JURNAL BASICEDU Volume 8 Nomor 4 Tahun 2024 Halaman 3426 - 3435 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Aulia Faradilla1. Sisriawan Lapasere2A. Rizal3. Sri Wahyuni4. Pahriadi5 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Tadulako. Indonesia1,2,3,4,5 E-mail: faradillaaulia82@gmail. Sisriawan23@untad. Rizal. pgsd@untad. Sricomte87@gmail. Pahriadi@untad. Abstrak Membaca dan menulis merupakan keterampilan literasi yang harus dikuasai. Penelitian ini lebih memfokuskan pada peranan guru saat mengajar serta mendidik siswa di SDN 18 Balaesang dalam menganalisis beberapa faktor yang menghambat guru saat mengajar serta mendidik siswa di SDN 18 Balaesang dalam keterampilan literasi. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi terhadap 20 siswa yang menjadi peserta penelitian dalam mengajarkan pendidikan karakter kepada siswa, khususnya melalui pendekatan keteladanan dan pembiasaan keterampilan literasi seperti membaca dan menulis. Pengaruh hubungan dengan teman sebaya di lingkungan sekolah maupun di masyarakat, kurangnya komunikasi orang tua dengan siswa, serta penggunaan Handphone yang berlebihan diluar sekolah merupakan faktor-faktor yang menghambat kemampuan guru dalam mendidik dan mengajarkan keterampilan literasi. Terlebih lagi dari hasil tindak lanjut peninjauan menunjukkan bahwa: peran pendidik dalam kemampuan keterampilan peserta didik di SDN 18 Balaesang dari keseluruhan 20 siswa yang dapat di lihat pada presentase yang di simpulkan berada di kategori baik. Kata Kunci: Peran Guru. Keterampilan Literasi. Abstract Reading and writing are literacy skills that must be mastered. This study focuses more on the role of teachers in educating and teaching students at SDN 18 Balaesang in order to determine the factors that hinder teachers from educating and teaching students at SDN 18 Balaesang in literacy skills. The qualitative descriptive research approach is utilized in this study. Observation, interviews, questionnaires, and documentation were used to collect data on 20 students who participated in the study. in teaching students character education, specifically through an exemplary approach and familiarization with literacy skills like reading and writing. The influence of peer relationships in the school environment as well as in the community, a lack of communication between students and their parents, and an excessive use of cellphones outside of school are all factors that hinder teachers' ability to educate and teach literacy skills. What's more, from the aftereffects of the review showed that: the job of educators in understudies' proficiency abilities at SDN 18 Balaesang from the all out of 20 understudy respondents which should be visible from the rate can be closed to be in the great class. Keywords: Teacher's Role. Literacy Skills. Copyright . 2024 Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi A Corresponding author : Email : Sisriawan23@untad. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Agar tujuan pendidikan dapat tercapai, guru dan siswa berinteraksi dalam lingkungan pendidikan dan pengajaran selama proses belajar mengajar. Strategi belajar mengajar yang efektif merupakan salah satu tanggung jawab utama guru dalam mencapai tujuan sekolah. Tujuan dari pengembangan strategi ini adalah untuk menciptakan kondisi yang dapat memengaruhi siswa sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan belajar mereka secara maksimal. Membaca merupakan komponen penting dari materi pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan di sekolah dasar. Siswa perlu banyak berlatih secara teratur untuk menguasai keterampilan membaca. Ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan segera. Dalam bidang pendidikan, peran guru sangatlah penting. Dalam Fitriani Basri & Sahib 2023. Habel menyatakan bahwa peran menunjukkan sifat dinamis dari suatu kedudukan atau status. Seseorang telah menjalankan perannya apabila ia bertindak sesuai dengan kedudukannya dan melaksanakan hak serta tanggung jawabnya. Menurut Oemar Hamalik (Sari & Setyaningsih, 2. : AuMemberikan layanan kepada peserta didik agar menjadi peserta didik atau individu yang sejalan dengan tujuan sekolah merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh guru di sekolahAy. Menurut (Eko & Sumitro, n. ) Guru merupakan orang yang tugasnya setiap hari adalah mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik dari yang tidak tahu apa-apa sampai yang tahu segalanya. Peran guru menurut Muhammad (Safitri & Dafit, 2021. meliputi peran sebagai pendidik dan pengajar, mediator atau sumber belajar dan fasilitator, serta model dan teladan. Dalam (Arniah et al. , 2. Buan Ludo Afliani Yohana menyatakan bahwa sebagai pendidik harus dapat memberikan contoh bersikap, berbicara sopan, dan berpenampilan rapi, peran guru adalah menjadi teladan bagi peserta didiknya, hingga menggugah peserta didik untuk meniru sikap guru tersebut dan membuahkan hasil yang positif. Terdapat suatu proses belajar mengajar tang dilakukan guru dan siswa di dalam kelas. Belajar dan mengajar bukanlah hal yang sama. Dalam Subakti & Prasetya, 2022. Aflahah menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan kepribadian peserta didik meliputi sikap, rutinitas, kecerdasan, atau pemahaman. Belajar ialah aktivitas komunikasi antara sumber belajar, guru, serta sisswa pada suatu iklim belajar tertentu. Sekolah, bimbingan belajar, dan lingkungan sejenis lainnya menyediakan lingkungan belajar. Terdapat sejumlah indikator yang harus dipenuhi selama pembelajaran. Keberhasilan belajar siswa dapat diukur dengan menggunakan indikator. Menurut (Siti Nurhasanah dan A. Menurut Sobandi . , terdapat beberapa indikator belajar, antara lain pengetahuan, minat belajar, dan perhatian terhadap pembelajaran. Sementara itu. Macovei et al. menyatakan terdapat sejumlah indikator belajar, antara lain perasaan suka atau senang. Peserta didik merupakan input yang dibina atau elemen yang diolah menjadi output yang bermutu. Setiap lembaga pendidikan . tentunya harus menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik belajar secara efektif agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Dengan demikian, peserta didik dapat diolah menjadi output dan alumni yang bermutu. Artinya, peserta didik perlu belajar secara efektif dan efisien agar memperoleh hasil yang terbaik. Ketika anak memasuki dunia pendidikan, keterampilan pertama yang diperolehnya adalah membaca dan menulis. Seorang siswa yang tidak bisa menulis, maka ia membaca juga mengalami kesulitan. Muhsyanur . membaca ialah cara yang paling dikenal luas untuk mencari informasi dengan menggunakan otak yang kemudian menjadikan data melalui proses pengolahan sehingga memiliki kegunaan dalam kehidupan sekarang serta di masa mendatang. Informasi tersebut dapat bersumber dari buku, internet, masyarakat umum, dan sumber lainnya. Sedangkan komunikasi yang dilakukan tanpa bertatap muka atau menggunakan bahasa tulis dapat disebut komunikasi tidak langusung adalah yang dimaksud dengan menulis oleh Henry (Nugroho, 2. Tidak hanya komunikasi tatap muka saja yang bermanfaat, tetapi juga bentuk komunikasi lainnya. Seorang penulis, misalnya, dapat menggunakan tulisan untuk menyampaikan pesan atau Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ungkapan hatinya. Dengan demikian, pembaca dapat menangkap harapan penulis dan memperoleh informasi dari hasil membaca. Membaca dan menulis merupakan keterampilan literasi yang harus dikuasai. Dengan kemampuan literasi yang dibekali, seseorang dapat menyampaikan sudut pandang dan pikirannya untuk menyusun kata dan kalimat secara tepat sehingga hasil karya tulis siswa dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca (Sulaiman dalam (Aulia et al. , 2. Pada masa sekarang, dimana masyarakat dituntut untuk memiliki minat dalam membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan salah satu syarat penting pada bidang pendidikan. Anak yang mengalami kesulitan dalam menulis kemungkinan besar juga memiliki kesulitan dalam membaca. Anak dapat mengalami kendala dalam mengetahui contoh-contoh yang disajikan. Setiap penerapan pembelajaran niscaya akan menemui kendala. Menurut Tri Yunianika . , ada beberapa faktor yang memberikan pengaruh terkait dengan penerapan program Gerakan Literasi. Salah satunya adalah terbatasnya jumlah buku di perpustakaan sekolah, sehingga siswa kesulitan untuk mencari buku yang ingin dibacanya. Oleh karena itu, kemampuan membaca dan menulis sangat penting untuk mencapai keberhasilan akademis dan kehidupan. Kegiatan membaca dan menulis yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, bahasa, dan budaya dianggap sebagai kegiatan literasi dalam Rahayu (Oktavianti dkk. , 2. Gerakan Literasi Sekolah pada hakikatnya adalah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis siswa dengan melibatkan semua pihak dalam ekosistem pendidikan, termasuk masyarakat, wali/orangtua, siswa, guru, ataupun kepala sekolah. Saat ini, kegiatan literasi dipandang sebagai kebutuhan yang harus dikuasai oleh setiap siswa sekolah dasar. Gerakan Literasi Sekolah, menurut Ambar Dalam (Intan Andisni 2024, t. ), merupakan contoh dari penerapan langkah dalam membudayakan aktivitas menulis ataupu membaca di sekolah guna meningkatkan minat baca siswa dan memengaruhi kemampuan literasinya sejak dini. Menurut Nia Dalam (Sunu H 2021, t. ), tujuan dari GLS Tujuan Gerakan Literasi Sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa dan menggugah mereka untuk gemar membaca. Pengembangan Keterampilan Sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan keterampilan membaca dan menulis siswa dengan melibatkan seluruh warga sekolah, pengurus, guru, siswa, wali/penjaga, dan masyarakat sekitar dalam ekosistem pendidikan. Saat ini, pelatihan keterampilan dipandang sebagai kebutuhan yang harus dikuasai oleh setiap siswa sekolah dasar. Keterampilan literasi tingkat atas menekankan pada kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan dan jawaban, melakukan wawancara, mengamati lingkungan, menulis laporan, dan menyampaikan fakta objektif (Nurhayati et al. , 2. Siswa dapat mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan cara menulis di buku dan mempresentasikannya di depan kelas atau dengan memajang hasil pengamatan di depan kelas. Gerakan Literasi Sekolah Menurut Wandasari . Warga sekolah . unia usaha, tokoh masyarakat, media massa, penerbit, akademisi, wali/orangtua, komite sekolah, pengawas sekolah, tenaga kependidikan, kepala sekolah, guru, siswa, dan lain-lai. serta pemangku kepentingan dilibatkan dalam Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah diarahkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan Literasi Sekolah wajib diupayakan oleh guru dengan cara mengikutsertakan siswa dalam kegiatan literasi sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, menurut Wandasari . Sesuai arahan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu upaya atau kegiatan yang melibatkan warga sekolah . unia usaha, tokoh masyarakat, media massa, penerbit, akademisi, wali/orangtua, komite sekolah, pengawas sekolah, tenaga kependidikan, kepala sekolah, guru, siswa, dan lainlai. dan pemangku kepentinga. Kebijakan Gerakan Literasi Sekolah harus terus berlanjut sebagaimana yang dikemukakan oleh Wandasari . Peran guru sangat krusial. Oleh karena itu, guru harus berupaya mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan literasi guna membantu mereka mengembangkan Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis tidak hanya terbentuk saat seseorang memasuki dunia sekolah, tetapi juga saat berada dalam lingkungan keluarga atau sosial, kemampuan tersebut dapat terbentuk. Mengingat hasil dari pertemuan yang saya lakukan dengan kepala sekolah dan para pendidik di SDN 18 Balaesang. Kecamatan Balaesang. Kabupaten Donggala bahwa kegiatan pembiasaan sudah dilaksanakan, namun masih kurang diminati oleh masyarakat sekitar, khususnya siswa SDN 18 Balaesang. Kecamatan Balaesang. Kabupaten Donggala, hal ini dikarenakan kurangnya keterampilan membaca dan menulis pada siswa serta belum adanya pojok baca di setiap kelas. Dengan diadakannya kegiatan pembiasaan keterampilan sekolah yang menitikberatkan pada keterampilan membaca dan menulis siswa, diharapkan dapat berperan dalam pembinaan keterampilan membaca dan menulis siswa, disamping peran serta para pendidik yang sangat berperan dalam pembinaan tersebut. Kepala sekolah, guru, orang tua, perpustakaan, pojok baca, dan pemerintah semua harus berperan dalam kegiatan pembiasaan ini agar siswa lebih mengenal dan memahami kegiatan pembiasaan tersebut. Judul penelitian yang dipilih peneliti adalah AuPeran Guru dalam Kemampuan Literasi Siswa SDN 18 Balaesang. Kecamatan Balaesang. Kabupaten DonggalaAy, yang mencerminkan ketertarikan peneliti untuk mengetahui lebih dalam tentang kebiasaan membaca, menulis, dan menyimak Dalam penelitian ini terdapat penelitian yang berkaitan dengan keterampilan literasi. Dalam penelitian yang dilakukan (Safitri & Dafit, 2021. menjelaskan Pengembangan Keterampilan SDN 151 Pekanbaru, pada kelas IV, meliputi kegiatan-kegiatan aktif misalnya membaca Al-Qur'an, memahami bacaan, pojok pendidikan, serta perpustakaan. Proses pembelajaran akan lancar saat adanya guru sebagai fasilitator, guru dalam membaca melalui GLS berperan sebagai motivator bagi siswa dan membimbing siswa dalam memilih buku bacaan yang tepat. Sebagai fasilitator dengan memberikan rasa senang kepada siswa dan menilai hasil pekerjaan siswa seperti menulis puisi, pantun, dan meringkas, peran guru dalam menulis adalah membimbing siswa dalam membuat karya tulis dan berperan sebagai fasilitator. Permasalahan dalam kajian ini adalah peneliti tidak menyelesaikan latihan soal sekolah sehingga pengalaman dan informasi yang diperoleh kurang Gerakan Literasi Sekolah merupakan salah satu terobosan pemerintah yang meliputi kegiatan membaca dan menulis. Menurut Ambar, 2018 dalam (Wati et al. , 2. Pengembangan Pendidikan Sekolah merupakan tahapan dalam mengembangkan ativitas menulis serta membaca guna peningkatan minat membaca di sekolah sehingga mampu mempengaruhi kemampuan speserta didik untuk terampil saat mereka masih mengenyam pendidikan dasar. Menurut (Nia 2018 t. ), tujuan GLS Tujuan Gerakan Literasi Sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa dan menumbuhkan minat baca siswa. Selain itu. Gerakan Literasi Siswa ini memiliki beberapa langkah. Menurut (Nia 2018, t. ) belum sepenuhnya ditetapkan melalui ketentuan yang diberikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu . Tahap Penyesuaian, . Tahap Peningkatan dan . Penyesuaian. Menurut (Harahap et al. , 2. ada tiga bidang fokus dalam GLS, diantaranya: . lingkungan fisik sekolah, meliputi sarana dan prasarana literasi. lingkungan sosial, meliputi dukungan dan peran serta aktif seluruh warga sekolah. lingkungan akademis, termasuk penerapan literasi yang mampu mendorong siswa untuk membaca dan membantu mereka belajar di sekolah. Menurut Augustin et al. , penerapan GLS menghadapi sejumlah tantangan, yang paling signifikan di antaranya adalah sebagai berikut: . Banyak warga sekolah belum mendukung GLS serta tidak menyadari tanggungjawab mereka. Siswa berasal dari latar belakang yang belum memiliki pengetahuan lebih lanjut terkait GLS. Perpustakaan, yang merupakan elemen pendukung keberhasilan ini, masih belum lengkap. Sejalan dengan Penelitian terdahulu telah mengungkap sejumlah perbedaan, meliputi variasi lokasi penelitian, permasalahan ditemui, serta subjek penelitian. Dengan fakta permasalahan yang ditemukan dalam penelitian, maka dapat dikatakan bahwa keterampilan literasi sangatlah penting. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian sebab kepentingan dalam mempelajari lebih jauh tentang apa saja tanggung jawab guru saat mengajarkan kegiatan literasi dengan melatih keterampilan literasi. Dengan Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. mengarahkan eksplorasi tersebut, maka terdapat beberapa data yang ditemukan oleh pendidik dalam mengatasi pengaruh apa saja yang berdampak pada kemampuan literasi siswa pada jenjang sekolah dasar. METODE Model pendekatan analisis deskriptif dan metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Pemeriksaan grafis seharusnya memutuskan apakah ada efek, dan dengan asumsi ada, seberapa kuat efeknya dan apakah efeknya kritis. Menurut definisi sebelumnya, eksplorasi subjektif adalah penggambaran realitas yang disengaja, tepat, dan awal. SDN 18 Balaesang, sebuah sekolah di Kecamatan Balaesang. Kabupaten Donggala. Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi latar penelitian ini. Khususnya di Dusun 01 RT/RW 01 Desa Kampung Baru Ada 143 siswa dan delapan guru di SDN 23 Balaesang. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan penuh untuk mengumpulkan informasi tentang upaya instruktur untuk lebih mengembangkan kemampuan kecakapan. 143 siswa dan delapan guru menjadi subjek penelitian di SDN 18 Balaesang. Sampel propositif digunakan sebagai metode pengambilan sampel. 20 siswa kelas empat SDN 18 Balaesang dan satu guru kelas empat menjadi ilustrasi penelitian ini. Pemeriksaan semacam ini menunjukkan bahwa jenis informasi yang diperoleh adalah informasi langsung dan abstrak. Peolehan data diperoleh dari dua data terbagi menjadi: data primer, yang berasal dari tanggapan siswa dan guru terhadap kuesioner dan pertanyaan wawancara, dan data sekunder, yang berasal dari sumber data terkait. Foto-foto atau dokumentasi tentang bagaimana penelitian ini dilakukan di SDN 18 Balaesang merupakan salah satu data sekunder dalam penelitian ini. Peneliti mengumpulkan data tentang tanggung jawab guru SDN 18 Balaesang terhadap keterampilan literasi siswa melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Survei dilakukan dengan kuesioner tertutup dan respons skor skala likert. Proses penggunaan informasi dimulai dengan penurunan informasi, pertunjukan, penentuan jangkauan, dan konfirmasi sesuai konsekuensi pertemuan dan penyebaran jajak pendapat terhadap peserta didik. Analisis deskriptif digunakan dalam mengklasifikasikan nilai-nilai yang dikumpulkan dari hasil kuesioner tentang peran guru dalam keterampilan literasi siswa dengan menggunakan perhitungan manual Microsoft Word. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Angket AuPeneliti menggunakan analisis hasil angket untuk mengetahui lebih lanjut tentang peran guru dalam mengajarkan keterampilan literasi kepada siswa di SDN 18 Balaesang. Analisis deskriptif dari seluruh perolehan data angket pada tabel 1 menunjukkan analisis angket tersebut. Ay Tabel 1 Data peran guru dalam mendidik dan membimbing keterampilan literasi siswa di SDN 18 Balaesang Aktivitas P1(%) Guru kelas selalu mengingatkan untuk membaca Guru kelas selalu mengingatkan untuk membaca 5 menit sebelum pembelajaran Guru kelas selalu mengajak membaca buku diperpustakaan Guru kelas selalu meminta membaca majalah, koran dan artikel Guru kelas selalu memberikan buku bergambar untuk dibaca Guru kelas selalu memberikan tugas untuk ditulis Guru kelas selalu memberikan bacaan yang ingin ditulis Guru kelas selalu memberikan kesempatan menulis diluar kelas Guru kelas selalu mengajak menulis diperpustakaan Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Guru kelas selalu meminta membuat resume sesudah jam pelajaran Guru kelas selalu mengajar membaca Guru kelas selalu membantu Ketika kesulitan membaca Guru kelas selalu mengajar membaca majalah, koran dan artikel Guru kelas selalu mendampingi membaca buku diperpustakaan Guru kelas selalu mengajar menulis dengan rapih Guru kelas selalu membantu Ketika kesulitan menulis Guru kelas selalu mengajar menulis menggunakan media pembelajaran Guru kelas selalu mendampingi menulis diperpustakaan Berdasarkan Tabel 1, seluruh siswa yang memberikan skor 66-79 sebanyak 20 orang menyatakan bahwa guru di SDN 18 Balaesang berperan signifikan dalam mengajarkan dan membimbing kemampuan literasi siswa. Hasil Wawancara AuTabel 2 berisi hasil wawancara yang diperoleh dari penelitian iniAy. Tabel 2 hasil wawancara peran guru terhadap keterampilan literasi siswa di SDN 18 Balaesang Indikator Aspek yang di amati Hasil wawancara Hasil Observasi Mendidik dan melakukan kegiatan literasi sebelum memulai Pelajaran dan membaca litrasi . buku diperpustakaan yaitu buku pelajaran maupun non pelajaran selalu menekankan dan mengingatkan siswa agar selalu melakukan kegiatan literasi sebelum memulai pelajaran dan mengingatkan siswa agar membaca buku mendidik dan literasi siswa sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan guru, dengan pembiasaan tersebut siswa lebih melakukan kegiatan literasi terutama membaca buku Mendidik dan literasi . selalu menasehati siswa untuk tidak pernah malas menulis karena dengan menulis dapat melatih seseorang menjadi penulis yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain dalam pembiasaan keterampilan literasi menulis, siswa dibiasakan untuk menulis buku- buku yang ada diperpustakaan baik itu buku pelajaran dan non pelajaran membiasakan siswa menulis baik saat jam pelajaran maupun pada saat Hasil Uji Presentase Jumlah semua pada penjelasan hasil observasi yang diduplikasi dengan bobot skor skala likert merupakan skor observasi lengkap. Skor skala likert paling ekstrim dibagi dengan jumlah pertanyaan menghasilkan skor tertinggi, sehingga 4x186 = 774. Skor tertinggi yang ditambah dengan jumlah responden adalah skor ketuntasan normal, yaitu 1. 440 apabila dijumlahkan 4 x 360. Berikut ini adalah cara menghitung taraf pernyataan: Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. skor Persepsi = ( Nilai Mutlak x skor SS) ( Nilai Keseluruhan x skor S) ( Nilai Lengkap x skor K) ( Nilai Keseluruhan x skor TP) skor Persepsi = ( 186 x 4 ) ( 112 x 3 ) ( 62 x 2 ) ( 0 x 1 ) skor Persepsi = 1,204 Sedangkan tingkat peran pendidik dalam mengajar dan mendidik adalah: ycIycoycuyc ycCycaycyceycycycaycycn ycu 100 ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco ycu 100 = 83,61 Presentase Peranan Guru = Presentase Kelayakan Peran guru dalam mendidik dan mengajarkan literasi terhadap keterampilan literasi mendapat nilai 83,61 berdasarkan persentase kelayakan di atas yang menempatkannya pada klasifikasi tinggi . Proses Mendidk dan Mengajar Keterampilan Literasi Siswa Guru melakukan beberapa upaya terhadap keterampilan literasi siswa melalui pendekatan, mendidik, menagajar dan melakukan pembiasaan pada masing-masing siswa yang menjadi fokus penelitian: . Membaca. Guru melakukan beberapa upaya pada saar mengajar serta mendidik keterampilan literasi . siswa dibiasakan untuk melakukan kegiatan literasi sebelum memulai pelajaran, membaca buku baik buku pelajaran maupun non pelajaran untuk menambah pengetahuan yang lebih luas, menggunakan media pemebelajaran agar siswa lebih tertarik belajar dan tidak cepat bosan terutama belajar membaca, selalu mengontrol siswa membaca diperpustakaan sekolah dan menyediakan sudut baca disetiap kelas nya serta guru bekerja sama dengan orang tua agar melakukan pembiasaan membaca ketika berada dirumah. Menurut Tarigan dalam (Harianto, 2. , membaca merupakan suatu tindakan yang dilakukan dan dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui kata-kata atau bahan tertulis atau untuk menganalisis dan menentukan makna yang terkandung dalam bahan tertulis. Membaca menurut Soedarsono (Luthfi et al. , t. merupakan suatu kegiatan kompleks yang melibatkan banyak tindakan yang berbeda, seperti memanfaatkan pemahaman, imajinasi, serta pengamatan dan ingatan. Kebiasaan atau tindakan peserta didik dapat terlihat dalam proses pembelajaran keterampilan literasi . baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan pendidikan. Misalnya, mereka terbiasa mengikuti kegiatan literasi sebelum masuk kelas dan menerima buku bergambar untuk memancing minat bacanya. Menulis. Dalam mendidik dan mengajar keterampilan literasi . siswa di biasakan untuk menulis dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah, menulis buku pelajaran maupun non pelajaran, serta guru menggunakan media pembelajaran agar siswa lebih tertarik untuk menulis karena kebanyakan siswa yang malas menulis mereka hanya ingin bermain dan terus bermain sehingga media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam membiasakan menulis siswa. Kemampuan mengarang memerlukan informasi dan pikiran yang dikomunikasikan melalui karangan, sedangkan informasi dan pikiran diperoleh dari latihan pemahaman (Febrina, 2. Keterampilan membaca yang baik diperlukan untuk keterampilan menulis yang baik karena keterampilan membaca memungkinkan seseorang memperoleh informasi dan pengalaman yang lebih luas, yang pada gilirannya memperluas kosa kata pembaca. Dalam proses mendidik dan mengajar siswa menulis bukanlah hal yang mudah karena sesorang yang terampil menulis haruslah terampil membaca karena keduanya saling berkaitan tapi sebagai seorang guru haruslah menjadi motivator bagi siswa agar siswa tidak malas menulis contohnya, ketika siswa kesulitan menulis sebagai seorang guru harus membantu siswa tersebut dan memberikan motivasi agar siswa tersebut tidak malas menulis. Siswa juga diajak keperpustakaan bukan hanya membaca tetapi juga menulis karena diperpustakaan siswa bisa belajar menulis dengan alat bantu buku-buku yang ada diperpustakaan. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Faktor-faktor penghambat dalam mendidik dan mengajar keterampilan literasi siswa SDN 18 Balaesang Dampak dari kerja sama antar teman baik di dalam maupun di luar kelas, kurangnya komunikasi orang tua dengan peserta didik dan selalu menggunakan Handphone diluar kelas, semuanya merupakan variabel yang menimbulkan stres. Penjelasan di atas terdapat beberapa faktor yang muncul di karenakan adanya sikap atau tindakan yang di lakukan individu tersebut untuk mempengaruhi sikap dirinya sendiri atau sikap, hal tersebut mampu menimbulkan adanya peserta didik yang mempengaruhi serta peserta didik yang di pengaruhi baik di sadari maupun tidak di sadari. Hal ini sejalan dengan pendapat (Fitriani Basri & Sahib, 2. yang di bawah oleh manusia sejak lahir dapat berfungsi sebagai motovator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku Sikap yang dirasakann oleh tiap individu tentu bergantung terkait dengan apa yang di rasakan pada individu seperti sikap yang dia lakukan adalah sikap yang bagi dirinya memotivasi akan tetapi bagi orang lain itu adalah hal buruk yang di lakukan dengan adanya sikap-sikap yang di miliki manusia dapat menciptakan naluri yang di mana naluri tersebut akan mempengaruhi teman sebayanya dalam mencapai kepuasaanya. Adanya perkumpulan pesrta didik merupakan sosialisasi diluar sekolah dengan minimnya berkomunikasi antara orang tua serta peserta didik, misalnya wali yang memberikan pengawasan saja tanpa menanyakan alasan peserta didik bersosialisasi dengan kakak dan orang dewasa yang tidak bersekolah, dapat memengaruhi perilaku siswa. Adanya perkumpulan siswa sebagai sarana sosialisasi di luar kelas merupakan faktor lain yang berpotensi memengaruhi sikap siswa. Terlalu banyak bermain ponsel tanpa pengawasan orang tua, seperti bermain game terus menerus hingga lupa belajar dan menjadi malas saat jam belajar merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi kemampuan literasi peserta didik. Berdasarkan hal tersebut akan memberikan pengaruh pada pola perilaku mereka di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Unsurunsur tersebut sebagaimana yang diutarakan oleh (Tarbiyah et al. , t. yang memberikan pengertian bahwa perilaku individu serta perkembangan cara pandang diperankan dari adanya faktor variabel ekologi. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (Safitri & Dafit, 2. yang juga meneliti peran pendidik dalam meningkatkan keterampilan literasi pada jenjang SD. Hasil penelitian tersebut memaparkan peran guru pada saat mengajarkan dan menunjukkan Pengembangan Keterampilan Sekolah sangat dibutuhkan oleh siswa untuk membangun pemahaman dan pengetahuan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi telah berhasil dilaksanakan. Melalui Gerakan Lietarsi Sekolah yang diterapkan pada jenjang SD memberikan dampak pada keaktifan siswa dalam melakukan kegiatan lietarsi. Dengan membaca buku 15 menit, menciptakan karya tulis yang dapat berbentuk pantung, dan puisi. Oleh karena itu betapa pentingnya kegiatan literasi diajarkan kepada siswa agar siswa dapat mengembangkan kemampuannya melalui keterampilan literasi. Keterampilan literasi seseorang adalah kemampuan untuk membaca, menulis, berbicara, berhitung, dan memecahkan masalah sehari-hari. Kemampuan membaca dan mengarang merupakan tuntutan pertama dalam berbagai keterampilan pendidikan. Generasi milenial harus memiliki keterampilan literasi dalam membaca dan menulis untuk memahami isi dan makna teks tertulis. Jika generasi milenial sudah memiliki kemampuan ini, mereka secara otomatis akan terbantu ketika diminta untuk menuliskan banyak ide. Oleh karena itu. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan "Membaca 15 menit" di pagi hari sebelum kegiatan belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik untuk mengajarkan keterampilan literasi kepada anak didiknya. Hal ini terutama berlaku di era masyarakat 5. karena seperti halnya di masa sekarang, teknologi merupakan bagian dari otak manusia yang dapat mencari dan menemukan apa saja. Akibatnya, sebagian besar siswa sekolah dasar sudah memiliki telepon seluler dan menggunakannya lebih dari waktu yang ditentukan serta tidak ada orang tua yang mengawasi. Faktor penghambat pada proses pengajaran keterampilan literasi kepada siswa telah diidentifikasi oleh para peneliti, salah satunya adalah penggunaan telepon seluler tanpa pengawasan orang tua. Hal ini Pentingnya pendidik juga dalam memberikan pengajaran dan menunjukkan kemampuan profesional pada era 5. 0, dalam Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peran Guru terhadap Keterampilan Literasi Siswa di Sekolah Dasar Ae Aulia Faradilla. Sisriawan Lapasere. Rizal. Sri Wahyuni. Pahriadi DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. membangun wawasan peserta didik dengan berbantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengajar mampu membimbing melalui dorongan mengkonsumsi konten positif. KESIMPULAN Peran guru dalam mendidik serta mengajar keterampilan literasi . siswa yaitu dengan membiasakan melakukan kegiatan literasi baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah, membaca buku baik buku pelajaran maupun non pelajaran, menggunakan media pembelajaran agar siswa lebih tertarik membaca, membuat sudut baca disetiap kelasnya dan selalu mengajak siswa keperpustakaan untuk membaca serta mengingatkan kepada siswa betapa pentingnya literasi karena tanpa literasi tidak akan bertambah pengetahuan yang lebih luas. Adapun peran guru dalam mendidik dan mengajar keterampilan literasi . selalu membantu siswa yang mengalami kesulitan menulis dengan memberikan motivasi dan selalu mengajak keperpustakaan untuk menulis baik buku pelajaran maupun non pelajaran agar siswa tidak bosan, serta mengajarkan sebuah tulisan-tulisan yang indah. Hal ini dapat dilihat dari hasil rangkuman informasi jajak pendapat bahwa kinerja pendidik dalam kemampuan keterampilan peserta didik SDN 18 Balaesang dari total 20 siswa dilihat pada skoring sudah kedalam kategori tinggi . Pengajar menghadapi beberapa kendala dalam upaya membentuk karakter siswanya. Kendala tersebut antara lain: . pengaruh pergaulan siswa di sekolah dan di masyarakat. pengaruh terbatasnya komunikasi siswa dengan orang tua. pengaruh penggunaan telepon genggam yang berlebihan di luar kelas. DAFTAR PUSTAKA