KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI DI WILAYAH REBANA JAWA BARAT LAND SUITABILITY FOR INDUSTRIAL ZONES PLANNING AND DEVELOPMENT IN KAWASAN REBANA OF WEST JAVA Muhammad Saiful Ruuhulhaq Amcolabora Institute. Jl. Boulevard Grand Depok City C1 No 36. Kota Depok 16421 msaiful@amcolabora. askah masuk 4 Maret 2025, naskah direvisi 6 Mei 2025, naskah diterima 4 Juni 2. ABSTRACT This study aims to identify land suitability levels for industrial zone development in Kawasan Rebana of West Java using Geographic Information System (GIS)-based spatial analysis. The data utilized include parameters such as slope gradient, multi-hazard, proximity to roads, rivers, settlements, and soil type, aligned with Ministerial Regulation No. 35 of 2010 and the author's refinement. An overlay technique in GIS was applied to integrate these parameters to produce a land suitability map. The results reveal that Indramayu Regency has the highest potential, with areas classified as suitable and highly suitable, amounting to 123,543. 38 hectares and 25,236. 07 hectares, respectively. Conversely. Kuningan Regency shows limited highly suitable land, with only 1,307. 06 hectares, requiring additional interventions. Cirebon City, as an urban area, is more suitable to serve as a logistics hub supporting surrounding industrial zones. This study highlights the importance of GISbased approaches in spatial planning to ensure optimal and sustainable industrial zone development. Recommendations are provided for each region based on their respective potentials and challenges. Keywords: Kawasan Rebana. land suitability. GIS. industrial zones. spatial analysis ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan industri di Kawasan Rebana. Jawa Barat dengan menggunakan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Data yang digunakan meliputi parameter seperti kemiringan lereng, multi bahaya, jarak dari jalan, sungai, dan pemukiman, serta jenis tanah, yang disesuaikan dengan Permenperin No. 35 Tahun 2010 dan hasil pengembangan penulis. Teknik overlay dalam SIG diterapkan untuk memadukan berbagai parameter tersebut guna menghasilkan peta kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Indramayu memiliki potensi tertinggi dengan luas lahan kategori Sesuai dan sangat sesuai, yaitu 123. 543,38 hektar dan 236,07 hektar. Sebaliknya. Kabupaten Kuningan mencatat keterbatasan lahan kategori Sangat Sesuai, 307,06 hektar, sehingga memerlukan intervensi tambahan. Kota Cirebon, sebagai wilayah urban, lebih sesuai untuk difungsikan sebagai pusat logistik pendukung kawasan industri. Penelitian ini menekankan pendekatan berbasis SIG dalam perencanaan tata ruang untuk memastikan pengembangan kawasan industri yang optimal dan berkelanjutan. Rekomendasi diberikan untuk setiap wilayah berdasarkan potensi dan Kata kunci: Kawasan Rebana. kesesuaian lahan. SIG. kawasan industri. analisis spasial PENDAHULUAN pendekatan berbasis data dan analisis spasial sangat penting untuk memastikan bahwa pembangunan wilayah industri berjalan secara Perencanaan tata ruang merupakan salah satu elemen kunci dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan wilayah industri, tata ruang yang dirancang dengan baik tidak hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi dan sosial (Permana, 2. Perencanaan yang tidak memadai dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti konflik lahan, degradasi lingkungan, dan inefisiensi ekonomi. Oleh karena itu. Sebagai salah satu sektor yang mendorong perekonomian, kawasan industri memiliki peran strategis dalam memperkuat daya saing regional dan nasional. Kawasan industri di Indonesia telah menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan investasi asing langsung/Foreign Direct Investment (FDI) dan menciptakan lapangan kerja (Cakranegara. Namun demikian, proses perencanaan 26 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 sering kali menghadapi berbagai kendala, seperti terbatasnya ketersediaan lahan yang sesuai, tekanan dari pemangku kepentingan, serta dampak negatif terhadap lingkungan jika perencanaan tidak dilakukan secara tepat. terhadap ekosistem setempat. Proses perencanaan harus melibatkan analisis menyeluruh terhadap berbagai kriteria kesesuaian lahan, termasuk topografi, jenis tanah, dan aksesibilitas. Di tingkat provinsi. Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 14 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Pengembangan Kawasan Rebana Tahun 2020Ae2030 menegaskan visi Kawasan Rebana sebagai pusat manufaktur dan logistik yang terintegrasi dengan Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati, serta mendorong sinergi antarkabupaten melalui penguatan konektivitas dan mitigasi risiko bencana. Selain itu. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2011Ae2025 juga menempatkan Rebana sebagai salah satu wilayah unggulan dalam pengembangan koridor ekonomi Jawa Barat, sehingga segala kebijakan tata ruang dan investasi diarahkan untuk mendukung daya saing regional secara berkelanjutan. Tantangan ini semakin kompleks karena adanya variasi kondisi geografis dan karakteristik lahan di Kawasan Rebana. Sebagai contoh, beberapa bagian kawasan ini memiliki risiko banjir yang tinggi, sedangkan bagian lainnya mungkin kurang memiliki aksesibilitas yang memadai. Konflik antara kebutuhan lahan untuk industri dan kebutuhan lahan untuk pertanian atau pemukiman juga menjadi isu yang harus diatasi (Tambunan. Pengembangan Kawasan Rebana diproyeksikan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja dan meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB) secara Kawasan ini memiliki keunggulan berupa ketersediaan lahan yang relatif luas dan harga yang lebih kompetitif dibandingkan kawasan industri di Jabodetabek. Konektivitas yang baik dengan kawasan perkotaan besar seperti Bandung dan Jakarta membuat Kawasan Rebana semakin menarik sebagai lokasi pengembangan industri (Karso, 2. Faktor-faktor ini menjadikan Kawasan Rebana sebagai kandidat utama untuk pengembangan wilayah industri berbasis manufaktur, logistik, dan sektor teknologi tinggi. Potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika perencanaan tata ruang dilakukan secara matang dan berbasis data. Perencanaan yang tidak mempertimbangkan kesesuaian lahan dapat menghambat perkembangan kawasan Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mempertimbangkan aspek spasial, sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk Kawasan Rebana sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Salah utama dalam pengembangan kawasan industri adalah pemilihan lokasi yang sesuai dengan kondisi lahan (Lazuardi dkk. , 2. Pemilihan lokasi yang tidak tepat dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti tingginya biaya konstruksi, risiko bencana alam, dan dampak negatif Pendekatan berbasis teknologi seperti sistem informasi geografis (SIG) menggunakan analisis overlay telah terbukti efektif dalam mengatasi tantangan ini (Chumaidiyah dkk. Giri dkk. , 2. Data spasial dapat mengidentifikasi area yang paling sesuai untuk pengembangan industri menggunakan sistem informasi geografis. Analisis overlay memungkinkan integrasi berbagai kriteria, termasuk ekonomi, sosial, dan lingkungan, dalam proses pengambilan keputusan (Rahmawati dkk. , 2. Dengan pendekatan ini, pengembangan kawasan industri di Kawasan Rebana dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, penelitian ini mengangkat masalah utama bagaimana mengidentifikasi area yang paling sesuai untuk pengembangan industri di Kawasan Rebana. Proses identifikasi ini memerlukan analisis yang mencakup aspek spasial dan non-spasial guna memastikan bahwa lokasi yang dipilih sesuai dengan kriteria yang mendukung pembangunan Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi area prioritas untuk pengembangan industri di Kawasan Rebana berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi perencanaan tata ruang yang optimal guna mendukung pengembangan industri yang berkelanjutan di kawasan tersebut. Perencanaan tata ruang merupakan salah satu elemen kunci dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan wilayah industri, tata ruang yang dirancang dengan baik tidak RUUHULHAQ. Kesesuaian Lahan untuk Perencanaan A I 27 hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi dan sosial (Permana, 2. Perencanaan yang tidak memadai dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti konflik lahan, degradasi lingkungan, dan inefisiensi ekonomi. Oleh karena itu, pendekatan berbasis data dan analisis spasial sangat penting untuk memastikan bahwa pembangunan wilayah industri berjalan secara Sebagai salah satu sektor yang mendorong perekonomian, kawasan industri memiliki peran strategis dalam memperkuat daya saing regional dan nasional. Kawasan industri di Indonesia telah menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan investasi asing langsung dan menciptakan lapangan kerja (Cakranegara, 2. Namun demikian, proses perencanaan sering kali menghadapi berbagai kendala, seperti terbatasnya ketersediaan lahan yang sesuai, tekanan dari pemangku kepentingan, serta dampak negatif terhadap lingkungan jika perencanaan tidak dilakukan secara tepat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat . Kawasan Rebana mencakup beberapa kabupaten di Jawa Barat, telah diidentifikasi sebagai salah satu wilayah dengan potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kawasan ini memiliki posisi geografis yang strategis, ditunjang oleh keberadaan infrastruktur seperti Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati. Konektivitas yang baik dengan kawasan perkotaan besar seperti Bandung dan Jakarta membuat Kawasan Rebana semakin menarik sebagai lokasi pengembangan industri (Karso. Pengembangan Kawasan Rebana diproyeksikan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja dan meningkatkan PDRB secara signifikan. Kawasan ini memiliki keunggulan berupa ketersediaan lahan yang relatif luas dan harga yang lebih kompetitif Jabodetabek. Faktor-faktor ini menjadikan Kawasan Rebana sebagai kandidat utama untuk pengembangan berbasis manufaktur, logistik, dan sektor teknologi tinggi. Potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika perencanaan tata ruang dilakukan secara matang dan berbasis data. Perencanaan yang tidak mempertimbangkan kesesuaian lahan dapat menghambat perkembangan kawasan Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mempertimbangkan aspek spasial, sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk mendukung pengembangan Kawasan Rebana sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Salah pengembangan kawasan industri adalah pemilihan lokasi yang sesuai dengan kondisi lahan (Lazuardi dkk. , 2. Pemilihan lokasi yang tidak tepat dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti tingginya biaya konstruksi, risiko bencana alam, dan dampak negatif Proses perencanaan harus melibatkan analisis menyeluruh terhadap berbagai kriteria kesesuaian lahan, termasuk topografi, jenis tanah, dan aksesibilitas. Tantangan ini semakin kompleks karena adanya variasi kondisi geografis dan karakteristik lahan di Kawasan Rebana. Sebagai contoh, beberapa bagian kawasan ini memiliki risiko banjir yang tinggi, sedangkan bagian lainnya mungkin kurang memiliki aksesibilitas yang memadai. Konflik antara kebutuhan lahan untuk industri dan kebutuhan lahan untuk pertanian atau pemukiman juga menjadi isu yang harus diatasi (Tambunan. Pendekatan berbasis teknologi seperti sistem informasi geografis (SIG) menggunakan analisis overlay telah terbukti efektif dalam mengatasi tantangan ini (Chumaidiyah dkk. Giri dkk. , 2. Data spasial dapat mengidentifikasi area yang paling sesuai untuk pengembangan industri menggunakan sistem Analisis memungkinkan integrasi berbagai kriteria, termasuk ekonomi, sosial, dan lingkungan, dalam proses pengambilan keputusan (Rahmawati dkk. , 2. Dengan pendekatan ini, pengembangan kawasan industri di Kawasan Rebana dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, penelitian ini mengangkat masalah utama bagaimana mengidentifikasi area yang paling sesuai untuk pengembangan industri di Kawasan Rebana. Proses identifikasi ini memerlukan analisis yang mencakup aspek spasial dan non-spasial guna memastikan bahwa lokasi yang dipilih sesuai dengan kriteria yang mendukung pembangunan Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi 28 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 area prioritas untuk pengembangan industri di Kawasan Rebana berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi perencanaan tata ruang yang optimal guna mendukung pengembangan industri yang berkelanjutan di kawasan tersebut. METODE Lokasi dan Data di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Subang. Kabupaten Sumedang. Kabupaten Indramayu. Kabupaten Majalengka. Kabupaten Cirebon. Kota Cirebon, dan Kabupaten Kuningan (Meliana dkk. , 2. Kawasan ini dipilih pertumbuhan ekonomi baru, dengan dukungan infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati. Kawasan ini juga memiliki beragam karakteristik geografis yang relevan untuk analisis kesesuaian lahan. Penelitian ini dilakukan di Kawasan Rebana, yang mencakup beberapa kota dan kabupaten Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Sumber: Hasil Pengolahan, 2025 Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi beberapa variabel utama yang memengaruhi kesesuaian lahan untuk pengembangan industri sesuai dengan Permenperin No. 35 Tahun 2010 dan pengembangan dari penulis. Variabel tersebut mencakup kemiringan lereng, multi bahaya, jangkauan dari jalan, jangkauan dari sungai, jangkauan dari pemukiman, dan jenis tanah. Teknik Pengumpulan Data Berikut merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini: Observasi Observasi memahami kondisi fisik dan karakteristik geografis di lapangan. Metode ini membantu dalam memverifikasi data spasial yang diperoleh dari sumber lain, seperti peta dan citra satelit (Creswell, 2. Studi Dokumentasi Studi mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber, termasuk dokumen resmi, laporan pemerintah, dan peta tematik. Data ini mencakup informasi terkait kondisi lingkungan, infrastruktur, dan kebijakan yang relevan dengan pengembangan kawasan industri di Kawasan Rebana (Babbie, 2. Studi Literatur Studi literatur melibatkan penelusuran dan sebelumnya yang relevan dengan topik ini. Literatur yang digunakan mencakup artikel ilmiah, buku, peraturan pemerintah, dan laporan penelitian yang membahas aspek RUUHULHAQ. Kesesuaian Lahan untuk Perencanaan A I 29 kesesuaian lahan, teknik analisis spasial, dan pengembangan kawasan industri. menghasilkan peta kesesuaian akhir. Editing Data Attributes Teknik Analisis Data Analisis spasial dilakukan menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10. 8, khususnya fitur overlay dan editing data atribut untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melakukan pengolahan data spasial untuk menentukan kesesuaian lahan: Pengolahan Data Spasial Data spasial diolah menggunakan perangkat lunak SIG untuk menghasilkan peta tematik yang mencakup variabel seperti kemiringan lereng, multi bahaya, jenis tanah, dan jangkauan dari infrastruktur utama. Teknik ini menganalisis visual yang efektif dalam mengevaluasi kesesuaian lahan (Heywood , 2. Overlay Analisis menggabungkan berbagai peta tematik untuk mengidentifikasi area yang memenuhi kriteria kesesuaian lahan. Teknik ini menggabungkan data spasial dari berbagai sumber untuk Gambar 2. Diagram Alir Penelitian Data atribut yang terkait dengan setiap kriteria, seperti jenis tanah dan jarak dari infrastruktur, diedit dan diperbarui untuk memastikan Proses ini penting untuk memastikan bahwa analisis didasarkan pada data yang paling relevan dan terkini (Burrough & McDonnell, 2. Skoring Skoring adalah proses pemberian nilai numerik pada setiap kelas atau kategori dari suatu variabel kualitatif untuk mengukur tingkat kontribusinya dalam analisis keputusan atau evaluasi spasial. Dengan mengonversi data tematikAimisalnya kelas kemiringan, jarak, atau tipe tanahAimenjadi skor . iasanya dalam rentang tertentu, misal 1Ae4 atau 1Ae. , kita dapat membandingkan dan menggabungkan berbagai kriteria dalam satu kerangka analisis. Skoring memudahkan penerapan operasi seperti weighted overlay dalam SIG dan metode pengambilan keputusan multiAckriteria lainnya, karena semua variabel sudah berada dalam satu skala numerik yang konsisten (Wise, 2. Sumber: Hasil Analisis, 2025. HASIL DAN PEMBAHASAN Beberapa pengembangan kawasan industri dengan pendekatan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, penelitian oleh Seridity dkk. 30 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 mengidentifikasi lokasi yang sesuai untuk kawasan industri berdasarkan Permenperin No. 35 Tahun 2010. Penelitian ini menggunakan beberapa parameter, yaitu kemiringan lereng, jangkauan dari sungai, dan jangkauan dari pemukiman. Penelitian oleh Midatana dkk. mengungkapkan bahwa penggunaan data spasial yang terintegrasi dapat meningkatkan Penelitian ini mengembangkan model berbasis SIG untuk memetakan area yang paling sesuai untuk pengembangan industri di daerah dengan karakteristik Hasilnya menunjukkan bahwa faktor aksesibilitas, seperti kedekatan dengan jalan utama dan pusat pemukiman, menjadi salah satu kriteria utama dalam menentukan kesesuaian lahan. Penelitian lainnya oleh Ganguly dkk. menyoroti pentingnya memasukkan aspek keberlanjutan dalam analisis kesesuaian Dalam studi ini, keberlanjutan dievaluasi berdasarkan dampak lingkungan dan potensi Hasilnya menunjukkan bahwa kawasan yang memiliki risiko rendah terhadap bencana alam dan dampak lingkungan cenderung lebih cocok untuk pengembangan industri. Parameter-parameter memastikan bahwa lahan yang diidentifikasi sebagai sesuai untuk pengembangan industri memenuhi kriteria teknis dan lingkungan yang Penyesuaian nilai skor dan klasifikasi dilakukan berdasarkan hasil analisis dan studi literatur untuk meningkatkan akurasi dalam proses evaluasi. Tabel 1. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Industri Parameter Klasifikasi Datar Landai Kemiringan Lereng Agak Curam Curam Sangat Curam Rendah Multi Bahaya Sedang Tinggi Jarak dari Pemukiman Jarak dari Sungai 0 - 2 km >2 km 0 - 5 km >5 km 0 - 500 m 500 - 1. Jarak Dari Jalan 000 - 1. 500 - 2. Kriteria Kesesuaian Lahan Industri Berikut adalah rumus Sturges untuk menentukan jumlah kelas kesesuaian lahan: >2. Sangat Sesuai Jenis Tanah yaycycoycoycaEa ycoyceycoycayc . = 1 3,3 ycu ycoycuyci. Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai Dimana: Sumber: Permenperin No. 35 Tahun 2010 dan hasil pengembangan oleh penulis. n = jumlah data yang dimiliki Untuk kesesuaian lahan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ycAycnycoycaycn ycNyceycyceycuyccycaEa AeycAycnycoycaycn ycNyceycycycnycuyciyciycn yaycycoycoycaEa yayceycoycayc . Tabel 1. menunjukkan parameter yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi kesesuaian lahan di Kawasan Rebana. Parameter-parameter ini didasarkan pada Permenperin No. 35 Tahun 2010 dan hasil pengembangan lebih lanjut oleh penulis. Kemiringan Lereng Peta kemiringan lereng Kawasan Rebana memberikan visualisasi mengenai tingkat kecuraman permukaan tanah di wilayah Sebagian besar area didominasi oleh lereng datar hingga landai, mengindikasikan potensi besar untuk berbagai aktivitas Beberapa wilayah, terutama di daerah perbukitan dan pegunungan, memiliki kemiringan yang cukup curam. Kondisi topografi ini memiliki implikasi terhadap perencanaan pembangunan industri. RUUHULHAQ. Kesesuaian Lahan untuk Perencanaan A I 31 Gambar 4. Peta Kemiringan Lereng Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. Multi Bahaya Multi-bahaya merujuk pada berbagai jenis ancaman bencana yang dapat terjadi di suatu wilayah, seperti banjir, longsor, gempa bumi, dan kebakaran hutan. Peta multi-bahaya Kawasan Rebana memberikan visualisasi mengenai tingkat bahaya berbagai jenis Peta ini menunjukkan bahwa distribusi bahaya bencana tidak merata, dengan wilayah perbukitan dan pegunungan cenderung memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi dibandingkan daerah dataran rendah. Gambar 5. Peta Multi Bahaya Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. 32 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 Jenis Tanah Peta jenis tanah Kawasan Rebana menjadi parameter dalam menentukan kesesuaian lahan untuk pengembangan industri. Peta ini menunjukkan sebaran berbagai jenis tanah di wilayah tersebut, seperti Litosol. Aluvial. Andosol. Glei. Grumosol. Latosol. Mediteran. Podzol Merah Kuning. Regosol, dan Waduk/Danau/Situ. Setiap jenis tanah memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbedabeda, penggunaan lahan, termasuk industri. Gambar 6. Peta Jenis Tanah Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. Jangkauan dari Sungai Peta jangkauan dari sungai di Kawasan Rebana memberikan visualisasi mengenai jarak suatu titik dari badan sungai. Peta ini menjadi parameter dalam menentukan kesesuaian lahan untuk pengembangan Gambar 7. Peta Jangkauan dari Sungai Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. RUUHULHAQ. Kesesuaian Lahan untuk Perencanaan A I 33 Jangkauan dari Jalan Jarak dari jalan utama mempengaruhi aksesibilitas suatu lahan. Lahan yang dekat dengan jalan utama memiliki aksesibilitas yang lebih baik untuk transportasi bahan baku, produk, dan tenaga kerja. Gambar 8. Peta Jangkauan dari Jalan Utama Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. Jangkauan dari Pemukiman Peta jangkauan dari pemukiman di Kawasan Rebana memberikan visualisasi mengenai jarak suatu titik dari kawasan pemukiman. Warna-warna pada peta menunjukkan jarak yang berbeda-beda dari pemukiman. Jarak dari pemukiman berpengaruh terhadap kesesuaian lahan untuk industri. Gambar 9. Peta Jangkauan dari Pemukiman Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. 34 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 Kesesuaian Lahan Industri di Kawasan Rebana Tabel yang menyajikan luas kesesuaian lahan industri di Kawasan Rebana menunjukkan perbedaan antar wilayah menjadi 4 klasifikasi kesesuaian lahan, yaitu Tidak Sesuai. Kurang Sesuai. Sesuai, dan Sangat Sesuai. Dalam kategori Tidak Sesuai. Kabupaten Kuningan mencatat luas tertinggi sebesar 22. 031,36 hektar, yang menandakan adanya kendala Sebaliknya. Kabupaten Indramayu memiliki luas kategori Tidak Sesuai terkecil, yaitu 13,19 hektar, yang mengindikasikan potensi pengembangan industri yang sangat besar karena keterbatasan area dengan kesesuaian rendah. Potensi pengembangan kawasan industri terlihat paling besar di Kabupaten Indramayu. Wilayah ini memiliki luas lahan Sesuai terbesar, yaitu 123. 543,38 hektar, dan lahan Sangat Sesuai, yaitu 25. 236,07 hektar. Hal ini menunjukkan bahwa Indramayu memiliki kombinasi faktor lingkungan, aksesibilitas, dan pengembangan kawasan industri skala besar. Sebaliknya. Kabupaten Kuningan memiliki keterbatasan dalam kategori lahan Sangat Sesuai, hanya sebesar 1. 307,06 hektar, yang menunjukkan perlunya intervensi khusus untuk meningkatkan potensi wilayah ini. Kabupaten Subang memiliki luas dengan kategori Kurang Sesuai yang dominan, yaitu 072,69 hektar. Meskipun wilayah ini memiliki potensi lahan industri yang luas, sebagian besar memerlukan penyesuaian seperti peningkatan infrastruktur atau mitigasi risiko lingkungan untuk menjadi lebih layak bagi pengembangan industri. Kabupaten Sumedang memiliki proporsi luas kategori Sangat Sesuai tertinggi dibandingkan wilayah lain, yaitu sebesar 6. 926,06 hektar, yang menunjukkan adanya potensi pengembangan industri yang cukup menjanjikan, terutama jika fokus diarahkan pada pemanfaatan area yang sudah memenuhi kriteria optimal. Kota Cirebon sebagai wilayah yang lebih urban, menunjukkan keterbatasan dalam kategori lahan Sangat Sesuai, dengan luas hanya 3,01 hektar. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah ini lebih cocok dijadikan sebagai pusat logistik atau perdagangan yang mendukung kawasan industri di kabupatenkabupaten sekitarnya dibandingkan sebagai lokasi utama pengembangan kawasan industri Untuk memberikan gambaran yang lebih proporsional, analisis luas kesesuaian lahan dibandingkan terhadap total luas wilayah administrasi masing-masing kabupaten/kota. Kabupaten Indramayu, dengan luas wilayah 011 hektar, memiliki 25. 236,07 hektar lahan yang tergolong AuSangat SesuaiAy, setara dengan sekitar 12,37% dari total Kabupaten Sumedang . uas wilayah A151. 934 hekta. memiliki lahan AuSangat SesuaiAy seluas 6. 926,06 hektar . ,56%), sedangkan Kabupaten Majalengka (A120. 983 hekta. 853,45 ,18%). Di sisi lain. Kabupaten Kuningan (A117. 620 hekta. justru memiliki proporsi AuTidak SesuaiAy yang dominan sebesar 031,36 hektar . ,73%), menandakan keterbatasan lahannya untuk pengembangan industri berbasis kriteria kesesuaian spasial. Prioritas pengembangan kawasan industri di Kawasan Rebana dapat difokuskan pada Kabupaten Indramayu, kombinasi luas lahan Sesuai dan Sangat Sesuai yang besar. Wilayah lain seperti Kabupaten Subang dan Kabupaten Kuningan membutuhkan upaya peningkatan kesesuaian lahan melalui perbaikan infrastruktur atau intervensi kebijakan tata ruang. Kota Cirebon, dengan keterbatasan lahan industri, dapat berfungsi sebagai pusat logistik yang mendukung aktivitas kawasan industri di Pendekatan berbasis potensi dan kendala ini akan membantu memastikan pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan dan optimal di Kawasan Rebana. Tabel 2. Luas Kesesuaian Industri di Kawasan Rebana Kota/Kabupaten Kabupaten Cirebon Kabupaten Indramayu Tidak Sesuai 078,08 13,19 Kabupaten Kuningan 031,36 Luas Kesesuaian Lahan . Kurang Sesuai Sesuai 466,15 039,22 192,90 543,38 072,72 692,23 Sangat Sesuai 174,45 236,07 307,06 RUUHULHAQ. Kesesuaian Lahan untuk Perencanaan A I 35 Kota/Kabupaten Tidak Sesuai Luas Kesesuaian Lahan . Kurang Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Kabupaten Majalengka 539,22 714,72 922,02 853,45 Kabupaten Subang Kabupaten Sumedang Kota Cirebon 576,24 832,37 072,69 199,62 466,15 138,29 437,13 711,83 340,80 926,06 3,01 Sumber: Hasil Analisis, 2025. Peta kesesuaian lahan industri Kawasan Rebana memberikan visualisasi mengenai tingkat kesesuaian suatu wilayah untuk pengembangan industri. Peta ini membagi kawasan menjadi 4 klasifikasi berdasarkan tingkat kesesuaiannya, mulai dari sangat sesuai hingga tidak sesuai. Wilayah dengan kesesuaian sangat tinggi umumnya berada di daerah dataran rendah dengan aksesibilitas yang baik dan risiko bencana yang rendah. Sebaliknya, wilayah dengan kesesuaian rendah cenderung berada di daerah perbukitan atau dekat dengan sumber bahaya seperti sungai atau patahan aktif. Faktor-faktor seperti topografi, jenis tanah, hidrologi, dan potensi bencana menjadi penentu utama dalam menentukan tingkat kesesuaian lahan. Gambar 10. Peta Kesesuaian Lahan Industri Kawasan Rebana Jawa Barat Sumber: Hasil Analisis, 2025. KESIMPULAN Berdasarkan hasil klasifikasi. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon tergolong kawasan yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wilayah industri, karena kombinasi luas lahan AuSesuaiAy dan AuSangat SesuaiAy masingAcmasing mencapai sekitar 71,9 % . 779,45 hekta. dan 62,7 % . 213,67 hekta. dari total lahan yang dievaluasi. Kedua daerah ini tidak hanya memiliki topografi datar dan aksesibilitas yang baik tetapi juga risiko bencana yang relatif rendah, sehingga layak menjadi prioritas utama dalam perencanaan dan investasi infrastruktur Sebaliknya. Kabupaten Majalengka (OO 46,9 % lahan AuSesuaiAy AuSangat SesuaiA. Kabupaten Sumedang (OO 40,8 %). Kabupaten Subang (OO 34,3 %). Kabupaten Kuningan (OO 24,5 %), dan Kota Cirebon (OO 8,8 %) masuk dalam kategori kawasan dengan keterbatasan WilayahAcwilayah ini didominasi oleh lahan AuKurang SesuaiAy dan AuTidak SesuaiAy, sehingga memerlukan intervensi berupa 36 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 peningkatan infrastruktur, mitigasi risiko bencana, dan kebijakan tata ruang yang lebih spesifik untuk meningkatkan daya dukung lahan sebelum dikembangkan menjadi kawasan industri. REKOMENDASI Kabupaten Indramayu sebaiknya dijadikan prioritas utama dalam pengembangan kawasan industri mengingat potensi luas lahan Sesuai dan Sangat Sesuai yang besar, serta aksesibilitasnya yang baik. Peningkatan infrastruktur seperti jaringan jalan dan mitigasi risiko bencana di Kabupaten Subang dan Sumedang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan lahan yang ada. Fokus juga dapat diarahkan pada pemanfaatan area yang sudah termasuk dalam kategori Sangat Sesuai. Kabupaten Kuningan perhatian lebih dalam bentuk peningkatan aksesibilitas dan intervensi kebijakan tata ruang untuk mengatasi keterbatasan lahan Sangat Sesuai. Kota Cirebon dapat difokuskan sebagai pusat logistik dan distribusi untuk kabupaten-kabupaten Pengembangan infrastruktur transportasi dan fasilitas logistik perlu diutamakan. Implementasi SIG dan analisis overlay perlu terus dilakukan untuk memperbarui perencanaan dengan kondisi terkini. Sistem berbasis teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pengambilan keputusan terkait tata ruang. UCAPAN TERIMA KASIH Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2020. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Burrough. , & McDonnell. Principles of Geographical Information Systems. Oxford: Oxford University Press. Cakranegara. , 2022. Analisis Pembukaan dan Pengembangan Kawasan Industri di Indonesia. Jurnal El-Riyasah, 13. , pp. http://dx. org/10. 24014/jel. Chumaidiyah. Dewantoro. Fauzi, , and Kamil. , 2023. Selection of Industrial Sites Using a Web-Based Geographical Information System to Minimize Risks: A Case Study in West Java. Indonesia. Sustainability, 15. , https://doi. org/10. 3390/su152216034 Creswell. and Creswell. , 2017. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. New York: Sage Publications. Ganguly. Aynyas. Nandan. Mondal. , 2018. Hazardous area map: an approach of sustainable urban planning and industrial developmentAia Natural hazards, 91, pp. https://doi. org/10. 1007/s11069018-3179-1 Giri. Tripathy. Swain. Nandi. and Mohanta. , 2023. Site suitability analysis for industrial development using geospatial technology and multi criteria decision making. Environmental Quality Management, 33. , pp. https://doi. org/10. 1002/tqem. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan instansi terkait yang telah memberikan data spasial dan informasi teknis yang relevan untuk penelitian ini. Penulis berterima kasih kepada rekan-rekan sejawat yang telah memberikan dukungan dan umpan balik selama proses penyusunan artikel ini. Heywood. Lindaman. and Lovelace, , 2019. Simulation of groundwater flow and chloride transport in the Au1,500footAy sand,Au2,400-footAy sand, and Au2,800footAy sand of the Baton Rouge area. Louisiana (No. Geological Survey. DAFTAR PUSTAKA