Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 4 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa (Studi Kasus di MI Al-Khoeriyah Bogo. Willa Putri*. Muchamad Arif Kurniawan. Nuraini Institut Ummul Quro Al-Islami. Bogor. Indonesia *willa. putri@iuqibogor. Abstract The background of this research is based on the importance of the teacher's role in developing students' character as part of the national education goals, especially in Islamic schools. The main objective of this research is to explore the strategies applied by teachers in developing studentsAo character and their impact on studentsAo moral and social development. The research used a qualitative method with a case study design, involving in-depth interviews, observation of classroom and extracurricular activities, and document analysis. Data were collected through direct interaction with teachers and students to understand how character is developed in that school context. The results show that teachers at MI Al-Khoeriyah Bogor adopt a holistic approach in implementing character education. Ethical, moral and spiritual values are integrated thoroughly in various school activities. The school successfully combines Islamic values with a character development programme that includes aspects of religion, honesty, social care, discipline, nationalism, mutual cooperation, independence, responsibility, tolerance and Character education is implemented through various approaches such as daily habituation, routine activities, and integration in formal learning. In addition, students are actively involved in activities that support character education. conclusion, the character education approach at MI Al-Khoeriyah Bogor has been effective in creating a conducive learning environment for students' character Through the application of Islamic values and relevant activities, the school prepares students to become individuals with integrity, responsibility and care for society, in accordance with the objectives of national education. Keywords: Teacher's Role. Character Building. Students Abstrak Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya peran guru dalam pengembangan karakter siswa sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional, khususnya di sekolah-sekolah Islam. Tujuan utama penelitian ini adalah mengeksplorasi strategi yang diterapkan oleh guru dalam pengembangan karakter siswa serta dampaknya terhadap perkembangan moral dan sosial siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan wawancara mendalam, observasi kegiatan di kelas dan ekstrakurikuler, serta analisis dokumen. Data dikumpulkan melalui interaksi langsung dengan guru dan siswa untuk memahami bagaimana karakter dikembangkan dalam konteks sekolah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di MI Al-Khoeriyah Bogor mengadopsi pendekatan holistik dalam penerapan pendidikan karakter. Nilai-nilai etika, moral, dan spiritual diintegrasikan secara menyeluruh dalam berbagai aktivitas sekolah. Sekolah ini berhasil menggabungkan nilainilai keislaman dengan program pengembangan karakter yang mencakup aspek religius, kejujuran, kepedulian sosial, kedisiplinan, nasionalisme, gotong royong, kemandirian, tanggung jawab, toleransi, dan kasih sayang. Pendidikan karakter diterapkan melalui berbagai pendekatan seperti pembiasaan harian, kegiatan rutin, dan integrasi dalam https://jayapanguspress. org/index. php/metta pembelajaran formal. Selain itu, siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung perkembangan karakter mereka. Kesimpulannya, pendekatan pendidikan karakter di MI Al-Khoeriyah Bogor telah efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk perkembangan karakter siswa. Melalui penerapan nilai-nilai keislaman dan kegiatan yang relevan, sekolah ini mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan peduli terhadap masyarakat, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Kata Kunci: Peran Guru. Pembentukan Karakter. Siswa Pendahuluan Pendidikan karakter fokus utama dalam dunia pendidikan saat ini, terutama dengan adanya tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat (Muslich, 2. Peran guru sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Guru tidak hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan materi akademis (Judrah et al. , 2. , tetapi melalui interaksi sehari-hari guru juga dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang mendasar bagi perkembangan pribadi siswa (Arifudin & Syahid, 2. Karakter merupakan kualitas batiniah yang menentukan sikap dan perilaku seseorang. Pendidikan karakter di sekolah harus mencakup berbagai aspek seperti tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, kerjasama, serta rasa hormat terhadap orang lain (Julaeha, 2. Guru memiliki peran sentral sebagai fasilitator, teladan, dan mentor dalam proses pembentukan karakter siswa (Siswanto et al. , 2. Guru harus menjadi role model yang sesuai dengan nilai-nilai karakter anak. Jika guru mampu menunjukkan perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut, maka siswa cenderung meniru dan mengadopsi sikap yang sama (Usan & Suyadi, 2. Selain itu, guru juga berperan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pengembangan karakter (Rozak, 2. Lingkungan yang kondusif, di mana siswa merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang secara sosial dan emosional, akan sangat membantu dalam membangun karakter positif (Jatmikowati, 2. Pembelajaran yang interaktif dan inklusif, di mana siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, juga mendorong pengembangan karakter yang lebih baik (Lickona, 2. Realita saat ini, bahwa guru menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tugas Salah satu tantangan utama adalah pengaruh media dan teknologi yang semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari siswa (Mahardika, 2. Paparan terhadap konten negatif dari internet, media sosial, dan televisi dapat memengaruhi sikap dan perilaku siswa, sehingga menyulitkan guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang positif (Boiliu. Boiliu & Sianipar, 2. Secara ontologis, pembentukan karakter menjadi salah satu fokus utama dalam pendidikan modern seperti saat ini (Debora & Han, 2. Hal ini dapat dilihat tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur (Hakim & Darojat, 2. Oleh sebab itu, guru diharapkan menjadi agen utama dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa. Pendidikan karakter yang efektif di Indonesia juga tidak terlepas dari pendekatan holistik yang melibatkan berbagai komponen pendidikan, seperti kurikulum, metode pengajaran, serta keterlibatan masyarakat dan keluarga (Latifah, 2. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah harus mampu mengembangkan kurikulum yang memadukan aspek akademis dengan pendidikan moral dan sosial, sehingga siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai baik melalui berbagai aktivitas https://jayapanguspress. org/index. php/metta pembelajaran (Mustafa, 2. Dalam hal ini, pendekatan yang berpusat pada siswa menjadi sangat penting, di mana guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan nilai-nilai moral secara mandiri melalui pengalaman langsung (Kurniawan. Pirman & Rosmiyati, 2. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa ini juga sejalan dengan teori konstruktivisme, di mana siswa tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi aktif dalam proses pembelajaran melalui interaksi sosial dan pengalaman pribadi (Sugrah, 2. Hal ini memungkinkan siswa untuk membentuk pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai karakter yang diajarkan, seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kerja sama, karena mereka belajar menerapkannya dalam konteks nyata. Selain itu, penting bagi guru untuk memberikan contoh yang baik, karena keteladanan merupakan salah satu metode paling efektif dalam pendidikan karakter (Virdi. Khotimah & Dewi, 2. Lebih lanjut, keterlibatan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran yang signifikan dalam memperkuat nilai-nilai karakter yang diajarkan di Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas dapat menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dan mendukung pengembangan karakter siswa di dalam maupun di luar sekolah (Subasman. Widiantari & Aliyyah, 2. Dengan demikian, pendidikan karakter yang holistik dan terintegrasi akan lebih efektif dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan moral yang baik (Rasyid et al. , 2. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Palunga dan Marzuki . dalam studi berjudul Peran Guru dalam Pengembangan Karakter Peserta Didik di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Depok Sleman, peran guru sebagai teladan dalam membangun karakter siswa di SMPN 2 Depok Sleman diwujudkan melalui tindakan dan kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai karakter positif. Perilaku, sikap, dan ucapan guru mencerminkan standar seperti sopan santun, disiplin, tanggung jawab, toleransi, kejujuran, dan kepedulian terhadap siswa dan orang lain. Contoh dan berbagai aktivitas yang mendukung pendidikan karakter mendukung upaya untuk membangun karakter. Contohnya termasuk program penyambutan siswa, tadarus Al-Qur'an, salat dhuha, manasik haji, dan hari-hari besar Ini juga mencakup kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga dan pramuka. Sebuah studi yang ditulis oleh Muswara dan Zalnur pada tahun 2019 berjudul Design of Character Building for Learners in Boarding Schools in West Sumatera menemukan bahwa lembaga pendidikan menerapkan tujuh nilai karakter utama religiusitas, rasa ingin tahu, disiplin, rasa percaya diri, tanggung jawab, kemandirian, dan Dua belas aktivitas menggabungkan nilai-nilai karakter ini termasuk tahsin dan tahfidz Al-Qur'an, ibadah, shalat berjamaah, klinik belajar, pelatihan dan bimbingan, program komunikasi di asrama dalam bahasa Arab dan Inggris, motivasi, olahraga bersama, dan gotong royong dan aktivitas sehari-hari. Sekolah telah menggunakan desain pendidikan karakter untuk mengubah perilaku siswa ke arah yang lebih konstruktif. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sokip et al. , . Pembangunan Karakter dalam Komunitas Islam Sebuah Studi Kasus dari Keluarga Muslim di Tulungagung. Jawa Timur. Indonesia, orang tua membutuhkan keterampilan yang tepat untuk mendidik anakanak mereka untuk membangun kepribadian yang baik. Tujuan pembentukan karakter ini adalah untuk membentuk orang dewasa yang memiliki kepribadian yang positif dan menjadi warga negara yang baik. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa orang tua sangat penting dalam membangun karakter Islami pada anak-anak mereka. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bagaimana penggabungan nilai-nilai Islam dan global, jika orang tua memiliki kemampuan yang diperlukan, dapat mengembangkan karakter orang dewasa yang saleh, hamba Allah yang baik, dan bertanggung jawab atas perilaku dan Mereka memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan ajaran Islam seperti, terhormat, kreatif, toleran, pekerja keras, dapat dipercaya, https://jayapanguspress. org/index. php/metta menghargai lingkungan, disiplin, efisien, efektif, tekun, terampil, setia, kasih sayang, dan kemampuan untuk membuat keputusan bersama. Secara analitis, ketiga penelitian relevan di atas menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa membutuhkan peran aktif dari guru, sekolah, dan keluarga. Di sekolah, guru berperan sebagai teladan melalui tindakan dan pembelajaran yang mempromosikan nilai-nilai moral dan etika. Selain itu, kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan, baik dalam bentuk program formal maupun Di lain sisi, keluarga juga harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembentukan karakter. Ketiga studi ini menggarisbawahi signifikansi penerapan pendekatan yang sistematik dan integratif dalam pendidikan karakter. Dalam konteks di MI Al-Khoeriyah Bogor, yang mana ini merupakan lokus dalam penelitian ini, ada temuan yang menunjukkan bahwa para guru juga telah mengembangkan berbagai strategi positif dalam membentuk karakter siswa. Salah satu keunggulan utama yang ditemukan adalah pendekatan holistik yang diterapkan oleh para guru, di mana tidak hanya fokus pada capaian akademis, tetapi juga pada pengembangan aspek moral dan sosial siswa. Tentu hal ini seirama dengan visi sekolah tersebut yang ingin mewujudkan peserta didik yang teguh spiritualnya, mahir dalam bidang ipteknya, maksimal prestasinya, santun akhlaknya, moderat pemahamannya dan kritis pola pikirnya. Berdasarkan di atas, maka ada dua poin dibahas dalam penelitian ini. Pertama, peneliti ingin mengeksplorasi peran guru MI Al-Khoeriyah dalam membentuk karakter siswa, yang meliputi metode pembelajaran, serta integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum. Kedua, bentuk pendidikan karakter yang diterapkan dan dampaknya terhadap perkembangan karakter siswa, termasuk perubahan dalam sikap, perilaku, dan keterampilan sosial siswa yang dapat diukur melalui observasi langsung dan umpan balik dari siswa, orang tua, dan guru. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai efektivitas strategi pendidikan karakter yang diterapkan di MI Al-Khoeriyah Bogor dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan praktik di masa depan. Metode Penelitian ini dilakukan di MI Al-Khoeriyah yang beralamat di Desa Kalong Liud. Kecamatan Nanggung. Kabupaten Bogor. Jawa Barat 16650. Subjek penelitian melibatkan kepala sekolah, guru-guru, dan siswa. Pemilihan subjek ini bertujuan untuk mendapatkan perspektif yang komprehensif dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses pendidikan karakter di sekolah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Metode ini dipilih untuk mencapai pemahaman yang mendalam mengenai peran guru dalam pengembangan karakter siswa serta strategi dan praktik yang diterapkan di MI Al-Khoeriyah Bogor. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjamin validitas hasil penelitian ini, peneliti menerapkan teknik triangulasi data dengan mengintegrasikan berbagai sumber informasi dan metode pengumpulan data. Selain itu, peneliti melakukan verifikasi ulang hasil analisis dengan informan untuk memastikan akurasi dan keandalan data. Analisis tematik adalah teknik analisis data yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tema-tema utama dari data. Ini membantu peneliti memahami peran guru dalam pembentukan karakter dan efektivitas strategi yang digunakan. Hasil dan Pembahasan Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa Istilah karakter erat kaitannya dengan karakter seseorang. Seseorang dianggap memiliki karakter jika perilakunya sesuai dengan standar moral yang berlaku (Andrean. Seka & Muqowim, 2. Pendidikan karakter adalah upaya sistematis untuk memperbaiki dan mengembangkan perilaku seseorang untuk menjadi lebih baik sehingga mereka dapat beradaptasi dengan baik dalam masyarakat dan memberikan kontribusi https://jayapanguspress. org/index. php/metta positif dalam kehidupan sosial di masa depan serta menghindari pengaruh negatif (Suriadi et al. , 2. Tujuan utama pendidikan karakter adalah membangun karakter peserta didik di sekolah dan menjadi orang yang berakhlak baik. Selain itu, sikap positif siswa juga dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat. Oleh karena itu, disiplin yang diterapkan oleh pendidik sangat penting (Kurniawan, 2. Menurut Yuhana dan Aminy . , guru memainkan peran yang sangat penting dalam mendidik dan membimbing siswa di sekolah, terutama karena mereka selalu berada di dekat siswa selama proses Studi yang dilakukan di MI Al-Khoeriyah Bogor menunjukkan bahwa guru telah menerapkan dan menginternalisasi nilai-nilai karakter dengan baik kepada siswa mereka. Hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas i di MI Al-Khoeriyah Bogor mendukung temuan ini. Ada banyak peran yang harus dimainkan oleh guru ketika menerapkan nilai-nilai karakter untuk membentuk karakter peserta didik, menurut Darmdi . Penemuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di MI AlKhoeriyah Bogor. Pertama. Guru memiliki peran fundamental sebagai pembimbing dalam pendidikan, namun penting untuk memahami bahwa peran ini memiliki batasan yang tidak dapat diabaikan. Guru, termasuk di MI Al-Khoeriyah, tidak memiliki kekuasaan absolut dalam membentuk kepribadian atau karakter siswa sesuai dengan kehendaknya. Peran pembimbing yang diemban guru lebih menekankan pada proses mendampingi siswa menuju kedewasaan, di mana setiap individu tetap memiliki kebebasan dalam memilih dan berkembang sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing. Pandangan ini sejalan dengan prinsip pendidikan modern yang menekankan bahwa pendidikan harus bersifat dialogis, kolaboratif, dan menghargai otonomi individu. Di MI Al-Khoeriyah, guru berusaha memaksimalkan peran mereka sebagai pembimbing melalui dua pendekatan utama yaitu keteladanan dan pembiasaan. Pendekatan ini bukan hanya sekadar instrumen pendidikan, tetapi merupakan bagian integral dari proses pembentukan karakter siswa. Keteladanan, misalnya, menjadi salah satu strategi yang paling efektif karena siswa secara alami cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, khususnya guru yang dianggap sebagai figur otoritas dan panutan. Pembiasaan adalah metode kedua yang digunakan di MI Al-Khoeriyah, yang bertujuan membentuk kebiasaan positif dalam perilaku siswa. Proses pembiasaan ini bisa berupa kegiatan rutin yang diintegrasikan ke dalam aktivitas sehari-hari, seperti mengajarkan disiplin melalui pengaturan waktu, atau mengembangkan empati melalui kegiatan sosial di sekolah. Pembiasaan berulang diharapkan dapat membentuk karakter positif yang melekat pada diri siswa. Kedua. Guru berperan sebagai jembatan kritis yang menghubungkan peserta didik dengan realitas masa depan, di mana mereka akan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam konteks ini, pengawasan guru di sekolah menjadi krusial. Di MI Al-Khoeriyah pengawasan yang dilakukan oleh guru merupakan aktivitas rutin. Menurut Ibu Kepala Sekolah kegiatan pengawasan sangat perlu dilakukan untuk memastikan bahwa peserta didik berada pada jalur pembelajaran yang benar. Melalui pengawasan, guru dapat menilai apakah siswa memahami materi dengan baik, sekaligus mengidentifikasi kesulitan yang mungkin mereka hadapi. Tanpa pengawasan ini, proses belajar-mengajar berisiko menjadi tidak efektif, karena siswa dapat kehilangan arah dan motivasi. Di lain sisi, pengawasan juga berfungsi sebagai kontrol terhadap perilaku siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam lingkungan sekolah, guru bertanggung jawab untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi perkembangan intelektual dan moral peserta didik. Misalnya, di luar kelas, guru tetap mengawasi interaksi sosial siswa, yang menjadi bagian integral dari pembelajaran karakter dan keterampilan sosial. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Ketiga, guru berperan sebagai penegak disiplin, bertindak tidak hanya sebagai pengawas aturan, tetapi juga sebagai teladan dalam mempraktikkan tata tertib. Disiplin bukan hanya sekadar penerapan peraturan formal, tetapi mencerminkan integritas dan nilai yang diajarkan melalui tindakan nyata guru. Dalam konteks ini, guru di MI AlKhoeriyah memainkan peran krusial dengan menjadikan diri mereka model kedisiplinan bagi siswa. Etika profesionalitas menjadi cerminan bahwa kedisiplinan adalah fondasi perilaku yang dapat diikuti siswa. Pembentukan karakter tidak dapat sepenuhnya dicapai melalui instruksi verbal, melainkan lebih efektif melalui contoh nyata yang dapat diinternalisasi oleh siswa. Di MI Al-Khoeriyah, sikap disiplin guru bukan hanya formalitas tetapi bagian dari pendekatan karakter building yang secara tidak langsung Keempat, guru sebagai fasilitator memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman bagi siswa. Dalam konteks ini, peran fasilitator tidak hanya sekadar menyediakan sarana belajar, tetapi juga merancang suasana pembelajaran yang menarik dan interaktif. Prinsip bermain sambil belajar yang sering diterapkan pada siswa usia dini menekankan pentingnya metode pembelajaran yang menyenangkan agar siswa tidak merasa jenuh. Berdasarkan wawancara dengan Indah Furita, wali kelas 1, peran guru ini diimplementasikan melalui penggunaan strategi pembelajaran seperti cooperative learning dan inquiry-based learning. Strategi ini tidak hanya memfasilitasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam diskusi, tetapi juga menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan kolaboratifnya. Guru sebagai pemandu yang mengarahkan siswa untuk menemukan solusi secara mandiri atau melalui kerja sama. Lebih lanjut lagi, menurut Indah Furita bahwa guru kadangkala perlu untuk mempertimbangkan bahwa peran fasilitator pada kelas. Karakteristik siswa, tingkat perkembangan, dan dinamika kelas akan mempengaruhi efektivitas strategi yang Meskipun cooperative learning dan inquiry-based learning diakui efektif dalam mendorong partisipasi aktif, metode ini mungkin memerlukan adaptasi lebih lanjut untuk siswa dengan kebutuhan khusus atau gaya belajar yang berbeda. Kelima. Peran guru sebagai mediator dalam pembelajaran sangat penting, terutama ketika menghadapi situasi konflik antar siswa. Fungsi ini tidak hanya berhubungan dengan penyelesaian konflik, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter dan pengembangan kemampuan sosial siswa. Dalam konteks ini, guru dituntut untuk mampu bersikap netral, adil, dan tidak memihak, terutama saat terjadi permasalahan interpersonal di antara siswa. Menurut Musa . , kemampuan komunikasi yang efektif menjadi kunci utama bagi guru yang berperan sebagai mediator. Guru harus mampu menjembatani perbedaan, mengarahkan dialog yang konstruktif, dan mendorong penyelesaian masalah secara damai. Kemampuan ini sangat diperlukan karena guru menjadi perantara dalam hubungan sosial siswa, khususnya dalam membangun dan memperbaiki interaksi di antara mereka. Di MI Al-Khoeriyah Bogor, peran ini nyata terlihat dalam keseharian. Berdasarkan wawancara dengan Budi Maulana, wali kelas V, anak-anak sekolah dasar masih sering terlibat konflik akibat masalah sepele. Jika konflik tersebut tidak segera diatasi, mereka berisiko mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan sosial dan emosional mereka. Dalam situasi seperti ini, kehadiran guru sebagai mediator berfungsi tidak hanya untuk menyelesaikan konflik, tetapi juga untuk memberikan pelajaran berharga tentang empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial kepada siswa. Keenam, guru sebagai evaluator memiliki peran sentral dalam proses pendidikan, terutama dalam memantau perkembangan belajar siswa dan mengukur keberhasilan Evaluasi oleh guru tidak akademis, tetapi juga penting dalam menilai penerapan nilai-nilai karakter yang ditanamkan selama proses belajar. Hal ini menjadi https://jayapanguspress. org/index. php/metta penting mengingat karakter adalah fondasi yang membentuk perilaku siswa dalam jangka Melalui hasil wawancara dengan kepala sekolah bahwa di MI Al-Khoeriyah melakukan evaluasi secara berkala oleh guru, seperti evaluasi setelah kegiatan belajar, ini menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi sejauh mana nilai-nilai karakter telah terinternalisasi oleh siswa. Melalui evaluasi ini, guru dapat mengamati perubahan perilaku, kedisiplinan, serta sikap sosial siswa dalam keseharian. Dalam konteks ini, evaluasi tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotor, yang semuanya penting untuk perkembangan holistik siswa. Ketujuh, guru sebagai motivator memiliki peran kunci dalam mendorong siswa untuk berprestasi lebih baik, sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Indah Furita dalam Motivasi dari guru diyakini mampu meningkatkan semangat belajar siswa dan mendorong mereka untuk mencapai potensi maksimal. Pernyataan ini sejalan dengan Prawoto dalam Zakiya & Nurhafizah . , yang menekankan bahwa guru sebagai motivator tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga memicu antusiasme siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Di MI Al-Khoeriyah, praktik pemberian motivasi oleh guru terlihat melalui implementasi reward kepada siswa yang aktif. Reward tersebut tidak harus selalu berupa materi, tetapi juga dapat berupa penghargaan verbal seperti pujian, kata-kata positif seperti bagus, hebat, atau pintar, serta gestur non-verbal seperti mengacungkan jempol. Metode ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri siswa dan mendorong mereka untuk terus berprestasi. Menurut teori motivasi, penghargaan eksternal, seperti yang diterapkan di MI Al-Khoeriyah, berfungsi sebagai pendorong motivasi intrinsik. Bentuk Pendidikan Karakter yang Diterapkan Di MI Al-Khoeriyah Bogor, pendidikan karakter diterapkan secara menyeluruh melalui berbagai aktivitas dan pendekatan yang bertujuan menanamkan nilai-nilai etika, moral, dan spiritual pada setiap siswa. Sekolah ini memadukan nilai-nilai keislaman dengan program-program pengembangan karakter yang berorientasi pada pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta kepedulian sosial. Berbagai bentuk pendidikan karakter, seperti kegiatan pembiasaan, program kedisiplinan, hingga pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter, menjadi bagian integral dari kehidupan sekolah sehari-hari. Hal ini mencerminkan komitmen MI AlKhoeriyah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan kepribadian siswa, sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pentingnya karakter dalam membangun bangsa yang lebih baik. Adapun bentuk pendidikan karakter yang diterapkan sebagai berikut: Penanaman Nilai Karakter Religius Memberikan landasan teologis bahwa segala aktivitas manusia, termasuk pendidikan, harus didasarkan pada niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini menegaskan pentingnya orientasi spiritual dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam proses pendidikan. Dari observasi dan wawancara dengan beberapa guru di MI AlKhoeriyah Bogor, terungkap bahwa nilai-nilai religius ini tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi diimplementasikan melalui pembiasaan harian siswa, sesuai dengan pandangan (Ihsan, 2. Ia menegaskan bahwa kebiasaan positif di masa kecil memiliki dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter saat dewasa. Penanaman nilai religius di MI Al-Khoeriyah dilakukan melalui serangkaian ritual pembiasaan yang melibatkan kegiatan sederhana namun bermakna, seperti membaca doa sebelum belajar, memulai segala aktivitas dengan bismillah, serta mengucapkan kalimat dzikir seperti Subhanallah dan Alhamdulillah. Selain itu, kegiatan sholat dhuha dan dzuhur berjamaah juga menjadi bagian integral dari pendidikan karakter https://jayapanguspress. org/index. php/metta religius di sekolah ini. Menariknya, tidak hanya aspek spiritual yang ditanamkan, tetapi juga penghargaan positif dari guru menjadi faktor kunci dalam memotivasi siswa. Pujian sederhana seperti hebat atau pintar, bahkan dengan hanya mengacungkan jempol, berperan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Penghargaan ini, meskipun kecil, memiliki dampak signifikan dalam membentuk perilaku positif. Dengan demikian, kombinasi antara pembiasaan religius dan motivasi eksternal dari guru menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk perkembangan karakter siswa yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Gambar 1. Siswa Sholat Dhuha Penanaman Nilai Karakter Jujur Penanaman nilai kejujuran sejak usia dini sangat krusial dan dapat dicapai melalui berbagai metode pendidikan. Di MI Al-Khoeriyah Bogor, nilai kejujuran diimplementasikan melalui tugas individu, ulangan harian, dan ujian akhir semester. Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan untuk mengembangkan sikap jujur mulai dari diri mereka sendiri. Sebagai contoh, selama bulan Ramadhan, guru sering menanyakan kepada siswa mengenai pelaksanaan ibadah puasa dan sholat subuh mereka, sebagai bagian dari proses internalisasi nilai kejujuran. Namun, tantangan dalam implementasi nilai kejujuran di lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan. Guru-guru di MI AlKhoeriyah mengakui bahwa menanamkan kejujuran seringkali merupakan tugas yang sangat menantang. Ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk menanamkan nilai ini sejak dini, mengingat masa depan bangsa sangat bergantung pada integritas generasi Sementara itu. Indah Furita, wali kelas 1, menambahkan bahwa selain penilaian formal, penggunaan media pembelajaran seperti video dan cerita juga dilakukan untuk menanamkan nilai kejujuran. Pendekatan ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan mengapresiasi pentingnya kejujuran melalui pengalaman belajar yang lebih beragam. Dengan demikian, upaya yang dilakukan di MI Al-Khoeriyah Bogor mencerminkan pemahaman mendalam tentang pentingnya kejujuran dan komitmen untuk mengintegrasikan nilai ini dalam pendidikan sehari-hari. Penanaman Nilai Karakter Peduli Sosial Pentingnya penanaman karakter peduli sosial dapat dilihat dari upaya yang dilakukan oleh MI Al-Khoeriyah. Melalui kegiatan seperti menjenguk teman yang sakit, mendoakan saudara di Palestina, dan penggalangan dana, sekolah ini menerapkan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, guru di MI Al-Khoeriyah juga memainkan peran penting dengan menggunakan hadits tentang tolong-menolong dan gerakan sederhana yang memudahkan siswa mengingat dan menerapkan ajaran Metode lain, seperti menjalankan infaq amal JumAoat, mendorong siswa untuk menyisihkan uang jajannya untuk disumbangkan. https://jayapanguspress. org/index. php/metta d. Penanaman Nilai Karakter Kedisiplinan Kedisiplinan merupakan elemen kunci dalam pembentukan karakter, yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari, baik dalam konteks individu maupun kolektif. Octavia dan Sumanto . menegaskan bahwa kedisiplinan dibentuk melalui pembiasaan, yang harus dimulai dari diri guru sendiri. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang mencerminkan pentingnya disiplin dalam hidup sehari-hari. Dalam konteks pendidikan, implementasi nilai disiplin sangat penting. Seperti diungkapkan oleh guru kelas 4 MI AlKhoeriyah Bogor, ketepatan waktu guru dapat menjadi teladan bagi siswa, sehingga membentuk rasa malu pada siswa yang terlambat. Hal ini mendukung teori yang diusulkan oleh Maria et al. , . bahwa kegiatan yang baik akan memengaruhi peserta didik secara positif. Selain itu, karakter terbentuk melalui kegiatan yang dilakukan secara berulang dan teratur, menjadikannya kebiasaan yang mendasar (Auliyairrahmah, 2. Sobri et al. , . menambahkan bahwa disiplin perlu dibiasakan hingga menjadi bagian dari karakter. Toulouse menegaskan bahwa kesadaran diri adalah kunci dalam menumbuhkan kedisiplinan (Rufaedah & Maesaroh, 2. Disiplin yang terkoordinasi dengan baik tidak hanya meningkatkan minat belajar siswa tetapi juga secara efektif mendorong pencapaian prestasi akademik (Choirunnisa, 2. Dengan demikian, peran pendidikan dan keteladanan guru dalam menerapkan disiplin sangat vital dalam membentuk karakter siswa dan mendukung kesuksesan akademiknya. Penanaman Nilai Karakter Nasionalisme Nasionalisme menekankan bahwa kesetiaan individu seharusnya dialokasikan sepenuhnya kepada negara. Rasa cinta yang mendalam terhadap tanah air, tradisi lokal, dan pejabat lokal tidak baru dalam sejarah, mereka selalu diiringi dengan keunggulan dan kepercayaan yang kuat terhadap negara, yang menghasilkan rasa memiliki dan persatuan di antara warga negara (Hasna et al. , 2. Praktik nasionalisme ini dapat dilihat di MI Al-Khoeriyah Bogor, yang secara konsisten menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam kegiatan sehari-hari. Setiap Senin pagi, siswa mengikuti upacara bendera sebagai bentuk penghormatan kepada simbol negara. Kecintaan terhadap produk Indonesia dan produk lokal dipromosikan untuk mendukung perekonomian lokal dan meningkatkan rasa kebanggaan nasional. Selain itu, peringatan hari-hari besar nasional dan pengetahuan tentang jasa pahlawan yang diperoleh melalui cerita sejarah, memperkuat pemahaman siswa tentang pentingnya kontribusi masa lalu terhadap identitas nasional mereka. Dengan melibatkan siswa dalam kegiatan-kegiatan ini. MI Al-Khoeriyah tidak hanya mendidik mereka tentang kebangsaan tetapi juga membangun rasa kebanggaan dan persatuan yang mendalam. Penanaman Nilai Karakter Gotong Royong Gotong royong, yang merupakan bentuk kerja sama antara individu atau kelompok untuk menyelesaikan permasalahan bersama, merupakan nilai yang diatur dalam prinsip keadilan sosial dan kepentingan umum (Mulyani et al. , 2. Penanaman nilai gotong royong di MI Al-Khoeriyah Bogor dilaksanakan melalui berbagai metode. Salah satu pendekatan adalah dengan kegiatan rutin seperti piket kelas dan program Jumsi atau Jumat Bersih, di mana seluruh peserta didik melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan sekolah setiap hari Jumat. Program ini tidak hanya membersihkan lingkungan tetapi juga membiasakan siswa untuk bekerja sama dan berbagi tanggung jawab. Metode pembelajaran berfokus pada pengembangan keterampilan kerja sama. Misalnya, guru kelas 2 yaitu Ibu Fitri menerapkan teknik cooperative learning dan kolaborasi melalui tugas kelompok sederhana, yang dapat dilihat dalam pembelajaran bertema kebersamaan atau kerja bakti. Kegiatan ini dirancang agar siswa dapat saling mendukung dan memahami pentingnya kerja sama. Penanaman nilai gotong royong tidak hanya terbatas pada kegiatan rutin di sekolah, tetapi juga https://jayapanguspress. org/index. php/metta diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Ini membantu siswa memahami dan menerapkan prinsip kerja sama dalam konteks yang lebih luas, sesuai dengan ajaran agama dan kebutuhan sosial. Penanaman Nilai Karakter Mandiri Menurut Rita . , pendidikan karakter mandiri adalah proses sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan akhlak, karakter, budi pekerti, dan kemampuan mental seseorang sehingga mereka dapat menyelesaikan tugas secara mandiri dan tanpa bantuan orang lain. MI Al-Khoeriyah Bogor mengimplementasikan kebijakan yang mendukung pembentukan kemandirian pada siswa sejak dini. Misalnya, untuk siswa kelas 1, orang tua hanya diizinkan menemani selama minggu pertama sekolah. Setelah itu, mereka harus mengantar hanya hingga gerbang dan menjemput saat pulang. Selain itu, siswa diajarkan untuk membereskan alat tulis, pergi ke kamar mandi sendiri, dan mengerjakan tugas tanpa bantuan orang tua. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang melibatkan kerjasama antara orang tua dan guru untuk membentuk karakter mandiri pada Selain itu, kegiatan seperti kunjungan ke perpustakaan nasional atau situs sejarah dilakukan tanpa pendampingan orang tua, untuk meningkatkan kemandirian siswa dalam eksplorasi dan pembelajaran. Guru kelas 1. Indah Furita, menegaskan bahwa meskipun proses ini memerlukan waktu, hasilnya akan optimal jika terdapat komitmen bersama dari orang tua dan guru dalam mendidik anak untuk menjadi pribadi yang mandiri. Penanaman Nilai Karakter Tanggung Jawab Tanggung jawab, sebuah aspek aktif dari moral, mencakup menjaga diri sendiri dan orang lain, memenuhi tanggung jawab Anda, berkontribusi terhadap masyarakat, dan membangun dunia yang lebih baik (Lickona, 2. Penerapan nilai tanggung jawab di MI Al-Khoeriyah Bogor menggambarkan implementasi prinsip tersebut dalam praktik Guru di MI Al-Khoeriyah Bogor menanamkan nilai tanggung jawab melalui kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh peserta didik, seperti merapikan alat sholat setelah digunakan, merapikan buku setelah belajar, serta melaksanakan tugas dengan baik. Penerapan tanggung jawab ini berperan penting dalam pengembangan karakter siswa. Dengan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan menjalankan kewajiban sehari-hari di kelas, siswa mulai menginternalisasi konsep tanggung jawab sebagai bagian integral dari kepribadian mereka. Konsekuensi langsung dari praktik ini adalah terbentuknya sikap tanggung jawab yang kuat pada siswa, yang tidak hanya mempengaruhi prestasi akademik mereka tetapi juga kontribusi mereka terhadap lingkungan sosial dan moral yang lebih luas. Penanaman Nilai Karakter Toleransi Toleransi merupakan sikap fundamental yang mencerminkan kebebasan untuk menghargai perbedaan dan mengakui hak-hak asasi manusia (Afifah, 2019. Rahmawati & Harmanto, 2. Toleransi yang diterapkan oleh guru dalam konteks pendidikan sangat penting. Guru harus bertindak sebagai contoh bagi siswa mereka dalam menanamkan sikap toleransi, yang mencakup sikap, tindakan, dan ucapan. Hal ini sejalan dengan pendapat Ramdan dan Fauziah . yang menekankan bahwa pendidikan adalah tentang pembentukan karakter siswa dan bukan hanya transfer pengetahuan. MI Al-Khoeriyah Bogor, implementasi toleransi dilakukan dengan mengedukasi siswa mengenai dampak negatif dari sikap intoleransi serta melalui pengajaran nilai-nilai seperti Bhineka Tunggal Ika. Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap saling menghargai di antara siswa. Selain itu, guru di MI Al-Khoeriyah juga berkomitmen untuk bersikap adil dan menghargai pendapat siswa dalam proses pembelajaran, memberikan contoh konkret yang dapat diikuti oleh siswa. Dengan demikian, peran guru sebagai figur teladan dalam pengembangan karakter toleransi adalah esensial. Melalui tindakan dan sikap yang konsisten, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademis tetapi juga https://jayapanguspress. org/index. php/metta mempromosikan nilai-nilai yang membentuk sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan di dalam masyarakat. Penanaman Nilai Karakter Kasih Sayang Praktik kasih sayang dalam pendidikan terbukti efektif, seperti yang diterapkan di MI Al-Khoeriyah Bogor. Menurut wawancara dengan guru kelas 1. Indah Furita, sekolah ini menerapkan nilai kasih sayang melalui berbagai aktivitas pendidikan, mulai dari cerita tentang saling mengasihi, lagu-lagu anti-bullying, hingga tindakan berbagi di antara Pengawasan guru selama istirahat juga bertujuan untuk menjaga keharmonisan Peter McPhail, seorang pendidik moral dari Inggris, menyatakan bahwa Anak akan merasa senang jika diperlakukan dengan baik dan hangat, sumber utama kebahagiaan mereka adalah perlakuan yang baik, sehingga mereka akan meniru sikap tersebut kepada orang lain, hewan, dan benda mati (Lickona, 2. Berdasarkan pengamatan peneliti di MI Al-Khoeriyah Bogor menunjukkan bahwa guru-guru di sana menjunjung tinggi nilai kasih sayang dengan lembut menegur siswa, mengelus kepala mereka, dan menyapa dengan senyum hangat. Praktik ini menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung, sejalan dengan ajaran agama dan teori pendidikan yang mengedepankan perlakuan baik dalam proses pembelajaran. Penanaman Nilai Karakter Demokratis Karakter demokratis merupakan komponen fundamental dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. Tanpa karakter demokratis, masyarakat cenderung mengalami konflik, saling memaksakan kehendak, dan mengabaikan kepentingan orang lain, yang akhirnya akan merusak kohesi sosial (Baharun & Mahmudah, 2. Di MI Al-Khoeriyah Bogor, penerapan nilai demokratis dimulai sejak Di setiap kelas, siswa diberi kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan melalui sistem demokrasi. Proses pemilihan ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara dilakukan secara bersama-sama, memperkenalkan siswa pada prinsip-prinsip demokrasi dalam praktik. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran seperti diskusi kelompok, siswa dilatih untuk menghargai pendapat orang lain dan mengungkapkan pendapat dengan sopan. Pendekatan ini tidak hanya mendidik siswa tentang pentingnya partisipasi aktif dan hormat terhadap pandangan berbeda tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan beradab. Kesimpulan Peran guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter siswa sangat krusial untuk keberhasilan proses pembentukan karakter. Dalam hal ini. Guru di MI AlKhoeriyah Bogor tidak hanya sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memfasilitasi dan mengarahkan perkembangan karakter siswa. Ini menegaskan bahwa MI Al-Khoeriyah Bogor secara menyeluruh mengimplementasikan pendidikan karakter dengan mengintegrasikan nilai-nilai etika, moral dan spiritual dalam berbagai aktivitas dan pendekatan. Sekolah ini berhasil memadukan nilai-nilai keislaman dengan program-program pengembangan karakter, meliputi aspek religius, kejujuran, kepedulian sosial, kedisiplinan, nasionalisme, gotong royong, kemandirian, tanggung jawab, toleransi, dan kasih sayang. MI Al-Khoeriyah Bogor menerapkan pendidikan karakter melalui kegiatan sehari-hari dan rutinitas, serta memasukkannya ke dalam pembelajaran dengan melibatkan siswa secara aktif. Metode ini menunjukkan bahwa sekolah berkomitmen untuk membuat lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter siswa dan memenuhi tujuan pendidikan nasional. Sekolah ini membentuk karakter siswa secara efektif dengan mengajarkan kejujuran, pembiasaan religius, dan partisipasi dalam kegiatan sosial. Ini menyiapkan mereka untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, jujur, dan peduli terhadap masyarakat. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Daftar Pustaka