Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Pendidikan Dalam Keluarga: Potret Keluarga Perspektif Al-QurAoan Azhari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam E-mail: soppengazhari@gmail. ABSTRACT The dimensions and scope of education are currently only understood as a classical formal In fact, it is a system of order that is inseparable from the social life of human society. One of these dimensions is the institution of the family. In Islam, family education which is applied in the household structure has a crucial position as a pillar of civilization building. The Qur'an mentions several portraits of family education that today's society should emulate, namely Lukmanul Hakim. Prophet Ibrahim alaihissalam . , and Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW). The description of the family portrait yields information that the first and foremost thing in the family education process is the formation of a monotheistic and civilized person in accordance with Islamic values. Key word: Education. AL QurAoan Family ABSTRAK Dimensi dan ruang lingkup pendidikan saat ini hanya dipahami sebatas sekolah formal klasikal semata. Padahal sejatinya, ia merupakan sistem tatanan yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosio masyarakat manusia. Salah satu dimensi tersebut adalah institusi keluarga. Dalam Islam, pendidikan keluarga yang teraplikasi dalam struktur rumah tangga memiliki posisi yang krusial sebagai pilar bangunan peradaban. Al-QurAoan menyebutkan beberapa potret pendidikan keluarga yang patut diteladani masyarakat saat ini, yaitu Lukmanul Hakim. Nabi Ibrahim alaihissalam . ), dan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW). Uraian tentang potret keluarga tersebut menghasilkan keterangan bahwa hal yang paling pertama dan utama dalam proses pendidikan keluarga adalah pembentukan pribadi yang bertauhid dan beradab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kata Kunci: Pendidikan. Keluarga Al QurAoan PENDAHULUAN Saat ini, ada kesan bahwa pendidikan hanya diidentikkan dengan sekolah formal klasikal semata. Siapa yang menempuh jenjang pendidikan formal di sekolah, dialah orang yang berpendidikan. Pandangan ini tentu bermasalah, sebab pendidikan adalah suatu tatanan sistem yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat manusia. Itulah sebabnya dikatakan, education is life, life is education, pendidikan adalah kehidupan, kehidupan adalah Manusia sendiri, oleh pakar pendidikan, disebut sebagai makhluk pedagogis atau homo educandum, makhluk yang harus dididik. Rangkaian proses itulah memunculkan konsep long life education . endidikan sepanjang haya. yang dilihat dalam kehidupan masyarakat sebagai proses tanpa akhir. Muzayyin Arifin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2010, cet. V, hlm. Lihat juga. Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, cet. I, hlm. Ia menjelaskan Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Salah satu tatanan sistem itu terdapat dalam institusi keluarga. Artinya, keluarga memiliki tempat yang istimewa dalam kajian tentang pendidikan yang mengindikasikan bahwa pendidikan keluarga itu penting. Bahkan, baik buruknya moralitas suatu bangsa sangat erat kaitannya dengan sejauh mana peran yang diberikan madrasah keluarga ini. Menurut para ahli Psikologi, sebagaimana yang dikutip Ida S Widayanti dalam majalah Karima: Edisi Khusus Suara Hidayatullah, bahwa dampak negatif kehancuran rumah tangga tidak hanya berdampak keluarga di masa kini, namun juga berimbas pada masyarakat dan generasi Lebih lanjut, penulis buku-buku parenting ini menegaskan. Islam sangat menekankan pentingnya memperkuat pondasi keluarga dan menganjurkan untuk memperkokoh pilarpilarnya sehingga benih-benih kehidupan memunculkan tunas, berkembang, dan terus tumbuh di dalam naungan rumah tangga. Memperkuat pondasi rumah tangga merupakan sebuah perjuangan yang harus dilakukan umat Islam karena ketahanan keluarga akan mendorong lahirnya generasi tangguh yang akan memberi kekuatan bagi masyarakat Islam. Memang sangat bisa dipahami bahwa orang tua atau keluarga merupakan institusi pertama yang menentukan baik tidaknya pertumbuhan seorang anak. Bila institusi keluarga mencerminkan nilai-nilai keislaman . idup dengan fitra. , maka anak dan anggota keluarga akan tumbuh dengan kepribadian Islami. Dari sinilah mulai tersemaikan karakter seorang anak, dan karakter dasar ini akan sangat menentukan perjalanan hidupnya di kemudian hari. Karena besarnya pengaruh keluarga dalam pendidikan anak, maka Islam memandang bahwa bagian dari pendidikan keluarga adalah pendidikan sebelum menikah. Hal ini dinyatakan Allah TaAoala dalam al-QurAoan surah al-Furqan ayat 74: a a a ca AOI ua aI UIA e A EaIa I eI eaaOIa aOacaaOacIa Caaca eaOa sI aOA e AOI Oa aCOEaO aI aacIa aNA a A a eEIa E eE aIacCA a AaOEA ]:u[ Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati . , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Ayat tersebut, secara tersirat mengindikasikan sebuah perencanaan keluarga. Bahwa setiap orang harus memiliki harapan untuk berumah tangga dengan dua muatan nilai, yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup . ong life educatio. Hal ini dapat dilihat dari haditsnya yang menyuruh seseorang menuntut ilmu dari ayunan sampai liang lahat. Ida S Widayanti. AuRumahku. Madrasah PertamakuAy. Karima: Edisi Khusus Suara Hidayatullah. Edisi II. Agustus 2013. Ibid. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 kesenangan duniawi, dan yang lebih penting adalah berkeluarga dalam kepemimpinan taqwa. Karena pada akhirnya orang tua memiliki kewajiban untuk menghidupi anggota keluarga dan memiliki tanggung jawab tentang keselamatan anggota keluarga dari api neraka. Hal ini kemudian secara khusus Allah TaAoala tegaskan dalam al-QurAoan Surah at-Tahrim ayat 6: a ca UAac aOEe a a aa aEaeO aN aI aaEa aEA a aAOI aIIaO CaO aI aA a aE eI aOa eNEO aE eI Ia U aOCA a AOa aOac aN EA a AO aN EIA a U Aa aaEA ]:[ AAO aI EEacNa aI aaIaaN eI aOOa eA aEaO aI aI Oa eaI aO aIA a A a U acacE Oa eA Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang Keluarga sebagai institusi pendidikan telah dicontohkan secara lengkap oleh Rasulullah Shallallahu AoAlahi Wasallam. Ia membangun keteladanan secara pribadi serta mendakwahkan dan mendidik anggota keluarganya sebelum melakukan pendidikan dan dakwah secara Seruan ibdaAo binafsika, ishlahunnafsi, ishlahul baiti dari Rasulullah adalah penegasan bahwa pendidikan pertama yang harus diwujudkan adalah pendidikan dalam Berawal dari proses tarbiyah inilah kelak melahirkan anak yang shaleh dan beradab sebagai filter dasar sebelum anak memasuki era modernisme dan peradaban secara global. Tulisan ini akan mengkaji proses tarbiyah Allah kepada manusia-manusia pilihan-Nya yang tergambar dalam al-QurAoan. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan potret keluarga bimbingan wahyu yang mesti diteladani oleh masyarakat saat ini. METODE PENELITIAN Kajian ini dikategorikan penelitian perpustakaan . ibrary researc. karena data yang diteliti bersumber kepada al-qurAoan, buku dan hasil penelitian sarjana dan ulama muslim. Data yang digunakan terbagi dua, data primer dan sekunder. Data primer mencakup ayat-ayat al-qurAoan yang membicarakan tentang ayat-ayat tentang pendidikan. Data sekunder sebagai pendukung data primer, diambil dari buku dan hasil peneitian relevan yang berhubungan dengan fokus Analis data menggunakan metode analisis teks. HASIL DAN PEMBAHASAN Potret Keluarga Perspektif Al-QurAoan Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Keluarga dalam bahasa Arab disebut alAeusrah yang berasal dari kata alAeasru, yang berarti ikatan atau yang diikat. 4 Secara literal keluarga adalah unit sosial terkecil yang terdiri dari orang yang berada dalam seisi rumah, yang sekurang-kurangnya terdiri dari suami istri. Menurut Abuddin Nata. Pakar Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh ikatan pernikahan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai suatu gabungan untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan ketenteraman semua anggota yang ada dalam keluarga tersebut. Keluarga yang didefenisikan di atas masih bersifat umum, yang berlaku untuk semua bentuk komunitas kehidupan. Dalam pembahasan ini, kita akan memberi batasan tentang keluarga muslim. Abdurrahman An-Nahlawi mengungkapkan bahwa keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktifitasnya pada pembentukan keluarga sesuai dengan tuntunan syariat Islam, yaitu dalam rangka terwujudnya penghambaan diri kepada Allah. Jadi, keluarga Muslim adalah sebuah komunitas terkecil dalam sistem sosial kemasyarakatan, terdiri dari suami istri yang tergabung dalam sebuah rumah tangga yang diikat oleh akidah dan syariAoat Islam untuk mewujudkan pengabdian kepada Allah. Bagaimana relevansinya dengan konsep pendidikan Islam? Makna pendidikan Islam sendiri menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah pengenalan dan pengakuan tempattempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud keberadaannya. 8 Jadi, pendidikan keluarga pada intinya adalah sebuah proses membimbing komunitas terkecil dalam sistem sosial kemasyarakatan dalam sebuah rumah tangga Muslim menuju kepada penghambaan dan pengenalan Tuhannya. Rumah dalam Islam: Basis Pendidikan Keluarga Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 2002, 25, hlm. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1991, cet. 12, hlm. Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hlm. Abdurrahman An-Nahlawi. Pendidikan Islam di Rumah. Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press, 1995, hlm. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam dan Sekularisme . Bandung: PIMPIN, 2011, hlm. Lihat juga. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2010, hlm. Lihat juga. Rahmat Rosyadi. Pendidikan Islam: Dalam Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional. Bogor: Penerbit UIKA, 2011. I, hlm. Lihat juga. Akhmad Alim. Pendidikan Jiwa Ibn Jauzi . -597 H/ 1116-1200 M) dan Relevansinya terhadap Pendidikan Spiritual Manusia Modern. Disertasi Doktor PPS UIKA Bogor, 2011, hlm. Lihat juga. Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000, cet. i, hlm. Tafsir dalam menganalisa definisi pendidikan menurut al-Attas ini, ia menyebut definisi tersebut berbau filsafat. Intinya adalah, lanjut Tafsir, al-Attas menghendaki bahwa pendidikan menurut Islam adalah usaha agar orang mengenali dan mengetahui tempat Tuhan dalam kehidupan ini. Definisi tersebut, selain panjang, abstrak, sulit ditangkap, juga sulit dioperasionalkan. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Pemakaian kata Aorumah tangga dan keluargaAo sering digunakan sebagai dua kata yang sinonim, namun secara fungsional keduanya bisa dibedakan. Rumah tangga lebih sering diartikan sebagai wadah, sedangkan keluarga adalah isi dari rumah tangga tersebut. Kedua istilah ini saling terkait, karena rumah yang tersuasanakan dengan peradaban Islam akan melahirkan keluarga yang tercerahkan. Suasana rumah sebagai wadah tarbiyah keluarga, telah digambarkan Allah TaAoala dalam al-QurAoan surah an-Nuur ayat 36-37: a s AA aEA e AAO aOaO a aI EEacNa aI a eAa a aOOa e aEa A aONA a A aINa Oa aaca a EaNa A aON aEea a caaO aO eA ca AEA aaEa aOuaOa aA AEaEa o Oa aO aI Oa eOUIA U Aa aA ca AE acacE a eE aNO aN eI a a aU aOaacE aeO U aI a eE a EEac aN aOuaCa aIA a a ca aCEA u AA aA a eAO aO eaA a aA AON Ee aCEA Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, . laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak . oleh jual beli dari mengingati Allah, dan . mendirikan sembahyang, dan . membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang . i hari it. hati dan penglihatan menjadi goncang. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, perintah mendirikan masjid di rumah dikhususkan bagi kaum wanita, karena shalat wanita lebih baik dilaksanakan di rumah daripada di masjid. 9 Jadi, bentuk-bentuk kegiatan ibadah dan muamalah yang dilakukan di masjid, juga menjadi kegiatan yang sama dilakukan di rumah khususnya bagi kaum Maka ibu sebagai rabbatul bait sekaligus manager keluarga bertugas memformat rumah yang bisa mencerahkan seluruh anggota keluarga dalam nuansa dan dimensi Di sini kita mendapatkan gambaran tentang suasana rumah dengan hiasan zikir, shalat, taklim sebagai lentera hidayah, juga untuk memelihara dan membersihkan kotorankotoran yang menghalangi datangnya hidayah Allah. Sejalan pemahaman di atas. Quraish Shihab dalam tafsirnya menyatakan bahwa di rumah-rumah ibadah seperti masjid-masjid, yang telah diizinkan, yakni diperbolehkan dan diperintahkan oleh Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di waktu pagi dan petang . epanjang har. Mereka yang memuliakan dan menyebut nama-Nya itu adalah laki-laki, yakni manusia-manusia terhormat yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, betapapun besarnya perniagaan dan usaha mereka, dan tidak pula oleh jual beli, betapapun mendesaknya kebutuhan mereka dari zikrullah, mengingat Allah, dan dari melaksanakan Ibnu Katsir. Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir . Jakarta: P. Bina Ilmu, 1993. Jilid IV, hlm. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 shalat dengan baik dan benar serta menunaikan zakat secara sempurna. Mereka takut pada suatu hari yang pada saat itu terus menerus terguncang semua hati dan penglihatan makhluk, yakni hari kiamat nanti. Rumah yang terformat dengan nilai-nilai Islam, maka anggota keluarga akan menjadikan semua kegiatannya bernilai ibadah. waktu-waktu shalat terjaga, shalat jamaah ditegakkan, tilawah QurAoan, wadah transfer ilmu seperti seperti halaqah-halaqah taklim, dan kemudian istiqamah dalam semua kegiatan-kegiatan tersebut. Semua rangkaian ibadah itu adalah persiapan menuju akhirat sebagai ujian terakhir dan penentuan hasil apakah usaha-usaha yang dilakukan di dunia berbuah surga atau sebaliknya. Keluarga Lukman al-Hakim Dunia pendidikan Islam senantiasa mengetengahkan tokoh pendidik Luqmanul Hakim. Allah mengabadikan dalam al-QurAoan kepribadiannya sebagai pendidik keluarga yang sukses, dan diharapkan menjadi contoh dalam proses pembinaan anak di lingkungan Secara lengkap Allah TaAoala gambarkan dalam al-QurAoan surah Luqman ayat 13-19: AAeO IaA ca A aOaOA AE eaE EaaeE UI a a UOIA aca AaOua e Ca aE EaeC aI aI aacEeIa aN aOaN aO OaNa Oa aIa acO aacE a e aeE aEEac aN o ua acIA aa a a a AE uaEa acOA a eAAEaNa AO a aIeO aI aaI e aE e EO aOE aOE aOA a AI aI aaOE aOeN a aIEaeNa acaINa aOeNIU aEa O aOeN sI aOAA a AeA a a o AE aaN a eE UI Aa aaE a a e aN aIA a aA EA a A aOuaI aA AEe aIA aOA a AN a aE aEa O aI a eaE O aI EaeOA a AOA a a A uaEa acO o aacI uaEa acO aI eaa aE eI aIaacaa aEI a aI aEIa eIA a aAOE aI eI aIA a AAe aN aI AO EacIeOa aI e aOAU o aOac e aA a s a AEIOA as a a aA O IaO uaIacN uaI A AaIEaO aIA a AE Ie aC aE aac caI eI a eaE a aEI AOA a ca a a a a ca AA ea eaO AOA a AEA aaE a OeI aEeIA a eA OA a U A a aN EEacNa o ua acI EEacNa Ea aA AOAA a a A eaO AO e eaA a e a e a a ca A Oa aIa acO aCIA AOA a UOA aAOIN aI EeII aE a OAa EaO I aAE o ua acI EaE aII A AacEA AacEA AOA AOA AaIA AeEA AIA a AA caae aA a a a a a e e a a a ae a a a a ea e a a a eA OCA A aE acE Ia sE AaOsA a A AaO e eaA a Aac aOaacE a eIA a AEaEIA AA e AaOA ca A aIa U o ua acI EEacNa aacE Oa aA ea a AE o ua acI aI aE eA a AE O eA A Ee a aIO aA a a eOA e a a a aI eOA a AA eOA e a a a aO EA a A IIA Dan . ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Alla. adalah benar-benar kezaliman yang . Dan Kami perintahkan kepada manusia . erbuat bai. kepada dua orang ibu-bapaknya. ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang Quraish Shihab. Tafsir alAeMishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002, volume 8, hlm. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkat. "Hai anakku, sesungguhnya jika ada . esuatu perbuata. seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya . Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah . mengerjakan yang baik dan cegahlah . dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan . leh Alla. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia . arena sombon. dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Ibnu Musthafa memberikan uraian bahwa Luqmanul Hakim memberikan pengajaran kepada anaknya beberapa kewajiban untuk berbuat baik, yaitu: Tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, karena persekutuannya berarti telah berbuat zalim. Manusia tidak layak menyembah dewa-dewa karena dewa sifatnya hayalan. Manusia tidak layak menyembah ruh-ruh atau manusia lainnya karena keberadaannya sejajar serta tidak berkuasa ataas alam ini. Manusia tidak layak menyembah benda atau binatang karena nilai mereka lebih rendah dari Manusia tidak layak menyembah setan dan jin karena menyesatkan. Dan tidak layak mengabdikan diri pada materi karena itu akan mengosongkan kebahagiaan ruhani manusia. Bahwa setiap kebaikan itu akan dibalas oleh Allah sekecil apapun. Selain itu, diperintahkan kepada manusia untuk mendirikan shalat sebagai manifestasi penyembahan terhadap Allah, serta berbuat baik terhadap manusia dan Kemudian mengajak orang lain berbuat baik serta mencegah orang lain dalam berbuat keburukan. Diperintahkan kepada manusia untuk tidak memandang rendah manusia lainnya, dan tidak menjalani hidup secara angkuh serta tidak merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Selain itu, diperintahkan juga kepada manusia untuk menjalani hidup ini secara sederhana, serta mau menerima kebenaran dari manapun datangnya. Keluarga Nabi Ibrahim as. Ibnu Musthafa. Keluarga Muslim Menyongsong Abad 21. Bandung: al-Bayan, 2003, hlm. 96 Ae 97. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Contoh lain yang menjadi warisan pendidikan keluarga muslim adalah kesuksesan Nabiullah Ibrahim as. mendidik anak-anaknya. Nabi Ibrahim as. adalah satu-satunya Nabi yang sukses mengantar semua anaknya menjadi nabi. Meski hal ini diakui sebagai skenario Allah, namun di dalamnya padat akan muatan transformasi pendidikan di lingkungan keluarga. Dalam al-QurAoan. Allah TaAoala menceritakan beberapa kelebihan Nabiullah Ibrahim as. dalam membina keluarganya. DoAoa Nabi Ibrahim as. Apa saja yang terbetik dalam keinginan Ibrahim as. , pastilah diawali dengan memohon ridha dan pertolongan Allah TaAoala. Ibrahim sadar bahwa tidak ada kebaikan tanpa keridhaan Allah dan tidak ada pertolongan kecuali dengan pertolongan-Nya. Doadoa berikut ini menggambarkan Ibrahim as. sebagai seorang kepala keluarga yang berharap penuh atas pertolongan Allah TaAoala: Doa Dikaruniakan Anak Shaleh a a ca A N EaO aIIA ]u:[ AOIA e a ac a a AEAEA Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku . eorang ana. yang termasuk orangorang yang saleh. (QS. Ash-Shaffaat: . DoAoa agar Anak Cucunya Jauh dari Berhala a a A E N a Ee Ea a aIIU OA a a a ]:[ aIa aIA e AIa eIO aOaI acO aI I eaca a eA e a a a e a e ac AOu e Ca aE ue aN aOI aA Dan . , ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Meka. , negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. Ibrahim: . DoAoa agar Keluarga Istiqamah dalam Beribadah ]:[ AEA aaEa aOaII acaaOacaO o aacIa aOa aCac eE a a aA ca A a eEIaO aI aC aOIA e AA aca AA Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim : . DoAoa agar Keluarga Terhindar dari Neraka aa a a a AO OEaeEI eaIIaOI O OI O aCA ]:[ AA a a a e a a a a ca acIa eA e EO aOE aOE aA a AOI Ee aA Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orangorang mukmin pada hari terjadinya hisab . ari kiama. (QS. Ibrahim : . Memilih Istri Sebagai Guru Teladan Peran istri tidak kalah penting dari peran seorang suami. Kalau kita bertanya, apa yang membedakan Nabi Ibrahim as. dengan Nabi Nuh as. Meski keduanya adalah nabi. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 tapi dalam proses regenerasi, semua keturunan Nabi Ibrahim as. menjadi Nabi sedangkan anak Nabi Nuh as. menjadi ingkar. Jawaban yang paling mudah untuk pertanyaan ini adalah karena faktor istri. Siti Hajar dan Siti Sarah adalah sosok ibu teladan yang berhasil menanamkan aqidah, syariAoah dan akhlaq kepada anak-anaknya. Sedangkan istri Nabi Nuh as. juga ikut ingkar kepada Allah, yang tentu saja tidak bisa memberikan keteladanan dan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya. Pakar Pendidikan Anak. Abdullah Nashih AoUlwan mengungkapkan tentang peran ibu dalam pendididkan anak, sebagaimana yang dikutip Ahmad Tafsir, bahwa Ibu itu merupakan sekolah, barang siapa menyiapkannya, maka ia telah menyiapkan bangsa yang berbibit dan berakar . Menempatkan Keluarga di Sisi Baitullah Ibrahim as. juga menyadari bahwa lingkungan sangat potensial mempengaruhi perkembangan anak. Akhirnya Ibrahim as. membawa anggota keluarganya ke tempat yang aman. Meski tempat yang dipilih tandus . idak ada pohon dan sumber ai. namun Ibrahim as. tetap memilihnya karena berada di sekitar pusat peribadatan kepada Allah, yaitu Baitullah. Selain untuk menghindari tempat bergelimangnya dosa, juga agar keluarganya tumbuh dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam al-QurAoan surah Ibrahim ayat 37: aa ca AOIOA aAEA aaEA a AI aII acaaOacaO aaO s aeO a aO aes aA a aAI aeOA a Aa aEA e AacacIa uaIcaO A a AE Ee aI aacI aacIa EOaCA a Aac aN aOO uaEaO aNI OCe NI aII EacIA a a ]:u[ A Ea aEac aN eI Oa e aE aO aIA e a A a eE aAe aU caI aI EIA e a a a a ac a a e a e e Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitulla. yang dihormati, ya Tuhan kami . ang demikian it. agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ibrahim as. membawa istri dan anaknya ke sisi Baitullah agar bisa mendirikan shalat dan menyembah hanya kepada Allah TaAoala. Nabi Ibrahim juga berdoAoa agar tempat ini menjadi daya tarik untuk seluruh manusia, sehingga dengan doAoa itulah umat Islam berbondong-bondong Ibrahim juga berdoAoa kepada Allah agar memberi rezki berupa buahbuahan kepada penghuni lembah yang tidak mempunyai tanam-tanam itu. Berkat doAoa Ahmad Tafsir. Pendidikan Agama dalam Keluarga. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002, cet. Ke 4. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 Nabi Ibrahim as. yang diperkenankan oleh Allah, maka kota Makkah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, tidak pernah sunyi dari bahan-bahan makanan dan buahbuahan yang datang dari segala penjuru dunia. Keluarga Nabi Muhammad SAW Meski Nabi Muhammad SAW sejak lahir sudah yatim, tapi ia berada dalam bingkai keluarga yang terdidik. Secara subtansial, kita dapat memperoleh pelajaran tentang proses pertumbuhan pribadi Muhammad . asa anak-ana. di tengah keluarganya. Ada tiga fase yang sangat menentukan kepribadiannya sebelum menginjak usia dewasa. Fase tersebut seperti dalam uraian berikut: Fase Keyatiman. Ayahanda Nabi Muhammad meninggal saat ia masih dalam kandungan, lalu disusul ibundanya, kemudian kakeknya Abdul Mutthalib. Secara kemanusiaan sangat menyedihkan, namun kita yakin bahwa proses ini mengandung hikmah yang sangat Diantara hikmah yang dapat dipetik adalah Muhammad SAW sedini mungkin dihindarkan dari ketergantungannya pada manusia, dan sebaliknya menggantungkan diri dan kehidupannya kepada Allah TaAoala. Dalam konteks kekinian, proses ini tidak harus diartikan peyatiman secara fisik, tapi di tengah kelurga harus ada muatan pendidikan yang mengajari anak tentang kemandirian dan ketergantungan kepada Allah, latihan kesabaran, membangun kepekaan dan solidaritas, serta memberi pemahaman bahwa hidup ini penuh dengan perjuangan. Ketika anak tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan maka hikmah dari fase keyatiman yang harus Dari sini anak diajari mensyukuri nikmat Allah dan bersabar atas cobaan yang menimpanya. Fase Menggembala Ketika Muhammad SAW berusia delapan tahun, ia kemudian tinggal bersama pamannya. Abu Thalib. Pada usia ini Muhammad SAW mulai dilatih memikul tanggung jawab dengan cara menggembala kambing. Dalam fase ini lagi-lagi latihan kesabaran masih terus mandapat porsi, namun pemberian amanah untuk melatih tanggung jawab, kejujuran, disiplin dan latihan bekerja sudah mulai ditanamkan. Menggembala kambing, di samping melatih keuletan dan pengendalian diri juga berisi pelajaran tentang manajemen kepemimpinan. Hal ini dipahami karena kambing adalah hewan yang paling rumit untuk digembalakan. Jika perkara ini berhasil, maka Ibnu Katsir. Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, hlm . Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 ada jaminan keberhasilan untuk memenej urusan yang lebih besar. Anak tidak harus penggembala kambing untuk membangun sikap amanah, disiplin dan tanggung jawab, akan tetapi anak perlu diberi tugas dan beban pekerjaan yang sesuai usia dan kemampuannya sehingga secara alamiah terbentuk karakter dasar dalam halhal yang positif. Fase Berdagang Pada fase ini. Allah TaAoala mendidik Muhammad SAW untuk mengembangkan semua karakter dasar yang telah diperoleh pada fase sebelumnya, sambil membekalinya keluasan wawasan lewat interaksi sosial yang terjadi di dunia bisnis. Kepribadian yang terbangun lewat fase berdagang ini adalah Muhammad SAW mengenal karakter manusia dari berbagai suku bangsa, melatih kejujuran, melatih kebersamaan serta Karakter-karaker yang terakumulasi dari fase-fase pendidikan Muhammad SAW tersebut di atas, lebih banyak pencapaiannya lewat pendidikan Pendidikan seperti ini lebih banyak membutuhkan interaksi langsung, pembiasaan, nasehat spiritual serta dukungan dan perlindungan yang memadai dari anggota keluarga, khususnya kedua orangtua. KESIMPULAN Uraian tentang potret keluarga dalam al-QurAoan tersebut menghasilkan keterangan bahwa hal yang paling pertama dan utama dalam proses pendidikan keluarga adalah pembentukan pribadi yang bertauhid dan beradab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tarbiyah Islamiyah Luqmanul Hakim dan Nabi Ibrahim berhasil melahirkan anak-anak terdidik yang kemudian menjadi teladan dalam sejarah peradaban umat manusia. Pun demikian kepribadian agung Nabi Muhammad SAW tidak lepas dari sebuah proses tarbiyah Ilahiyah melalui wadah Secara umum dapat dikatakan bahwa institusi keluarga mampu mentransformasikan nilai-nilai keislaman kepada komunitas terkecil dalam rumah tangga untuk menghasilkan generasi rabbani yang berkepribadian unggul. Institusi keluarga juga secara langsung mampu menjadi miniatur peradaban Islam. Proses interaksi anggota keluarga dalam bingkai aqidah dan syariah akan melahirkan peradaban tingkat keluarga. Dari sini kemudian diharapkan terjadi gerakan membangun peradaban Islam pada skup yang lebih luas. Wallahu aAolam. Tadiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Volume 2 no 1 Juli-Desember 2021 DAFTAR PUSTAKA