Hasil Penelitian Diserahkan: November 2025 / Direvisi: Maret 2026 / Diterima: Maret 2026 Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi p-ISSN: 2716 Ae 151X e-ISSN: 2722 Ae 869X Potensi Keanekaragaman Kepiting sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Pantai Tambakrejo. Blitar The Potential of Crab Diversity as A Biological Indicator of Water Quality at Tambakrejo Beach. Blitar Donna Laora Eka Febryana*. Fauziah Naja Dwi Haryanti. Alisa Dwi Zhafira. Sabrina Brilianti Suhartono. Reni Ambarwati Program Studi Biologi Universitas Negeri Surabaya. Surabaya, 60231. Indonesia *Penulis Koresponden: donnalaora. 22022@mhs. Abstrak. Kepiting merupakan kelompok hewan Arthropoda yang berperan penting sebagai detritivor, keystone species dan bioindikator dalam suatu ekosistem pantai. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan jenis, menganalisis keanekaragaman, kelimpahan relatif, keseragaman, dominansi serta peranan kepiting sebagai bioindikator kualitas perairan di Pantai Tambakrejo. Blitar. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dan lokasi pengambilan dibagi menjadi tiga stasiun dengan karakteristik substrat yang berbeda. Analisis data menggunakan rumus Shannon-Wiener. Hasil sampling diidentifikasi dan dideskripsikan berdasarkan karakter morfologi. Hasil penelitian menemukan total 51 kepiting yang diklasifikasikan dalam 7 spesies kepiting, yakni Grapsus albolineatus. Ozius rugulosus. Metopograpsus thukuhar. Pachygrapsus marmoratus. Leptodius affinis. Ptychognathus barbatus, dan Parasesarma Indeks keanekaragaman kepiting tercatat dalam kategori sedang yakni 1,873 dan indeks keseragaman sebesar 0,962 dalam kategori tinggi yang mengindikasikan penyebaran jumlah individu setiap genus relatif seragam. Kelimpahan relatif tertinggi pada spesies Parasesarma charis dengan nilai 23,53% dan indeks dominansi sebesar 0,164 atau dapat dikatakan bahwa di Pantai Tambakrejo. Blitar tidak ada jenis kepiting yang mendominasi. Pantai dengan karakteristik seperti ini memiliki potensi kualitas air yang baik dan tidak tercemar sehingga dapat mendukung kehidupan biota laut khususnya kepiting, serta berpotensi dalam upaya konservasi melalui pemeliharaan kualitas perairan. Kata Kunci: bioindikator. pantai_tambakrejo_blitar Abstract. Crabs are a group of arthropod animals that play an important role as detritivors, keystone species, and bioindicators in a coastal ecosystem. This research aimed to describe the species, analyze diversity, relative abundance, uniformity, dominance, and the role of crabs as bioindicators of water quality at Tambakrejo Beach. Blitar. Data was obtained through on-site observation. Sampling was conducted using the purposive sampling method, and the sampling location was divided into three stations with different substrate characteristics. Data analysis used the Shannon-Wiener formula. The sampling results were identified and described based on morphological characters. The results found a total of 51 crabs classified into 7 crab species, namely Grapsus albolineatus. Ozius rugulosus. Metopograpsus thukuhar. Pachygrapsus marmoratus. Leptodius affinis. Ptychognathus barbatus and Parasesarma charis. The crab diversity index was recorded in the medium category, namely 1,873 and a uniformity index of 0,962 in the high category which indicates the distribution of the number of individuals of each genus is relatively uniform. The highest relative abundance in Hemigrapsus sanguineus species with a value of 23,53% and a dominance index of 0. 164 or it can be said that in Tambakrejo Beach. Blitar there is no dominating crab species. Beaches with these characteristics have the potential for good water quality and are not polluted so that they can support the life of marine biota, especially crabs, and have potential in conservation efforts through maintaining water Keywords: bioindicators. tambakrejo_beach_blitar DOI: 10. 55241/spibio. Pendahuluan Keanekaragaman hayati di lingkungan memelihara keseimbangan ekosistem kualitas perairan, menunjang rantai makanan, serta memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi bagi penduduk setempat . Kepiting disebut sebagai salah satu fauna akuatik yang dapat dijadikan sebagai spesies kunci karena terhadap ekosistem dan lingkungan yang ditempatinya . Selain itu, kepiting juga dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran lingkungan karena habitatnya yang sangat spesifik. Dalam ekosistem pemakan bahan organik dalam sedimen . Kepiting menyediakan sumber makanan alami bagi berbagai biota . Secara ekologis, mineralisasi, dan mengoksidasi oksigen di dalam tanah . Kepiting dilengkapi dengan karapas yang keras serta memiliki eksoskeleton unik yang terdiri dari kutikula yang mengandung kitin, lipid, protein, dan mineral seperti kompleks . Setiap jenis kepiting memiliki preferensi habitat yang berbeda, yang dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yaitu daerah pesisir dan perairan laut . Di pesisir, umumnya kepiting menggunakan kaki jalannya untuk menjelajah dasar laut yang berpasir atau berbatu, sementara di perairan yang lebih dalam, kaki renang membantu mereka berenang dengan Preferensi habitat kepiting sangat beragam, mulai dari substrat berlumpur yang kaya akan bahan organik hingga celah-celah bebatuan karang yang menjadi tempat perlindungan yang baik dari predator. Kombinasi adaptasi fisik dan pilihan habitat ini menunjukkan fleksibilitas menghadapi lingkungan yang beragam. Berdasarkan sebelumnya pada beberapa tempat yang berada di Pantai Jawa Timur dapat diketahui beberapa jenis kepiting dan Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Subagio di perairan timur Kota Surabaya, terdapat beragam jenis kepiting, termasuk kepiting bakau (Scylla serrat. , rajungan (Portunus pelagicu. , dan kepiting jangkang . Penelitian lainnya di pantai Cengkrong Trenggalek yang telah diteliti oleh Sawitri. Sunarto & Setyono . , terdapat 7 . jenis kepiting biola (Uca spp. ), yaitu diantaranya Uca annulipes. Uca crassipes. Uca forcipata. Uca lactea. Uca paradussumieri. Uca rosea, dan Uca vomeris. Kepiting ini termasuk kelompok ordo Decapoda dan tergolong Ocypodidae. Sementara itu, hasil penelitian Nafiah & Purnomo . yang dilakukan di pantai Barung Toraja. Sumenep. Madura, ditemukan sebanyak 10 jenis kepiting Famili Dotillidae yaitu Dotilla intermedia. Dotilla malabarica. Dotilla wichwani. Dotilla fenestraca. Dotillopsis brevetarsis. Ilyoplax delsmani. Ilyoplax Scopimera bitympana. Scopimera crabicauda, dan Scopimera proxima. Pantai Tambakrejo terletak di Desa Tambakrejo. Kecamatan Wonotirto. Kabupaten Blitar yang berjarak kurang lebih 30 km ke arah selatan dari kota Blitar. Pantai ini adalah salah satu pantai yang menjadi ikon ataupun ciri khas wisata di daerah Kabupaten Blitar. Pantai Tambakrejo membentang sebagai teluk yang memiliki panjang sekitar 10 km. Daerah ini kaya akan potensi sumber daya pesisir dan laut, termasuk berbagai jenis crustacea seperti kepiting, kelomang, stomatopoda, dan lain sebagainya. Substrat dasar yang dimiliki pantai Tambakrejo yaitu berbatu, berpasir, dan Substrat tersebut ideal untuk Berdasarkan latar belakang diatas dan temuan penelitian sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi keanekaragaman kepiting sebagai indikator biologis kualitas perairan di Tambakrejo. Blitar Selatan dikarenakan di daerah Jawa Timur khususnya Kota Blitar masih belum dilakukan penelitian dan belum terdapat data tentang jenis-jenis kepiting di kawasan Pantai Tambakrejo. Blitar. Pemahaman mengenai keanekaragaman, kelimpahan relatif, keseragaman, dan dominansi kepiting memberikan fondasi yang krusial bagi masyarakat maupun sekitar pantai Tambakrejo untuk memanfaatkan kepiting sebagai upaya konservasi perairan pesisir pantai. Gambar 1. Lokasi Stasiun Penelitian di Pantai Tambakrejo (Sumber: Google Maps, 2. Metode Studi observasi ini dilakukan di Pantai Tambakrejo, di Desa Tambakrejo. Kecamatan Wonotirto. Kabupaten Blitar dengan 3 stasiun berbeda. Lokasi stasiun 8A19'02. 9"S 112A08'43. 0"E, lokasi stasiun kedua terletak pada koordinat 8A18'58. 112A08'39. 3"E, dan lokasi stasiun ketiga 8A18'57. 112A08'33. 9"E (Gambar . Metode digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi langsung di lokasi, yang berarti pemilihan lokasi pengamatan tertentu, yaitu pasang surut air laut, karakteristik substrat pada setiap stasiun, dan aktivitas kepiting. Setiap stasiun memiliki aktivitas dan karakteristik yang diharapkan dapat digunakan untuk menentukan jenis dan kelimpahan kepiting. Stasiun 1 berada di pesisir pantai subtrat berlumpur. Stasiun 2 di pesisir pantai substrat berpasir, dan Stasiun 3 di pesisir pantai dengan substrat Sebelum pengambilan sampel dilakukan pengecekan pasang surut air laut dengan menggunakan aplikasi AuTidesAy dan observasi ini dilakukan ketika air laut sedang surut yaitu sekitar jam 13. 00 siang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat tulis, buku catatan, buku identifikasi kepiting pantai, kamera, es batu, dan Sedangkan, sampel kepiting yang ditangkap digunakan sebagai bahan Prosedur Kerja Pengamatan langsung untuk mempermudah penentuan jalur penelitian dan identifikasi jenis substrat di setiap stasiun. Substrat dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu substrat berlumpur, substrat berpasir, dan substrat berbatu. Sampel diambil saat air surut, atau saat kepiting sedang mencari Pengambilan menggunakan sarung tangan dan tongkat kayu, yang bertujuan untuk memudahkan penangkapan kepiting saat berada di dalam lubang. Setelah itu,hasil tangkapan kepiting dimasukkan ke dalam wadah berisi es batu. Es batu ini berfungsi untuk melemahkan kepiting sehingga lebih mudah untuk disimpan. Kemudian, menggunakan sikat halus pada air mengalir untuk meluruhkan kotoran yang menempel pada cangkang kepiting Dilanjutkan dengan dokumentasi pengamatan karakteristik morfologinya. Karakteristik ekstremitas kepiting, yang terdiri dari sepasang capit dan empat pasang kaki bulu/setae, serta bentuk, ukuran, warna. Pengidentifikasian jenis kepiting merujuk pada buku Mangrove Estuary Crabs of The Mimika Region-Papua. Indonesia oleh Rahayu dan Setyadi . dan Systema Brachyurorum: Part 1. An Annotated Checklist Of Extant Brachyuran Crabs Of The World oleh Ng. Davie & Guinot . serta artikel-artikel penelitian terdahulu. Kemudian dikonfirmasi melalui WoRMS . rumus Shannon-Wiener sebagai berikut . HAo = - OcycA ycn=1 ycyycn ycnycu ycyycn, dimana pi ycAycn ycA Keterangan: HAo = Indeks keanekaragaman = Logaritma natural = Jumlah individu jenis ke-i = Jumlah individu seluruh jenis = Ni / N Berikut keanekaragaman (HA. HAo < 1 =Keanekaragaman rendah 1 < HAo O 3 =Keanekaragaman sedang HAo > 3 =Keanekaragaman tinggi Kelimpahan Relatif (KR) Kelimpahan relatif (KR) adalah terhadap total jumlah individu dari semua jenis yang ada. Data kelimpahan kepiting dianalisis menggunakan kelimpahan relatif sebagai berikut . KR = ycAycn X 100% ycA Keterangan: = Kelimpahan relatif (%) = Jumlah individu jenis ke-i = Jumlah individu seluruh jenis Indeks Keseragaman (E) Indeks keseragaman digunakan untuk komposisi individu dari setiap jenis spesies dalam suatu komunitas . Data keseragaman dianalisis menggunakan rumus berikut: Analisis Data Analisis data spesimen yang telah ditemukan dilakukan perhitungan dengan memakai indeks keanekaragaman (HA. , (KR%), keseragaman (E), dan indeks dominansi (C). Berikut rumus yang digunakan untuk melakukan analisis data secara kuantitatif: yaA H max Keterangan: = Indeks Keseragaman HAo = Indeks Keanekaragaman Hmaks = ln S Indeks Keanekaragaman (HA. Dalam suatu komunitas, jumlah individu pada tiap jenis dapat dianalisis . Indeks keanekaragaman dihitung menggunakan Berikut merupakan kriteria kisaran nilai indeks keseragaman (E) yang dapat 0 < E O 0,4 = Keseragaman rendah, komunitas tertekan 0,4 < E O 0,6 = Keseragaman sedang, komunitas kurang stabil 0,6 < E O 1 = Keseragaman tinggi, komunitas stabil ycAycn ycA C = Oc ( )2 Keterangan: = Indeks dominansi = Jumlah individu jenis ke-i = Jumlah individu seluruh jenis Indeks Dominansi (C) Perhitungan diperlukan untuk menentukan biota perairan yang dominan dalam suatu Data dominansi dianalisis menggunakan indeks dominansi simpson sebagai berikut . Berikut merupakan kriteria kisaran indeks dominansi (C) yang dapat diinterpretasikan: < C O 0,5 = Dominansi rendah 0,5 < C O 0,75 = Dominansi sedang 0,75 < C O 1 = Dominansi tinggi Hasil dan Pembahasan Berdasarkan keanekaragaman kepiting yang telah dilakukan di pantai Tambakrejo. Blitar pada tanggal 29 September 2023 didapatkan kepiting sejumah 51 individu yang terdiri dari 5 famili, 7 genus dan 7 spesies, yaitu Grapsus albolineatus. Ozius Metopograpsus Pachygrapsus marmoratus. Leptodius affinis. Ptychognathus barbatus dan Parasesarma charis. KepitingAekepiting itu dijumpai di daerah pesisir pantai yang memiliki tiga substrat yaitu, berlumpur, berpasir, dan berbatu. Selengkapnya disajikan di bawah ini. Gambar 2. Kepiting di pantai Tambakrejo: (A. ) Grapsus albolineatus (B. ) Ozius rugulosus (C. Metopograpsus thukuhar (D. ) Pachygrapsus marmoratus (E. ) Leptodius affinis (F. ) Ptychognathus barbatus (G. ) Parasesarma charis Spesies kepiting Grapsus albolineatus (Gambar 2. merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Grapsidae dengan genus Grapsus. Kepiting ini ditemukan pada substrat Kepiting ini memiliki bentuk karapas yang cembung, dengan panjang sekitar 5 cm dan lebar sekitar 3 cm. Bagian depan karapas kepiting Grapsus albolineatus dilengkapi dengan corak garis memanjang putih berwarna kehijauan menunjukkan bahwa kepiting tersebut terdapat pigmen. Kepiting Grapsus albolineatus mempunyai 4 pasang kaki jalan yang berukuran panjang tetapi tidak mempunyai kaki renang. Pada bagian kakinya juga dilengkapi dengan rambut halus . Kepiting ini memiliki karakteristik khas yaitu capit yang berukuran kecil dan berwarna ungu . Spesies kepiting Ozius rugulosus (Gambar 2. merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Oziidae dengan genus Ozius. Kepiting ini memiliki karapas yang berbentuk oval atau sedikit Karapasnya memiliki permukaan yang kasar dan warnanya coklat tua dengan warna merah berkarat dan memiliki bintik-bintik terang. Selain itu, pada bagian tepi karapas terdapat lobus yang kasar dan tumpul. Kepiting Ozius rugulosus biasanya memiliki ukuran karapas sekitar 2-5 cm. Kepiting Ozius rugulosus juga memiliki 4 pasang kaki jalan tanpa adanya bulu halus . Selain itu, kepiting Ozius rugulosus berwarna hitam yang ukurannya berbeda, capit sebelah kanan memiliki ukuran yang lebih besar daripada capit sebelah kiri, hal ini disebut sebagai capit dimorfik. Kepiting Ozius rugulosus ini ditemukan pada celahcelah bebatuan . Spesies kepiting Metopograpsus thukuhar (Gambar 2. C) merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Grapsidae dengan genus Metopograpsus. Kepiting ini ditemukan pada substrat Kepiting ini dapat diidentifikasi melalui warna karapas dan kaki yang berwarna merah kecoklatan atau coklat Lebar karapas kepiting Metopograpsus thukuhar dapat mencapai sekitar 3 hingga 5 cm, dengan ukuran yang bervariasi tergantung usianya. Metopograpsus thukuhar memiliki 4 pasang kaki jalan yang dilengkapi dengan bulu yang kasar atau daktilus. Selain itu. Kepiting ini juga mempunyai stridulating pada capit. Kepiting Metopograpsus ukurannya tidak terlalu berbeda antara capit kanan dan kiri . Spesies kepiting Pachygrapsus marmoratus (Gambar 2. D) merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Grapsidae dengan genus Pachygrapsus. Kepiting ini ditemukan di substrat bebatuan, kepiting ini memiliki karapas berbentuk segi empat dengan bagian depan lebih lebar daripada bagian belakang, serta memiliki pola yang khas dengan warna dasar coklat atau hijau zaitun yang dihiasi dengan bintik-bintik Kepiting Pachygrapsus berukuran 4-5 cm. Kepiting Pachygrapsus marmoratus memiliki empat pasang kaki jalan, dengan bagian luarnya dilengkapi bulu halus berwarna hitam. Selain memiliki Pachygrapsus marmoratus juga memiliki capit kecil berwarna ungu dengan bintik putih di bagian merus . Spesies kepiting Leptodius affinis (Gambar 2. E) merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Xanthidae dengan genus Leptodius. Kepiting ini ditemukan hidup bersembunyi di bawah bebatuan. Kepiting Leptodius affinis memiliki bentuk karapas subovate melintang, dan daerah permukaan punggung karapasnya seperti tonjolan-tonjolan kecil atau granula yang Lebar karapasnya kepiting Leptodius affinis sekitar 3 - 4 cm. Kepiting ini memiliki warna coklat gelap serta memiliki sepasang capit dengan ujung capit berwarna hitam. Selain itu, kepiting Leptodius affinis memiliki 4 pasang kaki jalan yang relatif pendek namun kuat dan bagian kakinya dilengkapi dengan bulu halus . Spesies kepiting Ptychognathus barbatus (Gambar 2. F) merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Varunidae dengan genus Ptychognathus. Kepiting ini ditemukan pada substrat pasir Kepiting Ptychognathus barbatus dapat diidentifikasi melalui ciriciri morfologi seperti karapas keras berwarna coklat dan berbentuk sub kuadrat . edikit lebih lebar daripada panjan. dengan permukaan punggung yang halus, serta memiliki pola belang atau bintik-bintik. Pada propodus kepiting Ptychognathus barbatus jantan memiliki tekstur yang halus, tanpa granula/butiran yang jelas, sedangkan granula/butiran. Pada terdapat bulu-bulu halus . yang berbentuk seperti pom-pom atau dikenal dengan sebutan "pom-pom crab", capit ini berwarna putih. Selain itu, kepiting Ptychognathus ukuran tubuh yang kecil yakni kisaran 2-3 Kepiting Ptychognathus barbatus juga memiliki 4 pasang kaki jalan yang tidak berbulu . Spesies kepiting Parasesarma charis (Gambar 2. G) merupakan spesies kepiting yang berasal dari famili Sesarmidae dengan genus Parasesarma. Kepiting ini ditemukan pada substrat berlumpur. Kepiting Parasesarma charis memiliki karapas dengan permukaan halus dan berbentuk cembung. Kepiting ini memiliki karapas berwarna coklat tua hingga hampir hitam, dengan berbintik-bintik coklat muda. Ukuran karapas kepiting Parasesarma charis sekitar 1 - 2 cm, ukurannya lebih lebar daripada panjang. Kepiting Parasesarma charis juga memiliki sepasang capit berwarna coklat muda dengan ukuran yang sama. Selain itu, kepiting Parasesarma charis memiliki 4 pasang kaki jalan yang ramping dan pipih. Kaki jalannya dilengkapi dengan bulu halus . Persebaran ketujuh spesies kepiting yang ditemukan menunjukkan pola yang Persebaran kepiting Grapsus albolineatus meliputi wilayah perairan Indo-west Pacific. Menurut penelitian Lepa. Paransa. Mantiri. Boneka. Lumoindong, & Tilaar. Grapsus albolineatus ditemukan pada perairan Pantai Pondang dan Lopana. Minahasa Selatan . Kemudian penelitian Bento & Paula . , melaporkan keberadaan kepiting Ozius rugulosus yang ditemukan tersebar di perairan Samudra Hindia Barat. Penelitian Ilaria. Paransa. Mantiri. Schaduw. Darwisito, & Manginsela . , mereka menemukan spesies Kepiting Ozius rugulosus di Pantai Minanga. Malalayang Satu. Manado. Kepiting Metopograpsus persebaran yang luas diantaranya yaitu di Laut Merah. Tanzania. Kenya. Afrika Selatan. Madagaskar. Mayotte . enemuan pertam. Bangladesh. Saudi Arabia. Indonesia. Taiwan. China. Jepang. Australia. Kepulauan Solomon. Kaledonia Baru, dan Hawaii . Ae. Pachygrapsus marmoratus adalah spesies kepiting yang tersebar luas di pesisir wilayah Laut Tengah (Mediterani. dan Samudra Atlantik timur . , dengan persebaran mulai dari pantai Portugal. Spanyol. Prancis, hingga ke daerah Afrika Utara, seperti Maroko. Mereka juga tercatat di beberapa wilayah pesisir Laut Hitam. Kepiting Leptodius affinis tersebar di perairan Samudra Hindia bagian timur hingga Samudra Pasifik bagian tengah. Penelitian Trivedi & Vachhrajani . melaporkan bahwa keberadaan Leptodius affinis di sisi barat Samudra Hindia. Persebaran Ptychognathus barbatus menurut Osawa & Ng . , ditemukan di pulau Ryukyu (Amamioshima. Okinawa, and Izena Island. Southwestern. Japan. Penelitian Hsu & Shih Ptychognathus barbatus tersebar di perairan Taiwan, dan Bali. Indonesia. Menurut penelitian Rahayu & Ng . , persebaran kepiting Parasesarma charis diketahui berada di mimika papua. Sehingga dapat diketahui bahwa ketujuh spesies kepiting tersebut merupakan spesies yang umum ditemukan dan terdistribusi di berbagai wilayah perairan, termasuk perairan di Indonesia. Tabel 1. Nilai Indeks Keanekaragam. Kelimpahan Relatif. Keseragaman dan Dominasi Kepiting Keterangan: Nama Spesies Grapsus albolineatus Latreille in Milbert, 1812. Oc Ozius rugulosus Metopograpsus Owen, 1839. 0,078 HAo -0,200 KR (%) 7,84 0,103 0,006 Stimpson, 0,118 -0,252 11,76 0,129 0,014 0,196 -0,319 19,61 0,164 0,038 Pachygrapsus Fabricius, 1787. Leptodius affinis De Haan. Ptychognathus barbatus A. Milne-Edwards, 1867. Parasesarma charis Rahayu & Ng, 2005. 0,098 -0,228 9,80 0,117 0,010 0,098 -0,228 9,80 0,117 0,010 0,176 -0,306 17,65 0,157 0,031 0,235 -0,340 23,53 0,175 0,055 0,962 0,164 Total HAo 1,873 = Jumlah individu setiap jenis = Perbandingan jumlah individu satu jenis dengan jumlah individu keseluruhan (Ni/N) = Indeks keanekaragaman = Kelimpahan relatif (%) = Indeks keseragaman = Indeks dominansi Berdasarkan data inventarisasi dan hasil identifikasi kepiting pada Tabel 1. Diperoleh indeks keanekaragaman (HA. sebesar 1,873, dari nilai tersebut dapat keanekaragaman kepiting yang terdapat di pantai Tambakrejo termasuk dalam kategori sedang. Nilai keanekaragaman (HA. tersebut dapat dikatakan tinggi jika suatu komunitas memiliki banyak spesies dan masing-masing spesies diwakili oleh satu individu. Sebaliknya, jika nilai indeks keanekaragaman H' < 1,00, yang termasuk dalam kategori rendah . , hal ini tersebut cenderung memiliki jumlah spesies yang lebih sedikit. Tekanan ekologis dari berbagai aktivitas manusia dapat keanekaragaman hayati di perairan seperti, penangkapan kepiting berlebihan, pengembangan pesisir, dan pencemaran yang dapat mengganggu keanekaragaman hayati . Selain itu, keanekaragaman dipengaruhi oleh faktor makanan yang tersedia, di mana hewan cenderung memilih tempat yang memudahkan mereka untuk mendapatkan makanan. Kemudian, keberadaan biota sangat bergantung pada habitatnya, baik sebagai tempat berlindung maupun sumber nutrisi . Kepiting juga menunjukkan adaptasi morfologis terhadap kondisi substrat . Kombinasi substrat berpasir, berbatu, dan berlumpur di lokasi penelitian ini sangat mendukung keberagaman habitat kepiting. Kemudian, kepiting juga dapat berfungsi sebagai bioindikator kualitas perairan. Kualitas perairan di pantai Tambakrejo dikatakan cukup baik, hal ini ditandai dengan nilai indeks keanekaragaman sedang. Indeks menunjukkan bahwa kondisi lingkungan mendukung kelangsungan hidup kepiting, sehingga daerah perairan tersebut layak untuk dihuni dan memiliki potensi untuk pertumbuhan kepiting. Oleh karena itu, perlu perhatian lebih lanjut untuk mencegah penurunan. Kelimpahan relatif menggambarkan proporsi tiap spesies dibandingkan dengan total individu dalam suatu Berdasarkan hasil identifikasi dan data inventarisasi kepiting yang ditemukan, memiliki nilai kelimpahan relatif Parasesarma charis, sebesar 23,53% dan kelimpahan relatif terendah terletak pada spesies Grapsus albolineatus dengan nilai 7,84%. Jenis dengan frekuensi tertinggi menunjukkan bahwa organisme tersebut dapat menempati lebih banyak ruang, sehingga memberikan lebih banyak berkembang . Kondisi di ketiga stasiun pertumbuhan spesies Parasesarma charis, sehingga spesies ini memiliki nilai KR tertinggi dibandingkan dengan spesies lainnya . Nilai indeks keseragaman jenis pada pantai Tambakrejo. Blitar diperoleh sebesar 0,962. Nilai indeks keseragaman antara 0,4 hingga 0,6 berarti menandakan lokasi tersebut dalam keadaan tidak stabil dan memiliki homogenitas sedang . Sebaliknya jika nilai indeks keseragaman lebih besar dari 0,6 maka ekosistem tersebut berada dalam keadaan stabil dan memiliki homogenitas yang tinggi. Nilai indeks keseragaman yang diperoleh dikatakan tinggi, apabila populasi kepiting di pantai Tambakrejo. Blitar memiliki komunitas yang stabil, dimana penyebaran jumlah individu dalam setiap genus relatif seragam atau tidak terlalu berbeda jauh. Semakin tinggi persebaran individu antar spesies maka semakin baik pula keseimbangan ekosistemnya . Indeks dominansi (C) digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya spesies kepiting yang mendominasi di suatu Dari data diatas didapatkan nilai indeks dominansi sebesar 0,164. Nilai dominansi tersebut masuk dalam kriteria kisaran dominansi yang rendah, yang berarti hampir tidak ada jenis kepiting yang mendominansi di Pantai Tambakrejo. Blitar. Jika nilai indeks dominansi tinggi, maka dominansi akan terfokus pada satu Sebaliknya, nilai indeks dominansi dominansi tersebar di beberapa spesies, yang berarti spesies-spesies tersebut tidak saling mendominasi. Jika dominansi rendah, berarti tidak ada persaingan yang ketat untuk mendapatkan ruang, makanan, dan habitat bagi organisme tersebut . Indeks dominansi yang rendah juga menunjukkan bahwa kualitas perairan Hal ini mencerminkan bahwa ekosistem masih mampu mendukung berbagai spesies. Sebagai bioindikator, keberadaan spesies yang beragam juga menandakan bahwa perairan tersebut tidak berada dalam kondisi kritis dan masih mampu menyediakan habitat yang sesuai bagi berbagai organisme. Berdasarkan keseragaman mengindikasikan bahwa kualitas perairan di pantai Tambakrejo saat ini dalam kondisi stabil. Hal ini ditandai dengan keanekaragaman kepiting yang sedang, artinya terdapat variasi spesies yang Jika keseragamannya tinggi, maka penyebaran populasi setiap spesies relatif sama. Sementara itu, indeks dominansi yang rendah mengindikasikan tidak adanya spesies tunggal yang sangat dominan. Kondisi ini mengindikasikan ekosistem pantai yang sehat dan stabil, serta kaya akan keanekaragaman hayati . Pantai dengan karakteristik seperti ini umumnya memiliki potensi kualitas air yang baik dan khususnya kepiting. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi pedoman atau acuan oleh masyarakat umum maupun masyarakat sekitar pantai Tambakrejo. Blitar untuk memanfaatkan potensi kepiting sebagai bioindikator kualitas perairan di pantai Tambakrejo. Keberadaan keanekaragaman jenis kepiting dapat menjadi petunjuk bagi masyarakat akan kualitas lingkungan perairan. Dominansi satu jenis kepiting tertentu bisa menjadi sinyal adanya masalah pada ekosistem, seperti penurunan kualitas air. Maka hal ini perlu diwaspadai agar masyarakat perlu proaktif dalam mengelola limbah rumah tangga dan industri, serta menjaga kelestarian habitat kepiting. Selain itu, data mengenai keanekaragaman dan jenis kepiting yang diperoleh dapat digunakan sebagai pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan. Simpulan Hasil penelitian ditemukan total 51 kepiting yang diklasifikasikan dalam 5 famili, 7 genus dan 7 spesies, yakni Grapsus Grapsus Ozius Metopograpsus thukuhar. Pachygrapsus Leptodius Ptychognathus barbatus dan Parasesarma charis dengan indeks keanekaragaman dalam kategori sedang, sebesar 1,873. Nilai kelimpahan relatif terbesar ada pada kepiting Parasesarma charis yang memiliki nilai sebesar 23,53%. Nilai indeks keseragamannya sebesar 0,962. Dan indeks dominansi total sebesar 0,164 yang dikategorikan rendah karena mendekati 0. Dominansi mengindikasikan bahwa tidak ada spesies Indeks mengindikasikan kondisi perairan pantai yang tidak tercemar, keseragaman yang tinggi dan menunjukkan perairan yang cukup optimal untuk keanekaragaman Potensi keanekaragaman kepiting di wilayah ini dapat membantu dalam upaya konservasi dan pemeliharaan kualitas perairan, serta menjadi sumber daya ekonomi yang berkelanjutan. Daftar Pustaka