DAMPAK PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP BEBAN SUMBER PENCEMAR DI DANAU SENTANI DENGAN MODEL SISTEM DINAMIK BERWAWASAN LINGKUNGAN POPULATION GROWTH IMPACT TO POLLUTION LOAD IN SENTANI LAKE USING ENVIRONMENTAL BASED DYNAMIC SYSTEM MODEL Auldry F. Walukow Jurusan PFMIPA FKIP Universitas Cenderawasih. Jl. Camp Wolker Jayapura. Papua e-mail: auldrywalukow@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis erosi di daerah pengaliran sungai (DPS) Sentani dan mengaplikasi model sistem dinamik untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap beban sumber pencemar Danau Sentani. Metode yang digunakan adalah Universal Soil Loss Equation (USLE) untuk memprediksi erosi dari bidang tanah dan model sistem dinamik dengan menggunakan tool powersim 5d untuk memperoleh model pengelolaan Danau Sentani yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan model dinamik untuk pengelolaan dan perencanaan wilayah permukiman dan pertanian di sekitar Danau Sentani dapat membantu untuk mengetahui perkembangan sumber-sumber pencemar, erosi, dan batas waktu habisnya luas hutan, sehingga kebijakan strategis berkaitan dengan degradasi DPS Sentani dapat diantisipasi secara lebih dini. Selain itu, pertambahan penduduk merupakan faktor pengungkit . everage facto. terhadap peningkatan sumber pencemar, keterbatasan lahan hutan, erosi lahan permukiman, dan erosi lahan pertanian. Namun perlu juga dilakukan intervensi struktural terhadap luas lahan permukiman dan luas lahan pertanian. Model dinamik sumber pencemar merupakan bentuk Archetype Shifting the Burden. Kata kunci : sistem dinamik, pencemaran, limbah, erosi Abstract This research was aimed to analyze the erosion in the watershed . Sentani and to apply dynamic system model to analyze the effect of population growth on the source of pollutant loads in Sentani Lake. Universal Soil Loss Equation (USLE) method was used to estimate soil erosion from land and dynamic system model using powersim 2. 5D tools in order to obtain a model of sustainable Sentani Lake Results of this experiment showed that the dynamic model approach to the management and planning of settlements and agricultural areas around Sentani Lake might facilitate the solution of pollutant source, erosion, and deforestation problems and determination of strategic policy for coping with these problems In addition, population growth was a leverage factor to the increase of pollutant sources, the limitation of forest land, residential land erosion, and erosion of agricultural land. However, structural intervention to human settlements and agricultural land should also be performed. The dynamic model of pollutant sources was Archetype Shifting the Burden. Keywords: dynamic system, pollution, waste, erosion Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 PENDAHULUAN Wilayah Danau Sentani berada di dua wilayah administratif, yaitu Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Propinsi Papua. Danau ini memiliki luas 9630 Ha dengan ketinggian 75 m di atas permukaan laut. Danau tersebut merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat potensial jika dikelola dengan baik, di antaranya untuk sumber air bersih, perikanan, transportasi, irigasi, dan ekowisata. Potensi ini sangat menarik investor untuk menanamkan modal yang pada gilirannya akan dapat menaikkan pendapatan asli daerah. Namun danau yang diharapkan memberi nilai tambah ekonomi, sosial, dan ekologi ini telah terancam keberlanjutannya karena degradasi Permasalahan yang muncul di sekitar Danau Sentani adalah tingginya erosi dan pencemaran akibat limbah rumah tangga, peternakan, dan industri yang menyebabkan kualitas air Danau Sentani menjadi rendah untuk zatAezat tertentu. Misalnya, kadar tembaga dan seng, melampaui baku mutu menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82/2001 (Dinas Pekerjaan Umum, 2. Menurut Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai . , faktor utama penyebab banjir di daerah pengaliran sungai (DPS) Sentani adalah hilangnya sebagian besar vegetasi/hutan penutup lahan, akibat perladangan berpindah di bagian hulu sungai sehingga daya resapan air ke dalam tanah menjadi lebih Apabila tidak dilakukan upayaAeupaya serius dalam penanggulangan degradasi lingkungan maka dapat berdampak pada kerusakan kondisi lingkungan secara keseluruhan. Salah satu faktor penting yang mempercepat peningkatan sumber pencemar dan percepatan konversi lahan adalah pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk menyebabkan peningkatan luas lahan permukiman dan lahan Akhirnya menyebabkan penurunan luas hutan di DPS Sentani dan berdampak pada degradasi lingkungan Danau Sentani. Laju konversi lahan disebabkan oleh faktor aktivitas mata pencaharian, tekanan hak pemanfaatan hutan (HPK), sosial ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan. Hal ini sejalan dengan simpulan Neto et al. yang menyatakan bahwa pertambahan populasi dan perkembangan industri sejalan dengan meningkatnya pencemaran air dan degradasi Oleh sebab itu, peran serta masyarakat dalam bentuk kesadaran akan masalah lingkungan sangat dibutuhkan untuk mencegah degradasi lingkungan. Degradasi lingkungan di Danau Sentani harus ditanggulangi dengan pendekatan sistem yang kompleks karena adanya ke-terkaitan antara dengan penduduk dengan sejumlah faktor kebutuhan, seperti: per-mukiman, pendidikan, pekerjaan, pertanian, dan lingkungan. Begitu pula pencemaran Danau Sentani disebabkan oleh berbagai hal dan berlanjut secara terus menerus dalam fungsi waktu. Salah satu solusi untuk menangani sistem yang kompleks ini adalah melalui pendekatan model dinamik. Penelitian ini mempelajari pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap beban sumber pencemar di Danau Sentani dengan menggunakan metode model sistem dinamik guna memperoleh model pengelolaan Danau Sentani yang berkelanjutan. Berdasarkan pemikiran ini, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis erosi di DAS Sentani dan merekayasa model sistem dinamik untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap beban sumber pencemar Danau Sentani. METODA Memprediksi Erosi Menurut Arsyad . , model untuk memprediksi erosi dari bidang tanah menggunakan The Universal Soil Loss Equation (USLE). Persamaan USLE adalah sebagai berikut : A = R x K x L x S x C x P . Walukow. Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap Beban Sumber Pencemar kemiskinan, kesejahteraan, pendidikan, dan perilaku masyarakat. Meningkatnya angka kemiskinan mendorong masyarakat meningkatkan penebangan hutan secara liar, selain itu rendahnya pendidikan dan perilaku masyarakat akan meningkatkan perambahan hutan secara liar. Me-ningkatnya perambahan hutan akan meningkatkan erosi pendangkalan danau. Dimana : A = banyaknya tanah tererosi dalam ton/hektar/tahun R = faktor curah hujan dan aliran permukaan/erosivitas hujan K = faktor erodibilitas tanah L = faktor panjang lereng S = faktor kecuraman lereng C = faktor vegetasi penutup tanah dan pengolahan tanaman P = faktor teknik konservasi yang dipakai Meningkatnya pertumbuhan penduduk akan meningkatkan penggunaan lahan baik lahan Meningkatnya penggunaan lahan dapat menurunkan luas hutan. Peningka-tan jumlah penduduk berdampak pada pening-katan jumlah usaha, seperti ka-ramba jaring apung (KJA), peternakan, hotel, restoran, akan meningkatkan pendapatan. Sebaliknya, meningkatnya usaha dapat memperkecil daya dukung Danau Sentani, seperti digambarkan secara lengkap pada diagram sebab akibat . ausal loop diagra. pada Gambar 1. Berdasarkan persamaan USLE maka dilakukan overlay menggunakan software ArcView GIS 3. PetaAepeta dasar R. C, dan P dalam bentuk shapefile (SHP) dilakukan overlay untuk memprediksi erosi. Diagram Sebab Akibat Model Dinamik Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Pencemaran Variabel yang berpengaruh adalah penduduk yang disebut sebagai faktor pengungkit. Bertambahnya jumlah penduduk maka akan meningkatkan faktor sosial ekonomi seperti Kualitas Daya Erosi Beban Pencemaran Kesehatan Total Sumber Luas hutan Limbah Jumlah Jumlah KJA Pemanfaat an lahan Populasi Penduduk Gambar 1. Diagram Sebab Akibat Model Dinamik Pengaruh Pertumbuhan Penduduk terhadap Pencemaran. Uji Validasi dan Sensivitasi Model TahapAetahap uji validasi yang dilakukan adalah uji validasi kinerja dan uji sensitivitas. Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 Uji validasi kinerja Uji validasi kinerja yang digunakan adalah Statistik Absolute Mean Eror (AME) dan Absolute Variation Eror (AVE). Nilai batas penyimpangan yang dapat diterima adalah 5Ae Selain itu digunakan pula uji Kalman Filter (KF), dengan tingkat fitting . yang dapat diterima 47,552,5% (Barlas 1996 dalam Kholil, 2. Uji lainnya adalah uji Durbin Watson (DW), yaitu tajam sekali DW>2 dan kurang tajam DW<2 . Uji Sensitivitas Uji sensitivitas meliputi uji intervensi fungsional dan intervensi struktural. Intervensi fungsional, yakni dengan memberikan fungsiAefungsi khusus terhadap model (Davidesen, 1994 dalam Kholil, 2. Sedangkan intervensi struktural, yakni dengan mempengaruhi hubungan antar unsur atau struktur model dengan cara mengubah struktur modelnya. merupakan penyumbang terbesar erosi di DAS Sentani. Analisis Kebijakan Dua tahap analisis kebijakan yang digunakan yaitu, pengembangan kebijakan alternatif dan analisis kebijakan alternatif (Muhamadi. Pemodelan diartikan sebagai suatu gugus pembuatan model yang akan menggambarkan sistem yang dikaji (Eriyatno, 1. Pemodelan menggunakan bantuan software program Powersim versi 2. 5 d. Model Dinamik Model dinamik yang dirancang meliputi: submodel dinamik sumber pencemar dan submodel dinamik penduduk sekitar Danau Sentani. Simulasi dilakukan selama periode waktu 30 tahun dimulai 2002-2032, skenario modelnya adalah : Kebijakan penurunan fraksi pertambahan jumlah penduduk dan dampaknya pada penurunan jumlah limbah yaitu limbah KJA, ternak babi dan sapi, tinja manusia, dan sampah, serta berpengaruh pada penurunan erosi permukiman serta erosi pertanian dan total sumber pencemar. Kebijakan penurunan jumlah KJA, luas permukiman, luas pertanian, jum-lah sapi, dan jumlah babi serta dampaknya terhadap penurunan jumlah limbah dan erosi. HASIL DAN PEMBAHASAN Erosi Pola penutupan vegetasi dan penggunaan lahan di wilayah DAS Sentani meliputi hutan, rawa, lahan kritis, semak belukar, kebun campuran, permu-kiman. Berdasarkan persamaan USLE diperoleh erosi lahan permukiman sebesar 99795 ton/tahun dan erosi lahan pertanian sebesar 1399444 ton/tahun pada Erosi di DAS Sentani cenderung meningkat setiap tahun. Hal ini disebab-kan oleh penebangan hutan ilegal, perkebunan, perladangan . , sistem usaha tani yang masih sederhana, pengolahan lahan yang tidak memperhatikan teknik konservasi yang tepat, dan berbagai kegiatan pembangunan lainnya (BPDAS, 2. Eksploitasi hutan dan pembukaan lahan untuk perkebunan . Model Sumber Pencemar Model sumber Pencemar tersusun oleh beberapa sub-sub model limbah, yaitu: sub-sub model KJA, limbah peternakan sapi, limbah peternakan babi, erosi lahan pertanian, erosi lahan permukiman, limbah tinja pemukiman danau, dan sub model sampah. Ketujuh sub model tersebut dibuat secara parsial berdasarkan persamaan yang sesuai dengan masing-masing submodel, kemudian diintegrasikan menjadi satu model sumber pencemaran perairan di Danau Sentani. Penggabungan ketujuh submodel tersebut merupakan gambaran total sumber pencemaran yang masuk ke perairan Danau Sentani dalam hubungannya sebagai penyumbang terhadap beban pencemar danau. Walukow. Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap Beban Sumber Pencemar Model dinamik sumber pencemar Danau Sentani ditunjukkan pada Gambar 6. Model dinamik sumber pencemar dari luar dan dalam Danau Sentani dibangun berdasarkan persamaan 5, 6, 7, 8, dan 9. Sedangkan, hasil pengujian validasi kinerja pada sub model sumber pencemar untuk variabel total sumber pencemar dengan menggunakan rumus AME. AVE. KF dan DW diperoleh nilai masingAemasing 0,067 . ,7%), 0,047 . ,7%), 0,476 . ,6%), dan 0,0304, dengan demikian nilai-nilai AME dan AVE tersebut berada pada batas . -10%) dan 47,552,5% untuk KF serta DW<2 menunjukkan pola fluktuasi kurang tajam. Validitas Kinerja (Output Mode. Validasi kinerja model merupakan pengujian sejauh mana kinerja model yang dibangun . utput mode. sesuai dengan kinerja sistem nyata, sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta atau diterima secara Validasi kinerja terhadap sub model sumber pencemar untuk variabel jumlah penduduk dengan menggunakan rumus AME. AVE. KF, dan DW diperoleh nilai masingAe masing 0,0101 . ,01%). 0,082 . ,2%). 0,457 ,7%). dan 0,000329, dengan demikian nilaiAe nilai AME dan AVE tersebut berada pada batas . -10%) dan 47,5-52,5% untuk KF serta DW<2 menunjukkan pola fluktuasi kurang tajam. Verifikasi Model Verifikasi model dilakukan untuk mengetahui perilaku sistem model, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan untuk melakukan langkah-langkah strategis berkaitan dengan pengelolaan Danau Sentani. Berdasarkan hasil simulasi (Gambar 5, 6, . , meningkatnya jumlah penduduk diikuti oleh peningkatan luas penggunaan lahan, erosi, dan jumlah limbah. TSP = LKJA LSH LTM LPM LPT LSI LB . d (TSP) A AC . ) . t An TSP A A E C . )dt . t A 2002 TSP A t An t An t An t An t An t An t An t A 2002 t A 2002 t A 2002 t A 2002 t A 2002 t A 2002 t A 2002 E C1. )dt A E C 2. )dt A E C3. )dt A E C 4. )dt A E C5. )dt A E C 6. )dt A E C 7. )dt . Dalam model dinamik sederhana persamaan 8 ditulis menjadi : TSP = (JLKJA * fk. (JLSH * fk. (JLTM * fk. (JLPM* fk. (JLPT * fk. (JLSI * fk. (JLB * fk. Keterangan : TSP = Total sumber pencemar. LSH = Limbah Sampah. LPM = Limbah permukiman. LSI = Limbah tinja sapi. C . = total sumber pencemar per tahun LKJA = Limbah Karamba jaring apung LTM = Limbah tinja manusia LPT = Limbah pertanian = Limbah tinja babi Hasil simulasi terhadap submodel dinamik sumber pencemar memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah penduduk diikuti oleh peningkatan total beban sumber sampah 68 Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 dan erosi secara eksponensial. Penelitian ini memperkuat simpulan Mustafa et al. dan Dahuri . yang menyatakan bahwa faktor sumber pencemar perairan adalah limbah domestik perkotaan, limbah cair perkotaan, limbah cair permukiman, pertambangan, limbah industri, limbah pertanian, limbah perikanan budidaya, dan air limbah Dalam simulasi selama 30 tahun sejak 2002Ae 2032, terlihat bahwa bila tidak ada intervensi kebijakan misalnya dengan pembatasan pertambahan penduduk, maka hasil simulasi menunjukkan terjadi pertumbuhan yang pesat selama periode tersebut. Apabila tidak ada upaya penurunan jumlah penduduk, maka pertambahan penduduk yang terus meningkat tersebut akan menyebabkan kondisi overshoot yang merugikan bagi kehidupan manusia. Peningkatan jumlah penduduk akhirnya menemui masalah dalam penanganan limbah dan Hal ini memberikan petunjuk bahwa permasalahan limbah dan erosi memiliki bentuk struktur Archetype Tragedy of the Commons. Artinya, ada banyak banyak pelaku yang berlomba tapi akhirnya menemui masalah. Fraksi pertumbuhan jumlah penduduk selama ini adalah 3,27%. Penurunan fraksi pertumbuhan jumlah penduduk dari 3,27% menjadi 2% meskipun memberikan pengaruh penurunan yang nyata terhadap level . dan laju . , namun tidak mengubah perilaku pola pertumbuhan penduduk (Gambar . Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan penurunan fraksi pertumbuhan jumlah penduduk ternyata dapat menurunkan jumlah pendu-duk dari 114. 752 jiwa menjadi 79. jiwa pada tahun 2032. Analisis kecenderungan sistem ditujukan untuk mengeksplorasi perilaku sistem dalam jangka panjang ke depan, melalui simulasi Perilaku simulasi ditetapkan selama 30 tahun, yakni dimulai tahun 2002 sampai Dalam kurun waktu simulasi tersebut, diungkapkan per-kembangan yang mungkin terjadi pada peubah-peubah yang Peubah-peubah model yang akan disimulasikan adalah jumlah limbah KJA, limbah tinja sapi, limbah tinja babi, erosi pertanian, erosi permukiman, limbah tinja pemukim danau dan sampah. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa jumlah penduduk di sekitar perairan danau terus meningkat dari 43. 766 jiwa pada awal si-mulasi menjadi 114. 752 jiwa pada akhir tahun simulasi. Pola peningkatan jumlah penduduk diikuti pula oleh jumlah limbah yang dihasilkan. Pada awal simulasi jumlah limbah sampah 39. 936,48 ton/tahun meningkat menjadi 104. 711,41 ton/tahun. Jumlah limbah KJA pada awal simulasi 72,85 ton meningkat menjadi 1. 682,54 ton pada akhir simulasi. Jumlah limbah ternak sapi pada awal simulasi 9. 449,08 ton meningkat menjadi 1. 850,32 ton. Jumlah limbah tinja penduduk pada awal simulasi 432,29 ton meningkat menjadi 484,95 Erosi meningkat dari 9. 506,26 ton menjadi 25419,89 ton. Erosi pertanian meningkat dari 63462,01 ton menjadi 12. Limbah babi meningkat dari 4150,28 ton menjadi 297. 930,25 ton. Total luas permukiman dan luas pertanian meningkat dari 4. 622,21 ha menjadi 393,48 Ha pada tahun 2032. Luas hutan pada awal simulasi adalah 65. Selisih antara total luas permukiman dan pertanian . 393,48 h. dengan luas hutan akhir simulasi adalah 21528,48 ha. Kondisi penduduk telah menggunakan lahan di luar DPS Sentani untuk permukiman dan pertanian atau sebagian telah menempati Danau Sentani sebagai tempat permukiman sekaligus menjadi nelayan atau pembudidaya KJA (Gambar . Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 Gambar 2. Pertumbuhan Jumlah Penduduk Berdasarkan Perbedaan Laju Pertambahan Penduduk Luas_Pm_ Plus_Pt 393,48 Tahun Gambar 3. Perkembangan Luas Hutan di DAS Sentani Kondisi ini semakin memperburuk kualitas air Danau Sentani karena meningkatnya lim- bah KJA dan limbah tinja manusia. Dalam Sentani pemanfaatan lahan untuk permukiman dan pertanian akhirnya menemui masalah limbah dan menipisnya 70 Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 keterbatasan ketersediaan lahan (Gambar . Hal ini memberikan petunjuk bahwa pemanfaatan lahan memiliki bentuk struktur Archetype Limit to Success dan Tragedy of the Commons (Kim dan Anderson,1. Analisis Kebijakan Analisis kebijakan adalah pengetahuan tentang cara-cara yang strategis mempengaruhi sistem untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Muhamadi, 2. Analisis kebi-jakan ini dilakukan dengan melakukan inter-vensi Pertama-tama dilakukan intervensi fungsional terhadap parameter penduduk yaitu pertambahan jumlah penduduk dari 3,27 % menjadi 2 %. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penuru-nan fraksi pertumbuhan jumlah penduduk dapat menurunkan jumlah sampah 711,41 ton menjadi 72. 3 39,40 ton pada tahun 2032. Penelitian ini memperkuat simpulan Kholil . , bahwa penurunan produksi sampah akan dapat berhasil secara efektif bila kebijakan yang pertumbuhan penduduk. Secara teknis penurunan fraksi pertambahan jumlah penduduk dapat ditempuh melalui beberapa kebijakan misalnya pembatasan usia nikah, dan sosialisasi program KB secara besarbesaran. Pertambahan penduduk meru-pakan faktor pengungkit . everage facto. Hal ini memperkuat simpulan Neto et al. pertambahan populasi dan perkem-bangan industri sejalan dengan me-ningkatnya pencemaran air dan degradasi lingkungan. Pandangan pesimis digagas oleh Thomas Malthus dengan teorinya yang terkenal, yaitu bahwa jumlah penduduk dunia akan meningkat menurut deret ukur, sedangkan persediaan makanan hanya meningkat menurut deret hitung (Elizabeth 2008 dan Soerjani et al, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pertambahan jumlah penduduk meningkat secara cepat dibanding kebutuhan pangan. Oleh sebab itu perlu dilakukan intervensi fungsional. Kebijakan penurunan fraksi pertambahan jumlah penduduk berdampak pada perlamba-tan habisnya ketersediaan lahan hutan, sehi-ngga pada tahun 2032 lahan hutan masih tersisa 11. 303,23 Ha. Apabila tanpa intervensi fungsional maka luas hutan akan habis . pada akhir simulasi tersebut (Gambar . Jika luas hutan dan permukiman dijumlahkan, maka pertambahan jumlah penduduk berdampak pada penurunan total luas permukiman dan pertanian. Pada akhir simulasi total per-tanian berkurang dari 87. 393,48 Ha menjadi 375,38 Ha (Gambar 4 dan . Dampak dari kebijakan penurunan fraksi pertambahan jumlah penduduk adalah terjadi penurunan luas lahan terpakai, baik lahan permukiman maupun lahan pertanian dan akhirnya berpengaruh pada penurunan erosi permukiman serta erosi Pada akhir simulasi luas permukiman berkurang dari 73. 171,75 Ha 550,37 Ha dan luas lahan pertanian yang terpakai berkurang dari 221,73 Ha menjadi 9. 825,01 Ha. Pada berkurang dari 1,27241e10 ton menjadi 8,790366e9 ton dan erosi pertanian berkurang dari 1,85498e12 ton menjadi 1,2815e12 ton. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebijakan penurunan fraksi pertambahan jumlah pendu-duk ternyata berdampak pada penurunan jum-lah limbah KJA, limbah ternak babi, limbah ternak sapi, limbah feses manusia, sampah, serta berpengaruh pada penurunan erosi permukiman dan pertanian. Demikian pula jum-lah limbah KJA berkurang dari 592,77 ton menjadi 487,08 ton, limbah babi berkurang dari 297. 930,25 ton 823,75 ton, limbah ternak sapi berkurang dari 1. 850 ton menjadi Walukow. Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap Beban Sumber Pencemar 750,52 ton, limbah tinja penduduk berkurang dari 4. 903,21 ton menjadi 429,67 ton, jumlah sampah berkurang 711,41 ton menjadi 72. 3 39,40 ton, serta erosi permukiman berkurang dari 1,27241e10 ton menjadi 8,790366e9 ton dan erosi pertanian berkurang dari 1,85498e12 ton menjadi 1,2815e12 ton pada akhir simulasi. Total sumber pencemar adalah penjumlahan dari jumlah masing-masing limbah dan erosi. Pada akhir simulasi total sumber pencemar berkurang dari 1,8677e12 ha menjadi 1,29029e12 Ha (Gambar . Luas hutan Luas hutan Gambar 4. Penurunan Luas Hutan Berdasarkan Perbedaan Laju Pertambahan Penduduk Luas Pm plus Pt Luas hutan Luas hutan 1 Luas Pm plus Pt 1 Tahun 72 Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 Gambar 5. Penurunan Total Luas Hutan dan Permukiman Berdasarkan Perbedaan Laju Pertambahan Penduduk. TBS Pencemar 2 TBS Pencemar 3 Gambar 6. Kenaikan Total Sumber Pencemar Berdasarkan Intervensi Laju Pertambahan Penduduk Secara bersama-sama perlu juga dilakukan kebijakan intervensi dalam bentuk intervensi struktural terhadap jumlah jumlah KJA, luas permukiman, luas pertanian, jumlah sapi, dan jumlah babi. Untuk menekan berkurangnya jumlah sampah maka perlu diadakan sosialisasi guna meningkatkan partisipasi masyarakat. Sedangkan untuk menekan pertambahan pemukim danau maka perlu penegakan regulasi berkaitan dengan permukiman di sempadan dan di sekitar danau. Intervensi struktural dilakukan dengan menggunakan fungsi STEP, yaitu dengan cara menurunkan jumlah KJA, luas permukiman, luas pertanian, jumlah sapi, dan jumlah babi masingAe masing sebesar 10 %. Hasil simulasi model setelah dilakukan intervensi struktural menunjukkan total sumber pencemar berkurang dari 1,29029e12 ton menjadi 1,16126e12 ton pada akhir simulasi. Upaya pemecahan masalah tanpa diduga memiliki dampak buruk terhadap sektor lain, seperti intervensi menurunkan jumlah KJA, luas pertanian, jumlah sapi, dan jumlah babi dapat berdampak buruk terhadap penghidupan atau ekonomi penduduk, hal ini memberikan petunjuk bahwa upaya pemecahan masalah melalui intervensi STEP tersebut mengikuti bentuk struktur Archetype Shifting the Burden (Kim et al. Perbandingan hasil simulasi model antara tanpa intervensi, intervensi fungsional . enurunkan fraksi pertambahan penduduk 2%), dan intervensi struktural . enurunkan sumber pencemar 10%) masing-masing adalah : 1,8677e12 ton, 1,29029e12 ton dan 1,16126e12 ton (Gambar Ternyata intervensi struktural tidak berpengaruh nyata dalam menurunkan total sumber pencemar, hal ini berarti juga tidak berpengaruh nyata terhadap beban pencemaran dan kapasitas asimilasi. Hasil simulasi model setelah dilakukan intervensi struktural melalui fungsi STEP dengan cara menurunkan luas permukiman dan luas pertanian sebesar 10 % yang dimulai pada tahun 2009, ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap waktu habisnya luas hutan . Jika tanpa intervensi ternyata luas hutan habis terpakai pada tahun 2032, dengan intevensi fungsional menurunkan fraksi pertumbuhan penduduk 10 % maka luas hutan habis terpakai pada tahun 2034, dan dengan intervensi struktural menurunkan luas permukiman dan pertanian 10 % ternyata luas hutan habis pada Jika dibandingkan hasil simulasi antara tanpa intervensi, intervensi fungsional Walukow. Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap Beban Sumber Pencemar dan intervensi struktural maka sisa luas hutan pada tahun 2032 berturutAeturut sisanya adalah 0 Ha, 11. 303,23 Ha, dan 20. 277,11 Ha. Seiring dengan penurunan total luas permukiman dan pertanian maka mengakibatkan menurunnya luas hutan (Gambar . TBS Pencemar 2 TBS Pencemar 3 TBS Pencemar 4 Gambar 7. Kenaikan Total Sumber Pencemar Berdasarkan Intervensi Fungsional dan Struktural Luas Pm plus Pt Luas hutan Luas Pm plus Pt 1 Luas Pm plus Pt 2 Luas hutan 1 Luas hutan 2 Gambar 8. Hubungan Penurunan Total Luas Permukiman dan Pertanian terhadap Luas Hutan Berdasarkan Intervensi dan Tanpa Intervensi KESIMPULAN Pendekatan model dinamik untuk pengelolaan dan perencanaan wilayah permukiman dan pertanian di sekitar Danau Sentani dapat membantu untuk mengetahui perkembangan sumber-sumber pencemar, erosi, dan batas waktu habisnya luas hutan, sehingga kebijakan strategis berkaitan dengan degra-dasi DAS Sentani diantisipasi secara lebih dini. Submodel pencemar dapat digunakan sebagai 74 Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 63-74 alternatif dalam penanganan sampah, erosi lahan per-mukiman, dan erosi Pertumbuhan penduduk merupakan faktor pengungkit . everage facto. terhadap pening-katan sumber pencemar, keterbatasan lahan hutan, erosi lahan permukiman, dan erosi lahan pertanian. Upaya pengurangan total sumber pencemar yang lebih besar adalah melalui intervensi fungsional dengan Namun secara bersama-sama perlu juga dilakukan intervensi struktural terhadap luas lahan permukiman, dan luas lahan Model dinamik sumber pencemar merupakan bentuk Archetype Shifting the Burden. DAFTAR PUSTAKA