Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 PREFERENSI MAHASISWA TERHADAP PENGAMBILAN KREDIT Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 Perbankan dan Keuangan. Politeknik Pajajaran ICB. Bandung. Indonesia1,2,3,4,5 anitalestari7099@gmail. com1, hani. hatimatunnisani@poljan. id2, alyasheu@gmail. dederyxsa@gmail. com4, riffka. fauzany@poljan. Abstract This study aims to determine students' preferences in credit-taking decisions, as well as to explore the main reasons behind these decisions. This study uses a descriptive quantitative approach, with data collected through an online questionnaire distributed to 50 students at a private university in Bandung. The results of the study showed that most students had never taken credit. The main inhibiting factors were concerns about repayment ability, limited knowledge of credit procedures and provisions, and apprehension about high interest rates. Although many students consider that access to credit services, especially through digital platforms, is quite easy, the results of the study show that their understanding of finance is still limited. Therefore, a more systematic and in-depth financial literacy program is needed so that students can manage financial decisions, especially in terms of credit, wisely and responsibly. Keywords: credit. financial literacy. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi mahasiswa dalam keputusan pengambilan kredit, serta menelusuri alasan utama di balik keputusan tersebut. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring kepada 50 mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa belum pernah mengambil kredit. Faktor utama yang menghambat adalah kekhawatiran terkait kemampuan membayar cicilan, minimnya pengetahuan tentang prosedur dan ketentuan kredit, serta ketakutan terhadap tingginya Meskipun banyak mahasiswa menilai bahwa akses terhadap layanan kredit, terutama melalui platform digital cukup mudah, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman mereka tentang keuangan masih terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan program literasi keuangan yang lebih sistematis dan mendalam agar mahasiswa dapat mengelola keputusan keuangan terutama dalam hal kredit secara bijaksana dan bertanggung jawab. Kata kunci: kredit. literasi keuangan. Corresponding author : anitalestari7099@gmail. PENDAHULUAN Kredit merupakan bagian integral dalam sistem keuangan modern yang tidak hanya digunakan oleh pelaku usaha, tetapi juga individu dari berbagai kalangan masyarakat. Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat usia produktif, turut menjadi Jurnal Sosio dan Humaniora | Volume 3. Number 2 Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 keuangan yang menawarkan kemudahan produk-produk pembiayaan seperti pinjaman tunai, cicilan tanpa kartu kredit, hingga pinjaman berbasis aplikasi . injaman Fenomena ini menandakan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelajar, tetapi juga sebagai pengguna aktif dalam sistem keuangan Seiring meningkatnya kebutuhan mahasiswa terhadap pembiayaan, baik untuk kebutuhan akademik seperti membayar biaya kuliah, membeli buku, mengikuti pelatihan, maupun kebutuhan pribadi seperti transportasi, gadget, dan konsumsi, sebagian dari mereka melihat kredit sebagai alternatif solusi keuangan jangka pendek. Terlebih, kemudahan teknologi dan penetrasi layanan keuangan berbasis digital membuat akses terhadap kredit menjadi semakin instan dan praktis. Cukup bermodalkan identitas diri dan akses internet, mahasiswa dapat mengajukan pinjaman tanpa jaminan dalam hitungan menit. Namun demikian, di balik kemudahan tersebut terdapat potensi risiko yang tidak bisa diabaikan. Banyak mahasiswa yang belum memiliki pengetahuan mendalam tentang prinsip dasar kredit, seperti suku bunga, tenor, denda keterlambatan, maupun cara kerja skor kredit. Akibatnya, keputusan untuk mengambil kredit sering kali didasarkan pada pertimbangan emosional atau kebutuhan mendesak semata, bukan atas dasar perencanaan keuangan yang Hal ini berisiko menimbulkan beban keuangan di kemudian hari, terutama apabila mahasiswa tidak pembayaran secara konsisten. Selain itu, minimnya literasi keuangan di kalangan mahasiswa masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan berbagai survei nasional, banyak mahasiswa yang belum memahami perbedaan antara kredit produktif dan konsumtif, serta tidak memiliki strategi pengelolaan utang yang efektif. Mereka juga kurang menyadari bahwa keputusan finansial yang diambil di masa kuliah dapat berdampak terhadap kemampuan finansial mereka setelah lulus, termasuk dalam pengajuan kredit perumahan, kendaraan, atau modal usaha di masa Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, penelitian ini pengambilan kredit, memahami alasanalasan yang melatarbelakangi keputusan mereka untuk mengambil atau tidak mengambil kredit, serta mengevaluasi tingkat pemahaman mahasiswa terhadap sistem dan risiko kredit. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pendidikan dan lembaga keuangan dalam merancang program literasi keuangan yang tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa keuangan secara bijak. KAJIAN PUSTAKA Kredit secara umum dapat diartikan sebagai penyediaan dana atau tagihan yang dapat diuangkan yang diberikan kepada debitur dengan kewajiban pengembalian dalam jangka waktu tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Kasmir . Kredit dapat bersifat konsumtif maupun produktif tergantung pada tujuan penggunaannya. Di sisi lain. Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2. menyatakan bahwa tingkat literasi mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan finansial, termasuk dalam konteks pemilihan produk dan layanan Jurnal Sosio dan Humaniora | Volume 3. Number 2 Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 kredit yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan. Penelitian oleh Putri . menunjukkan bahwa ketidakpahaman terhadap konsep dasar kredit seperti suku bunga, tenor pinjaman, serta risiko gagal bayar menyebabkan mahasiswa rentan terhadap jeratan utang, khususnya yang bersifat konsumtif dan berbiaya tinggi seperti pinjaman online. Dalam konteks ini, edukasi keuangan yang menyeluruh menjadi sangat krusial. Program literasi keuangan yang terstruktur dan berbasis pada realita kehidupan mahasiswa dinilai mampu meningkatkan kesadaran dan keterampilan mereka dalam mengelola risiko serta memanfaatkan produk keuangan secara bijak. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan deskriptif kuantitatif untuk terhadap pengambilan kredit. Data disebarkan secara daring kepada 50 mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Variabel yang diteliti meliputi identitas demografis responden . enis kelamin dan usi. , pengalaman dalam mengambil kredit, alasan pengambilan atau penolakan terhadap kredit, persepsi terhadap kemudahan akses kredit, dan sumber dana yang digunakan untuk membayar cicilan. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik tabulasi frekuensi, dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan grafik agar lebih mudah HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan pada penelitian ini akan digambarkan melalui penyajian data hasil olahan jawaban kuesioner yang telah disebar secara daring terhadap 50 responden, yang meliputi kategori responden berdasarkan jenis kelamin dan usia, serta tanggapan responden atas pertanyaan yang diajukan mahasiswa dalam pengambilan kredit. Sebanyak perempuan, sedangkan sisanya 46% adalah laki-laki. Mayoritas responden berada dalam rentang usia 19 hingga 22 tahun, yang umumnya merupakan masa aktif perkuliahan. Dari keseluruhan responden, hanya 11 orang atau 22% yang menyatakan pernah mengambil kredit, sementara 78% lainnya belum memiliki Hal Jurnal Sosio dan Humaniora | Volume 3. Number 2 Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa masih enggan atau belum merasa perlu untuk mengakses kredit. Sedangkan bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman pengambilan kredit, jenis kredit yang diambil mayoritas berupa pinjaman online atas dasar alasan kemudahan dan kecepatan akses, diikuti oleh pinjaman dari keluarga atau teman, yang menunjukkan preferensi terhadap jalur informal atau berbasis kepercayaan. Motivasi utama mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak, seperti biaya kesehatan atau pengeluaran tak terduga lainnya . %). Sebagian kecil lainnya menggunakan kredit sebagai modal awal usaha kecil . %), untuk gaya hidup . %), dan untuk keperluan pendidikan . %). Data ini mencerminkan bahwa mahasiswa yang mengambil kredit cenderung menggunakan dana tersebut untuk keperluan produktif atau darurat, bukan konsumsi jangka pendek. Sementara dari 11 mahasiswa yang pernah mengambil kredit, keputusan tersebut diambil karena tujuan untuk kebutuhan mendesak sebanyak 8 orang, modal usaha 2 orang dan 1 orang untuk biaya pendidikan hal ini menunjukan bahwa pengambilan keputusan kredit didasarkan pada pertimbangan keadaan tertentu bukan untuk pemenuhan gaya hidup konsumtif. Adapun dikarenakan alasan seperti kekhawatiran terhadap bunga yang dianggap terlalu tinggi . %), kekhawatiran tidak mampu membayar cicilan secara rutin . %), prosedur kredit dan potensi risikonya . %), dan faktor lainnya seperti tidak percaya pada lembaga pinjaman dan lebih memilih untuk tidak terlibat dalam Jurnal Sosio dan Humaniora | Volume 3. Number 2 Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 Sebanyak 30% responden merasa proses pengajuan kredit sangat mudah, sementara 44% menganggapnya cukup Namun, 18% merasa bahwa proses tersebut masih sulit, dan 8% menilainya sangat sulit. Persepsi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemudahan akses, masih ada sebagian mahasiswa yang merasa terhambat oleh proses administratif atau ketidaktahuan terhadap langkah-langkah pengajuan. Adapun sumber dana yang digunakan dalam pembayaran kredit, mayoritas 56% membayar cicilan menggunakan penghasilan pribadi, baik dari pekerjaan sampingan maupun usaha Sebanyak 36% masih bergantung pada uang saku dari orang tua, serta 6% mendapatkan bantuan dari pihak ketiga seperti teman atau pasangan, dan pinjaman lain 2%. Temuan ini mahasiswa telah mencoba mandiri secara finansial, meski sebagian lainnya Selain hasil kuantitatif yang telah dipaparkan, penting untuk mengkaji lebih dalam mengapa mahasiswa bersikap hati-hati dalam mengambil Kendati akses terhadap layanan kredit semakin terbuka, terutama melalui aplikasi berbasis teknologi finansial, mayoritas mahasiswa tetap memilih untuk tidak memanfaatkannya. Sikap ini sebagian besar dipicu oleh kurangnya pemahaman mengenai tata cara dan kekhawatiran akan ketidakmampuan membayar cicilan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kredit bisa menjadi solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan akademik atau modal usaha, banyak mahasiswa yang belum merasa siap secara mental maupun finansial untuk mengelola utang. Perbedaan antara kemudahan menimbulkan tantangan tersendiri. Sebagian besar mahasiswa lebih tertarik pada pinjaman digital karena dianggap Sayangnya, keterbatasan pemahaman terhadap sistem bunga, penalti keterlambatan, dan risiko keamanan data pribadi membuat mereka rentan terhadap dampak negatif dari penggunaan kredit yang tidak bijak. Ditambah lagi, masih banyak mahasiswa yang bergantung pada dukungan orang finansial belum sepenuhnya terbentuk. Ini memperlihatkan bahwa pesatnya pertumbuhan layanan keuangan digital belum diiringi dengan kesiapan literasi keuangan yang memadai di kalangan Oleh sebab itu, penguatan edukasi keuangan sangat diperlukan, bukan hanya dalam bentuk pengetahuan teknis tentang produk kredit, tetapi juga melalui pembentukan sikap bertanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang. Literasi keuangan harus dipandang sebagai bekal penting yang harus dimiliki mahasiswa, agar mereka dapat membuat keputusan finansial yang bijak selama kuliah dan setelah lulus nanti. Jurnal Sosio dan Humaniora | Volume 3. Number 2 Anita Lestari1. Hani Hatimatunnisani2. Alya Sheila Meilani3. Dede Sholih4. Riffka Fauzany5 KESIMPULAN Mayoritas mahasiswa dari 50 responden belum memiliki pengalaman mengambil kredit, dengan hanya sekitar 22% yang pernah mengajukan kredit terutama untuk kebutuhan mendesak, modal usaha, atau biaya pendidikan. Kekhawatiran tidak mampu membayar cicilan dan kurangnya pengetahuan tentang prosedur kredit menjadi alasan utama mereka enggan menggunakan kredit, menunjukkan masih rendahnya Selain itu, faktor psikologis seperti takut bunga tinggi dan ketidakpercayaan pada lembaga pemberi pinjaman juga mempengaruhi sikap mereka terhadap kredit. Meskipun pengajuan kredit kini semakin mudah, terutama lewat pinjaman online, kemudahan tersebut belum diimbangi pemahaman yang menimbulkan risiko finansial di masa depan jika tidak diikuti perencanaan pembayaran yang baik. Oleh karena itu, pengambilan kredit harus didasari pertimbangan matang dan pengetahuan memadai, serta tidak dipandang sebagai solusi instan, melainkan sebagai tanggung jawab yang memerlukan SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran yang diharapkan mahasiswa dapat menggunakan kredit secara bijak dan bertanggung jawab, diantaranya sebagai berikut: Kampus perlu rutin mengadakan edukasi literasi keuangan untuk mahasiswa tentang kredit dan pengelolaan keuangan. Literasi dimasukkan dalam kurikulum atau orientasi mahasiswa baru. Kampus dapat bekerja sama dengan lembaga keuangan terpercaya untuk memberikan edukasi dan simulasi Mahasiswa diharapkan lebih kritis dan berhati-hati dalam mengajukan kredit, terutama dari platform digital. Pemerintah dan kampus perlu mengedukasi mahasiswa tentang risiko pinjaman online ilegal dan cara DAFTAR PUSTAKA