Journal of Divinity. PeaceStudies and Conflict Studies Journal of Divinity. Peace and Conflict Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Submitted: 12 Januari 2026 Accepted: 6 Februari 2026 Published: 9 Maret 2026 Pemujaan Atau Penghormatan? Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta angelicanugraheni@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract The relationship between Christian faith and culture is often marked by suspicion, particularly toward traditional religious practices that are perceived as conflicting with the Gospel. In the Indonesian context, the legacy of Western missionary movements has significantly shaped Christian attitudes that tend to regard Eastern cultures, including ancestral veneration within Chinese traditions, as forms of idolatry to be rejected. One practice that exemplifies this theological tension is the ritual of honoring ancestors during the Lunar New Year (Sinci. This paper critically examines whether such practices should be understood solely as worship, or whether they may be reinterpreted as acts of remembrance and respect that resonate with Christian theology. Employing Stephen B. BevansAo countercultural model of contextual theology, this paper offers a criticalAedialogical reading of ancestral veneration in Chinese The analysis is further developed through the Christian concept of anamnesis, which understands remembrance not merely as recalling the past, but as a faith practice that makes the past meaningfully present within the life of the community. Engaging the theological insights of Stephen B. Bevans and Aloysius Pieris, this paper argues that honoring ancestors does not inherently contradict Christian faith when detached from elements of worship and reinterpreted as an anamnestic practice. Rather than reinforcing a rigid dichotomy between faith and culture, this study proposes a contextual theological framework that enables Chinese Christians to embody their faith without abandoning their cultural identity. Keywords: contextual theology, anamnesis, ancestral veneration. Lunar New Year. Chinese Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Abstrak Relasi antara iman Kristen dan budaya kerap ditandai oleh sikap kecurigaan, khususnya terhadap praktik-praktik religius tradisional yang dianggap bertentangan dengan Injil. Dalam konteks Indonesia, warisan misi Barat turut membentuk pola pikir Kekristenan yang cenderung menilai budaya Timur, termasuk tradisi penghormatan kepada leluhur dalam budaya Tionghoa, sebagai bentuk pemujaan yang harus ditolak. Salah satu praktik yang memunculkan ketegangan teologis tersebut adalah tradisi sembahyang kepada leluhur pada malam Sincia. Paper ini mempertanyakan apakah praktik tersebut harus dipahami semata-mata sebagai pemujaan, ataukah dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan pengingatan yang memiliki resonansi dengan iman Kristen. Dengan menggunakan model budaya tandingan dari Stephen B. Bevans, paper ini melakukan pembacaan kontekstual yang kritis terhadap tradisi penghormatan kepada leluhur. Analisis ini diperdalam melalui konsep anamnesis dalam tradisi iman Kristen, yang memahami tindakan mengingat bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghadirkannya secara bermakna dalam kehidupan iman masa kini. Melalui dialog dengan pemikiran Stephen B. Bevans dan Aloysius Pieris, paper ini berargumen bahwa penghormatan kepada leluhur tidak serta-merta bertentangan dengan iman Kristen apabila dilepaskan dari dimensi pemujaan dan dibaca sebagai praktik anamnetik. Dengan demikian, paper ini menolak dikotomi sederhana antara iman dan budaya, serta menawarkan kerangka teologi kontekstual yang memungkinkan orang Kristen Tionghoa menghayati iman tanpa menanggalkan identitas kulturalnya. Kata-kata kunci: teologi kontekstual, anamnesis, penghormatan leluhur, malam Sincia, budaya Tionghoa. Pendahuluan Iman dan budaya merupakan tema yang terus-menerus memunculkan ketegangan dalam refleksi teologis Kristen. Bagi sebagian orang Kristen, iman kerap dipahami sebagai sebuah pemutusan radikal dari kehidupan lama, termasuk tradisi dan budaya yang telah membentuk identitas seseorang sebelumnya. Dalam kerangka pikir ini, budaya tidak jarang ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dicurigai, bahkan dihakimi, karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Injil. Pola serupa juga tampak dalam sejarah Kekristenan di Indonesia, yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh misi Barat. Kekristenan yang dibawa oleh misionaris Eropa dan Amerika sering kali hadir bersama asumsi bahwa budaya TimurAitermasuk praktik-praktik Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies religius tradisionalAibersifat tidak bermoral atau sinkretistik, sehingga perlu ditinggalkan demi kesetiaan iman Kristen. Situasi inilah yang kemudian mendorong berkembangnya upaya-upaya teologi kontekstual di Indonesia, yakni suatu usaha berteologi yang secara sadar melibatkan pengalaman manusia, dinamika sosial, serta kebudayaan setempat sebagai ruang refleksi iman (Bevans, 2002: . Namun demikian, kontekstualisasi tidak dilakukan tanpa kewaspadaan Relasi antara iman Kristen dan konteks budaya tidak dimaksudkan untuk saling dipertentangkan atau disamakan begitu saja, melainkan untuk memperkaya pemahaman teologis secara dialogis. Dalam kerangka inilah Stephen B. Bevans menawarkan berbagai model teologi kontekstualAimulai dari model antropologis, praksis, sintesis, terjemahan, hingga budaya tandinganAisebagai alat bantu untuk membaca dan menafsirkan realitas konteks secara teologis (Bevans, 2002: . Emanuel Gerrit Singgih mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada orang yang tidak memiliki latar belakang kebudayaan, termasuk para misionaris dari Barat (Singgih, 2000: Namun demikian, budaya yang melekat pada diri seseorang kerap kali dipersepsikan bertentangan dengan tradisi iman Kristen dan Kitab Suci, sehingga harus dikoreksi atau bahkan Salah satu contoh yang sering memunculkan ketegangan tersebut adalah praktik sembahyang kepada leluhur dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya yang dilakukan pada malam Sincia. Malam Sincia merupakan bagian integral dari perayaan Tahun Baru Tionghoa, yang secara historis memiliki beragam makna religius dan kosmologis dalam tradisi Tionghoa. Dalam konteks perayaan ini, keluarga-keluarga yang masih menyimpan abu leluhur biasanya melakukan ritual sembahyang sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa terima kasih kepada para pendahulu mereka. Tradisi ini berakar pada keyakinan bahwa kehidupan masa kini tidak dapat dilepaskan dari jasa dan keberadaan leluhur, sebuah prinsip yang kerap dirumuskan dalam ungkapan bahwa air tidak pernah melupakan sumbernya. Namun, justru pada titik inilah muncul persoalan teologis: praktik penghormatan kepada leluhur sering kali segera dicap sebagai bentuk pemujaan terhadap para dewa yang bertentangan dengan iman Kristen. Padahal, setiap tradisi budaya mengandung nilai moral dan makna simbolik yang perlu ditelusuri secara historis dan teologis sebelum dinilai secara normatif. Pertanyaannya kemudian adalah apakah penghormatan kepada leluhur dalam tradisi malam Sincia sungguhsungguh bertentangan dengan ajaran iman Kristen, ataukah praktik ini dapat dipahami dalam kerangka teologis yang berbeda, bukan sebagai pemujaan, melainkan sebagai tindakan mengingat dan menghormati kehidupan para leluhur yang telah meninggal. Penulis merupakan seorang Kristen Tionghoa yang secara personal tidak lagi mempraktikkan tradisi sembahyang kepada leluhur dalam lingkup keluarga inti. Kendati demikian, dalam nuansa perayaan Sincia (Imle. , penulis masih mengunjungi makam leluhur sebagai bentuk mengenang dan menghormati mereka yang telah mendahului. Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Pengalaman ini menempatkan penulis pada posisi ambivalen: di satu sisi tidak menjalankan ritual sembahyangan secara penuh, tetapi di sisi lain tetap memahami dan menyaksikan praktik tersebut dalam lingkup keluarga besar yang masih memeliharanya. Dalam praktik itu, keluarga menyiapkan makanan dan minuman serta menggunakan hio atau dupa sebagai bagian dari ritual. Penggunaan dupa sendiri kerap menjadi titik perdebatan dalam Kekristenan Protestan, berbeda dengan tradisi Katolik yang relatif tidak mempermasalahkannya, sehingga memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan semata-mata soal budaya Tionghoa, melainkan juga tentang perbedaan cara Kekristenan memaknai simbol dan ritus. Ketika ditelusuri lebih dalam, praktik sembahyang kepada leluhur tidak dapat disederhanakan sebagai tindakan pemujaan semata, melainkan mengandung makna yang lebih luas, yakni penghormatan dan pengingatan terhadap asal-usul kehidupan. Pemaknaan ini membuka ruang dialog dengan salah satu konsep sentral dalam teologi Kristen, yaitu anamnesis, yang menekankan tindakan mengingat sebagai praktik iman yang sarat makna teologis. Berangkat dari keresahan tersebut, paper ini menggunakan model budaya tandingan sebagaimana dirumuskan oleh Stephen B. Bevans untuk membaca dan mengkontekstualisasikan tradisi penghormatan kepada leluhur dalam malam Sincia. Model ini dipilih bukan untuk menjustifikasi atau menolak tradisi secara apriori, melainkan untuk melakukan pembacaan kritis yang mampu membedakan nilai-nilai budaya yang beresonansi dengan iman Kristen dan nilai-nilai yang perlu dikritisi. Dengan demikian, paper ini tidak bertujuan menempatkan tradisi pada dikotomi benar atau salah, melainkan mengembangkan sikap teologis yang reflektif dan dialogis terhadap kebudayaan. Pembahasan akan diawali dengan pemetaan identitas Kristen Tionghoa yang bersifat heterogen, dilanjutkan dengan uraian mengenai tradisi penghormatan kepada leluhur dalam malam Sincia. Selanjutnya, paper ini akan mengelaborasi konsep anamnesis dalam tradisi iman Kristen sebagai kerangka teologis untuk memahami praktik mengingat. Analisis teologis kemudian dikembangkan melalui dialog dengan pemikiran Stephen B. Bevans dan Aloysius Pieris, sebelum ditutup dengan refleksi teologis serta implikasi teologis yang dapat ditarik dari pembahasan ini. Pada akhirnya, paper ini diharapkan dapat menawarkan perspektif yang lebih luas mengenai penghormatan kepada leluhur dalam tradisi Tionghoa dan iman Kristen, bukan dengan tujuan menyeragamkan keduanya, melainkan dengan mencari titik singgung dan titik tolak yang memungkinkan dialog teologis yang lebih jujur dan bertanggung jawab. Identitas Orang Tionghoa Kristen di Indonesia Di tengah kondisi Indonesia yang multikultural, masing-masing orang pasti memiliki budaya dan nilai kehidupannya masing-masing. Hal inilah yang dapat memunculkan dua macam Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies respons, yaitu respons positif mau respons negatif. Mengutip dari Peter Burke yang juga dikutip oleh Darwin Darmawan menyatakan terdapat empat respons yang muncul dari kondisi ini, antara lain: penolakan, pemisahan, penerimaan, dan adaptasi (Darmawan, 2014: . Dalam hal ini, pemisahan atau penolakan budaya bukan jalan yang ditempuh, maka perlu adanya asimilasi yang didasari juga dengan konteks budaya tetapi tidak meninggalkan esensi dari budaya masing-masing. Praktik asimilasi total juga dilakukan sebagai kebijakan yang dibentuk pada masa Soeharto. Tetapi, praktik ini justru bukan menggabungkan budaya Tionghoa, tetapi menolak identitas orang-orang Tionghoa. Kebijakan asimilasi ini memang berhasil membuat orang Tionghoa menganggap diri sebagai orang Indonesia yang tidak terikat pada budaya Tionghoa. Namun, bukankah orang Tionghoa juga menjadi bagian dari komunitas Indonesia yang perlu didengarkan sehingga asimilasi ini seharusnya bukan menolak keseluruhan budaya Tionghoa melainkan mengintegrasikan dengan aspirasi dari mereka? (Darmawan, 2014: . Salah satu agensi penting yang berperan dalam proses asimilasi budaya Tionghoa di Indonesia adalah kehadiran gereja Protestan dan Katolik. Dalam perkembangannya, sejumlah gereja Tionghoa memilih untuk melepaskan diri dari dominasi misi Belanda dan membentuk gereja yang berakar pada identitas etnik, sehingga umat Tionghoa dapat tetap memelihara tradisi kebudayaannya sekaligus menghayati iman Kristen. Salah satu contoh gereja yang merepresentasikan proses asimilasi tersebut adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI). Pembentukan GKI merupakan hasil dari perjalanan historis yang panjang. Pada mulanya, gereja-gereja ini dikenal dengan nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTH), yang menggunakan bahasa Hokkian dan secara jelas beridentitas Tionghoa. Seiring dengan dinamika sosial-politik dan semangat nasionalisme, nama THKTH kemudian diubah menjadi Gereja Kristen Indonesia untuk menegaskan identitas yang lebih inklusif dan tidak terikat pada satu etnis tertentu. Meskipun demikian, hingga kini sebagian besar jemaat GKI masih didominasi oleh etnis Tionghoa. Kondisi ini menjelaskan mengapa dalam praktiknya beberapa jemaat GKI tetap menggunakan bahasa Mandarin dalam ibadah serta merayakan tradisi budaya Tionghoa seperti Imlek dan Cap Go Meh. Kebaktian Imlek ini biasanya diselenggarakan sebagai bentuk ucapan syukur akan datangnya tahun yang baru serta memohonkan berkat dan mengingat kembali berkat dan penyertaan Tuhan yang sudah berlangsung selama setahun yang lalu, serta yang akan datang (Sutanto, 2. Dalam konteks tersebut, unsurunsur budaya Tionghoa kerap dihadirkan dalam ruang ibadah, misalnya melalui dekorasi lampion, pemilihan lagu-lagu bernuansa Imlek dalam liturgi, serta pembagian jeruk dan kue keranjang setelah ibadah. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik iman Kristen dalam konteks GKI tidak sepenuhnya meniadakan identitas budaya, melainkan mengupayakan sebuah integrasi di mana ekspresi budaya etnik dapat dihadirkan tanpa meninggalkan kerangka liturgis dan teologis Kekristenan. Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Praktik Penghormatan Kepada Orang Tua Hingga Leluhur di Malam Sincia Pada tahun 1945 hingga 1949, tepatnya setelah kejatuhan pemerintahan Jepang, terdapat peraturan bahwa Sincia tidak dapat dilakukan di Indonesia. Keadaan ini semakin buruk pada tahun 1948 akibat adanya perang saudara di Tiongkok, kemudian tahun 1949 masih banyak orang yang mengalami musibah karena Agresi Militer II hingga berdampak pada orang Tionghoa (A. , 2015: . Hal inilah yang menyebabkan orang Tionghoa di Indonesia merasa tidak pantas jika merayakan Sincia di tengah kondisi Indonesia yang belum pulih. Hingga pada masa pemerintahan Soeharto, ritual Tionghoa dilakukan secara tertutup sehingga orang-orang Tionghoa harus menyamarkan identitasnya supaya bisa bertahan di tengah bangsa Indonesia (Kompas, 2. Tetapi, perlahan Sincia bisa dilakukan kembali pada masa Gus Dur karena kondisi pemerintahan Indonesia yang mulai membaik. Pada zaman Presiden Megawati Soekarnoputri tepatnya pada tahun 2022. Sincia akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional (Kompas, 2. Ketika Tahun Baru Sincia datang, orang Tionghoa memiliki kebiasaan untuk membersihkan rumah, mengganti cat rumah, serta memasang ornamen Imlek. Setelah itu, mereka akan mempersiapkan untuk sembahyangan kepada leluhurnya yang dilakukan sebelum hari raya Sincia, yang sering disebut malam Sincia. Terdapat tiga alasan terkait sejarah Tahun Baru Sincia dirayakan yaitu: dirayakan karena adanya musim semi, kemudian hari Sincia merupakan harian AuGiok Hong Siang TeeAy datang ke bumi untuk menjadi raja, kemudian alasan yang ketiga adalah lahirnya Bi Lek Hud atau O Mi To Hud yaitu Buddha yang dipercaya oleh orang Tionghoa dapat memberikan kebahagiaan dan berkat (A. , 2015: . Malam Tahun Baru Cina yang dalam bahasa Cina disebut oi (Chu X. merupakan momen yang menandai akhir dari periode satu tahun. Konon, menurut legenda, ketika malam Sincia tiba dimana keluarga sedang berkumpul dan bermain bersama, muncul monster yang sangat ganas bernama Nian datang untuk memangsa semua jenis hewan ternak dan manusia. Monster ini sangat takut pada warna merah dan suara yang bising, maka orang-orang akan memasang ornamen berwarna merah dan petasan supaya monster ini menjadi takut dan kembali ke gunung sehingga monster ini tidak turun lagi (Foreign Language Press, 2015: Maka, ketika malam Sincia tiba, orang-orang Tionghoa akan menggunakan dresscode merah serta membunyikan petasan. Malam Sincia di Beijing dan Taiwan bahkan bisa lebih meriah lagi, karena orang-orang disana mempersiapkan hewan kurban yang akan digunakan untuk upacara sembahyang untuk leluhur, selain itu mereka akan mempersiapkan dupa dan bersujud serta mengucapkan selamat tinggal kepada para tetua (AuoioEyuaI_aCci u,Ay 2. Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Orang Tionghoa menjaga relasi yang tetap hidup dengan para leluhur walaupun mereka sudah meninggal. Upacara sembahyangan ini merupakan ritual wajib dan menjadi kewajiban bagi orang-orang Tionghoa, sehingga banyak rumah orang Tionghoa yang masih menganut tradisi ini, dimana mereka menyiapkan sebuah meja proses sembahyangan. Biasanya orang Tionghoa akan menyiapkan beberapa makanan seperti jeruk, kue keranjang, manisan, dan yang paling penting mereka akan memasang Hio atau dupa di depan foto para leluhur sebagai sarana simbol untuk melakukan upacara tradisi sembahyang untuk leluhur. Membakar Hio memiliki arti sebagai jalan kesatuan yang dibawa melalui keharuman dupa, dan asap Hio menggambarkan arah doa yang mengalir (Tempo, 2. Jumlah Hio yang digunakan tidak boleh sembarangan karena masing-masing jumlah Hio memiliki makna yang berbeda-beda. Jumlah Hio ganjil digunakan untuk para Dewa, sedangkan jumlah Hio genap digunakan untuk leluhur yang sudah meninggal (Tempo, 2. Orang-orang Tionghoa memiliki semboyan AuJika kita minum air, maka kita harus selalu ingat kepada sumbernyaAy (A. , 2015: . Maka, tidak heran jika orang-orang Tionghoa melakukan sembahyang kepada para leluhur seperti kakek, nenek, ayah, ibu yang sudah Mereka melakukan hal ini untuk mengenang dan menghargai identitas para Selain itu, mereka juga memegang prinsip Hao . dan Put-Hao . idak berbakt. (A. , 2015: . Makna kata Hao sendiri tidak mengarahkan hanya kepada hormat anak kepada orangtua saja, melainkan hormat kepada Tuhan. Sang Pencipta (A. , 2015: . Sayangnya, seiring berkembangnya zaman, nilai Hao semakin memudar hingga terlupakan. Menguatnya budaya kontemporer yang bersifat individualis membuat banyak anak menjadi kehilangan rasa hormat serta kepedulian pada orang tua dan kerabatnya. Dalam tradisi Tionghoa, menghormati orang yang lebih tua menjadi aspek yang penting dalam membentuk nilai-nilai moral. Tradisi ini diawali pada masa Yao-Shun kemudian berkembang pada masa Dinasti Xia dan Shang, sebelum Dinasti Zhou, tradisi ini juga sudah berkembang hingga masa sekarang (Foreign Language Press, 2015: . Melalui hal ini, menekankan bahwa tradisi menghormati orang yang lebih tua harus diturunkan kepada generasi yang selanjutnya supaya tradisi ini dapat terus dilaksanakan seiring berkembangnya zaman. Ketika seseorang dapat menghormati orang tuanya, maka orang tersebut dapat menghasilkan suatu kedamaian dalam negara. Terdapat kisah menarik tentang cerita pelajar Confucius yaitu Zi Lu. AuMemanggul Beras untuk Memberi Makan orangtua adalah cerita tentang pelajar Confucius. Zhong You . uga dikenal sebagai Zi L. yang hormat kepada orangtua. Ia berjalan lebih dari seratus mil untuk mencari beras agar ayahnya dapat makan buburAy (Foreign Language Press, 2015: . Melalui cerita tersebut dapat dilihat bahwa pada masa Confucius, anak-anak rela berkorban melakukan apapun demi menghormati orang tua mereka. Bagi mereka, orang tua Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. menjadi para tetua yang sangat dihormati karena orang tua akan mendidik anak-anaknya supaya menjadi anak yang berbakti. Tradisi ajaran Konghucu sendiri sangat menekankan aspek kekeluargaan, kemasyarakatan, dan ketatanegaraan (Hartono, 1996: . Keluarga menjadi bagian dalam perjalanan kehidupan seseorang, dimana melalui keluarga dapat menciptakan rasa persaudaraan dan kasih yang mesra. Marcus A. S dalam bukunya Hari Raya Tionghoa mengatakan akan lebih baik jika kita menghormati kepada orang tua yang masih hidup karena mereka akan merasa gembira ketika anak-anaknya memberikan kasih secara tulus (A. , 2015: . Tetapi, menghormati para leluhur yang sudah meninggal juga penting untuk mengingat jasa dan kehidupan mereka. Menurut penulis, konsep mengenang dalam tradisi Tionghoa memiliki persamaan dengan konsep anamnesis dalam tradisi iman Kristen. Konsep Anamnesis dalam Tradisi Iman Kristen Anamnesis berasal dari bahasa Yunani AE yang memiliki arti peringatan atau Konteks anamnesis dalam tradisi Kristen dapat ditemukan pada Lukas 22:19 dan 1 Korintus 11:24 yang berbunyi: Lukas 22:19 AuLalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya. AuInilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan AkuAy (Alkitab TB2, 2. 1 Korintus 11:24 Audan sesudah Ia mengucap syukur. Ia memecah-mecahkannya dan berkata. AuInilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu. Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku!Ay (Alkitab TB2, 2. Kedua ayat ini memberikan gambaran terkait aktivitas untuk mengingat karya Tuhan dalam konteks perjamuan kudus. Perjamuan Kudus sendiri merupakan sakramen yang menjadikan umat mengingat tentang kasih Allah Tritunggal sebagai bagian inti kehidupan, serta kasih yang mau menebus menjadi landasan manusia untuk membangun relasi dengan Tuhan (Lunardi, 2025: 19Ae. Pada saat inilah, manusia kembali mengingat bagaimana pengorbanan Tuhan dan karya Tuhan baik di masa lalu, masa kini, dan pengharapan di masa yang akan datang. Ketika manusia kembali mengingat Tuhan melalui Perjamuan Kudus maka Kasih Kristus yang menyatukan persaudaraan orang percaya. Perjamuan Kudus bukan hanya menjadi peringatan pengalaman personal, melainkan menjadi pengalaman ecclesial (Lunardi, 2025: 19Ae. Anamnesis memiliki dimensi waktu yang mengingatkan masa lalu untuk dihadirkan pada masa kini. Anamnesis pada konsep Perjamuan Kudus tidak hanya dimaknai sebagai pengingat perjamuan akhir melainkan sebagai pengingat kemenangan Kristus di kayu salib yang menjadi Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies pengharapan bagi masa kini (Lunardi, 2025: 19Ae. Selain itu, ketika seseorang mengingat tentang salib maka ia juga mengingat seluruh karya pekerjaan Yesus di dunia. Tidak hanya sekedar mengingat, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Rachman, 2022: . John Calvin berpendapat bahwa perjamuan kudus mengandung suatu misteri Ilahi yang direpresentasikan melalui simbol roti dan anggur (Lunardi, 2025: 19Ae. Karena adanya cinta kasih, maka umat dapat mengingat karya pengorbanan Yesus. Cinta kasih menjadi dasar dalam anamnesis. Alexander Schmemann, merupakan seorang Teolog bagian liturgi yang berasal dari Ortodoks Rusia juga menyatakan bahwa proses peringatan merupakan suatu aktivitas kasih yang diwujudkan dalam ibadah untuk menyatukan umat, serta meneguhkan kasih dengan Tuhan (Lunardi, 2025: 19Ae. Pada akhirnya, anamnesis bukan hanya sebuah simbol melainkan suatu peringatan supaya umat hadir secara langsung untuk mengenang kematian Yesus. Anamnesis Perjamuan Kudus bukan hanya sebagai tradisi iman Kristen yang mengingat masa lalu tetapi menghadirkan masa lalu supaya terus mengakar pada kehidupan masa kini. Dialog Kontekstual Menurut Stephen B. Bevans dan Aloysius Pierris Stephen B. Bevans, dalam bukunya Models of Theology Contextual, memberikan gambaran tentang teologi baru yang dinamakan teologi kontekstual. Teologi kontekstual merupakan teologi yang mengakui bahwa kebudayaan, sejarah, bentuk-bentuk pemikiran kontemporer, dan pengalaman manusia sekarang sebagai locus theologicus bersama dengan Kitab Suci dan sumber tradisi (Bevans, 2002: . Teologi kontekstual merupakan sebuah teologi yang melanjutkan dari teologi klasik. Terdapat enam hal yang perlu diperhatikan dalam teologi kontekstual yaitu: Injil, tradisi iman Kristen. Budaya seseorang berteologi, perubahan sosial dalam budaya, pengalaman personal, dan pengalaman komunal (Bevans, 2002: 2Ae. Teologi kontekstual menggunakan konteks pengalaman manusia untuk berdialog dan merefleksikan Tuhan. Penulis menemukan titik singgung dan kritik yang menarik untuk berdialog terkait budaya Tionghoa dengan tradisi iman Kristen. Bevans memberikan enam model dalam berteologi kontekstual, yaitu: model antropologi, model praksis, model sintetis, model terjemahan, dan model budaya tandingan. Pada subbab ini, penulis akan menguraikan kajian kontekstualisasi tradisi budaya melalui tradisi Tionghoa dengan model budaya tandingan dari Bevans. Setelah itu, penulis akan menguraikan pemikiran Aloysius Pieris terkait bagaimana Pieris menggabungkan antara Injil dengan kebudayaan. Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Model Budaya Tandingan Menurut Stephen B. Bevans Model ini menjadi model keenam dalam model yang ditawarkan oleh Bevans. Model ini memberikan gambaran bahwa manusia serta penggambaran teologis hanya bisa terjadi ketika situasi dan kondisi secara historis dan kultural, serta model ini juga memberikan gambaran bahwa perlu ada rasa kecurigaan terhadap konteks yang digunakan (Bevans, 2002: . Model ini mengadakan suatu antitesis budaya terhadap Injil. Model budaya tandingan di satu sisi melestarikan konteks kebudayaan yang ada, tetapi juga perlu dijaga terus menerus supaya dapat tetap berdialog dengan Injil. Dalam buku Model-Model Teologi Kontekstual dikatakan AuModel ini mengakui bahwa Injil mewakili suatu cara pandang atas dunia yang mencakup segala sesuatu, yang secara radikal berbeda dan membedakan Injil itu secara mendasar dari pengalaman manusia tentang dunia dan kebudayaan ciptaan manusiaAy (Bevans, 2002: Melalui model budaya tandingan diharapkan dapat menjadi jembatan bagaimana mengkontekstualisasikan injil untuk menghasilkan suatu pemaknaan yang bukan anti budaya melainkan konteks dibentuk oleh realitas Injil. Masing-masing kebudayaan memiliki tradisi dan keunikannya masing-masing, dan tidak ada kebudayaan yang seluruhnya rusak atau jahat. Bevans memberikan argumennya bahwa terdapat empat peringatan yang perlu diwaspadai ketika menggunakan model ini. Pertama, model ini bukan menolak budaya, tetapi pada dasarnya bahaya dalam budaya itu akan tetap ada. Kedua, model ini berpotensi untuk memunculkan sektarianisme sehingga menimbulkan diskriminasi dan konflik karena hanya memusatkan diri pada jati dirinya sendiri tanpa melihat konteks yang lainnya. Ketiga, terjadinya monokultural dimana titik perhatian orang bukan terletak pada kritik terhadap budaya, melainkan supaya menghargai kebudayaan sendiri. Keempat, munculnya bahasa eksklusivisme Kristen atas agama lain (Bevans, 2002: 233Ae. Pertanyaan mengenai kemungkinan kontekstualisasi budaya Tionghoa dalam Kekristenan tidak dapat dijawab secara simplistis dengan kategori benar atau salah. Budaya Tionghoa sendiri tidak semata-mata berkaitan dengan praktik penghormatan kepada leluhur atau penyembahan kepada dewa-dewa, melainkan mencakup beragam ritus kehidupan yang hingga kini masih diperdebatkan dalam konteks Kekristenan. Ritual pemakaman seperti jibbok, maisong, sangseng, dan cengbeng, misalnya, dalam praktiknya kerap mengalami proses kristenisasi melalui penyelenggaraan kebaktian penghiburan pada setiap tahap ritual (Febiani dan Listijabudi, 2022: . Demikian pula dengan tradisi pernikahan Tionghoa, yang sarat dengan simbol dan makna kultural yang menuntut penelusuran historis dan teologis sebelum dinilai secara normatif. Namun, tidak jarang penilaian terhadap tradisi-tradisi tersebut berhenti pada Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dikotomi yang menyederhanakan, tanpa usaha menggali esensi dan makna simbolik yang Dalam konteks inilah model budaya tandingan yang dikemukakan oleh Bevans menjadi relevan, karena model ini tidak sekadar menerima atau menolak budaya, melainkan mengkritisi dan menyingkap dimensi-dimensi budaya yang dapat beresonansi dengan iman Kristen sekaligus mengoreksi aspek-aspek yang bertentangan dengannya. Melalui kerangka ini, praktik penghormatan kepada leluhur tidak langsung diposisikan sebagai kesalahan teologis, melainkan dibaca secara kritis untuk melihat kemungkinan makna lain yang dapat dikontekstualisasikan dalam terang iman Kristen. Tradisi penghormatan kepada leluhur menjadi salah jika hal ini dipandang sebagai pemujaan terhadap arwah leluhur. Jelas hal ini sangat bertentangan dengan konsep iman Kristen dimana sepuluh perintah Tuhan dalam kitab Keluaran 20:3-5 jangan membuat patung yang menyerupai apapun dan jangan menyembah kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa hanya Allah satu-satuNya yang harus dipuja tiada yang lain. Pada saat tradisi ini dipandang sebagai praktik pemujaan maka akan membawa sudut pandang bahwa praktik ini menjadi praktik yang menyimpang dan membawa seseorang kepada anti budaya. Tetapi, dari penjelasan makna tradisi ini, terdapat kata AupenghormatanAy dan AuperingatanAy yang perlu ditinjau melalui sudut pandang kekristenan. Penulis melihat bahwa praktik penghormatan kepada orangtua, kakek, nenek, bahkan leluhur menjadi aspek yang penting dalam tradisi budaya Tionghoa, karena seorang anak harus berbakti kepada orang yang lebih tua. Hal ini sama menjadi sama dengan gambaran perintah Tuhan kelima, dimana kita diajak untuk menghormati ayah dan ibu supaya lanjut umurmu. Tidak hanya berhenti pada hal itu, dalam tradisi iman Kristen juga diajak untuk menghormati Tuhan seperti pada Amsal 3:9 dan Mazmur 112:1. Kata AuperingatanAy juga menjadi kata yang penting dalam memahami konsep tradisi penghormatan kepada leluhur. Hal ini dapat dilihat dalam konsep anamnesis pada penjelasan diatas, dimana anamnesis perjamuan kudus orang Kristen akan melakukan peringatan dalam rangka mengingat semua pengorbanan dan kehidupan Yesus. Dalam tradisi sembahyang kepada leluhur juga menjadi momen dimana orang yang masih hidup dapat mengenang kembali bagaimana kehidupan para leluhur, mengenang kebaikan yang diajarkan. Maka sembari mengenang karya dan kehidupan para leluhur, orang Tionghoa yang masih melakukan hal ini juga melakukan konsep Hao atau berbakti kepada orang tua hingga leluhur yang sudah Pemikiran Aloysius Pieris dalam Dialog Antara Injil dengan Kebudayaan Pieris mengatakan dalam buku Berteologi Dalam Konteks Asia AuKita membutuhkan teologi agama yang akan memperluas batas-batas ortodoksi yang ada, sementara kita masuk Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. ke dalam aliran liberatif agama dan kebudayaan lainAy (Pieris, 1996: . Terdapat dua pandangan yang berbeda yaitu Kristus yang melawan agama-agama dengan Kristus dari agama-agama. Pieris berfokus untuk memperbarui pandangan konteks budaya dengan Injil. Agama menjadi dasar etos manusia dalam menjalani kehidupan keseharian. Pada bagian ini. Pieris mengkaji menggunakan konteks dunia ketiga dimana rakyat harus berjuang untuk mencari kemerdekaan. Kebudayaan merupakan ungkapan agama yang beragam, tetapi karena agama saling bertemu dan banyak kebudayaan yang ada maka setiap orang bebas berbicara tentang adanya beberapa agama dalam satu kebudayaan (Pieris, 1996: 162Ae. Agama-agama ini dapat mempengaruhi bagaimana kebudayaan yang dibentuk pada masingmasing tradisi. Rochard Gombrich memberikan sebutan baru yaitu Auakretisme. Ay Akretisme memberikan pandangan baru dimana melihat dua integrasi yang berbeda tidak hanya pada permukaan, melainkan dapat menggabungkan perhatian kosmis melalui tradisi lokal (Pieris, 1996: . Pieris memberikan contoh Buddhisme di Cina yang menggunakan kebudayaan untuk memperlengkapi Kitab Suci. Orang Buddha dapat membebaskan diri dari pemberontakan tidak disebut sebagai revolusi. Melainkan, mereka dapat menanggapi berdasarkan situasi dan kepercayaan pada masanya (Pieris, 1996: . Buddha hidup dalam situasi dan kondisi tetapi Buddha dapat terus menafsirkan Kitab Suci dengan konteks zamannya. Menurut penulis, munculnya narasi terkait dengan AuTeologi PemerdekaanAy dapat digunakan untuk mengkaji tradisi penghormatan kepada leluhur dengan Injil. Teologi pemerdekaan dapat muncul ketika teologi ini dirumuskan dengan komunitas dan kebudayaan lokal. AuArtinya, teologi pemerdekaan mulai dirumuskan hanya bila komunitas Kristiani tertentu mulai ditarik ke dalam perjuangan rakyat lokal demi kemanusiaan utuh dan lewat perjuangan itu mulai menanamkan akarnya ke dalam kehidupan dan kebudayaan rakyat itu, yang sebagian non-Kristiani. Ay (Pieris, 1996: . Teologi pemerdekaan juga dapat digunakan untuk melihat bahwa tradisi penghormatan kepada leluhur tidak seutuhnya salah. Tradisi ini juga dapat masuk dalam tradisi Injil karena teologi pemerdekaan menggunakan dan melihat melalui akar kebudayaan. Tradisi ini menjadi salah satu bagian dari konteks budaya lokal di Indonesia yang memiliki titik singgung dengan konsep tradisi iman Kristen. Tradisi ini merupakan tradisi yang bersifat komunal, sehingga adanya rasa cinta kasih persaudaraan juga terkandung di dalamnya. Jika melihat dari tradisi tersebut, para keturunannya akan memelihara dengan menyiapkan makanan, minuman, dan uang tiruan, karena bagi mereka, para leluhur nenek moyangnya tidak akan tenang dan senang ketika para keturunanya tidak ada yang memperhatikannya. Mereka melakukan hal itu juga untuk menjalankan tradisi Hao untuk berbakti dan memberikan penghormatan. Maka, tradisi Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies penghormatan kepada leluhur seharusnya dapat berdialog dengan tradisi kekristenan dan bukan dihapus atau dianggap sebagai sesuatu hal yang sesat. Hal ini juga dapat dilihat ketika seseorang masih menggunakan imbuhan nama Cina, dan beberapa gereja masih menerima rangkaian prosesi kedukaan maka sebetulnya tradisi Tionghoa memilki titik singgung dengan tradisi Iman Kristen. Dalam konteks ini. Emanuel Gerrit Singgih juga menyatakan bahwa tidak mungkin orang Tionghoa harus melepaskan tradisinya. Orang Tionghoa yang memiliki darah Jawa, begitu juga sebaliknya pasti akan banyak ditemui di Indonesia ini. Singgih, dalam buku Berteologi Dalam Konteks memberikan cara untuk menghadapi kasus seperti ini, antara lain: menyadari bahwa ajaran iman perlu dibangun secara sistematik tetapi perlu juga sikap waspada untuk mengetahui latar belakang dari setiap budaya, kemudian memahami adat istiadat setempat bukan hanya langsung menghakimi bahwa adat istiadat budaya setempat merupakan hal yang sesat, serta perlu adanya transformasi budaya yang didalamnya mengandung konfirmasi tetapi juga mengandung sebuah kritikan (Singgih, 2000: 45Ae. Tradisi pemujaan kepada roh nenek moyang sudah mengakar pada identitas diri orang Tionghoa khususnya. Ketika tradisi ini dihapus atau dihilangkan maka orang Tionghoa akan sangat merasa bukan menjadi bagian dari tradisi dari Tiongkok secara langsung. Maka perlu adanya sebuah transformasi budaya seperti yang dikatakan oleh Singgih: AuMaka, bagaimana kalau kita menolak upacara ini sebagai pemujaan, tetapi menerimanya sebagai penghormatan? Kita hanya memuja Tuhan sebagai satu-satunya yang patut dipuja. Tetapi, kita dapat menyatakan cinta kasih kita kepada orang tua dengan melaksanakan upacara penghormatan, meskipun mereka telah meninggal dunia. Ay (Singgih, 2000: . Tentu jika dilihat dari pandangan dunia orang Barat yang memiliki karakter rasionalistik maka penghormatan kepada orang yang sudah meninggal akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermakna. Tetapi, bagi orang Tionghoa ini mengandung dimensi kekeluargaan yang tidak dapat dijelaskan kepada orang lain, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian konsep penghormatan kepada leluhur. Pada dasarnya, tradisi yang berkaitan atau dibaca dengan konsep AupemujaanAy tidak dapat sejalan dengan tradisi iman Kristen, tetapi jika tradisi ini dibaca melalui lensa penghormatan maka hal ini dapat diterima. Berbicara terkait adat istiadat budaya maka tidak bisa jika langsung menolak tanpa adanya makna yang lebih dalam, perlu adanya perubahan sikap dari yang radikal menuju sikap yang transformatif bukan hanya sekadar setuju, melainkan mengkaji dengan pikiran yang terbuka (Singgih, 2000: . Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Penghormatan Arwah Leluhur. Anamnesis, serta Model Budaya Tandingan Mayoritas orang-orang Tionghoa adalah beragama Konghucu, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa banyak juga orang Tionghoa di Indonesia yang bergabung menjadi Protestan. Hal inilah yang menyebabkan orang Tionghoa di Indonesia kerap disebut sebagai AuTionghoa Peranakan. Ay Orang-orang Tionghoa peranakan lebih fasih berbahasa Indonesia dan menjalankan agama Kristen sembari tetap mempertahankan tradisi mereka. Tetapi, semenjak berbagai konflik yang menyerang orang-orang Tionghoa di Indonesia, maka banyak orang Tionghoa yang mengganti nama mereka menjadi nama Indonesia supaya tidak mengalami diskriminasi dan terkena kasus pemerintahan pada zaman tersebut. Penulis juga mengamati beberapa orang Tionghoa pada akhirnya meninggalkan tradisi Tionghoa karena perdebatan untuk mempertahankan tradisi budayanya atau tradisi keagamaan. Praktik sembahyang kepada leluhur dapat menjadi suatu budaya tandingan ketika dipahami dalam rangka pemujaan. Tantangan utama ketika membahas tradisi ini adalah konsep AupemujaanAy dan Aupenghormatan. Ay Kedua konsep ini sering dipertentangkan yang menyebabkan perdebatan dalam kekristenan. Namun, jika dilihat lebih dalam, ternyata tradisi ini memiliki dimensi teologis. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan pemujaan, melainkan mengandung nilai-nilai Teologis seperti penghormatan, dan penghargaan kekeluargaan. Penulis mengkritik bahwa tradisi ini salah jika dipahami sebagai pemujaan, bahkan orang Tionghoa kerap melakukan sembahyang kepada para dewa untuk memohon berkat, keselamatan, dan Beberapa orang Tionghoa lebih memilih untuk beragama Katolik daripada Kristen. Agama Katolik dianggap lebih fleksibel terhadap tradisi sembahyangan leluhur. Hal ini kemungkinan terjadi karena dalam ajaran Katolik mengenal konsep api penyucian dan berdoa untuk arwah yang telah meninggal. Sedangkan menurut pengalaman penulis, di Kristen tidak mengenal konsep ini. Bahkan orang Kristen tidak diperbolehkan mendoakan orang yang sudah meninggal, dan dianjurkan untuk mendoakan keluarga yang ditinggalkan supaya diberi kekuatan dan penghiburan. Sehingga, banyak orang Tionghoa yang pada akhirnya melepaskan identitas budaya Tionghoa supaya tetap menjadi bagian dalam komunitas Kristen. Menurut penulis, tradisi penghormatan kepada leluhur dapat dibaca sebagai bentuk anamnesis budaya jika dibaca dari sudut pandang tradisi ini sebagai proses untuk mengingat. Penulis melihat orang Tionghoa masih mempertahankan tradisi ini karena mereka tidak mungkin hidup tanpa leluhur mereka. Mereka juga sangat memegang prinsip hidup dalam kekeluargaan dan harus berbakti kepada orang tua. Bentuk penghormatan yang bisa dilakukan, yaitu Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies mengenang dengan menyiapkan makanan, minuman, serta membakar dupa. Hal ini juga dapat digunakan untuk mempertahankan identitas para leluhur, dimana pada saat proses mengingat maka identitas para leluhur akan kembali terukir dalam pikiran, segala kebaikan dan kehidupan akan kembali diingat, sehingga tanpa disadari sedang mempertahankan identitas para leluhur. Selain itu, penulis melihat adanya unsur psikologis dalam tradisi penghormatan kepada leluhur untuk mengobati rasa rindu kepada orang yang sudah meninggal. Sebagai manusia yang memiliki iman dan perasaan, ketika orang tua, kakek, nenek, kerabat, saudara yang sudah meninggal maka akan timbul rasa rindu. Rindu dengan nasihat-nasihat mereka, rindu untuk memeluk. Kemungkinan, salah satu cara untuk mengobati rasa rindu tersebut dengan mengingatnya dengan berkunjung ke kubur dan melakukan sembahyangan di rumah dengan membakar dupa di depan foto. Sehingga, tradisi ini bukan hanya dilakukan sebagai tradisi yang harus turun temurun dilakukan, melainkan adanya unsur psikologis juga menjadi salah satu faktor untuk beberapa orang Tionghoa masih mempertahankan tradisi ini. Kemungkinan karena argumen ini, orang Tionghoa Kristen juga dapat tetap melakukan penghormatan kepada leluhur, tetapi tetap menjalankan tradisi iman Kristen. Mereka berpikir bahwa tradisi ini bukan hanya mengandung sisi misteri ilahi melainkan adanya rasa untuk menjaga nilai kekeluargaan meskipun orangtua, kakek, nenek, saudara, atau kerabat sudah tiada. Aksi Pastoral Terhadap Tradisi Sembahyangan Leluhur Menurut penulis, tradisi penghormatan kepada leluhur bagi orang Tionghoa dapat membuka kesempatan kepada Gereja di Asia untuk menjalankan praktik iman dengan konteks budaya Gereja perlu memberikan pengertian kepada jemaatnya bahwa ada makna historisitas yang tak banyak orang mengerti akan tradisi ini, sehingga perlu digali lebih dalam supaya tidak jatuh pada sebuah kesimpulan yang salah atau sampai anti terhadap suatu budaya tertentu. Jika berbicara terkait komunitas Kristen, maka terdiri dari banyak orang Kristen yang memiliki latar belakang dan kebudayaannya masing-masing. Komunitas Kristen ini perlu mengubah suatu sudut pandang untuk membuat suatu transformasi budaya. Pada masa lalu, kemungkinan akan banyak orang yang menolak praktik penghormatan kepada leluhur. Tetapi, jika komunitas diberikan suatu pengertian bahwa tradisi ini mengandung nilai sebagai AuperingatanAy atau AumengenangAy maka sebetulnya sama dengan konsep anamnesis pada Perjamuan Kudus. Hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pribadi komunitas bahwa setiap tradisi memiliki dimensi identitas masing-masing yang berhubungan dengan spiritualitas seperti pada tradisi penghormatan kepada leluhur berhubungan dengan konsep Hao dan Put-Hao. Kemungkinan orang Tionghoa mempertahankan nilai ini untuk menjaga integritas dan penghormatan kepada Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. orang tua, ada dimensi nilai yang mungkin tidak orang lain pahami. Argumen ini juga diperkuat oleh Singgih, yang menyatakan bahwa tradisi penghormatan kepada leluhur jangan dipandang sebagai pemujaan, melainkan alangkah baiknya jika dipandang sebagai bentuk mengenang yang menjadi bentuk penghormatan. Model Budaya Tandingan harus diakui bahwa melalui Injil dapat mengubah konteks supaya memiliki dimensi yang positif. Perlu adanya kegiatan-kegiatan yang tidak hanya mementingkan pada doktrin dan otoritas Gereja, melainkan kegiatan yang berhubungan dengan tradisi budaya setempat. Gereja perlu terbuka pada konteks budaya setempat bukan hanya berdasarkan pengalaman masing-masing pendeta maupun penatua. Sifat individualistik dari Gereja membawa suatu pemahaman yang tidak terikat pada denominasi tertentu. Hal inilah yang terjadi ketika membahas tradisi penghormatan kepada leluhur maka Gereja akan menjelaskan berdasarkan pada pengetahuan pribadi, pengalaman dan pasti akan menghasilkan sesuatu perdebatan yang bervariasi karena orang-orang akan mendapatkan beberapa literatur mulai dari pengalaman pribadi, kemudian bertanya kepada orang lain, dan bergantung pada kedewasaan iman seseorang (Seng, n. : . Maka gereja perlu lebih fleksibel untuk melihat tradisi kebudayaan dari lensa pengalaman manusia yang memiliki nilai dan identitas Penulis memberikan saran untuk mengadakan liturgi yang kreatif dengan tetap menggabungkan Injil dengan konsep kebudayaan. Liturgi juga menjadi salah satu cara untuk mengembangkan dan memperkenalkan tradisi kebudayaan untuk memperlihatkan bahwa banyak tradisi yang menarik. Orang-orang Tionghoa Kristen juga membutuhkan doa untuk mencari hikmat Roh Kudus, nasihat dari pemimpin Gereja, serta dukungan dari pihak Gereja (Seng, n. : . Seperti anamnesis Perjamuan Kudus dimana menjadi waktu dimana seseorang dapat mengingat kembali karya kehidupan Kristus dalam simbol roti dan anggur dapat memurnikan pemahaman tradisi budaya tentang penghormatan kepada leluhur. Titik yang membedakan ialah bahwa tradisi ini tidak menggunakan roti dan anggur melainkan menggunakan Hio atau dupa untuk mengenang para arwah leluhur. Sikap waspada dan berhati-hati juga perlu dilakukan orang Kristen Tionghoa. Orang Kristen Tionghoa perlu secara jelas tentang konsep budaya yang dijalani tidak hanya ikut-ikutan saja sehingga memahami sejauh mana mereka dapat menjalankan tradisi budaya ini supaya tidak bertentangan dengan iman. Maka bukan berarti seorang Kristen tidak boleh memiliki praktik kebudayaan, melainkan perlu adanya prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Makna dari konsep anamnesis menjadi salah satu cara bagi penulis untuk mengkontekstualisasikan tradisi Tionghoa yaitu penghormatan kepada leluhur. Dalam konsep anamnesis, penulis mencoba membentuk representasi iman terhadap pergumulan pengalaman penulis sendiri. Angelica Desmonda Nugraheni & Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Melalui penjelasan konsep anamnesis terkait Perjamuan Kudus dengan salah satu budaya Tionghoa yaitu penghormatan kepada leluhur, penulis dapat memaknai konsep kebudayaan penghormatan kepada leluhur lebih baik lagi. Ketika proses anamnesis. Tuhan kembali dikenang, maka proses mengenang para leluhur juga turut mengenang karya Tuhan yang memimpin kehidupan para leluhur yang sudah mendahului terlebih dahulu. Rasa kekeluargaan, rasa cinta kasih turut dihadirkan baik melalui tradisi iman Kristen anamnesis dan tradisi budaya Tionghoa. Sehingga, penulis menyarankan dan diperkuat oleh argumen Singgih untuk memandang tradisi ini bukan sebagai pemujaan kepada leluhur melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur supaya tidak bertentangan dengan tradisi iman Kristen. Kesimpulan Berteologi Kontekstual menjadi salah satu upaya manusia untuk menggali, memaknai kembali, dan berefleksi melalui Kitab Suci dengan sebuah konteks. Berteologi kontekstual juga membawa suatu pemahaman baru bahwa Teologi hidup bukan hanya pada Tradisi iman Kristen dan Kitab Suci, melainkan adanya pengalaman personal, pengalaman komunal. Budaya setempat, serta adat istiadat seseorang juga sangat berpengaruh dalam proses pertumbuhan iman seseorang. Pada masa lalu, ritual-ritual upacara orang Tionghoa seperti upacara pemujaan kepada leluhur, upacara pemujaan kepada dewa sangat ditolak karena bertentangan dengan Injil. Tetapi, ternyata praktik budaya ini tidak hanya sampai pada pemujaan saja, melainkan terdapat aspek AuPenghormatanAy yang jarang orang lain pahami. Tradisi ini bukan hanya melakukan pemujaan melainkan menjadi proses mengenang para leluhur untuk terus menanamkan rasa kekeluargaan dengan memasang dupa di depan foto leluhur serta berziarah ke makam. Model budaya tandingan dapat menjadi jembatan melalui konsep anamnesis digunakan untuk memberikan pandangan yang positif bagi kebudayaan penghormatan kepada leluhur. Ketika tradisi ini dilakukan oleh orang Kristen Tionghoa, maka proses anamnesis juga sedang dilakukan untuk mengingat seluruh karya kehidupan para leluhur maupun karya Yesus yang hadir melalui para leluhur. Melalui model berteologi kontekstual ini, orang Kristen Tionghoa dapat menjalankan kebudayaannya dengan tetap berfokus pada tradisi dan Kitab Suci sebagai landasan utamanya. Dari penjelasan yang sudah dijelaskan memberikan gambaran bahwa tradisi malam sincia memiliki nilai Teologis seperti rasa hormat kepada orang tua, rasa hormat kepada Tuhan, mempertahankan rasa kekeluargaan dan persaudaraan jika kita melihat tradisi ini sebagai bentuk kontekstualisasi dari Injil. Maka, pada akhirnya jika menggunakan model budaya tandingan akan mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa jika budaya sembahyangan Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. dihayati sebagai praktik pemujaan untuk meminta berkat, hikmat, atau kesuksesan itu akan bertentangan dengan Injil. Tetapi, jika praktik ini dihayati sebagai peringatan untuk mengenang para leluhur maka memiliki persamaan dengan konsep anamnesis. Daftar Pustaka