Jurnal Surya Beton Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 p-ISSN : 2302-5166, e-ISSN : 2776-1606 https://jurnal. id/index. php/suryabeton Analisis Tebal Perkerasan Lentur dengan Metode Manual Desain Perkerasan Jalan dan AASHTO 1993 (Studi Kasus: Ruas Jalan Kenteng Ae Bencorejo STA 7 000 sampai STA 8 . Yunifa Rochma Riyani1,*. Agung Nusantoro1. Larashati BAotari Setyaning1 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Purworejo 1 Email: yunifarochmariyani2842@gmail. Abstrak. Jalan merupakan infrastruktur penting yang menunjang mobilisasi masyarakat. Jalan digunakan sebagai prasarana transportasi dalam bidang ekonomi, sosial, maupun budaya. Penelitian ini dilakukan di lokasi Ruas Jalan Kenteng Ae Bencorejo. Kecamatan Banyuurip. Kabupaten Purworejo pada STA 7 000 Ae 8 000. Pada ruas jalan ini jalan mengalami penurunan kondisi seperti retak, berlubang, dan bergelombang. Kondisi tersebut menganggu mobilisasi masyarakat, sehingga perlu perencanaan perkerasan agar pelayanan masyarakat dapat terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan tebal perkerasan lentur dan membandingkan anggaran biaya yang Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan proses analisis menggunakan metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2017 dan AASHTO 1993. Dari hasil perhitungan didapatkan hasil tebal perkerasan lentur dengan metode MDPJ 2017 untuk lapis permukaan AC-WC 4 cm dan AC-BC 6 cm, dan lapis pondasi kelas A sebesar 40 cm. Sedangkan untuk tebal perkerasan menggunakan metode AASHTO 1993 yaitu untuk lapis permukaan 5 cm, lapis pondasi atas 10 cm, dan lapis pondasi bawah 10 cm. Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk metode MDPJ 2017 sebesar Rp. 000 (Dua Enam Ratus Tujuh Puluh Delapan Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupia. , sedangkan untuk metode AASHTO 1993 memerlukan anggaran biaya konstruksi sebesar Rp. 000 (Satu Milyar Tiga Ratus Tujuh Puluh Dua Juta Enam ribu Rupia. Metode MDPJ 2017 memerlukan biaya konstruksi yang lebih tinggi dibandingkan deengan metode AASHTO 1993 yaitu dengan selisih biaya sebesar Rp. 000 (Satu Milyar Dua Ratus Sembilan Puluh Delapan Juta Delapan Ratus Tiga Puluh Sembilan Ribu Rupia. Kata Kunci: AASHTO 1993. MDPJ 2017, perkerasan lentur. Abstrack. Roads are essential infrastructure that supports the mobilization of society. They serve as transportation facilities in economic, social, and cultural fields. This research was conducted at the Kenteng Ae Bencorejo Road segment in Banyuurip District. Purworejo Regency, at STA 7 000 Ae 8 000. In this section, the road has deteriorated, showing signs of cracks, potholes, and undulations. These conditions disrupt community mobility, necessitating pavement planning to ensure adequate public service. The objective of this study is to plan the thickness of flexible pavement and compare the required budget. This research employs a quantitative method, with analysis based on the Manual for Road Pavement Design (MDPJ) 2017 and AASHTO 1993. The calculations indicate that the flexible pavement thickness using the MDPJ 2017 method consists of a surface layer of AC-WC 4 cm. AC-BC 6 cm, and a class A foundation layer of 40 cm. In contrast, the AASHTO 1993 method specifies a surface layer of 5 cm, an upper foundation layer of 10 cm, and a lower foundation layer of 10 cm. Regarding the Estimated Budget Plan (RAB), the MDPJ 2017 method amounts to Rp. 2,670,845,000 (Two Billion Six Hundred Seventy Million Eight Hundred Forty-Five Thousand Rupia. , while the AASHTO 1993 method requires a construction budget of Rp. 1,372,006,000 (One Billion Three Hundred Seventy-Two Million Six Thousand Rupia. Thus, the Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . MDPJ 2017 method incurs higher construction costs compared to the AASHTO 1993 method, with a cost difference of Rp. 1,298,839,000 (One Billion Two Hundred Ninety-Eight Million Eight Hundred Thirty-Nine Thousand Rupia. Keyword: AASHTO 1993. MDPJ 2017, flexible pavement . Pendahuluan Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan lalu lintas (UU RI Nomor 38 Tahun 2. Jalan sebagai prasarana transportasi memiliki peran penting dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. Perkembangan penduduk yang semakin meningkat harus diimbangi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang baik. Hal itu menjadikan peningkatan infrastruktur jalan secara terencana dan berkelanjutan perlu dilakukan agar pelayanan masyarakat dapat Salah satu peningkatan infrastruktur yang dilakukan yaitu perbaikan dan peningkatan jalan dengan perencanaan perkerasan jalan. Perencanaan ini dilakukan agar jalan dapat menahan dan menerima beban volume lalu lintas kendaraan dengan tebal perkerasan yang efektif dan efisien. Ruas jalan Kenteng Ae Bencorejo merupakan salah satu ruas jalan di Kabupaten Purworejo. Ruas jalan ini mengalami penurunan berupa retak, berlubang, dan bergelombang pada beberapa segmen jalannya. Hal ini karena volume kendaraan yang semakin meningkat sehingga kemampuan jalan dalam menahan beban mengalami penurunan. Kondisi jalan ini mengakibatkan terganggunya mobilisasi masyarakat yang kurang nyaman dan aman. Permasalahan tersebut yang melatarbelakangi penulis untuk merencanakan analisis tebal perkerasan jalan di segmen jalan yang kurang mantap atau mengalami kerusakan sehingga pelayanan jalan pada ruas ini dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan dan membandingkan tebal dan rencana anggaran biaya perencanaan perkerasan lentur dengan metode MDPJ 2017 dan AASHTO 1993. Penelitian Wijayanto, dkk . dilatarbelakangi meningkatnya volume kendaraan di Provinsi Jawa Tengah yang menyebabkan kondisi struktur jalan mengalami penurunan. Ruas Jalan Bandungsari-Salem merupakan jalan yang penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sehingga membutuhkan peningkatan perencanaan jalan yaitu perkerasan lenturnya. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tebal perkerasan konstruksi jalan lentur untuk umur rencana 20 tahun dengan menggunakan metode AASHTO dan MDP 2017, serta menghitung rencana anggaran Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Metode AASHTO 1993 dan Manual Desain Perkerasan Jalan 2017. Hasil dari penelitian ini adalah tebal perkerasan lentur untuk metode MDP 2017 yaitu lapis AC-WC 5cm . AC-BC 6 cm , dan AC Base 16 cm. CTB 15 cm dan lapis pondasi agregat kelas A 15 cm. Sedangkan untuk metode AASHTO 1993 diperoleh lapis permukaan menggunakan laston MS 590 dengan tebal 5cm, lapis pondasi atas menggunakan agregat Kelas A dengan tebal 15cm, serta lapis pondasi bawah menggunakan sirtu Kelas B dengan tebal 15cm. Dengan manual analisa harga satuan pekerjaan dan harga upah yang sama didapatkan rekapitulasi RAB untuk metode MDP 2017 adalah Rp 51. 000,00 sedangkan metode AASHTO yaitu Rp 000,00. Selisih biaya antara kedua metode sebesar Rp 27. Penelitian Hakim dan Farida . dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan infrastruktur jalan yang baik di Kabupaten Garut. Jawa Barat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketebalan lapis perkerasan lentur dengan menggunakan metode AASHTO 1993 dan Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 dan membandingkan metode mana yang lebih efisien. Hasil dari penelitian ini yaitu dengan metode AASHTO didapatkan hasil lapis permukaan 18cm, lapis pondasi atas 3cm dan lapis pondasi 34cm sedangkan dengan menggunakan metode MDP 2017 didapatkan hasil lapis permukaan 5cm, lapis pondasi atas 15cm dan lapis pondasi 15cm. Dari hasil tersebut metode yang lebih efisien yaitu metode MDP 2017 dengan total ketebalan 35cm daripada metode AASHTO dengan ketebalan 55cm. Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Penelitian Irianto dan Warayan . dilatarbelakangi oleh populasi yang semakin meningkat dan kesejahteraan masyarakat Papua yang masih rendah salah satunya pada fasilitas infrastrukturnya. Dalam upaya penyelesaian infrastruktur jalan tersebut, maka pemerintah membangun ruas-ruas jalan baru dan meningkatkan jalan yang telah ada untuk menghubungkan wilayah-wilayah di Papua. Hal tersebut yang melatarbelakangi perencanaan tebal perkerasan pada ruas jalan Pirime - Balingga yang ada di Kabupaten Lanny. Papua. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan konstruksi lapisan perkerasan lentur dengan umur rencana 20 tahun menggunakan metode MDPJ 2013 dan AASHTO 1993 pada ruas jalan Pirime Ae Balingga, menghitung volume galian dan timbunan pada ruas jalan Pirime Ae Balingga, serta menghitung anggaran biaya yang diperlukan, time schedule, dan kurva S untuk perencanaan tebal perkerasan dengan metode MDPJ 2013 dan AASHTO 1993 ruas jalan Pirime Ae Balingga. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah MDPJ 2013 dan AASHTO 1993. Hasil penelitian ini yaitu untuk tebal perkerasan menggunakan metode MDPJ 2013 dalah sebagai berikut: Lapis Permukaan (Surface Cours. : 10 Lapis Pondasi Atas (Base Cours. : -. Lapis Pondasi Bawah (Sub Base Cours. : 40 cm. Sedangkan tebal perkerasan metode AASHTO 1993 adalah sebagai berikut: Lapis Permukaan: 5 cm Lapen (Manua. Lapis Pondasi Atas: 10 cm Batu Pecah (Kelas A) Lapis Pondasi Bawah: 22 cm Sirtu/Pitrun (Kelas B). Dalam perhitungan volume galian dan timbunan di peroleh jumlah total volume galian 118. 241,25 m3 dan jumlah total volume timbunan sebesar 089,5 m3. Perencanaan jalan Pirime Ae Balingga. Kabupaten Lanny Jaya dengan panjang 7500 m memerlukan anggaran biaya konstruksi dengan menggunakan metode MDPJ 2013 didapat nilai sebesar Rp. 000,00 (Seratus Lima Puluh Tujuh Miliar Lima Juta Lima Ratus Delapan Puluh Ribu Rupia. sedangkan dengan menggunakan metode AASHTO 1993 didapat nilai sebesar Rp. 000,00 (Seratus Tiga Belas Miliar Enam Ratus Delapan Puluh Tujuh Juta Sembilan Ratus Tujuh Puluh Satu Ribu Rupia. , dan dikerjakan selama 7 bulan/168 hari. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kedua metode memiliki tahapan perencanaan yang jauh berbeda dan yang lebih efisien dan lebih baik dipakai untuk perencanaan tebal perkerasan pada ruas jalan Pirime Balingga adalah metode AASTHO 1993 karena tetap aman walaupun ketebalan yang diperoleh lebih kecil dan cukup ekonomis di Kabupaten Lanny Jaya yang kondisi perekonomiannya sangat tinggi. Metode Penelitian Lokasi penelitian adalah Ruas Jalan Kenteng Ae Bencorejo. Kecamatan Banyuurip. Kabupaten Purworejo, dari STA 7 000 sampai dengan STA 8 000. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data Data primer yang dibutuhkan berupa data tanah (CBR), data volume kendaraan (LHR) dan data dimensi Data sekunder yang dibutuhkan adalah data curah hujan dan data AHSP Kabupaten Purworejo. Data Ae data tersebut selanjutnya di analisis untuk mendapatkan tebal perkerasan lenturnya dengan menggunakan metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2017 dan AASHTO 1993. Hasil dari analisis tersebut berupa tebal setiap lapis perkerasan beserta struktur lapis perkerasan, selanjutnya dilakukan perhitungan rencana anggaran biaya yang dibutuhkan untuk membandingkan metode mana yang lebih efektif dari segi biaya konstruksinya. Hasil dan Pembahasan 1 Analisa Data Volume Lalu Lintas Pada penelitian ini data lalu lintas pada ruas jalan Kenteng Ae Bencorejo didapatkan dari hasil survey lalu lintas yang dilakukan selama 3 hari, dengan waktu pengamatan pada pukul 06. 00 dan 15. Perhitungan lalu-lintas harian rata-rata menggunakan persamaan dibawah ini: LHR = Jumlah lalu-lintas selama pengamatan Lamanya pengamatan . Hasil peritungan berdasrakan data survei pada Ruas Jalan Kenteng Ae Bencorejo, didapatkan data lalu lintas harian pada tahun 2024 dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Tabel 1. Lalu Lintas Harian Rata Ae rata Tahun 2024 Jenis kendaraan Tipe Volume Kendaraan Mobil pribadi Mobil penumpang Mobil pickup Truck Ringan 2 sumbu Truk Sedang 2 sumbu LHR 2024 . endaraan/har. Sumber: hasil perhitungan 2 Analisa Data Tanah Data CBR (California Bearing Rati. digunakan untuk mendapatkan nilai kekuatan tanah dasar di lapangan. Nilai CBR diperoleh dari data primer berupa pengujian DCP (Dynamic Cone Penetromete. di lapangan. Berdasarkan analisis data yang didapat di lapangan diperoleh nilai CBR titik pengamatan pada STA 7 000 s/d 8 000, yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Nilai CBR Titik Pengamatan STA CBR (%) 7 000 s/d 7 100 5,79 7 100 s/d 7 200 6,94 7 200 s/d 7 300 8,39 7 300 s/d 7 400 5,45 7 400 s/d 7 500 5,95 7 500 s/d 7 600 7,85 7 600 s/d 7 700 7,29 7 700 s/d 7 800 6,93 7 800 s/d 7 900 3,88 7 900 s/d 8 000 5,23 Sumber: hasil perhitungan 3 Analisa Metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2017 Data Perencanaan Nama ruas jalan : Ruas Jalan Kenteng - Bencorejo Umur rencana : 20 tahun Jalan dibuka tahun : 2025 Fungsi jalan : Lokal primer Hasil Perhitungan Berikut ini hasil dari penentuan parameter- parameter yang digunakan dalam metode MDPJ 2017: Pertumbuhan lalu lintas . : 1% Faktor distribusi arah (DD) : 0,5 Faktor distribusi lajur (DL) Beban Standart Ekivalen Beban ESA 4 : 8 x 105 = 800. ESA 5 : 526. 697,74 CBR Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Nilai CBR dari hasil DCP dilapangan disesuaikan kembali dengan faktor musim. Pengujian dilakukan pada musim transisi sehingga faktor penyesuaiannya yaitu 0,8. Perhitungan CBR desain Perhitungan CBR desain menggunakan persamaan sebagai berikut: Nilai CBR desain = (CBR % Hasil DCP) x faktor penyesuaian . Hasil CBR setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor musim dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Nilai CBR Desain STA CBR (%) CBR design 7 000 s/d 7 100 5,79 4,64 7 100 s/d 7 200 6,94 5,55 7 200 s/d 7 300 8,39 6,71 7 300 s/d 7 400 5,45 4,36 7 400 s/d 7 500 5,95 4,76 7 500 s/d 7 600 7,85 6,28 7 600 s/d 7 700 7,29 5,83 7 700 s/d 7 800 6,93 5,54 7 800 s/d 7 900 3,88 3,10 7 900 s/d 8 000 5,23 4,18 Sumber: hasil perhitungan Hasil perhitungan tebal perkerasan lentur metode MDPJ 2017 ruas Jalan Kenteng Ae Bencorejo untuk STA 7 000 s/d 8 000 berdasarkan nilai CBR masing-masing segmen, dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini: Tabel 4. Rekapitulasi Tebal Perkerasan Lentur Metode MDPJ 2017 Tebal Lapis Perkeraan Lentur . Desain Pondasi CBR AC WC AC BC LFA Stabilisasi Semen atau Lapis STA (%) Kelas A Material Timbunan Penopang 7 000 s/d 7 100 4,64 4 cm 6 cm 40 cm 7 100 s/d 7 200 5,55 4 cm 6 cm 40 cm Tidak perlu perbaikan 7 200 s/d 7 300 6,71 4 cm 6 cm 40 cm Tidak perlu perbaikan 7 300 s/d 7 400 4,36 4 cm 6 cm 40 cm 7 400 s/d 7 500 4,76 4 cm 6 cm 40 cm 7 500 s/d 7 600 6,28 4 cm 6 cm 40 cm Tidak perlu perbaikan 7 600 s/d 7 700 5,83 4 cm 6 cm 40 cm Tidak perlu perbaikan 7 700 s/d 7 800 5,54 4 cm 6 cm 40 cm Tidak perlu perbaikan 7 800 s/d 7 900 3,10 4 cm 6 cm 40 cm 7 900 s/d 8 000 4,18 4 cm 6 cm 40 cm Sumber: hasil perhitungan Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Gambar 1. Struktur Perkerasan Lentur MDPJ 2017 4 Analisa Metode AASHTO (American Association State of Highway and Transportation Official. 1993 Data Perencanaan Nama ruas jalan : Ruas Jalan Kenteng - Bencorejo Umur rencana : 20 tahun Jalan dibuka tahun : 2025 Fungsi jalan : Lokal primer Hasil Perhitungan Hasil perhitungan tebal perkerasan lentur dengan metode AASHTO 1993 pada ruas Kenteng Ae Bencorejo untuk STA 7 000 s/d 8 000 berdasarkan nilai CBR masing-masing segmen, dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rekapitulasi Tebal Perkerasan Lentur Metode AASHTO 1993 Lapis Pondasi Atas Lapis pondasi bawah CBR Lapis Permukaan No. STA Batu Pecah Kelas (A) Sirtu/Pitrun (Kelas A) (%) Laston CBR 100 CBR 70 7 000 s/d 7 100 5,79 5 cm 10 cm 10 cm 7 100 s/d 7 200 6,94 5 cm 10 cm 10 cm 7 200 s/d 7 300 8,39 5 cm 10 cm 10 cm 7 300 s/d 7 400 5,45 5 cm 10 cm 10 cm 7 400 s/d 7 500 5,95 5 cm 10 cm 10 cm 7 500 s/d 7 600 7,85 5 cm 10 cm 10 cm 7 600 s/d 7 700 7,29 5 cm 10 cm 10 cm 7 700 s/d 7 800 6,93 5 cm 10 cm 10 cm 7 800 s/d 7 900 3,88 5 cm 10 cm 10 cm 7 900 s/d 8 000 5,23 5 cm 10 cm 10 cm Sumber: hasil perhitungan 5,00 cm Laston MS 744 10,00 cm Batu Pecah (Kelas A) CBR Sirtu/ Pitrun (Kelas A) CBR 70 Tanah dasar CBR 8,45 10,00 cm Gambar 2. Struktur Perkerasan Lentur AASHTO 1993 Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . 5 Analisa Rencana Anggaran Biaya Perhitungan rencana anggaran biaya konstruksi perkerasan lentur adalah sebagai berikut. Panjang jalan = STA 0 000 s/d STA 1 000 . Lebar jalan = 3,5 meter RAB Perkerasan Lentur dengan Metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2017 . Perhitungan volume perkerasan lentur. Berikut ini contoh perhitungan volume pekerjaan perkerasan lentur metode MDPJ 2017 untuk STA 7 000 s/d STA 7 100. Tabel 6. Perhitungan Volume Perkerasan Lentur Metode MDPJ 2017 No. Uraian Panjang . Lebar . Tinggi . Koefisien AC Ae WC 100,00 4,00 0,04 2,32 AC - BC 100,00 4,00 0,06 2,32 Lapis Perekat Aspal Cair 100,00 4,00 0,15 Lapis Resap Pengikat Aspal Cair 100,00 4,00 0,40 LPA Badan Jalan 100,00 4,00 0,40 Kelas A Bahu Jalan 100,00 2 x 0,50 0,40 Badan Jalan . ntuk Timbunan stabilisasi tanah 100,00 4,00 0,10 pilihan dari sumber galian Bahu Jalan 100,00 2 x 0,50 0,10 Galian Tanah Badan Jalan 100,00 4,00 0,10 Penyiapan Badan Jalan 100,00 4,00 Sumber: hasil perhitungan Volume 37,12 ton 55,68 ton 60 liter 160 liter 160,00 m3 40,00 m3 40,00 m3 10,00 m3 40,00 m3 400,00 m2 . Harga Satuan Pekerjaan Perhitungan Rencana Anggaran Biaya berdasarkan rekapitulasi volume pekerjaan perkerasan terdapat pada Tabel 7. Harga satuan yang tercantum sudah termasuk material, sumber daya, dan alat. Tabel 7. Rencana Anggaran Biaya MDPJ 2017 Uraian Satuan Perkiraan Kuantitas Harga Satuan Pekerjaan Tanah Galian Biasa 220,00 Rp. Timbunan pilihan dari sumber galian 320,00 Rp. Penyiapan badan jalan 000,00 Rp. Pekerjaan Berbutir Lapisan Pondasi Agregat kelas A 000,00 Rp. Pekerjaan Aspal Lapis Resap Pengikat 600,00 Rp. Lapis Perekat 600,00 Rp. AC Ae WC (Laston lapis au. 371,20 Rp. AC Ae BC (Laston lapis antar. 556,80 Rp. Total Harga Pembulatan Terbilang: Dua Milyar Enam Ratus Tujuh Puluh Juta Delapan Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah Sumber: hasil perhitungan No. Jumlah Harga Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . RAB Perkerasan Lentur dengan AASHTO 1993 . Perhitungan volume perkerasan lentur. Berikut ini contoh perhitungan volume pekerjaan perkerasan lentur metode AASHTO 1993 untuk STA 7 000 s/d STA 7 100. Tabel 8. Perhitungan Volume Perkerasan Lentur Metode AASHTO 1993 Uraian Panjang . Lebar . Tinggi . Koefisien AC - WC 100,00 4,00 0,05 2,32 Lapis Perekat Aspal Cair 100,00 4,00 0,15 Lapis Resap Pengikat Aspal 100,00 4,00 0,40 Cair LPA Badan Jalan 100,00 4,00 0,10 Kelas A Bahu Jalan 100,00 2 x 0,50 0,10 LPA Badan Jalan 100,00 4,00 0,10 Kelas S Bahu Jalan 100,00 2 x 0,50 0,10 Timbunan untuk bahu jalan 100,00 4,00 0,05 kanan kiri . ,5 m 0,5 . Penyiapan Badan Jalan 100,00 4,00 Sumber: hasil perhitungan No. Volume 46,40 ton 60,00 liter 160,00 liter 40,00 m3 10,00 m3 40,00 m3 10,00 m3 5,00 m3 400,00 m2 . Harga Satuan Pekerjaan Perhitungan Rencana Anggaran Biaya berdasarkan rekapitulasi volume pekerjaan perkerasan terdapat pada Tabel 7. Harga satuan yang tercantum sudah termasuk material, sumber daya, dan alat. Tabel 9. Rencana Anggaran Biaya Metode AASHTO 1993 Uraian Satuan Perkiraan Kuantitas Harga Satuan Pekerjaan Tanah Timbunan pilihan dari sumber galian 50,00 Rp. Penyiapan badan jalan 000,00 Rp. Pekerjaan Berbutir Lapisan Pondasi Agregat kelas A 500,00 Rp. Lapisan Pondasi Agregat kelas S 500,00 Rp. Pekerjaan Aspal Lapis Resap Pengikat 1600,00 Rp. Lapis Perekat 600,00 Rp. AC Ae WC (Laston lapis au. 464,00 Rp. Total Harga Pembulatan Terbilang: Satu Milyar Tiga Ratus Enam Puluh Tiga Juta Dua Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Rupiah Sumber: hasil perhitungan No. Jumlah Harga Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 6 Pembahasan Hasil Penelitian Setelah dilakukan perhitungan tebal perkerasan menggunakan Manual Desain Perkerasan 2017 dan AASHTO 1993 diperoleh hasil yaitu tebal struktur perkerasan dan rencana anggaran biaya dari kedua metode tersebut. Untuk mempermudah dalam memahami hasil dari perhitungan perbandingan tebal perkerasan dan biaya konstruksi pekerjaan, maka akan dibahas perbandingan hasil sebagai berikut. Tebal Struktur Perkerasan Perhitungan Perkerasan Lentur Metode MDPJ 2017 Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Dari perhitungan tebal perkerasan lentur dengan MDPJ 2017 diperoleh ketebalan lapisan sebagai berikut: Lapis permukaan, menggunakan material Laston yang terdiri dari lapis aus AC Ae WC (Asphalt Concrete Wearing Cours. dan lapis antara AC Ae BC (Asphalt Concrete - Binder Cours. Tebal AC Ae WC yaitu 4,00 cm dan tebal AC Ae BC yaitu 6,00 cm. Lapis pondasi, menggunakan material LFA Kelas A dengan ketebalan 40,00 cm . Perbaikan tanah dasar berupa stabilisasi dengan menggunakan semen atau timbunan pilihan dengan ketabalan bervaariasi berdasarkan nilai CBR setiap STA yaitu 0. 00 cm sampai dengan 17,50 cm yang dapat dilihat pada tabel 44. Tebal keseluruhan lapis perkerasan lentur yaitu 50,00 cm . idak termasuk stabilisasi tana. Perhitungan Perkerasan Lentur Metode American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO) 1993 Dari perhitungan tebal perkerasan lentur dengan AASHTO 1993 diperoleh ketebalan lapisan sebagai berikut: Lapis permukaan, menggunakan material Laston AC- WC dengan tebal lapisan 5,00 cm, s . Lapis Pondasi Atas, menggunakan material Batu Pecah Kelas A CBR 100 dengan ketebalan lapisan 10,00 . Lapis pondasi bawah, menggunakan material Batu Pecah CBR 70 dengan ketebalan lapisan 10,00 . Tebal keseluruhan struktur perkerasan lentur yaitu 25,00 cm Perbedaan ketebalan perkerasan lentur yang dihasilkan oleh kedua metode tersebut terjadi karena adanya perbedaan parameter- parameter yang digunakan yang dapat dilihat pada tabel 46 yaitu seperti: Metode MDPJ 2017 menggunakan pendekatan yang lebih modern yaitu dengan menngunakan rumus yang terintregasi dengan tabel dan bagan desain. Untuk Metode AASHTO 1993 menggunakan pendekatan melalui perhitungan menggunakan rumus, tabel data, serta menggunakan nomogram dalam Berdasarkan parameter desain lalu lintas, pada MDPJ 2017 beban lalu lintas dikonversi ke beban standart menggunakan faktor ekivalen beban (VDF). Dimana nilai ESA ini digunakan untuk menentukan jenis perkerasan dan ketebalan lapisan yang disesuaikan dengan penggunaan bagan desain. Sedangkan untuk AASHTO 1993 perhitungan beban dikonversikan terhadap beban gandar standart dalam penentuan nilai ekivalen beban gandar kendaraan. Dimana nilai W18 ini digunakan untuk menentukan tebal minimum lapis perkerasan lenturnya pada lapisan beton aspal dan lapisan pondasi. Pada struktur tanah dasar. MDPJ 2017 disertai perbaikan tanah dasar berupa stabilisasi tanah dasarnya berupa semen atau material timbunan pilihan yang ditentukan berdasarkan nilai CBR tanah dasar dan nilai ESA 5. Sedangkan Metode AASHTO 1993 tidak disertai perbaikan tanah dasar. Tebal setiap lapisan pada metode AASHTO 1993 menggunakan tebal minimum untuk setiap lapisan sedangkan pada MDPJ 2017 tebal lapisan sesuai dengan tabel bagan desain yang digunakan. Sehingga selisih tebal antara metode AASHTO 1993 dan MDPJ 2017 tidak jauh berbeda yaitu untuk MDPJ 2017 AC Ae WC 4,00 cm. AC Ae BC 6 cm, dan LPA Kelas A adalah 40,00 cm. Untuk AASHTO 1993 AC AeWC 5,00 cm. Lapis pondasi atas 10,00 cm dan lapis pondasi bawah 10,00 cm. Selisih nilai ketebalan dua metode ini mempengaruhi nilai estimasi biaya yang direncanakan. Rencana Anggaran Biaya (RAB) RAB Metode Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 Tabel 10. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Metode MDPJ 2017 No. Divisi Uraian Pekerjaan Jumlah Harga Pekerjaan Pekerjaan Tanah Rp. Pekerjaan Berbutir Rp. Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . No. Divisi Uraian Pekerjaan Jumlah Harga Pekerjaan Pekerjaan Aspal Rp. Jumlah Harga Pekerjaan . ermasuk biaya umum dan Rp. Dibulatkan Rp. Terbilang: Dua Milyar Enam Ratus Tujuh Puluh Juta Delapan Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah Sumber: hasil perhitungan RAB Metode AASHTO 1993 Tabel 11. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Metode AASHTO 1993 No. Divisi Uraian Pekerjaan Jumlah Harga Pekerjaan Pekerjaan Tanah Rp. Pekerjaan Berbutir Rp. Pekerjaan Aspal Rp. Jumlah Harga Pekerjaan . ermasuk biaya umum dan Rp. Dibulatkan Rp. Terbilang: Satu Milyar Tiga Ratus Enam Puluh Tiga Juta Dua Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Rupiah Sumber: hasil perhitungan Perbandingan Biaya Konstruksi Metode MDPJ 2017 dan AASHTO 1993 Tabel 12. Perbandingan Rencana Anggaran Biaya No. Metode Panjang Jalan . Biaya Konstruksi MDPJ 2017 Rp. AASHTO 1993 Rp. Selisih Biaya Rp 1. Terbilang: Satu Milyar Tiga Ratus Tujuh Juta Enam Ratus Sembilan Ribu Rupiah Sumber: hasil perhitungan Tebal perkerasan lentur keseluruhan untuk MDPJ 2017 yaitu 50,00 cm . idak termasuk stabilisasi tanah dasarny. dan AASHTO 1993 adalah 25,00 cm. Pada perencanaan tebal lapis perkerasan lentur mempertimbangkan keefektifan dari segi biaya, pelaksanaan konstruksi, dan pemeliharaannya. Berdasarkan hasil dari rencana anggaran biayanya, maka perencaan tebal lapis perkerasan lentur dipilih menggunakan metode AASHTO 1993 dibandingkan dengan metode MDPJ 2017 karena nilai anggaran biayanya lebih rendah. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan perkerasan lentur menggunkan metode MDPJ 2017 dan AASHTO 1993 telah diperoleh kesimpulan yaitu: Tebal perkerasan lentur menggunakan metode MDPJ 2017 pada ruas jalan Kenteng Ae Bencorejo STA 7 000 sampai dengan STA 8 000 yaitu sebesar: AC Ae WC = 4 cm AC Ae BC = 6 cm LFA Kelas A = 40 cm Yunifa Rochma Riyani dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 1. Maret 2025 . Total tebal = 50 cm Sedangkan untuk tebal perkerasan menggunakan metode AASHTO 1993 pada ruas jalan Kenteng Ae Bencorejo STA 7 000 sampai dengan STA 8 000 yaitu: Lapis Permukaan = 5 cm Lapis Pondasi atas = 10 cm Lapis Pondasi bawah = 10 cm Total tebal = 25 cm Perencanaan jalan pada ruas jalan Kenteng Ae bencorejo untuk panjang segmen 1 km atau 1000 m menggunakan metode MDPJ 2017 memerlukan anggaran biaya konstruksi sebesar Rp. (Dua Milyar Enam Ratus Tujuh Puluh Juta Delapan Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupia. , sedangkan untuk metode AASHTO 1993 memerlukan anggaran biaya konstruksi sebesar Rp. 000 (Satu Milyar Tiga Ratus Enam Puluh Tiga Juta Dua Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Rupia. Metode MDPJ 2017 memerlukan biaya konstruksi yang lebih tinggi dibandingkan deengan metode AASHTO 1993 yaitu dengan selisih biaya sebesar Rp. 000 (Satu Milyar Tiga Ratus Tujuh Juta Enam Ratus Sembilan Ribu Rupia. Dari hasil penelitian, dapat disampaikan beberapa saran untuk perbaikan agar lebih efektif dan efisien antara Penelitian selanjutnya dapat disertai perencanaan desain bangunan pelengkap seperti sistem drainase jalan. Penelitian selanjutnya dapat membandingkan menggunakan metode analisis lain seperti Metode Bina Marga 2002 dengan AASHTO 1993 ataupun menggunakan metode terbaru yaitu Manual Desain Perkerasan Jalan 2024. Pada perencanaan selanjutnya dapat dilakukan CBR titik pengamatan dengan rentang 25 m atau 50 m, agar hasilnya lebih akurat. Penelitian selanjutnya dapat ditambahkan dengan biaya pemeliharaan untuk 5 tahun sekali atau 10 tahun Daftar Pustaka