Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 2 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK DAN TIPE PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI GOGO VARIETAS LIMBOTO Syarifa Mayly1 Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian. Universitas AlWashliyah Medan Jl. Raja KM 5,5 No 10 Medan Telp/Fax : 061-7851881 *Email: syarifamayly@yahoo. ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan April di Desa Kwala Begumit. Kecamatan Binjai. Kabupaten Langkat. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis bahan organik dan tipe pemupukan terhadap pertumbuhan dan produksi padi Gogo varietas Limboto Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok faktorial dengan 2 faktor yang diteliti, yaitu Faktor Jenis Bahan Organik (O), dengan 3 taraf yaitu O0 = Tanpa Bahan Organik. O1 = Bahan Organik Insitu. O2 = Bahan Organik Kompos Granular. Faktor Tipe Pemupukan (P), dengan 3 taraf yaitu P0 = Tanpa Pemupukan. P1 = Pemupukan Rekomendasi Petani. P2 = Pemupukan Hara Spesifik Lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan organik berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan produktif per rumpun, bobot 1000 butir, berat gabah per petak sedang untuk perlakuan tipe pemupukan serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Perlakuan terbaik yaitu bahan organik insitu dan pemupukan specifik lokasi. Kata Kunci: Padi Gogo. Limboto. Tipe Pemupukan. Bahan Organik. ABSTRACT This research was conducted from August to April in Kwala Begumit Village. Binjai District. Langkat Regency. North Sumatra Province. The research objective was to determine the effect of severalorganik matter and type fertilization on the growth and production of upland rice Limboto Variety. The research design used was a factorial randomized completely block design with 2 factors studied, namely the Organic matter application (O) with three levels : O0 = without organic matter. O1 = Insitu Organic matter. O2 = Compost Organic matter and Type of Fertilization factor (P) with three factors. P0 = without fertilization. P1 = Farmer Recommendation. P2 = Spesific location nutrient fertilization. The results showed that organic matter application had significant effect on the parameters of number of tiller per clump, but had no significant effect on the parameters of number of productive tillers per clump, 1000-grain weight, and production per plot while for type Fertilization treatment and the interaction of two factors had no significant effect on all observation parameters. The best treatment were insitu organic matter and and specific location nutrient fertilization. Keywords: Upland Rice. Limboto. Fertilizer Type. Organic matter. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 2 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi optimum (Setyorini, 2. Lahan kering dicirikan dengan rendahnya kandungan bahan organik dan hara NPK. Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan lahan kering perlu dilakukan upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kandungan bahan organik Bahan organik sangat diperlukan dan multiguna karena dapat memperbaiki sifat fisik tanah dengan menyimpan air tersedia lebih banyak, meningkatkan effisiensi penggunaan air (Mayly et al. , 2. dan kondisi tanah mudah untuk pergerakan akar tanaman, media tumbuh mikroorganisme tanah, menyediakan unsur hara makro dan mikro, menetralkan keracunan Al dan Fe serta meningkatkan daya menahan kation dan anion. Penambahan bahan organik matang membantu tanaman tidak mudah kekeringan dan mengurangi kebutuhan air tanaman sehingga air dapat dimanfaatkan untuk areal yang lebih luas. Bahan organik sisa panen . erami pad. , limbah kotoran ternak dan hijauan yang tersedia secara insitu dapat dimanfaatkan secara maksimal penggunaan pupuk kimia. Strategi produktivitas padi gogo di lahan kering yaitu menggunakan varietas yang adaftif di lahan penyerapan sinar matahari serta berproduksi Varietas Limboto termasuk varietas yang toleran terhadap cekaman kekeringan (Mayly et , 2. Varietas Limboto. Inpago 4. Batutegi menunjukkan pertumbuhan dan produksi tertinggi pada empat waktu tanam berbeda di Zone agroklimat D1 Oldeman (Mayly et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan organik dan tipe pemupukan terhadap pertumbuhan dan produksi padi Gogo varietas Limboto. PENDAHULUAN Beras sebagai makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, secara nasional hanya sekitar 5% kontribusinya dari produksi padi gogo (Pusdatin, 2. Rendahnya kontribusi padi gogo dikarenakan tingkat produktivitas padi gogo nasional masih sangat rendah sekitar 1. 96 ton/ha (BPS, 2. Rendahnya produktivitas padi gogo disebabkan adanya faktor pembatas ekologis dari lahan budidaya. Padi gogo yang ditanam pada lahan kering menghadapi banyak permasalahan antara lain ketersediaan air rendah, ketersediaan bahan organik rendah, tingkat kemasaman tanah tinggi dan kandungan alumunium yang tinggi. Hal tersebut menyebabkan terganggunya pertumbuhan padi dan perakaran tanaman rusak sehingga akar tidak efisien dalam menyerap unsur hara dan air (Ma et al. , 2. Dalam meningkatkan produktivitas padi gogo perlu dilakukan startegi yaitu menerapkan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat . pesifik Inovasi teknologi padi gogo spesifik lokasi tersebut dirakit dengan menggunakan konsep penetapan rekomendasi pemupukan berupa pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) (Departemen Pertanian, 2. Dalam Pengelolaan hara spesifik lokasi, pupuk diberikan unuk mencapai keseimbangan kadar hara essensial didalam tanah sera optimum guna meningkatkan produktivitas, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah. Kebutuhan dan efisiensi pemupukan ditentukan oleh tiga faktor yang saling berkaitan yaitu ketersediaan hara dalam tanah kebutuhan hara tanaman dan target yang ingin dicapai. Pada daerah tropis dimana kecukupan hara menjadi faktor pembatas maka salah satu kunci untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian melalui pemupukan secara lebih rasional dan Penggunaan pupuk secara rasional dan berimbang dilakukan memperhatikan jenis dan mutu pupuk, kadar unsur hara dalam tanah, kondisi pedo-agroklimat serta unsur hara yang METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di desa Kwala Begumit Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat dari bulan Agustus sampai dengan Februari. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 2 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yang diteliti, yaitu: Faktor Jenis Bahan Organik (O), dengan 3 O0 = Tanpa Bahan Organik O1 = Bahan Organik Insitu O2 = Bahan Organik Kompos Granular Faktor Tipe Pemupukan (P), dengan 3 taraf: P0 = Tanpa Pemupukan P1 = Pemupukan Rekomendasi Petani P2 = Pemupukan Hara Spesifik Lokasi berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan pada semua umur amatan. Rataan jumlah anakan tanaman padi pada umur 8 mst disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rataan Jumlah Anakan Padi pada Perlakuan Jenis Bahan Organik dan Tipe Pemupukan pada umur 12 mst Rekomendasi Pemupukan (P) Pelaksanaan Penelitian Areal penelitian dibagi menjadi tiga blok, jarak antar blok 1 meter dan jarak antar plot dalam satu ulangan 0,5 m. Bedengan untuk plot dibuat dengan ukuran 2 x 2 meter. Pemberian bahan organik diberikan dengan dosis 6 ton/ha yaitu 2,4 kg/plot masing-masing untuk perlakuan bahan organik insitu dan bahan organik kompos granular. Pemberian dilakukan 3 hari sebelum tanam dengan cara menabur secara merata pada plot penelitian. Perlakuan pemupukan diberikan sesuai perlakuan dan dilakukan 2 minggu setelah Hasil analisa kimia tanah yaitu Kadar Ntotal tanah = 0,20 %. P-tersedia =50,37 ppm. K2O tanah = 0,56 me/100 g. Untuk pemupukan rekomendasi petani setempat dengan dosis urea 100 kg/ha . g/plo. TSP 50 kg/ha . kg/plo. , dan NPK 50 kg/plot . g/plo. Untuk Pemupukan spesifik lokasi dibuat berdasarkan hasil analisa kimia tanah yaitu 45. 2 g N/plot . upuk urea 98. 3 g/plo. , 13,96 P2O5/plot . upuk TSP 34,9 g/plo. Pupuk urea siberikan sebanyak 3 tahap yaitu 1/6 bagian . , 3/6 . , 2/6 . Pupuk TSP diberikan seluruhnya pada umur 2 mst. Bahan Organik (O) Rataan 15,89 17,60 14,51 16,00 16,11 22,51 20,59 19,73 18,67 20,59 16,75 18,67 16,89b 20,23a 17,28b 18,13 Rataan P Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kelompok perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji DMRT, sedangkan yang tidak bernotasi menunjukkan berbeda tidak nyata Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa jenis bahan organik berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan padi. Jumlah anakan padi tertinggi diperoleh pada perlakuan O1 . ahan organik insit. yaitu 20,23 rumpun, yang diikuti dengan perlakuan O2 . ahan organik kompos granula. yaitu 17,28 rumpun dan perlakuan O0 . anpa bahan organi. yaitu 16,89 rumpun. Perlakuan tipe pemupukan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan. Jumlah anakan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 (Pemupukan Rekomendasi Petan. rumpun, yang diikuti dengan perlakuan P2 (Pemupukan Spesifik lokas. yaitu 18,67 rumpun dan perlakuan P0 . anpa pemupuka. yaitu 16,00 Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis bahan organik dan tipe pemupukan serta interaksi kedua faktor berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan produktif. Rataan jumlah anakan produktif disajikan pada Tabel 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis bahan organik berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan pada umur 4, dan 8 mst dan berpengaruh nyata pada umur 12 mst, sedangkan tipe pemupukan serta interaksi kedua faktor Tabel 2. Rataan Jumlah Anakan Produktif Padi pada Perlakuan Jenis Bahan Organik dan Tipe Pemupukan Rekomendasi Bahan Organik (O) Rataan Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 2 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Pemupukan (P) berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji DMRT, sedangkan yang tidak bernotasi menunjukkan berbeda tidak nyata. 7,67 8,07 6,73 7,49 7,33 7,87 8,60 7,93 7,53 8,80 7,07 7,80 Rataan P 7,51 8,24 7,47 7,74 Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa jenis bahan organik berpengaruh tidak nyata terhadap bobot 1000 butir. Bobot 1000 butir tertinggi diperoleh pada perlakuan O2 . ahan organik kompos granula. yaitu 24,89 rumpun yang diikuti dengan perlakuan O0 . anpa bahan organi. yaitu 24,83 rumpun dan perlakuan perlakuan O1 . ahan organik insit. yaitu 24,72 Perlakuan tipe pemupukan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot 1000 butir. Bobot 1000 butir tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (Pemupukan Spesifik lokas. yaitu 24,89 rumpun, yang diikuti perlakuan P0 . anpa pemupuka. yaitu 24,88 rumpun dan perlakuan P1 (Pemupukan Rekomendasi Petan. yaitu 24,68 rumpun. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis bahan organik dan tipe pemupukan serta interaksi kedua faktor berpengaruh tidak nyata terhadap berat gabah per petak. Rataan berat gabah per petak disajikan pada Tabel 4. Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa jenis bahan organik berpengaruh tidak nyata terhadap berat gabah per petak. Berat gabah perpetak tertinggi diperoleh pada dan perlakuan perlakuan O1 . ahan organik insit. yaitu 1764 g diikuti perlakuan O2 . ahan organik kompos granula. yaitu 1505 g dan perlakuan O0 . anpa bahan organi. yaitu 1185 g. Tabel 4. Rataan Berat Gabah per Petak pada Perlakuan Jarak Tanam Rekomendasi Pemupukan Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kelompok perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji DMRT, sedangkan yang tidak bernotasi menunjukkan berbeda tidak nyata. Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa jenis bahan organik berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan produktif. Jumlah anakan produktif tertinggi diperoleh pada perlakuan O1 . ahan organik insit. yaitu 8,24 rumpun, yang diikuti dengan perlakuan O0 . anpa bahan organi. yaitu 7,51 rumpun dan perlakuan O2 . ahan organik kompos granula. yaitu 7,47 Perlakuan tipe pemupukan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan produktif. Jumlah anakan produktif tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 (Pemupukan Rekomendasi Petan. 7,93 rumpun, yang diikuti dengan perlakuan P2 (Pemupukan Spesifik lokas. yaitu 7,80 rumpun dan perlakuan P0 . anpa pemupuka. yaitu 7,49 rumpun. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis bahan organik dan tipe pemupukan serta interaksi kedua faktor berpengaruh tidak nyata terhadap bobot 1000 butir. Rataan bobot 1000 butir disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rataan Bobot 1000 butir pada Perlakuan Jarak Tanam Rekomendasi Pemupukan Rekomendasi Pemupukan (P) Bahan Organik (O) Rekomendasi Pemupukan (P) Bahan Organik (O) Rataan Rataan 25,00 24,83 24,67 24,88 24,67 24,67 24,83 24,68 25,00 24,50 25,17 24,89 Rataan P Rataan P 24,83 24,72 24,89 24,81 Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kelompok perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kelompok perlakuan yang sama Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 2 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 uji DMRT, sedangkan yang tidak bernotasi menunjukkan berbeda tidak nyata. Interaksi kedua faktor berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, bobot 1000 butir, berat gabah per Perlakuan tipe pemupukan berpengaruh tidak nyata terhadap berat gabah perpetak. Berat gabah per petak tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (Pemupukan Spesifik lokas. yaitu 1689 g, yang diikuti perlakuan P1 (Pemupukan Rekomendasi Petan. yaitu 1508 g dan perlakuan P0 . anpa pemupuka. yaitu 1257 g. Penggunaan bahan organik insitu dan bahan organic kompos granular meningkatkan jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif, bobot 1000 butir dan hasil gabah per petak dibandingkan dengan tanpa pemberian bahan Pupuk organik memiliki fungsi kimia yang penting untuk penyediaan hara makro (N,P. Ca. Mg, dan S) dan mikro (Zn. Cu. Mo. Mn. meskipun jumlahnya relatif kecil dan juga dapat meningkatkan KTK tanah dan dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanah seperti Al. Fe. Mn (Setyorini dan Abdul Rachman, 2. Pemupukan spesifik lokasi meningkatkan jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif, bobot 1000 butir dan hasil gabah per petak dibandingkan dengan tanpa pemupukan. Pemupukan spesifik lokasi adalah pemberian pupuk dalam tanah yang sesuai kebutuhan tanaman, dan optimum untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil, meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan tanah. Apabila suatu hara berada dalam kondisi berlebih atau kekurangan, maka akan mempengaruhi ketersediaan bagi tanaman ( Setyorini dan Abdul Rachman, 2. DAFTAR PUSTAKA