebuah tujuan akhir yang bermanfaat. Untuk mewujudkan itu semua tentu harus ada paham ideologi. Pendidikan diartikan sebagai pola gagasan yang mengarahkan dan menggerakkan tindakan dalam pendidikan (Serivina, 2020. Pada kajian filsafat ilmu, pendidikan memiliki tiga unsur utama, yaitu ontologi . akikat obje. , epistemologi . roses pencarian kebenara. , dan aksiologi . (Serivina, 2. Menurut OAoNeil . 1, hal. 99Ae. ada tiga ideologi yang berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu: konservatisme, liberalisme, dan kritisisme. Bagi penganut paham konservatif, pendidikan diarahkan untuk tidak mengubah kebijakan dalam pendidikan. Penganut paham liberal, pendidikan diorientasikan untuk perubahan moderat. Paham ideologi kritis ini menghendaki pendidikan sebagai sarana perubahan struktural dan sistem secara fundamental dalam politik, ekonomi, dan gender. Secara eksplisit dapat dipahami bahwa ideologi merupakan refleksi cara berpikir manusia dalam upayanya meraih keinginan atau cita-citanya (Triyanto, 2017, hal. Hal ini dikarenakan ideologi berisi gagasan-gagasan atau nilai-nilai yang sangat mendasar, diposisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianggap berharga, baik, dan benar. Oleh sebab itu suatu ideologi bagi pemiliknya akan diperjuangkan dengan cara-cara tertentu untuk Semakin tinggi ideologis seseorang, semakin tinggi pula perjuangannya untuk mewujudkan dalam setiap sikap dan perilakunya. Kekuatan dari sebuah ideologi, bergantung pada sampai sejauh mana ia masih relevan dengan realitas atau situasi dan kondisi yang melatari, termasuk juga dalam dunia pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu usaha untuk mengoptimalkan potensi manusia. Pendidikan tidak hanya monopoli pembelajaran kognitif, tetapi juga pengembangan afektif dan psikomotorik. Salah satu upaya pendidikan untuk mengoptimalkan potensi siswa adalah melalui pendidikan seni musik. Pendidikan seni musik sangat bermanfaat bagi anak, baik secara psikologis, sosial, budaya, dan bagi pendidikan itu sendiri. Pada kenyataannya, seni yang diajarkan banyak mengacu kepada musik Barat. Materi kurikulum dipenuhi oleh muatanmuatan kebudayaan Barat sehingga seni yang mengacu pada kebudayaan sendiri dianggap kampungan, kuno, ketinggalan jaman, tidak up to date. Kurangnya guru seni yang memiliki background pendidikan seni, menjadikan proses belajar mengajar tidak kreatif. Guru atau pendidik tidak bisa memosisikan pendidikan dengan kebudayaan dan seni secara linier. Guru Laila Fitriah & Yofi Irvan Vivian atau pendidik hanya memfokuskan pendidikan pada pengembangan afektif siswa. Di satu sisi, pendidikan adalah produk budaya, dan di sisi lain pendidikan sebagai penyalur atau sarana pembudayaan atau enkulturasi. Tujuan dan manfaat pada penelitian ini diharapkan guru mampu memaksimalkan kebudayaan dan seni . usik tradis. yang dimiliki sebagai sarana pendidikan. Hal ini berguna agar siswa tidak hanya berkembang secara kognitif, tetapi afektif dan psikomotorik dapat Guru dan pendidik bisa lebih berkreativitas dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan filsafat pendidikan mengenai peran dari pendidikan. Metode Masalah yang dikaji pada penelitian ini mengenai kurangnya kreativitas guru atau pendidik dalam memaksimalkan kebudayaan . eni musik tradis. dalam pendidikan. Hal ini menyebabkan kurangnya kecintaan siswa terhadap seni musik tradisi karena kurang kompetennya guru atau pendidik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi. Penulis mengumpulkan data penelitian melalui teknik observasi, studi kepustakaan, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu: . data primer, data didapat dari hasil wawancara dengan narasumber dan hasil observasi penulis di lapangan. data sekunder, meliputi data tertulis dan dokumentasi yang digunakan penulis untuk memperkuat analisis pada penelitian Pembahasan Guru atau pendidik harus mampu kreatif dalam memberikan pengajaran khususnya mengenai seni musik tradisi. Hal ini dikarenakan kurangnya minat generasi muda terhadap musik tradisi. Generasi muda lebih senang musik popular dan lebih bangga memainkan musik dari Barat dibandingkan alat musik tradisi. Guru atau pendidik harus sadar dan mampu menjalankan tugasnya sesuai UU tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada UU Republik Indonesia. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Ketentuan Umum . asal 1 ayat . , menyebutkan bahwa: AuPendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat (Pingge, 2017, hal. Secara eksplisit menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menjalankan peran penting guna pelestarian, khususnya budaya . usik tradis. Pada faktanya di lapangan atau di sekolah-sekolah saat ini, masih ada beberapa guru kurang peka terhadap keinginan siswanya. Guru masih menganggap dengan memberikan materi teori atau mengenal sejarah musik tradisi hanya dengan membaca atau mendengarkan penjelasan dari gurunya saja. Kegiatan yang seperti ini dapat membuat hilangnya kesadaran atau keinginan dari siswa untuk mempelajari kesenian atau seni tradisi itu sendiri karena tidak dikemas dengan menarik. Di sinilah tantangan yang harus dipecahkan bersama agar semua guru dalam pendidikan seni maupun mata pelajaran seni budaya lebih kreatif, melek teknologi dan up to date dalam memberikan materinya. Supaya ideologi pendidikan seni itu dapat tercapai dan berjalan dengan harmonis. Perlu adanya enkulturasi kepada generasi muda sebagai proses penyesuaian diri terhadap budaya yang dimilikinya (Yulinanda et al. , 2. Ideologi Pendidikan melalui Pendidikan Seni Musik dalam Sebuah Kreativitas Pendidikan sebagai saluran enkulturasi ini dalam filsafat pendidikan setidaknya memiliki tiga peranan penting, yaitu: education as cultural conserveation, education as cultural regression, dan education as cultural transition (Syaripudin & Kurniasih, 2008, hal. 113Ae. Peran pertama adalah, education as cultural conserveation, menjadikan pendidikan berperan sebagai saluran pemeliharaan budaya. Pendidikan memegang peran penting untuk mengemban amanat pemeliharaan budaya tersebut karena lingkungan pendidikan bagaimanapun menjadi tempat bagi transfer dan transformasi kebudayaan kepada generasi lebih muda. Realitasnya, seni musik tradisi Indonesia masih kurang dicintai oleh anak-anak Hal ini menyebabkan anak muda tidak mau belajar seni musik tradisi. Guru atau pendidik diharapkan mampu menjadi fasilitator terhadap pemeliharaan budaya khususnya seni musik tradisi kepada generasi muda. Guru atau pendidik bisa memperkenalkan seni musik tradisi . ebudayaan loka. melalui ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh para siswa (Aisara et , 2020, hal. Peran kedua adalah education as cultural regression yang lebih cenderung mempelajari kembali budaya lampau yang mengandung nilai-nilai ideal. Nilai-nilai ideal ini adalah refleksi, ibarat cermin dengan permukaan yang masih jernih karena belum terdistorsi oleh beberapa pengaruh negatif dari perkembangan zaman. Karena itu perlunya manusia menatap kembali kebudayaan masa lalu untuk mengambil nilai-nilai ideal tersebut. Guru atau pendidik dapat melakukan dengan cara menceritakan sekaligus berdiskusi secara dua arah mengenai sejarah alat musik tradisi dan budaya guna menumbuhkan kecintaan siswa. Guru atau pendidik juga bisa memanfaatkan perkembangan teknologi . nternet atau websit. untuk mencari informasi mengenai kebudayaan suatu daera (Irhandayaningsih, 2018, hal. , khususnya musik tradisi. Peran ketiga adalah education as cultural transition, yang menjadikan pendidikan sebagai jalan mengubah dan mengembangkan kebudayaan yang telah ada. Selama waktu masih berjalan perlu diiringi oleh perkembangan budaya untuk menghadapi masa depan yang lebih menantang dan kompleks. Keikutsertaan masyarakat . hususnya guru atau pendidik dan sisw. dalam mendukung kehadiran kesenian tradisional sebagai bagian dari dirinya sendiri, dukungan moral dan rasa memiliki yang tinggi menyebabkan kesenian tersebut dapat hidup dan berkembang (Wimbrayardi, 2019, hal. Keikutsertaan dan rasa memiliki musik tradisi bisa dilakukan dengan cara mempelajari dan mementaskannya. Hal ini bertujuan agar siswa atau generasi muda mampu mencintai musik tradisi. Peran guru atau pendidik sangat vital dalam keberlangsungan seni tradisi pada ranah pendidikan. Ketiga poin di atas dapat terlihat bahwa posisi pendidikan dengan kebudayaan dan seni tidak bisa terlepas. Ketiga poin ini sangat erat kaitannya dengan pendidikan seni. pendidikan seni, yaitu sebagai bentuk pelestarian. Pelestarian dalam konteks masalah ini melalui kesenian tradisional yang secara khusus dalam musik tradisional. Kesenian tradisional apa pun bentuknya merupakan produk estetis simbolis masyarakat yang berakar pada pengalaman sosio-kultural-religius sehingga di dalamnya terkandung kearifan dan nilai yang Keanekaragaman bentuk nilai yang terkandung di dalamnya, berjalan linier dengan dinamika masyarakat pemilik budaya tersebut. Sebuah kesenian yang lahir atau hadir dari suatu daerah, tidak akan pernah lepas dari sejarahnya, perkembangan serta proses pewarisannya hingga bagaimana cara memainkan alat musik atau bentuk dari pertunjukan itu Buku karya Ki Hajar Dewantara sudah mewariskan seni tradisional sebagai salah satu landasan arah gerak pengembangan pendidikan nasional. Dua bukunya yang bertajuk Pendidikan (Dewantara, 1. dan Kebudayaan (Dewantara, 1. Ki Hajar menjelaskan Laila Fitriah & Yofi Irvan Vivian dengan gamblang konsep dasar, tujuan, dan pola pendidikan seni yang didasarkan atas sari pati kebudayaan bangsa dalam rangka menopang pendidikan nasional. Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan seni merupakan implementasi atas hasil kontemplasinya terhadap hakikat kehidupan manusia selaku makhluk berperadaban dan berbudaya. Mengingat bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana transformasi budaya, maka kesenian yang merupakan bagian integral dalam hidup kebudayaan, semestinya mendapat peranan istimewa dalam proses mendidik dan mengajar anak-anak . Melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), pemerintah mulai memberikan ruang bagi pengembangan pendidikan seni . nusantara yang selama ini termarginalkan dari kehidupan generasi muda. Munculnya materi seni daerah setempat dan nusantara pada KTSP selain sebagai upaya mengangkat kembali seni budaya tradisi, adalah juga satu wujud kesadaran pemerintah akan arti pentingnya implementasi pluralisme budaya masyarakat dengan konsep kurikulum multikultural dan semangat multicultural education dalam pendidikan nasional. Dengan hadirnya kembali kesempatan emas ini diharapkan pendidik lebih memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Maraknya sistem IT dan teknologi yang canggih dapat membantu dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan adanya kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, guru harus lebih kreatif dalam menyiapkan materi dan pembahasan mengenai seni tradisi dalam menyampaikannya di kelas. Tujuannya agar siswa lebih merasa tertarik untuk mempelajari dan mengenal seni tradisi baik dari daerahnya sendiri maupun mengenal seni nusantara. Kegiatan pembelajaran musik yang menggunakan materi yang bersumber dari seni tradisi bisa melibatkan pada beberapa aspek, yaitu . materi pelajaran, . tujuan pembelajaran, . karakteristik siswa, . kemampuan guru, dan . sarana atau fasilitas yang dimiliki sekolah. Materi yang telah ditetapkan tidak bisa serta merta diterapkan, jika salah satu dari empat aspek itu diabaikan dan tidak tersedia maka rumusan kegiatan pembelajaran yang ideal tidak bisa berjalan dengan baik dan maksimal. Dari beberapa aspek di atas pendidik dapat melakukan sebuah proses kreativitas dengan siswa di dalam kelas apabila semua aspek tersebut terpenuhi. Misalkan saja dalam hal sarana dan fasilitas, apabila sebuah sekolah memiliki beberapa alat musik tradisi yang bisa dimainkan, guru dapat merangkul siswa dalam hal berproses bersama untuk memainkan sebuah repertoar dari musik tradisi yang sudah mereka kenal melalui Dalam hal ini siswa akan tertarik dan akan muncul ide-ide kreatif dari mereka untuk menciptakan musik-musik baru dari alat musik tersebut. Setidaknya dengan kegiatan ini siswa mulai mengenal alat musik tradisi yang berada di daerahnya masing-masing. Melalui proses kajian demikian pendidikan menjadi sesosok ilmu pengetahuan yang memiliki otonomi karena memiliki struktur keilmuan . body knowledg. Pada tataran praktis secara aksiologi, ilmu pendidikan diterapkan menjadi gerakan masyarakat yang bersifat Ilmu pendidikan tidak lagi sekedar merupakan ilmu . , tetapi telah menjelma menjadi kekuatan massa yang besar . ebagai filsafat yang diyakini bersam. yang disebut ideologi, yakni ideologi pendidikan. Oleh karena itu, berbagai faktor kepentingan mempengaruhi penetapan pilihan ideologi pendidikan yang dikembangkan di suatu negara demi alasan politik. Suatu ideologi selain dapat menyangkut sebagian besar warga masyarakat juga dapat menyangkut golongan-golongan tertentu dalam masyarakat. Ideologi adalah sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran tertentu (OAoNeil, 2. Ideologi Pendidikan melalui Pendidikan Seni Musik dalam Sebuah Kreativitas Penutup Pendidikan merupakan proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anakanak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan bukan hanya saja sekedar pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan, tetapi dalam pendidikan mempunyai fungsi, tujuan, manfaat serta konsep-konsep yang bersinergi di dalamnya untuk mencapai sebuah tujuan akhir yang bermanfaat. Ideologi pendidikan diartikan sebagai pola gagasan yang mengarahkan dan menggerakkan tindakan dalam pendidikan. Ilmu pendidikan tidak lagi sekedar merupakan ilmu . , tetapi telah menjelma menjadi kekuatan massa yang besar . ebagai filsafat yang diyakini bersam. yang disebut ideologi, yakni ideologi pendidikan. Salah satu upaya pendidikan untuk mengoptimalkan potensi anak itu adalah melalui pendidikan seni, khususnya pendidikan seni musik. Pendidikan sebagai saluran enkulturasi ini dalam filsafat pendidikan setidaknya memiliki tiga peranan penting, yaitu: education as cultural conserveation, education as cultural regression, dan education as cultural transition. Ketiga poin tersebut memiliki peranan yang sangat vital bagi keberlangsungan seni tradisi di Indonesia. Hal ini membutuhkan kreativitas dari guru atau pendidik. Keikutsertaan masyarakat . hususnya guru atau pendidik dan sisw. dalam mendukung kehadiran kesenian tradisional sebagai bagian dari dirinya sendiri, dukungan moral dan rasa memiliki yang tinggi menyebabkan kesenian tersebut dapat hidup dan berkembang. Dewasa ini kurangnya perhatian terhadap eksistensi seni budaya daerah dalam pendidikan, kita melihat bahwa beberapa waktu ini pendidikan seni bersifat stereotip atas pendidikan seni AuBaratAy. Munculnya materi seni daerah setempat dan nusantara pada KTSP, merupakan salah satu upaya mengangkat kembali seni budaya tradisi. Hal ini menjadi wujud kesadaran pemerintah akan arti pentingnya implementasi pluralisme budaya masyarakat dengan konsep kurikulum multikultural dan semangat multicultural education dalam pendidikan nasional. Dengan adanya kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, guru harus lebih kreatif dalam menyiapkan materi dan pembahasan mengenai seni tradisi dalam menyampaikannya di kelas. Daftar Pustaka