Vol. 6, No. 1, Juni 2025, pp 101-109 https://doi.org/10.36590/jagri.v6i1.1525 http://salnesia.id/index.php/jagri jagri@salnesia.id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) ARTIKEL PENGABDIAN Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku melalui Edukasi Katarak pada Masyarakat Prasejahtera Tangerang Improving Knowledge and Behavior through Cataract Education in the Pre-Prosperous Community of Tangerang Abhimanggala Mardjuki1, Agraprana Larasandi1, Desi Hartati Silaen1, Regita Azahra Ramadani4* 1 Program Studi Optometri, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta Barat, Indonesia Abstract Cataracts are one of the main causes of blindness in Indonesia, especially in lower-middle class communities who have limited access to eye health information. Through an education program in the pre-prosperous communities of Tangerang, an intervention was carried out to improve participants' knowledge and behavior regarding cataracts. This program involved collaboration between eye specialists (ophthalmologists), as the main resource persons, and optometris health workers who actively participate. The methods used included providing interactive education by ophthalmologists regarding the causes, symptoms, prevention, and treatment of cataracts, which were complemented by discussion sessions and knowledge evaluation through pre-test and posttest questionnaires. A total of 80 participants filled out a questionnaire containing 10 closed questions before and after education. The results of the analysis showed an increase in the average score of 30,3%. All participants showed an increase in understanding after receiving education, marked by no scores below 67 on the post-test. This activity shows that an educational approach that was adjusted to the community's literacy level is effective in increasing awareness of eye health, especially in preventing blindness due to cataracts. Keywords: cataract education, pre-prosperous communities, optometriss Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) Address: Jl. Dr. Ratulangi No. 75A, Baju Bodoa, Maros Baru, Kab. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Submitted 14 April 2025 Revised 21 Juni 2025 Accepted 26 Juni 2025 Email: info@salnesia.id, jagri@salnesia.id Phone: +62 85255155883 101 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Abstrak Katarak merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di Indonesia, terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan mata. Melalui program edukasi di masyarakat prasejahtera Tangerang dilakukan langkah interaktif untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku peserta terkait katarak. Program ini melibatkan kerja sama antara dokter spesialis mata (oftalmologis), selaku narasumber utama, dengan tenaga kesehatan optometris yang turut berpartisipasi aktif. Metode yang digunakan antara lain dengan memberikan edukasi interaktif oleh oftalmologis mengenai penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan katarak, dilengkapi dengan sesi diskusi dan evaluasi pengetahuan melalui kuesioner pre-test dan post-test. Sebanyak 80 peserta mengisi kuesioner berisi 10 pertanyaan tertutup sebelum dan sesudah edukasi. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata sebesar 30,3%. Seluruh peserta menunjukkan peningkatan pemahaman setelah menerima edukasi, ditandai dengan tidak adanya skor di bawah 67 pada post-test. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang disesuaikan dengan tingkat literasi masyarakat efektif dalam meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mata, terutama dalam mencegah kebutaan akibat katarak. Kata Kunci: edukasi katarak, masyarakat prasejahtera, optometris *Penulis Korespondensi: Regita Azahra Ramadani, email: regita.172022007@civitas.ukrida.ac.id This is an open access article under the CC–BY license Highlight: • • Program edukasi yang melibatkan dokter spesialis mata dan optometris menunjukkan peningkatan skor rata-rata peserta sebesar 30,3%, dari 68,3 (pretest) menjadi 89 (post-test). Semua peserta mencapai skor post-test minimal 67, menunjukkan peningkatan pemahaman secara menyeluruh. Selain peningkatan pengetahuan, peserta menunjukkan perubahan perilaku positif, seperti keinginan memeriksakan mata secara rutin dan mengajak keluarga ikut serta. Pembagian kacamata baca dan pemeriksaan langsung memperkuat dampak edukasi dalam konteks komunitas prasejahtera yang minim akses layanan kesehatan mata. PENDAHULUAN Katarak merupakan gangguan penglihatan yang menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di dunia. Berdasarkan data global tahun 2020, jumlah penderita katarak diperkirakan mencapai 100 juta orang, dengan sekitar 17 juta di antaranya mengalami kebutaan total akibat kondisi tersebut. Katarak terjadi ketika lensa mata mengalami kekeruhan, sehingga mengganggu proses pembiasan cahaya yang masuk ke retina. Penderita katarak umumnya mengalami gejala awal berupa penglihatan kabur seperti berkabut, sensitivitas terhadap cahaya, serta penurunan tajam penglihatan yang berlangsung secara progresif. Gangguan ini lebih sering terjadi pada populasi lanjut usia, tetapi faktor risiko lain seperti paparan sinar ultraviolet, merokok, penyakit metabolik (seperti diabetes), dan riwayat trauma mata juga turut berperan dalam mempercepat munculnya katarak (Sari et al., 2018; Zebua et al., 2022). Prosesnya yang perlahan dan tanpa gejala berat di awal menyebabkan banyak penderita tidak menyadari kondisi ini 102 Mardjuki1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 hingga memasuki stadium lanjut, sehingga penanganannya pun kerap tertunda (Stefanie, 2018). Di Indonesia, katarak merupakan penyebab sekitar 80% dari total kasus kebutaan, dengan jumlah penderita mencapai 1,6 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan besar dalam upaya promotif dan preventif terkait kesehatan mata, terutama dalam hal penyebaran informasi yang memadai kepada masyarakat. Banyak masyarakat yang belum memahami gejala awal katarak serta cara pencegahannya, bahkan masih terdapat stigma bahwa pengobatan katarak, seperti operasi, hanya bisa dilakukan oleh kalangan menengah ke atas karena biayanya yang dianggap mahal (Awopi et al., 2016). Selain dampak terhadap penglihatan, katarak juga berdampak pada penurunan kualitas hidup penderita (Karimah et al., 2023). Penderita menjadi kurang mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari, tergantung pada bantuan orang lain, dan rentan mengalami stres atau depresi akibat ketidakmampuan tersebut (Detty et al., 2021). Kurangnya edukasi tentang katarak menyebabkan sebagian besar masyarakat tidak memahami tanda dan gejala awal katarak, serta tidak terbiasa melakukan tindakan pencegahan seperti melindungi mata dari paparan sinar matahari atau melakukan pemeriksaan mata secara berkala (Yurangga et al., 2022). Edukasi dan promosi kesehatan sejak dini berperan penting dalam menurunkan angka kejadian katarak di masyarakat. Edukasi mengenai faktor risiko, tanda dan gejala awal, serta pentingnya pemeriksaan mata secara berkala dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata. Edukasi ini sangat penting diberikan terutama kepada kelompok usia 20 sampai 40 tahun sebagai bentuk pencegahan dini. Selain itu, pengetahuan yang memadai dapat mendorong individu untuk mencari pengobatan sedini mungkin, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan dan angka kebutaan akibat katarak dapat diminimalkan (Fibrian et al., 2023). Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan bersama mitra Bimbel Sahabat Kita, sebuah komunitas belajar yang melayani anak-anak dari keluarga prasejahtera di wilayah Jakarta dan Tangerang. Mayoritas orang tua dari anak-anak ini bekerja sebagai buruh harian, pemulung, atau pekerja informal lainnya dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan kesehatan yang rendah. Kondisi sosial ekonomi yang terbatas membuat kelompok ini sangat rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan penglihatan seperti katarak. Berdasarkan kenyataan tersebut, pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi seputar katarak secara langsung kepada kelompok sasaran, meliputi penjelasan mengenai gejala, pencegahan, serta pentingnya deteksi dini. Selain edukasi, kegiatan ini juga dirancang untuk memberikan pemeriksaan mata dan pembagian kacamata baca gratis bagi peserta yang membutuhkan. Diharapkan kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga mengubah perilaku menjadi lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mata serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih peduli terhadap isu kebutaan akibat katarak, terutama pada kelompok masyarakat prasejahtera yang selama ini kurang terjangkau oleh program kesehatan formal. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 Desember 2024, pukul 09.30-12.00 WIB, bertempat di Gedung Pertemuan 9 Saudara, yang berlokasi di Jl. Perancis No. 88, Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten. Peserta dalam kegiatan ini dengan jumlah 80 peserta yang terdiri dari orang tua anakanak Bimbel Sahabat Kita yang berasal dari lima wilayah berbeda, yaitu Rawa Bokor, 103 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Rawa Kompeni, Teluk Naga, Tanjung Burung, dan Mangga Besar Jakarta. Secara umum, latar belakang peserta didominasi oleh keluarga prasejahtera dengan pekerjaan informal seperti buruh harian dan pemulung, serta tingkat pendidikan yang relatif rendah. Kegiatan ini dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dasar dan kesadaran peserta tentang katarak serta mendorong perubahan perilaku dalam menjaga kesehatan mata. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam dua bentuk utama, yaitu penyuluhan edukatif mengenai katarak dan pemeriksaan mata secara langsung. Penyuluhan dilakukan secara interaktif oleh dr. Kristian Goenawan Sp.M dengan menggunakan media verbal dan visual yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta. Materi penyuluhan mencakup pengenalan tentang apa itu katarak, penyebab dan faktor risikonya, gejala yang harus diwaspadai, serta cara penanganan yang paling efektif. Dalam penyuluhan ini ditekankan pula pentingnya deteksi dini, pemeriksaan mata secara rutin, dan menghilangkan stigma seputar operasi katarak. Untuk mendukung proses pembelajaran peserta dan mengukur tingkat efektivitas penyampaian materi, digunakan metode pre-test dan post-test menggunakan kuesioner sederhana yang disesuaikan dengan tingkat literasi peserta. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan edukasi katarak kepada 80 peserta dari masyarakat prasejahtera di Tangerang telah dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan pemberian kuesioner pretest dan post-test. Tujuan penyuluhan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman dasar masyarakat terhadap penyakit katarak. Materi penyuluhan disampaikan secara komunikatif dan visual mengenai pemahaman dasar terhadap penyakit katarak. Seluruh peserta mengikuti kegiatan penyuluhan ini secara aktif. Untuk mengukur pengetahuan peserta, digunakan kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan tertutup dengan pilihan jawaban “Ya” dan “Tidak” yang dirancang secara sederhana agar dapat diakses dan dipahami oleh peserta dengan berbagai latar belakang pendidikan, termasuk mereka yang berlatar pendidikan rendah. Pertanyaan dalam kuesioner meliputi berbagai aspek, antara lain definisi katarak, penyebab, gejala umum, efektivitas penggunaan kacamata dan tindakan operasi, kebiasaan pemeriksaan mata, pemahaman mengenai faktor risiko, serta aksesibilitas informasi kesehatan mata di lingkungannya. Sebelum penyuluhan dimulai, peserta diminta untuk mengisi pre-test untuk mengukur pengetahuan awal tentang katarak. Setelah sesi penyuluhan selesai, peserta diminta kembali mengisi post-test dengan kuesioner yang sama untuk mengevaluasi pemahaman mereka setelah mendapatkan materi penyuluhan. 104 Mardjuki1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Gambar 1. Pemberian edukasi terkait katarak Setelah semua data dikumpulkan, dilakukan analisis perbandingan antara hasil pretest dan post-test. Analisis ini dilakukan dengan membandingkan jawaban aktual subjek terhadap kunci jawaban yang telah ditentukan berdasarkan materi edukasi. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam mengevaluasi seberapa besar pengaruh penyuluhan terhadap perubahan pengetahuan dan sikap peserta terhadap katarak. Hasil pre-test menunjukkan bahwa mayoritas peserta masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai katarak. Sebagian besar tidak mengetahui gejala awal katarak, metode penanganan, serta solusi efektif yang tersedia untuk mengatasi kebutaan akibat katarak. Berikut adalah hasil skor rata-rata dari pre-test dan post-test yang disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Hasil rata-rata skor pre-test dan post-test Skor Hasil Pre-Test Hasil Post-Test Mean 68,3 89 Minimum 17 67 Maximum 100 100 Tabel 1 memperlihatkan perbandingan rata-rata skor antara pre-test dan post-test. Rata-rata skor pre-test peserta adalah 68,3 sedangkan pada post-test meningkat menjadi 89. Kenaikan rata-rata sebesar 20,7 menggambarkan peningkatan pemahaman yang signifikan setelah edukasi diberikan. Skor 17,00 33,00 50,00 67,00 83,00 100 Total Tabel 2. Hasil pre-test Frekuensi Subjek Persentase (%) Kumulatif Persentase (%) 6 4 14 18 28 10 80 7,5% 5,0% 17,5% 22,5% 35,0% 12,5% 100% 7,5% 12,5% 30% 52,5% 87,5% 100% Tabel 2 menyajikan distribusi frekuensi skor pre-test. (Sebanyak 6 subjek (7,5%) memperoleh skor sangat rendah (17), dari keenam peserta, mayoritas tidak mengetahui 105 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 bahwa katarak merupakan kekeruhan pada lensa mata serta tidak mengetahui tindakan atau solusi yang sesuai jika mengalami gangguan penglihatan yang disebabkan oleh katarak. Setelah diberikan penyuluhan, rata-rata skor dari kelompok tersebut naik menjadi 80) sedangkan 10 subjek (12,5%) berhasil menjawab dengan benar seluruh pertanyaan (100) dan rincian bagi 6 orang subjek pre-test memiliki nilai terendah, mengalami peningkatan menjadi 67 (sebanyak 2 orang), nilai 83 (sebanyak 3 orang) dan nilai 100 (sebanyak satu orang). Skor terbanyak berada pada rentang 83 (35%) dan 67 (22,5%), menandakan bahwa sebagian peserta memiliki pengetahuan yang cukup mengenai katarak sebelum penyuluhan dilakukan. Skor 67 83 100 Total Tabel 3. Hasil post-test Frekuensi Subjek Persentase (%) 8 10,0% 36 45,0% 36 45,0% 80 100% Kumulatif Persentase (%) 10% 55% 100% Tabel 3 menunjukkan peningkatan distribusi skor setelah penyuluhan. Sebanyak 36 subjek (45%) berhasil menjawab seluruh pertanyaan dengan benar. Jumlah subjek yang mendapatkan skor 83 juga mencapai 45%, sedangkan yang mendapatkan skor 67 sebanyak 10%. Tidak terdapat subjek dengan skor di bawah 67, yang mengindikasikan seluruh peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah penyuluhan. Gambar 2. Pembagian kuesioner pre-test dan post-test Peningkatan skor secara menyeluruh mengindikasikan bahwa metode edukasi yang diberikan cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai katarak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Chabibah et al., 2023), yang menunjukkan bahwa metode edukasi berbasis komunikasi visual dan verbal yang disesuaikan dengan latar belakang peserta, mampu meningkatkan pemahaman secara signifikan, terutama pada kelompok dengan tingkat literasi kesehatan rendah. Keberhasilan penyuluhan ditunjang oleh penyampaian materi dengan bahasa yang sederhana, penggunaan contoh visual, dan interaksi langsung menjadi kunci keberhasilan program ini. Studi serupa oleh Eriyani et al. (2024); Sihotang (2024) juga menegaskan bahwa penyuluhan kesehatan yang diberikan secara verbal dan visual kepada komunitas rentan dapat secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan untuk melakukan tindakan preventif. Temuan ini diperkuat dengan hasil pengabdian oleh Yasnani et al. (2024), yang menunjukkan 106 Mardjuki1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 bahwa penyuluhan kesehatan mata secara langsung mampu meningkatkan pengetahuan peserta secara signifikan. Selain itu, edukasi berbasis komunitas telah terbukti meningkatkan outcome kesehatan masyarakat secara lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan berbasis klinik. Efektivitas pendekatan edukatif juga ditegaskan dalam penelitian oleh Haris et al. (2019), yang menunjukkan bahwa pemberian penyuluhan secara tatap muka mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit mata hingga dua kali lipat dibandingkan metode pasif seperti poster atau leaflet. Penelitian lain oleh Wati et al. (2023) membuktikan bahwa penyuluhan katarak berbasis komunitas mampu mempengaruhi keputusan masyarakat untuk melakukan skrining atau rujukan ke fasilitas kesehatan. Edukasi yang diberikan kepada komunitas prasejahtera juga berdampak pada pengurangan stigma terhadap tindakan medis, seperti operasi, yang semula dianggap menakutkan atau mahal. Selain itu, efektivitas edukasi katarak bergantung pada keaktifan fasilitator dalam menciptakan ruang diskusi yang nyaman (Mufliha et al., 2024). Temuan ini menegaskan bahwa edukasi berbasis pendekatan komunikatif dan interpersonal masih menjadi metode yang relevan dan sangat diperlukan, khususnya untuk kelompok dengan literasi kesehatan rendah. Oleh karena itu, kolaborasi antara tenaga optometris dan komunitas lokal perlu terus dikembangkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sadar dan siap dalam menghadapi risiko kebutaan akibat katarak. Selain penyuluhan dan pengisian kuesioner, peserta juga mengikuti pemeriksaan mata oleh tim optometris serta menerima kacamata baca gratis apabila ditemukan kebutuhan koreksi penglihatan dekat. Kegiatan ini juga memiliki dampak positif terhadap perubahan sikap peserta terhadap perilaku kesehatan. Berdasarkan observasi pasca kegiatan, sebagian besar peserta antusias memeriksakan mata secara berkala dan mengajak anggota keluarga untuk melakukan hal yang sama. Hal ini sejalan dengan hasil kuesioner yang menunjukkan pemahaman baru tentang pentingnya deteksi dini katarak dan keyakinan bahwa operasi merupakan solusi efektif dan terjangkau, apalagi jika difasilitasi oleh program sosial. Hal ini juga diperlihatkan dalam hasil pengabdian Mahayani et al. (2025), yang menunjukkan bahwa peserta penyuluhan kesehatan mata mengalami peningkatan kesadaran dan menjadi lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mata, termasuk kesediaan untuk melakukan deteksi dini dan menerapkan langkah pencegahan secara mandiri. Meskipun demikian, kegiatan ini masih memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh kelompok masyarakat prasejahtera yang lebih luas. Kegiatan edukasi hanya dihadiri oleh perwakilan dari lima wilayah binaan, sehingga potensi penyebaran informasi lanjutan sangat bergantung pada inisiatif individu peserta. Ke depan, kolaborasi lebih luas dengan pihak RT, RW, puskesmas, atau lembaga sosial lainnya diperlukan untuk memperluas cakupan dan kesinambungan edukasi kesehatan mata di komunitas. Evaluasi jangka panjang juga dibutuhkan untuk menilai keberlanjutan perubahan perilaku masyarakat setelah edukasi dilakukan. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan bersama mitra Bimbel Sahabat Kita di Tangerang berhasil menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan pengetahuan peserta, terutama ibu rumah tangga, mengenai katarak dan pentingnya menjaga kesehatan mata. Edukasi yang disampaikan secara sederhana dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta terbukti efektif, terlihat dari peningkatan skor post-test dibandingkan pre-test. Ke depan, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan 107 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 melibatkan tenaga kesehatan, seperti optometris, serta memperluas jangkauan edukasi dan layanan ke komunitas lain. Program edukasi katarak disarankan menjadi bagian dari layanan kesehatan komunitas untuk mencegah kebutaan akibat katarak. Mengingat besarnya dampak katarak terhadap kelompok rentan, intervensi berbasis edukasi dan pemeriksaan langsung seperti ini sangat penting untuk terus di dorong sebagai strategi preventif di masyarakat. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Krida Wacana yang telah memberikan dukungan pendanaan sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat terlaksana. Bantuan dana tersebut sangat berarti dalam mendukung pelaksanaan edukasi, penyuluhan, serta pemeriksaan kesehatan mata bagi masyarakat prasejahtera di wilayah Tangerang. Apresiasi juga disampaikan kepada perusahaan New Vision Generation (NVG) yang telah berkontribusi melalui pemberian kacamata baca gratis bagi masyarakat prasejahtera Tangerang. Bantuan ini sangat membantu dalam mendukung proses edukasi katarak dan meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan mata, terutama bagi masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan dekat akibat usia. Dukungan dari NVG memperkuat dampak kegiatan ini dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan kebutaan akibat katarak. DAFTAR PUSTAKA Awopi, G., Wahyuni, T.D., Sulasmini, S., 2016. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Katarak di Poliklinik Mata Puskesmas Dau Kabupaten Malang, Jurnal Ilmiah Keperawatan 1(1), 7-11. https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/fikes/article/view/393 Chabibah, N., Rachmawati, D.S., Faridah, F., Mayasari, A.C., Anggoro, S.D., Prasetya, T.A., 2023. Edukasi tentang Deteksi Dini Katarak pada Nelayan Tradisional sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Hidup. Indonesian Journal of Community Dedication in Health 3(2), 72-78. https://doi.org/10.30587/ijcdh.v3i02.6120 Detty, A.U., Artini, I., Yulian, V.R., 2021. Karakteristik Faktor Risiko Penderita Katarak. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada 10(1), 12-17. https://media.neliti.com/media/publications/464739-characteristics-of-riskfactors-for-cata-ece24b29.pdf Eriyani, E., Apriani, R., Widyawati, W., Sihotang, H., Nurhaida, N., 2024. Pendidikan Kesehatan tentang Katarak di Posyandu Lansia Desa Medan Estate Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Prosiding Seminar Nasional ADPI Mengabdi untuk Negri 5(1), 240-249. https://publikasiadpiindonesia.id/semnas/index.php/semnas/article/view/128 Fibrian, K.C., Suryawati, C., Suhartono, S., 2023. Peran Komunikasi dan Edukasi Pra Operatif terhadap Kepuasan Pasien Pasca Operasi Katarak: Literature Review. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia 6(2), 222-231. https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/MPPKI/article/view/3090 Haris, H., Aris, M., Mulyadi, M., 2019. Peningkatan Pengetahuan Lanjut Usia melalui Pendidikan Kesehatan dengan Menggunakan Media Power Point. Media Karya 108 Mardjuki1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Kesehatan 2(2), 164-177. https://jurnal.unpad.ac.id/mkk/article/view/22472 Karimah, K., Anas, K., Arsyad, M., 2023. Hubungan Katarak dengan Diabetes Melitus di Poliklinik Mata RS Yarsi Periode Tahun 2021-2022 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam. Jurnal Ilmiah Indonesia 3(3), 260-265. https://cerdika.publikasiindonesia.id/index.php/cerdika/article/view/551 Mahayani, N.M.W., Suastari, N.M.P., Mahesuari, A.G.C., 2025. Penyuluhan Kesehatan Mata sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat di Banjar Jagatamu, Desa Meliling, Tabanan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 4(8), 1399-1404. https://bajangjournal.com/index.php/J-ABDI/article/view/9325 Mufliha, A.N., Sabila, N.T., Irawati, N.R.A., Kusumawardhany, R., Agnia, E.B., Dharianta, R., 2024. Pengabdian Masyarakat Peningkatan Pemahaman Masyarakat tentang Katarak Menggunakan Metode Demonstrasi di RS Muhammadiyah Lamongan. Jurnal Medis Umum 1(2), 1-8. https://doi.org/10.30651/jmu.v2i02.23050 Sari, A.D., Masriadi, M., Arman, A., 2018. Faktor Risiko Kejadian Katarak pada Pasien Pria Usia 40-55 Tahun di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Jurnal Kesehatan 1(2), 61-67. https://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/645 Stefanie, F., 2018. Prevalensi Masalah Kesehatan Mata di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk. Jurnal Biomedika dan Kesehatan 1(2), 140-144. https://jbiomedkes.org/index.php/jbk/article/view/45 Wati, L., Atrie, U.Y., Widiastuti, L., Siagian, Y., Sitindaon, S.H., Nirnasari, M., Fadilah, U., 2023. Pencegahan Katarak dengan Penyuluhan Kesehatan dan Deteksi Dini Kejadian Katarak pada Nelayan Pesisir Daerah Kawal Pantai Bintan Kepulauan Riau. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia 3(4), 1117–1124. https://doi.org/10.54082/jamsi.761 Yasnani, Y., Suhadi, S., Zainuddin, A., Kamrin, K., Pratiwi, A.D., Nirmala, F., 2024. Peningkatan Pengetahuan dan Pemeriksaan Kesehatan Mata di SDN 2 Toronipa Kelurahan Toronipa, Kabupaten Konawe. Jurnal Pengabdian Meambo 3(2), 106111. https://doi.org/10.56742/jpm.v3i2.97 Yurangga, G.I., Budiana, M.Y., Simarmata, M.M., 2022. Sosialisasi Menjaga Kesehatan Mata untuk Meningkatkan Pengetahuan tentang Katarak pada Lansia di Sarangan. Jurnal Mata Optik 3(3), 25-29. https://ejournal.arogapopin.ac.id/index.php/mataoptik/article/view/97 Zebua, S., Pangaribuan, R., Tarigan, J., 2022. Pendidikan Kesehatan pada Lansia dengan Persepsi Sensorik Gangguan Penglihatan: Katarak di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai. Malahayati Health Student Journal 2(1), 11-17. https://doi.org/10.33024/mahesa.v2i1.5757 109