Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. MAKNA TEOLOGIS DAN SPIRITUALITAS TAHUN YUBILEUM 2025: IMPLIKASI PASTORAL TERHADAP PARTISIPASI UMAT DALAM PELAYANAN HIDUP MENGGEREJA Vinsensius Viktor Armando1*. Yustinus Joko Wahyu Yuniarto2. Timotius Tote Jelahu3 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Asisi Semarang. Indonesia Email: viktormand00@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna Tahun Yubileum 2025 sebagai landasan pastoral bagi katekis dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja, khususnya dalam bidang liturgia, di Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang. Tahun Yubileum 2025 dengan tema AuPeziarah PengharapanAy dipahami Gereja sebagai momentum rahmat untuk pembaruan iman, pertobatan dan penguatan keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja. Realitas pastoral menunjukan partisipasi umat dalam pelayanan liturgi masih rendah, ditandai dengan sikap pasif, rasa tidak layak dan keterbatasan pemahaman akan penggilan pembaptisan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen, observasi, wawancara mendalam dan kuisioner terbuka. Hasil menunjukkan bahwa katekis memaknai Tahun Yubileum 2025 sebagai kesempatan pastoral yang strategis untuk membangkitkan kesadaran iman umat melalui katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup. Peran katekis sebagai agen pastoral dan telaan iman berpengaruh signifikan dalam meningkatkan keterlibatan aktif umat. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan pelayanan ketekese pastoral di paroki lokal, menegaskan bahwa penghayatan autentik katekis terhadap momentum iman menjadi kunci transformasi partisipasi umat dalam kehidupan menggereja. Kata Kunci: Partisipasi umat. Peran katekis. Tahun Yubileum 2025 Abstract This research aims to examine the meaning of the Jubilee Year 2025 as a pastoral foundation for catechists in encouraging the participation of the faithful in the life of the Church, particularly in the field of liturgy, in Saint Paul Parish Sendangguwo. Semarang. The Jubilee Year 2025, with the theme AuPilgrims of Hope,Ay is understood by the Church as a moment of grace for the renewal of faith, conversion, and the strengthening of the faithfulAos involvement in ecclesial life. Pastoral realities show that the participation of the faithful in liturgical ministry is still relatively low, as indicated by passive attitudes, feelings of unworthiness, and limited understanding of the baptismal calling. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques consisting of document study, observation, in-depth interviews, and open-ended questionnaires. The results show that catechists interpret the Jubilee Year 2025 as a strategic pastoral opportunity to awaken the faith awareness of the faithful through catechesis, socialization, and the witness of life. The role of catechists as pastoral agents and examples of faith has a significant influence in increasing the active involvement of the This study contributes to strengthening pastoral catechetical ministry in the local parish, emphasizing that the authentic appreciation of moments of faith by catechists becomes a key factor in transforming the participation of the faithful in the life of the Church. Keywords: Jubilee Year 2025. Participation of the faithful. Role of catechists is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Halaman | 48 JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. PENDAHULUAN Tahun Yubileum 2025 yang secara resmi dibuka oleh Paus Fransiskus pada malam Natal 24 Desember 2024 melalui ritus pembukaan Pintu Suci (Porta Sanct. di Basilika Santo Petrus Vatikan. Tahun Yubileum merupakan momentum iman yang sarat dengan makna rahmat, pembaharuan iman dan mengembalikan pengharapan manusia akan kasih Allah kepada Tahun Yubileum yang disebut sebagai Tahun Rahmat Tuhan, berakar kuat dalam tradisi iman Bangsa Israel sebagaimana tercatat dalam Kitab Imamat 25, di mana perayaan Yobel menjadi tanda pemulihan, pembebasan dan pengembalian martabat manusia sebagai umat Allah (Stanislaus, 2. Dalam perkembangan sejarah keselamatan, tradisi ini dihayati dan dimaknai kembali oleh Gereja Katolik secara lebih spiritual sebagai kesempatan istimewa bagi umat beriman untuk mengalami belas kasih Allah melalui pertobatan, pengampunan dosa, rekonsiliasi dan peziarahan iman. Dalam Gereja Katolik. Tahun Yubileum tidak hanya dipahami sebagai peristiwa liturgis simbolik, melainkan sebagai sarana pastoral yang mengajak umat beriman untuk memperbarui relasi manusia dengan Allah, dan manusia dengan sesama. Hal ini ditegaskan kembali oleh Paus Fransiskus melalui Bulla Spes Non Confundit (SNC) yang mengangkat tema AuPeziarah PengharapanAy. Tema ini menegaskan bahwa harapan umat beriman bersumber dari kasih Allah yang tidak mengecewakan dan menjadi kekuatan bagi umat beriman untuk bertahan serta bertumbuh di tengah berbagai tantangan kehidupan (SNC:. Belas kasih Allah menghadirkan pengampunan bagi mereka yang berdosa dan menginginkan pertobatan dalam hidupnya (Supriyadi, 2. Paus Fransiskus menyatakan bahwa Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan akan dibuka sebagai tanda dimulainya Tahun Yubileum 2025. Pintu Suci memiliki makna simbolis sebagai gerbang spiritual yang menghubungkan dunia profan manusiawi dengan dunia ilahi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua umat beriman dapat berziarah Kota Suci Vatikan untuk melaksanakan ziarah rohani dalam Tahun Yubileum ini. Maka dari itu. Paus Fransiskus mengajak bagi seluruh Uskup Diosesan di seluruh dunia untuk merayakan Misa Kudus di katedral dan paroki masing-masing sebagai pembukaan Tahun Yubileum 2025. Dengan demikian para umat beriman dapat melakukan peziarahan Pintu Suci di katedral dan paroki masing-masing yang sudah ditentukan sebelumnya. Ziarah pintu suci, baik di Vatikan maupun di katedral dan paroki setempat menjadi simbol perjalanan rohani umat menuju pemulihan iman dan transformasi hidup (Situmorang, 2. Namun, realitas pastoral melalui wawancara yang dilakukan kepada katekis, ketua lingkungan dan pengamatan kegiatan pembelajaran katekumen, menunjukan bahwa keterlibatan umat dalam pelayanan hidup menggereja, khususnya dalam bidang liturgia masing tergolong rendah. Banyak umat merasa tidak mampu, tidak pantas, atau belum layak untuk Hal ini mencerminkan lemahnya pemahaman akan martabat dan perutusan yang diterima manusia melalui pembaptisan yang diterimanya (Yunarti, 2. Kondisi seperti ini menjadi tantangan serius bagi Gereja dalam menghidupi semangat Yubileum sebagai tahun pembaruan iman, pertobatan, indulgensi dan tahun yang memperkuat pengharapan. Oleh katena itu, diperlukan kajian mendalam mengenai peran katekis dalam mengkomunikasikan makna spiritual Tahun Yubileum 2025 melalui katekese, sosialisasi dan keteladanan hidup, sehingga umat beriman dapat mengalami pertumbuhan rohani dan terdorong untuk Halaman | 49 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. berpartisipasi secara aktif dalam pelayanan hidup menggereja. Dalam konteks pastoral Gereja lokal, keberhasilan penghayatan Tahun Yubileum sangat bergantung pada peran para pelayan pastoral khususnya peran katekis. Katekis memiliki peran strategis sebagai pendidik iman, pewarta sabda dan pendamping umat dalam memahami serta menghidupi makna Tahun Rahmat Tuhan (Ley & Derung, 2. Pemahaman dan pemaknaan katekis terhadap Tahun Yubileum 2025 menjadi bagian terpenting dalam tugas katekis sebagai pewarta ditengah kehidupan umat beriman. Pendampingan pastoral dalam Gereja Katolik merupakan suatu pelayanan yang bertujuan untuk membimbing umat beriman dalam bertumbuh dalam iman dan kehidupan rohani. Katekis berperan sebagai fasilitator yang membantu umat menemukan jawaban atas berbagai persoalan rohani dan moral (Saputra. Selain pemaknaan katekis terhadap Tahun Yubileum, cara katekis dalam mendampingi umat agar dapat memahami makna dan tujuan Yubileum menjadi bagian terpenting dalam tugas evangelisasi yang di lakukan katekis. Menurut (Jelahu, 2. seorang katekis memiliki peran dan posisi strategis dalam karya evangelisasi. Sehingga katekis perlu dipersiapkan melalui pembinaan yang berkelanjutan agar mampu memahami ajaran Gereja secara mendalam serta melaksanakan tugas katekese secara efektif, baik secara teoritis maupun pastoral (Ngiso et al. , 2. Sehingga latar belakang dalam penelitian ini bertujuan: . Untuk mengidentifikasi dan menganalisis makna Tahun Yubileum 2025 sebagai landasan pelayanan katekis dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja di Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang, . Untuk mengetahui cara-cara katekis dalam mensosialisasikan, mengkatekesekan dan memberikan keteladanan dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja dan . Untuk mengetahui tingkat keberhasilan katekese, sosialisasi dan keteladanan mengenai Tahun Yubileum 2025 dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja. Kontribusi artikel ini terletak pada upaya memberikan pemahaman pastoral mengenai bagaimana Tahun Yubileum 2025 dapat dimaknai sebagai landasan pelayanan katekis dalam menggerakkan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja. Penelitian ini juga memberikan gambaran empiris mengenai bentuk pendampingan katekis melalui katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup dalam konteks Gereja lokal. Dengan demikian, artikel ini diharapkan dapat memperkaya kajian pastoral Gereja, khususnya mengenai peran katekis dalam mengaktualisasikan momentum iman Gereja sebagai sarana pembaruan iman dan peningkatan keterlibatan umat dalam pelayanan hidup menggereja. Gereja dan Perutusan Umat Beriman Gereja sebagai perhimpunan dan persekutuan umat beriman yang dipanggil oleh Allah sendiri untuk memuji dan memuliakan-Nya. Gereja lahir dari panggilan Yesus Kristus sebagai kepala Gereja yang mengumpulkan orang-orang percaya keluar dari kegelapan dosa menuju terang keselamatan Allah. Sebagai persekutuan iman. Gereja hadir di tengah dunia untuk memperdamaikan dan memulihkan relasi manusia dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Gereja hidup dari Sabda Allah dan Tubuh Kristus yang dirayakan secara konkret dalam Ekaristi (Sukarman, 2. Gereja juga disebut kudus, karena sumber kekudusan Gereja berasal dari Allah sendiri melalui Yesus Kristus dan Roh Kudus. Kekudusan Gereja bukanlah sesuatu yang dimiliki Halaman | 50 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Gereja sebagai organisasi secara internal atau hasil usaha manusia, melainkan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia yang dibentuk-Nya. Kekudusan Gereja adalah bagian dari identitasnya sebagai umat Allah yang dipanggil keluar dari dosa dan dikhususkan bagi Allah untuk hidup dalam persekutuan dan pelayanan kepada-Nya (Martasudjita, 2. Dokumen Lumen Gentium (LG) menegaskan bahwa Gereja merupakan kehendak Allah Bapa sejak awal sejarah keselamatan. Allah merancang keselamatan manusia dengan menghimpun mereka yang beriman kepada Kristus dalam Gereja Kudus, yang telah dipralambangkan sejak penciptaan dunia, disiapkan dalam sejarah Bangsa Israel, dan ditawarkan dalam perjanjian Lumen Gentium juga menegaskan bahwa: AuSemua para awam, yang terhimpun dalam Umat Allah dan berada dalam satu Tubuh Kristus di bawah satu kepala, tanpa kecuali dipanggil untuk sebagai anggota yang hidup menyumbangkan segenap tenaga, yang mereka terima berkat kebaikan Sang Pencipta dan rahmat Sang Penebus demi perkembangan Gereja serta pengudusannya terus-menerus. Adapun kerasulan kaum awam itu diikutsertakan dalam perutusan keselamatan Gereja sendiri. Dengan baptis dan penguatan semua ditugaskan oleh Tuhan sendiri untuk kerasulan ituAy (LG art. Kutipan ini menegaskan bahwa setiap umat awam melalui pembaptisan, memiliki peran aktif dalam misi keselamatan Kristus. Katekis adalah perpanjangan tangan Gereja dan imam dalam lingkup parokial, katekis dipanggil untuk membantu umat menyadari identitas dan penggilan mereka sebagai umat beriman yang telah dibaptis, serta mendorong keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja, terutama dalam bidang peribadatan dan pelayanan liturgi. Konsili Vatikan II melalui dokumen Ad Gentes (AG) menekankan bahwa seluruh umat beriman dipanggil untuk memberikan kesaksian iman Kristiani di tengah masyarakat. Gereja harus hadir di antara manusia, baik melalui keberadaan nyata umat di lingkungan hidup mereka maupun melalui perutusan khusus kepada mereka yang membutuhkan pewartaan injil (AG Panggilan kepada kesucian berlaku bagi seluruh anggota Gereja, baik kaum kaum tertahbis, kaum religius, maupun kaum awam. Setiap panggilan memiliki kekhasan tersendiri dalam menghidupi kesucian. Namun, semuanya diarahkan pada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih (LG art. Kaum awam melalui sakramen baptis dan penguatan mengambil bagian dalam tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus untuk mencari Kerajaan Allah dengan mengurusi hal-hal duniawi sesuai dengan kehendak Allah (LG art. Dalam ensiklik Paus Yohanes Paulus II yang berjudul Redemptoris Missio (RM) yang secara khusus membahas tugas perutusan Gereja di dunia modern, menegaskan bahwa kaum awam khususnya katekis memiliki peran yang sangat penting dan tidak tergantikan dalam karya perutusan gereja. Katekis dipandang sebagai pelaku misi yang spesifik, bukan sekadar pembantu, melainkan penginjil yang memberikan kesaksian iman secara langsung, terutama dalam gereja-gereja muda dan wilayah misi. Keberadaan dan pelayanan mereka menjadi kekuatan dasar bagi pertumbuhan kuminitas kristiani (RM art. Dalam kerangka ekklesiologi ini, katekis sebagai bagian dari kaum awam memiliki peran strategis dalam tugas pewartaan iman. Katekis menjadi perpanjangan tangan uskup dan imam dalam mendidik, membimbing dan mengantar umat untuk memahami serta menghayati iman Katolik secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Halaman | 51 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Peran dan Tugas Katekis dalam Pembinaan Umat Beriman Direttorio per La Catechesi (DpLC) merupakan dokumen resmi Gereja Katolik yang diterbitkan untuk memberikan pedoman untuk pelaksanaan katekese. Dokumen DpLC berfungsi sebagai panduan bagi para uskup, katekis dan umat beriman dalam menjalankan katekese yang efektif dan sesuai dengan ajaran Gereja. DpLC menempatkan katekis sebagai saksi iman, guru, mistagogi, pendamping dan pendidik. Sebagai saksi iman, katekis dipanggil untuk menjaga dan mewartakan ingatan akan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Sebagai guru dan mistagogi, katekis bertugas meneruskan ajaran iman sekaligus membimbing umat masuk ke dalam misteri iman yang dirayakan dalam liturgi Gereja. Sebagai pemdamping dan pendidik, katekis dipanggil untuk berjalan bersama umat dengan kesabaran, kepekaan kemanusiaan dan ketaatan pada karya Roh Kudus (DpLC art. Katekis dituntut untuk memiliki karakter yang matang, kebijaksanaan rohani, serta kemampuan membangun dialog dalam masyarakat yang plural dan multikultural (Habur, 2. Melalui seruan apostolik Evangelii Gaudium (EG). Paus Fransiskus mengundang kita untuk menjadi AuGereja yang keluarAy. Gereja harus keluar dari dirinya untuk menjadi pewarta injil kepada semua orang tanpa terkecuali. Gereja membutuhkan peran awam dalam membantu penggembalaan iman umat beriman untuk semakin mengenali Injil, sehingga sukacita Injili sampai kepada hati semua orang. Setiap umat beriman diajak untuk mencari dan menemukan jalan Tuhan dalam setiap hidupnya (EG art. Dalam sebuah paroki, pastor paroki adalah katekis pertama dalam komunitas beriman di Seperti yang dikatakan (Wuriningsih & Setiyaningtiyas, 2. bahwa semua aktivitas pengembangan dan penghayatan iman berpusat di paroki, terutama dalam hal-hal perayaan Sehingga tugas pastor paroki sangat menjadi bagian integral dalam pertumbuhan iman dan transformasi umat beriman pada wilayah paroki yang diembannya (DpLC art. Namun pastor paroki akan dibantu oleh para katekis-katekis dalam memberikan pengajaran iman dan mempersipkan katekumen dalam sebuah proses sakramen-sakramen. Gereja Katolik menempatkan pembinaan iman sebagai bagian esensial dari perutusannya, sehingga katekis memiliki tanggung jawab strategis sebagai pendidik dan pendamping umat dalam memahami serta menghidupi ajaran Kristus secara nyata di tengah dinamika perubahan zaman (Wijoyoko et al. , 2. Pemahaman ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan katekis sangat menentukan pertumbuhan iman umat, terutama dalam menghadapi tantangan budaya modern dan perkembangan teknologi, sehinga peran katekis menjadi faktor penting dalam mendorong keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja. Tahun Yubileum atau Tahun Rahmat Tuhan merupakan periode istimewa yang menekankan pembebasan, pengampunan dan pemharuan hidup rohani umat beriman. Dalam Lukas 4:18-20 dikatakan bahwa Yesus menegaskan perutusan-Nya untuk mewartakan Tahun Rahmat sebagai penggenapan nubuat Nabi Yesaya yang membawa pembebasan bagi manusia dari belenggu dosa. Bulla Spes Non Confundit Sebagai Landasan Teologis dan Spiritual dalam Pelayanan Katekis Paus Fransiskus melalui Bulla Spes Non Confundit (SNC) menegaskan bahwa harapan sebagai Kristen bersumber dari kasih Allah yang tidak mengecewakan dan menjadi pusat pewartaan Gereja. Harapan dipahami sebagai kekuatan rohani yang mendorong umat beriman Halaman | 52 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. untuk bertahan, bertumbuh, dan terlibat aktif dalam misi evangelisasi (SNC art. Tema AuPeziarah PengharapanAy menempatkan umat beriman sebagai komunitas yang berjalan bersama dalam iman, menghadapi tantangan zaman dengan berpegang pada Kristus. Surat apostolik Misericordia et Misera (MeM) menegaskan bahwa belas kasih merupakan inti dari pewartaan injil dan wajah sejati Allah yang diwahyukan dalam Yesus Kristus. Pengampunan menjadi tanda paling nyata dari kasih Bapa dan menjadi jalan pemulihan relasi manusia dengan Allah (MeM art. Dalam Gereja Katolik. Tahun Yubileum tidak hanya bersifat personal, tetapi juga berdimensi komunal dan sosial, yang mengarahkan umat kepada transformasi hidup yang nyata. Dalam momentum Yubileum ini, umat beriman diajak untuk semakin memiliki transformasi hidup yang baru, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup menggereja. Sesuai dengan tema Yubileum 2025 yaitu AuPeziarah PengharapanAy, umat beriman diajak untuk menjadi tanda harapan bagi yang menderita melalui karya-karya amal dan pelayanan sosial (SNC art. Paus Fransiskus menekankan bahwa Yubileum harus memotivasi umat beriman untuk dapat terlibat dalam pelayanan, kepercayaan baik dalam gereja, masyarakat maupun dalam tugas meningkatkan martabat semua orang (SNC art. Partisipasi umat awam dalam misi keselamatan gereja menjadi ekspresi imamat bersama, sehingga Yubileum menjadi momentum untuk memperkuat peran umat dalam pelayanan hidup menggereja dengan semangat bersama dalam berziarah dan berpegang pada Kristus (LG art. Partisipasi aktif umat beriman dalam kehidupan menggereja menjadi konsekuensi dari sakramen baptis. Dokumen Christifideles Laici (CL) menegaskan bahwa kaum awam mengambil bagian dalam imamat Kristus sebagai imam, nabi dan raja, serta dipanggil untuk terlibat secara sadar, aktif dan penuh dalam liturgi Gereja (CL art. Partisipasi ini ditegaskan pula dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) sebagai keterlibatan yang bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan perwujudan iman yang hidup (PUMR. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan bahwa Auiman adalah satu anugerah AllahAy (KGK. Iman merupakan tanggapan terhadap wahyu Allah yang memberikan diri kepada Iman harus diakui, dirayakan dan dihayati dalam kehidupan umat beriman. Dengan kata lain bahwa iman yang dirayakan berarti bersama-sama berhenti sebentar untuk mengenangkan karya penebusan Kristus dalam Ekaristi dan sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik (Kis. Kemudian iman juga harus dihidupi dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain bahwa umat awam diajak untuk membawa Injil kedalam realitas dunia, baik dalam tugas hidup berkeluarga, sosial maupun dalam pelayanan hidup menggereja. Liturgi dalam Gereja Katolik adalah inti dari peribadatan dan mencakup berbagai aspek yang sangat kaya dan mendalam. Liturgi juga adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus bersama Gereja-Nya dalam ikatan Roh Kudus. Dalam liturgi gereja, umat beriman awam memperoleh tempat dan perannya dalam keikutsertaan dalam pelayanan tugas Kristus. Tugas pelayanan awam dalam liturgi terlihat dari tugas yang sedang dilakukan ketika dalam perayaan ekaristi dan perayaan sakramen lainnya, seperti prodiakon, misdinar, koor, lektor, organis dan masih banyak lagi. Keterlibatan umat beriman menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan sebagai anggota Tubuh Kristus yang satu. Dengan terlibat secara sadar, aktif dan penuh dalam tugas dan pelayanan liturgi, umat beriman berarti turut serta dalam pengenangan dan penghadiran kembali karya keselamatan Kristus kepada manusia dalam perayaan ekaristi. Sehingga menjadi Halaman | 53 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. pengikut kristus bukan hanya sebagai label semata, namun terlibat dan berbagi berkat dalam misi dan tugas dalam pelayanan hidup bersama dalam komunitas iman (Tarihoran, 2. Peran katekis adalah sebagai agen pastoral yang membantu pastor dalam sebuah paroki atau wilayah untuk mendampingi umat dalam pertumbuhan iman dan partisipasi dalam pelayanan hidup menggereja melalui katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup. Berdasarkan Direttorio per La Catechesi (DpLC), katekis berperan sebagai pendidik iman yang menghubungkan ajaran Gereja dengan pengalaman hidup umat. Dengan menempatkan katekis sebagai agen pastoral sekaligus teladan hidup beriman di paroki, dapat dipahami bahwa tingkat pemahaman dan penghayatan katekis terhadap makna Tahun Yubileum 2025 berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan serta pembaharuan iman umat. Pengaruh ini tampak dalam kemampuan katekis mendorong umat untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan menggereja, khususnya dalam pelayanan di bidang liturgia atau peribadatan. Oleh karena itu, dalam penelitian yang berjudul AuMakna Tahun Yubileum 2025 Sebagai Landasan Katekis Dalam Mendorong Partisipasi Umat Dalam Pelayanan Hidup Menggereja Di Paroki Santo Paulus Sendangguwo SemarangAy, peran katekis baik melalui katekese, sosialisasi, maupun kesaksian hidup yang dilakukan katekis selama Tahun Yubileum 2025, memiliki peranan penting terhadap keterlibatan umat dalam pelayanan hidup menggereja khususnya dalam bidang METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang secara khusus meneliti fenomena penelitian melalui prosess pengumpulan, pengolahan dan analisis data secara mendalam di Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang. Penelitian kualitatif deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memahami fenomena sosial, budaya atau perilaku secara mendalam dalam konteks alaminya tanpa memanipulasi variabel (Mouwn Erland, 2. Dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian informan, yaitu informan utama dan informan pendukung sebagai validitas data hasil wawancara yang dilakukan kepada katekis. Sehingga informan utama dalam penelitian ini adalah pastor paroki, ketua bidang pewartaan yang juga sebagai katekis dan 5 katekis yang aktif dalam memberikan katekese, sosialisasi dan keteladanan selama Tahun Yubileum 2025 kepada umat di wilayah, lingkungan maupun dalam lingkup Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang. Kemudian informan pendukung terdiri dari 2 ketua lingkungan, 2 orang muda katolik, 2 keluarga senior dan 2 keluarga yunior. Indikator penelitian diarahkan pada pemaknaan Tahun Yubileum 2025 oleh katekis sebagai landasan pelayanan mereka dalam menggerakkan partisipasi umat dalam kehidupan Fokus juga diberikan pada cara katekis mendampingi umat agar mampu memahami dan menghayati Tahun Yubileum 2025 dengan iman yang teguh, baik melalui kegiatan katekese, sosialisasi maupun kesaksian hidup yang dilaksanakan. Selain itu, penelitian ini menilai sejauh mana keberhasilan katekis dalam mendorong keterlibatan aktif umat dalam pelayanan hidup menggereja selama Tahun Yubileum 2025. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan menggunakan teknik triangulasi, yaitu melalui studi dokumen, observasi dan wawancara mendalam (Sugiono, 2. Pengambilan data dilaksanakan dengan melakukan wawancara mendalam dengan pastor paroki, ketua bidang Halaman | 54 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. pewartaan yang juga sebagai katekis dan 5 katekis yang aktif memberikan katekese dan sosialisasi selama Tahun Yubileum kepada umat. Kemudian dilakukan juga penyebaran kuisioner kepada informan pendukung yang terdiri dari 2 ketua lingkungan, 2 orang muda katolik, 2 keluarga senior dan 2 keluarga yunior. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman katekis tentang makna Tahun Yubileum 2025 Hasil penelitian menunjukan bahwa katekis di Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang memaknai Tahun Yubileum 2025 sebagai: Tahun Rahmat yang datang dari Allah bagi umat beriman, tahun pembaruan iman, tahun pertobatan, tahun pengampunan, tahun indulgensi dan tahun yang memperbarui serta memperkuat pengharapan manusia yang mudah sekali hilang harapan akan kasih Allah. Sehingga momentum rahmat Yubileum bukan sekadar perayaan liturgis seremonial, tetapi sebagai kesempatan pastoral untuk mengajak umat merefleksikan kembali panggilan sakramen pembaptisan dan memperbarui relasi manusia dengan Allah. Pemaknaan ini selaras dengan Bulla Spes Non Confundit (SNC) yang mengatakan Yubileum sebagai Tahun Rahmat Tuhan yang menekankan pertobatan, pengampunan dan pembaruan hidup rohani (SNC:. Pemahaman tersebut menjadi landasan bagi katekis dalam menyusun materi katekese dan pendekatan pastoral yang menekankan kesadaran iman serta tanggung jawab umat dalam kehidupan menggereja. Katekis menyadari bahwa rahmat Yubileum perlu diaktualisasikan dalam tindakan nyata umat, khususnya melalui keterlibatan dalam pelayanan hidup Dengan demikian, makna Yubileum diposisikan sebagai dasar teologis dan spiritualitas pastoral katekis dalam upaya membangkitkan partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja, terutama dalam bidang liturgia. Sehingga melalui pemaknaan teologis dan spiritualitas Yubileum 2025 oleh katekis yang beragam ini, katekis memiliki tekad untuk kembali menyadarkan umat akan rahmat Allah, rekonsiliasi, pertobatan, pengampunan dan pengharapan yang sudah Allah berikan kepada Pemahaman dan pemaknaan yang mendalam ini menjadi wujud baik untuk menjadikan Yubileum sebagai landasan katekis dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja. Hal ini sejalan dengan kutipan Surat Gembala Uskup Agung Semarang dalam mengakhiri tahun 2024 dan mengawali tahun 2025 bahwa Bapa Uskup mengutip kesan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia dengan menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada katekis yang menjadi penjamin keberlangsungan hidup Gereja melalui pewartaan mereka. Cara katekis dalam mendampingi umat selama Tahun Yubileum 2025 Penelitian ini menemukan bahwa katekis berperan aktif sebagai agen pastoral dalam menyampaikan makna dan tujuan Tahun Yubileum melalui katekese sosialisasi dan kesaksian hidup di wilayah, lingkungan, kelompok kategorial maupun persekutuan doa yang berada di Katekese yang diberikan tidak hanya berfokus pada pemaparan konsep Tahun Rahmat Tuhan, tetapi juga diarahkan untuk mengajak umat merefleksikan pengalaman iman mereka dan menghubungkannya dengan realitas hidup sehari-hari. Sosialisasi berperan penting untuk menyampaikan informasi panduan praktis Yubileum 2025 kepada umat sesuai dengan Halaman | 55 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. pedoman Keuskupan Agunng Semarang dan kesaksian hidup katekis menjadi contoh serta teladan bagi umat dalam menanggapi dan menjalani Tahun Yubileum 2025. Ketiga cara ini menjadi sarana konkret yang digunakan katekis dalam menumbuhkan pemahaman iman, kesadaran rohani serta mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja. Melalui pendekatan yang komunikatif dan kontekstual, katekis berupaya menjelaskan tema AuPeziarah PengharapanAy sebagai ajakan untuk berjalan bersama dalam iman, saling mendukung dan berani mengambil bagian dalam pelayanan hidup menggereja sebagai aktualisasi iman yang dihidupi. Pendampingan yang dilakukan katekis membantu umat memahami bahwa partisipasi umat dalam hidup menggereja terutama dalam bidang liturgi bukan sekadar tugas teknis, melainkan wujud konkret dari iman yang hidup. Selain melalui pengajaran formal, hasil penelitian menunjukan bahwa kesaksian hidup katekis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan keterlibatan umat. Keteladanan katekis dalam kesetiaan mengikuti perayaan liturgi, keterlibatan aktif dalam pelayanan, serta sikap rendah hati dan melayani menjadi bentuk katekese nyata yang mudah ditangkap dan dilihat oleh umat secara langsung. Sehingga keteladanan baik katekis dalam pelayanan hidup menggereja menjadi role model bagi umat yang melihat dan menjadi daya tarik bagi umat untuk ikut juga terlibat dalam pelayanan hidup menggereja sebagai tanggapan manusia akan kasih Allah. Kesaksian hidup ini membantu umat mengatasi rasa tidak layak, ketakutan dan keraguan untuk terlibat dalam pelayanan hidup menggereja terutama dalam tugas liturgia. Umat cenderung lebih terdorong untuk berpartisipasi ketika melihat contoh konkret dari katekis yang menghayati iman dalam tindakan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa katekis berfungsi tidak hanya sebagai penyampai ajaran iman, tetapi juga sebagai role model pastoral yang mampu menginspirasi transformasi sikap dan keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja. Sehingga melalui cara inilah katekis memberikan pelayanan mereka dalam membantu umat memahami makna dan tujuan Tahun Yubileum 2025 serta mendorong umat untuk terlibat aktif dalam pelayanan hidup menggereja khususnya dalam bidang liturgi. Bahkan dokumen Direttorio per La Catechesi (DpLC) mengatakan bahwa katekis dalam memberi kesaksian injil harus disesuaikan dengan realitas hidup Kristiani. Katekese menjadi sarana tepat dalam tugas awam mewartakan Kristus dan dengan kesaksian hidup yang baik (DpLC art. Keberhasilan katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup katekis selama Tahun Yubileum Berdasarkan hasil wawancara dan penyebaran kuisioner kepada informan utama . dan informan pendukung, penelitian ini menunjukan bahwa tingkat keberhasilan pendampingan katekis selama Tahun Yubileum 2025 tidak bersifat seragam. Keberhasilan pelayanan katekis dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja diwujudkan melalui tiga unsur utama, yakni katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup. Namun, tidak semua katekis mampu mengintegrasikan ketiga unsur tersebut secara utuh dan Temuan penelitian menunjukan adanya dua ketegori keberhasilan pendampingan katekis, yaitu keberhasilan total dan keberhasilan parsial. Keberhasilan total ditunjukkan oleh katekis yang mampu menghadirkan katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup secara seimbang. Dalam penelitian ini, hanya dua katekis yang menunjukan keberhasilan secara total. Ketiga unsur Halaman | 56 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. pendampingan tersebut dilaksanakan secara konsisten dan saling melengkapi, sehingga membantu umat untuk memahami makna dan tujuan Tahun Yubileum 2025 serta mendorong keterlibatan aktif umat dalam kehidupan menggereja. Antusiasme umat terhadap kegiatan Yubileum menjadi indikator bahwa pendekatan katekis yang integratif memiliki dampak pastoral yang nyata. Hal ini sejalan dengan dokumen Direttorio per La Catechesi (DpLC) yang menegaskan bahwa katekese yang dibarengi dengan kesaksian hidup merupakan syarat penting agar pewartaan iman dapat dipercaya dan diterima oleh umat (DpLC art. Sementara itu, empat katekis dalam penelitian ini menunjukkan keberhasilan secara Terdapat tiga katekis yang menonjol dalam aspek katekese dan sosialisasi yang berdampak pada pendalaman iman umat serta peningkatan partisipasi dalam pelayanan hidup Namun, belum secara eksplisit menghadirkan kesaksian hidup sebagai bagian integral dari pewartaan iman. Sebaliknya, terdapat satu katekis yang lebih menampilkan kesaksian hidup melalui keteladanannya dalam pelayanan hidup menggereja, terutama melalui teladan dalam keluarga dan lingkungan tanpa pemaparan mengenai katekese dan sosialisasi yang terstruktur. Temuan ini menunjukan bahwa pelayanan katekis masih cenderung berjalan terpisah-pisah dan belum sepenuhnya teruntegrasi dalam satu kesatuan pastoral yang utuh. Perspektif informan pendukung memperkaya pemahaman atas efektivitas pendampingan Secara umum, umat merasakan bahwa katekese dan sosialisasi yang diberikan selama Tahun Yubileum 2025 berhasil membangun pemahaman iman mereka mengenai Yubileum sebagai tahun rahmat, pertobatan, pengampunan dan pengharapan. Bagi umat, khususnya Orang Muda Katolik (OMK), pendekatan katekese yang komunikatif, relevan dan disertai kegiatan liturgis seperti Ekaristi Yubileum 2025Kawula Muda, terbukti mampu membangkitkan semangat keterlibatan dalam kehidupan menggereja. Namun demikian, unsur kesaksian hidup katekis belum dirasakan secara merata oleh suluruh umat. Terdapat dua informan pendukung menilai keteladanan katekis cukup memberi dorongan dan contoh bagi umat beriman lainnya, tetapi belum menjadi pengalaman iman yang kuat dan konsisten. Bahwa terdapat tiga informan pendukung yang menyatakan bahwa pemahaman mereka tentang Tahun Yubileum lebih banyak diperoleh melalui kegiatan paroki secara umum, tanpa keterlibatan personal katekis secara langsung. Hal ini mengindikasikan adanya keterbatasan kehadiran dan pendampingan katekis di wilayah-wilayah, lingkungan, kelompok kategorial dan paguyupan-paguyuban umat yang ada dalam paroki. Kurangnya katekis di paroki juga menjadi faktor lain yang menjadikan kehadiran katekis sangat dibutuhkan bagi umat beriman. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukan bahwa Tahun Yubileum 2025 menjadi momentum penting bagi pembaruan pelayanan hidup menggereja di Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang. Ketika katekis mampu menghayati makna Yubileum secara mendalam dan menerjemahkannya dalam katekese, sosialisasi, serta kesaksian hidup, umat mulai menunjukan perubahan sikap menuju keterlibatan yang lebih aktif dan menyadari bahwa pelayanan dalam hidup menggereja memiliki makna tersediri. Sehingga dalam berpelayanan umat bukan hanya sekadar terlibat tanpa pemaknaan yang baik dalam pelayanan, tetapi terlibat dengan kesungguhan iman dan keterbukaan hati untuk melayani Tuhan dan sesama. Sehingga melalui pemaknaan teologis dan spiritualitas Yubileum 2025 oleh katekis yang beragam ini, katekis memiliki tekad untuk kembali menyadarkan umat akan rahmat Allah, rekonsiliasi, pertobatan, pengampunan dan pengharapan yang sudah Allah berikan kepada Halaman | 57 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Pemahaman dan pemaknaan yang mendalam ini menjadi wujud baik untuk menjadikan Yubileum sebagai dasar katekis dalam mendorong partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja. Hal ini sejalan dengan kutipan Surat Gembala Uskup Agung Semarang dalam mengakhiri tahun 2024 dan mengawali tahun 2025 bahwa Bapa Uskup mengutip kesan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia dengan menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada katekis yang menjadi penjamin keberlangsungan hidup Gereja melalui pewartaan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman katekis mengenai Tahun Yubileum 2025 tidak hanya dipandang sebagai perayaan liturgis semata, tetapi sebagai momentum teologis yang menghadirkan rahmat Allah yang membebaskan dan memperbarui kehidupan Oleh karena itu, pemaknaan Yubileum oleh para katekis menjadi landasan spiritual yang penting dalam pelayanan pastoral, karena melalui pemahaman tersebut katekis mampu mengkomunikasikan makna rahmat Allah kepada umat secara kontekstual. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja masih menghadapi berbagai hambatan pastoral. Situasi ini mengindikasikan bahwa masih terdapat kesenjangan antara ajaran teologis Gereja mengenai partisipasi umat sebagai anggota Tubuh Kristus dengan realitas kehidupan pastoral di tingkat parokial. Sehingga dalam konteks ini, peran katekis menjadi sangat penting sebagai jembatan antara ajaran Gereja dan pengalaman iman umat beriman. Dalam konteks pastoral Gereja masa kini. Tahun Yubileum 2025 memiliki relevansi yang sangat penting sebagai momentum pembaruan iman dan revitalisasi partisipasi umat dalam kehidupan menggereja. Tema AuPeziarah PengharapanAy mengajak umat beriman untuk tidak hanya merayakan iman secara personal, tetapi juga menghidupinya melalui keterlibatan aktif dalam pelayanan dan persekutuan Gereja. Yubileum juga mengingatkan juga kepada manusia untuk tetap berpegang pada Kristus dan terus mengandalkan kuasa-Nya, bukan karena kehendak manusia sendiri tetapi karena berkat kasih Allah kepada manusia. KESIMPULAN Katekis di Paroki Santo Paulus Sendangguwo Semarang memaknai Tahun Yubileum 2025 sebagai momentum rahmat Allah yang mencakup pembaruan iman, pertobatan, pengampunan, indulgensi dan penguatan pengharapan, sesuai dengan tema AuPeziarah PengharapanAy dalam Bulla Spes Non Confundit. Yubileum bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan kesempatan pastoral untuk merefleksikan panggilan pembaptisan dan membangkitkan partisipasi umat dalam pelayanan hidup menggereja. Para katekis melihat Yubileum sebagai kesempatan pastoral yang tepat untuk mengajak umat melakukan refleksi hidup, pertobatan sejati dan pembaruan iman untuk dapat kembali memiliki partisipasi dalam pelayanan hidup menggereja. Sakramen rekonsiliasi dan pemahaman yang benar tentang indulgensi menjadi sarana penting untuk membantu umat bersamai dengan Allah, diri sendiri dan sesama. Selain itu, tema AuPengharapan Tidak MengecewakanAy menjadi sarana untuk membangkitkan kembali harapan umat yang melemah akibat tantangan hidup dan ketidakpastian zaman. Katekis memanfaatkan Yubileum melalui ketekese sebagai sarana utama pemahaman makna roihani, sosialisasi sebagai panduan praktis serta kesaksian hidup Halaman | 58 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. autentik yang manjadi teladan nyata. Pendekatan ini berhasil membangun kesadaran iman umat beriman, khususnya di kalangan generasi muda. Paroki diharapkan dapat semakin memperkuat peran dan koordinasi katekis dalam setiap momentum iman Gereja, tidak hanya pada Tahun Yubileum, tetapi juga dalam kehidupan menggereja sehari-hari. Bidang pewartaan diharapkan dapat menyusun program pendampingan yang lebih sistematis dan berkelanjutan, khususnya dalam memberikan pembekalan teologis dan pastoral bagi para katekis. Katekis diharapkan terus mengembangkan pelayanan pendampingan yang utuh dan seimbang dengan mengintregasikan katekese, sosialisasi dan kesaksian hidup secara konsisten. Katekis diajak untuk menghidupi dan menampakkan kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kehadiran mereka sungguh menjadi teladan yang menggerakkan umat untuk terlibat aktif dalam pelayanan hidup DAFTAR PUSTAKA