Shihah, dkk / Tropical Animal Science 7. :153-159 Tropical Animal Science. November 2025, 7. : 153-159 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas POTENSI LIMBAH JERUK NIPIS FERMENTASI SEBAGAI FEED ADDITIVE UNGGAS THE POTENTIAL OF FERMENTED LIME WASTE AS A POULTRY FEED ADDITIVE Hanna Dzawish Shihah1*. Dwi Sunarti 1. Sri Sumarsih1. Aris Budi Prasetyo 2. Baluh Medyabrata Atmaja3, 1Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro. Semarang. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia 3Program Studi Teknologi Pakan Ternak. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Politeknik Negeri Tanah Laut. Tanah Laut. Indonesia *E-mail korespondensi: hannadz129@gmail. ABSTRAK Limbah jeruk nipis memiliki potensi sebagai feed additive bagi unggas, namun penggunaannya terhambat oleh kadar serat pektin yang tinggi sehingga dapat menurunkan performa unggas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi oleh Aspergillus niger terhadap kadar serat pektin dan nilai pH limbah jeruk nipis. Materi yang digunakan adalah tepung kulit jeruk nipis dan Kapang Aspergillus niger komersial. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 level starter A. niger yaitu 0%, 1%, 2% dam 3%. Setiap perlakuan diulang 5 kali. Proses fermentasi dilakukan secara aerob selama 5 hari pada suhu ruangan. Hasil penelitian menunjukkan fermentasi menggunakan A. nyata mempengaruhi peningkatan nilai pH tepung kulit jeruk nipis fermentasi (TKJNF) (P<0,. dan penurunan serat pektin TKJNF (P<0,. Kata Kunci: Pektin, pH. Limbah Kulit Jeruk Nipis ABSTRACT Fermented lime waste has potential as a feed additive for poultry, but its utilization is hindered by its high pectin fiber content, which can negatively impact poultry performance. This study aimed to evaluate the effect of Aspergillus niger fermentation on pectin fiber content and the pH value of lime The materials used were lime peel flour and a commercial Aspergillus niger mold. The study followed a completely randomized design (CRD) with four levels of A. niger starter: 0%, 1%, 2%, and Each treatment was replicated five times. The fermentation process was conducted under aerobic conditions for five days at room temperature. The results showed that fermentation with A. significantly increased the pH value of the fermented lime peel flour (P < 0. and decreased its pectin fiber content (P < 0. Keywords: Pectin, pH. Lime Peel Waste Shihah, dkk / Tropical Animal Science 7. :153-159 PENDAHULUAN Penggunaan antibiotik pada pakan unggas saat ini sudah dilarang karena meninggalkan residu dalam produk dan dapat membahayakan konsumen. Alternatif yang dapat dilakukan peternak dalam menjaga pemberian feed additive. Salah satu feed additive yang tidak berdampak residu dalam tubuh ternak maupun manusia adalah bersumber dari tanaman (Salam et al. , 2. Kulit jeruk nipis (Citrus aurantifoli. banyak dihasilkan industri minuman dan usaha rumah makan, namun pemanfatannya belum optimal. Kulit jeruk nipis masih mengandung asam sitrat yang dapat dijadikan acidifier pakan unggas. Hilmi et al. melaporkan buah jeruk nipis mengandung asam sitrat yang cukup tinggi yaitu 7,75%. Acidifier berfungsi menurunkan pH saluran pencernaan unggas. Penurunan pH saluran pencernaan unggas terutama terjadi pada bagian usus halus. Kondisi asam pada usus halus berdampak pada penurunan populasi bakteri patogen sehingga proses penyerapan nutrien dalam saluran pencernaan lebih baik (Puspasari et al. , 2. Pemanfaatan kulit jeruk nipis sebagai feed additive unggas terhambat oleh kandungan serat pakan berupa pektin yang cukup tinggi, sehingga manfaat asam sitrat dalam kulit jeruk nipis tidak dapat optimal. Kandungan pektin kulit jeruk Impoolsup et al. bahwa kandungan pektin . sam galakturona. kulit jeruk nipis mencapai 37,32A3,93% berat kering. Kermanshahi et al. melaporkan pemberian serat pektin 3% dalam ransum dapat menurunkan performa unggas. Upaya untuk mengurangi hambatan tersebut, serat pektin dalam kulit jeruk nipis perlu untuk dipecah agar lebih mudah dicerna dalam tubuh ternak. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji efektivitas pemecahan serat pektin limbah jeruk nipis. Serat pektin merupakan molekul komplek dalam dinding sel tanaman. Benoit et . menyatakan bahwa serat pektin dapat dipecah menjadi polimer pektik dan oligosakarida pektin. Wang et al. oligosakarida dapat meningkatkan performa ayam broiler. Pemberian pektin pada kadar yang cukup dapat meningkatkan kesehatan usus ayam broiler. Hasil penelitian Chatterjee et al. menyatakan bahwa karakteristik serat pektin tidak dapat dihidrolisis maupun diserap pada saluran pencernaan bagian Salah satu cara pemecahan serat pektin adalah menggunakan enzim pektinase. Amin et al. mengemukakan bahwa enzim pektinase dapat dihasilkan oleh beberapa mikroorganisme seperti fungi dan bakteri. Semakin tinggi produksi enzim pektinase, maka semakin tinggi proses degradasi serat Fermentasi menjadi salah satu teknologi pengolahan pakan yang dapat dibantu dengan fungi (Prasetyo et al. , 2. Tan dan Yin . juga melaporkan bahwa fermentasi dengan bantuan A. niger mampu mendegradasi serat kulit jeruk manis menjadi oligosakarida hingga lebih dari 40%. Perlakuan fermentasi dengan bantuan A. diharapkan dapat membantu degradasi serat pektin, serta mengoptimalkan pemanfaatan zat bioaktif berupa asam sitrat pada kulit jeruk MATERI DAN METODE Materi penelitian antara lain tepung kulit jeruk nipis, aquades, kapang Aspergillus niger komersial, alkohol 70%, sarung tangan, toples, autoklaf, nampan plastik, plastik wrap, plastik bening, gelas ukur 500 ml dan 25 ml, dan timbangan digital dengan ketelitian 0,01 g. Penelitian didesain RAL dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah T0: 50 g tepung kulit jeruk nipis tanpa fermentasi. T1: 50 g tepung kulit jeruk nipis difermentasi dengan 1% A. T2: 50 g tepung kulit jeruk nipis difermentasi Shihah, dkk / Tropical Animal Science 7. :153-159 dengan 2% A. T3 : 50 g tepung kulit jeruk nipis difermentasi dengan 3% A. Pengumpulan kulit jeruk nipis dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kemudian dibersihkan dan dicuci, serta dipotong kecil kecil. Kulit jeruk nipis kemudian diangin-anginkan selama 2 hari dan Penimbangan tepung kulit jeruk nipis untuk 20 wadah masing masing 50 gram, kemudian disterilisasi pada autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit pada tekanan 1 atm (Dwijoseputro, 1990. Amrullah et al. , 2. Tepung kulit jeruk nipis yang sudah steril dimasukkan pada nampan plastik kemudian ditaburi A. niger sesuai perlakuan. Kadar air tepung kulit jeruk nipis dikondisikan A65% melalui penambahan aquades. Substrat yang sudah diberi perlakuan diaduk dan dicampur secara merata kemudian ditutup dengan plastik wrap dan dilubangi dengan jarum. Proses fermentasi dilakukan pada suhu ruang selama lima hari. Selama masa fermentasi dilakukan pengecekan berkala. Tahap pengambilan data dilakukan setelah lima hari. Hasil fermentasi dikering udarakan kemudian sampel diambil masingmasing ulangan sebanyak A25 g untuk analisis kadar pektin dan pH. Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah pengukuran kadar pektin dengan cara penimbangan sampel 25gram kemudian menambahkan aquades dengan perbandingan 1:15, serta penambahan HCl 0,1 M hingga pH mencapai 3,5. Proses selanjutnya adalah pemanasan campuran pada suhu 60oC beserta pengadukan menggunakan stirer selama 30 menit, kemudian penyaringan campuran untuk mendapatkan filtrat. Proses berikutnya adalah pendinginan filtrat dan pengendapan pektin melalui penambahan etanol 95% dengan perbandingan 0,5:1,0 selama 6 jam. Pencucian endapan pektin menggunakan etanol 45% agar monosakarida dan disakarida terpisah. Proses berikutnya adalah pengeringan pektin dalam oven bersuhu 40oC selama 24 jam kemudian identifikasi hasil pektin (Lazim et al. , 2. Kadar Pektin dihitung dengan rumus: Kadar Pektin= Bobot Tepung Kulit Jeruk Nipis-Bobot Pektin y 100% Bobot Serbuk Kulit Jeruk Nipis setelah dihaluskan (Impoolsup et al. , 2020. Latupeirissa et al. , 2. Nilai pH diukur dengan pembuatan suspensi sampel konsentrasi 10%, kemudian sampel didiamkan kurang lebih selama 30 menit dalam suhu ruang. hingga terjadi Suspensi kemudian disentrifuge 3000 rpm selama 10 menit pada suhu 27oC. Langkah selanjutnya pemisahan Supernatan yang menggunakan pH meter digital ATC (Putri et , 2. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam Rancangan Acak Lengkap pada taraf ketelitian 5% dengan bantuan software SPSS 19. Jika data menunjukkan hasil yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji Duncan dan polinomial ortogonal (Steel dan Torrie, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Data nilai pH dan kadar pektin tepung kulit jeruk nipis fermentasi (TKJNF) tersaji pada Tabel 1. Berdasarkan hasil analisis ragam, nilai pH tepung kulit jeruk nipis fermentasi (TKJNF) mengalami peningkatan yang signifikan (P<0,. dibandingkan kontrol. Hasil menunjukan kurva quadratic dengan nilai pH substrat TKJNF optimum pada penggunaan starter Aspergillus niger kadar 2,13% dengan nilai pH berkisar 5,09 (Gambar . Nilai pH yang dihasilkan ini berlawanan dengan pendapat Sugiharto dan Ranjitkar . yang menyatakan bahwa proses fermentasi dapat menyebabkan penurunan nilai pH substrat. Ranjitkar et al. juga menyatakan bahwa penurunan nilai pH dari 5,5 hingga 4,2 terjadi pada jagung yang difermentasi dengan asam organik Shihah, dkk / Tropical Animal Science 7. :153-159 Tabel 1. Nilai pH dan pektin Tepung Limbah Kulit Jeruk Nipis Fermentasi niger (%) SEM P Value Parameter Nilai pH 3,45 4,93 4,86 4,90a 0,15 <0,01 Pektin (%w. 7,54 1,14 2,49 2,74b 0,56 <0,01 Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. Perubahan nilai pH yang terjadi saat fermentasi dipengaruhi oleh starter yang Karakteristik starter A. diduga hampir sama dengan Saccharomyces Pada proses fermentasi, nilai pH akan menurun namun akan meningkat setelah satu periode. Yumas dan Rosniati . menyatakan bahwa aktivitas S. cerevisiae pada hari ke 3 mengalami penurunan pH akibat merombak gula menjadi alkohol, kemudian perlahan nilai pH meningkat pada hari ke 5 Hasil penelitian Junaini et al. juga menunjukkan S. cerevisiae dan A. niger dapat tumbuh bersinergi dalam proses pemecahan pati dan glukosa. Aras Starter A. niger dan pH TKJNF y = -0,346x2 1,4733x 3,5232 RA = 0,867 Gambar 1. Kurva Quadratic aras strater A. niger dan pH TKJNF Mikroorganisme berupa Aspergillus niger mengonsumsi nutrien dan asam organik dalam kulit jeruk nipis untuk dapat tumbuh. Roukas . juga menyatakan bahwa A. dapat tumbuh optimal dalam rentang nilai pH Hasil penelitian lain oleh Selvi et al. juga melaporkan bahwa nilai pH substrat ampas tebu yang difermentasi dengan A. Aras A. niger dan Pektin TKJNF y = -1,4757x3 8,304x2 - 13,232x 7,54 RA = 0,9447 Gambar 2. Kurva Cubic aras strater A. dan pektin TKJNF Berdasarkan hasil analisis ragam, kadar pektin kulit jeruk nipis mengalami penurunan yang signifikan (P<0,. setelah difermentasi menggunakan A. niger (Tabel . Hasil menunjukan kurva cubic. Penggunaan starter niger optimum pada kadar 1,88% dalam menurunkan serat pektin tepung kulit jeruk nipis dengan kadar pektin sebesar 2,2%wb (Gambar . Proses fermentasi menggunakan A. niger menyebabkan serat pektin yang Mrudula dan Anithraj . menyatakan bahwa A. niger dikenal sebagai penghasil enzim pektinase. Enzim pektinase berperan dalam pemecahan ikatan glikosidik -1, 4-linkages pada ikatan rantai pektin. Level starter yang digunakan mempengaruhi penurunan serat pektin substrat yang Starter fermentasi seperti kapang membutuhkan nutrien yang cukup untuk Nutrien didapatkan dari media substrat yang digunakan. Pada penelitian ini, serat pektin perlakuan T1 dengan level 1% A. niger nyata (P<0,. paling rendah dibandingkan perlakuan lain. Hal ini Shihah, dkk / Tropical Animal Science 7. :153-159 diduga proporsi antara substrat dengan starter pada level 1% paling optimal mendukung pertumbuhan A. Pertumbuhan A. pada perlakuan T1 lebih optimal dibandingkan T2 dan T3, karena kompetisi A. niger untuk mendapatkan nutrien dalam substrat lebih rendah dibandingkan perlakuan T2 dan T3 yang menggunakan level starter A. niger lebih Pertumbuhan A. niger yang optimal pektinase yang dihasilkan. Salah satu nutrien dalam kulit jeruk nipis yang dimanfaatkan A. niger adalah pektin sebagai sumber karbon. Hal ini sesuai dengan pendapat Reginatto et al. yang menyatakan bahwa pektin menjadi sumber karbon yang bermanfaat dalam mendukung pertumbuhan kapang dan pembentukan enzim pektinase. Semakin optimal pertumbuhan A. niger, maka semakin optimal juga enzim pektinase yang dihasilkan. Hal ini menyebabakan proses degradasi serat pektin lebih optimal. Singh et al. sekelompok enzim yang mengkatalisis mendepolimerisasi serat pektin. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fermentasi dengan menggunakan starter Aspergillus niger mampu menurunkan kadar pektin dan meningkatkan nilai pH tepung kulit jeruk nipis. DAFTAR PUSTAKA