Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni. Media dan Desain Volume 2 Nomor 4. Juli 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 DOI: https://doi. org/10. 62383/abstrak. Available Online at: https://journal. id/index. php/Abstrak Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Charmalita Citra Maharani 1. Putra Agung Mulyana2 Prodi Ilmu Komunikasi. Fakultas Komunikasi dan Bahasa. Universitas Bina Sarana Informatika e-mail: 1charmalitacitra2003@gmail. com, 2agung. a@bsi. Alamat:Jl. Raya Kaliabang No. Perwira. Kec. Bekasi Utara. Kota Bks. Jawa Barat 17122 Korespondensi penulis: charmalitacitra2003@gmail. Abstract. family conflict is portrayed in the film Uang Panai Maha(R)l 2 using Roland Barthes' semiotic The film reflects the social reality of the Bugis-Makassar community, which highly upholds cultural values, particularly regarding arranged marriage, family honor, and the significant role of parents in their children's lives. The main objective of this research is to understand how family conflict is represented through visible and spoken symbols within the filmAos narrative. This research employs a descriptive qualitative method by analyzing semiotic elements in several scenes that depict conflict, such as forced marriage, intergenerational differences, and the pressure of tradition against personal desires. The analysis is conducted through the three levels of meaning proposed by Barthes: denotation, connotation, and myth. The results show that Uang Panai Maha(R)l 2 illustrates the tension between traditional values and modern realities, which still occur within family life in Indonesia Keywords: representation, family conflict. Uang Panai Mahal 2 film. Roland Barthes' semiotics Abstrak. konflik keluarga digambarkan dalam film "Uang Panai Maha(R)l 2" dengan memakai kerangka berpikir semiotika dari Roland Barthes. Film tersebut mencerminkan kenyataan sosial masyarakat Bugis- Makassar yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, khususnya terkait perjodohan, nama baik keluarga, serta peran orang tua yang besar dalam kehidupan anak-anaknya. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana konflik dalam keluarga ditunjukkan melalui simbol-simbol yang terlihat dan terucap dalam alur cerita film. penelitian ini memakai metode kualitatif deskriptif dengan cara menganalisis semiotika pada beberapa adegan yang menggambarkan konflik, seperti perjodohan paksa, perbedaan pandangan antar generasi, serta desakan tradisi terhadap keinginan pribadi. Analisis dilakukan dengan tiga tingkatan makna dari Roland Barthes, yaitu makna denotasi, makna konotasi, dan mitos yang terkandung. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa film "Uang Panai Maha(R)l 2" menampilkan pergesekan antara nilai-nilai lama dan kondisi zaman sekarang yang masih terjadi dalam kehidupan keluarga di Indonesia Kata kunci: Representasi. Konflik Keluarga, film Uang Panai Mahal(R)l 2, semiotika Roland Barthes LATAR BELAKANG Film merupakan sarana penyampaian pesan melalui audio dan visual, yang ditujukan kepada khalayak yang ramai di sebuah tempat. Tak hanya itu, film juga dipandang sebagai media komunikasi massa yang amat ampuh dalam menjangkau audiens. Berkat karakteristik audio visualnya yang memungkinkan penyampaian cerita dengan ringkas namun mendalam. Saat menonton film, penonton seolah olah dapat melintasi waktu dan ruang, menyelami kehidupan yang diceritakan, bahkan hingga mempengaruhi pandangan dan sikap Masyarakat (Asri, 2. Film sering kali berfungsi sebagai medium untuk menggali tema-tema sosial dan budaya yang rumit. Salah satu contoh yang menarik untuk di analisis adalah film "Uang Panai Maha. l 2", yang mengeksplorasi isu konflik keluarga dalam konteks budaya lokal Received: Mei 31, 2025 Revised: Juni 17, 2025 Accepted: Juli 28, 2025 Published: Juli 30, 2025 Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Budaya masyarakat Indonesia masih sangat menghargai nilai-nilai keluarga dan kolektivisme, di mana partisipasi orang tua dalam kehidupan anak dianggap sebagai ungkapan kasih dan tanggung jawab moral. Dalam banyak situasi, terutama di daerah dengan tradisi yang kuat seperti Sulawesi Selatan (Bugis-Makassa. , orang tua tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan penting anak, termasuk mengenai pernikahan. (Nurul Fadilah, 2. Uang panai memiliki arti simbolis, yaitu menampilkan kesiapan finansial pria dan kesungguhannya untuk membangun sebuah keluarga. Namun, dalam kenyataannya, uang panai sering kali memiliki nilai yang sangat tinggi dan sering kali menjadi halangan dalam proses Besaran uang panai dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah tergantung pada status sosial wanita, tingkat pendidikan, dan latar belakang keluarga. (Fitriyani, 2. Uang panai yang besar sering menimbulkan berbagai masalah, dari penundaan pernikahan hingga perselisihan antar keluarga. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Saharuddin . dari Universitas Hasanuddin, dinyatakan bahwa 68% dari 120 pasangan di Makassar yang menunda pernikahan mengatakan bahwa alasan utamanya adalah ketidakmampuan untuk memenuhi permintaan uang panai dari keluarga wanita. (Saharuddin. Jumlah uang panai yang tinggi juga sering memaksa keluarga pria untuk berutang atau menjual aset demi memenuhi kebutuhan dari keluarga wanita. Ini berpengaruh pada stabilitas finansial pasangan setelah menikah, yang pada gilirannya dapat memicu konflik dalam rumah tangga yang baru saja dibangun. (Sanjaya, 2. Konflik keluarga dalam film uang panai maha. l 2 merupakan konflik keluarga yang terjadi karena adanya tradisi budaya bugismakassar terkait uang panai yang menjadi konflik utama munculnya konflik antar keluarga. Film uang panai maha. l 2 adalah kelanjutan dari AuUang Panai 1Ay . yang mengangkat isu adat mahar atau uang panai, dalam budaya Bugis-Makasaar. Tradisi ini sering kali menimbulkan ketegangan, baik antara pasangan maupun antara keluarga dari pihak perempuan dan laki-laki Film uang panai maha. l 2 merupakan sebuah karya yang secara kuat menggambarkan isu isu tersebut. Mengambil latar budaya Bugis-Makassar, tradisi uang panai menjadi pemicu utama konflik antara pasangan dan keluarga mereka. Tradisi ini mengharuskan pria untuk memberikan mahar yang tinggi kepada keluarga Perempuan, yang pada akhirnya memunculkan konflik pertentangan antara nilai nilai tradisional dan modern. (Rimayanti. ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 Film "Uang Panai maha. l 2" mengisahkan petualangan Tumming dan Abu yang berusaha mengulangi kesuksesan mereka dalam membantu Anca (Ikram Noe. mencari uang panai agar bisa melamar Risna (Nur Fadilla. Kali ini. Tumming dan Abu telah melangkah lebih jauh dengan mendirikan perusahaan konsultasi uang panai yang mereka sebut PattumbuAo (Perusahaan Ancha Tumming dan Ab. Salah satu klien mereka adalah Iccang, yang sedang bingung mencari cara untuk mengumpulkan uang panai sebesar Rp 200 juta. Dari situ, lahirlah berbagai situasi konyol dan keluguan kedua konsultan ini yang membangun konflik yang mampu mengundang tawa Berdasarkan laporan di akun Instagram @sosmedmakassar. Uang PanaiAo 2 berhasil meraup 295 ribu penonton. Film "Uang Panai Maha. l 2" merupakan sekuel yang melanjutkan kisah dari film pertama, yang telah sukses menarik perhatian penonton di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menyentuh isu-isu sosial yang relevan, terutama yang berkaitan dengan tradisi mahar dalam pernikahan. Melalui karakter dan alur cerita yang menarik, film ini memberikan wawasan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Bugis, yang memiliki tradisi mahar yang kuat dan berakar dalam. KAJIAN TEORITIS Dalam kajian mengenai AuRepresentasi Komunikasi Konflik Keluarga dalam Film AuGara- Gara WarisanAy Karya Hilabbi. Yanti, dan Nayiroh . Menggunakan semiotika Roland Barthes, hasil penelitiannya berhasil menguak interpretasi di balik simbolisme yang terpampang dalam film itu, terutama yang berkaitan dengan pergolakan keluarga. Sorotan utama tertuju pada dinamika antara ayah, ibu tiri, dan relasi antar saudara. (Ikhsan Hilabbi. Melihat penelitian yang ada, sangat penting untuk melakukan analisis serupa terhadap film Auuang panai maha. l 2Ay dengan pendekatan semiotika roland barthes. Penelitian ini bertujuan unutk mengeksplorasi bagaimana representasi konflik keluarga dalam film tersebut dapat memberikan wawasan mengenai dinamika sosial, nilai nilai budaya, serta dampaknya terhadap pemahaman penonton. Komunikasi Massa Komunikasi massa adalah cara untuk menyampaikan informasi atau pesan kepada audiens yang besar melalui berbagai saluran atau media. Ini adalah bentuk komunikasi yang berlangsung melalui media massa dengan berbagai maksud dan bertujuan untuk memberi tahu masyarakat secara luas. (Hasan, 2. Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Joseph R. Dominick menerangkan bahwa fungsi utama komunikasi massa meliputi . fungsi pengawasan, di mana media massa kerap berperan sebagai sarana pemberi peringatan dini akan potensi datangnya sebuah musibah. fungsi interpretasi, media massa memiliki standar siaran, kebijakan atau liputan, dan basic ideologi. fungsi mediasi atau hubungan, media massa merupakan institusi yang menjambatani komunikasi antar berbagai kelompok dalam masyarakat. Media massa berperan dalam menyebarkan nilai-nilai, menampilkan contoh bagaimana suatu acara bisa menjadi acuan yang diikuti oleh publik. Selain itu, fungsi hiburan menjadi yang utama bagi media massa, terutama radio dan televisi. Program hiburan menjadi tumpuan untuk menarik perhatian pengiklan. (Sari, 2. Film Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), film diartikan sebagai selaput tipis yang terbuat dari seluloid, berfungsi sebagai media untuk menyimpan gambar negatif . ang akan diolah menjadi potre. maupun gambar positif . ang akan diputar di biosko. Kehadiran film tidak terlepas dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, yang memungkinkan terciptanya karyya-karya dalam Bahasa visual dalam seni film Sedangkan Menurut Effendy . , film ialah bentuk media massa yang memiliki karakteristik audio visual, sehingga mampu menyampaikan pesan kepada public di lingkungan Dalam film, pesan-pesan ini dapat disampaikan dalam berbagai bentuk dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Secara umum, film dapat mengandung beragam pesan, mulai dari hiburan, informasi, hingga pesan-pesan lainnya (Sugianto, 2. Film Sebagai Media Komunikasi Massa Bukan hanya sekadar media komunikasi yang kuat, film sering dianggap mampu menyampaikan beragam informasi secara efisien berkat kombinasi audio dan visualnya. Saat menyaksikan film, penonton seringkali merasa seperti dibawa melintasi batasan ruang dan waktu, memungkinkan mereka untuk menghayati cerita kehidupan yang mungkin memengaruhi diri mereka. (Asri, 2. Film merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memiliki peran penting dalam dunia komunikasi massa. Sebagai media komunikasi yang kuat, film tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan. Secara umum, film merupakan media massa yang memiliki beragam tanda yang saling berinteraksi satu sama lain untuk menciptakan efek yang diinginkan. (Asri, 2. Representasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), representasi dairtikan sebagai tindakan mewakili, keadaan yang diwakili, ataupun objek yang diwakili. Dengan kata lain, representasi ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 adalah proses pertukaran pesan melalui berbagai media yang menghasilkan makna yang mencerminkan sesuatu, baik itu orang, peristiwa, maupun objek lain yang berada di luar diri Menurut Hall, representasi adalah kemampuan untuk menggambarkan atau membayang Hal ini menjadi sangat penting karena budaya selalu terbentuk melalui makna dan Dalam konteks ini. Bahasa merupakan salah satu bentuk simbol atau representasi. Hall menekankan bahwa representasi adalah proses penciptaan makna yang dilakukan melalui penggunaan Bahasa. Ia menjelaskan. AuMelalui car akita menggunakan benda-benda, serta apa yang kita katakana, pikirkan, dan rasakan tentangnya bagaimana kita mempresentasikannya kita memberikan makna pada hal tersebutAy (Ayuanda, 2. Semiotika Roland Barthes Roland Barthes merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan semiotika modern. Ia berhasil memperluas pemikiran Ferdinand de Saussure tentang tanda dengan menambahkan dimensi kultural dan ideologis. Menurut Barthes, tanda bukan sekadar berperan menjadi sarana penyampaian pesan. komunikasi, melainkan juga sebagai instrumen kekuasaan yang menyampaikan ideologi melalui bahasa, gambar, dan simbol dalam kehidupan sehari-hari . (Santoso, 2. Peta Tanda Roland Barthes Berdasarkan peta tanda yang dianalisis, dapat dilihat bahwa tanda denotatif . terdiri dari penanda . dan petanda . Namun, pada saat yang bersamaan, tanda denotatif tersebut juga berfungsi sebagai penanda konotatif . Tanda denotatif mengekspresikan makna yang jelas dan langsung, sementara tanda konotatif menyimpan makna yang lebih terbuka dan implisit, yang memungkinkan terjadinya berbagai penafsiran lainnya. Dengan demikian, dalam pandangannya. Barthes menunjukkan bahwa tanda konotatif bukan hanya memiliki makna tambahan, tetapi juga menyertakan kedua elemen dari tanda denotatif yang mendasari Menurut Sobur. Barthes memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam mengembangkan teori semiologi Saussure, yang sebelumnya hanya berfokus pada penandaan di tatatran denotatif. Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Makna denotatif Makna denotatif adalah makna yang terkandung dalam setiap leksem atau kata. Ini berarti bahwa makna tersebut dapat ditemukan dalam kamus umum yang menyajikan daftar aturan dengan definisi denotatif. Penggunaan denotatif sering kali ditemukan dalam karya tulis yang bersifat ilmiah. Barthes mengemukakan bahwa denotasi merupakan makna yang paling nyata dalam sebuah tanda. Dengan kata lain, makna denotatif menggambarkan hubungan antara tanda dan objek yang diwakilinya. Makna Konotatif Arthur Asa Berger menjelaskan bahwa konotatif melibatkan simbol-simbol yang bersifat historis serta aspek-aspek emosional. Makna konotatif cenderung subjektif, artinya terdapat pergeseran dari makna umum . karena adanya tambahan nuansa dan nilai tertentu. Sementara makna denotatif umumnya dapat dipahami oleh banyak orang, makna konotatif hanya dapat dicerna oleh sekelompok orang yang lebih kecil. (Santoso & Andhika Syaputra. Makna mitos Mitos adalah sebuah sistem yang menyangkut pemaknaan pada tingkat kedua,di mana konotasi berkaitan erat dengan operasi ideologis yang diformulasikan sebagai mitos. Mitos ini berfungsi untuk membenarkan nilai-nilai dominan yang berlaku pada masa tertentu. Dalam konteks ini, mitos memiliki pola yang terdiri dari tiga dimensi, yaitu penanda, petanda, dan Namun, sebagai sistem yang unik, mitos dibentuk oleh rangkaian pemaknaan yang telah ada sebelumnya. (Santoso & Andhika Syaputra, 2. Konflik Keluarga Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI). Konflik merujuk pada adanya perpecahan, perselisihan, pertentangan, atau ketegangan. Dalam konteks cerita atau drama, konflik dapat diartikan sebagai pertentangan antara dua kekuatan, baik itu antara tokoh dengan dirinya sendiri, maupun antara dua tokoh yang saling berhadapan. Sementara itu, keluarga didefinisikan sebagai orang tua, yaitu ibu dan ayah, serta anak- anak merekaa, yang tinggal dalam satu rumah. Dengan demikian, konflik keluarga mengacu pada permasalahan yang muncul di antara anggota keluarga, seperti anraea suami dan istri, orang tua dengan anak, atau di antara saudara-saudara. (Rahman, 2. Konflik keluarga dalam Film Konflik di dalam keluarga adalah elemen yang tidak bisa dihindari dari interaksi personal yang berlangsung dengan intens dan terus-menerus. Dalam film Uang Panai Maha. l 2, tema ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 utama yang terlihat adalah konflik keluarga yang muncul akibat perbedaan nilai budaya, ekonomi, dan hubungan antar generasi. Dalam konteks budaya pernikahan Bugis-Makassar, konflik sangat relevan untuk memahami ketegangan yang muncul antara dua belah pihak atau dua keluarga yang memiliki pandangan, harapan, dan kemampuan ekonomi yang berbeda terutama terkait uang panai. Uang panai, yang merupakan simbol penghargaan untuk perempuan dan keluarganya, sering kali menimbulkan konflik ketika tuntutan dari pihak perempuan terlalu tinggi dibandingkan dengan kemampuan dari pihak laki-laki. (Sudrajat, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Paradigma Konstruktivis. Dengan pendekatan penelitian kualitatif dan metode Roland Brathes, paradigma konstruktivis merupakan perspektif paradigma ini menekankan bahwa jati diri suatu objek terbentuk melalui cara kita memperbincangkannya, bahasa yang kita pakai untuk menjabarkan alur kisah, serta bagaimana kelompok masyarakat beradaptasi dengan pengalaman yang mereka bagi bersama. (Zahara, 2. Penelitian ini meggunakan penelitian kualitatif dengan melalui pendekatan deskriptif. Tujuannya adalah untuk mengenali, mendalami, menjabarkan, serta mendapatkan pemahaman mendalam terkait suatu kejadian khusus yang dialami oleh subyek yang menjadi obyek Hal ini dilakukan untuk menguak berbagai persoalan yang mungkin muncul dari subyek penelitian tersebut. Penggunaan metode deskriptif kualitatif ini dianggap sesuai untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah, terutama untuk mengetahui bagaimana konflik keluarga terjadi pada film uang panai maha. l 2 Penelitian ini menggunakan metode penelitian semiotika roland barthes. Kerangka semiotika Barthes menyoroti proses produksi makna lewat tanda dan sistem tanda. Khususnya pada denotasi . rti sebenarny. dan konotasi . rti yang berkaitan dengan asosiasi atau buday. , serta mitos . rti tingkatan kedua yang tampak alami, padahal hasil konstruksi sosia. Dengan metode ini, kita akan menelaah berbagai lapisan makna yang membentuk representasi konflik keluarga dalam film tersebut Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Teknik obeservasi untuk mengamati film uang panai maha. l 2 yang melibatkan konflik dalam keluarga, studi pustka juga digunakan untuk menghimpun data sebagai acuan dalam analisis, dan dokumentasi juga di gunakan untuk memperlihatkan adegan adegan konflik keluarga yang menjadi pusat analisis. Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan konsep semiotoka roland barthes, yaitu menelaah setiap adegan yang berkaitan dengan rumusan masalah melalui identifikasi makna denotasi,konotasi, dan mitosnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Peneliian Dalam penelitian ini, peneliti akan menguraikan arti denotasi, konotasi, serta mitos berdasarkan semiotika Roland Barthes. Hasil penemuan yang ada dalam film uang panai maha. l 2 akan di analisis memakai pendekatan semiotika Roland Barthes. Pesan dari suatu film erat kaitannya dengan interpretasi denotasi, konotasi, dan mitos. Film Uang Panai Maha. l 2 terdiri dari total sekitar 68 adegan dan total yang di analisis ada 7 adegan Scene Satu Scene pertama dipilih yaitu scene ke 18 pada menit ke 22:17 sampai ke 23:20, pada scene ini konflik antara icha dan ibunya bermula karena iccang yang datang kerumah icha untuk bertemu ibu dan bapa icha yang berniat ingin melamar icha tetapi ibu icha meminta uamg panai yang sangat tinggi yaitu 200juta karena menganggap anaknya adalah seorang dokter Gambar. Denotasi: Pada adegan ini menunjukkan rasa marah anak kepada ibunya yang meminta uang panai yang tinggi yang dimana ibunya menganggap itu hal wajar karena anaknya adalah seorang dokter Konotasi: Kekecewaan anak terhadap ibunya yang dimana ibu icha sangat mengikuti tradisi suku bugis-makassar yang dimana uang panai sebagai hal yang wajar dan patut apa lagi anak nya adalah seorang dokter Mitos: Dalam tradisi perkawinan suku Bugis, profesi dokter yang diemban seorang wanita kerap kali dianggap sebagai lambang kemuliaan dan kebanggaan bagi keluarga. Akibatnya, orang tua, terutama ibu, merasa sah-sah saja menentukan jumlah uang panai yang besar untuk calon suami. Mitos ini berperan dengan mengubah arti sosial . ekerjaan ana. menjadi sesuatu yang dianggap wajar, seolah perempuan berpendidikan tinggi dan ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 terpandang "layak" dihargai dengan mahal. Padahal, makna tersebut sebenarnya adalah bentukan budaya yang penuh dengan nilai gengsi dan kepentingan kedudukan sosial Scene Kedua Scene kedua dipilih pada scene ke 34 yaitu pada menit ke 46:15 sampai ke 47:16, pada scene ini konflik antara icha dan ibunya muncul karena iccang calon icha yang datang kerumah icha memberitahu kepada ibu icha dan papa icha bahwa dia sudah mengumpulkan uang panai 200juta yang ibu icha minta, tetapi ibu icha mengatakan bahwa icha sudah di jodohkan Gambar. Denotasi: Pada adegan ini terlihat anak yang marah dan kecewa terhadap ibunya yang tiba tiba menjodohkan nya tanpa sepengetahuannya. Konotasi: Icha yang tidak tahu menahu soal rencana perjodohannya adalah sebuah gambaran. Ini melambangkan bagaimana perempuan seringkali dipandang seolah tak punya kuasa penuh terhadap jalan hidupnya, termasuk urusan pernikahan sekalipun Mitos: Dalam tradisi Bugis-Makassar, praktik perjodohan yang diatur ibunda tanpa melibatkan anak perempuan seringkali dianggap sebagai wujud cinta, proteksi, serta kewajiban orang tua. Akan tetapi, cerita ini menyembunyikan dinamika kekuasaan yang mengutamakan keinginan keluarga daripada hak individu. Mitos ini bekerja dengan menyamarkan dominasi sebagai ungkapan kasih, membuat tindakan yang membatasi kebebasan anak tampak seolah-olah sebagai norma budaya dan bentuk ketaatan. Scene Ketiga Scene ke 3 dipilih pada scene ke 37, yaitu pada menit ke 49:10 sampai ke 50:30 pada scene ini konflik antara iccang dan ibunya muncul karena tante icha yaitu tante sukma datang kerumah iccang dan mengatakan bahwa icha sudah dijodohkan dan meminta ibu icha menyuruh iccang untuk menjauhi icha Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Gambar. Denotasi: Om bahar dan ibu meminta iccang untuk ngobrol yang dimana menyuruh iccang menjauhi icha Konotasi: Perempuan yang sudah dijodohkan sebaiknya di jauhi, konotasi keduanya rasa patah hati yang di rasakan iccang dan tidak di anggap cukup baik Mitos: Desakan dari Om Bahar dan Ibu supaya Iccang tidak lagi dekat dengan Icha seringkali dianggap sebagai wujud bakti pada tradisi dan patuh pada kehendak orang tua. Namun, cerita ini menyembunyikan tatanan sosial yang lebih dalam, di mana keinginan pribadi dinomorduakan oleh hierarki yang ada. Di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, cinta yang keluar dari pakem adat dianggap sebagai pelanggaran harga diri, sehingga menjauh adalah jalan yang dipandang mulia. Mitos ini berperan dengan membungkus pengorbanan cinta sebagai suatu keharusan, padahal sebenarnya ini adalah kepatuhan terhadap aturan yang sudah dianggap sebagai sesuatu yang tak terbantahkan Scene Keempat Scene ke 4 dipilih Scene 38 yaitu pada menit ke 50:30 sampai ke 51:16. Pada scene ini akar masalah yang menyebabkan adanya konflik antara icha dan tantenya sukma karena tante icha datang kerumah iccang dan mengatakan bahwa icha sudah dijodohkan dan meminta ibu icha menyuruh iccang untuk menjauhi icha Gambar. Denotasi: Icha yang marah pada tantenya karena pergi kerumah iccang tanpa memberitahu Konotasi: Perasaan marah, kecewa, dan rasa tidak di percaya terhadap tantenya. menganggap tantenya terlalu ikut campur ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 Mitos: Kepergian tiba-tiba Tante Icha ke kediaman Iccang, tanpa sepengetahuan Icha, seringkali dianggap sebagai wujud perhatian keluarga. Padahal, jika dilihat lebih dalam, tindakan tersebut mencerminkan adanya kendali budaya terhadap kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya. Dalam budaya Bugis-Makassar, perempuan sering dipandang sebagai simbol kehormatan keluarga, menyebabkan hak-hak pribadinya kerap diabaikan oleh orang-orang terdekatnya. Amarah Icha adalah bentuk penolakan terhadap pandangan yang menyamarkan dominasi sebagai kasih sayang, serta menjadi kritik terhadap budaya yang memperlakukan perempuan sebagai objek yang diatur, bukan sebagai individu yang memiliki kemauan. Scene Kelima Scene ke 5 dipilih yaitu scene 42 yaitu pada menit ke 54:02 sampai ke 56:49, pada scene ini konflik antara icha dan ibunya muncul karena iccang yang diam diam datang malam malam kerumah icha dan menyium icha di depan rumah Gambar. Denotasi: Ibu icha memarahi icha karena bertemu dengan iccang diam diam pada malam hari di depan rumah Konotasi: Makan konotasi pertama rasa kecewa dan marah seorang ibu pada anak perempuannya karena bertemu diam diam dengan lelaki di malam hari Mitos: Amarah yang ditunjukkan oleh ibu Icha karena anaknya kedapatan berduaan dengan seorang pria di waktu malam sering kali dianggap sebagai wujud cinta serta perhatian dari seorang ibu. Akan tetapi, di balik cerita tentang kasih sayang itu, terdapat suatu sistem pengendalian budaya yang menjadikan tubuh serta moral seorang wanita sebagai lambang dari kehormatan suatu keluarga. Dalam tatanan budaya Bugis-Makassar, wanita ditempatkan sebagai simbol dari siriAo . arga dir. , sehingga kebebasannya dalam menentukan hubungan pribadi menjadi terbatas demi menjaga nama baik keluarga. Mitos tersebut bekerja dengan cara menyembunyikan pengawasan serta dominasi sebagai sebuah tindakan cinta, padahal sebenarnya hal itu mengekang kebebasan wanita dan memaksanya untuk patuh pada norma yang dianggap sebagai kebenaran yang mutlak. Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 Scene Keenam Scene 6 yang dipilih yaitu scene 44, yaitu pada menit ke 56:06 sampai ke 58:37, pada scene ini akar muncul nya konflik karena ibu icha dan tante icha yaitu tante sukma datang mendatangi rumah iccang bertemu dengan ibu iccang dan om iccang marah marah memberikan video bukti bahwa iccang mendatangi rumahnya bertemu icha malam malam dan mencium icha di depan pagar rumah mereka Gambar. Scene Ketujuh Scene 7 yang dipilih yaitu scene 52, yaitu pada menit ke 1:11:20 sampai ke 1:12:04. Pada scene ini konflik antara icha dan ibunya terjadi karena ibu icha meminta icha ikut bertemu dengan calon nya tetapi icha menolaknya. Gambar. Denotasi: pada adegan ini icha sudah terlalu capek hidupnya di atur akhirnya melawan ibunya, dan ibunya yang sangat kecewa dengan icha menampar icha Konotasi: Makan konotasi pertama AucapekAy yang berarti perasaan tertekan, kehilangan kebebasan, dan tidak memiliki kendali atas hidup sendiri. Makna konotasi kedua, tamparan, adalah bentuk kekecewan atas kalimat yang di ucapkan Mitos: Mitos ini seolah menganggap wajar bahwa wanita tak sepenuhnya berhak atas diri mereka, terutama soal asmara dan pernikahan. Tamparan membuktikan bahwa tindakan melawan, bukan sebagai hak yang wajar. dalam sudut pandang budaya, menentang pilihan keluarga walaupun masuk akal dianggap sebagai pelanggaran terhadap adat sopan santun, khususnya bagi kaum perempuan. ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 Pembahasan Dalam penelitian ini, peneliti berupaya untuk menemukan serta menganalisis arti denotasi, konotasi, dan mitos lewat analisis Semiotika Roland Barthes. Film "Uang Panai Maha. l 2" menjadi fokus utama penelitian. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan arti denotasi, konotasi, dan mitos yang menggambarkan konflik keluarga. Pada penelitian ini peneliti memakai teori solvable conflict dan perpetual conflict menurut Jhon M. Gottman. scene pertama. Perselisihan antara Icha dan ibunya terkait besaran uang panai yang diminta mencerminkan bentrokan antara tradisi dan pandangan pribadi. Ibu merasa wajar meminta uang panai tinggi karena putrinya seorang dokter, profesi yang sangat dihormati. Namun, sang putri merasa keberatan karena keputusan itu diambil tanpa persetujuannya, serta dampaknya pada emosi dan hubungannya. Konflik ini memberikan gambaran tentang bagaimana budaya berperan dalam pernikahan adat Bugis-Makassar. Dalam budaya BugisMakassar, uang panai bukan hanya sekadar mahar, melainkan juga lambang martabat keluarga dan nilai seorang wanita di mata masyarakat. Seorang wanita yang berpendidikan tinggi atau memiliki profesi terhormat, seperti dokter, dianggap pantas mendapatkan uang panai yang "sepadan" dengan statusnya. Masyarakat percaya bahwa semakin tinggi status wanita, semakin mahal uang panai yang harus dibayar, dan ini dianggap normal, bahkan membanggakan. menggunakan pendekatan John M. Gottman mengenai solvable conflict dan perpetual conflict. Pertentangan antara Icha dan ibundanya tergolong sebagai perpetual conflict sebab berakar dari perbedaan pandangan hidup yang mendalam antara adat istiadat dan kemajuan zaman. Konflik ini tak mudah dipecahkan hanya dengan alasan yang masuk akal karena menyangkut kepercayaan serta prinsip hidup masing-masing individu. Akan tetapi, terdapat pula unsur solvable conflict apabila Kemarahan Icha adalah bentuk demitologisasi kesadaran untuk membongkar mitos budaya yang diskusi difokuskan pada hal- hal teknis seperti jumlah mahar yang dapat dinegosiasikan, bukan pada inti masalahnya Scene Kedua, analisis adegan pertengkaran antara seorang anak perempuan dan ibunya terkait perjodohan yang tidak disetujui, dapat disimpulkan bahwa hal ini bukan sekadar masalah keluarga, tapi juga cerminan nilai budaya yang kuat di masyarakat Bugis-Makassar. Amarah serta kekecewaan sang anak muncul sebagai reaksi terhadap praktik budaya yang dianggap membatasi kebebasan pribadinya, terutama dalam memilih pasangan hidup. Dalam budaya Bugis-Makassar, perjodohan oleh orang tua dipandang sebagai bagian dari kewajiban moral serta upaya menjaga nama baik keluarga. Berdasarkan teori solvable conflict dan perpetual conflict dari John M. Gottman, konflik ini tergolong perpetual conflict. Sumber masalah bukan sekadar pada sosok pria pilihan, melainkan pada perbedaan pandangan ibu dan Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 anak tentang siapa yang berhak memilih pendamping hidup. Icha menginginkan kebebasan, sementara ibunya merasa berkewajiban menjodohkan anak dengan pria yang dianggap layak menurut standar sosial dan ekonomi. Perbedaan nilai yang dalam ini cenderung berulang, meski pria yang dijodohkan berbeda. Namun, jika dialog dibangun dan kesepakatan dicapai berdasar keinginan bersama, konflik ini bisa berkembang menjadi solvable conflict Scene ketiga. Adegan ibu Iccang dan Om Bahar meminta Iccang untuk merelakan Icha, usai tahu Icha akan dinikahkan dengan orang lain oleh keluarganya. Permintaan ini membuat Iccang bimbang, antara patuh pada keluarga atau memperjuangkan cintanya. Ekspresi kecewa dan sedih Iccang menggambarkan betapa kuatnya pengaruh orang tua dan keluarga dalam menentukan jalan cinta, meski rasa sayang masih begitu besar. Adegan ini mewakili pertentangan keluarga yang meluas, melibatkan dua keluarga yang berbeda. Keluarga Iccang memilih mundur untuk menjaga nama baik dan menghindari perselisihan dengan keluarga Icha. Ini adalah cerminan budaya Bugis-Makassar yang kental dengan etika sosial, terutama soal kehormatan keluarga dan harga diri pria dalam perjodohanPermintaan untuk menjauhi seseorang yang sudah dijodohkan dianggap sebagai bentuk respek pada keputusan keluarga Dari sudut pandang teori konflik John M. Gottman, konflik ini tergolong perpetual conflict, karena berakar dari perbedaan nilai dan norma budaya yang mendalam yaitu pentingnya menjaga harga diri dan menghormati adat. Walaupun tidak ada permusuhan langsung, keputusan ibu Iccang dan Om Bahar untuk mengakhiri hubungan itu menunjukkan bahwa konflik ini tidak diatasi dengan dialog, melainkan dengan pengorbanan dan adaptasi terhadap sistem sosial. Namun, potensi solvable conflict ada jika kedua pihak berani bernegosiasi atau menentang norma, meskipun dalam budaya, hal ini sering dianggap pantang Scene keempat, pada adegan ini icha marah pada tantenya karena secara sepihak mendatangi rumah keluarga iccang dan memberitahukan soal perjodohan yang belum icha setujui. Icha merasa dikhianati karena tantenya seolah-olah mengabaikan haknya sebagai Padahal, ia sama sekali belum memberikan persetujuan terkait perjodohan itu, namun tantenya sudah bertindak seolah keputusan itu sudah bulat. Momen ini menggambarkan bagaimana perselisihan dalam keluarga bisa meluas, melibatkan kerabat yang merasa berhak ikut campur dalam urusan pernikahan. Kejadian ini mencerminkan pertentangan yang sering terjadi dalam masyarakat dengan budaya kolektif seperti Bugis-Makassar, di mana pernikahan dipandang sebagai urusan seluruh keluarga, bukan hanya individu yang bersangkutan. Menurut teori konflik John M. Gottman, pertentangan ini tergolong perpetual conflict, karena menyangkut perbedaan nilai yang mendalam: antara kebebasan individu dan kekuasaan Konflik ini sulit diselesaikan karena perbedaan pandangan yang terus ada dalam ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 budaya tradisional. Akan tetapi, jika ada komunikasi yang baik, aspek solvable conflict bisa muncul, contohnya dengan menanyakan pendapat Icha terlebih dahulu Scene lima, pada adegan ini ibu icha memerahi icha karena bertemu iccang diam diam depan rumah pada malam hari. Pertemuan itu dipandang tidak pantas dan mencoreng nama keluarga, apalagi kalau dilakukan diam-diam di larut malam. Namun bagi Icha, itu adalah usahanya menjaga cinta dari perjodohan yang tak diinginkannya. Situasi ini tunjukkan bentrokan nilai antara norma adat yang utamakan sopan santun dan kehormatan wanita, dengan nilai modern yang menjunjung tinggi kebebasan perasaan. Adegan ini gambarkan, dalam budaya Bugis-Makassar, ruang gerak wanita dalam percintaan sangat dibatasi norma kesopanan dan aturan social. Menurut teori konflik John M. Gottman, ini adalah perpetual conflict karena akarnya perbedaan nilai mendalam: anak ingin bebas ekspresikan cinta, orang tua pegang teguh norma adat dan batasan social Scene 6, pada adegan ini ibu iccang dan om bahar memerahi iccang yang pergi kerumah icha diam diam pada malam hari. Perilaku itu dipandang merusak nama baik keluarga serta tidak selaras dengan karakter ideal seorang pria Bugis-Makassar. Bagi Iccang, kedatangannya malam itu adalah bentuk usaha terakhirnya dalam merebut hati Icha, yang terasa semakin menjauh akibat paksaan perjodohan dan ikut campurnya keluarga besar. Momen ini mempresentasikan pertentangan antara gejolak perasaan seseorang dengan batasan sosial yang sangat dijunjung tinggi dalam adat Bugis- Makassar. Pertentangan ini bisa dianalisis melalui gagasan perpetual conflict dari John M. Gottman. Pertentangan ini berakar dari perbedaan pandangan antara anak muda dan orang tua. Iccang bertindak atas dasar cinta dan keinginannya untuk mempertahankan hubungan, sedangkan ibu dan Om Bahar lebih mengutamakan aturan sosial dan citra keluarga Scene 7. Salah satu adegan yang memuncak dalam film Uang Panai Maha. l 2 adalah ketika Icha memberanikan diri melawan ibunya, karena merasa jenuh terus- menerus diatur Dengan luapan emosi. Icha mengungkapkan bahwa ia tak sanggup lagi hidup di bawah kendali sang ibu. Alih-alih pengertian, ibunya justru menunjukkan kemarahan dan kekecewaan, yang memuncak dengan sebuah tamparan. Adegan tersebut menjadi puncak konflik antara keinginan pribadi seorang anak perempuan dan kekuasaan orang tua, serta menandai perubahan dinamika kuasa dalam keluarga. Adegan ini secara simbolis mencerminkan perbedaan nilai antar generasi. Icha melambangkan kaum muda BugisMakassar yang mulai mendambakan kebebasan dalam menentukan arah hidupnya, termasuk dalam hal percintaan dan pernikahan. Menurut teori John M. Gottman, perselisihan ini tergolong sebagai perpetual conflict. Pemicunya adalah perbedaan nilai yang mendalam antara Representasi Konflik Keluarga pada Film Uang Panai Maha. l 2 kontrol orang tua dan hasrat anak untuk mandiri secara emosional dan dalam mengambil KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini memperlihatkan bahwa film "Uang Panai Maha. l 2" menggambarkan konflik keluarga yang intens, khusus nya yang terkait dengan tradisi uang panai dan praktik perjodohan dalam masyarakat Bugis-Makassar. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, beragam penanda dan simbol dalam film itu mengindikasikan adanya benturan antara nilai-nilai tradisional yang mengatur pernikahan dengan aspirasi pribadi para karakter Konflik ini tampak jelas dalam berbagai adegan yang melukiskan tekanan dari keluarga, ketidaksetaraan gender, dan konflik batin yang dirasakan oleh pasangan muda. Simbol waktu . , lokasi . , dan aksi . ertemuan tersembunyi, pembatalan perjodoha. berfungsi sebagai kode krusial yang mengungkap makna tersirat tentang dominasi adat dan usaha individu di dalam keluarga. Film ini juga menyoroti bagaimana tradisi uang panai yang jumlahnya besar menjadi akar masalah dan ketidakadilan, terutama bagi kaum pria yang merasa terbebani secara finansial dan sosial. Secara garis besar, film ini memotret realitas sosial budaya Bugis-Makassar dengan kerumitan konflik keluarga yang tidak hanya bersifat individu, tetapi juga berakar pada struktur dan budaya. DAFTAR REFERENSI Asri. Membaca Film Sebagai Sebuah Teks: Analisis Isi Film "NAnti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI)". Jurnal Al Azhar Indonesia Serti Ilmu komunikasi. Ayuanda. -a. Budaya Jawa dalam Film Primbon: Analisis Representasi Stuart Hall. Fitriyani. Multicomplex Uang PanaiAo terhadap Perempuan dalam Perkawinan Keluarga Muslim Suku Bugis. Journal of islamic Law. Hasan. Transformasi Komunikasi Massa Era Digital Antara Peluang Dan Tantangan Kamaruddin. Jurnal Politik dan Pemerintah. Ikhsan Hilabbi. Representasi Komunikasi Konflik Keluarga dalam Film "GaraGara Warisan" . Jurnal Ilmu komunikasi dan Media Sosial. Nurul Fadilah. Proses Pengambilan Keputusan Orang Tua dalam Memberikan Restu Pernikahan Anak (Studi Kasus pada Peristiwa Silariang di Kab. Gow. Jurnal Ilmiah Multidisipline. Rahman. Analisis Resepsi Terhadap Konflik Komunikasi Keluarga Pada Film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang. ABSTRAK - VOLUME 2 NUMBER 4. JULI 2025 e-ISSN : 3032-1670. p-ISSN : 3032-2456. Hal 171-187 Rimayanti. Representasi Budaya Bugis-Makassar dalam Film Uang PanaiAo = Maha. L (Analisis Semiotika Roland Barthe. Jurnal Ilmu sosial dan politik. Saharuddin. Kedudukan Hukum Uang Panai dalam Perkawinan Masyarakat Bugis-Makassar. Jurnal Litigasi Amsir. Sanjaya. "Hutang Panai" Sebagai Alasan Perceraian dalam Masyarakat Adat Suku Bugis-Makassar. Jurnal Magister Hukum. Santoso. Analisis Karikatur Konferensu Tingkat Tinggi Asean Ke 24 Pada Postingan Akun Instagram Jokowi. Jurnal Kesejahteraanj Sosial. Komunikasi dan Administrasi Publik. Sari. PERANAN KOMUNIKASI MASSA DALAM PENYAMPAIAN INFORMASI PADA MASYARAKAT KAMPUNG ADOKI DISTRIK YENDIDORI KABUPATEN BIAK NUMFOR. Sudrajat. Budaya Stratifikasi Sosial terjadap Kesenjangan Ekonomi Keluarga dan Kualitas Pendidikan Anak. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial. Sugianto. Persepsi Mahasiswa Pada Film "Senjakala Di Manado". Jurnal Ilmu Komunikasi. Zahara. Analisis Semiotika Film Mengenai Maskulinitas. Jurnal Network Media.