Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Problematika dan Tantangan Pengembangan Industri Akuakultur di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas dalam Mewujudkan Smart Fisheries Villages Taufik Budhi Pramono1. Teuku Junaidi2. Agung Cahyo Setyawan3. Norman Arie Prayogo4. Endang Hilmi5. Hamdan Syakuri6. Nur Wijayanti7. Purwandaru Widyasunu8. Undiono9. Mas Yedi Sumaryadi10 1,3,6 Program Studi Akuakultur. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 2,4,5 Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Program Studi Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: SFV. Industri. Akuakultur. Panembangan ABSTRACT Salah satu strategi pengembangan industry akuakultur adalah dengan menerapkan program smart fisheries villages (SFV) di perdesaan. Pencapaian target dan indikator keberhasilan di lapangan tidaklah mudah, banyak problematika dan tantangannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematika dan tantangan desa Panembangan Kecamatan Cilongok Banyumas dalam mewujudkan smart fisheries villages. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan survey aktif. Penggalian informasi data primer dilakukan menggunakan kuisioner, wawancara mendalam dengan pemerintah desa, dinas perikanan dan peternakan, kelompok pembudidaya, kelompok pengolah pemasar, koperasi dan bumdes serta focus group discussion (FGD) dengan multi stakeholder. Problematika dan tantangan yang dijumpai antara lain pengembangan sumberdaya manusia, kelembagaan, teknologi, bisnis, ekonomi, infrastruktur, ekonomi dan lingkungan. Permasalahan yang dijumpai merupak masalah fundamental yang harus diselesaikan. Penyelesaian masalah dan menjawab tantangan SFV tersebut perlu dilakukan dengan beberapa strategi pengembangan yang komprehensif, terarah, dan terukur. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Teuku Junaidi Universitas Jenderal Soedirman Jl. Profesor DR. HR Boenyamin No. Banyumas. Jawa Tengah 53122 Email: teuku. junaidi@unsoed. PENDAHULUAN Desa Panembangan. Kecamatan Cilongok. Kabupaten Banyumas merupakan desa pelopor Smart Fisheries Villages (SFV) di Indonesia. Program SFV ini merupakan gagasan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2022 lalu. Pemilihan desa Panembangan sebagai desa pelopor SFV tersebut berdasarkan penilaian dan indikator yang telah ditentukan yaitu meliputi Sustainable. Modernization. Acceleration. Regeneration dan Technology atau dikenal dengan singkatan AySMARTAy (BRSDM-KKP, 2. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Pengembangan SFV di wilayah perdesaan adalah sebuah model pembangunan desa perikanan cerdas yang berbasis pada penerapan teknologi informasi komunikasi dan manajemen tepat guna yang berkelanjutan untuk peningkatan taraf ekonomi bagi masyarakat perdesaan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebelumnya telah banyak meluncurkan program pengembangan wilayah seperti Minapolitan. Kampung Budidaya dan Desa Inovasi/Desa Mitra. Akan tetapi, khusus pengembangan Desa Cerdas Perikanan (SFV) dari KKP ini merupakan wujud nyata dalam mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020-2024 (RPJMN) dan Undang-Undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa pasal 80 ayat . huruf d, yang secara umum menyatakan bahwa prioritas, program dan segala bentuk kegiatan pembangunan desa untuk kemajuan ekonomi harus berdasarkan kebutuhan masyarakat desa dengan menekankan pemanfaatan teknologi tepat guna. Titik focus dari program SFV dibandingkan program-program lainnya terletak pada aspek pengembangan dan pembinaan sumberdaya manusia dengan mencetak startup melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan inkubasi bisnis. Program desa cerdas perikanan (SFV) yang merujuk pada basis potensi desa dan kearifan local adalah salah satu terobosan yang bagus untuk dikembangkan dalam upaya mewujudkan industri akuakultur di Hal ini menjadi salah satu solusi pengembangan dan pertumbuhan kawasan pedesaan, membuka lapangan pekerjaan (Cahya dan Mareza, 2. , mencetak wirausaha baru berbasis teknologi, dan menciptakan system usaha dari hulu ke hilir. Desa Panembangan terpilih menjadi pelopor SFV, dinilai memiliki potensi pengembangan perikanan budidaya yaitu mengembangkan usaha budidaya ikan dengan sistem Mina Padi seluas 25 Hektar. Pengembangan mpadi tersebut diawali dari pendanaan Dinas Kelautan dan Perikanan. Propinsi Jawa Tengah sebesar 1 Milyar rupiah. Implementasi kepeloporan Desa Panembangan sebagai Desa Cerdas Perikanan hingga saat ini masih terus berjalan dengan berbagai upaya seperti mengembangkan kawasan, kerjasama dengan multistakeholder telah dilakukan. Pengembangan SFV sebagai pengembangan kawasan perikanan minapolitan dan lainnya (Erlina dan Manadiyanto, 2012. Pancawati, 2015. Pradana, 2. , sudah barang tentu senantiasa akan dihadapkan pada problematika dan tantangan. Oleh karena itu diperlukan upaya mitigasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi problematika dan tantangan dalam pelaksanaan program SFV di desa Panembangan. Penelitian ini diharapkan nantinya dapat mendukung strategi pelaksanaan program kerja SFV yang berkelanjutan. METODE PENELITIAN Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Januari-Maret 2023. Penelitian dilakukan dengan metode survey (Munzir dan Khaidir, 2. Data primer diperoleh dari penggalian informasi data dilakukan menggunakan kuisioner, wawancara secara mendalam mengenai gagasan hingga pelaksanaan SFV dengan pemerintah desa, dinas perikanan dan peternakan, kelompok pembudidaya, kelompok pengolah pemasar, koperasi perikanan dan bumdes serta focus group discussion (FGD) dengan multi stakeholder. Data sekunder diperoleh dari data profil desa, peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, literatur lainnya yang Data dan informasi yang diperoleh disusun, tabulasi penyajian data dan dianalisis secara HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Desa Panembangan Desa Panembangan secara administratif termasuk dalam Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Desa Panembangan terletak pada ketinggian 220-270 dari permukaan laut dan memiliki luas 257. 945 hektar (H. yang terdiri atas daerah dataran rendah dan dataran tinggi. Adapun penggunaan lahanyang terbesar yaitu lahan persawahan sebesar 137 Ha, pemukiman 52 Ha dan perkebunan 46,154 Ha. Penggunaan lahan sawah di Desa Panembangan didukung oleh ketersediaan air yang cukup melimpah. Rincian persentase penggunaan lahan dapat dilihat pada Gambar 1. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Gambar 1. Persentase Penggunaan Lahan di Desa Panembangan Berdasarkan kewillayahan. Desa Panembangan terdiri atas 5 dusun, 3Rukun Warga (RW), dan 21 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk keseluruhan tercatat 5. 507 jiwa dan mayoritas beragama Islam, terhitung sampai 31 Desember 2020, dengan rincian 2. 824 orang laki-laki dan 2. 683 orang perempuan serta 606 Kepala Keluarga. Umumnya tingkat pendidikan masyarakat Desa Panembangan hanya tamat SD/sederajat yaitu sebanyak 2. 070 orang, tidak tamat SD 509 orang, tamat SMP sebanyak 732 orang, tamat SLTA 632 orang, program Diploma hingga Sarjana sebanyak 168 orang dan Strata 2 sebanyak 5 orang. Masyarakat desa Panembangan yang termasuk kategori miskin yang tercatat di Dinas Sosial ada sejumlah 270 orang. Masyarakat miskin tersebut mengikuti program pemerintah yaitu Program Keluarga Harapan (PKH). Selain itu, masih ada juga masyarakat yang belum memiliki sarana MCK sendiri sejumlah 140 Keadaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat desa Panembangan ditopang oleh sektor pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan, industri rumah tangga dan jasa. Sektor ekonomi yang dominan adalah sektor pertanian didukung oleh pekerjaan dan jenis usaha yang ada di desa Panembangan Tabel 1. Tabel 1. Jenis Usaha. Jumlah Usaha dan Tenaga Kerja Jenis Usaha Jumlah Usaha Jumlah Tenaga Kerja Pertanian Peternakan Perikanan Perdagangan Industri Pangan Industri Pakaian Industri Kayu Jasa Perbengkelan Berdasarkan data profil desa Panembangan, angkatan kerja dan usia produkitif yang ada diketahui jumlahnya sebagai berikut: Angkatan kerja/ penduduk usia 15 Ae 55 tahun 3. 139 orang Penduduk usia 15 -55 tahun yang masih sekolah 528 orang Penduduk usia 15-55 tahun yang bekerja penuh 1. 864 orang Penduduk usia 15-55 tahun yang bekerja tidak tentu 558 orang Sektor ekonomi yang dominan adalah sektor pertanian, namun pada saat ini sektor perikanan menjadi salah satu kegiatan yang paling berkembang di desa Panembangan. Kegiatan pada sektor perikanan, secara umum dapat dikategorikan menjadi perikanan budidaya, pengolahan hasil dan pemasaran serta wisata. Perkembangan kegiatan perikanan di desa Panembangan dapat terlihat dari jumlah kolam sebanyak 514 unit dan jumlah pemilik kolam sebanyak 313 orang dan adanya kegiatan mina padi sebanyak 417 petak. Kelompok Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 pembudidaya ikan . di desa ini juga telah berkembang dari hanya satu kelompok menjadi lima kelompok aktif. Peningkatan produksi dari hasil budidaya ikan ini mendorong munculnya 4 . kelompok pengolah hasil perikanan dengan fokus kegiatan mengolah hasil panen menjadi produk lain yang memiliki nilai jual lebih baik dan masa simpan lebih lama. Tabel 2. Kelompok Pembudidaya Ikan di Desa Panembangan NAMA KELOMPOK ALAMAT (RT/RW) JUMLAH ANGGOTA Pokdakan Mina Mandiri Pokdakan Kridoyuwono PNb Pokdakan Berkah Randu Alas Pokdakan Talang Mas Pokdakan Langgas Problematika dan Tantangan Pengembangan SFV di Panembangan Problematika dan tantangan pengembangan SFV di Desa Panembangan secara umum dikelompokan menjadi beberapa hal seperti sumberdaya manusia, kelembagaan, teknologi, bisnis, infrastruktur dan ekonomi serta lingkungan. Kriteria Sumberdaya Manusia Kelembagaan Teknologi Bisnis Infrastruktur Problematika Masih banyak pelaku usaha budidaya di atas umur 40 tahun Tantangan Pengembangan pendidikan dan pelatihan bagi pemuda Terbatasnya kualitas SDM dalam penguasaan teknologi informasi Kelembagaan yang ada relative masih baru Sosialisasi dan pengenalan teknologi Informasi yang berkala dan intensif Pembinaan dan peningkatan keterampilan pengelolaan Partisipasi anggota kelompok yang masih rendah dalam mengembangkan lembaga Pengembangan pendidikan dan pelatihan bagi pemuda Terbatasnya informasi teknologi tepat guna Alih teknologi dan penerapan teknologi tepat guna Penguasaan teknologi informasi yang masih kurang Pengembangan rumah pintar Usaha poklahsar masih bersifat Pengembangan mindset bisnis pelaku Jaringan pasar yang belum luas Pengembangan inkubasi bisnis Kurangnya dukungan modal Pengembangan channeling lembaga keuangan dan investasi Pembangunan jaringan internet yang Jaringan internet yang masih terbatas Belum adanya penataan kawasan Ekonomi Masih banyak masyarakat kategori Pengembangan dan penerapan Pengembangan kewirausahaan sosial Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Kriteria Lingkungan Problematika Masih ada masyarakat yang melakukan MCK di perairan umum Tantangan Penyadaran dan penerapan pola hidup Strategi Pengembangan Desa Cerdas Perikanan di Desa Panembangan perlu diwujudkan secara berkesinambungan, dibutuhkan strategi pengembangannya. Berikut adalah beberapa strategi pengembangan smart fisheries di pedesaan: Meningkatkan Akses dan Penggunaan Teknologi: Salah satu strategi utama adalah meningkatkan akses dan penggunaan teknologi di pedesaan. Hal ini dapat dilakukan melalui pemberian pelatihan dan dukungan teknis kepada pembudidaya untuk menggunakan teknologi yang ada, serta memberikan akses yang lebih mudah ke teknologi baru seperti sensor, pemantauan jaringan, dan aplikasi mobile. Beberapa teknologi dapat diterapkan kepada masyarakat pembudidaya. Teknologi yang tersedia antara lain yaitu Akuaponik (Putra et. , 2. Bioflok Nila (Sukardi et. al, 2. Bioflok Lele (Pramono et. , 2018. Soedubya et. Bioflok Ikan Patin (Sukardi et. , 2. Pakan Ikan Alternatif (Marnani dan Pramono, 2. , penggunaan hormon tiroksin pada ikan Gurami (Andani et. , 2. dan ikan Nilem Strain Seruni (Vebiola , 2020. Pramono et. , 2. , penggunaan rekombinan hormon . GH) (Pramono et. Meningkatkan Infrastruktur: Pembangunan infrastruktur menjadi hal penting bagi pengembangan smart fisheries di pedesaan. Hal ini meliputi pembangunan jaringan internet, penataan kawasan yang baik dan sistem transportasi yang efisien untuk memudahkan distribusi produk perikanan. Mengembangkan Model Bisnis yang Berkelanjutan: Membangun model bisnis yang berkelanjutan sangat penting untuk mendukung pengembangan smart fisheries di pedesaan. Hal ini meliputi pengembangan kemitraan dengan pihak swasta, lembaga keuangan, mengembangkan pasar lokal, regional dan nasional, dan memperkuat jejaring komunitas lokal/regional. Selain itu, masyarakat Desa Panembangan juga diharapkan mampu mengembangkan Kewirausahaan Sosial (Socio-Entrepreneurshi. (Pramono et. dan Ekosistem Bisnis serta rantai pasok produk yang sederhana (Wiranata et. , 2. Harapannya kegiatan ini tidak hanya dinilai dari sisi ekonomi tapi juga memiliki nilai social yang tinggi di masyarakat. Meningkatkan Pendidikan dan Pelatihan: Pendidikan dan pelatihan menjadi hal yang penting dalam mengembangkan smart fisheries di pedesaan. Hal ini meliputi pelatihan tentang teknologi, manajemen usaha perikanan budidaya yang berkelanjutan, dan pengelolaan bisnis. Baik pembudidaya ikan, kelompok pengolah pemasar, koperasi perikanan dan bumdes tidak sebatas hanya diberikan pendidikan dan pelatihan, namun perlu dilakukan inkubasi bisnis yang intensif. Kelompok pembudidaya ikan dan kelompok pengolah pemasar focus pada peningkatan proses produksi (Pramono et. , 2018. Marnani et. , 2. Produk yang dihasilkan senantiasa tepat jumlah, kualitas, harga, dan waktu serta terdistribusi dengan baik (Erlina dan Manadiyanto, 2012. Marnani et. , 2. Memperkuat Jejaring Komunitas: Mengembangkan jejaring komunitas di pedesaan sangat penting untuk mendukung pengembangan smart fisheries. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pertemuan rutin, pelatihan, dan diskusi untuk membahas masalah yang dihadapi dan mengembangkan solusi yang terbaik. SIMPULAN Dalam pengembangan smart fisheries di pedesaan, penting untuk memperhatikan kebutuhan dan kepentingan dari seluruh stakeholder, termasuk masyarakat lokal. Informasi problematika dan tantangan yang ada dalam pelaksanaan programstrategi yang tepat, pengembangan smart fisheries dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat pedesaan, termasuk peningkatan ekonomi, kesejahteraan, dan keberlanjutan sumber daya UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat LPPM UNSOED atas pembiayaan program Pengabdian Smart Villages No 27. 553/UN23. 37/PM. 01/II/2023 dan Pemerintah Desa Panembangan. DAFTAR PUSTAKA