Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 https://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/UrwatulWutsqo Pembentukkan Nilai Ketawadhu’an Santri Melalui Penyebaran Stiker UW Di Pondok Pesantren Putra Al Urwatul Wutsqo Jombang Moh. Kholik mohkholikabdahu@gmail.com STIT Al-Urwatul Wutsqo – Jombang Mar’atul Azizah azizahstituw@gmail.com STIT Al-Urwatul Wutsqo – Jombang Muhammad Ramadhan STIT Al-Urwatul Wutsqo – Jombang Abstract: This research describes the implementation of stickers distribution in forming students' humble at al Urwatul Wutsqo Islamic Boarding School, Jombang. This research is qualitative research, data collected through interviews, observation and documentation. The data then analyzed by Miles and Huberman model such as, reduction, display and verification data. The results of this study are the distribution of stickers is carried out at least twice a year, during semester holidays and the boarder orders from, the distribution of stickers to maintain the existence of the Islamic boarding school, inviting others to look for knowledge at al Urwatul Wutsqo Islamic boarding school, for boarding, studying, training students to be better humble either to Allah, to religion, to prophet to theologian, and to their peers. The students are also given guidance in distributing stickers, as a means of practicing the prophet nature in seeking people and spreading the religion of Allah. The technic of distribution are the students have stickers and all schools destination data that will be given. Then, the students come to the school to see the principal or representative to get out recommendations; the next, students distribute the stickers. Keywords; Spread stickers, humble Pendahuluan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan ritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 23 Tahun 2003 bab 11 pasal 3 tentang sistem Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. https://jurnal.stituwjombang.ac.id/index.php/UrwatulWutsqo 197 Copyright © 2020, LP3M STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… pendidikan nasional.1 Pendidikan menjadi sarana utama yang perlu dikelola secara sistematis dan konsisten berdasarkan berbagai pandangan teoritikal dan praktikal sepanjang waktu sesuai dengan lingkungan hidup manusia itu sendiri.2 Karena dengan pendidikan manusia dapat menentukan statusnya sebagaimana mestinya. Firman Allah swt: ِّ ِّ ِّ ‫مع َوٱألَبصََٰر َوٱألَفٔ ِّٔ َدةَ لَ َعله ُكم‬ ‫َو ه‬ َ ‫َخر َج ُكم من بُطُون أُهم ََٰهت ُكم َل تَعلَ ُمو َن َشيا َو َج َع َل لَ ُك ُم ٱل هس‬ َ ‫ٱَّللُ أ‬ ٧٨ ‫تَش ُك ُرو َن‬ Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”(an-Nahl (16): 78) (RI: 220). Manusia telah diajarkan bagaimana tata cara untuk bersosialisasi, bagaimana cara untuk hidup dalam sebuah masyarakat yang banyak sekali dinamika serta problem yang ada, keberadaan masalah yang ada merupakan sebuah pembentukan karakter dalam diri sebuah manusia, karakter seseorang merupakan pembawaan dari sifat manusia, tapi bukan berarti tidak bisa diubah, karakter tercipta karena kebiasaan yang dijalani seseorang secara terus-menerus, jadi yang terpenting dalam sebuah pembentukan karakter adalah kebiasaan kita untuk membentuk sebuah karakter yang baik.3 Karakter dalam Islam dikenal dengan istilah akhlak, yaitu kondisi lahir dan batin manusia. Akhlak terbagi menjadi akhlak baik dan akhlak buruk. Akhlak baik (akhlaq mahmudah) seperti sabar, syukur, ikhlas, qana’ah, rendah hati (tawadhu’), jujur (sidiq), dermawan (jud), amanah, pemaaf, dan lapang dada. Akhlak buruk (akhlaq madzmumah) seperti gampang marah (ghadhab), kufur nikmat, riya’, rakus (tama’), sombong (takabur), dusta (kidb), pelit (syukh), khianat, dendam, dan dengki. Pengukuran kelompok karakter ini secara kuantitatif dapat dikembangkan dengan melibatkan berbagai teori pendahulu yang mendukung batasan-batasan karakter baik dan buruk di atas. 1 IKAPI, A. UU Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Fokus Media, 2010), 2 2 I. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta Fuad, 2010), 3 3 Z. Nurul, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Prespektif Perubahan. (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 17. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 198 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Salah satu cara untuk mewujudkan manusia yang berkarakter adalah dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran.4 Karakter adalah ciri khas yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang atau bangsa. Ciri khas itu asli, mengakar pada kepribadian seseorang atau bangsa, dan menjadi sumber energi seseorang untuk bersikap dalam ucapan dan tindakan. Ciri khas karakter adalah nilai-nilai yang secara universal memberi kebaikan atau keutamaan untuk semua.5 Khususnya bagi para remaja atau pemuda dan pemudi yang merupakan generasi penerus bangsa ini. Pembahasan mengenai karakter dalam Islam sesungguhnya telah selesai begitu disepakati Islam sebagai agama. Dalam ajaran Islam, khususnya yang termuat dalam al-Qur’an dan Sunnah, terdapat nilai-nilai asasi karakter yang memiliki ciri universal yang mampu menaungi berbagai ragam perbedaan, termasuk perbedaan ras, bangsa, dan bahasa. Karenanya, secara substansial, nilainilai asasi dalam Islam tidak akan berubah, sebab jika berubah maka esensi Islam sebagai agama menjadi hilang. Namun secara instrumental, terlebih lagi menyangkut masalah teknik operasionalnya, nilai-nilai itu berkembang dan akan beradaptasi dengan kondisi ruang dan waktu dimana nilai itu diimplementasikan. Proses seperti ini tidak berarti mereduksi posisi ajaran Islam sebagai agama, justru hal itu semakin memperkuat posisinya, karena nilai-nilai esensinya dapat membumi dan dapat direalisasikan oleh pemeluknya untuk misi rahmatan lil a’lamin. Persoalan kita bukan menemukan konsep karakter Islam, tetapi lebih bagaimana mendesain rumusan karakter yang mudah diimplementasikan dan diukur penerapannya, sehingga nantinya kita memiliki norma baku yang dapat dijadikan sebagai standar dalam menentukan baik-buruknya karakter individu. Tentu saja proses itu tidak mudah, karena perumusan dan pengukuran karakter Islam memiliki ciri khas, prinsip dan pola tersendiri yang sebagian berbeda dengan pola pengukuran pada umumnya. Karakter individu sesungguhnya cerminan dari apa yang ada dalam diri individu. Melalui keunikannya, individu dapat mengekspresikan apa yang menjadikan kekuatannya. Proses aktualisasi potensi diri bagi individu harus mampu memilah mana yang perlu diaktualisasikan dan mana yang perlu dikendalikan. Faktor ini lebih banyak diperankan oleh psikolog atau konselor yang mampu memetakan potensi individu dan mengembangkannya, sehingga terbentuk menjadi individu yang berkarakter. Marzuki. Jurnal Pengintegrasiaan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah. (Yogyakarta: UNY, 2013), 1 5 Maksudin. Pendidikan Karakter Non Dikotomik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 4. 4 Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 199 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Disaat keadaan pendidikan dan masyarakat Indonesia yang sedemikian rupa tersebut, pesantren dianggap mampu untuk menjadi “bengkel” dan filter dari budaya negatif yang masuk ke Indonesia akibat arus globalisasi karena pesantren merupakan sistem pendidikan yang tumbuh dan lahir dari culture Indonesia.6 Terdapat bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa tidak sedikit putra terbaik bangsa ditempa di pesantren. Bahkan sosiolog Jerman yang pernah meneliti perkembangan pesantren di Indonesia, Manfred Ziemek mengungkapkan bahwa pesantren telah berhasil melaksanakan proyek sinergis antara kerja dan pendidikan serta berhasil dalam membina lingkungan desa berdasarkan struktur budaya dan social.7 Islam melalui sistem pendidikannya merupakan konsepsi paripurna yang diturunkan Allah kepada Rasulullah. Tujuan dari pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang benar-benar menjadi penganut agama yang baik, menaati ajaran Islam, menjaga agar rahmat Allah tetap berada pada dirinya serta mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarannya sesuai dengan akidah islamiah.8 Lembaga pendidikan seperti pondok pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para santrinya guna membangun dan menumbuh kembangkan keimanan agar senantiasa berperilaku yang baik. Selain itu peraturan-peraturan yang mengikat pada santri berfungsi untuk mengajarkan mereka disiplin, patuh dan taat kepada ajaran Islam. Pondok pesantren memiliki fungsi dan tujuan untuk membimbing seseorang memiliki kepribadian yang cerdas, beriman, dan memiliki akhlakul karimah. Pondok pesantren dapat menjadi salah satu lembaga pendidikan alternatif untuk mengatasi krisis moral yang akhir-akhir ini menjadi isu pokok bangsa Indonesia. Pesantren sesungguhnya merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, yang secara nyata telah melahirkan banyak Ulama’. Tidak sedikit tokoh Islam lahir dari lembaga pesantren. Bahkan Mukti Ali pernah mengatakan bahwa tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren. Istilah “pesantren” berasal dari kata pe-“santri”-an, dimana kata “santri” berarti murid dalam bahasa Jawa. Istilah “pondok” berasal dari bahasa Arab “funduuq” yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama “dayah”. Menurut laporan Van Bruinessen pesantren tertua di Jawa adalah pesantren Tegalsari yang didirikan tahun 1742, disini anak-anak muda dari pesisir Yasmadi. Modernisasi Pesantren, Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Jakarta: Ciputat Press, 2002), 3. 7 HM. Amin Haedari, e. a. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Kompleksitas Global. (Jakarta: IRD. Press, 2004), 12 8 Arifin, H. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 7 6 Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 200 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… utara belajar agama Islam. Namum hasil survey Belanda 1819, dalam Van Bruinessen lembaga yang mirip pesantren hanya ditemukan di Priangan, pekalongan, Rembang, Kedu, Madiun, dan Surabaya (Bruinessen, 1995). Laporan lain, Soebardi mengatakan bahwa pesantren tertua adalah pesantren Giri sebelah utara Surabaya, Jawa Timur yang didirikan oleh wali Sunan Giri pada abad 17 M langsung dipimpin oleh keturunan Nabi-Wali. Mastuhu memberikan kesimpulan lain, bahwa pesantren di Nusantara telah ada sejak abad ke 13-17, dan di Jawa sejak abad 15-16 M bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Laporan mastuhu dikuatkan oleh Dhafier bahwa dalam serat Senthini dijelaskan pada abad 16 telah banyak pesantren-pesantren mashur di Indonesia yang menjadi pusat pendidikan Islam. Akan tetapi, laporan Mastuhu dan Dhofier di tolak oleh Van Bruinessen, dimana serat Senthini tersebut disusun abad 19, oleh karena itu tidak bisa dianggap sebagai sumber yang dapat dipercaya untuk menjelaskan kejadian abad 17 M (Bruinessen, 1995). Selain itu, pondok pesantren juga merupakan lembaga pendidikan yang di dalamnya menciptakan suasana agamis serta dibudayakan pembiasaan berperilaku sopan santun dan berakhlakul karimah serta tawadhu’ terhadap guru atau seorang ulama’ yang ada di pondok pesantren tersebut. Pengertian Tawadhu Secara Terminologi berarti rendah hati,lawan dari sombong atau takabur. Tawadhu menurut Al-Ghozali adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita.9 Tawadhu menurut Ahmad Athoilah adalah sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah. (Atha'illah, 2006: 448) Salah satu lembaga pendidikan yang telah melaksanakan pendidikan akhlak dan mengutamakan ketawadhu’an kepada gurunya adalah pondok pesantren al Urwatul Wutsqo Bulurejo Diwek Jombang. Pondok pesantren al Urwatul Wustqo bermula dari sebuah aktifitas pengajian al-Quran diselenggarakan di sebuah bangunan musholla pada tahun 1946, satu tahun setelah indonesia merdeka, didirikan oleh KH.M. Ya’qub Husein, berlokasi di desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo tidak terlepas dari figur KH.M.Ya’qub Husein selaku pendirinya. Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo melatih para santrinya untuk menyampaikan syi’ar-syi’ar pondok, salah satunya yakni dengan memerintahkan santrinya agar mengajak orang untuk mondok. 9 I Ghozali, Ihya Ulumudin, jilid III, ter. Muh Zuhri. Semarang: CV. As-Syifa., 1995), 343. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 201 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang adalah pondok pesantren yang juga memiliki keunikan tersendiri dalam menanamkan sikap tawadhu’ santri terhadap seorang Guru salah satunya melalui penyebaran stiker UW, yang dalam hal ini Pengasuh pondok pesantren bertujuan agar semua santri bisa menjadi mandiri, bisa bersosialisasi dan memiliki sikap tawadhu’ kepada Guru dan masyarakat terutama di lingkungan sekolah. Dan santri bisa mengajak semua alumni sekolah yang pernah menjadi target penyebaran stiker UW untuk mondok sekaligus mencari ilmu di lingkungan Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian berjudul “Implementasi Penyebaran Stiker UW dalam Menanamkan Ketawadhu’an Santri di Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang”. Karena didalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan dan inspirasi bagi pembaca untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada dengan rancangan studi kasus teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.10 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif Selanjutnya analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian Implementasi Penyebaran Stiker UW dalam Menanamkan Ketawadhu’an Santri di Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang. a. Perencanaan Penyebaran stiker UW merupakan salah satu kegiatan yang dianjurkan oleh Pengasuh pondok untuk semua santri pondok pesantren al urwatul wutsqo Jombang termasuk di pondok pesantren putra al urwatul wutsqo, semua santri-santrinya ditugaskan untuk menyebarkan stiker UW sebelum itu terlebih dahulu semua Pengurus dan Ustaz kelas mendata santri, berapa bendel stiker yang dibutuhkan satu bendel dianjurkan untuk infak seribu rupiah yang berisi sepuluh stiker perbendel, mendata sekolahan yang ingin didatangi dan berapa siswa akhirnya, memberikan sebuah arahan dan teknis mengenai penyebaran stiker UW. Tujuan penyebaran stiker UW ini antara lain untuk mengajak orang lain mencari ilmu di lingkungan Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo untuk mondok, kuliah, maupun sekolah. 10 Arikunto, S. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010). Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 202 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Hal ini berdasarkan penjelasan dari Ustadz 1 selaku Pengurus Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang : “Di Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo sendiri khususnya di Pondok Pesantren Putra UW semua santri-santrinya ditugaskan oleh Pengasuh Pondok untuk menyebarkan stiker UW, yang sebelum itu sudah terlebih dahulu semua Pengurus dan Ustaz kelas mendata santri, berapa stiker yang dibutuhkan, mendata sekolahan yang menjadi target, memberikan sebuah arahan mengenai langkah-langkah penyebaran stiker dan untuk teknis penyebarannya, pertama, santri diberi stiker sesuai yang sudah ditentukan, kedua, melakukan pengevaluasi kegiatan. Sedangkan tujuan penyebaran stiker tersebut antara lain untuk mengajak orang lain mencari ilmu di lingkungan Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo entah itu mondok, kuliah, maupun sekolah.”. Ustadz 2 berpendapat bahwa teknis penyebaran stiker UW di Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang. Pertama, santri harus menyiapkan stiker UW yang dibutuhkan, mengerti terlebih dahulu sekolah yang menjadi target penyebaran stiker UW dan santri sudah menguasai penjelasan-penjelasan yang ada di dalam tulisan stiker UW. Kedua, santri mendatangi sekolahan tersebut dan menemui kepala sekolah atau yang mewakili untuk meminta izin menyebarkan stiker UW di sekolahan tersebut. Ketiga, apabila sudah mendapatkan izin dari sekolahan tersebut maka santri baru bisa masuk ke kelas-kelas yang sudah ditentukan oleh pihak sekolahan dan santri memberikan satu stiker UW kepada satu murid serta menjelaskan apa saja yang ada di dalam tulisan stiker UW tersebut di depan murid. b. Pelaksanaan Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang juga merupakan Pondok Pesantren yang mempelajari al Qur’an sampai dengan cara pengamalannya, Pondok Pesantren ini juga mempunyai keunikan tersendiri dalam menjaga eksistensi pondok pesantren yaitu dengan cara memasang pos info, memasang banner, penyebaran stiker UW, dan lain sebagainya. Dengan sistem tersebut juga para santri bisa mengamalkan sifatnya para nabi yang bersusah payah dalam mencari umat, terutama pada saat liburan semester seluruh santri diperintahkan oleh Pengasuh Pondok untuk menyebarkan stiker ke lembaga-lembaga formal seperti SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA terdekat dan harapannya setelah penyebaran stiker UW ini benar-benar terlaksana setelah semua murid lulus dari sekolahan yang menjadi target penyebaran stiker UW tadi bisa melanjutkan di lembaga Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 203 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… pondok pesantren al urwatul wutsqo Jombang untuk mondok, sekolah, kuliah. Hal ini merupakan pendapat dari Ustaz 4, sebagai berikut: “Dalam hal penyebaran stiker UW, para santri Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang baik itu santri tarbiyah maupun santri MA, SMA, dan MTs diperintahkan oleh Pengasuh Pondok atau Abah untuk belajar menjaga eksistensi pondok atau mengamalkan sifatnya para nabi yang bersusah payah dalam mencari umat, dengan cara menyebarkan stiker UW di lembaga-lembaga formal maupun non formal, penyebaran stiker ini dilaksanakan pada saat liburan semester. Terkadang juga bukan hanya liburan semester saja penyebaran stiker UW ini, tetapi pada saat tidak liburanpun Abah memerintahkan santri-santrinya untuk menyebarkan stiker UW ke sekolah-sekolah yang tidak jauh dari Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang. Jadi pelaksanaan penyebaran stiker UW ini tidak hanya pada saat liburan saja tetapi bisa juga pada saat tidak liburan”. Selain bertujuan untuk belajar mengajak mondok, dalam implentasi penyebaran stiker UW ini juga Pengasuh pondok pesantren al urwatul wutsqo Jombang ingin melatih karakter semua santri menjadi lebih baik lagi dalam hal ketawadhu’an terhadap seorang Guru. Penyebaran stiker tersebut biasanya dilakukan dalam kurun waktu minimal setahun dua kali, tepatnya pada saat liburan semester ganjil atau liburan semeter genap dan kapan saja sesuai dengan perintah dari Pengasuh pondok, dalam penyebaran stiker UW yang menjadi target adalah lembaga formal dan non formal tetapi yang diutamakan lembaga formal terlebih dahulu. Hal di atas berdasarkan penjelasan dari Ustaz 3 selaku Pengurus Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang sekaligus Ustaz Kelas MTs Putra al Urwatul Wutsqo Jombang : “Menurut saya, dalam proses implementasi penyebaran stiker UW ini sangat bisa sekali untuk membentuk karakter santri menjadi lebih baik lagi. Karena Pengasuh pondok atau biasanya santri menyebut dengan sebutan Abah ini, bukan hanya bertujuan untuk belajar mengajak siswa akhir atau masyarakat mondok saja. Tetapi juga ingin melatih semua santrinya untuk belajar tidak enak-enakan melalui penyebaran stiker UW di lembaga formal maupun non formal, penyebaran stiker tersebut biasanya dilakukan dalam kurun waktu minimal setahun dua kali, tepatnya pada saat liburan semester ganjil dan maksimal tiga bulan sekali”. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 204 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Penyebaran stiker UW ini juga merupakan salah satu perantara kecil untuk menanamkan ketawadhu’an seorang santri kepada Allah, kepada agama, kepada Rasulullah, kepada Ulama’, kepada Guru dan kepada teman sebayanya. Karena dalam proses penyebaran stiker UW seorang santri secara otomatis didik oleh Pengasuh pondok untuk rendah hati seperti memperbanyak pujian kepada Allah SWT, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama Islam, mengutamakan petunjuk Rasulullah di atas manusia lainnya, menjunjung tinggi perintah seorang Ulama’, apabila duduk di depan Guru selalu sopan, bersikap baik terhadap teman sebayanya. Apabila seorang santri bersungguh-sungguh dalam menyebarkan stiker UW dan semua syarat tersebut sudah dilakukan barulah bisa seorang tersebut dikatakan bersikap tawadhu’. Hal ini sesuai dengan pendapat yang diungkapkan oleh Ustadz 2. “Salah satu amal sholehnya seorang santri pada saat liburan adalah penyebaran stiker UW, karena dalam prosesnya merupakan perwujudan sikap tawadhu’ seorang santri terhadap Allah, agama, Rasulullah, Ulama’, Guru maupun teman sebayanya. Oleh sebab itu ketawadhu’an seorang santri akan diuji melalui penyebaran stiker UW tersebut, apabila seorang santri sungguh-sungguh dalam menyebarkan stiker UW tersebut maka bisa dikatakan santri tersebut bersikap tawadhu’. Tetapi penyebaran stiker UW ini hanya perantara kecil saja untuk bertawadhu’, masalah hakikat tawadhu’ yang sesungguhnya hanya Allah SWT yang bisa menilai”. Hal di atas juga selaras dengan Ustaz 1, beliau berpendapat sebagai berikut: “Menurut saya, dalam proses penyebaran stiker UW ini Pengasuh pondok bertujuan untuk mendidik santri-santrinya lebih bertawadhu’ lagi kepada Allah; dengan cara memperbanyak pujian kepada Allah SWT di dalam hatinya, kepada agama; dengan cara tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama Islam, kepada Rasulullah; dengan cara mengutamakan petunjuk Rasulullah di atas manusia lainnya, begitu juga dengan Ulama’, Guru maupun teman-temannya”. Ustaz 3 juga berpendapat dengan hal yang sama, beliau mengatakan: “Seorang bisa dikatakan tawadhu’apabila sudah sungguh dalam menyebarkan stiker UW, karena dalam prosesnya terdapat indikator yang membentuk sikap tawadhu’ dan ciri-ciri sikap tawadhu’ itu Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 205 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… sendiri. Dan penyebaran stiker UW ini merupakan anjuran dari Guru spiritual kami yaitu Abah”. Penyebaran stiker UW merupakan sarana menjadikan seorang santri Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang lebih berakhlak lagi kepada Allah dan Rosulullah SAW, terutama dalam hal ketawadhu’annya kepada seorang Guru. Hal ini sesuai dengan pendapat Ustaz 2. “Alasan mengapa penyebaran stiker UW ini dilaksanakan, karena Pengasuh Pondok menginginkan santri-santrinya menjadi lebih berakhlak lagi kepada Allah dan Rosulullah melalui tawadhu’ terhadap perintah seorang Ulama’ dengan menyebarkan stiker ke lembagalembaga formal”. Hal di atas selaras dengan pendapat yang diutarakan santri 1 kelas XII MA, sebagai berikut: “Saya merasa senang sekali dalam menyebarkan stiker UW pada liburan semester kemarin, karena dalam menyebarkan stiker UW tersebut secara otomatis kami diajarkan oleh Abah untuk lebih berakhlak lagi kepada Allah dan Nabi kita dan sayapun merasa ada pengamalan tersendiri dalam penyebaran stiker UW tersebut yaitu kami sebagai santri bisa bersosialisasi dengan murid-murid”. Sama halnya dengan pendapat santri 2 kelas XI yang berpendapat sebagai berikut: “Penyebaran stiker UW adalah sarana bagi kami seorang santri agar lebih berakhlak lagi terhadap Allah, Rosulullah dan Ulama’. Dan merupakan amal sholeh untuk mengajak orang mondok dan pengalaman yang kami dapat dalam menyebarkan stiker UW tersebut adalah kami bisa berbicara di depan murid-murid”. Salah satu media untuk mensyiarkan agama Allah adalah dengan mengajak orang disekitar kita kembali pada Allah, proses seperti ini menjadi langkah yang relative bagaimana seorang insan ingat fitrah hidupnya yaitu menghamba pada Allah, adapun di pondok UW dengan adanya media stiker serta pengajian dan program-program lainnya merupakan eksistensi syi’ar Islam untuk mengajak orang lebih dekat kepada Allah. Begitulah kira-kira yang peneliti simpulkan dari pernyataan Ustaz 4 sebagai berikut: “Stiker di sini merupakan alat untuk mengajak orang baik, dan kembali kepada Allah, jadi sama halnya dengan dakwah yang mensyiarkan agama Allah, adapun cara lain yang digunakan untuk mensyi’arkan pondok di sini yaitu dengan di adakannya pengajianpengajian seperti tafsir amaly, qur’any dll, jika dipengajian maka Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 206 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… sifatnya secara informasi, biasanya tanpa memakai stiker, sedangkan jika dengan program-program seperti pelatihan maka mereka akan tertarik dengan sendirinya, dan menanyakan domisi pondok yang santri di sini tempati, begitulah kira-kira”. Hal senada juga dikemukakan oleh Ustaz 2 dia mengatakan sebagai berikut: “Selain via stiker UW, biasanya dengan pengajian rutinan per wilayah yang sembari memberikan informasi kepada jama’ah nya, dan biasanya setiap koordinator wilayahlah yang banyak memberikan kontribusi kepada pondok di sini dalam hal kuantitas santri”. Hal yang sama juga dikatakan oleh Ustaz 3 dia mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Cara lain untuk mensyiarkan pondok ya dengan mengisi suatu pengajian yang jama’ahnya rata-rata memiliki anak, dan memang terkadang banyak saya lihat para koordinator pengajian tertentu selalu membawa santri baru, misalnya di NTT atau NTB”. c. Evaluasi Dalam penerapan sebuah pelaksanaan untuk mengetahui hasil yang dicapai maka diperlukan adanya evaluasi kegiatan, evaluasi tersebut untuk menindaklanjuti kegiatan penyebaran stiker UW yang ditugaskan kepada santri-santri. Hal ini berdasarkan statement dari Ustaz 1 sebagai sberikut: “Mengenai evaluasi penyebaran stiker UW sendiri mas, biasanya kami laksanakan setelah santri pulang dari rumah kemudian kembali ke pondok, santri-santri dikumpulkan per kelas masing-masing yang dipimpin oleh Ustaz Kelasnya, lalu santri-santri ditanya one by one alias satu per satu dan ditanya pertama, apakah sudah menyebarkan stiker, kedua, menyebarkan diberapa sekolah-sekolah dan berapa jumlah siswa akhirnya yang diberi stiker, serta yang ketiga, berapa bendel stiker yang sudah disebarkan”. Ustaz 2 menambahkan bahwasannya terkadang kegiatan evaluasi penyebaran stiker UW dilaksanakan dengan teknis santri-santri dikumpulkan semua, baik santri MA maupun SMA di ruangan aula Pondok yang dipimpin oleh Pimpinan Unit untuk ditanya dan diberi sebuah apresiasi bagi yang sudah menyebarkan stiker berupa reward berbentuk pujian agar yang belum menyebarkan ikut termotivasi juga. Kegiatan evaluasi ini juga untuk mengukur kesungguhan santri dalam menyebarkan stiker UW. Pembahasan. Berdasarkan data-data yang diperoleh oleh peneliti dalam sebuah penelitian melalui berbagai macam metode seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 207 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… maka peneliti akan memaparkan data apa adanya sesuai hasil penelitian, kemudian memperoleh temuan-temuan penelitian untuk menjawab rumusan penelitian, dan selanjutnya peneliti melakukan analisis data sebagai berikut : Implementasi Penyebaran Stiker UW dalam Menanamkan Ketawadhu’an Santri di Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang. Penyebaran stiker UW merupakan salah satu kegiatan yang dianjurkan oleh Pengasuh pondok untuk semua santri pondok pesantren al urwatul wutsqo Jombang termasuk di pondok pesantren putra al urwatul wutsqo, semua santrisantrinya ditugaskan untuk menyebarkan stiker UW sebelum itu terlebih dahulu semua Pengurus dan Ustaz kelas mendata santri, berapa bendel stiker yang dibutuhkan satu bendel dianjurkan untuk infak seribu rupiah yang berisi sepuluh stiker perbendel, mendata sekolahan yang ingin didatangi dan berapa siswa akhirnya, memberikan sebuah arahan dan teknis mengenai penyebaran stiker UW. Tujuan penyebaran stiker UW ini antara lain untuk mengajak orang lain mencari ilmu di lingkungan Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo untuk mondok, kuliah, maupun sekolah. Ustaz 2 (2019) berpendapat bahwa teknis penyebaran stiker UW di Pondok Pesantren Putra al Urwatul Wutsqo Jombang. Pertama, santri harus menyiapkan stiker UW yang dibutuhkan, mengerti terlebih dahulu sekolah yang menjadi target penyebaran stiker UW dan santri sudah menguasai penjelasan-penjelasan yang ada di dalam tulisan stiker UW. Kedua, santri mendatangi sekolahan tersebut dan menemui kepala sekolah atau yang mewakili untuk meminta izin menyebarkan stiker UW di sekolahan tersebut. Ketiga, apabila sudah mendapatkan izin dari sekolahan tersebut maka santri baru bisa masuk ke kelas-kelas yang sudah ditentukan oleh pihak sekolahan dan santri memberikan satu stiker UW kepada satu murid serta menjelaskan apa saja yang ada di dalam tulisan stiker UW tersebut di depan murid. Selain bertujuan untuk belajar mengajak mondok, dalam implentasi penyebaran stiker UW ini juga Pengasuh pondok pesantren al urwatul wutsqo Jombang ingin melatih karakter semua santri menjadi lebih baik lagi dalam hal ketawadhu’an terhadap seorang Guru. Penyebaran stiker tersebut biasanya dilakukan dalam kurun waktu minimal setahun dua kali, tepatnya pada saat liburan semester ganjil atau liburan semeter genap dan kapan saja sesuai dengan perintah dari Pengasuh pondok, dalam penyebaran stiker UW yang menjadi target adalah lembaga formal dan non formal tetapi yang diutamakan lembaga formal terlebih dahulu. Beberapa statement di atas sesuai dengan teori ketawadhu’an menurut Yanuhar Ilyas menyatakan bahwa sikap tawadhu’ itu akan membimbing dan membawa manusia untuk menjadi seorang yang ikhlas menerima apa adanya. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 208 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Sehingga tidak serakah, tamak, dan untuk selalu berperilaku berbakti kepada Allah, taat kepada Rasulullah, dan cinta kepada makhluk Allah. Apabila perilaku manusia sudah seperti ini maka bisa disebut sudah bersikap tawadhu’.11 Selain Yanuhar Ilyas, hal di atas juga sejalan dengan pendapat Imam AlGhozali menyatakan tawadhu’ adalah mengeluarkan kedudukan atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita.12 Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang juga merupakan Pondok Pesantren yang mempelajari al Qur’an sampai dengan cara pengamalannya, Pondok Pesantren ini juga mempunyai keunikan tersendiri dalam menjaga eksistensi pondok pesantren yaitu dengan cara memasang pos info, memasang banner, penyebaran stiker UW, dan lain sebagainya. Dengan sistem tersebut juga para santri bisa mengamalkan sifatnya para nabi yang bersusah payah dalam mencari umat, terutama pada saat liburan semester seluruh santri diperintahkan oleh Pengasuh Pondok untuk menyebarkan stiker ke lembaga-lembaga formal seperti SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA terdekat dan harapannya setelah penyebaran stiker UW ini benar-benar terlaksana setelah semua murid lulus dari sekolahan yang menjadi target penyebaran stiker UW tadi bisa melanjutkan di lembaga pondok pesantren al urwatul wutsqo Jombang untuk mondok, sekolah, kuliah. Ustaz 2 (2019) menyatakan bahwa penyebaran stiker UW merupakan sarana menjadikan seorang santri Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo Jombang lebih berakhlak lagi kepada Allah dan Rosulullah SAW, terutama dalam hal ketawadhu’annya kepada seorang Ulama’. Hal di atas sesuai dengan pendapat Ali As’ad tawadhu kepada Ulama merupakan Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses transformasi ruhani dari Guru kepada murid. Karena itu kelancaran dan efektifitasnya sangat ditentukan oleh kualitas hubungan ruhaniah antara keduanya. Semakin akrab hubungan ruhani antara keduanya, maka semakin efektif transformasi ruhani yang terjadi, berarti semakin maksimal penularan ilmu antara keduanya.13 Penyebaran stiker UW ini juga merupakan salah satu perantara kecil untuk menanamkan ketawadhu’an seorang santri kepada Allah, kepada agama, kepada Rasulullah, kepada Ulama’, kepada Guru dan kepada teman sebayanya. Karena dalam proses penyebaran stiker UW seorang santri secara otomatis didik oleh Pengasuh pondok untuk rendah hati seperti memperbanyak pujian kepada Allah 11 Ilyas, Y. Kuliah Akhlak. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007), 121 12 Al-Ghazali. Akhlak Seorang Muslim, terj. Mhd Arifin. (Semarang: Wicaksana, 1995), 13 343 A. As'ad, Terjemah Ta'limul Muta'alim, Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan. Kudus: MenaraKudus, 2007), 120. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 209 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… SWT, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan laranganlarangan di dalam agama Islam, mengutamakan petunjuk Rasulullah di atas manusia lainnya, menjunjung tinggi perintah seorang Ulama’, apabila duduk di depan Guru selalu sopan, bersikap baik terhadap teman sebayanya. Apabila seorang santri bersungguh-sungguh dalam menyebarkan stiker UW dan semua syarat tersebut sudah dilakukan barulah bisa seorang tersebut dikatakan bersikap tawadhu’. Salah satu media untuk mensyiarkan agama Allah adalah dengan mengajak orang disekitar kita kembali pada Allah, proses seperti ini menjadi langkah yang relative bagaimana seorang insan ingat fitrah hidupnya yaitu menghamba pada Allah, adapun di pondok UW dengan adanya media stiker serta pengajian dan program-program lainnya merupakan eksistensi syi’ar Islam untuk mengajak orang lebih dekat kepada Allah. Ustaz 2 (2019) terkadang kegiatan evaluasi penyebaran stiker UW dilaksanakan dengan teknis santri-santri dikumpulkan semua, baik santri MA maupun SMA di ruangan aula Pondok yang dipimpin oleh Pimpinan Unit untuk ditanya dan diberi sebuah apresiasi bagi yang sudah menyebarkan stiker berupa reward berbentuk pujian agar yang belum menyebarkan ikut termotivasi juga. Kegiatan evaluasi ini juga untuk mengukur kesungguhan santri dalam menyebarkan stiker UW. Kesimpulan Sebelum semua santri menyebarkan stiker UW perlu adanya perencanaan antara lain, pertama, semua Pengurus atau Ustaz kelas mendata santri, kedua, berapa bendel stiker yang dibutuhkan satu bendel dianjurkan untuk infak seribu rupiah yang berisi sepuluh stiker perbendel, ketiga, mendata sekolahan yang ingin didatangi dan mendata siswa akhirnya, keempat, memberikan sebuah arahan dan teknis mengenai penyebaran stiker UW. Keterangan mengenai teknis penyebarannya antara lain, pertama, santri sudah memiliki stiker UW dan data semua sekolah yang menjadi tujuan penyebaran stiker serta data siswa akhirnya, kedua, santri mendatangi sekolahan tersebut dan menemui kepala sekolah atau yang mewakili untuk mendapatkan rekomendasi, dan yang ketiga, jika sudah mendapatkan rekomendasi dari pihak sekolah santri baru bisa menyebarkan stiker UW tersebut kepada siswa-siswa akhirnya. Penyebaran stiker UW dilaksanakan dalam kurun waktu minimal setahun dua kali, tepatnya pada saat liburan semester ganjil atau liburan semeter genap dan kapan saja sesuai dengan perintah dari Pengasuh pondok, dalam penyebaran stiker UW yang menjadi target adalah siswa akhir dari berbagai sekolah yang sudah terdata dari masing-masing santri. Penyebaran stiker UW ini juga Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 210 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… merupakan salah satu cara untuk menanamkan ketawadhu’an seorang santri kepada Allah, kepada Agama, kepada Rasulullah, kepada Ulama’, kepada guru dan kepada teman sebayanya. Apabila seorang santri bersungguh-sungguh dalam menyebarkan stiker UW dan semua syarat atau teknis tersebut sudah dilakukan barulah bisa seorang santri tersebut dikatakan bersikap tawadhu’. Santri-santri dikumpulkan per kelas atau semua santri dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mengetahui kesungguhan santri dalam bertawadhu’ salah satunya dalam menyebarkan stiker UW, yang dimana dalam proses evaluasi ini seorang Pimpinan Unit akan bertanya kepada santri-santri siapa saja yang sudah menyebarkan atau belum menyebarkan stiker UW, bagi yang sudah menyebarkan siker UW maka akan mendapatkan reward sedangkan bagi santri yang belum menyebarkan stiker tersebut maka akan diberi sebuah motivasi agar bisa bersungguh-sungguh lagi dalam menyebarkan stiker UW. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 211 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483 Moh. Kholik, Mar’atul Azizah dan Muhammad Ramadhan Pembentukan Nilai Ketawadhu’an Santri… Daftar Pustaka As'ad, A. Terjemah Ta'limul Muta'alim, Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan. Kudus: MenaraKudus, 2007. Al-Ghazali. Akhlak Seorang Muslim, terj. Mhd Arifin. Semarang: Wicaksana, 1995. Arifin, H. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2003. Arikunto, S. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010. HM. Amin Haedari, e. a. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Kompleksitas Global. Jakarta: IRD. Press, 2004. I Ghozali, Ihya Ulumudin, jilid III, ter. Muh Zuhri. Semarang: CV. As-Syifa., 1995. Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta Fuad, 2010. IKAPI, A. UU Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokus Media, 2010. Ilyas, Y. Kuliah Akhlak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007. Maksudin. Pendidikan Karakter Non Dikotomik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. Marzuki. Jurnal Pengintegrasiaan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: UNY, 2013. Yasmadi. Modernisasi Pesantren, Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Jakarta: Ciputat Press, 2002. Z. Nurul, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Prespektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara, 2011. Urwatul Wutqo, Jurnal Kependidikan dan Keislaman. 212 Vol. 9, No. 2, September 2020 P-ISSN : 2252-6099; E-ISSN : 2721-2483