BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 1 Nomor 2, 2022 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Meningkatan Kemampuan Berbahasa dengan Bermain Peran pada Anak Usia Dini Muliyana1. Kautsar Eka Wardhana2 Email: mmuliyana14@gmail. com1, kautsarekaptk@gmail. UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Received: August 13th, 2021. Revised: August 13th, 2021 Accepted: August 13th, 2021. Published: August 13th, 2021 Abstract Development in early childhood will affect the growth and development of future children, in every aspect of development that is interconnected in the child's development process. One aspect of child development is language, language as a means of communication that contains thoughts and feelings in conveying information to others. Playing is a means of learning for children to get to know their environment and a need that is most important for children, especially in early childhood, by playing children will be able to meet all the needs of all aspects of development, both cognitive, effective, social, emotional, motoric and language development. Playing the role of children will be able to add language because of an interaction between them when they play a role. The research method uses a descriptive qualitative approach. With data collection techniques from observation, interviews, and documentation. Validity by using source and technique triangulation. Data analysis techniques are data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study that improving language skills by playing roles, namely, playing roles that are often carried out by TPA (Child Care Cente. children at Wafa Humaira PAUD can increase children's language skills is evident from the delivery of parents to caregivers about their children being able to talk a lot at home and saying just mentioned the child. Then the supporting factors in language development are cognitive factors and external/social environmental factors. Keywords: Role Playing. Language Ability Abstrak Perkembangan pada anak usia dini akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yang akan datang, dalam setiap aspek perkembangan saling berhubungan dalam proses perkembangan Salah satu aspek perkembangan anak ialah bahasa, bahasa sebagai sarana komunikasi yang berisikan pikiran dan perasaan dalam menyampaikan informasi kepada orang lain. Bermain merupakan sarana dalam belajar bagi anak dapat mengenal lingkungannya dan suatu kebutuhan yang paling penting bagi anak terlebih khusus pada anak usia dini, dengan bermain anak akan mampu memenuhi seluruh kebutuhan aspek perkembangan baik itu perkembangan kognitif, efektif, sosial, emosi, motorik, dan bahasa. Bermain peran anak akan dapat menambah bahasa karena terjadinya suatu interaksi antara mereka ketika mereka bermain peran. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dengan teknik pengumpulan data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan dengan menggunakan trianggulasi sumber dan teknik. Teknik analisis data yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarik kesimpulan. Hasil penelitian bahwa meningkatkan kemampuan berbahasa dengan bermain peran yaitu, bermain peran yang sering dilakukan oleh anak-anak TPA PAUD Wafa Humaira dapat menambah kemampuan berbahasa anak itu terbuktikan dari penyampaian orang tua kepada pengasuh * Correspondence Address: Email Address: mmuliyana14@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Muliyana & Kautsar Eka Wardhana tentang anaknya dapat berbicara banyak dirumah dan kata baru yang disebutkan anak. Faktor pendukung dalam perkembangan bahasa yaitu faktor kognitif dan faktor lingkungan luar/sosial. Kata Kunci: Bermain Peran. Kemampuan Berbahasa Pendahuluan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu bentuk pembinaan anak mulai dari lahir sampai dengan berusia 6 tahun dilakukan dengan memberikan dorongandorongan pendidikan yang menunjang perkembang dan pertumbuhan jasmani dan rohani anak menuju pendidikan ketingkat selanjutnya. (UU NO. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona. 1 Murujuk pada undang-undang di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang memberikan pembinaan yang ditujukan kepada anak mulai sejak lahir hingga berusia 6 tahun dengan memberikan stimulus dalam membantu tumbuh kembang anak dari jasmani hingga rohani anak supaya anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut. Anak usia dini adalah masa-masa emas atau golden age yang mana perkembangan dan pertumbuhannya sangat pesat. Maka dengan demikian perkembangan anak usia dini harus dimaksimalkan dengan cara memberikan stimulus serta pengajaran yang sesuai dengan usia anak dan mulai memperkenalkan pendidikan secara nonformal ataupun secara formal untuk melatih tumbuh kembang anak. 2 Dengan memberikan stimulus kepada anak sangat mampu membantu dalam tumbuhan kembangan anak, pada usia dini anak merupakan masa yang tepat untuk memberikan stimulus pada tumbuh kembang anak sebagai upaya dalam meningkatkan perkembangan anak. Maka dari itu sebagai pendidik baik orang tua maupun guru sangat perlu dalam memahami tahap-tahap perkembangan pada anak3, karena itu sangat penting agar mampu memberikan pencerahan kepada pendidik maupun orang tua dalam mendidik anak sebagai pendidik ataupun orang takkan pernah terlepas dari namanya belajar setiap pertumbuhan anak kita perlu belajar lagi dalam memahaminya agar emosi yang dalam jiwa kita mampu terkontrol dalam menghadapi anak jika ingin terus belajar dan bersabar dalam mendidik Pada proses perkembangan bahasa setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda-beda maka sangat perlu bagi pendidik dan orang untuk memahaminya. Perkembangan adalah salah suatu proses perubahan yang terjadi pada individu, perkembangan anak usia dini dipengaruhi oleh aspek-aspek yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak selanjutnya. Adapun aspek perkembangan yang perlu untuk diketahui antara lain aspek fisik motorik, aspek kognitif, aspek bahasa, aspek kemandirian sosio-emosional, nilai moral religius dan aspek seni. 4 Dalam setiap aspek perkembangan saling berhubungan dalam proses tumbuh kembang anak, salah satunya adalah aspek perkembangan bahasa. Bahasa sebagai alat interaksi dalam berkomunikasi yang berisikan pikiran dan perasaan dalam menyampaikan makna kepada orang lain. Perkembangan bahasa dimulai sejak awal kehidupan, namun pada bayi memulai tanpa ada bahasa akan tetapi ketika berusi 4 bulan bayi dapat membedakan suara atau bunyi serta mampu memulainya dengan cara mengoceh tanpa arti. Maka perkembangan bahasa merupakan suatu proses berkembangannya suatu kemampuan seseorang dalam memahami dan mengucapkan kata. Tatik Ariyanti. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini Bagi Tumbuh Kembang Anak, (Jurnal: Dinamika Pendidikan Dasar. Volume 8. No. 1, 2. Fahry Ahmad. Pengertian Anak Usia Dini, https://w. com/pengertian-anak-usiadini/, diakses pada tanggal 27 Desember 2022 Mulianah Khaironi. Perkembangan Anak Usia Dini, (Jurnal: Golde Age Hamzanwadi University. Volume 3. No. Juni 2. Sumiyati. Mengenal Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini, (Jurnal: Al Athfal. Volume 1. No. 1, 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Meningkatkan Kemampuan Berbahasa dengan Bermain Peran pada Anak Usia Dini dengan berjalannya waktu dengan interaksi kosa kata atau kata yang baru dalam kemampuan bahasa seseorang akan ikut berkembang. Bahasa merupakan alat berkomunikasi antara satu orang dengan satu orang lainnya baik secara pribadi ataupun berkomunikasi di dalam kelompok atau komunitas. Bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang akan menghasilkan suara dari ucapan manusia, sebagai mahluk sosial sangat membutuhkan sarana bahasa untuk berinteraksi dengan orang lain untuk mendapatkan informasi pada saat Keterampilan bahasa yang dimiliki anak akan terus berkembang sesuai kelompok usianya5, bahasa akan muncul ketika anak bersama orang tuanya salah satunya dalam bermain baik dengan orang tua maupun dengan teman sebayanya akan terjadi suatu komunikasi antara mereka dan dapat menambah kata bahasa baru untuk anak. Bahasa sangatlah penting bagi anak dengan ia mampu berbahasa atau berbicara akan dapat berinteraksi dengan orang lain dan dapat menambahkan pengetahuan terhadap sesuatu yang belum pernah ia ketahui. Bermain sebagai tempat anak dalam mempelajari lingkungan sosialnya dan merupakan suatu kebutuhan penting bagi anak, dengan bermain anak akan mampu memenuhi seluruh kebutuhan aspek perkembangan baik itu perkembangan kognitif, efektif, sosial, emosi, motorik, dan bahasa. 6 Salah satunya dalam bermain peran anak akan dapat menambah bahasa karena terjadinya interaksi antara mereka ketika mereka bermain peran. Dalam permainan bermain peran merupakan suatu permainan yang mana para pemain memainkan peran karakter dalam latar fiksi, dengan dengan bermain peran para pemain sangat bertanggung jawab dalam memerankan peran yang pada sebuah narasi baik itu dengan melakukan akting dengan proses pengambilan keputusan yang tersusun untuk mengembangkan karakter dalam perannya. Berkaitan dengan menambah pembendaharaan kata atau bahasa dalam bermain peran ini yang dilakukan oleh anak, di dalam bermain peran terjadilah suatu interaksi antara anak dengan anak lainnya dimana pastikan mengucapkan suatu perkataan yang baru setiap anak yang berbeda dalam memainkan peran. Berdasarkan pengamatan pada anak Kelompok Bermain di PAUD Wafa Humaira, bahwa ada beberapa anak yang masih belum jelas dalam penyebutan kosa kata dan masih kurang dalam mengetahui atau memahami kosa kata ketika berbicara terkadang salah dalam memanggil gurunya, seperti kata Bunda lalu dipanggil dengan kata Nenek, adapula menyebutkan Kakak namun dalam pengucapannya Tata, dan pula yang berbicara cepat mengeluarkan kata tanpa makna dan kurang jelas. Akan tetapi ketika mereka sering bertemu di tempat penitipan anak atau dalam kelompok bermain mulai terjadi interaksi diantara mereka. Kemudian mereka bermain salah satunya mereka sering bermain dengan permainan bermain peran, ada penambahan kata yang mereka ketahui seperti yang dulunya hanya ada kata Kakak. Mama. Nenek kini mampu memanggil gurunya dengan sebutan Bunda. Maka dari itu peneliti tertarik dalam meneliti tentang meningkatkan kemampuan berbahasa dengan bermain peran pada anak usia dini. Adapun yang akan dibahas pada penelitian ini ialah mengenai bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa dengan bermain peran pada anak usia dini. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dimana hasil penelitian dideskripsikan dalam bentuk naratif atau kata-kata. Adapun jenis penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Deskriptif adalah Mulianah Khaironi. Perkembangan Anak Usia DiniA. Wiwik Pratiwi. Konsep Bermain Pada Anak Usia Dini, (Jurnal: TADBIR. Volume 5. No. 2, 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Muliyana & Kautsar Eka Wardhana metode penelitian kualitatif yang menggambarkan suatu kondisi dengan apa adanya untuk mengungkapkan suatu keadaan ataupun kejadian yang terjadi. Fokus penelitian merupakan sautu bentuk dari pemusatan fokus pada intisari dari peneliti yang akan dilakukan. Dalam pendangan kualitatif ini bersifat menyeluruh atau tidak dapat dipisah-pisahkan sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan variabel penelitian akan tetapi secara keseluruhan yaitu seputar objek ataupun situasi sosial serta permasalahan yang diteliti antara lain pelaku, tempat, dan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis. 8 Adapun fokus penelitian pada penelitian ini yaitu meningkatkan kemampuan berbahasa dengan bermain peran pada anak usia dini. Penelitian kualitatif data merupakan suatu bahan pokok yang dapat diolah dan dianalisis untuk menjawab suatu permasalahan yang ada di dalam penelitian. Untuk menentukan sumber data dalam penelitian terlebih dahulu membedakan istilah yang terkait dengan objek penelitian, subjek penelitian, dan sumber data penelitian. 9 Adapun objek dalam penelitian ini yaitu kemampuan berbahasa dengan bermain peran, dan subjek dalam penelitian ini yaitu guru dan anak usia 3-4 tahun. Sedangkan sumber data adalah semua pihak yang terkait guru dan anak usia 3-4 tahun. Adapun sumber data dalam memperoleh data terbagi menjadi dua sumber data. Sumber data primer adalah data yang diperoleh ataupun dikumpulkan secara langsung dari sumber pertama. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini ialah guru dan anak usia 3-4 tahun. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung oleh peneliti sebagai pendukung data yang pertama. Teknik teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Observasi merupakan suatu teknik pengamatan atau cara dalam mendapatkan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap suatu kegiatan yang sedang 10 Adapun observasi yang dilakukan peneliti yaitu dengan cara pengamatan secara langsung dalam kegiatan yang ada di PAUD Wafa Humaira. Wawancara adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan informasi langsung dari 11 Adapun wawancara yang akan dilakukan peneliti yaitu mewawancarai guru/pengasuh, untuk mendapatkan informasi secara langsung dari pengasuh di PAUD Wafa Humaira. Dokumentasi merupakan suatu catatan penting dalam suatu peristiwa telah berlalu dengan berbentuk seperti karya-karya monumental dari seseorang, gambar sebagai pendukung dalam penelitian. Keabsahan data atau validitas merupakan data yang tidak berbeda antara data yang diciptakan oleh peneliti dengan data yang terjadi sesungguhnya pada objek penelitian sehingga keabsahan data yang telah disajikan agar dapat dipertanggung jawabkan. Adapun di dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji kepercayaan atau uji kredibilitas terhadap data hasil peneliti yang dilakukan dengan menggunakan triangulasi. Triangulasi dalam penelitian kualitatif diartikan sebagai penguji keabsahan data yang diperoleh dari berbagai sumber, metode, dan waktu. Triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber dan teknik yang beda. Triangulasi Sumber, untuk mengecek keabsahan data, dilakukan dengan cara memverifikasi data yang diperoleh dari berbagai sumber. Triangulasi Teknik. Muh. Fitrah dan Luthfiyah. Metodologi Penelitian, (Sukabumi: CV Jejak, 2. , 36. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2. , 285. Salim dan Haidir. Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2. Sudaryono. Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama, 2. , 81. Sudaryono. Metode Penelitian PendidikanA, 82. Sudaryono. Metode Penelitian PendidikanA, 90. Salim dan Haidir. Penelitian PendidikanA, 119. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Meningkatkan Kemampuan Berbahasa dengan Bermain Peran pada Anak Usia Dini mengecek kepercayaan data dengan cara memverifikasi sumber yang sama tetapi dengan teknik yang berbeda, seperti data yang diperoleh melalui wawancara, verifikasi dengan observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data kondensasi data yaitu tahap pertama yang mengacu pada proses pemilihan atau seleksi, fokus penyederhanaan, serta pergantian data yang terdapat pada catatan lapangan baik itu data dokumentasi ataupun data wawancara. Kemudian data tersebut diubah dengan diseleksi dan diringkas. Diseleksi atau diuraikan dengan kalimat peneliti dan peneliti mencari tema, pola yang penting sehingga yang tidak penting akan Penyajian data adalah tahap kedua setelah data dikondensasi kemudian langkah analisis selanjutnya adalah penyajian data. Penyajian data diarahkan agar data hasil kondensasi akan terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan yang bermakna, sehingga makin mudah untuk dipahami. Dan kemudian dalam penyajian data dilakukan ke dalam bentuk uraian naratif, bagan hubungan antar kategori, diagram alur, dan lain Kemudian tahap selanjutnya dalam proses analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan yang berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data. Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara dan akan berubah jika ditemukan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung pada tahapan pengumpulan data berikutnya. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Hasil wawancara bersama Bunda EM tentang permainan yang sering dilakukan anakanak di TPA ialah sebagai berikut: Auyang saya perhatikan dalam setiap harinya anak di penitipan paud wafa humaira sering melakukan permainan dengan bermain peran. Dari umur 3-6 mereka bermain Salah satu dari mereka ada anak yang berkebutuhan khusus juga ikut dalam bermainAy. Adapun tentang bahasa yang anak-anak telah dapat menurut Bunda EM sebagai berikut: Audari penyampaian orang tua salah satunya pada anak berkebutuhan khusus yang dulu hanya mampu beberapa kata saja yang dia bisa ucapkan kini sudah beberapa Yang dulunya hanya kata salah satunya Auumi, kakak, nenekAy dan yang lain hanya menunjuk jika dia ingin sesuatu dan sekarang sudah bisa Aubunda, ayo makan, ayo mainAy dapat menyampaikan apa yang dia mauAy. Kemudian yang mendukung dalam perkembangan bahasa menurut Bunda EM sebagai Aulingkungan yang sangat mendukung, karena sebelumnya pada anak kebutuhan khusus hanya di rumah saja ketika dia masuk di penitipan anak di paud wafa humaira dia sudah banyak kata yang dia mengertiAy. Pendapat Bunda EM juga senada dengan pendapat Bunda PE ialah sebagai berikut: Ausaya sering melihat dan memperhatikannya. Mereka terlihat senang dalam bermain Ada yang menjadi ibu, ayah, anak, kakak, adik. Kadang juga bermain peran menjadi dokter, pasien, polisi, penjual, pembeli dan lain-lainAy. Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen, (Bandung: Alfabeta, 2. , 404 Salim dan Haidir. Penelitian PendidikanA, 115 Salim dan Haidir. Penelitian PendidikanA, 71 BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Muliyana & Kautsar Eka Wardhana Kemudian mengenai bahasa yang anak-anak dapat menurut Bunda EM senada dengan pendapat Bunda PE ialah sebagai berikut: Audari penyampaian orang tua kepada kami para pengasuh orang tua tersebut bilang anaknya sudah banyak kata yang dia bisa sebutkan dirumahAy. Lalu tentang yang mendukung dalam perkembangan bahasa anak pula senada dengan pendapatnya Bunda EM, menurut Bunda PE sebagai berikut: Aumenurut saya dari yang saya lihat dan saya dengar dari orang tua, yang mendukung dalam perkembangan bahasa anak adalah lingkungan sosialnya dikarena hari-hari bersama teman dan orang tuanya dan lingkungan tempat tinggalnyaAy. Dari wawancara Bunda EM dan Bunda PE pendapatnya juga senada dengan pendapatnya Bunda EL, menurut Bunda ELsebagai berikut: Auanak-anak kadang bermain sendiri-sendiri kadang bermain dengan main-mainan Namun saya lebih banyak melihat mereka bermain kelompok atau biasa dibilang bermain peran, jadi mereka disana ada suatu percakapan antara anak atau saling berkomunikasi satu sama lain ketika bermain peranAy. Menurut Bunda EL tentang bahasa yang anak dapat sebutkan dan digunakan, ialah sebagai berikut: Aumenurut yang pernah saya dengar dari orang tua mengaku yang dulunya anaknya berbicara cepat terus tidak jelas dalam berbicara kini bisa dengan jelas Karenakan setiap mereka bermain yang saya lihat semua anak terlibat terjalin diantara mereka komunikasi dan pengasuh pun ada juga yang ikut dalam bermain merekaAy. Dan mengenai hal apa saja yang mendukung dalam perkembangan bahasa menurut Bunda EL sebagai berikut: Auyang sangat mendukung menurut saya yaitu pengetahuan dan pemahamannya dalam berkomunikasi bersama temannya dan lingkungan sosialnya sangat berpengaruh dalam bahasa anak karena aka nada komunikasi di dalam lingkup sosialnya maka akan dapat menambahkan kosa kata atau bahasa baru lagi untuk anak ketahuiAy. Dari hasil wawancara dari beberapa narasumber para pengasuh di tempat penitipan anak peneliti menemukan bahwa dalam meningkatkan kemampuan bahasa saya menemukan hampir semua pengasuh mengatakan anak sering melakukan permainan peran/bermain peran, dan kemampuan bahasa anak bertambah yang berasal dari penyampaian orang dari yang hanya menunjuk ketika dia menginginkan sesuatu setelah lama di penitipan anak dia mampu mengucapkan apa yang dia inginkan. Serta faktor yang sangat mendukung dalam perkembangan bahasa anak semua pengasuh mengatakan bahwa faktor yang mendukung dalam proses perkembangan anak adalah dari faktor lingkungan luar yaitu lingkungan sosial anak, serta yang mendukung dalam perkembangan bahasa anak adalah mengenai pengetahuan/kognitif anak merupakan suatu pemahaman anak terhadap makna kata yang diucapkan oleh orang sekitarnya. Pembahasan Hasil Penelitian Meningkatkan kemampuan berbahasa dengan bermain peran Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan tanpa paksaan dari orang lain dalam kegiatan bermain dilakukan dengan sukarela, tidak ada BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Meningkatkan Kemampuan Berbahasa dengan Bermain Peran pada Anak Usia Dini paksaan atau tekanan dari pihak lain. 17 Bermain merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dilakukan oleh anak, mereka menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah bersama temannya dengan bermain, seperti salah satunya bermain peran anak untuk melibatkan orang lain. Dengan bermain anak akan belajar bagaimana dalam mengontrol atau pengendalian diri dan emosi dengan sesama teman, melatih keterampilan sosial serta empati, dan lebih menjadi kreatif serta mampu berkomunikasi dan berbahasa pada saat bermain akan lebih membuat anak bahagia sangat merasa senang dalam melakukannya. Anak-anak di Tempat Penitipan Anak yang peneliti amati sangat sering melakukan permainan peran dengan teman sebayanya, selama mereka bermain terjadilah suatu komunikasi atau interaksi antara mereka. Yang mana dari komunikasi ini mereka dapat memperoleh kata-kata baru lagi yang tadi hanya mengenal Auumi, kakak, nenek, abiAy sekarang mempu mengenal dan menyebutkan Aubunda, mau makan, mau jalan-jalan, mau ketemu umiAy dengan terus bermain bersama teman di kelompok bermain kata yang belum pernah disebutkan oleh anak tersebut kini sudah sering ia ucapkan. Dengan sering bertemu teman di tempat penitipan anak, anak tersebut sedikit demi sedikit kata baru yang diucapkan mulai bertambah tidak hanya bermain peran yang anak lakukan, bermacammacam permainan anak lakukan sesuatu dengan apa yang mereka inginkan bermain secara berkelompok akan tetapi hanya beberapa saja yang berperan. Bermain dengan bermain peran pada anak mereka melibatkan semua teman yang ada disekitar area bermain, yang awalnya bermain sendiri-sendiri hanya beberapa yang bersama-sama kemudian ketika ada anak yang sangat pintar dalam berbicara dan mengeluarkan kata yang tegas dalam mengajak teman bermain dengan bermain peran. Anak tersebut menjadi suatu produser yang mengatur temannya serta ikut berperan dalam memerankan cerita yang anak tersebut buat, maka anak tersebut dengan anak yang saling berkomunikasi dengan peran karakter yang mereka perankan meskipun terkadang tidak bermakna apa-apa yang mereka lakukan dari segi pandangan orang dewasa namun bagi anak bermain ini sangat menyenangkan. Perkembangan bahasa adalah suatu alat berkomunikasi untuk berinteraksi dengan sesama individu baik secara lisan, tulisan maaupun dengan isyarat. 18 Dari pernyataan diataslah dapat kita simpulkan bahwa salah satu cara untuk menambah bahasa anak yaitu dengan cara mereka bersosialisasi serta berinteraksi dengan teman yaitu dengan bermain salah satunya dengan bermain peran tanpa disuruh ataupun paksaan pihak lain dalam menentukan peran dalam permainan melaikan dari inisiatif diri sendiri ketika anak bermain dari itu akan melatih anak menjadi kreatif dalam melakukannya. Bermain peran yang mereka lakukan sangat beraneka ragam setiap harinya, berperan sebagai penjual, berperan sebagai guru, berperan sebagai dokter dan lain-lainnya yang mereka perankan dalam bermain bersama. Faktor pendukung dalam perkembangan bahasa Pertama faktor kognitif, dimana setiap pengertahuan atau berpikir anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan bahasa anak. Pakar kognitif juga menunjukkan bahwa kemampuan berbicara anak bergantung pada kematangan 19 Perkembangan kognitif adalah proses berpikir dengan kemampuan Choirun Nisak Aulina. Pengaruh Bermain Peran Terhadap Peningkatan Kemampuan Sosial Anak Usia Dini. Jurnal: PG-PAUD Trunojoyo. Volome 1. Nomor 1. April 2014 Supian Azhari. Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini melalui Metode Bercerita di Lembaga PAUD Meraje Gune, (Jurnal: WISDOM. Volume 02. No. Desember 2. Erisa Kurniati. Perkembangan Bahasa Pada Anak Dalam Psikologi Serta Implikasinya Dalam Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 17 No. 3 Tahun 2017 BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Muliyana & Kautsar Eka Wardhana menghubungkan, mengevaluasi, dan mempertimbangkan suatu peristiwa20 dengan adanya kognitif atau cara berpikir seseorang akan mampu untuk memahami apa yang dikatakan seseorang kepadanya dihubungkan kemampuan berbahasa anak lebih bisa memahami setiap perkataan baik guru maupun teman sebaya di sekolah. Dengan bermain akan melatih anak dalam berkomunikasi serta berbahasa dan belajar keterampilan yang ada dalam kehidupan anak, berkaitan dengan faktor kognitif dengan berbahasa anak akan mampu dalam berpikir setiap makna perkataan yang mereka ucapkan ketika saat bermain mereka mulai menirukan kata baru yang mereka pahami kedalam sebuah permainan maka teman yang lain akan menerima pengetahuan tersebut dan mampu menambah pembendaraan kata baru anak. Di tempat penitipan anak, yang peneliti amati ada seorang anak yang awal tidak paham dengan apa perintah pengasuhnya, kini sudah bisa memahami dan mampu menyebutkan kata. Dalam setiap harinya anak-anak dititipkan orang tuanya di TPA anak tersebut terlatih dalam berkomunikasi karena bertemu teman-temannya dan bermain kedua faktor lingkungan luar, di sisi lain, proses pemerolehan bahasa bergantung pada rangsangan lingkungan. Secara umum anak dikenalkan dengan berbahasa sejak dari awal perkembangannya, salah satunya disebut motherhood yaitu dengan cara ibu atau orang dewasa, anak belajar bahasa melalui proses peniruan dan pengulangan dari orangorang sekitar. 21 lingkungan luar termasuk juga lingkungan sosial. Lingkungan sosial mencakup semua rangsangan eksternal kepada anak yang berhubungan dengan perlakuan terhadap dirinya oleh orang lain, seperti pola kehidupan keluarga, pengkondisian masyarakat, pengkondisian kelompok dan orientasi lainnya. Pada Tempat Penitipan Anak yang peneliti amati, dengan mereka sering melakukan permainan bersama-sama temannya kata perkata mereka dapat kumpulkan dan mereka pahami sehigga dapat menerapkannya di kehidupannya. Lingkungan luar juga sangat berpengaruh dalam kemampuan bahasa anak, di penitipan anak sebelum anak itu dititipkan, anak tersebut hanya berada dirumah tidak bertemu orang lain selain keluarganya terlebih dirumah dia hanya diberi hp oleh orang tuanya. Ketika dia dititipkan di TPA anak tersebut dapat bertemu teman sebayanya dan saling berinteraksi dan bermain bersama-sama. Pada awalnya hanya diam memperhatikan teman-teman lain bermain dan kemudian anak tersebut bermain sendirian tidak beberapa lama datanglah salah teman mengajaknya bermain bersama dan mulai saling berkomunikasi ketika sedang bermain, setiap hari anak-anak pada tempat penitipan anak bermain. Kesimpulan Meningkatkan kemampuan berbahasa dengan bermain peran yaitu, dengan bermain salah satunya bermain peran yang sering dilakukan oleh anak-anak kelompok bermain di TPA (Tempat Penitipan Ana. PAUD Wafa Humaira dapat menambah kemampuan berbahasa anak itu terbuktikan dari penyampaian orang tua kepada pengasuh tentang anaknya dapat berbicara banyak di rumah. Bermain peran merupakan bentuk permainan yang anak senangi dimana dalam bermain peran meraka menjadi saling mengenal dan saling berinteraksi satu sama lain dalam memerankan peran yang mereka inginkan. Anak bebas dalam menentukan peran apa yang mereka sukai dalam bermain tanpa adanya paksaan dari pihak manapun dalam menentukan. Dengan bermain peran dapat Muhammad Busyro Karim. Meningkatkan Perkembangan Kognitif Pada Anak Usia Dini Melalui Alat Permainan Edukatif. Jurnal: PG-PAUD Trunojoyo. Volume 1. Nomor 2. Oktober 2014 Erisa Kurniati. Perkembangan Bahasa Pada Anak Dalam Psikologi Serta Implikasinya Dalam Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 17 No. 3 Tahun 2017 Shofiyatuz Zahroh dan NaAoimah. Peran lingkungan Sosial Terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Di Jogja Green School. Jurnal: PG-PAUD. Volume 7. Nomor 1. April 2020 BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 1 Nomor 2, 2022 Meningkatkan Kemampuan Berbahasa dengan Bermain Peran pada Anak Usia Dini meningkatkan atau menambah kosa kata baru atau pembendahara kata pada anak sedikit demi sedikit mulai meningkat. Permainan dengan bermain peran anak dapat bersosialisasi, berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sebayanya akan sedikit demi sedikit anak dapat memperoleh kata baru. Dengan faktor pendukung dalam perkembangan bahasa yaitu faktor kognitif yang mana anak mampu dalam memahami setiap perkataan dan faktor lingkungan luar/sosial mendorong anak untuk berinteraksi dengan orang lain. Kognitif merupakan suatu kegiatan mental yang dapat membuat seseorang mampu dalam menghubungkan, menilai, seta mempertimbangkan suatu peristiwa yang berdampak pada seseorang tersebut dalam menerima pengetahuan. Kemampuan kognitif ialah bentuk perkembangan yang mengarah kepada kemampuan dalam memperoleh arti atau makna pengetahuan didapat dari pengalaman dan informasi, dengan bermain peran terjadinya interaksi timbulah suatu bahasa dari pengucapan kata ketika berinteraksi dengan orang yang mana mempunyai suatu pengetahuan dan informasi dengan adanya kemampuan kognitif ini anak mampu memahami makna setiap kata. Lingkungan luar/sosial adalah suatu wilayah yang merupakan tempat berlangsungnya suatu interaksi sosial yang bermacam-macam antara berbagai kelompok dengan simbol dan nilai serta norma yang ada di lingkungannya, lingkungan sosial pada anak usia dini mencakup lingkungan tempat tinggalnya selain orang tua di rumah dan lingkungan tempat belajar dan bermain dengan teman sebaya serta guru maupun pengasuh jika berada dalam tempat penitipan anak. Maka terjadilah interaksi dengan lingkungan sosial ketika bermain ataupun ketika belajar bersama teman, akan membentuk pola berpikir kognitifnya dalam mendapatkan pengetahuan serta kosa kata baru yang anak, kemudian mereka mempraktekan atau menggunakan bahasa tersebut pada saat berbicara dengan orang lain atau pada saat anak bermain dengan bermain peran dengan menjadikan contoh yang ada di lingkungan sosial anak diwujudkan dalam bentuk Referensi