ISSN: 2988-2850 Volume 2. Nomor 1. Januari 2024 DOI XX-XX Kecerdasan Spiritual dan Kenakalan Remaja dalam Hubungan Antara Keharmonisan Keluarga dan Agama Sugeng Sejati. Dika NurAoaini . Viola Junia Vitaloka . Nur Aifah Widiyawati . Puspa Yuni Rahayu . , 1,2,3,4,5 Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. Indonesia Email: 1sugengsejati@mail. id, 2Dika83627@gmail. violajunia26@gmail. com, 4 aifahnur772@gmail. com, 5 puspayura@gmail. Abstract This research highlights the importance of enhancing not only cognitive intelligence but also emotional intelligence and self-confidence in children. It addresses the issue of juvenile delinquency and its complex social consequences and highlights the role of spiritual intelligence in reducing such behavior. The book also examines the influence of family harmony on adolescent behavior and shows that family conflicts can contribute to crime. addition, the book emphasizes the importance of religion in human life, as it serves as an important motivator and tool for personal growth and self-control. The research method used is a literature study with a qualitative descriptive approach to determine the relationship between juvenile delinquency, spiritual intelligence, family harmony, and religiosity. The results and discussion concern the concept of spiritual intelligence and its four components and highlight its role in achieving inner peace. The article emphasizes on the positive impact of family harmony and religious education on the prevention of juvenile delinquency. conclusion, this study provides insights into the various factors that influence adolescent behavior and shows that a holistic approach combining emotional intelligence, family harmony and religious education helps children become responsible and balanced Keyword : spiritual intelligence, juvenile delinquency, family harmony, religion Abstrak Penelitian ini menekankan pentingnya membina tidak hanya kecerdasan kognitif tetapi juga kecerdasan spiritual dan keyakinan pada anak. Penelitian ini membahas masalah kenakalan remaja dan dampak sosialnya yang kompleks, serta menekankan peran kecerdasan spiritual dalam memitigasi perilaku tersebut. Penelitian ini juga mengeksplorasi pengaruh keharmonisan keluarga terhadap perilaku remaja menunjukkan bahwa konflik dalam keluarga dapat berkontribusi terhadap kenakalan. Selain itu, hal ini menggaris bawahi pentingnya agama dalam kehidupan manusia, yang berfungsi sebagai motivasi dan alat penting untuk pengembangan pribadi dan pengendalian diri. Metodologi penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi hubungan antara kenakalan remaja, kecerdasan spiritual, keharmonisan keluarga, dan Hasil dan diskusi menyoroti konsep kecerdasan spiritual dan empat komponennya, serta menekankan perannya dalam mencapai ketenangan pikiran. Teks tersebut diakhiri dengan menekankan dampak positif keluarga harmonis dan pendidikan agama dalam mencegah kenakalan remaja. Ringkasnya, penelitian ini memberikan wawasan mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku remaja, menunjukkan bahwa pendekatan holistik yang melibatkan kecerdasan emosional, keharmonisan keluarga, dan pendidikan agama dapat memainkan peran penting dalam membentuk individu yang bertanggung jawab dan seimbang. Dengan memahami dan mengembangkan kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja, individu dapat menciptakan keharmonisan yang baik dalam keluarga dan Kata Kunci : kecerdasan spiritual, kenakalan remaja, keharmonisan keluarga. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Pendahuluan Pada kemajuan zaman sekarang sering yang penuh dengan rintangan dan persaingan kehidupan, sehingga anak anak diberikan berbagai fasilitas oleh orang tua guna menunjang kecerdasan. Tak hanya menunjang kecerdasan kognitif, akan tetapi memerlukan cerdas jiwa dan keyakinan. karena kalau anak dibekali hanya kecerdasan kognitif, besar kemungkinan anak akan merasa kosong, layaknya seseorang yang hilang arah. karena aksl yang cerdas memungkinkan si anak untuk sukses disaat dihadapkan dunia pekerjaan, maupun finansial. Akan tetapi, tak menjamin sianak mendapatkan ketenangan, karena tenang yang sesungguhnya tak ditunjang berdasarkan materi. (Lubis 2. Kenakalan remaja bukanlah persoalan baru bagi negeri ini. Kejahatan remaja merupakan permasalahan sosial yang tak kalah kompleksnya karena berdampak pada semua orang yang terlibat: orang tua . , sekolah . , aparat pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat. Kejahatan remaja merupakan suatu kenyataan yang berdampak terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara, dan harus ditanggulangi oleh semua pihak yang terlibat, tanpa kecuali. Remaja adalah generasi penerus yang kelak akan memimpin negara dan bangsa menuju keadaan yang baik, buruk, atau hancur. Oleh karena itu, menjadi tugas semua pihak untuk mengambil tanggung jawab dalam melindungi dan melindungi generasi muda dari berbagai aktivitas destruktif seperti narkoba, alkohol, dan aktivitas kriminal lainnya. Tingginya angka kejahatan remaja saat ini disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosional generasi muda, yaitu kemampuan menganalisis segala permasalahan, mengendalikan segala sikap dan tindakan, serta membedakan perbuatan benar dan Saat dihadapkan pada suatu masalah, seringkali memilih jalan pintas untuk menyelesaikannya, seperti minum minuman keras, menggunakan narkoba, bunuh diri, atau kabur dari rumah. (Daudiah dan Rahayu 2. Meskipun fase remaja memiliki karakteristik dan karakteristik yang berbeda dari fase kanak-kanak, dewasa, dan tua, setiap fase memiliki kondisi dan tuntutan yang unik bagi masing-masing individu. Akibatnya, kemampuan seseorang untuk bersikap dan bertindak dalam menghadapi situasi berbeda dari satu fase ke fase berikutnya. (Diananda 2. Salah satu penyebab remaja menjadi nakal adalah karena perselisihan dalam Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang hidup bersama, memahami dan menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Setiap anak menginginkan sebuah keluarga yang utuh . yah, ibu, ana. berkumpul dalam satu rumah, menjalani kehidupan yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan, serta bekerja keras membangun keluarga yang kaya dan bahagia. (Mukhlisah dan Irfan 2. Keluarga harmonis, atau keluarga utuh, adalah ketika semua anggota keluarga lengkap dan tidak bercerai berai. Ini memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara normal dan mengembangkan potensinya sesuai dengan tingkat Hubungan kedua orang tua, seperti saling memahami, berbagi pendapat, dan menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing, sangat penting untuk keharmonisan keluarga. (Endriani 2. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Agama tentu mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena agama merupakan motivasi hidup dan kelangsungan hidup, serta alat yang sangat penting bagi pengembangan diri dan pengendalian diri. Oleh karena itu, agar agama dapat berfungsi maka agama harus diketahui, dipahami dan diamalkan oleh manusia, agama menjadi landasan kepribadian, manusia menjadi landasan kepribadian, hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, menjadi landasan hubungan manusia dengan alam. Hubungan dengan diri sendiri yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan dan keselarasan dalam kehidupan manusia, demi tercapainya kesejahteraan jasmani dan rohani, sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mengembangkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, memandang Islam khususnya sumber dan kerangka ajarannya, berintegritas, dan mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni untuk dapat melakukannya dan kebudayaan yang membentuk peradaban Islam, yang merupakan hasil ajaran Islam, tanpa batas yang dibawa oleh teknologi atau pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh seni dan (Afriany. Siska. Sartika. Diah. Setiawan 2. Kecerdasan kerohanian bergerak kepada seseorang menjelang persepsi terhadap sang maha pencipta. Sehingga mengerti darimana asalnya, kepada apa ia hidup, hendak kemana ia setelah hidup. Agama Islam melatih kemustajaban orang itu diciptakan adalah kepada mengorbankan hidupnya semata-mata menjelang Allah Swt. Maka berpokok itu taktik les Islam menyorong bahwa kecendekiaan pangkal yang harus dimiliki warga gasak ialah kecendekiaan kerohanian, dasar hakikatnya itulah yang menjabat parameter ketinggian seseoang dihadapan sang pencipta. (Lubis 2. Metode Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, dimana penyelesaiannya dilakukan dengan menelusuri penelitian-penelitian yang telah dibuat sebelumnya oleh peneliti Studi literatur pada penelitian ini adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelola data penelitian secara obyektif, sistematis, analitis, dan kritis tentang Kecerdasan Spiritual dan Kenakalan Remaja dalam Hubungan Antara Keharmonisan Keluarga dan Agama. Penelitian dengan studi literatur ini memiliki persiapannya sama dengan penelitian lainnya akan tetapi sumber dan metode pengumpulan data dengan mengambil data di pustaka, membaca, mencatat, dan mengolah bahan penelitian dari artikel hasil penelitian tentang variabel dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan dan dianalisis merupakan data sekunder yang berupa hasil-hasil penelitian seperti buku, jurnal, artikel, situs internet, dan lainnya yang relevan. Hasil dan Pembahasan Kecerdasan spiritual adalah kemampuan memahami setiap perbuatan dan aktivitas ibadah melalui tata cara dan pemikiran alamiah menuju manusia seutuhnya dengan Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi pola pikir integralis dan berprinsip hanya karena Allah. Kecerdasan spiritual merupakan dasar berfungsinya kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) secara Bahkan Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan kecerdasan tertinggi individu. (Ratnasari. Supardi, and Nasrul 2. Selain itu. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan prilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta merilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. (Paulina and Janrosl 2. Ada empat komponen kecerdasan spiritual Setiap komponen mewakili ukuran kecerdasan spiritual yang komprehensif, yakni: Berpikir Eksistensial Kritis (CET). Unsur tersebut adalah kecerdasan spiritual, yang mencakup kemampuan berpikir kritis tentang makna, tujuan, dan topik eksistensial atau metafisik lainnya . eperti realitas, ruang, waktu, alam, alam semesta, dan kematia. Kehadiran berpikir kritis dapat diterapkan pada permasalahan apa pun dalam kehidupan. Segala sesuatu dan peristiwa pada dasarnya dapat dilihat berkaitan dengan keberadaan manusia. Produksi Arti Pribadi (PMP). Unsur kecerdasan yang kedua ini adalah kemampuan memberi makna dan tujuan pribadi terhadap segala pengalaman, baik fisik maupun mental, termasuk kemampuan menciptakan dan mencapai tujuan dalam hidup. Kesadaran Transendental (TA). Elemen ketiga adalah kecerdasan, yang mencakup pemahaman terhadap dimensi diri sendiri, orang lain, atau transendensi dunia fisik . isalnya, yang tidak berwuju. dalam keadaan normal dan dalam kondisi di mana alam kesadaran dikembangkan. kesadaran transendental sebagai kemampuan merasakan dimensi spiritualitas dalam Kesadaran ini merefleksikan apa yang sebelumnya dideskripsikan sebagai rasa akan adanya realitas yang lebih tersebar dan umum dibandingkan dengan rasa khusus kita. Keadaan kesadaran yang diperluas (CSE). Elemen terakhir dari kecerdasan adalah kemampuan untuk menggabungkan alam kesadaran spiritual . isalnya kesadaran murni dan kesatua. ke dalam kebijaksanaan Kesadaran diri . elf awareness, atau sering disebut self awarenes. merupakan pembeda utama antara orang yang memiliki spiritualisme tinggi dengan yang tidak. Orang yang sadar selalu berpikir dua kali ketika bereaksi terhadap suatu situasi dan meluangkan waktu sejenak untuk memahami apa yang tersembunyi dan apa yang benar sebelum membuat reaksi pertama. (Octavia. Hayati, and Karim 2. Orang yang cerdas secara intelektual mungkin mampu mengatasi permasalahan hidup dengan pikirannya, namun keberhasilan berpikir tersebut tidak serta merta membuat orang tersebut tenang. Oleh karena itu, tidak salah jika banyak orang yang mengatakan bahwa kedamaian dalam hidup terletak pada hati. Ketenangan pikiran timbul ketika seseorang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Namun, penting juga untuk diketahui bahwa kecerdasan spiritual tidak bekerja sendirian. Memahami nilai-nilai mental dan spiritual tidak bisa dilakukan dengan pikiran kosong. Artinya kecerdasan tersebut tidak muncul begitu saja secara alamiah, melainkan melalui Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi proses pembelajaran intelektual. Siapapun yang mengenal Tuhan tanpa mengetahui apapun pasti akan salah ilmunya. (Lubis 2. Masyarakat Indonesia seringkali mengambil kesimpulan yang salah tentang lingkungan sosial dengan mengkritik tindakan dan sikap masyarakat serta membandingkannya dengan pendidikan orang tua, latar belakang akademis, latar belakang lingkungan, suku, ras, agama, dan lain-lain. Padahal, sangat penting bagi individu atau kelompok orang untuk mengomentari cara dan metode orang lain. Sebab, perlu diketahui bahwa cara dan pola bimbingan orang tua berbeda-beda tergantung karakteristik (Hasanah and Maarif 2. Kenakalan remaja dalam studi masalah dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang yang dapat menjurus pada perilaku anti sosial . nti-social behavio. Berbagai istilah yang telah lama dikenal untuk menunjukkan perilaku acting out, gangguan tingkah laku . onduct disorde. , masalah tingkah laku, perilaku yang mengacau dan mengganggu serta kenakalan. (Anarta. Fikri. Fauzi. Rizki M. Rahmadhani 2. Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang atau penyimpangan sosial. Kenakalan Remaja Istilah remaja berasal dari kata adolescere yang berarti tumbuh atau menjadi dewasa. Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial hingga perilaku kriminal. Ada empat aspek kenakalan remaja, yaitu: Perbuatan yang melanggar hukum. Misalnya pelanggaran lampu lalu lintas, pencurian, perampokan, pemerkosaan dan masih banyak lagi aktivitas ilegal lainnya. Perbuatan yang membahayakan orang lain atau diri sendiri. Misalnya saja ngebut di jalan raya, melanggar rambu lalu lintas, merokok, memakai narkoba, dan lain-lain. Perbuatan yang menimbulkan kerugian besar. Pencurian, perundungan, perusakan fasilitas sekolah dan fasilitas umum lainnya, dll. Perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi badan. Misalnya tawuran antar sekolah atau dengan teman satu sekolah. (Taufik. Hyangsewu, and Azizah 2. Remaja yang kurang memiliki keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga, seperti komunikasi antara orang tua dan anak, kehidupan beragama yang baik, hubungan yang erat antar anggota keluarga, dan waktu luang orang tua untuk bertemu dengan keluarga terutama anak, akan menjadi pelaku tindak pidana. Demikian pula, anak-anak dari keluarga yang tidak harmonis cenderung melakukan kejahatan yang lebih serius. Sebaliknya, dalam keluarga harmonis, kecil kemungkinan anak menjadi nakal atau bahkan nakal. Terdapat hubungan positif antara keharmonisan keluarga dengan kenakalan remaja, artinya semakin harmonis keluarga maka angka kenakalan remaja akan semakin rendah. Sebaliknya, semakin banyak perselisihan dalam suatu keluarga, maka semakin meningkat pula kejahatan remaja . uvenile crimes yang dilakukan oleh (Pusnita 2. Menurut Stinnet dan DeFrain, ada enam komponen keharmonisan keluarga: kehidupan beragama dalam keluarga, waktu yang dihabiskan bersama keluarga, komunikasi yang baik, saling menghargai dan ikatan yang kuat, dan sedikit atau tidak ada konflik. (Jayanti and Silaen 2. Pengaruh sosial dan kultural Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi sangat berpengaruh dalam menciptakan atau mengontrol tingkah laku kriminal anakanak remaja. Perilaku anak-anak remaja ini menunjukkan tanda-tanda ketidaksesuaian atau ketidaksesuaian dengan norma sosial, dan kebanyakan kenakalan terjadi pada remaja berusia 21 tahun atau lebih. (Karlina 2. Secara terminologi harmoni berasal dari kata harmonis yang artinya selaras. Fokus keselarasan adalah pada keadaan harmonis. Dalam kehidupan berkeluarga, kedua hal tersebut perlu dijaga agar tercapai keharmonisan keluarga. Harmoni adalah soal . keselarasan, dan kesesuaian. Keluarga yang rukun dan bermutu adalah keluarga yang rukun, bahagia, tertib, disiplin, saling menghormati, memaafkan, saling membantu dengan kebajikan, mempunyai etos kerja yang baik, dan merupakan keluarga bertetangga yang baik. keluarga yang saling menghormati dan ketaatan dalam beribadah. Keluarga yang harmonis biasanya memiliki karakteristik berikut: . memberikan waktu untuk saling menyapa meskipun sibuk. makan bersama di meja makan. menumbuhkan kasih satu sama lain. mengatur liburan. memberikan waktu khusus untuk berkomunikasi setiap hari. beribadah bersama. percaya anak dapat membuat keputusan. berkomitmen untuk bekerja sama di rumah. memiliki gaya hidup yang harmonis. menerima setiap kekurangan yang ada. (Wulandari Keluarga bahagia ditandai dengan jiwa yang tenang dan berlandaskan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, hubungan yang harmonis antar individu dalam keluarga dan masyarakat, terjaminnya kesehatan jasmani, rohani, dan sosial, sandang dan pangan yang cukup, serta penginapan, dan bercirikan terjaminnya hal-hal yang Hal ini antara lain mencakup hak asasi manusia, ketersediaan kesempatan pendidikan yang layak, jaminan masa pensiun tanpa harus khawatir akan penelantaran di hari tua, dan ketersediaan fasilitas rekreasi yang layak. Hal ini didasarkan pada aspek-aspek yang menciptakan keharmonisan keluarga: saling menghormati, saling mencintai, memperhatikan komunikasi, waktu bersama keluarga, meningkatkan kesejahteraan spiritual dan meminimalkan konflik. (Yanti 2. Perilaku keluarga yang sesuai dengan ajaran agama mengarah pada perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama, sehingga memungkinkan keluarga berkembang dan berfungsi sebagai pertahanan moral terhadap munculnya perilaku menyimpang di Pembinaan agama sejak dini akan mempengaruhi perilaku anak ketika ia tumbuh dewasa. Perilaku orang tua menjadi teladan bagi anak, tumbuh kembang anak meniru perilaku orang tua dan lingkungan rumah. Pendidikan agama bukan berarti pengajaran agama secara sadar dan teratur yang diajarkan oleh guru spiritual agama. Namun agama dimulai di rumah ketika anak masih kecil, dan dalam proses pendidikan dan pengasuhan di sekolah, menanamkan sifat dan kebiasaan yang baik pada diri (Afriany. Siska. Sartika. Diah. Setiawan 2. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Keluarga harus memiliki kemampuan untuk menanamkan prinsip-prinsip pendidikan yang tepat pada setiap individu. Jadi, pada tahap tertentu, peralihan . memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dengan bantuan orang-orang di Ia akan memiliki kemampuan untuk membedakan antara prinsip-prinsip yang harus ia ikuti dan yang tidak. Anak-anak akan menjadi labil jika keluarganya tidak Ia tidak memiliki contoh yang dapat dia ikuti sepanjang hidupnya. Akan sulit untuk membedakan antara hal-hal yang baik dan hal-hal yang bertentangan dengan standar masyarakat. Jika ini terjadi, anak-anak menjadi nakal, dan ketika mereka tumbuh, mereka akan berkembang ke arah kejahatan. (Dako 2. Penekanan terhadap pembangunan keagamaan terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pembangunan Nasional. Pasal 1 . : Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, mengembangkan keterampilan, meningkatkan harkat dan martabat masyarakat, serta mengembangkan potensi peserta didik. Mendidik anak menjadi manusia yang sehat, berilmu, kompeten, kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab. Pendidikan agama Islam merupakan upaya untuk mengembangkan dan menunjang peserta didik agar selalu memahami keseluruhan ajaran Islam. Kenakalan yang dilakukan seorang pelajar dapat diartikan sebagai kekeliruan, perbuatan yang melanggar norma masyarakat, atau perbuatan yang bersifat anti sosial. Dari sudut pandang agama sudah jelas apa yang dilarang dan apa yang diwajibkan oleh agama. Apa pun yang dianggap nakal oleh kebanyakan orang dilarang secara agama. Kenakalan adalah suatu penyimpangan tingkah laku yang bertujuan mengganggu ketenangan diri sendiri atau orang lain. Kenakalan siswa merupakan ekspresi ketegangan, kegelisahan, ketakutan, atau tekanan internal atas pengaruh (Paramida. Sitika, and Syarief 2. Pengembangan Kecerdasan Spiritual Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual(Annas 2. Melalui Iman iman memberikan ketenangan pikiran dan keselamatan kehidupan. Iman, tauhid, dan ibadah kepada Allah menyebabkan perilaku istikomah. Ada pencegahan dan terapi penyembuhan penyimpangan, penyelewengan, dan penyakit jiwa. Jika seorang mukmin tetap teguh pada keyakinannya. Allah akan menjaga semua ucapan dan Jiwa seseorang dapat dibersihkan melalui ibadah. Bertambah banyak ibadah seseorang, semakin bersih jiwanya. Tuhan digambarkan dalam agama Islam sebagai dzat yang maha suci dan hanya orang yang memiliki jiwanya yang suci yang dapat mendekati dia. Kebersihan jiwa dapat ditingkatkan melalui ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah. Salah satu tanda kecerdasan adalah jiwa yang bersih. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Simpulan Simpulan ditulis secara singkat, padat dan jelas dalam satu paragraf, yang merupakan ringkasan dari hasil dan pembahasan serta menjawab dari tujuan dari penelitian/publikasi. Menekankan pada penguatan, kebaharuan dari penemuan atau Uraikan mengenai keterbatasan atau saran yang berkaitan dengan hasil penelitian untuk kegiatan praktis ataupun penelitian lanjutan berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan dapat disampaikan secara singkat dan jelas pada akhir Kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja merupakan dua konsep yang sangat terkait dengan hubungan antara keharmonisan keluarga dan agama. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh dan menghadapi persoalan makna-nama, keutuhan diri, dan perilaku. Kenakalan remaja, di dalam konteks agama, mengacu pada peran dan tanggung jawab di dalam keluarga Secara keseluruhan, kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja merupakan dua konsep yang saling terkait dan mempengaruhi bagaimana individu menghadapi tantangan dalam kehidupan dan mengembangkan diri. Dengan memahami dan mengembangkan kecerdasan spiritual dan kenakalan remaja, individu dapat menciptakan keharmonisan yang baik dalam keluarga dan agama. Hubungan antara keharmonisan keluarga dan agama adalah penting untuk dijaga. Kecerdasan spiritual dapat membantu seseorang dalam menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan spiritual. Di Indonesia, hubungan antarpemeluk agama selama ini sangat harmonis dan kerukunan umat beragama menjadi prasyarat bagi terwujudnya integrasi nasional dan keberhasilan pembangunan nasional. Pasangan nikah beda agama harus mampu untuk menjaga keharmonisan hubungan antar keluarga dan masyarakat sekitar. Dialog antar agama juga dapat menjadi salah satu usaha untuk menjadikan perekat bagi keharmonisan dalam suatu agama dan juga hubungan antar umat. Oleh karena itu, penting bagi para pemuka agama dan pemerintah untuk berperan aktif dalam melestarikan kerukunan umat beragama. Referensi