Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. 24036/000655chr2023 Received (Januari 20th 2. Accepted (February 12th 2. Published (March 30th 2. Hubungan persepsi sosial siswa berkebutuhan khusus dengan bullying di sekolah inklusi Reza Arifni. Firman Firman*) Universitas Negeri Padang *Corresponding author, e-mail: firman@konselor. Abstrak Bullying is a hurtful behavior carried out repeatedly by a strong party against a weak party, the aim is to control and provide physical and verbal assault treatment, so that later it will cause physical and psychological pain. one of the factors that influence bullying is perception. students who have negative social perceptions of students with special needs will carry out acts of bullying. This study uses a quantitative method with a descriptive correlational approach. the population in the study amounted to 536 students of SMP 5 Padang who perceived students with special needs negatively so that they carried out acts of bullying against students with special needs using a stratified random sampling data collection using product moment correlation formula. the results of this study found: social perceptions of students with special needs are in the medium category with a percentage of 82%, 2. bullying is in a very low category with a percentage of 32. 17%, 3. there is a negative and significant relationship between social perceptions of students with special needs with bullying, with rho=-0. 233 and a significance level of 0. Kata Kunci: Persepsi sosial, siswa berkebutuhan khusus, sekolah inklusi, bullying di sekolah This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2023 by author. Pendahuluan Dewasa ini jumlah anak berkebutuhan khusus meningkat setiap tahunnya. Data Badan Statistik Nasional juga menunjukan bahwasannya dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia, baru 18% yang sudah mendapatkan layanan pendidikan inklusif. Dari 514 kabupaten/kota di seluruh tanah air, masih terdapat 62 kabupaten/kota yang belum memiliki SLB. Dari 514 Kabupaten/Kota di seluruh tanah air, masih terdapat 62 Kabupaten/Kota yang belum memiliki SLB. Sekitar 115 ribu anak berkebutuhan khusus bersekolah di SLB, sedangkan ABK yang bersekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah Inklusi berjumlah sekitar 299 ribu. Masih ada sekitar 82% ABK yang belum mendapatkan hak pendidikan. Pemerintah telah melakukan regulasi terhadap pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Dimana memberikan peluang supaya anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak reguler. Diatur dalam Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa. Penyelenggaraan pendidikan inklusi ini diimplementasikan dalam bentuk sekolah inklusif. Sekolah inklusif memberikan kesempatan kepada semua anak tanpa diskriminatif terutama dalam pelaksanaan Rasmitadila, . menjelaskan bahwa sekolah inklusif adalah sekolah yang memberikan tempat bagi keragaman dan perbedaan dengan memandang mereka sebagai tempat untuk menghasilkan manusia yang mempunyai empati, rasa sayang, serta sikap saling menghargai sesama manusia. Arifni. & Firman. Lingkungan sekolah inklusif ini terdapat berbagai macam kasus yang terjadi, yang paling sering terjadi adalah sikap diskriminatif terutama dilakukan terhadap anak berkebutuhan khusus, atau lebih sering dikenal dengan kasus bullying. Sikap bullying ini sendiri bisa berawal dari ejekan, gurauan yang merendahkan bahkan menghina, dan sikap intimidasi dari pihak yang kuat ke pihak yang lemah. Bullying ini sendiri memiliki beberapa pandangan menurut para ahli, menurut Olweus (Aulia. Akbar, dan Magistarina, 2. menjelaskan bullying sebagai perilaku negatif yang dilakukan secara berulang sepanjang waktu yang dilakukan oleh seseorang pada orang lain. Salah satu faktor mengapa seseorang bisa melalukan tindakan bullying yaitu persepsi, dimana hal ini didukung oleh pendapat Aulia. Akbar, dan Magistarina . bahwasannya persepsi seseorang tentang penggambaran terhadap individu lain yang menarik akan mempengaruhi kecenderungan orang tersebut untuk memperlakukan individu tersebut. Persepsi sendiri merupakan proses pemaknaan terhadap stimulus. Jika stimulusnya berupa benda disebut object perception dan jika stimulusnya berupa manusia maka disebut dengan social perception. Rahman, . menjelaskan persepsi sosial adalah suatu usaha untuk memahami orang lain dan diri kita sendiri. Menurut Alizamar dan Nasbahry, . persepsi sosial merupakan suatu proses seseorang untuk mengetahui, menginterprentasikan dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan pada saat melaksanakan kegiatan PLBK (Praktik Lapangan Bimbingan Konselin. yaitu pada tanggal 21 Juli sampai 21 Desember tahun ajaran 2021/2022 di SMP Negeri 5 Padang, peneliti menemukan sebuah fenomena yang membuat peneliti tertarik untuk membahasnya. Kemudian berdasarkan data yang peneliti dapatkan di sekolah tersebut, terdapat sebanyak 16 orang siswa berkebutuhan khusus, diantaranya slow learner, kesulitan belajar, autisme, gangguan berbicara atau bahasa, dan gangguan penglihatan atau visual. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada tanggal 23 Maret yaitu pada saat jam istirahat berlangsung dengan siswa-siswi di sekitaran lingkungan sekolah di SMP Negeri 5 Padang, persepsi sosial siswa reguler dengan siswa berkebutuhan khusus bermacam Ae macam, ada yang mempersepsikannya secara positif yaitu seperti menerima atas kekurangan anak berkebutuhan khusus tersebut, kemudian juga ada yang mempersepsikannya secara negatif yaitu menganggap anak berkebutuhan khusus memiliki banyak kekurangan, dianggap merupakan pihak yang lemah dan terlihat aneh bagi siswa reguler tersebut. Kemudian berdasarkan persepsi sosial yang diterima anak berkebutuhan khusus tersebut, mereka mendapatkan berbagai macam perlakuan yang berbeda Ae beda, baik perlakuan secara positif maupun secara negatif. Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan tersebut, peneliti ingin melihat, mengungkapkan dan membahas permasalahan secara lebih mendalam mengenai AuHubungan Persepsi Sosial terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus dengan Bullying di Sekolah Inklusif SMP Negeri 5 PadangAy. Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional yang bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau situasi tertentu sebagaimana adanya secara sistematis, akurat, aktual dan kemudian ditentukan hubungan antar variabel yang akan diteliti. Menurut Yusuf, . penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi Penelitian korelasional adalah suatu tipe penelitian yang melihat hubungan antara satu dengan beberapa ubahan yang lain (Yusuf, 2. Jadi penelitian deskriptif korelasional adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai dan sifat populasi tertentu kemudian dicari hubungannya. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu Persepsi Sosial (X) merupakan variabel bebas dan Perilaku Bullying (Y) merupakan variabel terikat. Maka penelitian ini bertujuan untuk http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. mendeskripsikan bagaimana hubungan persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan perilaku bullying di sekolah inklusif SMP Negeri 5 Padang. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil temuan penelitian tentang hubungan persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Persepsi Sosial terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus . Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Skor Jumlah 9,13 47,82 33,47 8,69 Pada tabel 1 dapat dideskripsikan secara umm tingkat persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 5 Padang berada pada kategori sangat tinggi sebanyak 2 orang siswa dengan persentase sebesar 0,86%. Kemudian pada kategori tinggi sebanyak 21 siswa dengan persentase 9,13%, selanjutnya pada kategori sedang sebanyak 110 siswa dengan persentase 47,82%, selanjutnya kategori rendah sebanyak 77 siswa dengan persentase 33,47%, terakhir dengan kategori sangat rendah sebanyak 20 siswa dengan persentase 8,69%. Hasil tersebut mengungkapkan bahwa tingkat persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 5 Padang berada pada kategori sedang sebanyak 110 orang siswa dengan persentase 47,82%. Dapat disimpulkan bahwa secara umum kategori persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus berada pada kategori sedang, yang artinya persepsi sosial siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus seimbang antara persepsi negatif dan persepsi secara positif. Menurut Radhadangu, . persepsi siswa reguler terhadap anak berkebutuhan khusus merupakan pandangan yang timbul dari siswa reguler kepada anak dengan kebutuhan khusus yang diakibatkan oleh proses terserapnya informasi melalui panca indera yang berlangsung setiap saat. Berdasarkan hasil temuan penelitian tentang Bullying. Tabel 2. Distrisbusi Frekuensi dan Persentase Bullying . Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Jumlah Skor 3,91 17,39 23,91 32,17 22,60 Pada tabel 2 dapat dideskripsikan secara umum tingkat bullying terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 5 Padang berada pada kategori sangat tinggi sebanyak 9 orang siswa dengan persentase sebesar 3,91%. Kemudian pada kategori tinggi sebanyak 40 siswa dengan persentase 17,39%, selanjutnya pada kategori rendah sebanyak 74 siswa dengan persentase 32,17%, selanjutnya kategori sedang sebanyak 55 siswa dengan persentase 23,91%, terakhir dengan kategori sangat rendah sebanyak 52 siswa dengan persentase 22,60%. Hasil tersebut mengungkapkan bahwa tingkat bullying Hubungan persepsi sosial siswa berkebutuhan khusus A Arifni. & Firman. terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 5 Padang berada pada kategori rendah sebanyak 74 orang siswa dengan persentase 32,17%. Dapat disimpulkan bahwa secara umum kategori bullying terhadap siswa berkebutuhan khusus berada pada kategori rendah, yang artinya tindakan bullying terhadap siswa berkebutuhan khusus disekolah tersebut tergolong sedikit. Bullying biasanya terjadi berulang kali dimana dengan rasa berkuasa tersebut pelaku lebih sering melakukan tindakan tersebut terlebih lagi melihat korban yang tidak bisa melakukan perlawanan dan memilih diam yang menyebabkan perlakuan bullying tersebut terjadi secara terus menerus (Elvigro. Hubungan Persepsi Sosial terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus dengan Bullying di Sekolah Inklusif Tabel 3. Korelasi Persepsi Sosial terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus dengan Bullying di Sekolah Inklusif. Persepsi Sosial terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus Bullying Pearson Correlation Sig. -taile. N Pearson Correlation Sig. -taile. Persepsi Sosial terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus Bullying Berdasarkan tabel 3 untuk menentukan adanya korelasi antara persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan bullying maka nilai sigifikansi O 0,05, dapat diketahui nilai signifikansi persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan bullying sebesar 0,000, maka 0,000 O 0,005, sehingga adanya korelasi antara persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan Selanjutnya besarnya nilai koefisien korelasi antara variabel persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus (X) dengan bullying (Y)adalah -0,233 dari data tersebut dapat diketahui bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan bullying di SMP Negeri 5 Padang dengan tingkat hubungannya tergolong sedang. Hubungan yang negatif signifikan artinya, semakin tinggi persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus maka semakin rendah tingkat tindakan bullying, sebaliknya semakin rendah persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus maka semakin tinggi tingkat tindakan bullying. Implikasi terhadap Layanan BK Hasil penelitian menyatakan bahwa siswa di SMP Negeri 5 Padang mempunyai persepsi sosial dengan kategori sedang dan bullying dengan kategori rendah, maka diperlukan tindak lanjut yang dapat diberikan guru bimbingan dan konseling berupa pemberian layanan-layanan bimbingan dan Pelayanan bimbingan dan konseling meruapakan salah satu komponen penting pendidikan tujuannya adalah untuk membantu pekembangan potensi diri siswa seoptimal mungkin (Zarniati. Alizamar, & Zikra, 2. Layanan bimbingan dan konseling merupakan upaya pemberian bantuan dari seorang ahli . kepada individu . yang sedang mengalami permasalahan sehingga permasalahan tersebut dapat terentaskan dengan baik dengan mengubah KES-T (Kehidupan Efektif Sehari-hari Tergangg. menjadi KES (Kehidupan Efektif Sehari-har. (Amti. Erman & Prayitno, 2. Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru BK kepada siswa berguna untuk membantu siswa dalam memahami dirinya dan dapat memutuskan sikap apa yang akan diambilnya sehingga dapat dipertanggung jawabkan (Firman, 2. Layanan http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. yang dapat diberikan kepada siswa terkait mengenai bullying serta persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus adalah sebagai berikut. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai hubungan persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan bullying di sekolah inkulisif SMP Negeri 5 Padang, dapat disimpulkan sebagai berikut. Persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 5 Padang secara keseluruhan berada pada kategori sedang dengan frekuensi sebanyak 110 siswa dan persentase sebesar 47,82% dari total sampel yang ada. Hal ini menggambarkan persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 5 Padang cenderung positif. Bullying di SMP Negeri 5 Padang secara keseluruhan berada pada kategori rendah dengan frekuensi sebanyak 74 dan persentase sebesar 32,17% dari total sampel yang ada. Hal ini mengambarkan tindakan bullying yang ada di SMP Negeri 5 Padang cenderung sedikit. Ada sebagian dari siswa yang melakukan bullying, maka siswa tersebut yang harus diberikan pelayanan BK. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus dengan bullying di SMP Negeri 5 Padang dengan koefisien korelasi -0,233 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan Pearson Correlation sebesar 1 dengan tingkat kekuatan hubungan sedang. Artinya semakin tinggi persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus maka semakin rendah bullying. Sebaliknya, semakin rendah persepsi sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus makan semakin tinggi tindakan bullying. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diberikan saran kepada pihak-pihak terkait sebagai berikut. Bagi Guru BK diharapkan dapat menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat membantu siswa dalam mengatasi permasalahan mengenai persepsi sosial yang negatif tehadap siswa berkebutuhan khusus dan tindakan bullying yang ada di sekolah. Dengan cara memberikan pelayanan-pelayanan BK. Bagi Peneliti diharapkan dapat memperoleh ilmu pengetahuan atau pengalaman dalam melakukan penelitian, baik secara teori maupun praktik dan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan. Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan bisa mengembangkan penelitian ini dengan ruang lingkup lebih luas dengan variabel yang berbeda maupun variabel yang sama dengan aspek yang berbeda. Bagi Wali Kelas dan Guru Mata Pelajaran dapat bekerja sama dengan guru BK untuk meningkatkan persepsi sosial yang positif terhadap siswa berkebutuhan khusus untuk mengurangi tindakan bullying yang . Bagi Siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru BK untuk meningkatkan persepsi sosial secara positif terhadap siswa berkebutuhan khusus dan mengurangi bullying yang terjadi. Bagi Orang Tua diharapkan agar memberikan motivasi kepada anaknya dalam menghindari tindakan bullying yang dilakukan siswa dan memberikan arahan supaya dapat saling menghargai dan menghormati sesama makhluk hidup. Referensi