Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021, 43-52 available: http://journal. com/index. php/jpe Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Naskah Drama dengan Menggunakan Media Boneka (Stick Wayang Oran. Etik Yulianti SMPN 11 Surakarta etik_yulianti@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama melalui penggunaan media boneka . tick wayang oran. pada siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta semester 1 tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMPN 11 Surakarta pada semester I1 tahun pelajaran 2013/ 2014 selama 6 bulan. Subyek penelitian adalah 32 siswa kelas ViB SMPN 11 Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus melalui 4 tahapan yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, . Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media boneka . tick wayang oran. dapat meningkatkan keterampilan menulis naskah drama pada siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta semester 1 tahun pelajaran 2013/2014. Kata Kunci: Keterampilan menulis. Drama. Media boneka . tick wayang oran. Efforts to Improve Drama Script Writing Skills Using Puppet Media (Wayang Orang Stic. Abstract This study aims to improve the skills of writing drama scripts through the use of puppet media . ayang orang stic. in class Vi E SMP Negeri 11 Surakarta semester 1 of the 2013/2014 academic year. This classroom action research was conducted at SMPN 11 Surakarta in the first semester of the 2013/2014 academic year for 6 months. The research subjects were 32 students of class ViB SMPN 11 Surakarta. The method used in this research is a classroom action research method which is carried out in 3 cycles through 4 stages, namely . planning, . implementation, . observation, . In the implementation of classroom action research using observation sheets. Data analysis used comparative descriptive analysis The results showed that the use of puppet media . ayang orang stic. can improve the skills of writing drama scripts in class Vi E students of SMP Negeri 11 Surakarta in semester 1 of the 2013/2014 academic year. Keywords: Writing skills. Drama. Puppet media . ayang orang stic. -------------------------------Pendahuluan Keterampilan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung (Tarigan, 2. Pembelajaran menulis naskah drama memang tidak bisa dielakkan begitu saja. Standar isi menuntut siswa tidak hanya memahami atau membaca, tetapi siswa dituntut untuk memproduksi atau mencipta naskah drama. Selama ini asumsi menulis naskah drama dimata sebagian siswa merupakan sebuah pelajaran yang sulit dibanding dengan bentuk karya sastra yang lain. Asumsi tersebut memang benar karena menulis naskah drama membutuhkan proses kreatif dan keterampilan menulis untuk dapat merangsang penonton maupun pemain. Hal tersebut membutuhkan proses kreatif dan membutuhkan ide cerita yang bagus jika naskah Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 drama tersebut dipersiapkan untuk pementasan. Akan tetapi, dalam penulisannya lebih ditekankan pada aspek kebahasaannya. Pengajaran sastra, khususnya standar kompetensi menulis naskah drama terdapat dalam silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kelas Vi E semester gasal. Selain itu, pembelajaran menulis naskah drama pada siswa kelas Vi E merupakan suatu pengenalan awal terhadap keterampilan menulis naskah drama sehingga perlu adanya strategi yang sesuai agar kemampuan bersastra dapat terasah dengan baik. Dengan kompetensi dasar Aumenulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah dramaAy, maka siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta diharapkan dapat menguasai kemampuan menulis naskah drama secara formal sesuai dengan kompetensi dasar yang hendak dicapai. Berdasarkan prasurvei, siswa Vi E SMP Negeri 11 Surakarta merupakan kelas yang memiliki nilai menulis rendah. Hal ini didasarkan pada nilai yang diperoleh siswa dari hasil tes menulis yang dilakukan oleh guru sebelumnya. Pemberian nilai dilakukan dengan cara menugasi siswa membuat sebuah naskah drama kemudian guru menilai hasil tulisan siswa tersebut. Selain itu, partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran juga menjadi acuan dalam penilaian kemampuan menulis tersebut. Selanjutnya perilaku siswa menunjukkan bahwa keterampilan menulis mereka rendah. Hal tersebut terlihat saat guru memberi tugas menulis naskah drama. Banyak diantara mereka yang mengeluh dan tidak menginginkan tugas tersebut. Melihat fakta di atas, selama pembelajaran menulis naskah drama di sekolah belum sepenuhnya optimal. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor dan hambatan dalam pembelajaran sastra di sekolah. Oleh karena itu, perlu adanya pemecahan masalah dari terhambatnya pembelajaran menulis naskah drama di sekolah agar tujuan dan manfaat pembelajaran sastra tercapai. Salah satu media yang dipilih untuk menunjang prestasi belajar menulis naskah drama adalah menggunakan media boneka. Media boneka . tick wayang oran. dipilih oleh peneliti sebagai sarana pembelajaran agar siswa mudah dalam menulis naskah drama sesuai dengan boneka . tick wayang oran. yang dibuat oleh siswa sendiri. Seorang siswa dalam menulis naskah drama akan kesulitan dalam mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, karena siswa hanya mengangan-angan kata-kata dalam naskah drama tersebut tanpa langsung dituliskan sehingga ide untuk membuat naskah drama tersebut akan mudah hilang. Berdasarkan berbagai masalah yang telah diungkapkan di awal, maka penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang peningkatan keterampilan menulis naskah drama dengan menggunakan media boneka . tick wayang oran. siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta. Kajian Pustaka Keterampilan Menulis Keterampilan menulis adalah keterampilan yang bersifat ekspresif, maka materi yang disajikan harus tepat sasaran agar tujuan dari pembelajaran materi menulis bisa tercapai. Beberapa perilaku yang harus terkandung dalam materi menulis seperti berpikir, menyusun, memproduksi, menciptakan, menerapkaan, merancang, membuat sintesis, dan sebagainya (Sunarti dan Subana, 2. Iskandarwassid dan Sunendar . menyatakan keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling tinggi tingkat kesulitannya bagi pembelajar dibandingkan dengan ketiga keterampilan lainnya . eterampilan menyimak, membaca, dan berbicar. Wicaksono . mengungkapkan bahwa cara menilai kemampuan menulis adalah melalui jalan tes. Namun, ditegaskan olehnya bahwa penilaian yang dilakukan terhadap Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 karangan siswa biasanya bersifat holistik, impresif, dan selintas. yaitu penilaian yang bersifat menyeluruh berdasarkan kesan yang diperoleh dari membaca karangan siswa secara selintas. Selain penilaian yang bersifat holistik, diperlukan pula penilaian secara analitis agar guru dalam memberikan nilai secara lebih objektif dan dapat memperoleh informasi lebih rinci tentang kemampuan siswanya. Penilaian dengan pendekatan analitis merinci tulisan dalam kategori tertentu. Pengkategorian itu sangatlah bervariasi, bergantung pada jenis tulisan itu sendiri. Namun, pada pokoknya pengkategorian hendaknya meliputi: . Kualitas dan ruang lingkup isi, . Organisasi dan penyajian isi, . Gaya dan bentuk bahasa, . Mekanik: tata bahasa, ejaan, tanda baca, keterampilan tulisan, dan kebersihan, dan . Respon afektif guru terhadap karya tulis. Drama Drama berasal dari bahasa Yunani Au DraomaiAy yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan, beraksi, atau action (Lutters. Dalam kehidupan sekarang, drama mengandung arti yang lebih luas ditinjau apakah drama sebagai salah satu genre sastra atau drama sebagai sebuah kesenian yang Naskah drama merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa, sedangkan pementasan drama adalah salah satu jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis . ekorasi dan panggun. , seni kostum, seni rias, seni tari, dan lain sebagainya. Jika kita membicarkan pementasan drama, maka kita dapat mengarahkan ingatan pada wayang, ludruk, ketoprak, lenong, dan film. Setiap karya sastra terdiri dari unsur-unsur yang membentuk suatu susunan atau struktur sehingga menjadi wujud yang bulat dan utuh. Unsur-unsur karya sastra bersifat umum dan khusus. Artinya, karya sastra mempunyai unsur yang khas tetapi juga mempunyai unsur-unsur yang sama dengan jenis karya sastra yang lain. Unsur yang membangun drama juga mempunyai kesamaan dengan unsur jenis karya sastra lainnya. Akan tetapi, drama memiliki unsur yang khas, yaitu adanya dialog dan gerak . Menurut Nurgiyantoro . drama memiliki unsur-unsur antara lain plot atau alur . erangka cerit. , penokohan dan perwatakan, dialog . , latar atau setting . empat kejadia. , tema atau nada dasar cerita, amanat atau pesan pengarang, dan petunjuk teknis. Media Boneka . tick wayang oran. Media boneka merupakan salah satu model perbandingan berupa benda tiruan dari bentuk manusia dan atau binatang (Daryanto, 2. Media tiruan sering disebut sebagai Belajar melalui model dilakukan untuk pokok bahasan tertentu yang tidak mungkin dapat dilakukan melalui pengalaman langsung atau melalui benda sebenarnya (Iriani & Ramadhan, 2. Media pembelajaran boneka . tick wayang oran. merupakan media yang dibuat dari bahan daur ulang. Gambar orang diambil dari potongan dari koran dan majalah bekas. Gambar dicari yang menarik perhatian siswa. Minimal terdapat 2 sosok gambar manusia untuk memudahkan dalam penyusunan naskah dialog dalam wayang orang. Gambar dari potongan tersebut dilekatkan pada kertas yang agak tebal sehingga bisa tegak berdiri ketika dilekatkan pada sebuah stik es krim. Metode Penelitian PTK ini dilaksanakan di SMP Negeri 11 Surakarta. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2013/ 2014 yaitu mulai bulan Juli sampai dengan bulan Desember 2013. Penelitian terdiri dari dua siklus. Subjek penelitian ini adalah 23 siswa kelas Vi E. Pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi dan dokumentasi. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis diskriptif Ae komparatif yang dilanjutkan refleksi. Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah meningkatnya keterampilan menulis pada siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta menggunakan media boneka . tick wayang oran. sebesar 60% - 70% atau 70% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar telah mencapai taraf keberhasilan Hasil Penelitian Pra Siklus Sebelum diterapkan tindakan untuk meningkatkan keterampilan menulis naskah drama melalui media boneka . tick wayang oran. , peneliti terlebih dahulu mengadakan Kegiatan tersebut dilakukan agar peneliti dapat mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis naskah drama. Dalam penelitian tindakan kelas ini, yang bertindak sebagai pengajar adalah guru Bahasa Indonesia. Tugas yang diberikan kepada siswa berupa menulis naskah drama dengan tema bebas. Siswa diberi kebebasan untuk menulis naskah drama dengan tema bebas dimaksudkan agar siswa lebih mudah mendapatkan ide dan tidak terbelenggu dengan satu tema saja. Prasiklus penelitian ini dilakukan satu kali pertemuan, yaitu pada hari Selasa, 24 September 2013. Dalam prasiklus ini, siswa menulis naskah drama tanpa menggunakan media baru, tetapi guru menyampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah seperti Pembelajaran selama prasiklus berlangsung kurang lancar. Masih banyak siswa yang kesulitan dalam penulisan naskah drama dan kondisi kelas yang ramai saat guru menyampaikan materi pelajaran. Kondisi seperti itu mengakibatkan sebagian besar siswa kurang konsentrasi dalam penulisan naskah drama. Untuk skor atau nilai kemampuan penulisan naskah drama pada prasiklus masih tergolong rendah. Dalam pertemuan prasiklus atau pratindakan ini, pelaksanaan penulisan naskah drama tanpa menggunakan media baru. Pada tes awal atau prasiklus ini, kegiatan penulisan naskah drama masih belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes, bahwa hasil penulisan naskah drama siswa masih di bawah standar penilaian yang dibuat. Tabel 1. Hasil Skor Penulisan Naskah Drama Siswa Pra Siklus Keterangan Aspek Jumlah Rata-Rata Keterangan: A : Dialog B : Tokoh dan Perwatakan C : Latar/Setting. Teks Samping. Nada dan Suasana D : Plot/ Alur atau Jalan Cerita E : Amanat atau Pesan Jumlah Skor/ Nilai Berdasarkan tabel di atas, hasil penilaian keterampilan menulis naskah drama siswa VII E memperoleh nilai 5,53. Berdasarkan data awal sebelum tindakan tersebut dapat dilihat bahwa kemampuan penulisan naskah drama siswa masih dikategorikan rendah. Skor rata-rata sebanyak itu tentu saja masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pelajaran Bahasa Indonesia yaitu 7 dan masih di bawah kriteria keberhasilan penelitian yaitu lebih dari atau sama dengan 7. Siklus I Setelah dilakukan prasiklus/ pratindakan, peneliti diskusi dengan guru Bahasa Indonesia. Siklus I penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua kali pertemuan. Hasil Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 pengamatan dengan format observasi selama siklus I menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan menulis naskah drama pada siswa dalam setiap pertemuannya. Pelaksanaan Tindakan Siklus I yang diberikan belum sesuai dengan rencana tindakan karena banyak siswa yang kurang bersungguh-sungguh dalam penulisan naskah drama. Terdapat kekurangan yang dibuat siswa dari hasil penulisan naskah dramanya, meliputi dialog, tokoh dan perwatakan, latar/setting, alur, dan amanat. Skor keseluruhan penulisan naskah drama selama observasi siklus I dapat dilihat berikut ini. Tabel 2. Hasil Skor Penulisan Naskah Drama Siswa Siklus I Keterangan Aspek Jumlah Rata-Rata Keterangan: A : Dialog B : Tokoh dan Perwatakan C : Latar/Setting,Teks Samping. Nada dan Suasana D : Plot/ Alur atau Jalan Cerita E : Amanat atau Pesan Jumlah Skor/ Nilai Data yang tercantum pada tabel di atas menunjukkan skor yang diperoleh siswa selama proses tindakan penulisan naskah drama dengan media boneka . tick wayang oran. yaitu skor rata-rata siswa dalam penulisan naskah drama pada tindakan siklus I adalah 6,50. Dari skor rata-rata tersebut dapat dilihat adanya peningkatan kemampuan siswa dalam penulisan naskah drama, meskipun belum sesuai dengan kriteria penilaian yang diharapkan. Refleksi penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia dan peneliti berdasarkan hasil observasi selama proses pembelajaran siklus I. Pada siklus ini, siswa masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi konsentrasi saat penulisan naskah drama, pemahaman terhadap isi materi pelajaran dan keadaan secara psikologi siswa juga mempengaruhi berhasil tidaknya dalam pembelajaran penulisan naskah drama. Dari segi hasil, masih ada beberapa kekurangan dalam penulisan naskah drama. Penulisan naskah drama bukanlah suatu hal yang sepele, tetapi diperlukan keseriusan dan kekreatifan dari masing-masing individu. Kekurangan dalam proses pembelajaran menulis naskah drama pada siklus I yaitu siswa masih berfokus pada contoh yang ada di dalam buku teks pembelajaran. Hasil refleksi pada siklus I yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel Tabel 3. Refleksi Keterampilan Menulis Naskah Drama Siswa Pada Siklus I No. Kondisi Awal Keterampilan menulis naskah drama siswa sebelum siklus masih rendah . Siklus 1 Keterampilan menulis naskah drama siswa setelah siklus I menunjukkan nilai ratarata . Refleksi Melalui penggunaan media boneka . tick wayang oran. dari kondisi awal ke siklus I meningkat sebesar 0,97 . %). Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Adapun data keterampilan menulis naskah drama siswa dalam bentuk diagram adalah sebagai berikut. 2,97 Pra Siklus 2,22 1,81 1,72 1,44 1,94 Siklus I 1,53 1,38 1,09 1,13 Gambar 1 Diagram Perbandingan Hasil Skor Rata-rata Aspek dalam Menulis Naskah Drama pada Pra Siklus dan Siklus I Keterangan: A : Dialog dan Tema : Tokoh dan Perwatakan : Latar/setting. Teks Samping. Nada dan Suasana D : Plot/Alur : Amanat/ Pesan Dari tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis naskah drama siswa mengalami peningkatan pada setiap aspek penilaian menulis naskah drama, yaitu pada aspek-aspek . dialog sebesar 1,25. tokoh dan perwatakan sebesar 0,78. latar/ setting sebesar 0,44. plot atau alur sebesar 0,84. amanat atau pesan sebesar 0,41. Peningkatan skor rata-rata dari pra siklus ke siklus II yaitu sebesar 0,97 atau 18%. Berdasarkan skor tersebut berarti ada peningkatan keterampilan penulisan naskah drama siswa dari pra siklus ke siklus I. Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya maksimal atau masih jauh dari kriteria pencapaian yang sudah ditetapkan. Hal ini karena masih ada permasalahan dalam proses Permasalahan yang terjadi pada tindakan siklus I, selain disebabkan keterbatasan pada kemampuan siswa dalam penulisan naskah drama, juga disebabkan kurang terlatihnya siswa dalam penulisan naskah drama. Untuk lebih meningkatkan proses pembelajaran menulis khususnya dalam penulisan naskah drama, guru menggunakan media boneka . tick wayang oran. , untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam penulisan naskah drama. Permasalahan yang ada tersebut harus segera diatasi agar pemanfaatan media boneka . tick wayang oran. sebagai upaya meningkatkan kemampuan penulisan naskah drama siswa dapat berhasil. Cara mengatasi permasalahan yang ada harus cermat karena permasalahan pertama jika sulit diatasi akan menghambat pelaksanaan tindakan Pelaksanaan kegiatan proses penulisan naskah drama melalui media boneka . tick wayang oran. pada siklus I terlaksana dengan lancar. Meskipun demikian, pelaksanaan tindakan siklus I ini belum menampakkan hasil yang memuaskan. Permasalahan siklus I ini kemudian didiskusikan bersama untuk menemukan penyelesaiannya. Penyelesaian masalah tersebut adalah dengan meningkatkan perhatian siswa terhadap kemampuan penulisan naskah drama. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Siklus II Sikus II dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua kali pertemuan, yaitu pada hari Selasa . Oktober 2. dan Kamis . November 2. Dalam siklus II ini, siswa berkelompok dan melakukan penulisan naskah drama masih dengan menggunakan media boneka . tick wayang oran. Media ini digunakan untuk mempermudah siswa dalam meningkatkan kemampuan penulisan naskah drama. Peneliti melakukan pengamatan selama kegiatan belajar mengajar pada siklus II. Gejala yang tampak meliputi situasi kelas selama tindakan siklus II berlangsung cukup baik, semua siswa mengerjakan kegiatan penulisan naskah drama, proses belajar mengajar berjalan cukup lancar, tingkah laku dari siswa cukup antusias dalam mengikuti Hal ini terbukti pada peningkatan penulisan naskah drama siswa. Skor kemampuan siswa dalam penulisan naskah drama lebih meningkat dibandingkan dengan hasil pada siklus I. Tabel 4. Hasil Skor Penulisan Naskah Drama Siswa Siklus II Keterangan Aspek Jumlah Rata-Rata Keterangan: A : Dialog B : Tokoh dan Perwatakan C : Latar/Setting,Teks Samping. Nada dan Suasana D : Plot/ Alur atau Jalan Cerita E : Amanat atau Pesan Jumlah Skor/ Nilai Data yang tercantum di atas menunjukkan bahwa skor yang di peroleh siswa selama proses tindakan penulisan naskah drama melalui media boneka . tick wayang oran. berlangsung pada siklus II. Skor rata-rata siswa dalam penulisan naskah drama pada tindakan siklus II adalah 7,66. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang berarti kemampuan penulisan naskah drama siswa meningkat. Pada siklus II ini, tulisan yang dihasilkan oleh siswa lebih baik dibandingkan dengan hasil tulisan pada siklus I. Pada tindakan siklus II ini, siswa sudah paham tentang penulisan naskah drama yang Jika didasarkan pada tiap-tiap indikator yang dihasilkan, telah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Seperti halnya refleksi pada siklus sebelumnya, refleksi dalam penelitian siklus II ini juga dilaksanakan oleh peneliti dan rekan guru Bahasa Indonesia. Pelaksanaan pembelajaran siklus II ini berjalan dengan lancar, hasilnya lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Hasil refleksi pada siklus II yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 5. Refleksi Keterampilan Menulis Naskah Drama Siswa Pada Siklus II No. Kondisi Awal Keterampilan menulis naskah drama siswa pada siklus I sudah cukup baik . Siklus 1 Keterampilan menulis naskah drama siswa setelah siklus II menunjukkan nilai ratarata . Refleksi Melalui penggunaan media boneka . tick wayang oran. dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 1,16 . %). Berdasarkan tabel 5 tersebut dapat diketahui bahwa skor siswa didasarkan pada pedoman penilaian penulisan naskah drama. Skor yang dihasilkan siswa pada tindakan siklus I masih jauh dari skor maksimum yang kemungkinan bisa dicapai oleh siswa. Dari hasil penulisan naskah drama siswa terdapat banyak kesalahan atau kurang sempurna. Skor yang dihasilkan siswa, pada tindakan siklus II sudah baik walaupun belum mencapai Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 skor maksimum. Kesalahan yang dibuat siswa semakin sedikit. Adapun data dalam bentuk diagram adalah sebagai berikut. 3,38 3,19 2,97 2,78 2,72 2,22 1,81 1,94 1,53 Siklus I Siklus II Gambar 2. Diagram Perbandingan Hasil Skor Rata-rata Aspek dalam Menulis Naskah Drama pada Siklus I dan Siklus II Keterangan: A : Dialog dan Tema B : Tokoh dan Perwatakan C : Latar/setting. Teks Samping. Nada dan Suasana D : Plot/Alur E : Amanat/ Pesan Dari tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis naskah drama siswa mengalami peningkatan pada setiap aspek penilaian menulis naskah drama, yaitu pada aspek-aspek . dialog sebesar 0,41. tokoh dan perwatakan sebesar 0,97. latar/ setting sebesar 1,19. plot atau alur sebesar 0,84. amanat atau pesan sebesar 1,19. Peningkatan skor rata-rata dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 1,16 atau 18%. Berdasarkan skor tersebut berarti ada peningkatan kemampuan penulisan naskah drama siswa dari siklus I ke siklus II. Pembahasan Skor kemampuan penulisan naskah drama siswa dari siklus I sampai dengan siklus II ini mengalami peningkatan, skor kemampuan penulisan naskah drama siswa secara garis besar dari sebelum tindakan sampai dengan akhir tindakan siklus II dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6 Hasil Peningkatan Kemampuan Penulisan Naskah Drama Keterangan Jumlah Rata-Rata Presentase Pra Peningkatan Pra Peningkatan Siklus Peningkatan Pra Siklus I Siklus II Siklus Siklus ke Siklus I I ke Siklus II Siklus ke Siklus II 5,53 6,50 0,97 1,16 2,13 Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui kemampuan penulisan naskah drama yang diperoleh siswa sebelum tindakan atau prasiklus atau pratindakan, setelah tindakan siklus I, dan setelah siklus II. Hasil evaluasi tindakan adalah hasil yang diperoleh berdasarkan peningkatan kemampuan penulisan naskah drama siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta dengan menggunakan media boneka . tick wayang oran. sejak awal penelitian sampai akhir penelitian. Jika ditampilkan dalam bentuk grafik, peningkatan kemampuan penulisan naskah drama siswa tersebut sebagai berikut. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 3,38 3,19 2,97 2,78 2,72 2,22 1,81 1,72 1,44 1,94 1,53 1,38 1,09 1,13 Pra Siklus Siklus I Siklus II Gambar 3 Grafik Skor Rata-rata Peningkatan Penulisan Naskah drama Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II Keterangan: A : Dialog dan Tema B : Tokoh dan Perwatakan C : Latar/setting. Teks Samping. Nada dan Suasana D : Plot/Alur E : Amanat/ Pesan Jadi dapat dikatakan bahwa melalui penggunaan media boneka . tick wayang oran. dapat meningkatkan kemampuan penulisan naskah drama siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta pada semester I tahun pelajaran 2013/ 2014. Simpulan dan Saran Penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan penulisan naskah drama melalui media boneka . tick wayang oran. pada siswa kelas Vi E SMP Negeri 11 Surakarta dapat terlaksana dengan baik dan terjadi peningkatan kemampuan penulisan naskah drama siswa setelah diadakan tindakan selama dua siklus. Peningkatan penelitian tindakan kelas ini dapat diketahui dari proses pembelajaran dan hasil penulisan naskah drama siswa setelah diberi tindakan dengan menggunakan media boneka . tick wayang oran. Peningkatan proses dapat terlihat dari motivasi belajar siswa menjadi lebih baik dengan adanya keantusiasan siswa dalam menulis naskah drama dengan adanya media boneka . tick wayang oran. , stimulasi gambar yang terdapat dalam boneka . tick wayang oran. akan memudahkan siswa dalam membuat dialog dalam naskah drama, imajinasi siswa menjadi lebih berkembang, dan apresiasi sastra siswa terbangun dengan baik. Skor rata-rata sebelum dilakukan tindakan adalah 5,53, pada siklus I siswa memperoleh skor rata-rata sebesar 6,50, sedangkan pada akhir siklus II skor rata-rata yang telah dicapai siswa adalah 7,66. Berdasarkan perolehan skor di atas, dapat disimpulkan bahwa mulai dari awal tindakan siswa memperoleh skor sebesar 5,53, sedangkan skor akhir tindakan siklus II sebesar 7,66, berarti ada peningkatan sebesar 2,13 atau sebesar 38,42% atau 38% yaitu dari skor 5,53 menjadi 7,66. Hal-hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: . Siswa harus lebih aktif serta kreatif dalam pembelajaran dan lebih memiliki motivasi untuk belajar menulis naskah drama. Bagi guru, penggunaan media boneka . tick wayang oran. dalam peningkatan keterampilan menulis naskah drama siswa masih perlu dikembangkan lagi sehingga siswa dapat mencapai kompetensi yang Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Oleh karena itu, guru diharapkan mampu memanfaatkan media pembelajaran yang lain sebagai alternatif dalam pembelajaran menulis naskah drama agar siswa dapat terlibat aktif dalam pembelajaran sekaligus dapat lebih mudah dalam memahami materi . Pihak sekolah harus meninjau kembali kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran agar lebih mempermudah guru dalam merancang pembelajaran menulis naskah drama dengan bahan-bahan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif untuk menarik minat siswa dalam belajar. Daftar Pustaka