Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 Gedangan KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK REALITA UNTUK MENINGKATKAN DISIPLIN TATA TERTIB PADA PESERTA DIDIK DI SMA NEGERI 1 GEDANGAN Muhammad Iqbal Fairuzzabadi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya 19055@mhs . Elisabeth Christiana Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya elisabethchristiana@unesa. Abstrak Disiplin tata tertib merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter dan kesuksesan belajar peserta Permasalahan rendahnya kedisiplinan peserta didik di SMA Negeri 1 Gedangan memerlukan intervensi yang berfokus pada perubahan perilaku, bukan sekadar pemberian hukuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan konseling kelompok realita dalam meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest design. Populasi penelitian adalah 30 peserta didik kelas X-3 SMA Negeri 1 Gedangan yang dipilih berdasarkan hasil analisis AKPD pada kegiatan PLP Agustus-September 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan metode purposive sampling, menghasilkan 5 peserta didik dengan tingkat disiplin tata tertib rendah sebagai subjek penelitian. Instrumen penelitian berupa angket kedisiplinan yang diberikan pada saat pretest dan posttest. Intervensi konseling kelompok realita dilaksanakan dalam 6 tahapan selama kurang lebih 1 bulan, meliputi: pembentukan kelompok, eksplorasi wants, eksplorasi direction and doing, evaluasi, planning, dan pengakhiran, yang berlandaskan prinsip 3R . esponsibility, reality, righ. dan teori WDEP (Wants. Doing. Evaluation. Plannin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling kelompok realita efektif meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik, dibuktikan dengan uji Wilcoxon yang menghasilkan nilai Asymp. Sig. 0,043 < 0,05, sehingga hipotesis alternatif diterima. Terdapat peningkatan signifikan rata-rata skor dari 93 pada pretest menjadi 131 pada posttest, menunjukkan peningkatan disiplin sebesar 40,86%. Peningkatan mencakup aspek kehadiran, kerapian penampilan, dan sikap dalam mengikuti kegiatan belajar. Analisis kualitatif menunjukkan setiap responden mampu mengenali keinginan untuk berubah, menilai tindakannya, dan membuat perencanaan konkret untuk meningkatkan kedisiplinan. Disimpulkan bahwa konseling kelompok realita merupakan pendekatan yang efektif untuk mengatasi permasalahan kedisiplinan peserta didik di sekolah menengah atas melalui pembentukan tanggung jawab pribadi, kesadaran akan konsekuensi, dan perencanaan tindakan yang sistematis. Kata Kunci: konseling kelompok. Teknik realita, disiplin tata tertib Abstract School discipline is an important aspect in character building and student learning success. The problem of low student discipline at SMA Negeri 1 Gedangan requires interventions focused on behavior change, not merely punishment. This study aims to determine the effectiveness of reality group counseling in improving student discipline regarding school regulations. The research employed a quantitative approach with a preexperimental one-group pretest-posttest design. The research population consisted of 30 students from class X-3 at SMA Negeri 1 Gedangan, selected based on AKPD analysis results during the August-September 2024 PLP activities. The sampling technique used nonprobability sampling with purposive sampling method, resulting in 5 students with low discipline levels as research subjects. The research instrument was a discipline questionnaire administered during pretest and posttest. Reality group counseling intervention was conducted in 6 stages over approximately 1 month, including: group formation, wants exploration, direction and doing exploration, evaluation, planning, and termination, based on the 3R principles . esponsibility, reality, righ. and WDEP theory (Wants. Doing. Evaluation. Plannin. The results showed that reality group counseling was effective in improving student discipline, evidenced by the Wilcoxon test yielding an Asymp. Sig. value of 0. 043 < 0. 05, thus the alternative hypothesis was accepted. There was a significant increase in mean scores from 93 in the pretest to 131 in the posttest, indicating a 40. improvement in discipline. The improvement covered aspects of attendance, appearance neatness, and attitude in participating in learning activities. Qualitative analysis showed that each respondent was able to recognize their desire to change, evaluate their actions, and make concrete plans to improve discipline. is concluded that reality group counseling is an effective approach to address student discipline problems in senior high schools through the development of personal responsibility, awareness of consequences, and systematic action planning Keywords: Group Counseling, reality technique, school discipline Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 Gedangan (Dalimunthe, 2. Individu yang mampu melakukan perilaku disiplin akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan. Ada beberapa bentuk perilaku disiplin dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, salah satunya yakni disiplin dalam mematuhi tata tertib. PENDAHULUAN Pada Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang bertujuan untuk mewujudkan karakter individu melalui proses belajar. Belajar sendiri merupakan suatu aktivitas mental yang dilakukan oleh individu dalam memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap melalui latihan dan pengalaman (Setiawan, 2. Tentunya perubahan yang diharapkan dalam proses belajar ini yakni perubahan yang mempunyai nilai positif bagi individu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya yakni beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak mulia, sehat, cakap, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab (Presiden Republik Indonesia, 2006. Permasalahan mengenai perilaku tidak disiplin pada peserta didik tidak hanya terjadi di Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun juga di Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Setiaji tahun 2016 di SMAN 1 Bringin Kab. Semarang didapatkan data bahwa sebanyak 61,8% peserta didik dalam sampel penelitiannya memiliki tingkat disiplin tata tertib yang rendah. Permasalahan serupa juga ditemukan di MAN 1 Lombok. Dalam penelitian Fahira Azizah tahun 2020 melalui wawancara yang dilakukan, ditemukan bahwa 78% dari sampel penelitian masih melakukan perilaku tidak disiplin yakni dengan terlambat datang ke sekolah, terlambat mengumpulkan tugas, tidak fokus mendengarkan guru saat mengajar di kelas, dan tidak memotong rambut sesuai ketentuan yang berlaku. Berangkat dari tujuan pendidikan nasional, para ahli psikologi menuliskan beberapa nilai-nilai karakter dasar yang perlu untuk dimiliki peserta didik yakni mencintai sang pencipta dan ciptaan-Nya, bertanggung jawab, bersikap jujur, hormat dan santun, memiliki kepedulian, dapat bekerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, kepemimpinan, rendah hati, toleransi, mencintai kedamaian dan persatuan (Widiyanti & Wiyono, 2. Dari beberapa nilai karakter yang telah dituliskan, salah satu nilai karakter dasar yang perlu untuk dilakukan perbaikan dalam pelaksanaan pendidikan Indonesia yakni nilai tanggung jawab. Hal ini diperkuat oleh pendapat (Nadhifa dkk. , 2. yang menyatakan banyak peserta didik yang tidak mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri sehingga menjadi faktor utama dari munculnya perilaku tidak disiplin. Disiplin itu sendiri merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib, karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya tanpa adanya paksaan dari luar (Arikunto, 2. Disiplin merupakan salah satu hal penting guna mencapai kesuksesan belajar bahkan kesuksesan dalam kehidupan. Meskipun kebanyakan kedisiplinan muncul karena paksaan kepatuhan akan aturan, akan tetapi kepatuhan tersebut akan menjadi modal dalam menciptakan kebiasaan positif sehingga akan muncul kesadaran diri dalam melakukannya (Haq, 2. Permasalahan perilaku tidak disiplin juga terjadi pada peserta didik di SMA Negeri 1 Gedangan, yang ditunjukkan melalui bentuk-bentuk pelanggaran seperti datang terlambat, tidak mengenakan atribut lengkap, tidak mengerjakan tugas, serta kurangnya kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. Berdasarkan need assesment yang dilakukan menggunakan instrumen dan perangkat AKPD atau Angket Kebutuhan Peserta Didik saat pelaksanaan PLP (Pengenalan Lapangan Persekolaha. AgustusAeNovember 2022 lalu, pada item pernyataan Aukurangnya tanggung jawab pada diriAy dari total 416 responden kelas X, item pernyataan tersebut dipilih oleh 260 dengan persentase pemilihan sebesar 62. 5% dan tergolong dalam kategori Di mana menurut Lumbantoruan dkk. , . kurangnya rasa tanggung jawab ini menjadi dasar dari perilaku tidak disiplin peserta didik pada tata tertib sekolah. Selanjutnya berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukan oleh peneliti di tempat penelitian, ditemukan kasus perilaku tidak disiplin peserta didik di kelas X-3 dalam bentuk keterlambatan hadir di sekolah, ketidaklengkapan atribut sekolah, ketidakhadiran peserta didik ketika jam pembelajaran, tidur saat jam pembelajaran berlangsung, dan bermain gawai ketika jam pelajaran. Namun pada kenyataannya masih banyak ditemukan individu yang kurang menerapkan perilaku disiplin khususnya di sekolah. Hal ini didukung oleh data tentang perilaku disiplin yang salah satunya didapat melalui survei yang dilakukan Salsabila & Diana . di SMP swasta Yogyakarta pada tahun 2020, di mana dari 487 siswa yang menjadi responden 49. 3% diantaranya terkena kasus keterlambatan masuk sekolah. Perilaku disiplin diterapkan dalam pendidikan sebagai alat dalam rangka pembentukan, pembinaan, dan pengembangan sikap, sekaligus sebagai alat dalam penyesuaian diri Banyak upaya yang telah dilakukan untuk menangani masalah ini yakni dengan melakukan pencatatan, teguran, pemanggilan orang tua, dan pembuatan surat perjanjian untuk tidak melakukan pelanggaran serupa. Namun upaya tersebut dapat dikatakan belum efektif karena peserta didik tetap mengulangi tindakan tersebut. Berdasarkan obervasi yang dilakukan peneliti, hal yang membuat penanganan perilaku disiplin kurang efektif adalah karena penanganan yang dilakukan hanya berfokus pada hukuman atau pencatatan pelanggaran tanpa adanya pemberian layanan yang berfokus pada perubahan perilaku. Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 Oleh karena itu peneliti bermaksud memberikan layanan Gedangan yang berfokus pada perubahan perilaku peserta didik berupa layanan konseling kelompok realita. Layanan konseling kelompok realita ini telah digunakan pada penelitian Anis Fauziah . yang mana didapatkan data bahwa konseling kelompok realita berpengaruh untuk meningkatkan perilaku disiplin peserta didik di tempat penelitiannya, setelah diuji analisis menggunakan Wilcoxon dengan signifikansi 0. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Duriyani & Setiawati . , dimana terdapat perbedaan rata-rata skor pre-test dan post-test sebesar 11,72% setelah dilakukan perlakuan menggunakan konseling realita pada peserta didik dengan tingkat kedisiplinan rendah. METODE Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif yang termasuk dalam penelitian eksperimen. Metode penelitian yang digunakan yakni pre-experimental design dengan model penelitian One-Group Pretest-Posttest Design. Di mana, pada penelitiaan ini akan dilakukan pretest pada sejumlah 30 peserta didik kelas X3 di SMA Negeri 1 Gedangan, yang menjadi populasi penelitian dengan menggunakan angket terkait kedisiplinan peserta didik, karena jumlah tersebut merupakan keseluruhan anggota kelas yang homogen dan relevan dengan fokus permasalahan kedisiplinan yang ingin diteliti. Pretest dilaksanakan menggunakan angket untuk mengukur tingkat kedisiplinan awal peserta didik sebelum diberikan Hal ini dilakukan guna mengetahui tingkat kedisiplinan peserta didik akan tata tertib yang digolongkan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Dari hasil pretest yang dilakukan, kemudian akan dikategorikan dan diambil 5 peserta didik dengan tingkat kedisiplinan tata tertib rendah untuk digunakan sebagai subyek penelitian. Pemilihan 5 siswa ini dilakukan karena jumlah tersebut dianggap ideal untuk pelaksanaan konseling kelompok yang efektif, di mana dinamika kelompok dapat terbentuk secara optimal tanpa mengurangi fokus pendampingan terhadap masing-masing anggota yang memiliki kebutuhan intervensi paling mendesak. Subyek penelitian ini kemudian diberikan perlakuan atau layanan konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan realita yang bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan pada tata tertib. Perlakuan diberikan dalam kurun waktu kurang lebih 1 . bulan dengan 6 . tahapan pertemuan. Permasalahan terkait rendahnya kesadaran mematuhi peraturan atau kedisiplinan yang rendah pada peserta didik perlu untuk ditindak lanjuti dikarenakan hal ini dapat menyebabkan peserta didik terjerumus pada kenakalan remaja (Edmawati dkk. , 2. Ditinjau dari penelitian sebelumnya, maka peneliti berkeinginan untuk mengetahui keefektifan konseling kelompok realita untuk meningkatkan kedisiplinan peserta didik yang rendah di tempat penelitian. Selanjutnya, penelitian ini kemudian disusun dengan judul AuKeefektifan Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib pada Peserta Didik di SMA Negeri 1 GedanganAy METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis Quasi-Eksperimental yang melibatkan Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol. Dalam pemilihan subjek, peneliti menggunakan Formulir Penggunaan Media Sosial TikTok untuk mengetahui durasi penggunaan media sosial TikTok murid kelas Vi SMP Wijaya Putra. Kemudian terpilih 8 murid dengan kriteria durasi penggunaan TikTok lebih dari 2 jam per hari. Subjek kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Kelompok Kontrol yang akan diberikan perlakuan yakni diberikan intervensi berupa Konseling Naratif untuk mereduksi adiksi sosial media TikTok dengan enam sesi konseling dan Kelompok Kontrol akan diberikan akan diberikan intervensi konseling Cognitive Restructuring (CR) dengan lima sesi konseling. Selanjutnya, guna mengetahui efektivitas konseling, subjek diberikan Pre-Test sebelum mendapatkan intervensi dan Post-Test setelah mendapatkan intervensi. Pre-Test dan Post-Test ini menggunakan Intrumen Adiksi Media Sosial TikTok yang diadaptasi dari Social Media Addiction Scale-Student Form (SMAS-SF) yang dikembangkan oleh Sahin . Intrumen tersebut disusun dengan 30 butir item pernyataan yang kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya. Kemudian diperoleh 22 butir item valid dan hasil uji reliabilitas sebesar 0,842. Setelah didapatkan skor Pre-Test dan Post-Test, data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test untuk mengetahui perbedaan hasil post-test antara kelompok eksperimen yang diberikan intervensi konseling naratif dan kelompok kontrol yang diberikan intervensi CBT dengan teknik Cognitive Restructuring. Perlakuan tersebut kemudian dievaluasi baik dalam segi proses dan hasil menggunakan angket kuosioner. Pada tahap evaluasi ini peserta didik diminta pula untuk mengungkapkan kesan akan kegiatan yang dilakukan serta perubahan yang dialami. Pada akhir pertemuan, peserta didik diberikan posttest dengan instrumen yang sama saat prestest untuk kemudian dianalisis dan dibandingkan guna mengetahui data akurat terkait keefektifan treatment dalam peningkatan kedisiplinan. Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 Gedangan HASIL DAN PEMBAHASAN Data Hasil Pengukuran Awal (Pre-tes. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan angket instrumen disiplin tata tertib. Metode penelitian yang digunakan yakni eksprerimen dengan rancangan penelitian pre experiment dan desain penelitian one group preAepost test, sehingga penelitian ini hanya menggunakan 1 kelompok tanpa pembanding. Populasi pada penelitian ini adalah kelas X-3 SMA Negeri 1 Gedangan dengan diawali melakukan angket pada peserta didik yang berjumlah 30 peserta didik. Kelas ini dipilih karena memiliki kecenderungan disiplin tata tertib yang rendah. Pengukuran awal dengan menyebarkan angket kuesioner di kelas X-3 dengan jumlah 30 peserta didik. Dan kemudian data tersebut dibagai menjadi 3 kategori yaitu tinggi, sedang, rendah. Rumus kriteria acuan 3 kategori Rendah = X < M - 1SD Sedang = M Ae 1SD O X < M 1 SD Tinggi = M 1SD O X Nilai M . atau rata-rata didapatkan dengan insert function Ae AVERAGE = 127,73 Nilai SD . tandar devias. didapatkan dengan insert function Ae STDEV = 19,30 Berdasarkan hasil perhitungan tersebut maka berikut adalah kriteria acuan dalam pengkategorian disiplin tata tertib. tabel 4 1Data Acuan Pengelompokan Pengkategorian Disiplin Tata Tertib Kategori Acuan Rendah Sedang Tinggi X < 108 108 O X < 147 147 O X Dari pengelompokan tersebut kemudian diambil 5 peserta didik dengan tingkat disiplin tata tertib rendah yang akan dijadikan sebagai sumber penelitian. Dari hasil pre test tersebut diperoleh 5 peserta didik yaitu tabel 4 2Hasil Pre Test Subjek Penelitian Responden APNA EDRWP MKGD NFD Skor Pre Test Kategori Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah pada tahap ini konseli dikumpulkan yang bertujuan untuk melakukan perkenalan diri terhadap anggota kelompok serta untuk membangun hubungan antar teman kelompok. Pada tahap awal ini konselor meminta izin kepada koordinzaztor BK dan guru kelas untuk melakukan pemanggilan terhadap 5 peserta didik tersebut agar dapat hadir di ruang konseling. Pada tahap ini konseling berfokus pada pembangunan kepercayaan dan kedekatan secara emosional antar anggota kelompok melalu perkenalan diri, games atau ice breaking, bercerita keseharian aktivitas, dan lain sebagainya. Pada tahap ini juga dijelaskan mengenai kegiatan konseling kelompok meliputi, aturan dan batasan konseling, ketersediaan konseli untuk mengikuti sesi konseling sampai akhir dan saling terbuka antar anggota dalam tahap ini dapat diamati bahwa kegiatan berjalan dengan cukup lancar di mana konseli dapat saling terbuka antar satu sama lain, dan setiap konseli terlibat aktif dalam kegiatan. Pertemuan 2: Eksplorasi tahap W (Want. Tahap ini berfokus pada eksplorasi mengenai persepsi dan pemahaman konseli mengenai disiplin tata tertib, permasalahan yang membuat tingkat disiplin tata tertib peserta didik tersebut rendah, masalah yang dialami konseli rata Ae rata mengenai kurangnya mereka dalam menaati aturan seperti penggunaan atribut yang tidak lengkap, datang terlambat atau tidak masuk jam pembelajaran ketika dirasa guru yang mengajar tidak disukai oleh konseli tersebut. Selain itu juga terkait penggunaan gawai ketika jam pembelajaran. Pertemuan 3 Eksplorasi Tahap D (Direction and Doin. Dalam pertemuan tahap ini konselor membantu konseli mengeksplorasi mengenai hal Ae hal yang dilakukan konseli selama ini, terkait alasan konseli seringkali tidak disiplin tata tertib, alasan konseli tidak menggunakan atribut secara lengkap, tidak datang sekolah tepat waktu. Pertemuan 4 Tahap E (Evaluatio. Pada tahap evaluasi konselor membantu konseli untuk menilai tindakan yang dilakukan oleh konseli dan dalam menentukan keputusan atas perlikau tersebut tergolong dalam tindakan yang bertanggung jawab atau tidak, dan tergolong dalam norma 3R. Konseli menilai bahwa tindakan yang dilakukan tergolong dalam tindakan yang tidak bertanggung jawab dan merugikan diri sendiri. Dalam tahap ini kemudian setelah melakukan evaluasi konseli berkeinginan untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin tata tertib. Pertemuan 5 Tahap 5 P (Plannin. Pada tahap ini konselor membantu konseli untuk membuat dan merencanakan pengembangan perilaku baru yang lebih bertanggung jawab dalam pencapaian kebutuhan. Rencana perilaku yang dibuat konseli di antaranya yakni penyesuaian jam berangkat sekolah, melengkapi kelengkapan atribut sekolah, mengubah pola pikir terhadap guru yang tidak disukai oleh konseli. Dimulai dengan mengerjakan tugas secara mandiri Pertemuan 6 evaluasi pelaksanaan kegiatan dan Post Treatment atau penerapan yang diberikan dalam konseling kelompok ini dibagai menjadi 6 sesi dengan rincian sebagai berikut Pertemuan 1: Tahap pembentukan kelompok Tahap ini merupakan awal dari kegiatan konseling. Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 Pada tahap ini merupakan tahap terakhir dalam Gedangan pelaksanaan konseling kelompok. Pada tahap ini dilakukan evaluasi kegiatan di mana peserta didik mengungkapkan pesan dan kesan, kritik dan saran selama menjalani sesi konseling kelompok. Selain itu konseli juga mengungkapkan perubahan dan pencapaian pemahaman yang dialami selama kegiatan konseling kelompok berlangsung. Selain itu juga dilakukan post test sebagai data pembanding untuk mendapatkan kesimpulan terkait keefektifan konseling kelompok realita dalam meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik. Data Hasil penelitian Perlakuan diberikan kepada subjek penelitian yang memiliki skor disiplin tata tertib yang rendah. Pemnberian layanan konseling kelompok realita dilakukan sebanyak 6 kali pertemuan, dan berikut merupakan rincian perlakuan yang diberikan dalam setiap pertemuan tabel 4 3 Data hasil penelitian Pertemuan 1 1 Hari/tanggal 2 Tempat 3 Alokasi waktu 4 Topik Tujuan Selasa, 9 Agustus 2024 Ruang Bimbingan Konseling 1 x 45 menit Perkenalan, pembinaan hubungan, penjelasan tujuan bimbingan kelompok dilaksanakan - Menciptakan keakraban dan kepercayaan antar anggota satu sama lain - membuat kesepakatan kegiatan konseling kelompok Hasil pertemuan Konselor dan konseli dengan jumlah 5 orang peserta didik bertemu untuk pertama kalinya dalam situasi kelompok. Konselor dan anggota kelompok saling mengenalkan diri dan melakukan permainan kecil atau ice breaking guna terjalin hubungan baik dan keakraban satu sam lain. Pada tahap awal ini konselor menjelaskan mengenai konseling kelompok dikarenakan anggota kelompok belum pernah mengikuti layanan konseling kelompok. Kemudian konselor memberikan gambaran mengenai hal yang akan dibahas dalam konseling kelompok. Konselor juga menjelaskan Teknik atau metode yang digunakan yakni konseling kelompok realita. Kemudian konselor membuat kontrak layanan Bersama anggota kelompok dan disetujui oleh seluruh anggota kelompok dan akan diadakan pertemuan kedua pada 18 Agsutus 2023 Pertemuan 2 1 Hari/tanggal 2 Tempat 3 Alokasi waktu 4 Topik Tujuan Hasil pertemuan Pada sesi ini, masing-masing konseli mulai mengungkapkan persepsi dan keinginannya terkait aturan APNA menyampaikan bahwa ia sering terlambat karena kurang disiplin dalam mengatur waktu pagi, sedangkan EDRWP merasa aturan atribut terlalu ketat dan AumerepotkanAy. MKGD mengaku sering tidak masuk pelajaran tertentu karena tidak menyukai guru yang mengajar, suatu 22ocus22 emosional yang sangat memengaruhi kedisiplinannya. NFD menyampaikan bahwa ia sering menggunakan gawai di kelas karena merasa bosan, sedangkan RA mengungkapkan bahwa ia sering lupa membawa perlengkapan sekolah. Dari proses diskusi ini terlihat bahwa masing-masing konseli memiliki 22ocus22 internal seperti kemalasan, kebiasaan buruk, motivasi rendah, serta 22ocus22 eksternal berupa lingkungan pertemanan dan persepsi 22ocus22g22 terhadap guru. Pertemuan 3 1 Hari/tanggal 2 Tempat 3 Alokasi waktu 4 Topik Kamis, 18 Agustus 2024 Ruang Bimbingan Konseling 1 x 45 menit Tahap wants Mengeksplorasi kebutuhan, dan presepsi dalam segala aspek kehidupan konseli - Membahas presepsi konseli tentang aturan sekolah yang - Mengeksplorasi konseli terkait kebutuhan akan kebebasan dan hak dalam aturan sekolah - Mengeksplorasi permasalahan yang dialami konseli terkait dengan aturan - Mengeksplorasi dan tujuan peserta didik terkait aturan sekolah yang sesuai norma Tujuan Rabu, 24 agustus 2024 Ruang Bimbingan Konseling 1 x 45 menit Tahap direction and doing tahap mengeksplorasi total behavior atau segala tindakan yang dilakukan dalam memenuhi tujuan atau kebutuhan - Menanyakan kebebasan yang diinginkan terkait aturan - Fokus pada perilaku tidak - Upaya yang dilakukan untuk mengurangi perilaku tidak Hasil pertemuan Dalam pertemuan ini, konselor menggali perilaku nyata . otal behavio. yang dilakukan konseli serta 22ocus22g di balik perilaku tersebut. APNA mengakui bahwa ia Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 sering bangun terlambat karena tidur larut malam untuk Gedangan bermain game. EDRWP menjelaskan bahwa ia jarang memakai atribut lengkap karena mengikuti kebiasaan teman dekatnya yang juga tidak peduli pada aturan. MKGD menyebutkan bahwa ia sering meninggalkan pelajaran atau tidak mengerjakan tugas sebagai bentuk protes karena merasa guru tertentu bersikap tidak adil. NFD mengakui bahwa ia sering alpa masuk kelas karena terlalu nyaman bermain ponsel, sementara RA menyebutkan bahwa ia kurang disiplin karena tidak memiliki perencanaan harian yang baik. Hasil eksplorasi ini menunjukkan bahwa perilaku tidak disiplin mereka sebagian besar muncul dari pola kebiasaan yang salah dan adanya pengaruh dari lingkungan 23ocus23. Pertemuan 4 1 Hari/tanggal 2 Tempat 3 Alokasi waktu 4 Topik Tujuan Selasa, 30 agustus 2024 Ruang Bimbingan Konseling 1 x 45 menit Tahap evaluation Membantu konseli untuk menilai tindakan yang dilakukan Mengajak konseli untuk menilai apakah tindakan yang dilakukan terhadap pemenuhan kebutuhan bertanggung jawab atau tidak, merugikan diri sendiri dan orang lain atau tidak, dan apakah perilaku tersebut sesuai dengan norma . rinsip 3R) Rabu, 7 september 2024 Ruang Bimbingan Konseling 1 x 45 menit Topik Tujuan Tahap planning Merencanakan perilaku baru yang bertanggung Membuat rencana perilaku baru yang lebih baik dan bertanggung Hasil pertemuan Pada tahap ini, konselor membantu konseli menyusun rencana perilaku baru yang lebih bertanggung jawab dan APNA menetapkan target untuk mengatur jam tidur dan bangun pagi secara konsisten. EDRWP berkomitmen mempersiapkan atribut sekolah sejak malam hari agar tidak lupa. MKGD mulai mencoba mengubah cara pandangnya terhadap guru yang tidak disukainya dan berusaha menyelesaikan tugas secara NFD menyusun strategi membatasi penggunaan gawai selama jam sekolah dengan menyimpannya di dalam tas. RA membuat rencana rutin untuk mengecek perlengkapan sekolah sebelum tidur. Setiap rencana ini disusun berdasarkan kebutuhan dan permasalahan masing-masing konseli serta diharapkan dapat membantu meningkatkan kedisiplinan dalam jangka 23ocus23g. Pertemuan 6 1 Hari/tanggal 2 Tempat 3 Alokasi waktu 4 Topik Hasil pertemuan Tahap evaluasi mengajak konseli menilai sendiri apakah tindakan yang dilakukan tergolong perilaku yang bertanggung jawab dan sesuai dengan norma 3R. APNA menyadari bahwa kebiasaannya terlambat membuatnya tertinggal materi dan sering mendapat teguran. EDRWP menyadari bahwa ketidaklengkapan atribut berdampak pada citra diri dan catatan pelanggaran yang terus MKGD menilai bahwa perilakunya yang tidak masuk kelas justru merugikan dirinya sendiri karena berpengaruh pada nilai akademik. NFD mengakui bahwa kebiasaan bermain gawai mengurangi 23ocus dan merusak motivasinya dalam belajar. RA pun menyadari bahwa kurangnya persiapan harian membuat dirinya sering kesulitan mengikuti pembelajaran. Setelah evaluasi diri, seluruh konseli menyimpulkan bahwa perilaku mereka tidak bertanggung jawab dan tidak sesuai dengan norma sekolah, sehingga mereka menyatakan kesiapan untuk berubah menjadi lebih disiplin. Pertemuan 5 1 Hari/tanggal 2 Tempat 3 Alokasi waktu Tujuan Jumat 16 september 2024 Ruang Bimbingan Konseling 1 x 45 menit Keterampilan dasar konseling untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan konseling - Konseli pesan, kesan, dan kritik terkait kegiatan yang dilakukan - Posttest Hasil pertemuan Pada pertemuan terakhir, konseli mengungkapkan pesan, kesan, serta perubahan yang dirasakan setelah mengikuti APNA menyampaikan bahwa ia kini lebih teratur dalam mengatur waktu dan lebih jarang terlambat. EDRWP merasa lebih menyadari pentingnya kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. MKGD mengakui adanya perubahan signifikan dalam kedisiplinannya, terutama terkait kehadiran dan sikap terhadap guru. NFD merasakan peningkatan 23ocus belajar setelah berhasil membatasi penggunaan gawai. RA juga merasa lebih percaya diri dan siap mengikuti pembelajaran dengan lebih baik karena perlengkapan sekolahnya kini lebih lengkap dan tertata. Setelah sesi refleksi, konseli mengisi post-test dan seluruhnya menunjukkan peningkatan skor kedisiplinan dibandingkan hasil pre-test, sehingga menunjukkan keberhasilan konseling kelompok realita dalam meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik. Data Hasil Pengukuran Akhir (Post-tes. Setelah pemberian perlakuan sebanyak 6 kali pertemuan, selanjutnya subjek penelitian diminta untuk Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 mengisi kembali angket disiplin peserta didik sebagai bahan Gedangan pengukuran . ost tes. hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perubahan perilaku disiplin tata tertib setelah diebrikan perlakuan konseling kelompok realita. Berikut data hasil perbandingan sebelum dan sesudah pemberian treatment konseling kelompok realita yang telah dilakukan pada penelitian ini. Hasil Penerapan Konseling Kelompok Realita APNA EDRWP tabel 4 4Hasil pengukuran akhir . ost tes. Nama APNA EDRWP MKGD NFD Skor Kategori Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Jumlah siswa Pretest Posttest Menin Menin tabel 4 6Deskripsi data Ketera RWP Pos Berdasarkan tabel tersebut persebaran datameliputi jumlah, mean, nilai tertinggi dan terendah yang dipaparkan sebagai berikut : tabel 4 5Data perbandingan sebelum dan sesudah pemberian treatment NFD Gambar 4. 1 Data hasil perbandingan pretest dan Analisis hasil penelitian Analisis Hasil Pre Test Dan Post Test Dari hasil pre test dan post test yang telah didapatkan, kemudian dilakukan perbandingan antara sebelum dan sesudah diberi perlakuan konseling kelompok realita. Dan berikut adalah hasil perbandingannya : MKGD Deskripsi data Jumlah Mean Nilai Nilai Jumlah Mean Nilai Nilai Menin Berdasarkan tabel 4. 4, nilai mean tersebut terdapat selisih di mana ketika dilakukan pretest didapatkan hasil Menin bahwa nilai rata rata sebesar 93 sementara hasil posttest sebesar 131, sehingga di dapatkan data bahwa ada selisih 38. Menin Artinya terdapat peningkatan disiplin tata tertib sebesar 40,86%. setelah dilakukan perbandingan selanjutnya maka Dari data hasil tabel 4. 6, diketahui hasil angket menganalisis menggunakan uji Wilcoxon dengan SPSS 20. sebelum diberikan perlakuan . dan sesudah perlakuan Berikut perhitungan uji Wilcoxon menggunakan SPSS 20: Kedua data tersebut dibandingkan untuk mengetahui perbedaab pada perlikau disiplin tata tertib ketika sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dan berikut tabel 4 7Hasil uji Wilcoxon adalah grafik perbandingan hasil data tersebut : Asymp. Sig. Keputusan Hipotesis Ha diterima Berdasarkan tabel 4. 5 hasil uji Wilcoxon, diperoleh nilai Z = -2. 023 dengan Asymp. Sig. -taile. = 0. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari = 0. 05, maka hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Gedangan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok realita efektif untuk meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik SMA Negeri 1 Gedangan. Pembahasan Penelitian dengan judul keefektifan konseling kelompok realita untuk meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik kelas X-3 di SMA Negeri 1 Gedangan ini beertujuan untuk mengetahui keefektifan penggunaan konseling kelompok realita untuk meningkatkan disiplin tata tertib pada peserta Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian pr-experimen serta desain penelitian one group pretest-postest, dengan hanya menggunakan satu kelompok yaitu kelompok eksperimen tanpa adanya kelompok kontrol sebagai pembanding. Penentuan kelas X-3 sebagai populasi penelitian didasarkan pada hasil anaalisis AKPD yang telah dilakukan saat kegiatan PLP Agustus- September 2024. Permasalahan disiplin tata tertib yang tergolong rendah. Selanjutnya subjek pada penelitian ini diambil dengan Teknik nonprobability sampling dengan metode sampling purposive yang didasarkan pada tujuan penelitian dengan metode sampling purposive yang didasarkan pada tujuan penelitian dengan menggunakan hasil pretest yang mana sampel merupakan peserta didik yang memiliki tingkat disiplin tata tertib rendah. Setelah dilakukan pengkategorian hasil pretest tersebut didapatkan bahwa terdapat 5 peserta didik yang memiliki tingkat disiplin rendah. Selain itu pengkateforian ini juga berfungsi untuk mengetahui kondisi awal kelompok yang digunakan untuk subjek penelitian, yang nantinya akan dibandingkan antara sebelum pemberian treatment dan sesudah dilakukan treatment yang diukur dengan pemberian posttest menggunakan instrument yang sama untuk mengetahui perbedaan disiplin tata tertub antara sebelum dan sesudah dilakukan treatment konseling kelompok realita. Pelaksanaan treatment konseling kelompok realita dilaksanakan dalam 6 tahapan yang mana tahapan ini dikembangkan berdasarkan tahapan konseling kelompok realita yang disusun oleh Wahyuni & Muhari . yaitu tahap pertama pembentukan kelompok, tahap kedua eksplorasi tahap wants, tahap ketiga eksplorasi tahap direction and doing, tahap keempat evaluasi, tahap kelima planning, dan tahap keenam pengakhiran. Konseling realita yang bersifat developmental yang berfokus pada perbuhan perilaku total dan memilki identitas berhasil dengen memnuhi prinsip 3R yaitu, responsibility yakni konseli mampu untuk bertanggung jawab, reality yakni konsel i dapat menerima konseskuaensi atastindakan yang dilakukan, dan right yakni konseli dapat bertindak sesuai norma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa layanan konseling kelompok realita efektif dalam meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik di SMA Negeri 1 Gedangan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test yang dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dengan nilai Asymp. Sig. 0,043 < 0,05 sehingga hipotesis alternatif diterima. Peningkatan rata-rata skor dari 93 pada pre-test menjadi 131 pada post-test mengindikasikan adanya peningkatan disiplin sebesar 40,86%. Peningkatan ini mencakup beberapa aspek penting, yaitu kehadiran, kerapian penampilan, serta sikap dalam mengikuti kegiatan belajar di Temuan ini selaras dengan pendapat Corey . yang menyatakan bahwa konseling realita membantu individu memfokuskan diri pada tanggung jawab pribadi dan pengambilan keputusan yang tepat. Peningkatan disiplin peserta didik tidak hanya ditunjukkan secara kuantitatif melalui perbedaan skor, tetapi juga secara kualitatif melalui analisis individu berdasarkan teori WDEP (Wants. Doing. Evaluation. Plannin. Analisis ini memperlihatkan bahwa setiap responden mampu mengenali keinginannya untuk berubah, menilai tindakannya, dan membuat perencanaan untuk menjadi lebih disiplin. Misalnya, responden MKGD mengalami peningkatan skor terbesar karena memiliki kesadaran yang kuat untuk memperbaiki diri dan membuat rencana tindak lanjut yang konkret. Sebaliknya, responden NFD meskipun peningkatannya lebih rendah tetap memperlihatkan adanya perubahan positif yang berarti. Hal ini menunjukkan bahwa strategi konseling dengan pendekatan WDEP membantu peserta didik melakukan refleksi diri yang sistematis dan menghasilkan perubahan perilaku nyata. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan efektivitas konseling kelompok realita dalam meningkatkan disiplin dan tanggung jawab siswa. Penelitian Duriyani dan Setiawati . serta Fauziah . menemukan bahwa layanan konseling kelompok realita dengan teknik WDEP terbukti meningkatkan kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah. Temuan serupa juga diungkapkan oleh Mukholifah . yang menyatakan bahwa konseling realita berperan penting dalam membentuk kontrol diri siswa dan mendorong perilaku disiplin yang lebih konsisten. Konsistensi hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu memperkuat validitas bahwa konseling kelompok realita merupakan pendekatan yang tepat untuk mengatasi permasalahan kedisiplinan siswa di sekolah. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa guru bimbingan dan konseling dapat memanfaatkan konseling kelompok realita sebagai alternatif strategi untuk meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik. Dengan memfasilitasi siswa melalui tahapan WDEP, guru BK dapat membantu peserta didik menyadari keinginannya, mengevaluasi tindakannya, dan merancang rencana perubahan yang sesuai dengan kebutuhan Pendekatan ini lebih efektif dibandingkan dengan penerapan hukuman semata yang seringkali tidak memberikan dampak jangka panjang. Selain itu, penerapan konseling kelompok realita menumbuhkan kesadaran intrinsik siswa sehingga kedisiplinan yang terbentuk tidak hanya bersifat eksternal karena takut pada sanksi, tetapi lahir dari tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa konseling kelompok realita memiliki kontribusi strategis dalam membentuk karakter disiplin peserta didik di PENUTUP Keefektifan Konseling Kelompok Realita Untuk Meningkatkan Disiplin Tata Tertib Di SMA Negeri 1 SimpulanGedangan Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menegah atas untuk menguji efektifitas konseling kelompok realita dalam meningkatkan disiplin peserta didik. Subjek penelitian sebanyak 5 orang peserta didik yang didiapat dari hasil pre test dengan diberikan perlakuan dengan jumlah 6 Setelah diberikan perlakuan kemudian diberikan post test dan menunjukkan perubahan kenaikan skor dan menunjukkan peningkatan perlikau disiplin. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok realita efektif dalam meningkatkan disiplin tata tertib peserta didik di Sekolah Menengah Atas. Saran Medan Tahun Pembelajaran 2018/2019. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Medan: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Panduan Operasioanl Penyelenggaran Bimbingan dan Konseling (POP BK). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan rektorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan. Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling (POP BK). Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Duriyani. , & Setiawati. Penerapan Konseling Kelompok Realita Teknik WDEP untuk Meningkatkan Perilaku Bertanggung Jawab dalam Mematuhi Tata Tertib Sekolah pada Siswa Kelas Vi-A SMP Negeri 1 Wonoayu. Jurnal BK UNESA, 4. , 491Ae498. Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang telah diuraikan, peneliti mengajukan beberapa saran strategis kepada berbagai pihak terkait. Pertama, bagi Guru Bimbingan dan Konseling Konseling kelompok realita dapat dijadikan salah satu alternatif layanan yang diberikan untuk menangani permasalahan disiplin tata tertib peserta didik, selain itu konseling kelompok realita juga dapat dikembangkan ke berbagai kebutuhan yang diperlukan guru untuk membantu memberikan layanan kepada peserta didik. Terakhir, bagi peneliti selanjutnya Peneliti selanjutnya dapat menggunakan Edmawati. Hardjajani. , & Wiyanti. Konseling Kelompok dengan Teknik SelfManagement untuk Meningkatkan Disiplin Terhadap Tata Tertib Sekolah. Consilium: Jurnal Program Studi Bimbingan Dan Konseling, 4. , 23Ae28. Fauziah. Penerapan Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Perilaku Disiplin Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama. PD ABKIN JATIM Open Journal System, 1. , 195Ae200. penelitian ini sebagai referensi atau rujukan, sehingga ketika peneliti ingin menggunakan topik penelitian yang sama, peneliti dapat memilih subjek yang bersifat heterogen agar pelaksanaannya dapat lebih berkembang lagi dari sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA