26 KATEKESE TENTANG PENGATURAN KEHAMILAN SECARA ALAMIAH Antonius Virdei Eresto Gaudiawan STKIP Widya Yuwana Abstract The Catholic Church teaches that the end of human sexuality is toward unity and procreation. Therefore, on sexual morality the Catholic Church refuses artificial family planning but promotes natural family planning. The Catholic Church strongly proclaim this sexual morality. In fact, situation in the Christian families actually is not as good as the ChurchAos hope. It seem that s lot of Christian families disobey the ChurchAos teaching on sexual morality. Actually, most of Christian families know better and use artificial birth control. They think and feel that natural birth control is less safe and high risk. It happens because they only have a little and limited understanding on natural birth control. However, a complete understanding on natural family planning and a knowledge of negative effects of artificial birth control help Christian families to move toward natural birth control. Based on this awareness, the diocese of Surabaya, where this research is done, and catechists of family formation, need to evaluate seriously a premarital education class, especially in matter of time, method of catechesis, competence of catechists so that the premarital education class promote understanding of Christian families on natural family planning and itAos implementation. Keywords: natural family planning, natural birth control, artificial birth control Pendahuluan Gereja sejak semula mengajarkan bahwa perkawinan memiliki dua tujuan intrinsik yaitu menyatukan/unitif (Casti Connubii [CC] art. dan melahirkan keturunan/prokreatif (CC Dua tujuan ini menjadi pilar penting dalam refleksi Gereja Katolik tentang Perkembangan menunjukkan bahwa orang mulai membatasi diri dalam mendapatkan keturunan (Humanae Vitae [HV] art. , karena menyadari pentingnya menjamin bahwa keturunan yang dimiliki bisa mendapatkan hidup yang baik dan Usaha membatasi jumlah keturunan mendasari munculnya berbagai metode pengaturan kehamilan. Dalam pengaturan kehamilan itulah. Gereja Katolik membuat refleksi moral dan mengembangkan ajaran moral tentang pengaturan keluarga Sejak semula. Gereja Katolik dengan tegas menolak pengaturan kehamilan buatan dan lebih mengijinkan penggunaan pengaturan kehamilan alamiah. Ajaran ini dengan teguh diajarkan dalam berbagai ensiklik para paus mulai dari Casti Connubii sampai Familaris Consortio. Jenis pengaturan kehamilan alamiah yang didukung dan terus dikembangkan adalah mentode pengaturan kehamilan yang dikembangkan oleh Evelyn Billing. Idealisme Gereja Katolik yang begitu tinggi, ternyata tidak sejalan atau bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Ada suasana di mana keluarga kristiani lebih memilih menggunakan metode pengaturan kehamilan buatan. Ini menunjukkan pada sebuah fakta bahwa ajaran moral Gereja tidak diikuti dan ditaati oleh kebanyakan umat Beranjak dari situasi tersebut, rumusan masalah yang ingin dijawab di dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Umat Beriman Katolik menjalani dan menghidupi ajaran moral tentang pengaturan kehamilan Bagaimana pemahaman Keluarga Kristiani kehamilan alamiah? Hal apa yang perlu dikembangkan pengaturan kehamilan alamiah yang semakin baik di masa mendatang? Secara khusus refleksi tentang pengaturan kehamilan alamiah ini difokuskan pada daerah dan subjek khusus yaitu Keuskupan Surabaya. Penelitian gambaran dari realitas kehidupan moral Tentu semoga penelitian ini bisa sedikit banyak menjadi masukan bagi pengembangan tim katekese ataupun formatio Ajaran Gereja tentang Pengaturan Kehamilan Ajaran Gereja Katolik tentang pengaturan kehamilan pada dasarnya tidak pernah berubah sampai hari ini. Yang ada hanyalah pengulangan dan penegasan untuk memastikan bahwa ajaran Gereja tentang moral seksual kehamilan bisa berjalan dengan baik. Pada tempat pertama harus diingat konsep tentang planned parenthood atau keluarga yang bertanggung jawab. Tugas untuk melanjutkan keturunan membawa serta sebuah konsekuensi untuk merawat dan mendidik anak-anak yang lahir dari perkawinan itu dengan sebaik mungkin (HV art . Oleh karena itu, perlu perencanaan yang baik. Keluarga yang bertanggung jawab adalah sebuah dasar dalam hal ini. Intisari dari keluarga yang bertanggung jawab adalah kewajiban bagi pasangan suami istri untuk menentukan jumlah anak secara baik sehingga bisa mereka didik secara baik. Jangan sampai pasangan memiliki banyak anak tetapi tidak mampu mendidiknya secara baik. Konsekuensi bertanggung jawab adalah Gereja Katolik Tentu sejak semula Gereja menolak Gereja mengijinkan hanya pantang berkala saja. Penggunaan pantang berkala diijinkan karena tidak merusak hal-hal kodrati yang telah ditetapkan oleh sang pencipta (HV art . Berbagai metode pengaturan kehamilan non alamiah dipandang memiliki dua kecacatan moral meliputi contra vita dan contra ceptive. Metode pengaturan kehamilan buatan yang bersifat contra vita bekerja dengan cara menggugurkan atau membunuh manusia baru . Metode yang bersifat contra vita memiliki kadar dosa moral yang berat. Sementara itu, metode pengaturan kehamilan yang bersifat contraseptif pada dasarnya memiliki kadar dosa yang lebih ringan karena cara kerjanya menghalangi pertemuan sel telur dan sel sperma yang adalah kemungkinan kodrati dari sebuah hubungan seksual. Manakah metode pengaturan kehamilan yang disetujui oleh Gereja? Prinsip dasar dari pengaturan kehamilan yang direstui oleh Gereja adalah model pantang berkala (Pius XII: Pidato di hadapan Bidan Italia art. Model ini meliputi beberapa metode yaitu metode kalender, metode suhu basal dan terakhir metode ovulasi billing. Dalam sejarah perkembangannya, metode ovulasi billing lah yang paling modern dan efektif dalam pelaksanaan pantang berkala. Dua metode yang lain cenderung tidak pasti dan memiliki tingkat resiko kegagalan yang sangat tinggi. Materi tentang Pengaturan Kehamilahn dalam Kursus Persiapan Perkawinan Tema pengaturan kehamilan alamiah yang diajarkan Gereja Katolik juga diuraikan dalam Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Sejauh mana tema tentang metode pengaturan kehamilan alamiah ini dapat dipahami para peserta KPP tentu bergantung pada berbagai hal, yakni: bahan yang dimiliki pengajar, siapa yang menyampaikannya, dan juga berapa lama materi tersebut disampaikan. Pengajar KPP yang menyampaikan tema pengaturan kehamilan alamiah biasanya juga mengajar tema kesehatan alat reproduksi. Para pengajar materi ini pada umumnya dipilih dari mereka yang bergerak di bidang kesehatan seperti para bidan, perawat, mantri, dokter dan Di sisi yang lainnya juga harus disadari bahwa belum tentu para peserta kursus datang dengan kemauan sungguh untuk belajar. Ada kemungkinan bahwa mereka mengikuti kursus dengan motivasi asal-asalan atau hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan administratif yang dituntut oleh Gereja Katolik. Hal ini akan membuat kemungkinan para peserta KPP memahami materi pengaturan kehamilan alamiah dengan baik semakin kecil. Data hasil penelitian, yang dilakukan baru baru ini, mengatakan bahwa 100% reponden kehamilan alamiah adalah metode kalender. Melihat data ini, jelas terbaca bahwa umat beriman memiliki pemahaman yang keliru tentang pengaturan kehamilan alamiah dan Mereka memahami bahwa metode pengaturan kehamilan alamiah adalah metode kalender, padahal metode ini sudah ketinggalan zaman dan memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi, namun masih tetap dipakai. Pemahaman semacam ini berbahaya dan menyesatkan karena dapat menimbulkan persepsi yang keliru, yakni metode pengaturan kehamilan alamiah itu memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi. Praktek Pengaturan Kehamilan Pertanyaan sekarang diarahkan pada melihat kenyataan yang terjadi terkait dengan penggunan pengaturan kehamilan, baik yang alamiah maupun yang buatan. Tersedia tiga penelitian di tiga wilayah paroki yang berbeda. Penggunaan Pengaturan Kehamilan di Paroki Klepu dan Ponorogo Dari penelitian yang dilakukan di paroki Klepu dan Ponorogo di wilayah keuskupan Surabaya, terbaca bahwa 33,3% menggunakan (KBA), sementara 58,3% menggunakan pengaturan kehamilan buatan (KBB). Sementara 8,3% berpindah dari KBA ke KBB (Riyantoko, lampiran tabel . Data ini menunjukkan sebuah kenyataan bahwa di paroki yang berciri pedesaan paling dominan adalah keluarga kristiani menggunakan metode pengaturan kehamilan buatan. Alasan bagi mereka yang menggunakan KBA karena mereka bisa mengatur sendiri . ,3%), lelah memakai KB suntik . ,3%) dan karena bisa mempelajari sifat lendir mereka sendiri (Riyantoko, lampiran tabel . Dari segi alasan mengapa menggunakan KBA terlihat bahwa mereka senang karena bisa mengatur diri mereka sendiri dan mampu mengecek periode kesuburan mereka. Satu alasan perpindahan yang juga mereka katakan untuk beralih dari KBB ke KBA adalah capek karena setiap kali harus suntik KB. Alasan bagi mereka yang menggunakan KBB adalah karena mereka memandang bahwa menggunakan metode KBB jauh lebih praktis . ,5%), mengikuti negara . ,5%), untuk kesejahteraan warga . ,5%), dan mencoba KBA tetapi ketakutan . ,5%) (Riyantoko, lampiran tabel . Melihat dari alasan yang ada, faktor kepraktisan menjadi faktor penentu bagi umat beriman dalam memilih dan menggunakan KBB. Pengaturan kehamilan alamiah dipandang tidak praktis. Data ini mengatakan bahwa masyarakat pedesaan menganggap pengaturan kehamilan seperti ini tidak praktis, merepotkan dan memiliki resiko ketidakpastian yang tinggi. Penggunaan Pengaturan Kehamilan di Paroki-Paroki di Madiun Dari penelitian yang dilakukan di dua paroki di Madiun, terbaca sebuah data kualitatif berikut ini. Tiga puluh delapan persen . %) responden menggunakan metode pengaturan menggunakan metode pengaturan kehamilan buatan, 15,38% responden beralih dari KBA ke KBB, dan 23% responden beralih dari KBB ke KBA (Heni Lampiran Tabel . Dari data ini, terbaca bahwa pengguna KBA jauh lebih banyak daripada mereka yang menggunakan KBB. Alasan menggunakan pengaturan kehamilan alamiah adalah 15% mengatakan memiliki pengetahuan tentang metode KBA. 31% menyatakan bahwa menggunakan KBA itu selaras dengan ajaran Gereja, 23% mengatakan bahwa KBA itu aman dan sehat, sementara 8% menggunakan KBA karena saran dari orang lain (Heni Lampiran Tabel . Pada bagian ini terlihat bahwa mereka yang mendapat informasi baik dan pengetahuan baik tentang KBA adalah 46%, sementara mereka yang mengalami ataupun mengetahui tentang nilai positif KBA dari segi kesehatan adalah 23%. Informasi yang baik dan menyeluruh tentang KBA dilihat bisa menjadi peluang untuk lebih menggalakkan KBA. Alasan para responden yang menggunakan KBB adalah 23% mengatakan bahwa KBB itu aman dan terjamin keberhasilannya. asing-masing 8%) menyatakan bahwa KBB itu sebagai alternatif, lebih praktis, lebih cocok dan merasa tidak paham dengan KBA (Heni. Lampiran Tabel . Dimensi keamanan, keterjaminan dan kepraktisan masih menjadi faktor penting bagi pemilihan para umat dalam menggunakan metode pengaturan Kalau membaca hasil penelitian yang dilakukan di dua paroki di Kota Madiun, terbaca sebuah situasi yang menarik. Banyak KBA. Pengetahuan itu diperoleh baik melalui pembekalan ataupun kursus mandiri. Dan lebih dari itu, ada fakta bahwa beberapa responden mengatakan bahwa KBA itu secara kesehatan jauh lebih baik. Fakta yang diungkap antara lain juga soal kenyataan ketika melihat bahwa orang-orang KBB seringkali mengalami kendala kesehatan. Hal ini menarik dan perlu dikaji secara mendalam bagi usaha pengembangan KBA di tengah hidup keluarga kristiani. Penggunaan Pengaturan Kehamilan di Paroki-Paroki Kota Kediri Penelitian di Kota Kediri difokuskan pada dua paroki yaitu Paroki St. Vincentius A Paulo Kediri dan Paroki St. Yosef Kediri. Dari data penelitian yang telah dilakukan, terbaca sebuah data bahwa 25% responden menggunakan sementara 75% responden menggunakan metode pengaturan kehamilan buatan (KBB) (Lampiran Tabel . Nuansa bahwa banyak umat lebih menggunakan metode pengaturan kehamilan buatan terbaca di dalam penelitian di dua paroki ini. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa responden menggunakan pengaturan kehamilan Dua puluh lima persen . %) KBA menyatakan bahwa mereka tidak mau membatasi jumlah anak sementara 25% responden lainnya memandang bahwa KBA itu aman dan tidak ada efek samping dan 50% menyatakan bahwa KBB tidak cocok karena mereka pernah menggunakannya (Lampiran Tabel . Ini juga bisa menjadi kekuatan bagi Gereja dalam menggalakkan KBA. Alasan menggunakan pengaturan kehamilan buatan adalah 22,2% mengatakan bahwa KBB lebih 22,2% menyatakan bahwa mereka pernah menggunakan KBA dan ternyata gagal, sementara itu alasan soal siklus wanita yang tidak menentu, tidak bisa menahan hawa nafsu, kurang percaya diri, lebih aman dengan KBB dan menghindari percekcokan masing-masing dinyatakan oleh 11,1% responden (Permesta. Lampiran Tabel . Dimensi kepraktisan dan kenyataan kegagalan ketika menggunakan KBA menjadi dua faktor penentu mengapa keluarga kristiani menggunakan KBB. Akan tetapi, bisa dilihat begitu banyak alasan minor yang muncul di dalam keluarga kristiani. Meskipun minor, tetapi minor ini jumlahnya begitu banyak sehingga bisa menjadi hal yang kurang menguntungkan bagi penyebarluasan KBA. Kenyataan yang dibaca dari dua paroki yang ada di Kediri ini menjadi sebuah pengungkapan fakta bahwa begitu banyak umat menggunakan metode pengaturan kehamilan Dan sekali lagi harus diingat bahwa mereka yang menggunakan metode pengaturan kehamilan alamiah itu hanyalah orang-orang yang mendapat informasi baik dan lengkap tentang metode pengaturan kehamilan alamiah . ell informe. Penggunaan Pengaturan Kehamilan di Paroki-Paroki Kota Surabaya Di kota Surabaya, penelitian dilakukan di beberapa paroki dengan memilih paroki-paroki di kevikepan-kevikepan yang ada di kota Surabaya. Paroki yang dipilih adalah Paroki Hati Kudus Yesus . ewakili kevikepan Surabaya Utar. Paroki Santa Maria Tak Bercela . ewakili kevikepan Surabaya Selata. dan paroki Aloysius Gonzaga . ewakili kevikepan Surabaya Bara. Dari data penelitian diperoleh hasil bahwa 41,6% responden menggunakan KBA sejak awal. 25% responden peralihan dari KBB ke KBA, 16,6% menggunakan KBB dan 16,6% beralih dari KBA ke KBB. Melihat data ini, terlihat bahwa mayoritas responden pernah menggunakan KBB meskipun dalam perkembangan waktu kemudian mereka ada yang beralih ke KBA. Terkait responden pertama-tama menggunakan KBB terbaca bahwa setelah Kursus Persiapan Perkawinan 58,3% reponden tidak memiliki kesadaran untuk menggunakan KBA. Hanya ada 41,6% responden yang menyatakan sadar untuk menggunakan KBA setelah mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan. 8,3 responden menyatakan sadar dengan efek samping dari KBB. Dan 25% responden takut akan kebobolan jika menggunakan pengaturan kehamilan alamiah (Lampiran Tabel . Membaca situasi ini, ada sebuah kondisi dimana konsientisasi tentang pengaturan kehamilan ternyata masih belum mampu membuat orang mendapat informasi yang baik . ell informe. dan selanjutnya kesadaran itu membuat mereka secara sadar memilih menggunakan KBA. Sekali lagi harus dicatat bahwa kejadian-kejadian ketika orang akhirnya menyadari nilai positif KBA dan dampak negatif dari KBB mempengaruhi seberapa besar keluarga kristiani yang menggunakan KBA. Membaca data yang ada, dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini: Pertama, banyak keluarga kristiani yang menggunakan metode Metode pengaturan kehamilan alamiah masih dirasa tidak praktis, tidak aman dan memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi. Hal ini menjadi makin berat karena banyak orang tidak memahami atau tidak mendapatkan penjelasan yang mencukupi tentang metode pengaturan kehamilan alamiah. Pada sisi yang lain harus diakui sebuah kenyataan bahwa beberapa keluarga kristiani kehamilan alamiah sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik. Mereka yang menggunakan metode pengaturan kehamilan alamiah pada umumnya adalah keluarga-keluarga kristiani yang mendapat informasi jelas dan baik tentang metode pengaturan kehamilan alamiah. Bahkan dalam hal ini sampai juga pada informasi tentang metodenya yang baik dan tepat. Selain itu, ada sisi lain yaitu ketika mereka melihat, mengalami dan mendengar bahwa ternyata metode pengaturan kehamilan buatan memiliki banyak kerugian atau akibat negatif, mereka pada umumnya beralih ke metode pengaturan kehamilan alamiah. Dua situasi inilah yang menyebabkan keluarga kristiani lebih memilih metode pengaturan kehamilan alamiah. Pemahaman akan Metode Pengaturan Kehamilan Alamiah dan Buatan Pemahaman Keluarga Kristiani di Paroki Klepu dan Ponorogo Menurut para responden dari dua paroki ini, metode pengaturan kehamilan alamiah adalah metode mengatur kehamilan dengan mengatur dan menandai masa subur dan masa tidak subur . %), mengatur kehamilan tanpa alat . ,6%), sementara 8,3% responden menyatakan tidak mengetahui tentang arti pengaturan kehamilan alamiah (Riyantoko. Lampiran Tabel . Dari segi jenis pengaturan kehamilan alamiah yang dipahami, 75% responden memahami metode KBA adalah metode 12,5% mengatakan bahwa metode KBA adalah dengan metode suhu basal dan sisanya lagi 12,5% mengatakan bahwa metode KBA adalah metode ovulasi billings (Riyantoko. Lampiran Tabel Membaca data ini, bisa dilihat bahwa pengaturan kehamilan alamiah termasuk sangat lama dan jauh dari ideal. Mayoritas umat kehamilan hanyalah metode kalender yang notabene memiliki tingkat risiko kegagalan yang tinggi. Dalam situasi ini akhirnya bisa dipahami bagaimana keluarga kristiani akhirnya lebih memilih metode pengaturan kehamilan buatan yang memiliki tingkat keberhasilan lebih Pemahaman Keluarga Kristiani di Paroki Cornelius dan Mater Dei Madiun Dari penelitian terhadap keluarga katolik di dua paroki di Madiun terbaca, terkait dengan pemahaman tentang KBA terbaca data sebagai berikut ini. Tiga puluh tiga persen . ,3%) responden mengatakan bahwa KBA adalah memanfaatkan siklus alami, 23,8% persen mengatakan bahwa KBA adalah pengaturan kehamilan yang tidak memakai obat dan alat, 23,8% mengatakan bahwa KBA adalah pengaturan kehamilan yang melihat masa subur dan masa tidak subur, 14,4% mengatakan bahwa KBA adalah metode pengaturan kehamilan yang mengandalkan siklus haid, sementara 4,7% mengatakan bahwa metode pengaturan kehamilan alamiah adalah metode pengaturan kehamilan yang diatur sendiri (Heni. Lampiran Tabel . Dari jenis metode pengaturan kehamilan yang dipahami oleh para responden, 72,2% bahwa metode kehamilan adalah metode kalender, 11,1% bahwa metode kehamilan alamiah adalah memperhatikan suhu basal, dan 16,6% menyatakan bahwa metode pengaturan kehamilan alamiah adalah metode ovulasi billings (Heni. Lampiran Tabel . Dari apa yang diungkapkan di atas, perlu disadari bahwa informasi yang baik, benar dan up to date tentang pengaturan kehamilan alamiah masih sangat kurang. Metode kalender yang notabene sudah tidak up to date ternyata menjadi metode pengaturan kehamilan alamiah yang dipahami oleh para responden. Ini berbahaya karena akan menyebabkan orang berpikir bahwa metode pengaturan kehamilan alamiah itu sangat beresiko gagal. Pemahaman Keluarga Kristiani di Paroki St. Yusup dan St. Vincentius A Paulo Kediri Dari hasil penelitian dengan beberapa keluarga kristiani di dua paroki di kediri, pengaturan kehamilan alamiah sebagai berikut. Tiga puluh satu persen . ,25%) responden menyatakan bahwa pengaturan kehamilan alamiah adalah metode mengatur kehamilan dengan mengandalan masa subur dan tidak subur, 25% responden mengatakan bahwa metode pengaturan kehamilan alamiah adalah usaha mencegah atau mengatur kelahiran anak dengan cara sendiri atau dari diri sendiri. Sementara itu 25% responden lainnya mengatakan bahwa pengaturan kehamilan alamiah adalah metode pengaturan kehamilan dengan menggunakan cara alami yang bukan buatan dari manusia. Dua belas persen . ,5%) pengaturan kehamilan alamiah didasarkan pada metode kalender, sementara 6,25% responden menyatakan bahwa pengaturan kehamilan alamiah adalah usaha mengatur jarak anak dengan memperhatikan kesehatan (Hermesta. Lampiran Tabel . Selanjutnya, terkait dengan metode pengaturan kehamilan alamiah sendiri, 30,7% responden menyebutkan siklus subur dan tidak subur, 53,8% responden menyebutkan metode kalender, 7,6% menyebutkan metode ovulasi billings dan 7,6% sisanya mengatakan tidak tahu (Hermesta. Lampiran Tabel . Terkait dengan pemahaman mereka tentang metode yang digunakan dalam pengaturan kehamilan alamiah, sekali lagi data menunjukkan bahwa pemahaman mereka sangat terbatas . ntuk tidak dikatakan sangat renda. Metode yang mereka pahami adalah metode kuno yang justru memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi. Pemahaman Keluarga Kristiani di Beberapa Paroki Surabaya Dari penelitian yang dilakukan di tiga kevikepan di kota Surabaya, terkait dengan pemahaman akan pengaturan kehamilan alamiah, 29,4% mengatakan bahwa pengaturan kehamilan alamiah adalah perencanaan dan pengaturan kehamilan secara alamiah, 29,4% mengatakan bahwa pengaturan kehamilan alamiah memperhatikan masa subur dan masa tidak subur, 35,3% mengatakan bahwa pengaturan kehamilan alamiah memperhatikan siklus haid, sementara 5,8% menyatakan tidak mengetahui tentang pengaturan kehamilan alamiah (Lampiran Tabel . Terkait dengan metode dari pengaturan kehamilan alamiah, 60% menyebutkan tentang metode kalender, 20% menyebutkan metode ovulasi billings, 13,3% menyatakkan tidak tahu, dan 6,7% menyebutkan metode pengecekan suhu basal (Lampiran Tabel . Data ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terungkap di paroki-paroki lain. Kalau mencermati data terkait dengan pemahaman para responden tentang pengaturan kehamilan alamiah, pada dasarnya mereka paham dan mengerti bahwa pengaturan kehamilan alamiah adalah metode mengatur kehamilan secara mandiri dengan memperhitungkan masa subur dan tidak subur seorang wanita. Sampai di sini tidak ada permasalahan yang cukup berarti. Permasalahan selanjutnya muncul terkait dengan metode pengaturan kehamilan alamiah yang mereka Ternyata, mayoritas keluarga katolik kehamilan alamiah adalah metode kalender. Ini cukup mengejutkan. Bahkan paroki-paroki yang kelihatannya respondennya mendapat informasi yang baik tentang pengaturan kehamilan alamiah, ternyata metode yang mereka ketahui pun tetaplah metode kalender yang notabene sudah tidak up to date dan memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Kenyataan ini membuka sebuah kesadaran mengapa banyak keluarga kristiani ternyata lebih memilih metode pengaturan kehamilan Metode kalender lebih dikenal dan dipahami sehingga paling direferensi kalau bicara soal pengaturan kehamilan alamiah. Katekese Penggunaan Metode Pengaturan Kehamilan Alamiah Setelah membaca dan merefleksikan data yang diperoleh tentang penggunaan metode pengaturan kehamilan alamiah dan juga pemahaman keluarga kristiani tentang metode pengaturan kehamilan dapat dicatat dan direfleksikan beberapa poin berikut ini: Sebagian besar dari keluarga kristiani memiliki kecenderungan besar untuk menggunakan metode pengaturan pengaturan kehamilan alamiah. Pengaturan kehamilan buatan lebih kehamilan ini cenderung dipandang aman dan praktis dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Pengaturan kehamilan alamiah yang paling dikenal dan dipahami oleh banyak keluarga kristiani justru adalah metode kalender yang notabene sudah ketinggalan zaman dan memiliki risiko kegagalan yang cukup tinggi. Keluarga kristiani yang mendapatkan informasi baik tentang metode pengaturan kehamilan buatan. Metode kehamilan alamiah biasanya dipilih karena alasan kesehatan yaitu tidak ada efek samping. Beberapa keluarga kristiani beralih dari metode pengaturan kehamilan buatan ke mengetahui dan mengerti tentang efek samping dari penggunaan pengaturan kehamilan buatan. Dari beberapa kesimpulan yang bisa diambil, kiranya perlu dipikirkan beberapa pengembangan dalam proses pembelajaran, pengaturan kehamilan alamiah yang diharapkan oleh Gereja Katolik. Perlu dikembangkan sebuah katekese atau kehamilan alamiah di tengah-tengah keluarga kristiani. Tidak cukup bahwa pengajaran tentang pengaturan kehamilan alamiah ini diberikan dalam Kursus Persiapan Perkawinan yang selalu serba singkat sehingga tidak bisa mendalam. Bilamana ini dirasa penting bagi Gereja, hendaknya Gereja juga memberikan porsi yang cukup untuk Harus disadari bahwa metode ini harus bersaing dengan metode pengaturan kehamilan buatan yang disosialisasikan sampai ke level rukun warga dan rukun tetangga. Perlu kehamilan yang membandingkan antara berbagai macam metode pengaturan kehamilan baik yang alamiah dan buatan dengan serta data-data tentang dampak baik positif dan negatif dari berbagai metode pengaturan kehamilan yang sudah Indikasi yang jelas adalah tingkat kepraktisan dan keefektivan. Untuk pengaturan kehamilan yang aman dan praktis yang dalam hal ini adalah metode ovulasi billings. Metode ini harus dijelaskan sedemikin rupa sehingga menjadi serba jelas dan benderang bagi para pasutri dan calon pasutri. Hal berikut yang selalu perlu keamanan atau pun efek samping dari Perlu dibuka dengan jelas efek samping dari masing-masing metode, baik yang alamiah maupun yang buatan. Ini akan membantu para pasutri dan calon pasutri untuk bisa kehamilan alamiah. Hal ini perlu pengaturan kehamilan buatan itu memiliki dampak negatif yang cukup Kenyataan bahwa banyak keluarga kristiani justru lebih mengenal metode kalender sebagai bentuk dari menuntut para penggiat katekese di bidang ini untuk lebih menekankan pengaturan kehamilan yang modern dan memiliki tingkat kegagalan yang Dalam hal ini, metode ovulasi billings perlu mendapatkan fokus perhatian yang lebih karena metode ini dipandang paling aman dan tingkat kegagalannya sangat Perlu kehamilan alamiah yang bukan hanya diberikan menjelang pasangan suami istri melangsungkan pernikahan, tetapi segera setelah suami dan istri Hal ini diperlukan karena suami dan istri pastilah sudah mengenal dan mengetahui siklus pasangan dan keterbukaan satu sama lain sudah jauh lebih baik dalam hal seksual daripada ketika sebelum melangsungkan pernikahan. Dalam hal ini, katekese berkelanjutan adalah Seksi keluarga dalam setiap paroki ataupun keuskupan perlu memikirkan hal ini secara serius jika mengharapkan setiap keluarga kristiani bisa menghidupi ajaran moral Gereja dengan sebaik Penutup Kehendak Gereja Katolik mendengungkan dan menjalankan metode pengaturan kehamilan alamiah di tengah-tengah pasutri katolik tentu adalah sebuah perjuangan yang penting demi menjaga ajaran moral Gereja. Namun sampai hari ini, rasanya masih jauh apa yang diharapkan oleh Gereja itu. Banyak keluarga katolik sejatinya masih lebih kehamilan buatan. Metode KBB mereka pandang jauh lebih aman dan praktis. Sementara itu, metode KBA dipandang masing sebelah mata karena dirasa tidak praktis dan memiliki tingkat kegagalan yang cukup tinggi. Hal ini bisa dipahami karena senyatanya metode KBA yang paling dikenal adalah metode kalender dengan menghitung siklus seorang wanita. Kenyataan ini menunjukkan pembekalan yang kurang terkait dengan metode pengaturan kehamilan alamiah. Selama ini, pembekalan tentang hal ini hanya diajarkan dalam Kursus Persiapan Perkawinan yang seringkali serba Ini pemahaman akan metode pengaturan kehamilan sangat kurang. Peluang lebar juga terbuka bagi pegiat katekese di bidang ini karena pengetahuan yang baik dan juga pemahaman akan dampak negatif dari pengaturan kehamilan buatan juga cukup berpengaruh bagi perpindahan para pasutri dari penggunaan metode KBB ke metode KBA. Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam mengembangkan bahan katekese ataupun pengajaran tentang pengaturan kehamilan Dan pada akhirnya diperlukan sebuah refleksi bersama di tengah Gereja Katolik khususnya di Keuskupan Surabaya . ebagai daerah hidup dan penelitian kam. supaya komisi keluarga ataupun seksi keluarga memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan dan inovasi dalam bidang pengajaran atau katekese pengaturan kehamilan Dan semoga dengan demikian, para pasutri semakin terdorong untuk memilih metode pengaturan kehamilan alamiah. Daftar Pustaka