TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Pengaruh Motivasi Hedonik terhadap Impulsive Buying dan Compulsive Buying Rini Anggriani rinianggriani@universitabumigora. Universitas Bumigora Lalu Jatmiko Jati jatmikojati63@gmail. Universitas Bumigora Raden Bagus Faizal Irani Sidharta sidharta@universitasbumigora. Universitas Bumigora Baiq Dinna Widyasti baiqdinna@universitasbumigora. Universitas Bumigora Abstract The changed in consumerAos buying behavior and the accompanying factors is an important issue and an interesting topic for further study by marketers and academics nowadays. In this case, impulsive buying behavior and compulsive buying in Lombok local teenagers that is using halal cosmetic become the subject of this study. This study aims to determine whether there is an influence of hedonic motivation on impulse buying and compulsive buying. The sampling technique used is the accidental sampling method with 200 samples. Data analysis used Structural Equation Modeling (SEM). The results showed that there is positive and significant influence and relationship between hedonic motivation and impulse buying. There is a positive and significant effect of impulsive buying on compulsive buying. There is no effect of hedonic motivation on compulsive Keywords: compulsive buying, hedonic motivation, impulsive buying Pendahuluan Dunia bisnis kini menghadapi ketidakpastian dampak dari pandemic covid-19, tidak cukup sampai disana, ancaman resesi ekonomi kian nyata didepan mata, akibat dari kondisi global yang kian tak menentu. Tak cukup sampai disitu, persainganpun semakin kompetitif di sertai pula dengan arus perubahan yang berdampak langsung maupun tidak langsung dalam berbagai aspek kehidupan manusia demikian dinamis pergerakanya salah satunya perilaku pembelian konsumen. Perilaku pembelian konsumen saat ini terus menjadi perhatian pemasaran dan peneliti adalah impulsive buying dan compulsive buying. Kajian Bighiu et al. menyatakan bahwa gangguan pembelian konsumen seperti impulsive buying dan compulsive buying merupakan salah satu kecanduan baru. Impulsive buying menjadi semakin popular (Tran, 2. Perilaku impulsive buying adalah perilaku pembelian yang tidak direncanakan sebelumnya yang dilakukan secara tiba-tiba atau spontan. Pembelian konsumen dapat dipengaruhi oleh banyak factor baik langsung dan tidak langsung (Tran, 2. Salah satunya menurut Turkyilmaz et al. , yang menyatakan bahwa faktor psikologis dapat mendorong seseorang melakukkan impulsive buying. Faktor emosi mempengaruhi compulsive buying secara online (Zheng et al. , 2. Dalam Pranggabayu dan Lestari Andjarwati . Made dan Purnama . Ratih dan Astiti . , menyatakan motivasi belanja hedonis berkontribusi positif dan signifikan terhadap pembentukan impulsive TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Hal ini sejalan dengan temuan Ahn dan Kwon . menyatakan teori sifat, emosi/perasaan memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap impulsive buying. Hal ini bertentangan dengan penelitian Darma dan Japarianto . yang menyatakan bahwa faktor psikologis seperti nilai belanja hedonik tidak memberikan pengaruh terhadap terjadinya impulsive buying. Secara umum, kecenderungan impuls konsumen adalah naluriah, dan menunjukkan kecenderungan umum untuk impulsive buying (Tran, 2. Kajian Balik et al. menyimpulkan bahwa pembeli yang compulsive cenderung tidak menolak untuk impulsif yang terkait dengan perasaan positif, seperti kenikmatan, kepuasan dan kelegaan. Selain itu, dalam Darma dan Japarianto . , diketahui bahwa situasi emosi konsumen memainkan peran penting dalam pembuatan keputusan impulsive buying. Kajian Anggriani . menemukan motivasi hedonic tidak berpengaruh signifikan terhadap impulsive buying namun sebaliknya berpengaruh signifikan terhadap compulsive buying. Selain itu, impulsive buying berpengaruh terhadap kecenderungan compulsive buying. Menurut Djudiah . , compulsive buying terjadi ditandai dengan impulsif, kerentanan emosional, dan proses regulasi emosi yang lemah. Hal ini memainkan peran penting dalam mengembangkan dan mempertahankan compulsive buying. Penelitian Tarka et al. menyatakan konsumsi hedonic merupakan factor pendorong terjadinya compulsive buying dan terdapat hubungan yang kuat di antara keduanya. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa ketidakmampuan individu untuk mengendalikan impuls merupakan faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya compulsive buying. Nilai hedonic dapat berpengaruh pada compulsive buying (Eren et al. , 2. Remaja sangat rentan melakukan compulsive buying dibandingkan orang dewasa dan orang tua (Adamczyk et al. , 2. Dalam penelitian Anggriani . menyatakan bahwa impulsif buying apabila dilakukkan dalam jangka waktu yang panjang akan menjadikannya sebagai perilaku pembeli yang berlebihan yang dapat mengarah pada kecenderungan compulsive buying. Kajian Anggriani et al. menunjukkan impulsif buying berpengaruh positif dan signifikan pada compulsive buying Lombok merupakan salah satu Kota yang ada di NTB. Lombok sangat identik dengan Kota seribu mesjid dan di kenal dengan masyarakatnya yang religious sehingga segala sesuatu diletakan atas dasar/kaidah syariat agama Islam termasuk dalam berperilaku, apa yang di konsumsi menekankan pada produk berlabel halal termasuk dalam membeli produk kosmetik. Di Indonesia, tren produk kecantikan semakin meningkat bahkan ketika terjadi pandemi Covid19 kesadaran merawat kecantikan turut berpengaruh yang disebabkan perubahan pola hidup dan prilaku masyarakat dan tren baru yang bermunculan. Hal itu dapat dilihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mengungkapkan bahwa industri kosmetik mengalami peningkatan sebesar 5,59 persen. Sepanjang tahun 2021 diproyeksikan naik sebesar 7 persen. Adapun produk kecantikan paling banyak di beli adalah produk kecantikan untuk bibir 97%, produk kecantikan untuk wajah 94%, produk kecantikan untuk mata sebesar 88% dan produk kecantikan untuk alis dan bulu mata 86%. GoodStats 2. Remaja merupakan salah satu target market potensial bagi pelaku pemasaran terutama di industry kosmetika. Hal ini dikarnakan remaja sangat suka berbelanja. Menurut Ratih dan Astiti . , belanja memiliki arti tersendiri bagi remaja. Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan banyak teman dan cenderung narcissistic yaitu mencintai diri sendiri. Remaja cenderung tidak berpikir hemat, mudah terbujuk iklan, serta lebih impulsive. Penelitian ini di fokuskan pada remaja lokal Lombok penguna kosmetik halal, yang mana pada penelitianpenelitian sebelumnya di fokuskan pada remaja perkotaan di Negara-negara maju yang berbelanja produk fashion. Namun, masih sedikit yang meneliti psikologi dan perilaku pembelian konsumen di negara berkembang dengan sampel remaja lokal yang membeli produk kosmetik halal. Tinjauan Pustaka TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Motivasi Hedonik Menurut Ratih dan Astiti . , motivasi hedonis adalah kegiatan belanja oleh konsumen karena merasa mendapatkan kesenangan dan merasa bahwa berbelanja merupakan suatu kegiatan yang menarik. Impulsive buying terjadi ketika konsumen merasakan adanya dorongan yang kuat untuk membeli sesuatu dengan segera. Dorongan yang dirasakan oleh konsumen berkaitan dengan motivasi konsumen untuk membeli barang secara hedonik. Kegiatan berbelanja konsumen pada awalnya dimotivasi oleh motif yang bersifat rasional, yakni berkaitan dengan manfaat yang diberikan oleh produk tersebut . ilai utilitaria. Namun ada nilai lain yang turut mempengaruhi kegiatan belanja konsumen, yakni nilai yang bersifat emosional atau yang dikenal dengan istilah hedonic motivation (Darma & Japarianto, 2. Impulsive Buying Impulsive buying adalah perilaku pembelian barang/jasa secara spontan atau tidak direncanakan sebelumnya (Made & Purnama, 2. Kajian ini juga mengungkapkan bahwa berbelanja dapat mengubah mood seseorang, mengurangi stres dan/atau menghilangkan rasa Impulsive buying adalah tindakan pembelian yang sebelumnya tidak diakui secara sadar sebagai hasil suatu pertimbangan atau niat membeli yang terbentuk sebelum memasuki toko (Minor & Minor 2. Impulsive buying seringkali timbul secara tiba-tiba, cepat, spontan, melibatkan perasaan emosional ketimbang rasionalitas dan cenderung diasumsikan sebagai hal yang buruk daripada sesuatu hal yang baik, dan pembeli pada situasi ini cenderung merasa Autidak terkendaliAy saat membeli barang secara impulsive (Darma & Japarianto, 2. Masih dalam penelitian yang sama mengungkapkan bahwa impulsive buying terjadi saat konsumen merasakan adanya motivasi yang kuat untuk membeli barang secara hedonik yang mungkin menimbulkan konflik secara emosional. Impulsive buying dapat muncul disebabkan karna konsumsi hedonic yang ada dalam dirinya yang susah untuk di kendalikan. Impulsive buying merupakan pembelian yang sifatnya tidak terencana, dan pembelian impulsif tersebut terjadi ketika konsumen memiliki dorongan yang kuat untuk membeli barang secara tiba-tiba dan secepat mungkin (Pranggabayu & Andjarwati, 2. Impulsive buying seringkali melibatkan komponen hedonik atau affektive. Compulsive Buying Minor . menyatakan bahwa compulsive buying merupakan bentuk AoAorespons terhadap dorongan yang tidak terkendali atau keinginan untuk memperoleh, menggunakan, atau mengalami suatu perasaan, substansi atau kegiatan yang menuntun individu untuk secara berulang kali terlibat dalam perilaku yang akhirnya merugikan individu atau individu yang lainAoAo. Compulsive buying dapat mempengaruhi psikologis individu misalnya seperti munculnya rasa gelisah, depresi, frustasi dan konflik interpersonal dan lain sebagainya. Compulsive buying merupakan suatu pembelian berulang dan berlebihan serta cenderung pada pemborosan, tidak hanya semata-mata untuk mendapatkan barang atau produk melainkan lebih kepada kepuasan untuk menghilangkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan (Anggriani, 2. Kerangka Konseptual Gambar 1. Kerangka Konseptual TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Metode Penelitian Jenis penelitian menggunakan penelitian kausalitas dengan sampel responden adalah remaja local Lombok penguna kosmetik. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Alat pengumpulan data mengunakan kuesioner skala likert point 1-5 (Sangat Tidak Setuju sampai dengan Sangat Setuj. Jumlah sampel responden sebanyak 200 Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Uji instrument penelitian mengunakan uji CFA yang dilihat dari nilai factor loading. CrombachAos Alpha. Composite Reliabilitas. Average Variance Extracted. Pada penelitian ini juga dilakukan uji instrument mengunakan Uji KMO and BertlettAos test. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Uji validitas berkaitan dengan akurasi atau ketepatan alat ukur penelitian. Pada pengujian validitas instrumen penelitian mengunakan uji validitas konvergen dengan menggunakan Confirmatory Faktor Analysis (CFA). CFA meliputi model pengukuran yang mengambarkan hubungan antara variabel yang diteliti dan konsep atau variabel laten. Nilai lamda ( ) atau faktor loading harus lebih dari 0,40, apabila kurang dari 0,40 maka model penelitian dapat dimodifikasi dengan mengeliminasi indikator yang tidak memenuhi syarat (Ferdinand, 2. Sementara itu, uji reliabiltas instrumen menggunakan koefisien Cronbach Alpha, dengan koefisien konsistensi internal minimum 0,60 (Taherdoost, 2. Tabel 1. Hasil Uji Factor Loading ( ) dengan CFA SEM. CrombachAos Alpha (CA). Composite Reliabilitas (CR), dan Average Variance Extracted (AVE) Variabel Motivasi Hedonik (X) Impulsive Buying (Y. Compulsive Buying (Y. Item Indicator Mengikuti tren . Keinginan untuk memanjakan diri . Belanja sebagai hiburan . Keinginan yang berlebihan . Interaksi berbelanja . Belanja secara spontan . Belanja tanpa berpikir akibat . Belanja terburu-buru . Belanja karna emosi . Untuk merasa lebih baik . Menghabiskan uang . Boros dan tidak perduli apa yang di beli . Gelisah jika tidak belanja . ( ) 0,61 0,73 0,75 0,74 0,73 0,75 0,78 0,78 0,62 0,74 0,79 0,76 0,79 AVE 0,93 0,84 0,71 0,92 0,82 0,73 0,94 0,85 0,77 Sumber : Data primer diolah Hasil uji validitas CFA SEM menunjukkan semua item instrument penelitian telah memenuhi unsur validitas dengan tingkat korelasi Faktor Loding ( ) Ou 0,5, sementara nilai CA (CrombachAos Alph. Ou 0,6. CR (Composite Reliabilita. Ou 0,70 dan AVE (Average Variance Extracte. Ou 0,5. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua kontruk penelitian dapat di katakan valid dan reliable. Hasil Uji KMO and BertlettAos test Uji Kaiser Meyer Olkin (KMO) and Bartlett's Test merupakan uji statistik yang dapat menjelaskan proporsi keragaman data pada setiap variabel common variance . utir pertanyaan dalam kuesione. atau keragaman yang disebabkan oleh faktor tertentu . nderlying facto. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kelayakan data yang dimiliki sehingga dapat dianalisis lebih lanjut Tabel 2. KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Approx. Chi-Square Bartlett's Test of Sphericity Sig. TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Hasil pengujian diperoleh nilai KMO 0,773 Ou 0,5 dengan tingkat signifikan 0,000. Ini berarti seluruh item indikator variable dapat dikatakan layak untuk dijadikan sebagai data Analisis Data dan Pembahasan Analisis Data Berdasarkan pengujian kelayakan model secara keseluruhan dapat dikatakan Good fit dan memenuhi kriteria Goodness-Off-Fit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruk-konstruk yang digunakan dalam penelitian telah mencerminkan variabel laten endogen . otivasi hedoni. serta variabel laten eksogen . mpulsif buying dan compulsive buyin. Tabel 3. Hasil Pengujian Kelayakan Model Secara Keseluruhan Goodness Of Fit Indeks N2 (Chi-square ) RMSEA GFI AGFI CMIN/DF TLI CFI IFI NFI Cut-off-value Diharapkan kecil O 0,08 Ou 0,90 Ou 0,90 O 2. Ou 0,90 Ou 0,90 Ou 0,90 Ou 0,90 Hasil 117,007 0,067 0,915 0,875 1,887 0,949 0,960 0,960 0,919 Kesimpulan Good fit Good fit Good fit Marginal fit Good fit Good fit Good fit Good fit Good fit Sumber : Data primer diolah Tabel 3 diatas menunjukan hasil pengujian kelayakan model secara keseluruhan dapat dikatakan Good fit dan memenuhi kriteria Goodness-Off-Fit atau memenuhi syarat Cut-Off-Value yang ditentukan. Gambar 2 Path Diagram Uji Hipotesis (Sumber : Data Primer Diola. TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Uji hipotesis dilakukan dengan melihat nilai critical ratio . dan nilai sig. p sebagai hasil dari olah data yang dibandingkan dengan batasan statistik yang disyaratkan. Nilai c. r yang >1,96 dan nilai probabilitas yang disyaratkan sig. P>0,05. Tabel 4: menunjukan hasil output analisis jalur SEM yang dilakukan, sehingga dapat diketahui tingkat signifikansi pengaruh dan nilai c. yang merupakan nilai t-value. Tabel 4. Hasil Structural Equation Modeling (SEM) Hipotesis Path Motivasi Hedonic Ie Impulsive Buying Motivasi Hedonic Ie Compulsive Buying Impulsive Buying Ie Compulsive Buying t-value Label Kesimpulan 0,88 7,837 *** Sig. Mendukung H1 0,07 ,405 >0,05 Tidak Sig. Tidak Mendukung H2 0,86 4,475 *** Sig. Mendukung H3 Keterangan (***) tingkat Sig<0,001 Sumber: Hasil olah data Berdasarkan hasil uji hipotesis H1 dan H3 yang terlihat pada Tabel 4 diperoleh nilai P<0,001(***) kurang dari 0,05 dengan koofisien beta ( ) positif masing-masing sebesar 0,88 dan 0,86 dengan c. r atau t-hitung H1= 7,837 dan H3=4,475 lebih besar dari nilai t-tabel>1,96 yang memiliki makna bahwa jika Motivasi Hedonik konsumen semakin tinggi, maka semakin tinggi pula terjadinya IB. IB berpengaruh positif terhadap terjadinya CB. Sehingga H1 dan H3 dapat diterima. Selanjutnya, hasil olah data untuk H2 diperoleh nilai c. r sebesar ,405 jauh dibawah t-tabel > 1,96, nilai koefisien jalur yu. 0,07dengan nilai sig. P>0,05 yang memiliki makna bahwa motivasi hedonic tidak berpengaruh pada IB. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis H2 dalam penelitian ini ditolak atau tidak dapat diterima. Pembahasan . Pengaruh Motivasi Hedonik terhadap Impulsive Buying (IB) Motivasi hedonis adalah dimana seseorang mepunyai dorongan yang kuat untuk berbelanja untuk mendapatkan kesenangan dan merasa bahwa berbelanja merupakan suatu kegiatan yang menarik (Ratih dan Astiti, 2. Kebanyakan remaja cenderung belanja agar dapat memanjakan dirinya serta sebagai bentuk apresiasi dan memenuhi nilai kesenangan . edonik valu. serta belanja untuk mengikuti tren kalangan remaja yang bersifat jangka pendek. Menurut Made dan Purnama . , nilai hedonis dalam diri seseorang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku IB. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pranggabayu dan Andjarwati . Ratih dan Astiti . Chang et . Ratnasari . IB dikategorikan sebagai perilaku pembelian hedonis. Hasil penelitian ini berbeda dengan temuan Anggriani . Darma dan Japarianto . yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara motivasi hedonik terhadap IB. Meskipun motivasi hedonik konsumen sebagai pemicu hedonik value tinggi namun tidak serta merta menjadikanya konsumen yang berperilaku IB. Hal ini sejalan dengan temuan Ahn dan Kwon . yang menyatakan teori sifat, emosi/perasaan memiliki pengaruh positif dan negatif terhadap IB. Hal ini merupakan suatu hal yang wajar, dimana seseorang yang memiliki nilai hedonik yang tinggi terkadang memiliki banyak pertimbangan saat akan melakukkan pembelian (Anggriani, 2. Pengaruh Motivasi Hedonik terhadap Compulsive Buying (CB) Hasil temuan pada penelitian ini tidak mendukung temuan Eren et al. , dan Anggriani, . , di mana motivasi hedonic dapat berpengaruh pada CB. Konsumsi hedonic merupakan factor pendorong terjadinya CB dan terdapat hubungan yang kuat di antara keduanya (Tarka et al. , 2. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa motivasi hedonic tidak berpengaruh pada perilaku CB pada remaja, ini menunjukan TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. bahwa motivasi hedonic yang ada dalam diri seseorang meskipun cukup besar namun tidak serta merta menjadikanya pembeli yang compulsive. Hal ini dapat di pahami bahwa motivasi konsumen dalam berbelanja memang di dasari oleh dua hal yakni motivasi belanja bersifat hedonis dan motivasi belanja bersifat rasional. Motivasi belanja yang bersifat rasional merupakan motivasi berbelanja karena benar-benar membutuhkan atau mendapat manfaat dari produk yang dibeli, (Darma dan Japarianto, 2. Dari berbagai kajian yang pernah di lakukan, remaja memang cenderung hedon dalam berbelanja namun kondisi ini akan berbeda pada remaja lokal Lombok. Hal ini disebabkan karna remaja lokal cenderung terhambat akibat keterbatasan ekonomi sehingga aktifitas belanja berubah menjadi lebih rasional. Hal ini cukup berbeda dengan sebagian remaja yang ada di Kota, di mana belanja dilakukan berorientasi pada ke inginan mengikuti tren, kesenangan, memperbaiki mood dan pengalaman baru sehingga cenderung mengarah pada ketagihan belanja atau CB. Hasil penelitian ini juga bertentangan dengan temuan Balik et al. pembeli yang compulsive cenderung tidak menolak perasaan positif, seperti kenikmatan, kepuasan dan kelegaan dalam Hal ini dapat mengindikasikan bahwa remaja tersebut memang memiliki motivasi hedonic yang tinggi dalam berlanja namun tidak pada produk kosmetika. Sehingga dengan demikian tidak serta merta mengarahkanya pada kecenderungan perilaku CB. Pengaruh Impulsive Buying (IB) terhadap Compulsive Buying (CB) Dalam Kajian Balik et al. pembeli yang compulsive cenderung tidak menolak untuk impulsif yang terkait dengan perasaan positif, seperti kenikmatan, kepuasan dan Selain itu, factor emosi berperan penting dalam pembuatan keputusan IB (Darma & Japarianto, 2. dan (Tran, 2. Hasil penelitian ini juga di dukung oleh Anggriani . , dimana IB berpengaruh terhadap kecenderungan CB. Di mana dalam Djudiah . CB ditandai dengan impulsif, kerentanan emosional, dan proses regulasi emosi yang lemah. Hal ini memainkan peran penting dalam mengembangkan dan mempertahankan CB. Temuan ini mengkonfirmasi hasil Jajak pendapat pada situs oline mengungkapkan bahwa remaja cenderung masih bingung memilih barang, menganggap belanja adalah hiburan, serta mengutamakan gaya atau trend terbaru. Dalam (Djudiah, 2. ketidakmampuan individu untuk mengendalikan impuls merupakan faktor yang berkontribusi terhadap belanja secara compulsive. Hal ini memberikan indikasi bahwa ketidakmampuan untuk mengatur emosi berkontribusi penting dalam berbelanja secara Dalam penelitian Anggriani . konsumen berbelanja secara impulsive, seringkali tidak mempertimbangkan manfaat dari produk yang dibeli karena pembelian yang dilakukkan secara leflek, tiba-tiba, spontan dan tanpa ada niatan belanja sebelumnya. Belanja sering kali dilakukan untuk mencari kesenangan sesaat yang kadang tidak terkontrol yang dapat mengarah pada kecenderungan CB. Kajian Anggriani et al. konsumen yang compulsive cenderung berbelanja lebih kepada kegiatan belanjanya seperti ingin memperbaiki suasan hati menjadi lebih baik, ingin menghabiskan uang sehingga konsumen yang compulsive cenderung membeli sesuatu tetapi tidak perduli apa yang dibeli. Ini dikarenakan konsumen yang compulsive lebih kepada aktivitas belanjanya dari pada keinginan untuk memiliki produknya. serta akan merasa gelisah jika tidak berbelanja. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukan bahwa. Motivasi Hedonik berpengaruh positif dan signifikan terhadap Impulsif Buying. Artinya semakin tinggi Motivasi Hedonik maka semakin tinggi pula Impulsif Buying pada remaja. Motivasi Hedonik tidak berpengaruh terhadap Impulsif Buying. Artinya Motivasi Hedonik yang tinggi, tidak serta merta memicu terjadinya Compulsive buying. Impulsif Buying berpengaruh positif dan signifikan terhadap terhadap Compulsive buying. Artinya semakin tinggi Impulsif Buying maka semakin tinggi pula terjadinya Compulsive buying di kalangan remaja. TARGET : JURNAL MANAJEMEN DAN BISNIS | e-ISSN : 2715-9361 | Vol. 4 No. 1 | Juni 2022 DOI https://doi. org/10. 30812/target. Referensi