Nabla Dewantara: Jurnal Pendidikan Matematika Volume 9. No. Mei 2024, hal. ISSN 2528-3901, eISSN 2657-0335 https://ejournal. com/index. php/nabla PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS POWER POINT MELALUI METODE TEAM KUIS Rasnida1*. Amran Yahya2. Sitti Inaya Masrura3 Universitas Sulawesi Barat email: rasnidasuparno1@gmail. com, amranyahya@unsulbar. ABSTRACT : The aim of this research is to increase interest in learning and mathematical problem solving abilities of class IX students at SMP Negeri 8 Satu Atap Majene by using power point-based learning media via the team quiz method. This research is classroom action research using the Kemmis and Taggart model which consists of planning, implementation, observation and reflection carried out in 2 cycles. The subjects of this research were 14 Research data was collected using a learning interest questionnaire, student response questionnaire, mathematical problem solving ability test and observation sheets . eachers and The data analysis technique was carried out quantitatively and descriptively. Then the results of the data analysis used in this research showed an increase in students' interest in learning and mathematical problem solving abilities from cycle I to cycle II, using power pointbased learning media via the team quiz method. Keywords: Interest in learning, ability to solve mathematical problems, power point media, team quiz method. ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IX SMP Negeri 8 Satu Atap Majene dengan menggunakan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi yang dilakukan sebanyak 2 siklus. Subjek penelitian ini berjumlah 14 siswa. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan angket minat belajar, angket respon siswa, tes kemampuan pemecahan masalah matematika dan lembar observasi (Guru dan sisw. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan deskriptif. Kemudian hasil analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan minat belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dari siklus I ke siklus II, dengan menggunakan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis. Kata kunci: Minat belajar, kemampuan pemecahan masalah matematika, media power point, metode team kuis. Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . PENDAHULUAN Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang penting untuk dipelajari dalam dunia pendidikan, matematika dikatakan sebagai ilmu universal karena mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu serta dapat memajukan daya pikir manusia (Simatupang et al 2. Oleh karena itu peranan matematika sangat dibutuhkan dalam meningkatkan pola kritis manusia agar dapat bersaing dalam perkembangan zaman yang semakin modern dan memiliki peranan penting dalam meningkatkan pembentukan sumber daya manusia itu sendiri, sehingga dapat memiliki pemikiran logis, kritis, inovatif, dan kreatif. Namun seringkali siswa memandang pelajaran matematika sebagai hal yang membosankan bahkan sebagian siswa menyatakan ketakutannya dan tidak adanya minat terhadap pelajaran matematika (Oktavia et. ,al 2. Padahal Minat belajar memiliki peran besar terhadap belajar, karena minat belajar menjadi salah satu kunci keaktifan seorang pelajar . orompot et. , 2. Menurut Korompot et al . secara umum faktor yang mempengaruhi minat belajar dikategorikan dalam dua faktor yakni faktor dari dalam diri dan faktor dari luar individu. Siswa yang memiliki minat dan ketertarikan terhadap pelajaran matematika akan mampu memecahkan masalah matematika dengan sendirinya karena minat sangat mempengaruhi kemampuan dalam memecahkan masalah (Agustin dan Hartono, 2. Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan keterampilan wajib yang harus dipunyai oleh para siswa karena sangat membantu siswa memahami relevansi pembelajaran matematika dengan pembelajaran pada materi lainnya dalam kehidupan sehari-hari (Baharullah et al, 2. Pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain hal ini dapat dilihat dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang merupakan suatu program yang diinisiasi oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan secara global. Indonesia mengikuti PISA pertama kali pada tahun 2000, hasil PISA tahun 2022 yang dirilis pada 5 desember 2023 menunjukkan adanya penurunan hasil belajar secara internasional akibat pandemi, terutama dalam pemecahan masalah matematika. Skor rata-rata kemampuan matematika di Indonesia turun 13 poin menjadi 366 dari sebelumya 379. Penurunan skor ini bisa mencerminkan kesulitan siswa mengintegrasikan pemahaman teoritis matematika kedalam ke dalam pemecahan masalah praktis. Meskipun demikian, peringkat Indonesia di PISA di tahun 2022 naik sebanyak 5-6 posisi dibandingkan dengan tahun 2018. Meski terjadi penurunan hasil belajar secara internasional, pencapain Indonesia yang menunjukkan upaya yang telah dilakukan untuk memperbaiki sistem pendidikan dan memberikan harapan akan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dimasa depan (Kemendikbud Ristek, 2. Rendahnya minat belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika juga terjadi di SMP Negeri 8 Satu Atap Majene hal ini diperoleh berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada guru matematika kelas IX pada beliau mengatakan bahwa minat dan kemampuan pemecahan masalah matematika masih rendah. Lebih lanjut saat peneliti melakukan observasi terlihat bahwa pembelajaran yang dilakukan hanya berpusat kepada guru yang dimana guru dalam menyampaikan pembelajaran hanya monoton menggunakan metode ceramah dengan berbantuan media buku. Sehingga siswa hanya dapat mendengarkan, mencatat dan jarang mengemukakan pendapatnya hal ini membuat siswa cepat merasa bosan dalam Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 proses belajar matematika sehingga apa yang dijelaskan oleh guru sebagian besar siswa kurang memperhatikan penjelasan guru. Dalam proses mengajar guru harus memiliki berbagai keterampilan sebagai upaya untuk mengoptimalkan perannya sebagai seorang guru, yakni dengan cara menerapkan berbagai media dan metode pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengimplementasikan proses belajar adalah dengan menggunakan media dan metode pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat belajar yang sangat penting dalam suatu proses belajar mengajar baik formal maupun non formal (Wangge. Menggunaan media pembelajaran dapat memudahkan siswa untuk memahami materi pelajaran, karena belajar menggunakan media pembelajaran dapat dirancang menjadi pembelajaran yang menarik dan juga menyenangkan sehingga siswa tidak cepat bosan, dapat menjadi motivasi dan juga dapat merangsang siswa agar tetap semangat dalam belajar, mendukung pencapaian tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Menurut Nursanti et al . dengan program power point, seorang guru dapat mengembangkan kreativitasnya dalam merancang media pembelajaran dilakukan dengan tepat, baik dari rencana maupun proses pembuatan, maka media pembelajaran yang dihasilkan akan membawa manfaat bagi guru dan siswa selama proses pembelajaran. Dalam penggunaan media pembelajaran juga membutuhkan metode pembelajaran yang aktif agar dapat membantu pembelajaran lebih menarik terhadap siswa. Metode pembelajaran aktif dalam proses pembelajaran adalah siswa yang diharapkan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk berpikir, berinteraksi, melakukan percobaan, dan menemukan konsep baru. Salah satu metode pembelajaran yang aktif adalah metode pembelajaran team kuis. Team kuis merupakan salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar (Kurniawati dan Wildaniati 2. Secara definisi metode team kuis yaitu suatu metode yang bermaksud melempar jawaban dari kelompok satu ke kelompok lain. Dalam tipe team kuis ini, diawali dengan guru menerangkan materi secara klasikal, lalu siswa dibagi kedalam tiga kelompok besar. Semua anggota kelompok bersama-sama mempelajari materi tersebut, saling memberi arahan, saling memberikan pertanyaan dan jawaban untuk memahami materi pelajaran tersebut. Sejalan dengan penelitian oleh Souhaly et. meneliti tentang penggunaan media pembelajaran power point dalam meningkatkan minat belajar peserta didik dengan menggunakan jenis peneltan Mix Methode(Kualitatif dan kuantitai. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa minat belajar dapat ditingkatkan dengan menggunakan media pembelajaran power point karena dapat menarik perhatian siswa sehingga mereka bisa dengan santai dan penuh semangat dalam mengikuti proses belajar. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Harahap dan julyanti . tentang pengaruh model pembelajaran team kuis dan media berbasis ICT untuk meningkatkan minat belajar matematika siswa dengan jenis penelitian kuasy eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran team kuis dan media berbasis ICT untuk meningkatkan minat belajar siswa. Sementara itu pada penelitian yang dilakukan di fokuskan pada dua variabel yaitu peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan peningkatan minat belajar siswa selain itu penelitian ini juga menggunakan analasis data kuantitatif dan deskriftif. Berdasarkan uraian diatas sehingga peneliti melakukan penelitian dengan judul AuPeningkatan Minat Belajar dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa dengan Menggunakan Media Berbasis Power Point Melalui Metode Team Kuis. Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . METODE Jenis penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian tindakan kelas . lassroom action Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan mengikuti pola kemmis dan Mc. Taggart yaitu berbentuk spiral dari siklus satu ke siklus berikutnya (Usman et al. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu plan . , act . , observe . , dan reflect . Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang bersifat sebelum melaksanakan tahap penelitian terlebih dahulu peneliti harus mengetahui permasalahan yang akan diteliti. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IX SMP Negeri 8 Satu Atap Majene. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, tes, lembar observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini digunakan untuk mengetahui bagaimana peningkatan minat belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan menggunakan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis. Data yang diperoleh dari hasil pengerjaan siswa di refleksi kemudian hasil refleksi akan diperbaiki pada pelaksanaan di siklus II. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis kuantitatif dan deskriptif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur persentase yang diperoleh pada kelas IX Smp Negeri 8 Satu Atap Majene. Kemudian angket yang digunakan yaitu angket minat belajar matematika yang terdiri dari 33 pernyataan dan Angket respon siswa terdiri dari 30 pernyataan dengan format skala likert yang dimana setiap pernyataan memiliki empat pilihan jawaban yaitu Selalu (S). Sering (SR). Kadang-kadang (KD), dan tidak pernah (TP). Angket ini digunakan untuk mengukur variabel dan mengumpulkan data mengenai permasalahan yang ada. Selanjutnya Lembar observasi guru dan siswa yang terdiri masingmasing 23 pernyataan,lembar observasi digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran berlangsung di kelas oleh observer terhadap keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan aktivitas siswa selama pembelajaran menggunakan media berbasis power point melalui metode team kuis. dan tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang terdiri dari 10 pertanyaan dengan bentuk soal essay. Kemudian subjek yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 8 Satu Atap Majene yang berjumlah 14 orang. Data yang dikumpulkan melalu angket ini adalah data kuantitatif. Adapun rumus yang digunakan untuk memperoleh persentase nilai adalah sebagai berikut: Persentase: ycNycuycycayco ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa ycycycoycoycaEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco x 100% Dan analisis deskriptif digunakan untuk memberikan deskripsi, penjelasan, juga fenomena yang diteliti. Serta melukiskan secara sistematis hasil dari variabel dalam penelitian ini dengan cara menghimpun data-data faktual dan mendeskripsikan. Data berasal dari seluruh informasi yang diperoleh dari angket, lembar observasi dan tes. HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus I Perencanaan Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu peneliti membuat perencanaan yang akan dikonsultasikan kepada guru. Berdasarkan diskusi antara guru dan peneliti disepakati bahwa untuk pelaksanaan siklus I materi yang akan dipelajari yaitu menjelaskan bangun ruang sisi lengkung. Adapun tahap-tahap yang dilakukan pada tahap perencanaan ini sebagai berikut: Menentukan kelas penelitian yaitu kelas IX SMP Negeri 8 Satu Atap Majene Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 . Waktu penelitian dilaksanakan di tahun ajaran semester genap pada tanggal 19 februari sampai dengan 4 maret 2024 untuk siklus I. Mengkaji kurikulum yang digunakan yakni kurikulum 2013 lalu menyiapkan materi yang akan diajarkan. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan materi yang akan diberikan. Tujuannya adalah sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar didalam kelas sesuai dengan indikator yang akan dicapai. Menyusun dan menyiapkan lembar observasi guru dan siswa. Menyusun dan menyiapkan angket minat belajar matematika siswa. Menyusun dan menyiapkan angket respon siswa terhadap penggunaan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis. Menyiapkan tes kemampuan pemecahan masalah matematika . Menyusun dan menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan Pelaksanaan tindakan Pada kegiatan pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menggunakan media berbasis power point melalui metode team kuis dilaksanakan dalam bentuk kelompok tiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk memberikan kuis kepada anggota kelompok lain dan menjawab kuis yang diberikan oleh kelompok lain. Pada tahap ini dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Dimana kegiatan pembelajaran terdiri atas kegiatan pendahuluan , kegiatan inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan yang dilakukan adalah menyiapkan siswa dengan cara berdoa, mengecek kehadiran siswa, menginformasikan mengenai materi yang akan dipelajari, memberikan motivasi serta menyampaikan manfaat materi yang akan dipelajari. Kegiatan inti terdiri dari mengamati, menanya, mengeksplorasi dan konfirmasi. Pada kegiatan penutup dilakukan dengan menyampaikan materi yang telah dipelajari, memberikan motivasi akhir kepada siswa untuk mengulang pelajaran dirumah, menyampaikan topik materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya serta mengakhiri pembelajaran dengan mengucap salam. Observasi Observasi dilakukan untuk mengamati proses pelaksanaan pembelajaran aktivitas guru dan aktivitas siswa selama dalam proses pembelajaran matematika adapun hasil observasi pada siklus I yaitu sebagai berikut: Aktivitas guru Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus I yang meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup selama proses pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran berbasis power power point melalui metode team kuis untuk meningkatkan minat belajar siswa dan kemampuan pemecahan masalah matematika. Observer mengamati proses pembelajaran pada 23 aspek kegiatan dan menghasilkan penilaian sebagai berikut: Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 Tabel 1. Hasil Observasi Guru Siklus I Pertemuan Skor Nilai persentase Kriteria penilaian Sangat tinggi Sangat tinggi Persentase nilai rata-rata Kriteria penilaian Sangat tinggi Sangat tinggi Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan hasil data dari lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran aktivitas guru di setiap pertemuan pada siklus I. Dimana pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 3 diperoleh persentase rata-rata sebesar 100% dengan kategori sangat tinggi pada siklus I. Observasi aktivitas siswa Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I Yang meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup selama proses pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran berbasis power power point melalui metode team kuis untuk meningkatkan minat belajar siswa dan kemampuan pemecahan masalah matematika. Observer mengamati proses pembelajaran pada 23 aspek kegiatan dan menghasilkan penilaian sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Observasi Siswa Siklus I Pertemuan Skor Nilai persentase Kriteria penilaian Tinggi Tinggi Tinggi Persentase nilai rata-rata Kriteria penilaian Tinggi Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan hasil data lembar observasi siswa setiap pertemuan pada siklus I. Dimana pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 3 diperoleh persentase rata-rata sebesar 79% dengan kategori tinggi pada siklus I. Di akhir siklus I siswa diberi angket respon siswa, angket minat belajar, serta tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Pada angket respon siswa siklus I diperoleh persentase sebesar 70,36% dan termasuk dalam kategori praktis. Selanjutnya pada angket minat belajar diperoleh nilai siswa yang mencapai kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 21,43%, sebanyak 3 siswa yang mencapai kategori Tinggi dengan persentase sebesar 21,43% dan sebanyak 8 siswa yang mencapai kategori cukup dengan persentase 57,14%. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria indikator keberhasilan minat belajar matematika siswa pada siklus I belum tercapai sebagaimana yang telah ditentukan bahwa indikator keberhasilan minat belajar dalam penelitian ini adalah minimal 81% siswa memiliki minat belajar matematika pada kategori sangat tinggi. berikut tabel perolehan hasil angket minat belajar matematika siswa. Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 Tabel 3. Persentase Hasil Angket Minat Belajar Matematika Siswa Siklus I. Tingkat pencapaian skor Frekuensi Persentase Kategori 81-100% 61-80% 41-60% 21-40% 0-20% 21,43% 21,43% 57,14% Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Kemudian untuk hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa terdapat 1 siswa yang mencapai kategori kemampuan sangat tinggi dengan persentase 7,14%, 7 siswa yang mencapai kategori kemampuan tinggi dengan persentase 50%, 2 siswa mencapai kategori kategori cukup dengan persentase 14,29% , 2 siswa yang mencapai kategori kurang dengan persentase 14,29% dan 2 siswa yang termasuk dalam kategori sangat kurang yaitu dengan persentase 14,29%. Hal ini menunjukkan bahwa, persentase hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa belum tercapai sebagaimana yang telah ditentukan yakni ketercapaian skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berada pada kategori tinggi dengan minimal persentase sebesar 76%. Berikut tabel hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika pada siklus I. Tabel 4. Persentase Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siklus I Nilai siswa Frekuensi Persentase Kategori 7,14% Sangat tinggi 50,00% Tinggi 14,29% Cukup 14,29% Kurang 14,29% Sangat kurang Refleksi Berdasarkan hasil penelitian dari proses pelaksanaan dan observasi siklus I diperoleh hasil bahwa, masih ada indikator keberhasilan pada siklus I yang belum tercapai yaitu indikator keberhasilan minat belajar matematika dan indikator kemampuan pemecahan masalah matematika siswa hal ini dikarenakan adanya permasalahan dan kekurangan yakni saat proses pembelajaran berlangsung masih ada siswa yang kurang memperhatikan penjelasan materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru, kemudian dalam penerapan team kuis masih ada siswa yang tidak aktif dalam berdiskusi kelompok seperti yang terlihat bahwa hanya ada beberapa siswa yang aktif dalam proses pembelajaran, sebagian siswa hanya melamun dan bercerita dengan temannya. Serra siswa baru pertama kali belajar matematika dengan menggunakan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis. Berdasarkan permasalahan-permasalah yang muncul pada siklus I peneliti bersama dengan guru melakukan rencana perbaikan yang akan diterapkan pada siklus II dengan tujuan agar permasalah yang terjadi di siklus I tidak terulang kembali pada siklus II. Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 Siklus II. Perencanaan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, perencanaan untuk siklus II dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Guru menekankan kepada siswa untuk memperhatikan pembelajaran saat guru menjelaskan . Guru menekankan kepada siswa agar saat diskusi kelompok semua anggota kelompok aktif. dan memahami materi-materi yang sedang dibahas. Guru menjelaskan kembali bagaimana peran siswa dalam pembelajaran metode team kuis. Adapun hal-hal yang harus dilakukan pada siklus II ini antara lain sebagai berikut: Membuat RPP dengan menggunakan metode team kuis. Menyiapkan materi yang akan diajarkan di power point. Membuat LKS untuk digunakan dalam proses belajar team kuis . Menyusun dan menyiapkan lembar observasi siswa dan guru. Menyusun dan menyiapkan lembar angket minat belajar matematika dan angket respon siswa terhadap penggunaan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team . Menyiapkan tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa Pelaksanaan tindakan Pada kegiatan pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menggunakan media berbasis power point melalui metode team kuis dilaksanakan dalam bentuk kelompok tiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang. Setiap kelompok akan diberikan kesempatan untuk memberikan kuis kepada anggota kelompok lain dan menjawab kuis yang diberikan oleh kelompok lain. Pada tahap ini dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Dimana kegiatan pembelajaran terdiri atas kegiatan pendahuluan , kegiatan inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan yang dilakukan adalah menyiapkan siswa dengan cara berdoa, mengecek kehadiran siswa, menginformasikan mengenai materi yang akan dipelajari, memberikan motivasi serta menyampaikan manfaat materi yang akan dipelajari. Kegiatan inti terdiri dari mengamati, menanya, mengeksplorasi dan konfirmasi. Pada kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, memberikan motivasi akhir kepada siswa, menyampaikan topik materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya serta mengakhiri pembelajaran dengan mengucap salam. Observasi Observasi dilakukan untuk mengamati proses pelaksanaan pembelajaran aktivitas guru dan aktivitas siswa selama dalam proses pembelajaran matematika adapun hasil observasi pada siklus I yaitu sebagai berikut: Aktivitas guru Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus I Yang meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup selama proses pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran berbasis power power point melalui metode team kuis untuk meningkatkan minat Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 belajar siswa dan kemampuan pemecahan masalah matematika. Observer mengamati proses pembelajaran pada 23 aspek kegiatan dan menghasilkan penilaian sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Observasi Guru Siklus II Pertemuan Skor Nilai persentase Kriteria penilaian Sangat tinggi Sangat tinggi Persentase nilai rata-rata Kriteria penilaian Sangat tinggi Sangat tinggi Berdasarkan tabel 5 diatas menunjukkan hasil data dari lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran aktivitas guru di setiap pertemuan pada siklus II. Dimana pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 3 diperoleh persentase rata-rata sebesar 100% dengan kategori sangat tinggi pada siklus II. Observasi aktivitas siswa Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus II yang meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup selama proses pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran berbasis power power point melalui metode team kuis untuk meningkatkan minat belajar siswa dan kemampuan pemecahan masalah matematika. Observer mengamati proses pembelajaran pada 23 aspek kegiatan dan menghasilkan penilaian sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Observasi Siswa Siklus II Pertemuan Skor Nilai persentase Kriteria penilaian Tinggi Tinggi Persentase nilai rata-rata Kriteria penilaian Sangat tinggi Tinggi Berdasarkan tabel 6 di atas menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil lembar observasi pada siklus II. Dimana pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 3 diperoleh persentase rata-rata sebesar 93% dengan kategori sangat tinggi pada siklus II. Di akhir siklus I siswa diberi angket respon siswa, angket minat belajar, serta tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Pada angket respon siswa siklus II diperoleh persentase sebesar 785,53% dan termasuk dalam kategori sangat praktis. Kemudian angket minat belajar pada siklus II diperoleh terdapat 12 siswa yang mencapai kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 85,71%, dan sebanyak 2 siswa yang yang mencapai kategori cukup dengan persentase sebesar 14,29%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan minat belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Berikut tabel persentase hasil angket minat belajar matematika siswa. Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 Tabel 7. Persentase Skor Angket Minat Belajar Matematika Siswa Siklus II Tingkat pencapaian skor Frekuensi Persentase Kategori 81-100% 85,71% Sangat tinggi 61-80% 14,29% Tinggi 41-60% Cukup 21-40% Rendah 0-20% Sangat Rendah Kemudian untuk hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada siklus II menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika yang diperoleh pada siklus II dengan persentase hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa terdapat 11 siswa yang mencapai kemampuan sangat tinggi dengan persentase sebesar 78,57%, dan 3 siswa yang mencapai kemampuan tinggi dengan persentase 21,43%. Berikut tabel hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siklus II Tabel 8. Persentase Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Siklus II Nilai siswa Frekuensi Persentase Kategori 78,57% Sangat tinggi 21,43% Tinggi 0,00% Cukup 0,00% Kurang 0,00% Sangat kurang Refleksi Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis pada siklus II telah diadakan perbaikan sehingga berjalan dengan lancar dan memperoleh hasil yang baik sesuai yang diharapkan peneliti. Hal ini berdasarkan hasil persentase minat belajar yang diperoleh pada siklus II sebesar 85,71% dengan kategori sangat tinggi. Dari hasil persentase ini menunjukkan bahwa kriteria indikator keberhasilan minat belajar matematika siswa telah tercapai, sebagaimana yang telah ditentukan bahwa indikator keberhasilan minat belajar dalam penelitian ini adalah minimal 81% siswa memiliki minat belajar matematika pada kategori sangat tinggi. Kemudian hasil yang tes kemampuan pemecahan masalah dengan persentase sebesar 78,57% dengan kategori sangat tinggi dan 21,43% dengan kategori tinggi. Dari hasil persentase ini menunjukkan bahwa indikator kemampuan pemecahan masalah matematika siswa telah tercapai sebagaimana yang telah ditentukan yakni ketercapaian skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berada pada kategori tinggi dengan minimal persentase sebesar 76%. Kemudian hasil yang diperoleh pada angket respon siswa dengan persentase sebesar 85,53% dengan kategori sangat Hal ini menunjukkan bahwa, persentase angket respon siswa telah mencapai indikator keberhasilan sebagaimana yang telah ditentukan yakni ketercapaian skor angket respon siswa terhadap penggunaan media berbasis power point melalui metode team kuis berada pada kategori praktis dengan rentang persentase 70,01%. Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 Selanjutnya indikator keberhasilan pada keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada siklus II dimana pertemuan 1 sampai dengan pertemuan 3 diperoleh persentase rata-rata sebesar 100% dengan kategori sangat tinggi pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa indikator keterlaksanaan pembelajaran guru telah tercapai sebagaimana yang telah ditetapkan pada indikator keberhasilan dalam penelitian ini yakni aktivitas belajar yang dilakukan oleh guru minimal berada dalam kategori tinggi dengan rentang persentase 61%. Kemudian keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa pada siklus II diperoleh persentase rata-rata sebesar 93% dengan kategori sangat tinggi pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa indikator keterlaksanaan pembelajaran siswa telah tercapai sebagaimana yang telah ditetapkan pada indikator keberhasilan dalam penelitian ini yakni aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa minimal berada dalam kategori tinggi dengan rentang persentase 61%. Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa data yang diperoleh pada siklus II telah memenuhi semua indikator keberhasilan yang ditetapkan dalam penelitian ini dan adapun perbandingan hasil perolehan nilai indikator keberhasilan pada siklus I dan II dapat dilihat pada diagram berikut. Perbandingan perolehan hasil Siklus I dengan Siklus II 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% Minat Belajar Siklus I 21,43% Kemampu Pemecaha n Masalah Siklus II 85,71% 78,57% Respon Siswa Observasi Obserrvas Guru i Siswa 70,36% 85,53% Gambar 1. Diagram Perbandingan hasil siklus I dan II Dari hasil perbandingan diagram siklus I dan II diatas menunjukkan bahwa adanya peningkatan perolehan hasil indikator keberhasilan dari siklus I ke siklus II yang telah ditetapkan. Sehingga tidak perlu dilakukan tindakan lebih lanjut karena telah mencapai tingkat keberhasilan peneliti. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lastri et. yang menyatakan adanya peningkatan minat belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika dengan menggunakan media pembelajaran power point karena siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran matematika langsung. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Harahap dan Julyanti . menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa dengan menggunakan metode team kuis karena hal yang diterima oleh siswa tersebut merupakan hal yang baru sehingga memberikan sebuah perubahan baru bagi siswa. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Sari et. menyatakan bahwa penerapan media pembelajaran team kuis dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa karena pembelajaran team kuis membuat siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran dengan menunjukkan sikap Rasnida. Amran Yahya. Sitti Inaya Masrura/ Nabla Dewantara 9 . 21-33 tanggung jawab dan kerjasama untuk menjawab permasalahan yang diberikan melalui tahapan yang sesuai dengan kemampuan pemecahan masalah. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diketahui bahwa, dengan menggunakan media pembelajaran berbasis power point melalui metode team kuis jika diterapkan dengan baik sesuai dengan langkah-langkahnya dapat meningkatkan minat dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IX di SMP Negeri 8 Satu Atap Majene. Hal ini dapat dilihat dari ketercapaian indikator yang telah ditetapkan pada siklus II tepatnya pada pertemuan 8 yaitu proses pembelajaran yang terlaksana dilihat dari persentase angket minat belajar siswa 85,71% dengan kategori sangat tinggi, persentase angket respon siswa 85,53% dengan kategori sangat praktis, persentase tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 78,57% dengan kategori sangat tinggi, persentase aktivitas guru 100% dengan kategori sangat tinggi, dan persentase aktivitas siswa 93% dengan kategori sangat tinggi. DAFTAR PUSTAKA