Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak Wilayah Pesisir di Puskesmas Kaleroang Kabupaten Morowali Nuraisyah1* | Asnia Zainuddin1 | Wa Ode Salma1 Jurusan Kesehatan Masyarakat. Universitas Halu Oleo. Kendari. Indonesia * Corresponding Author: nuraisyahqey83@gmail. ARTICLE INFORMATION Article history Received 15 August 2025 Revised 20 September 2025 Accepted 30 September 2025 Keywords Utilization of health services, mothers and children, coastal areas, income, social culture Kata Kunci Pemanfaatan layanan Kesehatan, ibu dan anak, pesisir, pendapatan, social budaya ABSTRACT Introduction: Coastal areas, such as Kaleroang Community Health Center, face challenges in providing optimal health services, which has resulted in low utilization of health services by the local community. This is evidenced by data showing that the number of pregnant women visiting the Kaleroang Health Center in 2021 was 22. 8%, in 2022 it was 28. and in 2023 it was 24. Objectives: This study aims to analyze the factors that influence the utilization of maternal and child health services in coastal areas, particularly at the Kaleroang Community Health Center. Methods: This type of research is analytical with a cross-sectional study approach conducted in July 2024 at the Kaleroang Community Health Center with a research population of 581 people. Sampling was conducted using cluster random sampling of 104 people, and data collection tools used questionnaires modified from Hikmatul's research. The data obtained were tested using chi-square and logistic regression tests, using SPSS Results: The results showed that there was a relationship between education . = 0. , knowledge . = 0. , attitude . = . , income . = 0. , and socio-cultural factors . = 0. and the use of health services. Conclusions: The utilization of maternal and child health services in coastal areas, particularly at the Kaleroang Community Health Center, is influenced by various factors, both individual and health facility-related. Therefore, efforts are needed to increase public knowledge by providing education about MCH services, especially about all types of MCH services, so that the utilization of MCH services can be ABSTRAK Pendahuluan: Wilayah pesisir, seperti yang terjadi di Puskesmas Kaleroang, menghadapi tantangan dalam penyediaan layanan kesehatan yang optimal, yang berimbas pada rendahnya tingkat pemanfaatan layanan kesehatan oleh masyarakat setempat, hal ini dibuktikan dengan data bahwa jumlah kunjungan ibu hamil di Puskesmas Kaleroang pada tahun 2021, 22,8 % tahun 2022 28,8 %, dan di tahun 2023 sebesar 24,7%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak di wilayah pesisir, khususnya di Puskesmas Kaleroang. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan pada bulan juli 2024 di puskesmas Kaleroang dengan populasi penelitian sebanyak 581 orang. Pengambilan sampel dengan cara cluster random sampling sebanyak 104 orang, alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dimodivikasi dari penelitian Hikmatul. Data yang di peroleh melakukan uji chi square dan uji regeresi logistic, dengan aplikasi spss versi 25. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan Pendidikan . = 0,. , pengetahuan . = 0,. , sikap . = 0,. , pendapatan . = 0,. dan sosial budaya . = 0,. terhadap pemanfaatan layanan Kesehatan. Kesimpulan: Pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak di wilayah pesisir, khususnya di Puskesmas Kaleroang, dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi individu maupun fasilitas layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan memberikan penyuluhan tentang layanan KIA terutama tentang semua jenis layanan KIA agar pemanfaatan layanan KIA dapat komprhensif. Indonesian Health Science Journal Website: http://ojsjournal. E-mail: Pendahuluan Secara global, setiap dua menit satu perempuan meninggal akibat kehamilan dan persalinan, sementara pada masa neonatal, sekitar 2,3 juta bayi diperkirakan meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka pada tahun 2023. Penyakit menular seperti pneumonia, diare, malaria, kelahiran prematur, dan komplikasi intrapartum menjadi penyebab utama kematian tersebut (UNICEF, 2. Di Indonesia, angka kematian ibu masih tinggi, sekitar 305 per 000 kelahiran hidup, menjadikannya peringkat ketiga tertinggi di ASEAN setelah Myanmar dan Laos, yang melampaui target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang menargetkan angka kematian ibu di bawah 70 per 100. 000 kelahiran hidup (Kemenkes RI. Layanan kesehatan ibu dan anak menjadi strategi kunci dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, serta mencapai target penurunan angka kematian ibu menjadi kurang dari 70 per 100. 000 kelahiran hidup (WHO, 2. Fenomena penggunaan layanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas sering kali terhambat oleh beberapa tantangan, salah satunya adalah kurangnya keterlibatan masyarakat sebagai penerima utama layanan kesehatan. Meskipun Puskesmas bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau, partisipasi aktif masyarakat dalam memanfaatkan layanan tersebut masih rendah. Peningkatan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan, karena dengan lebih banyak masyarakat yang terlibat, kualitas dan jangkauan layanan akan lebih optimal. Salah satu indikator tidak langsung dari efektivitas pemanfaatan layanan kesehatan adalah frekuensi kunjungan masyarakat ke Puskesmas, yang mencerminkan sejauh mana masyarakat merasa tertarik dan membutuhkan layanan tersebut. Jika frekuensi kunjungan rendah, ini bisa menandakan adanya hambatan baik dari sisi aksesibilitas, pemahaman, maupun persepsi masyarakat terhadap pentingnya layanan kesehatan ibu dan anak (Dongoran & Siregar, 2. Beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya pemanfaatan layanan Kesehatan tersebut adalah kurangnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan mengenai layanan kesehatan, status pendidikan yang rendah, kehamilan yang tidak diinginkan, kuintil kekayaan termiskin, tidak terpapar media massa, tinggal di pedesaan, jarak yang lebih jauh ke fasilitas kesehatan, menjadi petani, terlambat memulai pengobatan. ANC, dan kurangnya komunikasi dengan suami atau anggota keluarga (Khan et al. , 2. Puskesmas Kaleroang, sebagai salah satu fasilitas kesehatan yang melayani masyarakat pesisir, dihadapkan pada tantangan besar dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal. Jumlah kunjungan ibu hamil di Puskesmas Kaleroang pada tahun 2021, 22,8 % tahun 2022 28,8 %, dan di tahun 2023 sebesar 24,7%. Kunjungan KB tahun 2023 sebesar 4,5 %. Sedangkan kunjungan balita mengalami fluktuasi pada tahun 2020 . %), tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 12,2 % dan tahun 2022 yakni 21 % (Puskesmas Kaleroang, 2. Meskipun pemerintah telah berupaya menyediakan layanan kesehatan melalui berbagai program, namun tingkat pemanfaatan layanan KIA di wilayah pesisir masih tergolong rendah. Berbagai faktor yang mempengaruhi pemanfaatan layanan ini antara lain adalah faktor sosial ekonomi, seperti tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat, aksesibilitas transportasi. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. serta pengetahuan masyarakat tentang pentingnya layanan kesehatan ibu dan anak (Kemenkes RI, 2. Studi pendahuluan dan wawancara dengan masyarakat setempat dalam hal ini ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, didapatkan persepsi ibu masih jauh dari apa yang diharapkan, hal ini karena masih terdapat budaya dan mitos yang berkembang di masyarakat bahwa ibu hamil dan ibu yang memiliki bayi harus mengikuti beberapa anjuran yang disampaikan oleh para orangtua atau pada dukun bersalin. Budaya semacam ini kemudian membuat para ibu hamil secara turun temurun beranggapan bahwa Ibu hamil pertama tidak perlu terlalu awal memeriksakan kehamilannya, dan harus di urut oleh dukun agar posisi bayinya baik serta harus menghindari makanan dan minuman tertentu seperti minum susu, minuman dingin karena dapat menyebabkan bayi besar dan sukar untuk melahirkan dan tidak boleh makan hewan yang di sembelih, dan makan kepiting karena dapat menyebabkan bayi cacat dan tidak sempurna Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada satu atau dua variabel, penelitian ini berusaha mengungkap interaksi kompleks antar variabel-variabel seperti. Pendidikan, pengetahuam, sikap, pendapatan dan social budaya dalam mempengaruhi keputusan masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang ada. Hal ini memberikan kontribusi baru dalam memahami tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir dalam mengakses layanan kesehatan ibu dan anak, serta memberikan wawasan yang lebih mendalam bagi pengembangan kebijakan dan program kesehatan yang lebih efektif dan tepat sasaran di daerah yang memiliki keterbatasan akses dan sumber daya. Metode Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan kuantitatif. Desain yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil dan ibu balita 0 Ae 49 bulan di wilayah kerja puskesmas kaleroang sebanyak 425 orang, dengan jumlah sampel sebanyak 104 orang yang dihitung menggunakan rumus slovin. Sampel diambil menggunakan Teknik stratified random sampling yakni wilayah penelitian dibagi berdasarkan desa yang berada dalam cakupan Puskesmas Kaleroang sebanyak 12 desa. jumlah sampel per desa dihitung dengan rumus sebagai berikut: ycAycn. ycu ni = ycA Keterangan: ycu = Besar sampel ycAycn = Jumlah Populasi . setiap desa = Jumlah seluruh populasi = Jumlah sampel menurut desa Desa Bakala Boelimau Buajangka Bungingkela Buton Jawi-jawi Kaleroang Koburu Lakombulo Lamontoli Padabale Pado-pado Paku Jumlah ibu hamil Jumlah sampel Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Desa Panimbawang Poara Polewali PoAoo Pulau bapa Pulau dua Umbele Umbele lama Waru waru Total Jumlah ibu hamil Jumlah sampel Setelah menentukan jumlah sampel di masing-masing wilayah, langkah selanjutnya adalah memilih ibu-ibu secara acak dari daftar yang ada di masing-masing wilayah tersebut. Teknik yang digunakan adalah isimple random sampling dengan menggunakan pengacakan nomor menggunakan computer, agar semua populasi memiliki hak sama untuk dijadikan sampel penelitian. Responden yang terpilih adalah ibu yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun, berdomisili di wilayah pesisir yang dilayani oleh Puskesmas Kaleroang, dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel independent yaitu pendidikan, pengetahuan, sikap, pendapatan dan sosial budaya dan variabel dependen adalah pemanfaatan layanan Kesehatan Ibu dan Anak wilayah pesisir di Puskesmas. Instrument yang digunakan berupa kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian Hikmatul . dan telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Data hasil penelitian kemudian diolah melalui aplikasi excel lalu kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square untuk meilhat hubungan antar variabel dan uji regresi untuk melihat variabel mana yang paling berpengaruh terhadap pemenfaatan layanan Kesehatan oleh ibu bersalin di Puskesmas Kaleroang. Kedua uji tersebut diaplikasikan dengan bantuan aplikasi spss versi 26. 0 dengan Tingkat signifikansi 95%. Penelitian ini telah mendapatkan layak etik dari Universitas Halu Oleo, dengan nomor surat 198/KEPKIAKMI/Vi/2024. Hasil dan Pembahasan Karakterisitik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia . O 20 21 Ae 30 31 Ae 40 Ou 41 Pendidikan SMP SMA Pekerjaan IRT Wiraswasta PNS Total Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Hubungan Pendidikan dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak Tabel 2. Hubungan Pendidikan dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kaleroan Kabupaten Morowali Tahun 2024 Tingkat Rendah Tinggi Jumlah Pemanfaatan Yankes Ibu dan Anak Tidak Total p-value 0,000 Berdasarkan uji statistik pendidikan menunjukan hubungan yang signifikan antara ibu yang memiliki Tingkat Pendidikan rendah dengan perilaku ibu dalam memanfaatkan layanan Kesehatan ibu dan anak . = 0,000 < 0,. Berdasarkan hasil uji regresi diperolah nilai OR = 10,000, yang artinya bahwa ibu dengan Tingkat Pendidikan rendah berisiko tidak memanfaatkan layanana Kesehatan sebesar 10 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang memiliki Tingkat Pendidikan kategori tinggi. Studi yang dilaksanakan oleh Nur inayah & Enny Fitriahadi . juga mendapatkan hasil yang sama bahwa rutinnya ibu mengikuti program ANC khususnya yang sudah trimester i di Puskesmas Gamping 1 Seleman memiliki korelasi signifikan dengan tingkat pendidikan. Studi tambahan telah menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi berkaitan dengan peningkatan kemungkinan terlibat dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan, termasuk mencari kunjungan medis. Sebaliknya, tingkat pendidikan yang lebih rendah dapat menghambat kemampuan ibu untuk mengenali dan mengadopsi nilai-nilai baru yang berkaitan dengan kesehatan, sehingga menghambat perkembangan sikap positif terhadap praktik-praktik penting seperti kunjungan antenatal selama kehamilan (Ningsih, 2. Ahmalia dan Parmisze . melakukan penelitian di Puskesmas Lubuk Alung yang menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu hamil dan pemanfaatan layanan antenatal care (ANC) mereka . ilai p = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pendidikan ibu hamil berkaitan dengan pemahaman yang lebih baik tentang kehamilan dan kesehatan janin Lebih lanjut, perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung membuat keputusan yang tepat terkait pemilihan dan pemanfaatan layanan ANC (Ahmalia & Parmisze, 2. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa banyak masyarakat pesisir yang memiliki pendidikan rendah dikarenakan adanya ketidak adaan pemerataan pembangunan infrastruktur penunjang pendidikan, untuk menempuh pendidikan lanjutan seperti SMP dan SMA generasi muda masyarakat pesisir harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, dan adanya rasa apatis dari masyarakat itu sendiri karena kesulitan ekonomi maka anak-anak lebih memilih membantu orangtuanya bernelayan daripada melanjutkan pendidikan. Hal ini juga didukung oleh pemahaman orangtua bahwa pendidikan bukan merupakan hal yang penting karena kebanyakan orangtua pada masyarakat pesisir memiliki pengetahuan yang rendah. Perempuan dengan tingkat pendidikan menengah atau lebih tinggi mungkin memiliki keterampilan komunikasi dan pengetahuan yang lebih baik tentang layanan kesehatan dan berpotensi memiliki posisi untuk membuat keputusan yang tepat mengenai layanan kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan, ibu, dan anak. Ibu hamil dengan latar belakang Pendidikan tinggi, pasti akan lebih perduli dengan kondisi Kesehatan bayi yang dikandungnya, hal ini akan menuntun ibu hamil tersebut untuk datang melakukan konsultasi serta memeriksa Kesehatan kandungannya, hal ini memungkinkan juga ibu untuk mengetahui keluhan serta masalah yang dihadapi oleh janin yang ada dalam kandungannya sehingga dapat dilakukan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Upaya-upaya preventif untuk menjaga Kesehatan janin agar tetap optimal (Nur inayah & Enny Fitriahadi, 2. Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memahami informasi terkait kesehatan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Akibatnya, ketika tenaga kesehatan memberikan penjelasan atau panduan, ibu hamil dengan background Pendidikan yang bagus umumnya lebih terbuka dalam menerima pengetahuan baru dan menunjukkan adopsi yang lebih cepat terhadap modifikasi perilaku yang direkomendasikan dari pengetahun yang didapatnya (Syarif, 2. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa ibu dengan tingakt Pendidikan rendah Sebagian besar juga tidak memanfaatkan layanan kesehatan. Rendahnya pendidikan ibu di akibatkan oleh keadaan sosio ekonomi, keadaan geografis infrastuktur yang tidak memadai sehingga membatasi aksesbilitas terhadap fasilitas pendidikan. Fasilitas Pendidikan lanjutan (SMP-SMA bahkan perguruan tingg. jarang tersedia atau berada jauh dari pemukiman sehingga harus ditempuh dengan jalan kaki atau dengan menggunakan transportasi bahkan anak yang ingin melanjutkan pendidikan harus pergi ke kota atau daerah lain. Oleh karena itu untuk memiliki Pendidikan yang tinggi di tempat penelitian ini membutuhkan biaya yang tambahan untuk trasportasi, akomodasi dan biaya hidup. Hal ini tidak ditunjang dengan keadaan sosio ekonomi masyarakat dimana masyarakat kebanyakan menggantungkan hidup dari profesi sebagai nelayan yang penghasilan mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari - hari karena profesi mereka dipengaruh oleh keadan alam yaitu cuaca dan iklim. Disamping itu rendahnya pendidikan masyarakat dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang kuat yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap pendidikan, nilai tradisonal lebih di utamakan dari pada pendidikan formal. Anak-anak cepat didorong untuk cepat bekerja membantu perekonomian keluarga, daripada harus menempuh pendidikan formal. Hubungan Pengetahuan dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak Tabel 3. Hubungan Pengetahuan dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kaleroan Kabupaten Morowali Tahun 2024 Tingkat Pengetahuan Rendah Cukup Baik Jumlah Pemanfaatan Yankes Ibu dan Anak Tidak Total p-value 0,000 Berdasarkan uji statistik pengetahuan menunjukan hubungan yang signifikan termanfaatkannya layanan Kesehatan oleh ibu . =0,. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin rendha pengetahuan seorang ibu mengenai Kesehatan bayi dan baita, maka akan semakin rendah minat ibu untuk memanfaatkan layanan Kesehatan yang disediakan Pengetahuan merupakan salah faktor penting dalam merubah perilaku ibu untuk memanfaatkan layanan kesehatan. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki ibu hamil mengenai manfaat dari layanan Kesehatan, maka akan semakin tinggi minat ibu hamil untuk berkunjung dan memanfaatkan layanan Kesehatan yang diberikan (Wau H, 2. Kholid . diduga bahwa individu atau komunitas lebih mungkin mengubah perilaku mereka ketika mereka memahami faktor-faktor mendasar yang memengaruhi perubahan tersebut. Pengetahuan berfungsi sebagai pendahulu fundamental bagi perubahan perilaku. Namun, dalam praktiknya, membedakan berbagai faktor penentu perilaku terbukti menantang, karena Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. perilaku juga dibentuk oleh faktor-faktor tambahan termasuk pengalaman pribadi, keyakinan, dan aksesibilitas sumber daya atau fasilitas yang memfasilitasi tindakan yang diinginkan. Senada dengan penelitian Damayanti et al . pengetahuan berpengaruh signifikan dengan pemanfaatan layanan Kesehatan yang dilakukan oleh ibu. Pengetahuan mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan pada ibu Pengetahuan mempunyai pengaruh langsung sebesar 0,62 terhadap pemanfaatan pelayanan Kesehatan. Penelitian Tassi et al . yang menunjukkan ada pengaruh antara pengetahuan dengan pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak, bahwa ibu yang berpengetahuan tinggi dapat memahami tujuan, manfaat, dan waktu pelayanan antenatal (ANC) serta memanfaatkan ANC secara lengkap dan optimal. Menurut Wau H . menyatakan bahwa pengetahuan dapat meningkatkan kesadaran ibu hamil tentang pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan dan risiko yang dapat dialami selama kehamilan, persalinan, dan nifas. Ibu hamil sebaiknya mencari bantuan profesional jika timbul masalah kesehatan untuk memperluas pengetahuannya tentang kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Pengetahuan berperan sebagai penentu mendasar tindakan dan perilaku seseorang. Pengetahuan yang akurat dan bermanfaat cenderung menghasilkan perilaku positif. sebaliknya, pengetahuan yang cacat atau merugikan cenderung menghasilkan tindakan negative (Listina et al. , 2. Ibu hamil yang terpapar berbagai informasi kehamilan melalui televisi, internet, dan perkumpulan ibu hamil mempunyai pemahaman yang lebih baik mengenai permasalahan kesehatan yang mungkin mereka hadapi sehingga dapat memilih fasilitas pelayanan kesehatan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut (Vora et al. , 2. Hasil penelitian ini berdasarkan jawaban kuesioner menunjukkan bahwa Sebagian besar responden mengetahui dengan baik tentang puskesmas Kaleroang merupakan tempat yang memberikan layanan Kesehatan pertama yang ada di seda mereka yakni di kecamatan Bungku Selatan. Responden juga mengetahui dengan baik manfaat dari pelayanan Kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas yakni untuk merawat ibu serta janin yang dikandungnya agar tetap Selain itu, dengan mengikuti program Kesehatan, ibu juga dapat mendapatkan konseling dari tenaga Kesehatan bahwa ibu harus melakukan persalinan di fasilitas Kesehatan, jika tidak akan dikenakan denda. Namun dalam studi ini juga ditemukan beberapa ibu tidak memiliki Tingkat pengetahuan yang baik mengenai manfaat mengikuti program ANC. Hal inilah yang menyebabkan responden tidak mengunjungi puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif, dan merasa cukup memeriksakan kehamilan pada bidan dan Ibu hamil tidak memiliki inisiatif sendiri untuk datang ke puskesmas melakukan pemeriksaan kehamilan. USG dan pemeriksaan laboratorium. Ibu hamil mengunjungi puskesmas untuk pemeriksaan kehamilan. USG dan pemeriksaan laboratorium apabila tidak ada bidan di desa tempat mereka tinggal, dan ada rujukan dari bidan yang mendiagnosis ada kelainan dalam kehamilan ibu atau bidan mengumpulkan mereka dan secara bersama Ae sama mengunjungi puskesmas untuk pemeriksaan yang komprehensif dan terintegrasi. Begitu pula dengan ibu yang memiliki balita mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga tidak memiliki motivasi untuk dating ke puskesmas melakukan konseling tentang tumbuh kembang anak, dan apabila anak mengalami sakit yang pertama akan dikunjungi terlebih dahulu adalah dukun tkarena mereka beranggapan dukun mampu menyembuhkan anak yang sakit. Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Hubungan Pendapatan dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak Tabel 4. Hubungan Pendapatann dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kaleroan Kabupaten Morowali Tahun 2024 Pendapatan Kurang Cukup Jumlah Pemanfaatan Yankes Ibu dan Anak Tidak Total p-value 0,000 Berdasarkan uji statistik pendapatan menunjukan hubungan yang signifikan dengan dimanfaatkannya layanan Kesehatan oleh ibu bersalin . =0,. Artinya bahwa ibu yang memiliki pendapatan keluarga kategori rendah yakni dibawah UMR, maka akan semakin besar potensi ibu untuk tidak memanfaatkan layanan Kesehatan yang disediakan pemerintah. Diketahui dalam penelitian ini, lebih banyak ibu yang berpendapatan rendah dibandingkan ibu yang berpendapatan tinggi. Sejalan dengan penelitiian Nanda . , terdapat pengaruh yang signifikan antara Tingkat penghasilan yang rendah dalam keluarga dengan dimanfaatkannya layanan Kesehatan di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring. Hal ini disebabkan karena, ibu tidak memiliki cukup dana untuk membayar biaya akomodosi ke tempat Kesehatan, selain itu juga ibu akan mendahulukan kebutuhan mendesak seperti membeli makanan terlebih dahulu ketimbang harus mengeluarkan uang ke fasilitas Kesehatan. Hal yang sama juga dikemukan oleh Napirah Ryman et al. , dalam penelitianya menemukan hubungan yang sangat erat antara ketermanfaatan layanan kesehatan oleh ibu dengan Tingkat pendapatan ibu itu sendiri. Dimana ibu yang memiliki penpatan rendah merasa enggan pergi ke fasilitas Kesehatan jika harus mengeluarkan uang, meskipun sebenrnya ibu itu sendiri merasa ingin ke fasilitas Kesehatan untuk memeriksakan kondisi bayi yang dikandungnya. Ibu hamil dengan Tingkat pendapatan rendah dalam keluarganya berpotensi tidak akan memanfaatkan layanan Kesehatan, ibu akan mengutamakan kebutuhan yang penting terlebih dahulu seperti membeli makanan, dibandingkan pergi ke fasilitas Kesehatan yang harus mengeluarkan biaya. Hal ini akan diperparah dengan Tingkat Pendidikan dan pengetahuan yang rendah, ibu akan merasa bahwa fasiltas Kesehatan hanya diperlukan saat menjelang hari persalinan, di awal-awal kehamilan cukup mendengarkan saran orang tua atau dukun beranak saja karena mereka juga memiliki pengalaman terhadap proses kehamilan dan persalinan. Akibatnya, semakin rendah tingkat pendapatan keluarga, semakin sedikit pula frekuensi kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (Rachmawati. Puspitasari & Cania, 2. Hasil Penelitian ini berdasarkan wawancara mendalam sebagian besar responden menyatakan bahwa pendapatan keluarga tidak menentu dan sangat minim dibawah standar karena sebagian besar kepala keluarga berprofesi sebagai nelayan dan tergantung dari hasil tangkapan ikan yang juga dipengaruhi oleh cuaca yang tidak menentu. Responden menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai cukup biaya untuk mengunjungi puskesmas, karena jarak tempat tinggal yang jauh dari tempat tinggal mereka sehingga membutuhkan biaya yang tinggi walaupun pelayanan Kesehatan ibu dan anak di puskesmas tidak di pungut bayaran dan mereka memiliki jaminan kesehatan tetapi kunjungan ke puskesmas membutuhkan alat transportasi, sementara mereka tidak mempunyai alat transportasi pribadi dan alat transportasi umum tidak tersedia di wilayah mereka. Responden menyatakan penghasilan yang di dapatkan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari hari yang bahkan terkadang tidak mencukup untuk pemenuhan kebutuhan sehari hari. Faktor ini yang berpeluang tinggi menghambat pemanfaatan Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. layanan Kesehatan ibu dan anak di puskemas karena sebagian besar responden memilih melakukan pemeriksaan kehamilan dan pengobatan pada balita yang sakit di tempat yang terdekat seperti pada dukun, bidan atau rumah sakit dan tidak mengunjungi puskesmas. Untuk pengobatan pada anak balita yang sakit mereka terlebih dahulu mengunjungi dukun apabila anak tidak sembuh dari sakitnya mereka baru akan mengunjungi bidan dan bidan akan melakukan rujukan ke puskesmas atau rumah sakit. Keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi seringkali kekurangan sumber daya keuangan yang diperlukan untuk mengakses layanan kesehatan pranatal dan mempersiapkan persalinan dengan baik. Kekurangan keuangan ini berkaitan dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, keterbatasan sumber daya ekonomi seringkali mengakibatkan asupan gizi yang tidak mencukupi bagi ibu dan bayi selama kehamilan dan masa nifas. Sebaliknya, keluarga dengan kapasitas ekonomi yang memadai biasanya mampu melakukan pemeriksaan kesehatan pranatal secara teratur, berkoordinasi dengan tenaga kesehatan profesional, dan melakukan persiapan penting lainnya, sehingga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak selama kehamilan dan persalinan. (Fatmah Afrianti Gobel et al. , 2. Hubungan Sosial Budaya dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak Tabel 5 Hubungan Sosial Budaya dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kaleroan Kabupaten Morowali Tahun 2024 Sosbud Pemanfaatan Yankes Ibu dan Anak Total Tidak p-value Negatif 77 100,0 Positif 27 100,0 0,000 Jumlah 104 100,0 Berdasarkan uji statistik Sosial budaya menunjukan hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan layanan Kesehatan ibu dan anak dalam penelitian ini . =0,000 < 0,. Diketahui lebih banyak ibu yang memiliki social budaya negatife dibandingkan dengan ibu yang memiliki social budaya positif. Leininger . mengemukakan bahwa manusia cenderung melestarikan praktik budaya mereka meskipun praktik tersebut mungkin merugikan. Perilaku ibu ini selanjutnya dipengaruhi oleh konteks lingkungan mereka. merujuk temuan penelitian dan kerangka teori sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa norma budaya dalam suatu komunitas terutama dibentuk oleh kebiasaan lokal yang berlaku. Seiring waktu, kebiasaan-kebiasaan ini, terutama ketika diadopsi secara luas oleh mayoritas, cenderung memengaruhi perspektif dan perilaku individu terkait berbagai isu atau fenomena. Akibatnya, jika seseorang mematuhi praktik budaya yang mendorong perilaku positif dan selaras dengan Kesehatan seperti menghadiri pemeriksaan antenatalAikepatuhan ini dapat mendorong praktik kesehatan yang baik. Sejalan dengan riset yang pernah dilakukan oleh Ernias et al . , yang memberikan Kesimpulan bahwa social budaya yang terdapat dalam lingkungan ibu tinggal berpengaruh signifikan terhadap mtovasi ibu untuk pergi memanfaatkan layanan Kesehatan. Hal ini disebabkan karena lingkungan tempat tinggal seperti orang tua, berkontribusi memberikan saran kepada ibu mengenai status Kesehatan bayi yang dikandungnya. Selain itu, beberapa budaya seperti keberadaan dukun dianggap cukup untuk sekedar memeriksa dan melakukan pertolongan persalinan. Senada dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh (Pratiwi, 2. , yang memberikan penjelasan adanya keterkaitan yang sangat kuat antara perilaku ibu rutin mengunjungi program ANC dengan budaya di lingkungan ibu tinggal. Penelitian RISA et al Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. juga mengidentifikasi bahwa faktor sosial budaya berpengaruh negatif terhadap waktu kunjungan antenatal care (K. pertama pada ibu hamil. Dimana dalam penelitian didapatkan sebagian besar . ,3%) ibu hamil trimester I tidak pergi berkunjung ke fasiltas Kesehatan untuk memeriksakan status kehamilannya. Hal ini dapat kita artikan bahwa social budaya tertetentu dapat merubah persepsi dan perilaku ibu dalam memanfaatkan layanan Kesehatan. Secara khusus, kepatuhan wanita hamil terhadap budaya daerah dapat mengganggu kemampuan mereka untuk menjaga kesehatan. Sekalipun periode perkembangan masyarakat pasca-industri telah dimulai, tidak semua orang sepenuhnya bijaksana dalam mengambil Baik ibu hamil di pedesaan maupun perkotaan masih dipengaruhi oleh berbagai pantangan dan mitos yang tidak rasional (Damayanti et al. , 2023. Perbedaan budaya dalam pengalaman kehamilan, terutama dalam konteks Indonesia, patut dipertimbangkan secara cermat oleh para akademisi. Perempuan hamil adalah individu yang menjalani dan mematuhi berbagai norma sosial, yang dibentuk oleh praktik budaya kolektif maupun pengalaman pribadi. Tidak semua individu dipengaruhi secara setara oleh latar belakang budaya mereka, dan dalam beberapa kasus, praktik budaya dapat berdampak negatif terhadap hasil kehamilan. Budaya memainkan peran penting dalam membentuk perilaku dan proses perkembangan janin selama kehamilan, termasuk jenis stimulasi yang diterima janin di dalam rahim. Selain itu, keyakinan budaya seringkali menentukan kebiasaan makan selama kehamilan, seperti kepatuhan terhadap pantangan makanan tertentu. Pembatasan makanan ini dapat berdampak besar bagi kesehatan ibu dan janin, terutama jika melibatkan makanan bergizi tinggi yang dilarang secara budaya. (Amiruddin & Hasmi, 2. Perilaku keluarga yang melarang seorang wanita untuk keluar rumah demi memeriksakan kehamilannya mencerminkan budaya yang menghalangi keteraturan kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan. Masyarakat memiliki sistem kehidupan yang terdiri dari aturan, norma, dan pandangan hidup yang menjadi pedoman dalam mengatur perilaku sosial. Tradisi budaya di Indonesia mengandung nilai-nilai adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur. Hal ini memiliki dampak baik dan buruk, terutama terhadap kesehatan ibu dan anak. (Aryastami, 2. Hasil penelitian ditemukan bahwa masyarakat di daerah pesisir wilayah kerja puskesmas kaleroang masih banyak yang sangat memegang teguh budaya, adat istiadat dan kebiasaan para Sebagian besar responden banyak yang takut melanggar adat / kebiasaan orang tua mereka karena takut kualat. Responden ibu hamil masih ada yang harus menyembunyikan kehamilannya pada tiga bulan pertama atau kehamilan muda karena adanya asumsi apabila menceritakan kehamilannya akan terjadi keguguran pada janinnya, hal ini yang membuat responden tidak memeriksakan kehamilannya pada awal kehamilan atau di trimester pertama. Ada pantangan makanan yang takut dimakan oleh ibu hamil seperti buah, ikan, serta sayuran tertentu padahal makanan tersebut mengandung zat gizi yang sangat diperlukan oleh ibu hamil dan balita. Permodelan Multivariat Tabel 6. Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor yang Paling Berpengaruh Terhadap Pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Kaleroang Tahun 2024 Variabel Sig Constant 0,000 0,012 0,008 Sumber: Analisis Data Tahun 2024 Exp (B) 10,000 9,333 0,100 95% CI for Exp(B) Lower Upper 3,466 28,849 1,634 53,298 Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang sangat signifikan dengan nilai signifikansi (Si. sebesar 0,000, yang jauh lebih kecil dari ambang batas 0,05. Exp (B) sebesar 10,000 mengindikasikan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki kemungkinan 10 kali lebih besar untuk memanfaatkan layanan kesehatan ibu dan anak dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Angka ini menunjukkan bahwa pendidikan ibu memainkan peran kunci dalam menentukan kesadaran dan pengetahuan mereka mengenai pentingnya layanan kesehatan ibu dan anak. Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih memahami manfaat dari layanan kesehatan, lebih terinformasi mengenai kesehatan ibu dan anak, dan lebih terbuka terhadap layanan kesehatan yang tersedia. Pendidikan juga berkorelasi dengan kemampuan untuk mengakses informasi, baik melalui media cetak, online, maupun melalui interaksi sosial, yang pada gilirannya meningkatkan kesadaran dan minat untuk menggunakan layanan kesehatan. Pendapatan juga terbukti menjadi faktor signifikan yang mempengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak, dengan nilai signifikansi 0,012 yang lebih kecil dari 0,05. Nilai Exp (B) sebesar 9,333 menunjukkan bahwa ibu dengan pendapatan yang lebih tinggi memiliki kemungkinan 9,3 kali lebih besar untuk memanfaatkan layanan kesehatan dibandingkan dengan ibu dengan pendapatan yang lebih rendah. Pendapatan yang lebih tinggi memungkinkan ibu untuk lebih mudah mengakses layanan kesehatan, baik dari segi biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan, biaya layanan kesehatan itu sendiri, maupun kemampuan untuk membeli obat atau kebutuhan medis lainnya. Selain itu, ibu dengan pendapatan yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya pemeriksaan antenatal, vaksinasi anak, dan pelayanan kesehatan lainnya yang dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Kedua faktor ini, pendidikan dan pendapatan, saling berkaitan erat. Pendidikan yang lebih tinggi seringkali berhubungan dengan pendapatan yang lebih tinggi, karena ibu yang lebih berpendidikan cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, peningkatan pendidikan dapat berdampak positif pada pendapatan, yang pada gilirannya memperluas kemampuan ibu untuk mengakses layanan kesehatan. Di sisi lain, ibu dengan pendapatan lebih rendah mungkin merasa terbatas dalam hal akses ke layanan kesehatan, meskipun mereka mungkin memiliki pengetahuan yang memadai mengenai manfaat layanan tersebut. (Putri et al. , 2. Untuk meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak, penting untuk fokus pada dua aspek utama: pendidikan dan pendapatan. Program-program yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan ibu, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan kesehatan yang lebih terjangkau, dapat membantu meningkatkan pengetahuan mereka tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak. Selain itu, upaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi ibu, melalui program pemberdayaan ekonomi atau peningkatan akses ke pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik, juga dapat memperbesar kesempatan mereka untuk memanfaatkan layanan kesehatan. Oleh karena itu, kebijakan yang mengintegrasikan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi sangat penting untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan di wilayah pesisir seperti Kabupaten Morowali. Kesimpulan Terdapat hubungan antara Pendidikan, pengetahuan, pendapatan, dan antara Sosial Budaya terhadap pemanfaatan Layanan Kesehatan Ibu dan anak wilayah pesisir di puskesmas kaleroang, sedangkan faktor yang paling berpengaruh Adalah Pendidikan dan pendapatan. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan akses pendidikan bagi ibu di wilayah pesisir, terutama di daerah yang masih terbatas aksesnya. selain itu, kebijakan yang fokus pada pemberdayaan ekonomi keluarga, khususnya ibu, sangat diperlukan. Program-program Indonesian Health Science Journal Vol. No. September 2025 http://ojsjournal. peningkatan keterampilan, pelatihan kerja, atau akses ke modal usaha untuk ibu rumah tangga di wilayah pesisir dapat membantu meningkatkan pendapatan mereka. Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas program-program kesehatan ibu dan anak yang telah diterapkan di wilayah pesisir, seperti program posyandu atau pemberian imunisasi. Hal ini penting untuk mengetahui apakah program-program tersebut telah berhasil mencapai tujuan dan meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan Acknowledgments Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian penelitian ini, terutama kepada Puskesmas Keroang yang telah memberikan izin untuk emlakukan penelitian. Saran dan masukkan diharapkan dapat mendukung perbaikan penelitian Daftar Pustaka