GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Efektivitas Layanan Konseling Sebaya untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Penerimaan Diri Santri Putri Korban Bullying Qurrota A'yun1*. Risydah Fadilah1. Suryani Hardjo1 . Universitas Medan Area. Indonesia. Abstract This study aims to examine the effectiveness of peer counseling services in improving selfconfidence and self-acceptance among female students who are victims of bullying in Islamic boarding schools. This research applied a one-group pretest-posttest preexperimental design with 15 participants selected using purposive sampling. The intervention consisted of six consecutive sessions of peer counseling. Research instruments included a validated self-confidence scale and a self-acceptance scale. The data analysis using paired sample t-test showed significant increases in both selfconfidence . = 0. and self-acceptance . = 0. after the peer counseling The findings indicate that peer counseling is an effective intervention to enhance the psychological well-being of bullied female students in Islamic boarding Keywords: Peer Counseling. Self-confidence. Self-acceptance. Bullying Victims Article Info Artikel History: Submitted: 2025-07-25 | Published: 2025-09-30 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 15. No 3 . Page: 590 - 598 (*) Corresponding Author: Qurrota A'yun. Universitas Medan Area. Indonesia. Email: qurrota4@gmail. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Bullying merupakan fenomena yang semakin mendapatkan perhatian karena dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis peserta didik. Berdasarkan laporan (UNESCO, 2. , sebanyak 245 juta anak di seluruh dunia mengalami bullying setiap tahunnya. Di Indonesia, angka kasus bullying bahkan mencapai 84% berdasarkan laporan (ICRW, 2. , menjadikannya salah satu negara dengan tingkat bullying tertinggi di Asia. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI Tim, 2. menunjukkan sebanyak 2. 473 kasus bullying dilaporkan sejak 2011 hingga 2019, yang mencerminkan meningkatnya kasus di berbagai institusi pendidikan, termasuk di lingkungan pesantren. Page | 590 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama juga tidak terlepas dari permasalahan bullying. Lingkungan pesantren yang memiliki tradisi senioritas, minimnya pengawasan, aturan yang tidak jelas, serta budaya yang cenderung mentolerir perlakuan senior terhadap junior, menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying (Rahman et , 2. Dampaknya, korban bullying sering menunjukkan rendahnya kemampuan asertif dan mengalami tekanan psikologis yang berujung pada menurunnya kepercayaan diri dan penerimaan diri (Zayn et al. , 2. Bahkan, beberapa kasus bullying di pesantren berakhir dengan dampak psikologis berat hingga fatal (Rimawati Eka, 2. Bullying mempengaruhi segala aspek kehidupan yang akan dijalani oleh korban Salah satu dampak dari bullying adalah penurunan kepercayaan diri. Karakteristik dari penurunan kepercayaan diri meliputi perasaan cemas, rendah diri, cenderung selalu diam, dan merasa tidak aman (Rahmah & Purwoko, 2. Hal ini berdampak pada penurunan minat santri untuk bersekolah, cenderung menghindari teman, dan merasa tidak aman di lingkungan pondok, yang berpotensi memperburuk rasa percaya diri. Kepercayaan diri memiliki peran penting dalam pembentukan identitas diri dan ketahanan psikologis seseorang (Busyra & Pulungan, 2. Menurut (Lauster, 2. ada lima aspek kepercayaan diri antara lain: keyakinan akan kemampuan diri, optimis, obyektif, bertanggung jawab dan rasional. Seseorang yang menjadi korban bullying cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri yang ditandai dengan kecemasan, ketakutan, dan penarikan diri (Rahmah & Purwoko, 2. Rasa percaya diri dapat terbentuk melalui faktor eksternal, salah satunya berasal dari lingkungan sosial. Lingkungan sosial berperan memberikan pengaruh terhadap korban bullying, misalnya melalui adanya dukungan sosial (Putra et al. , 2. Dari permasalahan tersebut teman sebaya memiliki peran penting untuk memberikan dukungan sosial, moral, dan emosional. mengajarkan keterampilan sosial seperti kerja sama dan pemecahan masalah (Kurniawan & Sudrajat, 2. Selain itu (R. Fadilah et al. , 2. juga mengatakan dengan adanya konseling yang efektif, diharapkan setiap individu dapat menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri. Selain itu, penerimaan diri juga menjadi komponen utama dalam kesehatan mental dan fungsi sosial individu (Huang et al. , 2. Menurut (Sheerer, 1. Aspek-aspek dalam penerimaan diri mencakup rasa setara dengan orang lain, keyakinan terhadap kemampuan pribadi, kesanggupan untuk bertanggung jawab, memiliki orientasi yang tidak terpusat pada diri sendiri, kemampuan mempertahankan pendirian, kesadaran akan keterbatasan diri, serta penerimaan terhadap sifat-sifat dasar sebagai manusia. Pengalaman bullying dapat membuat individu merasa rendah diri dan kesulitan menerima dirinya sendiri (Febriana & Rahmasari, 2. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang efektif untuk membantu korban bullying mengembangkan kembali kepercayaan diri dan penerimaan diri. Layanan konseling sebaya merupakan salah satu bentuk intervensi yang memanfaatkan kekuatan pengaruh teman sebaya untuk memberikan dukungan emosional dan psikologis. Di lingkungan pesantren, dukungan teman sebaya terbukti lebih berpengaruh dibandingkan dengan dukungan dari orang tua dalam membantu remaja mengatasi berbagai permasalahan (Solicha et al. , 2. Konseling sebaya yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis dapat membantu korban bullying dalam proses penyembuhan diri, mengembangkan kepercayaan diri, serta meningkatkan penerimaan dirinya (Az-zahra Abdillah & Rahmadani, 2. Berdasarkan uraian tersebut, maka judul penelitian AuEfektivitas Layanan Konseling Sebaya dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Penerimaan Diri pada Santri Putri Page | 591 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Korban Bullying di Lingkungan PesantrenAy dianggap relevan dan layak untuk diteliti. Judul ini mencerminkan permasalahan nyata yang terjadi di lingkungan pendidikan berbasis pesantren, serta mengangkat isu penting dalam perkembangan psikologis remaja, khususnya terkait kepercayaan diri dan penerimaan diri sebagai dampak dari pengalaman Penelitian ini juga memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi psikologis berbasis dukungan teman sebaya yang sesuai dengan karakteristik budaya Dengan demikian rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . Apakah layanan konseling sebaya efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri santri putri korban bullying di lingkungan pesantren? dan . Apakah layanan konseling sebaya efektif dalam meningkatkan penerimaan diri santri putri korban bullying di lingkungan pesantren?. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: layanan konseling sebaya efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan diri pada santri putri korban bullying di lingkungan pesantren METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pra-eksperimen dengan desain one group pretestposttest, yaitu suatu desain yang melibatkan satu kelompok subjek yang diberi perlakuan dan diukur sebelum dan sesudah perlakuan, yang berati pada penelitian ini tidak ada kelompok control (Sugiyono, 2. Desain ini digunakan untuk mengetahui pengaruh layanan konseling sebaya terhadap peningkatan kepercayaan diri dan penerimaan diri santri putri korban bullying sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Proses penelitian dijelaskan secara singkat pada gambar bagan yang telah tercantum dibawah ini : Bagan 1. Desain Penelitian Eksperimen Pre-test Post-test One Group Design Pre-test Treatment Post-Test Keterangan : : Hasil ukur saat diberikan pre-test : Pelaksanaan Layanan Konseling Sebaya : Hasil ukur saat diberikan post-tes Partisipan Partisipan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri putri tingkat SMP di salah satu pondok pesantren di sumatera utara yang berjumlah 58 orang. Sampel merupakan sebagian individu yang mewakili jumlah dan karakteristik dari suatu populasi (Sugiyono, 2. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria santri putri yang telah mengalami bullying, ditentukan melalui proses screening menggunakan Skala Korban Bullying. Jumlah partisipan akhir dalam penelitian ini adalah 15 orang santri putri. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian terdiri dari tiga skala, yaitu Skala Korban Bullying (Olweus, 2. Skala Kepercayaan Diri (Ghufron & Risnawita, 2. , dan Skala Penerimaan Diri (Fatonah & Husna, 2. Ketiga skala telah melalui uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan dua kali, yaitu sebelum pemberian Page | 592 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA intervensi . dan sesudah pemberian intervensi . Selain itu, pelaksanaan layanan konseling sebaya terdiri dari enam sesi yang dilakukan selama enam hari berturutturut, masing-masing sesi berlangsung selama 60Ae90 menit dengan difasilitasi oleh konselor sebaya yang telah dilatih. Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dengan bantuan program SPSS versi 24 untuk mengetahui perbedaan skor kepercayaan diri dan penerimaan diri sebelum dan sesudah pelaksanaan layanan konseling sebaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Screening awal dilakukan pada tanggal 23 Mei 2025 dengan menggunakan skala korban bullying yang diberikan kepada seluruh santri tingkat SMP berjumlah 58 orang. Tabel 1. Karakteristik Populasi Kelas VII Vi Total Jumlah Presentasi Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi siswa yang terindikasi sebagai korban bullying yang memiliki tingkat skor kategori tinggi. Tabel 2. Deskripsi Data Penelitian untuk Screening dengan korban bullying Mean Data Hipotetik Xmin Xmax Mean Xmin Data Empirik Xmax Keterangan rumus skor hipotetik: . Skor minimal (Xmi. diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah butir skala dengan skor terendah dari alternatif jawaban. Dalam hal ini, skor terendah adalah 1, sehingga jika subjek mengisi seluruh item dengan skor 1, maka skor minimal adalah 14. Skor maksimal (Xma. diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah butir skala dengan skor tertinggi dari alternatif jawaban. Dalam hal ini, skor tertinggi adalah 5, sehingga jika subjek mengisi seluruh item dengan skor 5, maka skor maksimal adalah 56. Mean hipotetik dihitung dengan menjumlahkan skor minimal dan maksimal, kemudian dibagi dua. Hasil deskripsi data tersebut digunakan sebagai dasar dalam pengkategorian tingkat indikasi korban bullying yang terdiri dari kategori tinggi, sedang dan rendah. Tabel normatif untuk kategori subjek yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan data empirik ditampilkan sebagai berikut: Tabel 3. Gambaran korban bullying setiap kategori Rumus X < M -1SD M Ae 1SD < X< M 1SD X < M 1SD Total Rentang Skor X < 20. 39 < X < 33. X > 33. Kategori Rendah Sedang Tinggi Page | 593 Jumlah GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Dari table diatas didapat 15 orang yang mengalami bullying yang tinggi. Hasil screening ini kemudian digunakan untuk menentukan subjek yang akan diikut sertakan dalam kelompok eksperimen untuk mengikuti layanan konseling sebaya. Setelah diberikan layanan konseling sebaya, hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest baik pada variabel kepercayaan diri maupun penerimaan diri. Tabel 4. Deskripsi skor Pre-test dan Post Test Variabel Penerimaan Diri Subjek Pre Test Post Test Penilaian Naik Naik Turun Naik Turun Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik Dari table diatas didapat bahwa skor pre-test dan post-test variabel penerimaan diri pada tabel di atas, diperoleh rentang skor pada pre-test bergerak dari 98 hingga 162, sedangkan pada post-test bergerak dari 118 hingga 192. Berdasarkan data tersebut, sebagian besar subjek mengalami kenaikan skor penerimaan diri setelah mengikuti layanan konseling sebaya, meskipun terdapat 2 subjek yang mengalami penurunan skor. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan penerimaan diri pada mayoritas subjek. Tabel 5. Deskripsi skor Pre-test dan Post Test Variabel Kepercayaan Diri Subjek Pre-Test Post-Test Penilaian Naik Naik Naik Naik Turun Naik Naik Naik Naik Naik Naik Turun Naik Naik Naik Berdasarkan Tabel deskripsi skor pre-test dan post-test variabel kepercayaan diri pada tabel di atas, diperoleh rentang skor pada pre-test bergerak dari 70 hingga 126, sedangkan pada post-test bergerak dari 103 hingga 143. Berdasarkan data tersebut, sebagian besar subjek mengalami kenaikan skor kepercayaan diri setelah mengikuti Page | 594 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA layanan konseling sebaya, meskipun terdapat 2 subjek yang mengalami penurunan skor. Hal ini menunjukkan adanya tren peningkatan kepercayaan diri pada mayoritas subjek. Berikut hasil analisis statistik yang diperoleh: Tabel 6. Hasil Uji t-Sampel Berpasangan untuk Kepercayaan Diri dan Penerimaan Diri Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 PRE_PD - POST_PD PRE1_KD - POST1_KD Std. Deviation Std. Error Mean Sig. -taile. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test kepercayaan diri santri putri korban bullying setelah mengikuti layanan konseling sebaya. Rata-rata skor kepercayaan diri meningkat dari 106. 73 sebelum intervensi menjadi 117. 87 setelah intervensi. Uji statistik menggunakan paired sample ttest menghasilkan nilai signifikansi sebesar p = 0. < 0. , yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut signifikan secara statistik. Dengan demikian, hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima, yaitu layanan konseling sebaya efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri santri putri yang mengalami bullying di lingkungan pesantren. Secara kualitatif, peningkatan kepercayaan diri peserta juga terlihat dalam dinamika kelompok selama proses konseling berlangsung. Pada pertemuan awal, mayoritas peserta menunjukkan sikap pasif seperti menunduk, berbicara dengan suara pelan, dan enggan menyampaikan pendapat. Mereka juga cenderung menarik diri dari interaksi kelompok dan menunjukkan keraguan terhadap diri sendiri. Namun seiring berjalannya sesi-sesi konseling, peserta mulai menunjukkan perubahan signifikan, seperti meningkatnya partisipasi aktif, keberanian berbicara di depan kelompok, serta kemampuan menyampaikan opini secara terbuka. Temuan ini memperkuat teori yang menyatakan bahwa konseling sebaya mampu memberikan dukungan emosional yang efektif bagi korban bullying, serta mampu meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan diri (Az-zahra Abdillah & Rahmadani. Dalam kegiatan konseling, partisipan mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman, melakukan refleksi diri, serta memperoleh dukungan dari sesama teman sebaya yang menghadapi pengalaman serupa. Penelitian oleh (Pradhana & Daulay, 2. juga mengungkapkan bahwa layanan bimbingan kelompok efektif membantu meningkatkan kepercayaan diri korban bullying melalui penguatan asertivitas. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri setelah mengikuti layanan konseling sebaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa layanan konseling sebaya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan penerimaan diri santri putri korban bullying. Hasil analisis menggunakan paired sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test variabel penerimaan diri, dengan nilai signifikansi p = 0. < 0. Rata-rata skor penerimaan diri meningkat dari 134. pada pre-test menjadi 148. 60 pada post-test. Temuan ini menegaskan bahwa hipotesis kedua diterima, yaitu bahwa konseling sebaya efektif dalam meningkatkan penerimaan diri santri putri yang mengalami bullying. Perubahan pada aspek penerimaan diri juga terlihat secara kualitatif selama proses konseling berlangsung. Di awal sesi, sebagian besar peserta menunjukkan kecenderungan untuk memfokuskan perhatian pada kekurangan diri dan merasa tidak pantas berada Page | 595 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA dalam lingkungan sosial. Mereka sulit untuk mengakui kelebihan diri dan memiliki anggapan negatif terhadap diri sendiri. Namun, seiring berjalannya sesi konseling, perubahan positif mulai tampak, terutama setelah peserta mengikuti kegiatan seperti Aumenulis 3 hal yang aku banggakanAy. Ausurat untuk diri sendiriAy, dan diskusi kelompok tentang potensi pribadi Pemantauan pasca-intervensi secara informal melalui observasi lanjutan dan komunikasi dengan pihak pesantren menunjukkan bahwa sebagian subjek masih menerapkan keterampilan yang diperoleh, seperti menulis jurnal pribadi, menyusun rencana harian, dan lebih aktif berinteraksi sosial dengan teman sebaya. Salah satu peserta yang pada awal sesi sangat tertutup dan cenderung pasif, bahkan mulai aktif menjadi penghubung kelompok diskusi kelas dan ditunjuk sebagai ketua kamar oleh pengasuhan sebagai bentuk kepercayaan baru terhadap dirinya. Selain itu, (Warastri, n. ) menunjukkan bahwa intervensi berbasis terapi kognitif perilaku efektif meningkatkan penerimaan diri pada remaja, memberikan landasan bahwa penerimaan diri dapat ditingkatkan melalui intervensi psikologis, termasuk konseling Hasil ini juga sejalan dengan penelitian (Hamka et al. , 2. yang membuktikan bahwa layanan bimbingan kelompok efektif dalam meningkatkan self-confidence siswa. Mereka menemukan bahwa keberanian berpendapat, partisipasi aktif, dan kemandirian meningkat setelah intervensi kelompok. Selanjutnya (Puluhulawa et al. , 2. menegaskan pentingnya konseling kelompok berbasis reality therapy dalam meningkatkan harga diri peserta, yang erat kaitannya dengan pembentukan kepercayaan diri. Selain itu, hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh (N. Fadilah et al. , 2. yang menemukan bahwa layanan konseling kelompok dapat meningkatkan kepercayaan diri remaja, serta dengan temuan (Solicha et , 2. yang menekankan pentingnya dukungan teman sebaya di lingkungan pesantren. Konseling sebaya memberikan dampak positif karena bersifat non-otoritatif, berbasis empati, dan dapat membangun suasana kepercayaan. Catatan observasi lapangan selama pelaksanaan konseling juga mencatat adanya pergeseran sikap dari cemas dan penuh ketidakpastian menjadi lebih tenang, terbuka, dan penuh semangat. Peserta mulai berani mengungkapkan opini, mengemukakan pertanyaan, hingga menunjukkan empati terhadap anggota kelompok lainnya. Keberhasilan ini ditandai juga dari suasana kelompok yang semakin hangat, dinamis, dan suportif dari sesi ke sesi. Dengan demikian, layanan konseling sebaya terbukti secara empiris memberikan dampak positif dalam meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan diri santri putri korban bullying. Proses ini tidak hanya mendukung peningkatan skor kepercayaan diri dan penerimaan diri secara kuantitatif, namun juga tercermin melalui perilaku, sikap, dan ekspresi peserta yang berubah secara nyata dari sesi ke sesi. Hasil ini mendukung temuan penelitian sebelumnya dan memperkuat teori bahwa layanan konseling sebaya dapat menjadi strategi efektif dalam penanganan dampak psikologis bullying di lingkungan Page | 596 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling sebaya terbukti efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan diri santri putri yang menjadi korban bullying di lingkungan pesantren. Konseling sebaya memberikan ruang bagi peserta untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, serta mendapatkan dukungan emosional dari teman sebaya yang memiliki pengalaman serupa. Proses ini membantu mereka untuk lebih percaya diri dan mampu menerima diri mereka apa adanya. Hasil penelitian ini merekomendasikan agar layanan konseling sebaya dijadikan sebagai salah satu alternatif intervensi di lingkungan pesantren, terutama dalam menangani permasalahan psikologis yang dialami oleh santri korban bullying. Diharapkan dengan adanya program konseling sebaya yang terstruktur dan berkelanjutan, pesantren mampu menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan bebas dari tindakan bullying. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji dampak jangka panjang dari layanan ini serta penerapannya dalam skala yang lebih luas. REFERENSI