Jurnal Ekonomi STIEP (JES). Vol. Published by: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pontianak - Indonesia Jurnal Ekonomi STIEP (JES ) Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/jes DETERMINASI INCOME SMOOTHING : PROFITABILITAS. LEVERAGE. DAN UKURAN PERUSAHAAN Devi Wahyuningsih. Siska Utari S1 Akuntansi. Institut Bisnis dan Ekonomi Indonesia ARTICLE INFO Article history: Received: 2024,10-12 Revised 2024, 10-20 Accepted, 2024,11-24 Keywords: Income smoothing. Profitability. Leverage. Company size. ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Profitabilitas. Leverage, dan Ukuran Perusahaan terhadap Income Smoothing pada Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2014 sampai 2023. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 7 perusahaan, jumlah data yang digunakan adalah sebanyak 70 data penelitian yang diperoleh dengan menggunakan Teknik Purposive Sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Teknik analisis regresi logistik dengan menggunakan SPSS 26. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Leverage dan Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Income Smoothing, sedangkan Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap Income Smoothing. This research aims to analyze the influence of Profitability. Leverage, and Company Size on Income Smoothing in Pharmaceutical Company listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) for the period 2014 to 2023. The sample used in this research was 7 company, the amount of data used was 70, research data obtained using purposive sampling techniques. Data analysis was carried out using logistic regression analysis techniques using SPSS 26. The results of this study stated that Leverage and Company Size had an effect on Income Smoothing, while Profitability had no effect on Income Smoothing. This is an open access article under the CC BY-SA license Corresponding Author: Devi Wahyuningsih. Siska Utari S1 Akuntansi. Insitut Bisnis dan Ekonomi Indonesia Pontianak. Kalimantan Barat deviwahyuningsih90@gmail. Pendahuluan Perkembangan pasar modal di Indonesia yang semakin dinamis menuntut setiap perusahaan publik untuk menyajikan laporan keuangan sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Laporan keuangan menjadi sumber informasi penting bagi stakeholders dalam pengambilan keputusan, baik pihak internal seperti pemilik perusahaan, manajemen, dan karyawan, maupun pihak eksternal seperti investor, kreditur, dan pemerintah. Salah satu parameter utama yang menjadi perhatian dalam keuangan adalah informasi laba. Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 menyatakan bahwa laba merupakan bagian penting dalam evaluasi kinerja dan pertanggungjawaban manajemen. Dinamika persaingan bisnis yang ketat seringkali mengakibatkan ketidakstabilan perolehan laba perusahaan. Kondisi laba yang berfluktuasi ini dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor dalam memprediksi kinerja perusahaan di masa depan. Hal tersebut mendorong beberapa perusahaan melakukan praktik perataan laba . ncome smoothin. untuk menampilkan laba yang stabil (Pradnyandari & Astika, 2. Haniftian & Dillak . menyatakan praktik income smoothing dilakukan dengan sengaja tidak melaporkan atau memindahkan laba dari tahun ke tahun dengan maksud agar laba terlihat stabil dan lebih menarik bagi pengguna laporan keuangan. Praktik income smoothing telah terjadi pada beberapa perusahaan di Indonesia. Seperti terungkap pada kasus PT Garuda Indonesia Tbk di tahun 2018. Maskapai pelat merah tersebut melaporkan perubahan drastis dari rugi sebesar USD 216,58 juta pada 2017 menjadi laba bersih senilai USD 809 ribu di tahun 2018. Kondisi ini menarik perhatian otoritas terkait karena terdapat pengakuan pendapatan dari PT Mahata Aero Teknologi sebesar USD 239,94 juta terkait pemasangan wifi yang belum terealisasi. Kasus ini menimbulkan sanksi dari OJK berupa denda sebesar Rp 100 juta kepada setiap anggota direksi dan dewan komisaris yang menandatangani laporan tahunan periode 2018. Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/jes Ae ISSN: 2654-4288 (Onlin. Fenomena ini memperlihatakn bahwa praktik income smoothing masih menjadi isu krusial dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik di Indonesia, khususnya terkait pengakuan pendapatan yang tidak sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku (CNN Indonesia, 2019 . CNBC Indonesia. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi praktik income smoothing diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Christopher & Susanti . Fauzia & Lastanti . Gondokusumo & Susanti . Hastuti et al. Jayanti et al. Joana & Abdi . Maryanti et al. Nathania & Nugroho . Nurani & Maryanti . Pinatih & Astika . Pradnyandari & Astika . Putra et al. Saputri et al. Suwaldiman & Lubis . Wijaya et al. Penelitian ini berfokus pada hubungan antara variabel profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap income smoothing. Profitabilitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi income smoothing. Profitabilitas dipandang sebagai indikator penting yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan menjadi parameter dalam menilai kinerja perusahaan. Menurut Pradnyandari & Astika . semakin tinggi tingkat profitabilitas menunjukkan semakin baik kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan, sedangkan perusahaan dengan profitabilitas rendah cenderung melakukan income smoothing untuk menjaga kepercayaan investor. Leverage dapat mendorong praktik income smoothing karena berkaitan dengan risiko keuangan Leverage menggambarkan sumber dana operasi dan risiko yang dihadapi perusahaan. Saragih . menyatakan bahwa kondisi ini dapat mendorong manajamen untuk melakukan income smoothing guna meyakinkan kreditur akan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi memiliki kecendrungan lebih besar melakukan income smoothing karena perusahaan berusaha menunjukkan kinerja yang baik kepada kreditur. Ukuran perusahaan juga dapat mempengaruhi kecendrungan praktik income smoothing. Perusahaan dengan total aset yang besar relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibandingkan perusahaan dengan total aset yang kecil (Setyaningsih et al. , 2. Semakin besar ukuran perusahaan maka kecendrungan untuk melakukan income smoothing justru semakin berkurang karena perusahaan besar cenderung mendapat perhatian lebih dari analis dan investor. Perusahaan besar umumnya memiliki sistem pengendalian internal yang lebih ketat dan diaudit oleh kantor akuntan publik dengan reputasi yang baik, sehingga membatasi fleksibilitas manajemen dalam memanipulasi laba (Putra et al. , 2. Kajian Teori Teori Agensi (Agency Theor. Teori keagenan menggambarkan relasi kontraktual dimana satu atau lebih pihak pemegang kepentingan . mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada pihak lain . untuk mengelola sumber daya perusahaan demi kepentingan principal (Jensen & Meckling, 1. Dalam kondisi dimana tujuan bersama adalah optimalisasi nilai perusahaan, agent akan menggunakan kapasitasnya secara optimal dalam menjalankan tanggung jawab tersebut. Konsep ini membagi peran secara spesifik dimana principal bertindak sebagai penyedia modal, sementara agent berperan sebagai pelaksana operasional bisnis. Namun kondisi ini menciptakan ketimpangan informasi dimana agent memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi internal, baik terkait kompetensi individu, situasi kerja, maupun kondisi perusahaan secara menyeluruh termasuk keleluasaan dalam menentukan kebijakan akuntansi (Supriyono, 2. Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan media komunikasi yang menyajikan gambaran komprehensif tentang posisi dan kinerja keuangan suatu entitas bisnis (Hidayat, 2. Laporan keuangan menjadi instrumen penting dalam evaluasi performa dan perkembangan perusahaan secara periodik, serta menjadi tolak ukur pencapaian objektif organisasi. Laporan keuangan terdiri dari lima komponen yang salin terintegrasi yaitu Laporan Posisi Keuangan. Laporan Laba Rugi. Laporan Perubahan Modal. Laporan Arus kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan (Hantono, 2. Income Smoothing Income smoothing merupakan strategi manajemen dalam memanipulasi penyajian informasi keuangan untuk menciptakan kesan kinerja yang lebih stabil dari kondisi sebenarnya (Ramadhani et Jurnal Ekonomi STIEP (JES). Vol. No. November 2024 , 2. Praktik ini sering dilakukan dengan mempertimbangkan preferensi investor terhadap tren laba yang konsisten, karena dapat memudahkan proyeksi masa depan dan memberikan keyakinan dalam keputusan investasi. Namun perlu dipahami bahwa tujuan praktik ini bukan menyamakan besaran laba antar periode secara absolut, melainkan untuk meminimalkan fluktuasi yang signifikan dengan tetap memperhatikan ekspektasi pertumbuhan yang wajar dalam setiap periode pelaporan (Haniftian & Dillak, 2. Profitabilitas dan Income Smoothing Profitabilitas merupakan indikator kinerja manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan. Perusahaan dengan tingkat profitabilitas rendah cenderung melakukan praktik income smoothing karena adanya tekanan dari investor untuk menghasilkan laba yang stabil. Christopher & Susanti . menyatakan bahwa ketika tingkat profitabilitas rendah maka manajemen termotivasi untuk melakukan income smoothing agar kinerja perusahaan tetap terlihat baik di mata investor dan kreditur. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi justru cenderung untuk tidak melakukan praktik income smoothing karena sudah memiliki kinerja yang baik dan mendapat kepercayaan dari pasar. Hal ini sesuai dengan penelitian Christopher & Susanti . Fauzia & Lastanti . Gondokusumo & Susanti . Jayanti et al. Nathania & Nugroho . Pradnyandari & Astika . Putra et al. Saputri et al. Wijaya et al. yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap income smoothing, maka hipotesis pada penelitian ini adalah: H1: Profitabilitas berpengaruh terhadap income smoothing Leverage dan Income Smoothing Leverage menggambarkan tingkat ketergantungan perusahaan terhadap hutang dalam membiayai operasional perusahaan. Semakin tinggi tingkat leverage mengindikasikan semakin tinggi risiko keuangan yang dihadapi perusahaan. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi cenderung melakukan praktik income smoothing untuk menjaga kepercayaan kreditur terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Manajemen akan berupaya menampilkan laba yang stabil untuk meyakinkan kreditur bahwa risiko kredit perusahaan relatif kecil. Joana & Abdi . menemukan bahwa perusahaan dengan leverage tinggi memiliki motivasi lebih besar untuk melakukan income smoothing guna menghindari pelanggaran perjanjian hutang dan mempertahankan akses pendanaan dari kreditur. Hal ini didukung oleh Penelitian Joana & Abdi . Maryanti et al. Pinatih & Astika . Pradnyandari & Astika . Saputri et al. Suwaldiman & Lubis . yang menyatakan bahwa leverage memiliki pengaruh terhadap income smoothing, maka hipotesis pada penelitian ini adalah: H2: Leverage berpengaruh terhadap income smoothing Ukuran Perusahaan dan Income Smoothing Ukuran perusahaan mencerminkan skala bisnis yang tercermin dari total aset yang dimiliki oleh suatu entitas. Maryanti et al. menyatakan bahwa Perusahaan besar sangat berhati-hati dalam penyusunan laporan keuangan dalam upaya meminimalisir risiko bisnis dan menjaga reputasi, serta intensitas pengawasan yang tinggi dari berbagai pihak seperti investor, publik dan otoritas regulasi terhadap perusahaan besar secara efektif mempersempit ruang gerak manajemen dalam melakukan praktik income smoothing. Penelitian Christopher & Susanti . Hastuti et al. Maryanti et al. Nathania & Nugroho . Nurani & Maryanti . Putra et al. menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap income smoothing, maka hipotesis pada penelitian ini adalah: H3: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap income smoothing Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif asosiatif dengan data sekunder sebagai sumber data. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan sub sektor Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014 sampai 2023. Teknik pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling, yang dipilih berdasarkan kriteria perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2014 sampai 2023 dan perusahaan yang menyampaikan laporan keuangan tahunan dan telah diaudit periode 2014 sampai 2023 secara berturut-turut. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria Jurnal Ekonomi STIEP (JES). Vol. No. November 2024 Ae ISSN: 2654-4288 (Onlin. adalah sebanyak 7 perusahaan, jumlah data yang digunakan adalah sebanyak 70 data penelitian. Pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik dengan SPSS 26. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah income smoothing, sedangkan variabel independen yang diteliti terdapat tiga variabel, yaitu profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan. Indikator untuk masing-masing variabel disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1 Operasional Variabel Indikator Variabel Income Smoothing (Y) Profitabilitas (X. Leverage (X. Ukuran Perusahaan (X. Skala Indeks Eckel = CV OII CV OIS Pengukuran Dummy = Perusahaan yang melakukan income smoothing memiliki hasil < 1 = Perusahaan yang tidak melakukan income smoothing memiliki hasil Ou 1 Nominal Diukur dengan menggunakan return on asset Rasio ROA = Earning After Tax Total Assets Diukur dengan menggunakan debt to equity ratio Rasio DER = Total liability Total equity Logaritam natural dari total aset yang dimiliki Rasio Ln (Total Ase. Sumber : data diolah penulis, 2024 Hasil dan Pembahasan Analisis Regresi Logistik Menilai Kelayakan Model Regresi (Goodness of Fit Tes. Pengujian ini digunakan untuk menilai apakah model regresi tersebut telah dihipotesiskan fit atau tidak dengan data, pengujian kelayakan model regresi dilakukan dengan menggunakan tes kelayakan Hosmer and Lemeshow. Tabel 2 Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square Sumber : Output SPSS 26 Sig. Dari tabel 2 di atas menunjukkan hasil pengujian Hosmer and Lemshow diperoleh nilai chi-square 13,860 dengan tingkat signifikansi 0,085. Karena tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 maka hipotesis nol dterima. Hal ini menunjukkan bahwa model dapat diterima sehingga pengujian hipotesis dapat diterima. Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fi. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengevaluasi kesesuaian antara model dan data yang Membandingkan nilai -2Log likelihood pada awal . lok nomor = . dengan nilai -2Log Jurnal Ekonomi STIEP (JES). Vol. No. November 2024 likelihood pada akhir . lok nomor = . adalah cara untuk menilai secara keseluruhan model. Ini menunjukkan bahwa ada penurunan nilai antara -2Log likelihood awal . ungsi awal -2Log likelihoo. dan nilai -2Log likelihood akhir menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan Fit dengan data. Tabel 3 Overall Model Fit -2 LogL Block Number = 0 83,758 -2 LogL Block Number = 1 49,114 Sumber : data diolah penulis, 2024 Dari tabel 3 di atas menunjukkan bahwa nilai -2LogL awal (-2LogL Block Number = . , dimana model hanya memasukkan konstanta, menunjukkan nilai sebesar 83,758. Sedangkan nilai 2LogL berikutnya (-2LogL Block Number = . , dimana model dimasukkan konstanta dan variabel independen, menunjukkan nilai sebesar 49,114. Perbandingan dari kedua nilai tersebut dapat dilihat bahwa nilai -2LogL Block Number = 0 lebih besar dibandingkan nilai -2LogL Block Number = 1 dengan penurunan sebesar 34,644, sehingga dapat disimpulkan bahwa model fit dengan data dan terbukti bahwa variabel profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan secara signifikan memperbaiki model fit. Koefisien Determinasi Tabel 4 Model Summary Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square Sumber : Output SPSS 26 Dari tabel 4 di atas menunjukkan hasil pengujian koefisien determinasi untuk mengukur seberapa jauh kemampuan variabel independen yang digunakan dalam model berpengaruh terhadap variabel dependen. Dari tabel 4 dihasilkan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,559 dan nilai Cox & Snell R Square sebesar 0,390. Nilai Nagelkerke R Square lebih besar dibandingkan nilai Cox & Snell R Square, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan variabel independen yaitu profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan mempengaruhi variabel dependen yaitu income smoothing sebesar 55,9%, selebihnya 44,1% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar variabel yang digunakan dalam penelitian. Uji Simultan (Uji F) Pengujian ini bertujuan untuk menguji signifikan variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Pengujian ini dapat diketahui pada tabel Omnibus test of model coefficient dengan melihat nilai chi-square. Tabel 5 Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square Sig. Step 1 Step Block Model Sumber : Output SPSS 26 Dari hasil pengujian regresi logistik pada tabel 5 Omnibus Tests of Model Coefficients diketahui bahwa nilai chi-square = 34,643 dengan degree of freedom = 3 dan tingkat signifikansi 0,000. Tingkat signifikan 0,000 lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa variabel profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap income smoothing. Uji Parsial (Uji . Dengan menggunakan tingkat signifikan, yaitu = 5%, uji Wald bertujuan untuk menentukan tingkat signifikan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Jurnal Ekonomi STIEP (JES). Vol. No. November 2024 Ae ISSN: 2654-4288 (Onlin. Tabel 6 Variables in the Equation Step 1a Exp(B) Profitabilitas Wald Sig. Leverage Ukuran Perusahaan -2. 192E 24 Constant Sumber : Output SPSS 26 Berdasarkan hasil uji wald pada tabel di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Nilai sig. variabel profitabilitas sebesar 0,873 dimana nilai tersebut lebih besar dari nilai signifikan () 5% yang berarti bahwa variabel profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak yaitu variabel profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Nilai sig. variabel leverage sebesar 0,008 dimana nilai tersebut lebih kecil dari nilai signifikan () 5% dengan nilai koefisien regresi sebesar 1,184 yang berarti bahwa variabel leverage berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa H2 diterima yaitu variabel leverage berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Nilai sig. variabel ukuran perusahaan sebesar 0,002 dimana nilai tersebut lebih kecil dari nilai signifikan () 5% dengan nilai koefisien regresi sebesar -2,098 yang berarti bahwa variabel ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa H3 diterima yaitu variabel ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Pembahasan Pengaruh Profitabilitas Terhadap Income Smoothing Dalam penelitian ini profitabilitas diproksikan dengan Return on Asset (ROA). Dilihat dari tabel 6, nilai koefisien regresi dari profitabilitas sebesar -0,510 dengan taraf signifikansi profitabilitas adalah 0,873 > = 0,05 yang berarti bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik income smoothing, maka dari itu H1 ditolak. Hal ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya profitabilitas tidak mempengaruhi keputusan manajemen dalam melakukan praktik income smoothing. Kondisi ini dapat terjadi karena perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi maupun rendah memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan income smoothing sesuai dengan motivasi dan kepentingan manajemen masing-masing. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Angeline & Christina . Arivah et al. Haniftian & Dillak . Maryanti et al. Nurani & Maryanti . Radiyanti et al. Silvia et al. Yati et al. yang menyatakan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap terhadap praktik income smoothing. Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap praktik income smoothing juga disebabkan karena investor dan kreditur tidak hanya berfokus pada tingkat profitabilitas dalam menilai kinerja perusahaan. Pengaruh Leverage Terhadap Income Smoothing Dalam penelitian ini leverage diproksikan dengan Debt to Equity Ratio (DER). Dilihat dari tabel 6, nilai koefisien regresi dari leverage sebesar 1,184 dengan taraf signifikansi leverage adalah 0,008 < = 0,05 yang berarti bahwa leverage berpengaruh signifikan terhadap praktik income smoothing, maka Jurnal Ekonomi STIEP (JES). Vol. No. November 2024 dari itu H2 diterima. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat leverage maka semakin tinggi kecenderungan manajemen untuk melakukan praktik income smoothing. Kondisi ini terjadi karena perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi berupaya menunjukkan kinerja yang baik kepada kreditur untuk mempertahankan kepercayaan mereka. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Joana & Abdi . Maryanti et al. Pinatih & Astika . Pradnyandari & Astika . Saputri et al. Suwaldiman & Lubis . yang menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung melakukan praktik income smoothing karena berusaha memberikan informasi yang lebih baik agar para kreditur tetap percaya terhadap perusahaan. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan melalui motivasi manajemen untuk menghindari pelanggaran perjanjian hutang. Untuk menjaga kepercayaan kreditur dan mempertahankan akses terhadap pendanaan, manajemen terdorong untuk menampilkan laba yang stabil melalui praktik income smoothing. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Income Smoothing Dalam penelitian ini ukuran perusahaan digambarkan dengan total asset yang dimiliki Dilihat dari tabel 6, nilai koefisien regresi dari ukuran perusahaan sebesar -2,098 dengan taraf signifikansi ukuran perusahaan adalah 0,002 < = 0,05 yang berarti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap praktik income smoothing, maka dari itu H3 diterima. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka semakin rendah kecendrungan manajemen untuk melakukan praktik income smoothing. Kondisi ini tejadi karena perusahaan besar memiliki sistem pengendalian internal yang lebih baik dan pengawasan yang lebih ketat dari berbagai pihak. Penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Christopher & Susanti . Hastuti et al. Maryanti et al. Nathania & Nugroho . Nurani & Maryanti . Putra et al. yang menyatakan bahwa perusahaan besar cenderung menghindari praktik income smoothing karena menjadi subjek pengawasan intensif dari investor dan pemangku kepentingan lainnya. Sebaliknya perusahaan dengan skala kecil justru memiliki motivasi lebih besar untuk melakukan income smoothing dalam upaya menunjukkan kinerja yang stabil kepada pemangku kepentingan. Hal ini karena perusahaan kecil menghadapi tekanan yang lebih besar untuk memenuhi ekspektasi pasar dan mempertahankan akses terhadap sumber pendanaan. Kesimpulan Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai pengaruh profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap income smoothing pada perusahaan sektor Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2023. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa leverage dan ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing, sedangkan profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap income smoothing. Keterbatasan penelitian ini adalah pemilihan sampel yang hanya terbatas pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, periode penelitian hanya terbatas selama tahun 2014-2023 dan hanya menggunakan tiga variabel independen. Adapun saran dan rekomendasi untuk peneliti selanjutnya yaitu dapat menambah dan memperluas populasi dan sampel dengan menggunakan perusahan sub sektor lainnya, selain itu peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang income smoothing untuk dapat menambahkan variable independen seperti cash holding, asimetri informasi, dan struktur kepemilikan. Referensi