Kawulo Journal for Community Development Vol. 1 No. DOI: 10. Pencegahan Stunting Mulai dari Rumah Serta Peran Orang Tua dalam Pemenuhan Gizi Baduta di Desa Sitiharjo Ercika Fitria Suandi1. Najwa Aura Intan Perdana2. Muhaemin Muhbang3. Laily Liddini4 Universitas Islam Negeri Prof. H Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 3Institut Agama Islam Negeri Parepare e-mail: lailyliddini@uinsaizu. Abstract Stunting is a serious health issue that significantly impacts a childAos long-term quality of life, including physical, coqnitive, and productivity development in the future. Sitiharjo Village, as a rural area, faces challenges in reducing stunting rates due to limited nutritional knowledge, restricted access to nutritious food, and suboptimal parenting practices. The home environment plays a crucial role in stunting prevention, particularly through the role of parents in ensuring adequate nutrition for infants under two years (Badut. Proper nutrition during this critical period supports optimal growth and prevents developmental issues. Nutritional education for parents, fostering healthy eating habits, and providing balanced nutritious meals are key factors. Additionally, active participation from the village government through counseling programs, posyandu . ntegrated health post. , and community empowerment can strengthen prevention efforts. Collaboration between families, communities, and the village government is expected to create a healthy, intelligent, and high-quality generation, free from stunting, for a better future. Keywords: Stunting Prevention. Nutritional Fulfillment. Infants Under Two Years. Abstrak Stunting adalah masalah kesehatan yang berdampak serius pada kualitas hidup anak dalam jangka panjang, termasuk perkembangan fisik, kognitif, dan produktivitas di masa depan. Desa Sitiharjo, sebagai daerah pedesaan, menghadapi tantangan dalam menurunkan angka stunting akibat kurangnya pengetahuan tentang gizi, keterbatasan akses ke makanan bergizi, dan pola asuh yang kurang optimal. Lingkungan rumah memainksan peran krusial dalam pencegahan stunting, terutama melalui peran orang tua dalam memastikan kecukupan gizi bagi bayi di bawah dua tahun (Badut. Pemenuhan gizi yang baik pada periode emas ini mendukung pertumbuhan optimal dan mencegah gangguan Edukasi gizi bagi orang tua, pembentukan kebiasaan pola makan sehat, dan pemberian makanan bergizi seimbang menjadi kunci utama. Selain itu, partisipasi aktif pemerintah desa melalui program penyuluhan, posyandu, dan pemberdayaan masyarakat dapat memperkuat upaya Kolaborasi antara keluarga, komunitas, dan pemerintah desa diharapkan mampu menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas tinggi, bebas dari stunting, demi masa depan yang lebih baik. Kata Kunci : Pencegahan Stunting. Pemenuhan gizi. Baduta Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. PENDAHULUAN Stunting adalah gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang, terutama selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi tinggi badan anak, tetapi juga menghambat perkembangan otak, kemampuan belajar, daya tahan tubuh terhadap infeksi, dan risiko gangguan metabolisme di kemudian hari. Stunting dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas di usia dewasa, dan bahkan menurunkan kualitas sumber daya manusia suatu negara dalam jangka waktu yang lama. Karena stunting berdampak langsung pada kesehatan dan masa depan anak-anak, masalah stunting masih menjadi perhatian penting di Desa Sitiharjo. Beberapa penyebabnya termasuk kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang. kebiasaan makan yang kurang variatif dan cenderung bergantung pada sumber makanan tunggal. ekonomi yang membatasi kemampuan keluarga untuk membeli makanan bergizi. kurangnya pemantauan teratur dari tenaga kesehatan dan keluarga terhadap pertumbuhan anak. Selain itu, faktor budaya dan pola asuh yang kurang memperhatikan kebutuhan nutrisi anak, kurangnya pemanfaatan pangan lokal yang melimpah, dan kurangnya akses ke informasi kesehatan semuanya memperburuk keadaan. Misalnya, dalam komunitas dampingan Desa Sitiharjo, ada presentase stunting sebesar 28,6 persen pada balita usia 0-59 bulan, menurut hasil pengukuran status gizi yang dilakukan pada bulan Juli 2024. Sebagian besar kasus stunting ini terjadi pada keluarga yang memiliki Pendapatan rendah dan tidak memiliki akses yang mudah ke makanan bergizi. Selain itu, data dari wawancara dengan kader posyandu dan ibu balita menunjukkan bahwa faktor utama yang memperburuk kondisi ini adalah kurangnya pemahaman tentang pola makan sehat, pemberian ASI, dan pengolahan pangan local (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang membentuk tumbuh kembang anak sejak dini, jadi upaya pencegahan harus dimulai di rumah. Orang tua, terutama ibu, memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin bahwa anak memperoleh asupan gizi yang sehat dan sesuai kebutuhan pada setiap tahap perkembangan mereka. Memenuhi kebutuhan nutrisi anak di bawah dua tahun tidak hanya tergantung pada jenis dan jumlah makanan yang pola asuh yang penuh kasih sayang. kebiasaan makan yang sehat. kebersihan rumah dan peralatan makan. dan memberikan perhatian komprehensif terhadap kesehatan fisik dan mental anak. Keberhasilan upaya pencegahan stunting sejak dari lingkup Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. rumah tangga akan semakin diperkuat dengan dukungan ayah dan anggota keluarga lainnya dalam berbagi peran, memberikan motivasi, dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman (Jaki. Tujuan pendampingan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya orang tua, kader posyandu, dan tenaga kesehatan lokal, tentang penyebab, efek, dan cara mencegah stunting. Tujuan pendampingan ini juga adalah untuk meningkatkan kemampuan kader kesehatan untuk memahami dan mengawasi keluarga yang berisiko stunting dan mendorong pemanfaatan MP-ASI sesuai usia (Fatimah. , & Lestari. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yaitu model pemberdayaan masyarakat yang menekankan pada pemanfaatan aset dan potensi lokal sebagai dasar dalam proses pengembangan. Pendekatan ini memposisikan masyarakat sebagai subjek utama yang secara aktif terlibat dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan program. Penelitian dilaksanakan di Desa Sitiharjo. Subjek penelitian meliputi masyarakat desa, khususnya keluarga yang memiliki baduta . ayi di bawah dua tahu. , kader Posyandu, serta tokoh masyarakat setempat. Mahasiswa KKN berperan sebagai fasilitator dalam proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, survei, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi dan potensi desa, wawancara untuk menggali informasi dari masyarakat dan tokoh setempat, survei untuk mengetahui kebutuhan dan harapan masyarakat terkait pencegahan stunting, serta dokumentasi sebagai data pendukung berupa arsip dan catatan kegiatan. Pelaksanaan program mengacu pada tahapan dalam pendekatan ABCD, yaitu discovery, dream, design, define, dan destiny. Pada tahap discovery, dilakukan identifikasi aset dan potensi desa serta analisis kebutuhan masyarakat melalui observasi dan wawancara. Tahap dream berfokus pada perumusan visi dan harapan bersama masyarakat melalui forum diskusi. Selanjutnya, tahap design dilakukan dengan menyusun program pencegahan stunting berbasis keluarga serta peningkatan peran orang tua dalam pemenuhan gizi anak. Pada tahap define, ditetapkan tujuan program dan indikator keberhasilan, disertai penyusunan rencana aksi yang Adapun tahap destiny merupakan implementasi program yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan edukasi dan praktik pemenuhan gizi dalam kehidupan seharihari. Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala melalui kegiatan Posyandu setiap bulan untuk memantau perkembangan status gizi anak. Selain itu, evaluasi juga dilakukan melalui diskusi bersama masyarakat guna mengidentifikasi kendala dan menentukan perbaikan Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program dalam mendukung terwujudnya keluarga sehat dan sejahtera. HASIL DAN PEMBAHASAN Program pencegahan stunting di Desa Sitiharjo menunjukkan hasil utama berupa peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta terkait pemenuhan gizi anak, khususnya pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain itu, program ini juga berhasil membentuk kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya pola asuh dan konsumsi gizi seimbang sebagai upaya preventif terhadap stunting. Tujuan dari Sosialisasi Baduta di Desa Sitiharjo adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama para guru dan orang tua balita, tentang cara mencegah stunting dan pentingnya pemenuhan gizi seimbang untuk Baduta, anak usia bawah dua tahun. Kegiatan ini berlangsung dengan partisipasi, dengan narasumber dari puskesmas dan lembaga kesehatan lokal memberikan materi. Untuk mencegah stunting, narasumber memberi tahu kita secara teknis apa yang harus kita lakukan. Ini termasuk memberikan ASI (Air Susu Ib. secara eksklusif. MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ib. sesuai usia, dan mengkonsumsi makanan lokal yang sehat. Disebutkan juga betapa pentingnya perilaku hidup bersih dan sanitasi lingkungan untuk mendukung kesehatan anak. Workshop ini tidak hanya memungkinkan orang untuk berbicara satu sama lain, tetapi juga menghasilkan beberapa rencana tindakan kader, seperti menyebarkan materi nutrisi melalui kegiatan Posyandu dan membantu orang tua berbicara satu sama lain melalui kelompok diskusi informal (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gambar 1: Penyampaian Materi dari Narasumber Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Meningkatnya kesadaran warga terhadap pentingnya gizi seimbang dan pencegahan stunting sejak dini menunjukkan perubahan sosial. Bertambahnya jumlah ibu yang hadir di posyandu dan mulai aktif bertanya tentang makanan bergizi dan pola makan yang sehat adalah salah satu indikatornya. Selain itu, kader lokal mengambil inisiatif untuk membuat media informasi sederhana, seperti poster bergambar dan papan edukasi gizi yang ditempatkan di wilayah Desa yang direncanakan. Hal ini menunjukkan bahwa stunting sekarang dianggap sebagai masalah rumah tangga atau pribadi, tetapi sekarang dianggap sebagai masalah kolektif. Perubahan ini menunjukkan bahwa penguatan modal sosial dan pembelajaran sosial muncul sebagai bagian dari mekanisme perubahan perilaku dalam komunitas (Putri. , & Sari. Gambar 2: Sesi foto bersama Kegiatan Edukasi Di banyak wilayah di Indonesia, khususnya di Desa Sitiharjo, stunting masih merupakan masalah yang serius. Angka stunting di Desa Sitiharjo mencapai 28,6% pada balita di usia 059 bulan. Ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga anak-anak di Desa Sitiharjo mengalami masalah dalam masa pertumbuhan yang memengaruhi tumbuh otak, daya tahan tubuh, perkembangan kemampuan belajar dan bersosialisasi, serta perkembangan tinngi badan. Stunting adalah akibat dari kekurangan gizi yang berlangsung lama, terutama selama periode 1000 HPK, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Stunting adalah masalah yang disebabkan oleh banyak faktor yang berbeda, bukan satu. Banyak keluarga di Desa Sitiharjo belum menyadari pentingnya gizi seimbang. Penyebab utama lainnya adalah pola makan instan, keterbatasan finansial, dan pemanfaatan pangan lokal Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. yang rendah. Selain itu, kondisi ini diperparah oleh pola asuh yang tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi anak dan tidak memantau perkembangan balita dengan baik. Keluarga, lingkungan yang paling dekat dengan anak-anak, adalah tempat yang sebenarnya dapat dimulai untuk mencegah stunting. Peran orang tua sangat penting dalam perkembangan anak, dan peran keluarga sangat menentukan nasib tumbuh kembang anak. Sebagai pengasuh utama, ibu bertanggung jawab untuk memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup, mulai dari masa kehamilan hingga pengolahan makanan yang bergizi. Ayah dan ibu juga bertanggung jawab untuk memberikan dukungan moral dan finansial, serta menciptakan lingkungan rumah yang aman dan sehat untuk anak-anak. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi baduta . ayi di bawah dua tahu. bukan hanya menyediakan makanan, tetapi juga bagaimana mengasuh anak dengan kasih sayang, membangun kebiasaan makan yang baik, dan menjaga kebersihan lingkungan. Keluarga dapat mulai memperhatikan jadwal makan anak, memperkenalkan variasi makanan dari makanan yang kaya nutrisi seperti sayur-sayuran, ikan, dan tempe. Selain itu, berpartisipasi dalam aktivitas di posyandu secara teratur untuk memantau perkembangan anak. Ada kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas kader posyandu dan tenaga kesehatan agar mereka dapat memberikan pendidikan yang tepat sasaran. Mereka harus diberikan informasi yang akurat, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, dkan kemampuan untuk memantau kesehatan gizi anak secara teratur. Tujuan pendampingan di Desa Sitiharjo adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pola asuh yang sehat, kesehatan, dan gizi yang baik. Pendidikan meliputi pelatihan tentang pemberian ASI eksklusif, pembuatan MPASI yang sesuai dengan usia anak, pemanfaatan makanan lokal, dan penerapan gaya hidup sehat dalam keluarga. Selain itu, acara ini mendorong semua orang, mulai dari orang tua hingga kader kesehatan dan perangkat desa, untuk berpartisipasi secara aktif dalam mencegah stunting secara terpadu dan berkelanjutan. Pemenuhan Gizi Untuk mencegah stunting, penting bagi bayi di bawah dua tahun . untuk mendapatkan asupan gizi yang ideal. Hasil dari pendampingan keluarga di Desa Sitiharjo menunjukkan bahwa sebagian ibu belum memberikan ASI eksklusif selama enam bulan penuh, dan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) seringkali dimulai terlalu dini atau tidak sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Kondisi ini sejalan dengan penemuan Nuradhiani . , yang melalui penelitian literatur menemukan bahwa praktik pemberian ASI eksklusif berkorelasi erat dengan penurunan risiko stunting. anak-anak yang tidak menerima ASI eksklusif memiliki tingkat stunting yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. Selain itu, observasi lapangan menunjukkan bahwa variasi MPASI masih rendah dan sebagian besar terdiri dari makanan pokok berkarbohidrat dengan sedikit sumber protein hewani. Namun, literatur review oleh Wasaraka . menunjukkan bahwa MPASI yang tepat waktu, cukup jumlah, dan kualitas, serta kaya protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging dapat meningkatkan pertumbuhan linear dan perkembangan otak anak. Hasil menunjukkan bahwa edukasi tentang pemberian ASI eksklusif, pengolahan MPASI bergizi tinggi, dan pemantauan tumbuh kembang anak yang teratur sangat penting untuk mencegah Makanan pendamping ASI (MPASI) yang diberikan kepada anak-anak selama transisi kritis usia 6 hingga 23 bulan, saat kebutuhan energi dan mikronutrien meningkat, dapat meningkatkan risiko stunting secara signifikan jika MPASI tidak memenuhi standar gizi, diberikan dengan frekuensi yang tidak memadai, atau memiliki variasi bahan makanan yang Hasil pendampingan komunitas di Desa Sitiharjo menunjukkan bahwa mayoritas ibu belum memahami prinsip MPASI yang tepat sebelum intervensi, yang mengakibatkan pola makan anak yang monoton dan rendah protein hewani. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam menyiapkan MPASI bergizi dicapai melalui proses pendampingan yang dirancang berbasis Sosial Behavior Change Communication (SBCC), pelatihan gizi untuk kader, dan pemanfaatan sumber pangan lokal. Metode ini tidak hanya mengubah perilaku individu tetapi juga mengubah pranata sosial di tingkat komunitas. Hal ini termasuk pembentukan kelompok diskusi ibu, sistem pengawasan pertumbuhan berbasis posyandu, dan mekanisme bantuan keluarga. Menurut penelitian Jaki . SBCC berhasil meningkatkan literasi gizi dan memperkuat jaringan dukungan sosial untuk mencegah stunting. Perubahan ini juga mengingat konsep modal sosial yang dijelaskan dalam "Modeling Environmental Interactions" . , yang menyatakan bahwa jaringan sosial, norma bersama, dan hubungan kepercayaan saling bergantung pada cara perilaku kolektif Dengan berjalannya waktu, kesadaran baru tentang pentingnya MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ib. berkualitas tinggi mulai tertanam sebagai nilai bersama. Ini menandai transformasi sosial yang lebih luas, beralih dari praktik pemberian makan tradisional yang bergantung pada kebiasaan menjadi praktik yang bergantung pada bukti ilmiah dan ilmu Hal ini diperkuat oleh analisis literatur oleh Handayani dkk. yang menemukan bahwa partisipasi komunitas dalam program gizi dapat mengubah perspektif dan membangun sistem sosial baru yang lebih peka terhadap masalah kesehatan anak, serta dari hasil Febrianti & Sari . yang menunjukkan bahwa keberhasilan intervensi gizi dapat diukur dari Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. perubahan indikator kesehatan serta dari pembentukan standar dan peraturan lokal yang mendukung praktik sehat yang berkelanjutan. Peran orang tua dalam pencegahan stunting Ibu memegang peran paling penting dalam mencegah stunting: sejak masa kehamilan, sangat penting untuk menjaga gizi yang baik dan melakukan pemeriksaan antenatal rutin karena gizi ibu yang buruk terbukti meningkatkan risiko bayi dengan berat badan rendah. Hasil pengabdian masyarakat di berbagai tempat . eperti posyandu Melati IV Binon. menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berhasil meningkatkan pengetahuan ibu tentang stunting dan pentingnya gizi sederhana (Manurung. Florensa. Gultom. Manik. Hasibuan. Paula. , et al. Selama enam bulan pertama setelah kelahiran, pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk mendapatkan nutrisi lengkap dan memperkuat sistem kekebalan anak lewat antibodi dan antimikroba. Pengabdian masyarakat yang didasarkan pada ceramah dan pre-post test di Desa Sukajadi, misalnya, menunjukkan peningkatan pemahaman tentang ASI eksklusif sebagai cara untuk mencegah stunting (Dina, , et al. Pada akhirnya, program pengabdian yang menggunakan modul pendidikan interaktif dan penguatan peran ibu melalui media seperti penyuluhan interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu sebagai pengasuh utama. Studi di Universitas Esa Unggul menunjukkan bahwa praktik pemberian MPASI lebih tepat dan risiko stunting di komunitas telah dikurangi (Sari. Wulandari. Kartini. Dewi. , & Pamungkas. Gambar 3 : Antusiasme Ibu-Ibu dalam Mengikuti Sosisalisasi Selain itu, peran Ayah juga tidak boleh diabaikan. Dukungan Ayah baik secara emosional maupun praktis membantu Ibu merasa lebih percaya diri untuk menyusui, serta memperpanjang durasi ASI eksklusif (Suci Arsita Sari. Ibu yang mendapat dukungan Kawulo: Journal for Community Development Vol. 1 No. aktif dari pasangan cenderung menyusui lebih lamaj dan lebih banyak daripada ibu yang tidak (Tias Larasati dkk. Ibu memiliki lebih banyak waktu dan tenaga untuk fokus pada ASI dan memenuhi kebutuhan anak karena tanggung jawab rumah tangga dibagi dengan suaminya (Eleni Kenanga Purbasary. Terbukti bahwa keterlibatan ayah dalam membantu pekerjaan rumah, menemani ibu saat menyusui, memberi semangat, dan berpartisipasi dalam konseling laktasi meningkatkan kemungkinan keberhasilan ASI eksklusif (Aulia Rahmawati. Peran aktif ayah ini membantu memperkuat ikatan emosional keluarga dan menjaga kesehatan ibu dan bayi sebaik mungkin. DAFTAR PUSTAKA