Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Penyuluhan Makanan Bergizi Melalui Media Kontekstual Berbahasa Banjar: Upaya Penguatan Literasi Gizi Di Sekolah Dasar Dewi Setya Paramitha1*. Siti Fatimah2. Jamiatul Hamidah3. Suci Fitri Rahayu4. Muhammad Bayu Rezki5. Annida Mawaddah6 1,4,5 Prodi Keperawatan. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. UM Banjarmasin Prodi Kebidanan. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. UM Banjarmasin Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. UM Banjarmasin. Jl. Gubernur Syarkawi. Lingkar Utara-Handil Bakti. Kab. Barito Kuala. Kalimantan Selatan * Penulis Korespodensi : jamiatulhamidah@umbjm. Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi gizi siswa Sekolah Dasar melalui penyuluhan makanan bergizi yang dikemas secara kontekstual menggunakan media berbahasa Banjar. Kegiatan melibatkan tim dosen lintas disiplin dari Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, guru kelas, serta orang tua siswa dari dua sekolah mitra, yaitu SDN Pangeran 3 dan SDN Sungai Miai 10 Banjarmasin. Metode pelaksanaan terdiri dari observasi awal, pengembangan media edukasi berupa buku saku digital, pelaksanaan penyuluhan sebanyak tiga sesi, serta pendampingan dan evaluasi. Materi penyuluhan mencakup jenis makanan bergizi dan manfaat zat gizi seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, disampaikan melalui permainan dan diskusi reflektif. Evaluasi dilakukan menggunakan soal pre-test dan post-test, dengan analisis deskriptif dan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan gizi siswa, dari skor rata-rata 58,3 menjadi 84,7, serta perubahan perilaku konsumsi ke arah yang lebih positif. Media edukasi berbasis budaya lokal terbukti efektif dalam membangun pemahaman dan keterlibatan siswa, serta mendukung keberhasilan program MBG secara Kegiatan ini menghasilkan model edukasi gizi yang holistik dan layak direplikasi di sekolah lain. Kata Kunci: edukasi, gizi, siswa Abstract This community service activity aims to improve the nutritional literacy of elementary school students through contextualized nutritional education using media in the Banjar language. The activity involves a team of interdisciplinary lecturers from Muhammadiyah University Banjarmasin, classroom teachers, and parents of students from two partner schools, namely SDN Pangeran 3 and SDN Sungai Miai 10 Banjarmasin. The implementation method consisted of initial observation, development of educational media in the form of digital pocket books, implementation of three counseling sessions, as well as mentoring and evaluation. The counseling material covered types of nutritious foods and the benefits of nutrients such as carbohydrates, proteins, vitamins, and minerals, delivered through games and reflective discussions. The evaluation was conducted using pre-test and post-test questions, with descriptive analysis and Wilcoxon tests. The results showed a significant increase in students' nutritional knowledge, from an average score of 58. 3 to 7, as well as a change in consumption behavior towards a more positive direction. Local culture-based educational media proved to be effective in building students' understanding and engagement, as well as supporting the sustainable success of the MBG program. This activity produced a holistic nutritional education model that is replicable in other schools. Keywords: education, nutrition, students https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 PENDAHULUAN Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1. 000 hari pertama Meski Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi pesat, masalah gizi anak masih tinggi dan kurang mendapat perhatian dalam kebijakan publik . Berdasarkan SG-SDG Progress Report 2024. Kalimantan Selatan tercatat memiliki prevalensi stunting sebesar 30,0%, yang berarti hampir 1 dari 3 anak balita mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis . Angka ini menempatkan Kalimantan Selatan di atas ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20%, sebagai indikator masalah kesehatan masyarakat yang serius. Selain itu, prevalensi wasting . izi buruk aku. di Kalimantan Selatan juga berada di kisaran 10,1%, menunjukkan adanya masalah gizi yang bersifat kronis dan akut secara bersamaan. Kondisi ini menuntut perhatian khusus dari pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat intervensi gizi, terutama pada 1. 000 hari pertama kehidupan anak, serta meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi. Stunting memiliki dampak serius terhadap perkembangan anak dan masa depan bangsa. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki gangguan kognitif dan psikomotorik, sehingga kemampuan belajar dan koordinasi motoriknya rendah, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Selain itu, keterbatasan fisik dan intelektual membuat mereka sulit bersaing dalam bidang akademik maupun Ketika dewasa, anak stunting juga lebih rentan terhadap penyakit degeneratif seperti obesitas dan diabetes akibat gangguan metabolisme yang dialami sejak Secara berkontribusi pada rendahnya kualitas SDM, meningkatkan beban kesehatan nasional . Stunting merupakan dampak nyata dari masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Selatan. Selain faktor Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 ekonomi dan akses layanan kesehatan, latar belakang budaya masyarakat juga turut memengaruhi pola konsumsi dan pemenuhan gizi anak usia sekolah. Dalam konteks ini. Program MBG (Makan Bergizi Grati. yang digagas pemerintah menjadi langkah strategis untuk mengatasi ketimpangan gizi, terutama di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Dengan menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi anak sekolah, program ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kesadaran gizi di tengah Jika dijalankan secara konsisten dan disesuaikan dengan kondisi lokal. MBG berpotensi besar menurunkan angka stunting dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia di masa depan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan kepada perwakilan Sekolah yang menerima program MBG, ditemukan berbagai fakta menarik di lapangan. Menu makanan MBG bervariasi dilengkapi buah, sayur, dan susu. Sebagian besar menu MBG adalah menu nusantara. Bagian dari MBG yang sering tidak dimakan atau tidak dihabiskan oleh siswa adalah sayuran. sekolah A, makanan yang tidak habis dikembalikan kepada penyedia dapur MBG dan tidak boleh dibawa pulang oleh guru dan siswa, sedangkan di sekolah B, siswa diwajibkan membawa kotak makan dari rumah, agar makanan yang tersisa bisa dibawa pulang. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun program MBG telah dirancang dengan komposisi gizi seimbang, terdapat tantangan dalam penerimaan jenis makanan tertentu oleh siswa, khususnya sayuran. Beberapa guru dan tenaga kependidikan menyampaikan bahwa siswa cenderung memilih lauk dan buah, sementara sayuran sering tersisa atau Hal ini dapat disebabkan oleh kebiasaan makan di rumah yang kurang memperkenalkan variasi sayuran, tekstur, atau rasa yang tidak familiar, serta minimnya edukasi tentang manfaat sayuran bagi kesehatan dan konsentrasi belajar. Dalam konteks ini, edukasi gizi menjadi komponen penting yang harus berjalan seiring dengan penyediaan makanan bergizi. https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 Sayangnya, literasi gizi anak-anak di tingkat Sekolah Dasar masih tergolong rendah, terutama karena keterbatasan akses informasi yang sesuai dengan usia dan latar budaya mereka. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif yang tidak hanya informatif, tetapi juga kontekstual dan Penelitian Annisha menunjukkan bahwa edukasi tentang pangan lokal dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang dan mengubah perilaku konsumsi ke arah yang lebih sehat. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat desa sangat tertinggal di Aceh berhasil memahami nilai gizi makanan lokal dan mulai mengadopsi pola makan bergizi berbasis potensi daerah. Temuan ini relevan untuk konteks sekolah di Kalimantan Selatan, di mana integrasi pangan lokal dalam MBG dapat memperkuat pembiasaan makan sehat sekaligus pelestarian budaya. Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas kesehatan anak, tim dosen dari bidang pendidikan, keperawatan, dan kebidanan, melakukan kegiatan penyuluhan gizi kepada siswa Sekolah Dasar di Banjarmasin. Kegiatan penelitian maupun pengabdian sebelumnya yang sudah dilakukan penulis yaitu: Edukasi minuman herbal untuk meningkatkan imunitas . Komoditas udang lokal sebagai bahan pangan alternatif generasi bebas stunting . Program pencegahan stunting di 1000 hari pertama kehidupan . , dan Faktor yang mempengaruhi status gizi anak pra-sekolah . Kegiatan menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya pola makan bergizi seimbang, dengan pendekatan yang interaktif dan berbasis kearifan lokal. Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman anak terhadap konsep gizi, serta mendukung keberhasilan program makanan bergizi gratis secara lebih berkelanjutan dan berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan penyuluhan makanan bergizi melalui media https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 kontekstual berbahasa Banjar adalah menanamkan pemahaman kepawa siswa tentang pentingnya gizi seimbang. samping itu, diharapkan dapat membentuk kebiasaan makan sehat sejak usia dini. Melalui pendekatan berbasis bahasa dan budaya lokal, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang, tetapi juga merasa lebih dekat dan terlibat secara emosional dalam proses Media kontekstual berupa buku saku elektronik berbahasa Banjar yang digunakan untuk menyampaikan pesan gizi dengan cara yang menyenangkan dan mudah Selain memperkuat literasi gizi, kegiatan ini juga berkontribusi pada pelestarian bahasa daerah dan nilai-nilai budaya makan khas Banjar yang mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur. Guru dan orang tua turut dilibatkan sebagai mitra edukatif, sehingga penyuluhan ini tidak hanya berdampak di ruang kelas, tetapi juga mendorong perubahan perilaku konsumsi di lingkungan keluarga. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi model edukasi gizi yang holistik, kontekstual, dan berkelanjutan. METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan participatory learning and action (PLA) (Townsend et al. , 2. dan kontekstual, yang mengutamakan keterlibatan aktif siswa, guru, dan orang tua dalam proses edukasi gizi berbasis budaya lokal. Lokasi penyuluhan dilakukan di dua sekolah yaitu SDN Pangeran 3 dan SDN Sungai Miai 10 Banjarmasin. Jumlah peserta sasaran yang terlibat dalam kegiatan penyuluhan sebanyak 97 orang siswa, 5 orang guru, dan 2 orang tua/wali siswa. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 dengan kepala Sekolah dan perwakilan guru. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memahami pentingnya gizi seimbang, meskipun mereka menerima makanan bergizi setiap hari. Sayuran merupakan komponen makanan yang paling sering tidak dihabiskan, sementara lauk dan buah lebih disukai. Guru menyampaikan bahwa kebiasaan makan di rumah sangat mempengaruhi preferensi siswa terhadap jenis makanan tertentu. Tim juga melihat langsung menu makanan yang tersedia pada hari tersebut saat tim datang ke sekolah. Gambar 1. Alur Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Metode pelaksanaan terdiri dari beberapa tahapan yaitu observasi dan studi pendahuluan, pengembangan media edukasi buku saku digital, pelaksanaan penyuluhan, dan pendampingan serta evaluasi kegiatan. Materi yang disajikan dalam penyuluhan adalah uraian tentang kebutuhan tubuh manusia terhadap makanan bergizi yang mengandung karbohidrat, vitamin, dan Strategi penyuluhan dikemas secara menarik melalui games atau permainan yang disukai siswa Sekolah Dasar. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan mengukur menggunakan soal pre-tes dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan persentase jumlah jawaban siswa dan uji statistic menggunakan uji Wilcoxon untuk pengetahuan dan perilaku gizi sebelum dan sesudah penyuluhan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan seluruh tahapan yang telah dilaksanakan, hasil kegiatan pengabdian Masyarakat ini menunjukkan peningkatan pemahaman gizi siswa Sekolah Dasar. Media edukasi yang diberikan menunjukkan efektivitasnya terhadap literasi gizi siswa. Secara spesifik, hasil kegiatan diuraikan berdasarkan tahapan yang ditetapkan sebagai berikut. Pada kegiatan observasi dan studi pendahuluan, tim pengabdian berdiskusi Gambar 1. Contoh Menu MBG untuk Siswa SD kelas 4-6 Sebagai respons terhadap temuan awal, tim pengabdian mengembangkan buku saku digital berbahasa Banjar yang memuat informasi tentang makanan pokok dan makanan tambahan yang mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral. Di dalam buku saku tersebut juga diberikan contoh makanan khas Banjar yang bergizi seperti ikan patin, buah pisang panurun . isang kapo. , dan sayur kelakai . ejenis paki. Media ini dilengkapi ilustrasi visual dan narasi sederhana agar mudah dipahami oleh Buku ini juga menjelaskan perbedaan antara makanan sehat dan tidak sehat, serta memberikan panduan sederhana tentang batas konsumsi gula dan garam harian. Penjelasan disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Banjar, sehingga siswa dapat memahami konsep gizi melalui bahasa yang akrab dan dekat dengan keseharian mereka. Selain itu, terdapat bab dalam buku ini khusus tentang AuKebiasaan Makan yang BaikAy mengaitkan materi gizi dengan https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 program MBG (Makan Bergizi Grati. di sekolah, mendorong siswa untuk tidak memilih-milih makanan dan menghabiskan sayur serta lauk pauk yang tersedia. Buku ini juga dilengkapi dengan kuis interaktif, halaman refleksi emosi, dan komitmen sehat, yang mendorong siswa untuk mengevaluasi perasaan mereka setelah belajar dan menetapkan kebiasaan makan sehat secara mandiri. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan berbasis budaya, buku ini menjadi media edukatif yang efektif dalam meningkatkan literasi gizi anak sejak melalui LCD proyektor, materi yang disampaikan adalah berbagai jenis makanan yang mengandung gizi meliputi karbohidrat, vitamin, dan mineral. Siswa dalam kegiatan ini diajak bermain menempelkan gambar makanan ke kolom yang sesuai dengan kandungan gizinya. Hasilnya, sebagian siswa belum memahami bahwa makanan yang mengandung karbohidrat sebagai makanan pokok bukan hanya nasi, tetapi ada jagung dan kentang. Pada saat bermain, siswa salah menempatkan jagung ke kolom buah, dan kentang serta ubi ke kolom sayuran. Gambar 2. Diskusi Bersama Guru dan Kepala Sekolah tentang Makanan Bergizi Penyuluhan kedua, tim memberikan menggunakan media edukasi digital yang telah dikembangkan. Media edukasi berupa e-book atau flipbook yang dapat diakses menggunakan gawai dan ditampilkan di layar Pada sesi ini, siswa menunjukkan antusisme terhadap materi yang diberikan karena memuat gambar dan warna yang menarik minat mereka. Hasilnya, siswa terhadap jenis makanan pokok yang karbohidrat, protein, dan Beberapa siswa bahkan bertanya dan berpendapat terhadap makanan yang disantapnya setiap hari. Siswa menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat mengenali makanan lokal yang mereka konsumsi seharihari. Sebelum memberikan penyuluhan ketiga, tim pengabdian menyerahkan softfile berupa e-book atau flipbook kepada guru yang menjadi mitra tim pengabdian. Para guru diajarkan cara penggunaan media edukasi dan untuk membagikan ke grup WhatsApp orang tua atau wali siswa. Selanjutnya, guru meminta orang tua untuk menggunakan media edukasi tersebut di Berdasarkan hasil diskusi dengan guru yang menjadi mitra, selama ini memang edukasi gizi kepada siswa belum pernah dilakukan dengan menyediakan materi dan waktu secara khusus. Biasanya hanya disisipkan sedikit pada pelajaran IPA atau Guru pendekatan ini lebih menarik dan kontekstual, karena siswa merasa lebih dekat Tersedianya buku saku digital menambah variasi dalam edukasi kesehatan sekaligus pembelajaran Bahasa Banjar. Tahapan selanjutnya adalah kegiatan penyuluhan yang dilakukan sebanyak 3 kali masing-masing Penyuluhan pertama dilakukan oleh tim pengabdian menggunakan media edukasi sederhana seperti salindia yang ditampilkan https://doi. org/10. 37859/jpumri. Gambar 3. Pemberian Materi p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Ketentuannya adalah, minimal sekali dalam satu minggu orang tua mengajarkan kepada anak tentang makanan bergizi. Kerja sama antara tim, guru, dan orang tua dalam meningkatkan pengetahuan siswa secara optimal terhadap makanan bergizi. Penyuluhan ketiga, dilakukan oleh guru guru kelas dengan pendekatan reflektif dan partisipatif, memanfaatkan buku saku digital yang telah diperkenalkan sebelumnya. Dalam sesi ini, guru mengajak siswa untuk menghubungkan materi gizi dengan kebiasaan makan mereka di rumah, serta menuliskan jenis makanan yang biasa dikonsumsi dalam bahasa Banjar. Aktivitas ini mendorong siswa untuk lebih sadar terhadap kandungan gizi dalam makanan sehari-hari dan memperkuat keterampilan literasi gizi berbasis lokal. Guru juga memfasilitasi diskusi kelompok kecil, di mana siswa saling berbagi cerita tentang makanan favorit mereka dan menilai apakah makanan tersebut mengandung karbohidrat, protein, atau vitamin. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep gizi, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menilai pilihan makanannya. Respon siswa menunjukkan bahwa pendekatan yang melibatkan bahasa dan budaya lokal mampu meningkatkan keterlibatan dan pemaknaan terhadap materi yang disampaikan. Gambar 4. Pemberian Materi oleh Guru Evaluasi dilakukan dengan menggunakan soal pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa tentang gizi. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata skor pre-test adalah 58,3 dan meningkat menjadi 84,7 pada post-test. Analisis Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi . < . , yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara pengetahuan siswa sebelum dan sesudah penyuluhan. Selain itu, guru mencatat adanya peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya makan bergizi dan mulai muncul kebiasaan positif seperti memilih lauk berprotein dan mencoba sayuran lokal. Karakteristik siswa yang dievaluasi dalam kegiatan ini laki-laki sebanyak 39 orang atau 40,21 %, dan perempuan sebanyak 58 orang atau 59,79%. Secara detail karakteristik usia siswa digambarkan dalam tabel berikut. Tabel 1. Respondent Characteristics Based on Age Usia 21,65 41,24 25,77 9,28 2,06 Total 100,00 Table 2. Univariate Analysis Results Sebelum Sesudah Pengetahuan Baik 57 58,76 77 79,38 Cukup 25 25,77 13 13,40 Kurang 15 15,46 7 7,22 Perilaku Sangat positif 28 28,87 72 74,23 Cukup positif 64 65,98 23 23,71 Kurang 5,15 2,06 Tabel 2 memperlihatkan bahwa sebelum diberikan intervensi sebanyak 57 responden . ,79%) memiliki pengetahuan dalam kategori baik dan 64 responden . ,98%) memiliki perilaku cukup positif. Sementara itu, setelah diberikan pendidikan kesehatan dan pemberian akses menggunakan flipbook yang dipantau menggunakan lembar observasi didapatkan hasil sebanyak 77 responden . ,38%), berada pada kategori pengetahuan baik dan 77 responden . ,23%) memiliki perilaku sangat positif. Kegiatan ini menghasilkan model https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 penyuluhan gizi berbasis budaya lokal yang dapat direplikasi di sekolah lain. Media edukasi berbahasa Banjar terbukti efektif dalam meningkatkan literasi gizi dan Integrasi nilai-nilai lokal dalam edukasi gizi tidak hanya memperkuat pemahaman siswa, tetapi juga melestarikan budaya makan Banjar sebagai bagian dari pendidikan karakter. SIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan literasi gizi siswa Sekolah Dasar melalui pendekatan edukatif yang kontekstual dan berbasis budaya lokal. Media edukasi berupa buku saku digital berbahasa Banjar terbukti efektif dalam menyampaikan materi tentang makanan bergizi secara menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak. Penyuluhan yang dikemas dengan permainan interaktif dan refleksi kebiasaan makan mampu membangun pemahaman siswa terhadap jenis makanan sehat, serta menumbuhkan sikap peduli dan gigih dalam memilih makanan bergizi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan gizi siswa, baik secara deskriptif maupun statistik. Dengan melibatkan guru sebagai fasilitator dan mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam materi, kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman gizi, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya dan pembentukan karakter anak sejak dini. Program ini layak untuk direplikasi di sekolah lain sebagai model edukasi gizi yang holistik dan UCAPAN TERIMAKASIH Ungkapan terima kasih kami sampaikan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin yang telah mendukung terlaksananya kegiatan pengabdian ini. Ungkapan terima kasih juga kami sampaikan kepada pihak SDN Pangeran 3 Banjarmasin dan SDN Sungai Miai 10 Banjarmasin atas kerja sama dan kolaborasi dalam kegiatan pengabdian ini. https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 DAFTAR PUSTAKA