TEKNOLOGI PANGAN: Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian Website: https://jurnal. id/v2/index. php/Teknologi-Pangan Licensed: Creative Commons Attribution 4. 0 International License. (CC-BY) Terakreditasi 1439/E5/DT. 00/2024 Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 p-ISSN: 2087-9679, e-ISSN: 2597-436X Analisis tingkat kontribusi teknologi pada produksi gula di pabrik gula Gempolkrep Mojokerto Analysis of technology contribution rate to sugar production in Gempolkrep Mojokerto sugar Teguh Yulianto. Nuriah Yuliati. Mirza Andrian Syah. 1,2,3 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur *Email korespondensi: nuriah_y@upnjatim. Informasi artikel: Dikirim: 04/05/2025. disetujui:23/05/2025. diterbitkan: 30/09/2025 ABSTRACT The sugar industry in Indonesia plays an important role in supporting national food Sugar factories as one of the vital sectors not only produce sugar for domestic consumption but also contribute to the local economy and the agricultural sector, especially sugar cane. Gempolkrep Sugar Factory, which has been operating since 1849, is one of the sugar factories that faces challenges in terms of increasing production yields, as seen from the stagnation of yields around 8% in the last 6 years. This study aims to analyse the condition of the sugar production process, identify the contribution of technology to production, and determine the priority of improvements needed at Gempolkrep Sugar Factory. The research methods used are descriptive method to describe the production process, technometric method to assess technology contribution, and AHP (Analytical Hierarchy Proces. method to determine improvement priorities. The results of this study show that the sugar production process at Gempolkrep Sugar Factory consists of 7 stages, with the technology applied classified as semi-modern with a TCC value of 0. The main improvement priority that must be done is machine modernisation with an AHP score of 0. 473 which is focused on improving the IoT-based monitoring system with an AHP score of 0. The conclusion from these results is that implementing improvements based on existing priorities will help increase production yields and produce more consistent sugar products. Keywords: Gempolkrep sugar factory, technology contribution, improvement priority, technometrics. AHP ABSTRAK Industri gula di Indonesia memegang peranan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pabrik gula sebagai salah satu sektor vital tidak hanya memproduksi gula untuk konsumsi dalam negeri, namun juga berkontribusi pada perekonomian lokal dan sektor pertanian, khususnya tebu. Pabrik Gula Gempolkrep yang telah beroperasi sejak tahun 1849 merupakan salah satu pabrik gula yang menghadapi tantangan dalam hal peningkatan rendemen, terlihat dari stagnasi rendemen sekitar 8% dalam 6 tahun Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi proses produksi gula, mengidentifikasi kontribusi teknologi terhadap produksi, dan menentukan prioritas perbaikan yang diperlukan di Pabrik Gula Gempolkrep. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif untuk menggambarkan proses produksi, metode teknometrik untuk menilai kontribusi teknologi, dan metode AHP (Analytical Hierarchy Proces. untuk menentukan prioritas perbaikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 bahwa proses produksi gula di PG Gempolkrep terdiri dari 7 tahapan, dengan teknologi yang diterapkan tergolong semi modern dengan nilai TCC sebesar 0,675. Prioritas perbaikan utama yang harus dilakukan adalah modernisasi mesin dengan nilai AHP sebesar 0,473 yang difokuskan pada perbaikan sistem monitoring berbasis IoT dengan nilai AHP sebesar 0,460. Kesimpulan dari hasil tersebut adalah dengan melakukan perbaikan berdasarkan prioritas yang ada akan membantu meningkatkan hasil produksi dan menghasilkan produk gula yang lebih konsisten. Kata kunci: pabrik gula Gempolkrep, kontribusi teknologi, prioritas perbaikan, teknometrik. AHP PENDAHULUAN Tantangan yang dihadapi industri gula nasional saat ini cukup kompleks, salah satunya adalah ketidakmampuan industri gula dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan gula masyarakat yang terus Menurut Agustin . hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah penduduk serta pendapatan per-kapita masyarakat setiap Data menurut BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa produksi gula di Indonesia rata-rata berada di angka 2 juta ton tiap tahunnya sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap gula makin meningkat tiap tahunnya di angka 2 hingga 3 juta ton pertahun yang menunjukkan terjadinya defisit antara kemampuan produksi gula dan kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang dapat dilihat pada Gambar 1. Industri gula di Indonesia memiliki peran sentral dalam mendukung proses produksi gula nasional. Sebagai tulang punggung dalam industri gula, pabrik-pabrik tersebut tidak hanya menghasilkan produk gula siap pakai untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga berperan dalam memperkuat sektor pertanian khususnya tebu sebagai bahan baku utama. Keberadaan pabrik gula menjadi kunci penting dalam menjaga kesinambungan antara sektor pertanian dan industri, serta memastikan bahwa hasil produksi gula dalam negeri mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan nasional, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada impor gula (Sandi. Konsumsi (To. Produksi (To. Gambar 1. Data produksi dan konsumsi gula di Indonesia 2013-2023 Salah satu faktor utama yang mempengaruhi rendahnya produktivitas gula di Indonesia juga dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan dalam proses produksi gula DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 masih belum efektif, hal ini diakibatkan karena pabrik gula di Indonesia sudah berusia tua hingga diatas 100 tahun (Rahmad et al. Melalui hal tersebut maka diperlukan upaya revitalisasi teknologi pada pabrik gula yang ada di Indonesia guna meningkatkan Pembenahan serta revitalisasi pada pabrik gula dapat dilakukan dengan maksimal dengan memahami alur produksi yang ada, mengetahui kontribusi pada komponen teknologi yang terkandung pada pabrik, kemudian mengetahui prioritas perbaikan yang dapat dilakukan. Komponen teknologi yang dimaksud adalah technoware yang mencakup peralatan dan mesin yang humanware yang merupakan kemampuan insani dan kompetensi sumber daya manusia yang mengoperasikan teknologi, infoware merupakan komponen yang mencakup sistem informasi dan pengetahuan yang mendukung operasional perusahaan, dan orgaware yang mencakup aturan serta prosedur yang ada dalam suatu organisasi. Upaya komponen teknologi dapat dilakukan dengan metode teknometrik yang merupakan pendekatan dengan menggabungkan teknik mengoptimalkan pengambilan keputusan dalam berbagai bidang, termasuk dalam dunia Menurut Sukarsa dan Sulaeman . metode ini memungkinkan analisis yang lebih mendalam terhadap data historis, sehingga dapat menghasilkan prediksi yang lebih akurat. Penelitian oleh Rohana . menunjukkan bahwa penggunaan model dibandingkan dengan metode tradisional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemilihan model yang tepat dalam analisis penting untuk mencapai hasil yang optimal. Dengan meningkatkan akurasi, tetapi juga efisiensi dalam pengambilan keputusan. Penentuan prioritas perbaikan dapat dilakukan dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Proces. , yang mana metode AHP merupakan teknik pengambilan keputusan yang sistematis dan terstruktur yang memungkinkan pengambilan keputusan untuk mengevaluasi sebagai alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Penelitian oleh Sitinjak dan Silalahi . menunjukkan bahwa AHP efektif dalam mengidentifikasi prioritas dalam proses Dengan kemampuannya untuk kuantitatif. AHP menjadi alat yang sangat berharga dalam pengambilan keputusan yang berbasis bukti. Penelitian oleh Ghozali et al. menyatakan bahwa AHP dapat mengidentifikasi dan memprioritaskan risiko yang perlu ditangani. Dengan fleksibilitas dan kemampuannya untuk menangani berbagai kriteria. AHP menjadi metode yang efektif dalam mendukung pengambilan keputusan yang kompleks di berbagai sektor, termasuk pada pabrik gula. Salah satu pabrik gula yang memiliki sejarah panjang di Indonesia adalah Pabrik Gula Gempolkrep, yang telah berdiri sejak Saat ini, pabrik gula ini masih aktif beroperasi di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X), dan menjadi salah satu pilar penting dalam industri gula di Jawa Timur. Namun, meskipun memiliki sejarah yang cukup panjang. Pabrik Gula Gempolkrep mengalami stagnasi dalam hal tingkat produksi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari data yang menunjukkan bahwa rendemen . asio antara berat gula yang dihasilkan dengan berat tebu yang digilin. pabrik ini berada di sekitar angka 8% dalam enam tahun terakhir. Performa rendemen yang cenderung stabil namun rendah ini memberikan gambaran adanya tantangan yang harus dihadapi oleh pabrik dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi. Gambar di bawah ini memberikan gambaran lebih spesifik mengenai kondisi tersebut, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2. Dalam konteks ini, penting untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi stagnasi rendemen, seperti kualitas bahan baku, teknologi yang digunakan, serta sistem DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 manajemen produksi, yang mungkin perlu dioptimalkan agar dapat meningkatkan 10,00 9,80 9,60 761,87 040,90 342,60 231,50 123,50 9,40 365,65 9,20 9,00 8,80 8,60 8,40 TON produktivitas pabrik ke depan. Tebu Digiling (To. Produksi Gula (To. Gambar 2. Tebu digiling dan produksi gula di pabrik gula Gempolkrep 2018-2023 Berdasarkan hal tersebut maka penting bagi Pabrik Gula Gempolkrep untuk melakukan analisis kontribusi teknologi Metode memungkinkan pengukuran secara sistematis masing-masing komponen teknologi berupa technoware, humanware, infoware, dan orgaware. Serta metode AHP berguna dalam menentukan preferensi dan prioritas perbaikan dari berbagai komponen teknologi berdasarkan bobot kepentingannya. Melalui metode AHP. Pabrik Gula Gempolkrep dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai perbaikan mana yang perlu diutamakan. Oleh karena itu kombinasi antara analisis teknometrik untuk mengevaluasi kontribusi teknologi dan AHP untuk menetapkan prioritas perbaikan dapat memberikan dasar yang kuat bagi pabrik untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam memperkuat keseluruhan kinerja perusahaan. METODE Metode penelitian Metode penelitian terdiri dari dua langkah yaitu penghitungan teknometrik dan penghitungan AHP (Analytical Hierarchy Proces. Tahapan penghitungan dengan metode teknometrik diantaranya sebagai Mengestimasi batas atas dan bawah tingkat . yang terlibat dalam proses produksi dengan pemberian skor antara 19 yang diperlihatkan pada Tabel 1. Menilai tingkat kemutakhiran . tate of the art/SOTA) untuk mengetahui tingkat kemutakhiran yang ada pada keempat komponen teknologi yang dimana pada masing-masing komponen terdapat kriteria yang kemudian diberikan skor dari 1-10, secara spesifik kriteria yang dinilai dapat dilihat pada Tabel 2. DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 Tabel 1. Golongan tingkat kecanggihan komponen teknologi Tingkat Kecanggihan Komponen Teknologi Technoware Humanware Infoware Orgaware Fasilitas manual Kemampuan Informasi Kerangka kerja Fasilitas berKemampuan Informasi Kerangka kerja SDM Fasilitas fungsi Kemampuan Informasi Kerangka kerja Fasilitas fungsi Kemampuan Informasi Kerangka kerja Fasilitas Kemampuan adaptasi Informasi Kerangka kerja Fasilitas Kemampuan Informasi Kerangka kerja pencarian peluang Fasilitas Kemampuan inovasi Informasi Kerangka kerja Tabel 2. Kriteria penilaian tingkat kemutakhiran Technoware Humanware Infoware Tipe mesin yang Kesadaran dalam Bentang informasi Tipe proses yang Kesadaran akan Menginformasikan disiplin dan masalah dengan tanggung jawab Frekuensi perawatan Kreativitas dan Jaringan informasi di inovasi dalam dalam perusahaan Pemeriksaan pada Kemampuan dalam Prosedur komunikasi tiap pengerjaan antar anggota di fasilitas produksi dalam perusahaan Pengukuran pada tiap pengerjaan Kesadaran mengenai bekerja dalam Sistem informasi perusahaan dalam mendukung aktivitas Tingkat keamanan dan keselamatan Kemampuan dalam masalah perusahaan Kemampuan bekerja sama . Penyimpanan dan informasi kembali Skor Orgaware Otonomi perusahaan Visi perusahaan Menciptakan lingkungan yang kondusif selama Memotivasi karyawan dengan kepemimpinan yang Beradaptasi dengan lingkungan bisnis dan tuntutan Bekerja sama dengan pemasok Menjaga hubungan yang harmonis dengan pelanggan Memperoleh sumber daya dari luar Kepemimpinan . DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 Setelah pemberian skor masing-masing kriteria pada komponen teknologi, kemudian dilakukan penghitungan dengan rumus kemutakhiran masing-masing komponen Dimana: Ti = Kontribusi masing-masing item T dari technoware Hj = Kontribusi masing-masing item H dari humanware I = Kontribusi masing-masing item I dari infoware O = Kontribusi masing-masing item O dari orgaware UTI = Batas atas komponen technoware UH = Batas atas komponen humanware UI = Batas atas komponen infoware UO = Batas atas komponen orgaware LTI = Batas bawah komponen technoware LH = Batas bawah komponen humanware LI = Batas bawah komponen infoware LO = Batas bawah komponen orgaware ST = Skor SOTA komponen technoware SH = Skor SOTA komponen humanware SI = Skor SOTA komponen infoware SO = Skor SOTA komponen orgaware State of the Art komponen Technoware ST = 10 . kt ] a. State of the Art komponen Humanware SH = 10 . lh ] a. State of the Art komponen Infoware SI = 10 . State of the Art komponen Orgaware SO = 10 . Dimana: tik = Skor kriteria ke-k untuk komponen kt = Banyaknya kriteria untuk komponen hlj = Skor kriteria ke-j untuk komponen lh = Banyaknya kriteria untuk komponen fm = Skor kriteria ke-m untuk komponen mf = Banyaknya kriteria untuk komponen on = Skor kriteria ke-n untuk komponen no = Banyaknya kriteria untuk komponen Menghitung teknologi dengan menggunakan batasbatas tingkat kecanggihan . dan nilai tingkat kemutakhiran . tate of the Kontribusi komponen teknologi dihitung dengan rumus dibawah sesuai dengan acuan oleh (Alkadri et al. , 2. = 1/9 [LT ST (UTI-LTI)]. = 1/9 [LH SH (UH-LH)]AA. = 1/9 [LI SI (UI-LI)] AA. = 1/9 [LO SO (UO-LO)]AA. Menghitung menggunakan perbandingan berpasangan melalui pairwaise comparison yang merupakan bagiaan dari tahapan metode AHP kepentingan relatif dari suatu komponen teknologi terhadap komponen teknologi yang lain. Menghitung nilai TCC (Technology Contribution Coefficien. mengetahui tingkat kontribusi teknologi yang terdapat di Pabrik Gula Gempolkrep dengan menggunakan rumus dibawah yang kemudian hasil yang didapatkan dapat digolongkan menurut golongan level teknologi perusahaan yang ada pada Tabel TCC = Tt x Hh x Ii x Oo AA. DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 Tabel 3. Tingkat teknologi TCC Nilai TCC 0 < TCC O 0,1 0,1 < TCC O 0,3 0,3 < TCC O 0,5 0,5 < TCC O 0,7 0,7 < TCC O 0,7 0,9 < TCC O 1,0 Tingkat Teknologi Tradisional Tradisional Semi-Modern Semi-Modern Modern Modern Tahapan penghitungan dengan metode AHP konsistensi dapat dilakukan dengan menurut Saaty, . diantaranya sebagai Menghitung nilai CI . onsistency inde. Membuat hierarki dilakukan dengan cara mengidentifikasi informasi yang sedang diamati di Pabrik Gula Gempolkrep. Dimana: Pembuatan hierarki dilakukan dengan = banyak elemen membuat kerangka penjabaran dari tujuan, maks = eigen vector kriteria, dan alternatif yang digunakan Untuk mengetahui nilai CI sudah cukup untuk untuk mendefinisikan masalah dan baik atau tidak maka perlu diketahui CR memperoleh persepsi yang akurat. (Consistency Inde. , rasio konsistensi Membuat yang merupakan parameter untuk menggambarkan pengaruh dari setiap berpasangan telah dilakukan dengan elemen terhadap masing-masing sub konsisten dengan menggunakan rumus hierarki dalam bentuk berpasangan sebagai berikut: berdasarkan skala AHP seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4. Menghitung CR . onsistency rati. Tabel 4. Matriks perbandingan berpasangan A. Matriks perbandingan berpasangan pada Tabel 4 menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh tiap elemen terhadap masing-masing tujuan dan kriteria setingkat diatasnya. Matriks perbandingan berpasangan memuat tingkat preferensi penentuan rasio konsistensi. Selanjutnya dihitung indeks konsistensi untuk mengetahui konsistensi jawaban yang akan berpengaruh untuk kebenaran hasil yang Penghitungan Dimana: CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index IR = Index Random Consistency Syarat penyusunan matriks perbandingan dapat diterima apabila nilai CR>0,1. Apabila CR >0,1 maka penilaian perbandingan harus dilakukan kembali Analisis data Analisis data menggunakan metode teknometrik dan AHP (Analytical Hierarchy Proces. pada penelitian ini secara keseluruhan menggunakan bantuan perangkat lunak Excel. DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 HASIL DAN PEMBAHASAN secara komprehensif. Estimasi tingkat kecanggihan komponen Penghitungan nilai TCC di pabrik gula gempolkrep menggunakan metode Pengestimasian tingkat kecanggihan . dilakukan dengan penentuan batas bawah / lower limit (LL) dan batas atas / upper limit (UL) masing-masing komponen teknologi yang ada. Tahap ini bertujuan untuk memastikan analisis dilakukan secara objektif dan terukur pengelompokan komponen berdasarkan tingkat kecanggihannya. Penghitungan nilai TCC di Pabrik Gula Gempolkrep menjadi langkah penting dalam mengukur sejauh mana teknologi yang digunakan mampu mendukung efisiensi dan produktivitas dalam proses produksi. Penentuan nilai TCC ini menggunakan metode teknometrik karena metode ini mengukur empat komponen teknologi berupa technoware, humanware, infoware dan orgaware pada Pabrik Gula Gempolkrep Tabel 5. Hasil estimasi tingkat kecanggihan komponen teknologi . Komponen Lower limit Upper Limit Deskripsi (LL) (UL) LL : Fasilitas rata-rata masih bersumber daya manusia Technoware UL : Fasilitas sudah ada beberapa yang LL : Pegawai sudah memiliki kemampuan menggunakan teknologi Humanware UL : Pegawai mampu melakukan LL : Informasi yang tersedia masih ada Infoware hanya bagi pengguna saja UL : Informasi penilaian tersedia LL : Organisasi yang tersedia sudah memiliki perlindungan Orgaware UL : Organisasi manajemen sudah menerapkan kerja kepemimpinan Hasil estimasi pada Tabel 5 menunjukkan bahwa komponen technoware memiliki batas bawah sebesar 4 dan batas atas sebesar 7 yang menunjukkan bahwa Pabrik Gula Gempolkrep memiliki fasilitas teknologi yang bersumber daya manusia dan terdapat pula yang sudah berjalan secara otomatis. Komponen technoware yang masih belum terotomatisasi dapat menyebabkan produksi menjadi lebih lambat dan lebih bergantung pada sumber daya manusia yang memiliki Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Pramudita et al. , . bahwa otomatisasi dalam proses kecepatan produksi, tetapi juga mengurangi kesalahan manusia yang dapat merugikan kualitas produk. Komponen humanware memiliki batas bawah sebesar 5 dan batas atas sebesar 9 yang menunjukkan bahwa pegawai memiliki kemampuan yang cukup dalam menggunakan teknologi utamanya untuk menyiapkan dan mengoperasikan mesin-mesin yang akan digunakan serta melakukan kalibrasi mesin secara rutin kemudian kemampuan paling tingginya adalah mampu melakukan improvisasi dalam menghadapi tantangan operasional yang lebih kompleks, misalnya ketika mesin penggilingan tebu mengalami DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 penurunan tekanan yang mengakibatkan proses penggilingan menjadi lebih lambat, maka supervisor dapat menyesuaikan kecepatan mesin sementara, memantau secara manual, atau mengalihkan proses ke mesin lain yang masih berfungsi dengan baik. Kemampuan ini sangat penting dalam industri seperti yang dijelaskan oleh Sugiharto . yang menunjukkan bahwa dalam menghadapi situasi tak terduga, kemampuan improvisasi karyawan sangat mempengaruhi efisiensi operasional dan kualitas hasil produksi. Komponen infoware memiliki batas bawah sebesar 5 dan batas atas sebesar 7 yang menunjukkan bahwa informasi yang ada masih ada yang hanya dimiliki oleh pengguna seperti supervisor atau manajer lapangan. Data mengenai berapa banyak pegawai, seberapa banyak bahan baku dalam setiap batch produksi atau konsumsi energi dalam proses menjadi informasi yang dibatasi dan tidak semua pihak dapat mengakses data tersebut kemudian terdapat informasi yang mencakup penilaian secara menyeluruh hal ini memungkinkan transparansi yang lebih besar dan memperkuat komunikasi antara perusahaan dan pemangku kepentingan eksternal seperti masyarakat, investor, dan pihak terkait lainnya. Hal ini juga selaras dengan pernyataan yang disampaikan oleh Anaam et al. , . yang menyatakan bahwa transparansi informasi di perusahaan tidak stakeholders tetapi juga dapat memperbaiki partisipasi aktif dari pihak terkait. Komponen orgaware memiliki batas bawah sebesar 5 dan batas atas sebesar 8 yang menunjukkan bahwa pengelolaan organisasi yang ada di Pabrik Gula Gempolkrep telah memiliki perlindungan dasar berupa prosedur operasional standar (SOP) dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan serta secara bersamaan juga mampu mengelola organisasi dengan menerapkan kepemimpinan yang matang dengan pembagian tanggung jawab yang jelas dan koordinasi tim yang lebih Penerapan kepemimpinan yang jelas didalam pabrik dapat berdampak pada pemberdayaan karyawan dalam jangka panjang, hal ini diperkuat dengan pernyataan Robinson kepemimpinan yang baik dan pembagian tugas yang jelas dapat meningkatkan ketegangan, dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Hasil estimasi tingkat kemajuan ini menunjukkan seberapa canggih masing-masing komponen teknologi yang ada di Pabrik Gula Gempolkrep. Penilaian tingkat kemutakhiran . tate of the art / SOTA) Penilaian tingkat kemutakhiran pada keempat komponen teknologi yang ada di Pabrik Gula Gempolkrep menggunakan rumus . dengan beberapa kriteria acuan penilaian pada Tabel 2. Tabel 6. Hasil penilaian tingkat kemutakhiran / SOTA State of the art Komponen teknologi (SOTA) Technoware Humanware Infoware 0,612 Orgaware 0,624 Hasil penilaian kemutakhiran / state of the art pada Tabel 6 diatas menunjukkan bahwa komponen technoware memiliki nilai sebesar 0,6 yang berarti sudah cukup baik namun terdapat beberapa perbaikan yang dapat dilakukan utamanya dalam adopsi sistem otomatisasi, maintenance berbasis prediksi, hingga sistem keselamatan cerdas berbasis sensor. Penelitian oleh Zulfikar et al. mengungkapkan bahwa penerapan teknologi otomatisasi di manufaktur dapat mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia dan meningkatkan efisiensi Komponen humanware memiliki nilai sebesar 0,7 dan memiliki nilai kemutakhiran tertinggi yang berarti bahwa sumber daya manusia yang ada sudah dalam kondisi baik untuk mendukung keberlanjutan operasional namun terdapat beberapa pegawai yang peningkatan kedisiplinan kerja. Sejalan DOI: https://doi. org/10. 35891/tp. Yulianto. Yuliati, dan Syah Volume 16. No. 2, . Halaman 222Ae238 dengan temuan Hanoum et al. , . yang keterampilan melalui pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kedisiplinan dan produktivitas pegawai utamanya di sektor Komponen infoware memiliki nilai sebesar 0,612 menunjukkan bahwa pabrik memiliki kemutakhiran yang cukup dalam mendukung kegiatan operasional namun memerlukan peningkatan dalam kecepatan jaringan guna mempelancar komunikasi dan penyebaran informasi. Penelitian oleh Hidyantari et al. , . menekankan bahwa peningkatan infrastruktur teknologi informasi dapat mempercepat aliran informasi dan meningkatkan koordinasi dalam organisasi. Komponen orgaware memiliki nilai sebesar 0,624 yang berarti cukup baik dalam menjalankan prosedur operasional standar (SOP) dan kepemimpinan, namun perlu sedikit upaya dalam pembekalan berbasis koordinasi tim. Amalia et al. , . kepemimpinan yang efektif dalam organisasi agar dapat menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan memastikan kelancaran operasional jangka panjang. Hasil secara keseluruhan menunjukkan bahwa Pabrik Gula Gempolkrep memiliki tingkat kemutakhiran yang cukup memadai namun terdapat peluang perbaikan yang dapat dilakukan guna memastikan kelancaran operasional yang lebih baik serta mendukung pertumbuhan dalam jangka panjang. Kontribusi komponen teknologi Kontribusi dianalisis guna mengetahui sejauh mana setiap komponen teknologi berrperan dan menyumbang kontribusi dalam mendukung kinerja keseluruhan operasional pabrik. Tingkat kontribusi masing-masing komponen teknologi dihitung dengan menggunakan rumus . yang didalam rumus tersebut menggunakan batas-batas tingkat kemajuan dan tingkat kemutakhiran yang telah dihitung sebelumnya. Tabel 7. Hasil Komponen teknologi Tingkat kontribusi Technoware 0,644 Humanware 0,711 Infoware 0,758 Orgaware 0,76 Hasil kontribusi komponen teknologi pada Tabel 7 secara berurutan T