Penerapan Supervisi Akademik dan Mentoring untuk Meningkatkan Contextual Teaching and Learning di Sd Krista Gracia Klaten Kristinawati1. Melitina Tecualu2. Januar Budiman3 SD Krista Gracia Klaten1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas KristenKrida Wacana2,3 suryaputra@gmail. melitina@ukrida. Jbn2500@gmail. ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah menggunakan metode supervisi akademik dan mentoring untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan contextual teaching and learning dalam pembelajaran di SD Krista Gracia Klaten. Subyek Penelitian adalah lima guru SD Krista Gracia Klaten. Peneliti menggunakan checklist contextual teaching and learning dan checklist supervisi akademik untuk observasi kelas. Selain itu, peneliti menggunakan mentoring secara personal untuk dapat membuat rencana pembelajaran dan memberikan bimbingan kepada subyek. Penelitian ini menggunakan metode Kemmis dan McTaggart dengan melalui dua siklus. Hasil akhir Siklus II menyatakan bahwa kompetensi kelima subyek penelitian mencapai indikator keberhasilan dalam contextual teaching and learning kategori baik. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan metode supervisi akademik dan mentoring dapat meningkatkan kemampuan guru untuk melaksanakan contextual teaching and learning dalam pembelajaran di SD Krista Gracia Klaten. Kata Kunci: supervisi akademik, mentoring, contextual teaching and learning KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2020 | 141 PENDAHULUAN Selama ini, guru-guru juga telah membuat rencana pembelajaran yang dibuat sendiri, tetapi kebanyakan guru masih cenderung menggunakan buku guru sebagai patokan dalam membuat rencana pembelajaran. Sebagian guru terpusat pada kompetensi dasar dan buku guru, serta buku siswa yang dibagikan oleh pemerintah. Namun, guru-guru terkadang kurang berani dalam memberikan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga peneliti mengambil kesimpulan bahwa sebagian guru kurang kreatif untuk menghubungkan materi dengan situasi kehidupan nyata. Hasilnya, pembelajaran dapat terasa membosankan bagi para peserta didik, bahkan terkesan kurang inovatif dan ketinggalan zaman. Sebagian dari pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru, bukan peserta didik. Kemampuan siswa dalam bertanya, menemukan, refleksi masih perlu ditingkatkan dengan cara guru terlebih dahulu mengerti tujuan pembelajaran tersebut sehingga peserta didik memiliki pengalaman belajar yang membekas hingga Pembelajaran di SD Krista Gracia harus ditingkatkan, terutama oleh guru dalam hal penguasaan materi pembelajaran ataupun motode mengajar. Ada perbedaan usia di antara para guru SD Krista Gracia yang akan menjadi subyek penelitian, termasuk dalam hal karakteristik guru dan penguasaan teknologi dalam pembelajaran. Dua subyek awal yang akan diteliti adalah guru dengan masa kerja 23 tahun dan 13 tahun, dimana keduanya mengalami kendala dalam pengetahuan bidang teknologi, terkhusus pada masa pandemi, dan kreativitas subyek dalam mengajar yang masih perlu ditingkatkan terutama terkait kemampuan mengaitkan materi dengan keadaan nyata siswa. Sementara, dua subyek lain yaitu guru yang baru bekerja satu tahun, yang memerlukan kerja keras dalam penyesuaian diri terhadap materi, tempat kerja, metode mengajar, dan kesiapan mereka dalam mengaitkan materi dan keadaan nyata siswa. Sementara itu, satu subyek lainnya sudah bekerja enam tahun, tetapi sempat berhenti bekerja selama satu tahun sebelum masuk kembali ke SD Krista Gracia, sehingga subyek tersebut memerlukan pendampingan dalam pembelajaran dan penyesuaian kembali di tempat kerja. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan supervisi akademik dan mentoring dalam meningkatkan kemampuan guru melaksanakan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran di SD Krista Gracia Klaten. TINJAUAN LITERATUR Supervisi akademik menurut Glickman . adalah segala bentuk aktivitas yang akan menolong pendidik dalam upaya mengembangkan kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran. Akhirnya, tujuan pembelajaran dapat Supervisi akademik menurut Arikunto . masalah yang paling utama 142 | PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK DAN. (Kristinawati. Melitina Tecualu. Januar Budima. pada pendidikan dan pengajaran. Menurut METODE PENELITIAN Kemendiknas . , guna meningkatkan Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian dilangsungkan. Penyusunan Penelitian Tindakan sekolah yang diawali dari kondisi awal, sampai pelaporan dilaksanakan pada bulan September 2021 hingga Desember 2021. Model penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart. Menurut Kemmis dan McTaggart . alam Wiriaatamadja, 2. , setiap siklus penelitian terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu plan . , act . elaksanaan tindaka. , observe (Pengamata. , reflect . Hasil dari refleksi Siklus I menentukan langkah berikutnyadi Siklus Proses ini akan berhenti apabila indikator yang diinginkan tercapai. Instrumen penelitian yang akan digunakan sebagai berikut: Penilaian diri Fungsi penilaian diri adalah untuk menilai diri sendiri pada saat mengajar menggunakan Contextual Teaching and Learning. Aspek yang dinilai adalah kegiatan awal, inti dan penutup. Penilaian akan dilakukan setelah kemampuan guru, maka supervisi akademik merupakan cara yang dapat dijadikan pilihan agar tujuan proses pembelajaran dapat Mentoring menurut Shenkman . adalah suatu cara untuk menunjukkan suatu jalan hidup dan menguji orang baru ketika dia mengikuti cara baru ini. Menurut Glanz . mentoring adalah suatu proses yang memfasilitasi peningkatan, dimana seorang pendidik berpengalaman bekerja secara kolaboratif dengan seorang guru atau yang kurang berpengalaman, untuk meningkatkan pembelajaran dengan harapan hasil yang optimal. Johnson . menyatakan bahwa kontekstual adalah pendekatan pendidikan yang dapat menuntun para peserta didik dalam menghubungkan baru mereka terima dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya, lalu mereka alami. Blanchard . berpendapat bahwa pembelajaran kontekstual merupakan cara yang dapat menolong pendidik agar . Jurnal Fungsi pada jurnal adalah mencatat untuk semua kejadian selama pelaksanaan mentoring dengan subyek. Checklist Contextual Teaching and Learning Pada checklist Contextual Teaching and Learning berfungsi memeriksa aspek Contextual Teaching and peserta didik dapat mengerti keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan situasi faktual, serta dapat menolong peserta didik untuk dapat memahami penerapan dari materi pelajaran dalam tugas mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, maupun calon pegawai ketika kelak mereka bekerja. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2020 | 143 Learning yang dilakukan oleh subyek. Aspek yang dinilai adalah pendahuluan, inti penutup pembelajaran. Checklist supervisi akademik Pada checklist supervisi akademik berfungsi memeriksa supervisi akademik yang dilakukan oleh subyek. Aspek yang dinilai adalah peserta didik, ketenagaan, kurikulum, sarana dan prasarana, pengolahan, lingkungan dan situasi umum. Teknik pengumpulan data pada instrumen adalah sebagai berikut: Penilaian diri Jurnal Jurnal ini diisi oleh peneliti. Jurnal ini diisi sebelum Siklus I sebagai data awal, dan diisi lagi pada saat Siklus I dan Siklus II. Jurnal diisi sebeleum pembelajaran dilakukan atau pada saat melakukan supervisi akademi. Checklist supervisi akademik Checklist supervisi akademik ini diisi oleh peneliti . Checklist supervisi akademik diisi sebelum Siklus I sebagai data awal, dan diisi lagi pada saat Siklus I dan Siklus II. Checklist supervisi akademik diisi pada waktu proses pembelajaran berlangsung. Penilaian diri ini diberikan kepada Penilaian diri ini diisi sebelum Siklus I sebagai data awal, dan diisi lagi pada saat Siklus I dan Siklus II. Siklus I dan Siklus II. Checklist Contextual Teaching and Learning ini diisi pada waktu proses pembelajaran Checklist Contextual Teaching and Learning Checklist Contextual Teaching and Learning diisi oleh peneliti . Checklist Contextual Teaching and Learning diisi sebelum Siklus I sebagai data awal, dan diisi lagi pada saat Teknik analisis data yang akan didapat . Penilaian diri Penilaian diri untuk menilai diri sendiri pada saat mengajar menggunakan Contextual Teaching and Learning dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran secara teliti di dalam kelas dari persiapan, pelaksanaan dan penutupan. Hasil penilaian diri digunakan untuk melakukan upaya tindak lanjut. Aspek yang dinilai pada observasi adalah kegiatan awal, inti dan penutup pada saat subyek melakukan proses pembelajaran. Aspek yang dinilai ada 15, setiap aspek nilai maksimal setiap aspek 4, dan minimal 1. Total skor maksimal 60 dan total skor minimal 15. Subyek mendapatkan kriteria baik apabila mendapat nilai tiga yang sudah Penilaian diri dilakukan oleh subyek. Adapun perhitungan skor akhir yaitu: 144 | PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK DAN. (Kristinawati. Melitina Tecualu. Januar Budima. Nilai akhir = Nilai maksimal Ae nilai yang diperoleh subyek Perhitungan konversi Konversi : jumlah nilai yang diperoleh . Jurnal Pada mentoring ini hasil jurnal akan dilaporkan secara naratif. Checklist Contextual Teaching and Learning Checklist untuk menilai diri sendiri ketika mengajar menggunakan metode CTL dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran secara teliti di dalam kelas dari persiapan, pelaksanaan, hingga penutupan. Checklist CTL digunakan untuk melakukan upaya tindak lanjut dengan aspek penilaian adalah kegiatan awal, inti, dan penutup ketika subyek melakukan proses pembelajaran. Aspek yang dinilai ada 10, peneliti akan memberikan tanda centang (O. Subyek mendapatkan kriteria baik apabila mendapat nilai tujuh . tanda centang (O. Penilaian ini dilakukan oleh peneliti dan kepala sekolah dengan kriteria penilaian: Sangat Baik . jawaban AuYaA. Baik . -9 jawaban AuYaA. Cukup . -7 jawaban AuYaA. dan jika terdapat kurang dari 6 jawaban AuYaAy, maka kriteria penilaian AuKurangAy. Untuk menentukan Nilai Akhir digunakan rumus: Nilai Akhir = 10 Ae Oo yang diperoleh . Checklist supervisi akademik Checklist supervisi akademik untuk menilai diri sendiri pada saat mengajar menggunakan Contextual Teaching and Learning. untuk mengetahui proses pembelajaran secara teliti di dalam kelas dari persiapan, pelaksanaan dan penutupan. Checklist supervisi akademik digunakan untuk melakukan upaya tindak lanjut. Aspek yang dinilai pada checklist adalah peserta didik, ketenagaan, kurikulum, pengelolaan, sarana dan prasarana, dan situasi umum ketika subyek melakukan proses pembelajaran. Aspek yang dinilai ada 12, peneliti akan memberikan tanda centang (O. pada aspek yang dilakukan oleh subyek. Subyek mendapatkan kriteria baik apabila mendapat nilai sembilan . tanda centang (O. Penilaian ini dilakukan oleh peneliti dan kepala sekolah dengan kriteria penilaian: Sangat Baik . -12 jawaban AuYaA. Baik . -10 jawaban AuYaA. Cukup . -8 jawaban AuYaA. dan jika terdapat kurang dari 7 jawaban AuYaAy, maka kriteria penilaian AuKurangAy. Untuk menentukan Nilai Akhir digunakan rumus: Nilai Akhir = 12 Ae Oo yang diperoleh KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2020 | 145 Indikator Keberhasilan Jumlah subyek yang mengalami melaksanakan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran mencapai minimal 60% . iga dari lima subyek yang ditelit. , dengan persentase peningkatan yang ditargetkan minimal 10% dari pra siklus sampai siklus. kehidupan nyata siswa. Adapun hasil observasi sebagai berikut: Masih terpatok pada satu buku pegangan yaitu buku guru HASIL DAN PEMBAHASAN Observasi Awal Peneliti melakukan observasi awal dan menyimpulkan bahwa kelima subyek penelitian perlu meningkatkan kemampuan dalam menghubungkan materi dengan Kurang berani untuk mengembangkan dan mengaitkan materi pembelajaran dengan kondisi nyata siswa Metode mengajar sebagian besar ceramah sehingga kemampuan anak dalam menemukan, bertanya, dan melakukan refleksi terasa masih kurang Tujuan pembelajaran yang akan dicapai hanya sesuai dengan materi Hasil skor pra siklus yang diperoleh masingmasing subyek dapat dilihat dalam bentuk diagram pada Gambar 4. 1 di bawah ini. Gambar4. 1 Skor Observasi Contextual Teaching and Learning Pra Siklus Siklus Pertama Siklus I dimulau dari perencaanaan dengan menyiapkan materi supervisi akademik, mentoring dan Contextual Teaching and Learning serta pendekatan secara Tindakan yang dilakukan adalah supervisi akademik dan mentoring. Pengamatan di kelas dilakukan bersama kepala Pada akhir Siklus I, peneliti melihat bahwa supervisi akademik dan mentoring mampu meningkatkan Contextual Teaching and Learning pada subyek dengan materi yang dikaitan dengan keadaan nyata siswa membuat siswa menjadi terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Namun, kemampuan subyek menghubungkan meteri dengan ke- 146 | PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK DAN. (Kristinawati. Melitina Tecualu. Januar Budima. adaan nyata siswa masih perlu ditingkatkan, begitu pula dengan kemampuan guru untuk dapat mengupas tujuan pembelajaran secara luas sampai pada kehidupan sehari-hari. Dengan adanya supervisi akademik dan mentoring, penilaian diri subyek juga mengalami peningkatan karena subyek sudah melakukan persiapan sebelum mengajar. Dari hasil Checklist Contextual Teaching and Learning diperoleh data perbandingan Pra Siklus dan Siklus I, yang terlihat pada gambar 4. Gambar 4. 2 Perbandingan Skor Contextual Teaching and Learning Pra Siklus dan Siklus I Dari gambar 4. 2 dapat dilihat pada Pra Siklus dan Siklus I sudah mengalami peningkatan, namun ada subyek yang belum dapat memenuhi indikator keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti. Untuk Contextual Teaching and Learning skor minimal tujuh, namun ada dua subyek yang belum dapat Untuk itu, diperlukan Siklus II untuk dapat meningkatkan kemampuan subyek dalam melakukan Contextual Teaching and Learning. Siklus Kedua Pada Siklus II ini subyek mengalami banyak peningkatan dalam menjalankan fungsi sebagai fasilitator. Pembelajaran di kelas sudah jauh lebih menyenangkan dan peran serta siswa dalam mengikuti pembelajaran juga lebih baik. Kerja sama yang dilakukan pada Siklus II lebih dapat Hasil pada data awal. Siklus I, dan Siklus II dapat dilihat gambar 4. Gambar 4. 3 Skor Contextual Teaching and Learning Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2020 | 147 Dari diagram yang ada pada gambar 3 Siklus II, setiap subyek mencapai indikator yang sudah ditentukan oleh peneliti. Dengan adanya peningkatan Contextual Teaching and Learning maka penilaian diri subyek juga mengalami kenaikan. Subyek semakin percaya diri ketika mengajar di Pembahasan Interpretasi Hasil Analisis Data Siklus Pertama Pada Siklus I ini peneliti sudah melakukan mentoring dan supervisi akademik dengan subyek. Ada perubahan yang terjadi pada subyek terutama mereka harus mencari tujuan pembelajaran yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Pencapaian indikator Contextual Teaching and Learning dan supervisi akademik belum memenuhi target yang diharapkan oleh peneliti. Mentoring yang dilakukan dengan empat subyek dapat berjalan lancar, karena subyek lebih terbuka, bersedia diberi masukan, dan mau belajar bersama peneliti. Sementara, ada satu subyek yang belum maksimal dalam melakukan mentoring karena ada beberapa faktor yang membuat subyek tidak terbuka. Faktor tersebut karena subyek adalah guru senior di sekolah, suami subyek adalah seorang pengawas sekolah, kemauan untuk belajar masih rendah, karakter subyek yang keras. Pada Siklus I subyek masih perlu belajar untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan, berpusat pada siswa, siswa dapat bekerja sama dengan teman, harus menggunakan metode yang bervariatif. Subyek perlu membuat rencana pembelajaran yang benar-benar akan dilakukan kelas, sehingga urutan materi yang akan disampaikan menjadi lebih runtut. Penilaian diri yang dilakukan oleh subyek pada Siklus I belum maksimal, rata-rata nilai yang diisi oleh subyek di angka tiga. Interpretasi Hasil Analisis Data Siklus Kedua Pada Siklus II ini mentoring dilakukan lebih aktif kembali terutama untuk satu subyek BS yang pada Siklus I belum maksimal melakukan mentoring. Mentoring dengan subyek BS lebih baik dan ada keterbukaan dengan peneliti. Subyek dapat diajak untuk berbicara dari hati ke hati, dapat mengungkapkan hal-hal yang harus diperbaiki dalam pembelajaran, terutama dalam membuat media pembelajaran dan materi pembelajaran. Pada Siklus II kelima subyek menjadi lebih baik dalam menjadi fasilitator, menyiapkan materi dengan menggunakan media pembelajaran yang menyenangkan. Adanya kerja sama dengan siswa lain yang menjadikan pembelajaran lebih Subyek sudah mendapatkan sumber belajar jadi ada banyak wawasan yang diperoleh subyek. Tujuan pembelajaran sudah diperluas untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga materi pembelajaran yang diperoleh peserta didik tidak hanya berlaku untuk hari itu, tetapi sampai ke jenjang selanjutnya. Materi sudah dihubungkan dengan keadaannya nyata siswa sehingga memampukan mereka dalam menemukan dan melakukan refleksi agar menjadi pribadi yang lebih baik. 148 | PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK DAN. (Kristinawati. Melitina Tecualu. Januar Budima. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat ditarik bahwa peneliti berhasil menggunakan mentoring dan supervisi akademik dalam Contextual Teaching And Learning di Krista Gracia Klaten. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan skor Contextual Teaching And Learning dan supervisi Akademik. Semua subyek penelitian mengalami peningkatan dari Pra Siklus ke Siklus I dan dari Siklus I ke Siklus II. Dengan pembekalan mentoring yang dilakukan secara personal, kemampuan subyek penelitian meningkat terutama dalam merancang pembelajaran, menghubungkan materi dengan keadaan nyata siswa, membuat tujuan pembelajaran yang lebih luas sampai dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA Saran