Proses Kreatif Abah Olot dalam Melestarikan Karinding Muhammad Luthfi Ferrari1. Heri Herdini2. Suhendi Afryanto3 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 LF@gmail. com, 2heriherdini@yahoo. com, 3suhendiafryanto@gmail. ABSTRACT Karinding is an entertaining instrument made of palm midrib or bamboo which has long flat form similar to fork. In recent years, karinding has been considered to be a musical instrument which can be played together with common musical instruments. Karinding was once temporarily extinct in Sundanese cultural society until resurrected in 2003. This emergence was mainly by creativity of Abah Olot who has been trying to revive and reinvent several Sundanese traditional musical instruments like celempung that has been developed into celempung ryntyng and melodic celempung. Besides. Abah Olot also modified kohkol into kohkol latung. This is all for his mission to resurrect and to make karinding more appealing to modern cultural society. In line with this. Abah Olot created a musical group called Giri Kerencyng which combined karinding with his reinvented Sundanese traditional musical instruments. This writing reveals Abah OlotAos creativity. The existentialism theory is used in the discussion. Existentialism Hasbunallah waniAomalwakiil are two basic concepts. First, the being-in-the-world concept and secondly is the nonbeing concept. This writing is written to describe how Abah OlotAos existence in preserving and developing karinding as Sundanese traditional musical instrument and itAos impact both to the musical instrument itself and the societies. Keyword: Karinding. Abah Olot. Creativity. Existence berumur AutuaAy atau Aukolot. Ay Ia dikenal oleh kalangan komunitas musik metal Ujungberung Kota Bandung dan pemain musik bambu lainnya, bahkan kini komunitas karinding dari setiap penjuru Kota Bandung mengenal sosok Abah Olot. Komunitas musik metal Ujungberung mengetahui karinding Abah Olot yaitu dari para muridnya yang bernama Engkus. Utun, dan Hendra. Mereka ini termasuk anggota Komunitas Kasundaan. Saat itu, komunitas musik metal Ujungberung bersama-sama memperkenalkan alat musik karinding sebagai alat musik tradisional dan memainkannya pada pertunjukan Benjang di Ujungberung. Kemudian mereka mulai PENDAHULUAN Latar Belakang Alat musik karinding sempat tenggelam ditengah-tengah kehidupan masyarakat Sunda, namun belakangan ini . tahun terakhi. muncul kembali, berkembang dan dipelihara oleh komunitasnya. Endang Sugriwa atau lebih akrab disapa Abah Olot adalah seorang pembuat sekaligus pemain karinding yang menjadi titik awal bergeraknya proses revitalisasi karinding di Bandung dan sekitarnya. Sebutan AuAbah OlotAy adalah nama panggilan sebagai orang yang AudituakanAy atau AuorangtuaAy yang memiliki kemampuan bermain dan membuat benda-benda yang sudah Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 oleh komunitas musik metal Ujungberung saja yang tertarik pada karinding, tetapi juga menjadi bahan perhatian wartawan, budayawan, dan masyarakat pada umumnya. Pertama kali Abah Olot mempelajari cara pembuatan karinding yaitu dari orang tuanya (Abah Entan. Dengan bermodalkan keahliannya sebagai pengrajin mebel yang sudah terbiasa dengan alat juga bahan bakunya seperti kayu dan bambu,ia dapat membuat karinding secara cepat dengan kualitas yang baik. Kisaran tahun 2005-2006 karinding mulai disebarkan dan dimainkan di Bandung oleh beberapa seniman dan budayawan Sunda seperti Dodong Kodir. Asep Nata. Yoyo Yogasmana, dan Opa Felix, setelah mereka bertemu dengan Abah Entang dan Abah Olot, mereka sangat terkesan melihat karinding yang dimainkan. Kimung mengatakan dalam tulisannya di https://kelaskarinding-blog. (Januari, 2. bahwa AuTokoh-tokoh ini begitu giat ikut membantu Abah Olot memperkenalkan karinding di berbagai tempat dan kesempatan, tidak hanya dengan cara individual, mereka juga bekerjasama dengan berbagai pihak. Mahanagari. Galeri Rumah Teh. Kampus STBA, dan Mall Ciwalk juga berjasa dalam pementasan karinding di Bandung. Ay Asep Nata, merupakan seorang etnomusikolog. Sosok yang juga ikut meramaikan karinding dengan berinovasi membuat karinding dengan bentuk dan cara bermain yang berbeda. Karinding kipas adalah karinding yang disusun berbentuk kipas, yang terdiri dari beberapa nada dan dimainkan secara bergantian sesuai nada yang dibutuhkan. Dengan Karinding ini, lagu dengan tangga nada diatonic juga bias dimainkan oleh Pada akhirnya karinding buatan Asep Nata diberi nama AuKarinding ToelAy tertarik untuk melestarikan karinding sesuai dengan misi Abah Olot. Tidak lama kemudian, mereka bersama-sama dengan Abah Olot membuat komunitas karinding di Ujungberung. Misi budaya Abah Olot untuk melestarikan alat musik karinding sangat kuat, dan ia merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkannya dari ancaman kepunahan . awancara Abah Olot, 19 Oktober 2. Pada tahun 2003 Abah Olot sangat terkejut ketika karinding sebagai alat musik tradisional Sunda, dikabarkan punah oleh mahasiswa dari salah satu perguruan negeri di Jatinangor . awancara Abah Olot, 19 Oktober 2. Mendengar kabar berita itu, lalu Abah Olot merasa tertantang untuk menghidupkan kembali alat musik karinding, dan ia berkeyakinan untuk bisa menyelamatkan alat musik karinding dari kepunahan. Abah Olot merasa yakin bahwa alat musik tradisional merupakan bagian dari kebudayaan suatu bangsa yang harus dilestarikan demi kebertahanan identitas budaya bangsa Atas dasar keyakinan ini, maka Abah Olot berusaha untuk memunculkan kembali alat musik karinding dengan cara memperkenalkannya kepada generasi Keahlian Abah Olot dalam membuat dan memainkan karinding merupakan warisan dari ayah dan kakeknya, dan keahlian ini cukup berkembang dilingkungan keluarganya. Hal tersebut menjadi alasan bagi Abah Olot untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pengrajin mebel kayu dan bambu di Cipacing. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat. Kemudian ia meneruskan warisan dari ayahnya (Abah Entang alm. ) untuk menekuni profesi ini yaitu menjadi pemain dan pembuat karinding. Atas dasar keyakinan dan ketekunannya, lama kelamaan profesi Abah Olot ini dikenal oleh banyak orang, tidak hanya Ferrari. Herdini. Afriyanto: Proses Kreatif Abah Olot dalam Melestarikan Karinding bersama kelompok-kelompok senilainnya. Semua seperti efek domino, hamper semua bentuk pelestarian karinding kini memiliki permulaan yang berhubungan dengan Abah Olot sebagai pewaris langsung karinding dari Abah Entang. Berdasarkan latar belakang diatas. Penelitian ini akan memaparkan bagaimana kreativitas Abah Olot dalam melestarikan karinding dan menjelaskan bagaimana pewarisan budaya sebagai landasan dalam proses kreatif Abah Olot untuk mencapai karena karinding ini dimainkan dengan cara ditoel. Disisi lain Abah Olot beserta grup karindingnya. Giri Kerencyng juga terus menyuarakan karinding ke berbagai ranah sosial. Pada tanggal 22 Mei 2007. Abah Olot bersama enam personil lainnya dalam Giri Kerencyng mementaskan lagulagu karinding ciptaannya di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Acara yang digelar oleh Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi (LSK) ini juga menampilkan workshop pembuatan karinding oleh Abah Olot. Workshop karinding juga sering dilakukan oleh seniman Zaini Alif dari Komunitas Hong Bandung yang dimulai dari kisaran tahun 2006-2007. Komunitas Hong dan Giri Kerencyng kembali bertemu dalam satu workshop mengenai permainan anak-anak tradisional dan kerajinan, serta alat musik bambu di Common Room pada akhir tahun 2008. Pada Oktober 2008, karinding di Ujungberung semakin menarik perhatian ketika komunitas metal Ujungberung Rebels dan Sunda Underground, berkenalan dengan Mang Engkus dan Mang Hendra yang merupakan murid dari Abah Olot. Saat itu karinding dengan sangat cepat menyebar di kalangan para musisi metal Ujungberung Rebels. Puncaknya adalah ketika para pemusik metal itu bersatu dalam satu grup bernama AuKarinding AttackAy. Terinspirasi dari keberadaan Karinding Attack, dimotori Gembok dan anak-anak muda Cicalengka Death Metal yang sebenarnya sudah sejak lama memainkan karinding Abah Entang dan Abah Olot, berinisiatif membangkitkan dan mengembangkan kesenian karinding di Cicalengka. Untuk itu berdirilah Grup Markipat Karinding yang kemudian identik dengan komunitas Sunda Metal GDN Corp. Komunitas ini adalah kelompok anak muda yang secara konsisten berkomitmen mengembangkan kesenian anak-anak muda Cicalengka HASIL DAN PEMBAHASAN Hubungan Abah Olot dengan dunia, manusia lain dan dirinya sendiri Para eksistensialis mengadopsi pendekatan fenomenologi untuk memahami AuBagi mereka, kita hadir di dunia yang dapat dimengerti dengan baik dari sudut pandang kita sendiri Ay(Feist, 2010: . Eksistensialisme memiliki dua konsep dasar sebuah hubungan, yang pertama adalah being-in-the-world dan yang kedua adalah nonbeing Being-in-the-world Persatuan dasar dari manusia dan lingkungan, diekspresikan dengan Bahasa Jerman, dasein. Dasein berarti untuk hadir Maka being-in-the-world berarti eksis di dunia. Manusia mengalami tiga bentuk being-in-the-world yang terjadi bersamaan: Umwelt, atau lingkungan di sekitar Mitwelt, atau hubungan kita dengan orang lain. dan Eigenwelt, atau hubungan kita dengan diri sendiri. Umwelt adalah dunia objek dan benda, dunia alam dan hukum alam, dimana kita harus dapat belajar untuk hidup dalam dunia yang ada disekitar kita dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada di dunia ini. Jika melihat dari pernyataan tersebut. Abah Olot mencoba menyesuaikan Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 oleh kelompok musik Hariring pada acara Braga Jazz Festival sebagai preevent acara Java Jazz Music Festival. Mitwelt adalah dunia di mana kita harus berhubungan dengan manusia sebagai manusia, bukan sebagai sebuah objek mati. Jika kita masih menganggap manusia sebagai objek, maka kita belum berada pada dunia mitwelt, kita masih berada pada dunia umwelt, karena kita masih menganggap manusia sebagai benda di dunia yang hanya dapat digunakan. Maksudnya adalah adanya saling menghargai antar Poinnya adalah menghargai dasein orang lain. Pada dunia mitwelt. Abah Olot menghargai sesama manusia menggunakan filosofi Siliwangi yang diajarkan dikeluarganya. Siliwangi yang Abah maksudkan yaitu silihwangian. Pada acara Kemping Karinding. Abah Olot menjadi salah satu pembicara tentang Karinding dan filosofinya. Abah Mengatakan bahwa dalam berkesenian kita harus silihwangian, maksudnya adalah bersikap baik kepada semua manusia, tidak memandang agama, negara, suku dan bangsa, tidak boleh saling menjatuhkan dan saling diri dalam proses kreatifnya. Dalam pembuatan karinding Abah Olot mulai mengalihkan bahan baku dari pelepah aren menjadi bamboo. Karena pelepah aren sudah sulit dicari dan dahulu dianggap tidak berguna jika sudah tidak ada buahnya, sehingga banyak yang dibuang atau ditebang lalu Abah Olot sebenarnya masih menggunakan pelepah aren, namun tidak sebanyak penggunaan bamboo dalam pembuatan karinding. Jika dilihat dari sudut pandang bermusik. Abah Olot juga berusaha untuk mengikuti zaman dan tetap berkiblat pada musik Sunda, namun Abah Olot tidak keberatan jika karinding dimainkan dengan alat musik modern atau barat. Seperti yang dilakukan oleh Karinding Attack bersama Noah Band atau Devil and The Deep Blue Sea dan Gambar 1. The Devil And The Deep Blue Sea bersama Syaharani. Dony Suhendra, dan Budi Arab (Dokumentasi: http://w. org/user/ kimun666 ,Agustus 2. Gambar 2. Kelompok musik Hariring dalam Braga Jazz Festival (Dolumentasi: http://jazzuality. com/jazz-eventreport, juli 2. Gambar 3. Abah Olot sebagai Pembicara dalam Acara Kemping Karinding IV (Dokumentasi: Dokumen Pribadi. Juli 2. Ferrari. Herdini. Afriyanto: Proses Kreatif Abah Olot dalam Melestarikan Karinding terhadap ekspektasi masyarakat atau sikap bermusuhan yang akan merusak hubungan kita dengan orang lain. Ketakutan terhadap nonbeing atau kematian membuat manusia hidup tidak bebas, hidup secara defensive dan menerima sedikit dari kehidupan dari pada apa yang kita dapatkan. Aukita takut terhadap nonbeing sehingga mengerutkan keberadaan kitaAy (May, 1991: . Jika dikaitkan dengan kehidupan Abah Olot. Abah Olot mengatasi Ketakutannya dengan cara hidup dengan sesuatu yang berarti untuknya dan orang lain. Dengan keyakinan untuk dapat melestarikan karinding. Abah Olot dapat hidup berdampingan dengan alam, manusia lain dan dirinya sendiri. Eigenwelt merujuk kepada hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, dimana seseorang harus menyadari bahwa dirinya sendiri adalah manusia dan memahami siapa kita saat berhubungan dengan dunia kebendaan dan dunia manusia. Di sini Abah Olot merasa bahwa karinding adalah benda yang menjadi tanggung jawabnya untuk dilestarikan. Melakukan ritual mipit amit sebelum melakukan proses pembuatan karinding dilakukan untuk menghormati bamboo sebagai bantuan alam untuk membuat karinding. Alam adalah sesuatu yang harus dijaga. Abah Olot juga menganggap manusia lain sebagai manusia yang dapat berkerja sama untuk mencapai visinya, menganggap pengalaman hidupnya sebagai bentuk pembelajaran bagi orang lain yang mau belajar. Gambar 5 Abah Olot bermain karinding bersama peserta Kemping Karinding IV sebelum acara penanaman pohon (Dokumentasi: Dokumen pribadi. Juli2. Gambar 4 Abah memimpin permainan karinding sebelum penanaman pohon bersama peserta Kemping Karinding IV (Dokumetasi: Dokumen Pribadi. Juli 2. Motivasi yang mendorong kreativitas Abah Olot Agar kreativitas dapat terwujud, diperlukan dua atau motivasi, yaitu berupa dorongan intrinsic dan eksrinsik (Munandar, 2. Setiap orang memiliki kecenderungan atas dorongan kepada dirinya untuk dapat berkembang, menjadi lebih dewasa dalam berkarya maupun menjalani hidup, dan dorongan untuk menemukan dan mengeluarkan semua kemampuan seseorang. Dalam hal ini dorongan instrinsik dari Abah Olot adalah sebuah keyakinan akan dirinya yang bertanggungjawab untuk melestarikan Melihat semua pemaparan di atas menurut May . Abah Olot telah mampu beradaptasi dengan dunia alam, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan memiliki kesadaran mengenai arti dari sebuah pengalaman untuk mereka. Nonbeing Nonbeing adalah sebuah ketakutan atas ketiadaan, biasanya ketakutan atas kematian. Nonbeing juga dapat diekspresikan sebagai konformitas buta Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 hadang dirinya. Abah Olot tetap meneruskan amanat turun-temurun keluarganya sebagai produsen dan pemain karinding. Menurutnya sebagai penerus atau yang diwariskan untuk melestarikan karinding itu tidak bisa dipaksa, harus memiliki dasar yang kuat karena ingin, cinta, dan peduli. Istilahnya AuulahkawasjatikasilihkujuntiAy yang artinya jangan melupakan adat-istiadat, jangan sampai yang sudah ada sejak lama hilang begitu saja. awancara Abah Olot. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, adanya rasa tanggung jawab Abah Olot terhadap keberadaan dan pelestarian karinding yang telah diwariskan secara turun menurun oleh keluarganya, membuat Abah Olot merasa memiliki kewajiban untuk mencegah kepunahan alat musik karinding tersebut. Hal ini menyebabkan Abah Olot berusaha keras untuk membuat karinding sebaik mungkin berdasar pada pengalaman empiris yang telah dialaminya. Dengan pengalaman tersebut dan dengan membuatnya secara berulangulang. Abah dapat membuat karinding yang menurut beberapa pemain karinding, hingga kini karinding Abah Olot disebut sebagai karinding yang paling enak untuk Dengan beberapa karinding yang sudah siap dimainkan. Abah Olot mulai menyebarkan karinding yang telah dibuatnya itu kepada para anak muda dikampungnya dan pameran-pameran Tidak hanya membuat karinding dengan kualitas yang baik. Abah Olot juga mulai memikirkan cara lain agar karinding dapat berkembang dan tidak punah sesuai dengan pesan dari orangtuanya. Keresahan Abah Olot muncul karena alat musik karinding ini dianggap tidak sesuai dengan perkembangan musik di Indonesia. Menurutnya, dengan dimainkan secara tunggal, karinding cenderung membosankan. Menurut cerita Abah Entang (Alm. ), karinding biasanya dimainkan karinding dan keyakinan bahwa karinding dapat lestari. Dengan keyakinan tersebut Abah Olot terdorong untuk melahirkan gagasan-gagasan yang berkaitan dengan Sementara itu, dorongan ekstrinsik Abah Olot berasal dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di luar keluarga. Atas dasar keluarganya yang bersinggungan langsung dengan kesenian karinding, membuat Abah Olot merasa dekat dengan Selain lingkungan keluarga, ada juga lingkungan lainnya diluar keluarga. Motivasi dari lingkungan sosial ini dapat dilihat dari semakin kuatnya dorongan dan keteguhan hati Abah Olot untuk melestarikan karinding. Maksudnya adalah dengan keyakinan yang kuat dari Abah Olot untuk melestarikan karinding membuat lingkungannya terbawa dan berbalik untuk memotivasi Abah Olot. Dengan motivasi ekstrinsik ini, ia dapat mengembangkan potensinya untuk terus bersemangat dalam melestarikan karinding. Lingkungan yang selalu mendukung Abah Olot dalam melestarikan karinding merupakan dorongan tersendiri baginya untuk terus konsisten menggeluti kesenian karinding ini. Kreativitas Abah Olot Kurangnya publikasi dan minat terhadap karinding menjadi salah satu momok redupnya alat musik tradisional Karinding hanya muncul dan bertahan dalam beberapa kelompok saja, termasuk keluarga Abah Olot. Abah Olot yang dahulu sempat menjadi pengrajin mebel seperti yang diceritakan sebelumnya bahkan menurut Mang Hendra. Abah Olot sempat menjadi atlet voli. Tetapi bentuk kanyaah . dan keyakinan Abah Olot meneruskan warisan keluarga dan budaya untuk melestarikan karinding membuat Abah Olot meninggalkan semua Walaupun semuanya tidak berjalan mulus dan banyak masalah yang timbul meng- Ferrari. Herdini. Afriyanto: Proses Kreatif Abah Olot dalam Melestarikan Karinding Tiga kondisi internal dari pribadi yang kreatif menurut Rogers dalam Mundandar . dengan beradu ketahanan membunyikan karinding dengan lawannya, sebagai kalangenan dan sebagai alat pengusir hama. Semenjak itu. Abah mulai memikirkan cara untuk memainkan karinding dengan alat musik buhun lain, salah satunya dengan membuat celempung. Celempung merupakan alat musik yang belum pernah Abah Olot buat sebelumnya, namun Abah Olot berusaha untuk merealisasikan keinginannya untuk membuat celempung berdasarkan pada gambar yang dibuatkan oleh Abah Entang (Alm. Abah Olot mulai bereksperimen mengembangkan kembali alat musik celempung dengan memodifikasinya menjadi alat musik baru yang diberi nama celempung renting dan celempung melodi. Hal ini terinspirasi dari alat musik kecapi dan kendang. Tidak hanya itu. Abah Olot juga memodifikasi kohkol menjadi seperti celempung ryntyng yang diberi nama kohkol Untuk kembali meningkatkan daya tarik karinding. Abah Olot membuat sebuah kelompok musik yaitu Giri Kerencyng dengan menyandingkan karinding dengan alat-alat musik yang sudah dibuatnya. Usaha Abah Olot untuk melestarikan karinding dengan potensi dan pengalaman yang dimilikinya hingga menciptakan ide baru sebagai cara mengembangkan alat musik karinding, menggambarkan bahwa Abah Olot adalah seseorang yang kreatif. Kreatif menurut Rogers dalam Schultz . Seorang yang kreatif bertindak dengan bebas dan menciptakan hidup, ide dan rencana yang konstruktif, serta dapat mewujudkan kebutuhan dan potensinya secara kreatif dan dengan cara yang Seseorang dikatakan berfungsi sepenuhnya jika ia memiliki kondisi internal pribadi yang kreatif, dimana ia dapat menghasilkan sesuatu yang kreatif dan hidup secara kreatif seperti yang terjadi pada Abah Olot dalam mengembangkan Keterbukaan terhadap pengalaman Keterbukaan Abah Olot terhadap Pengalaman digambarkan oleh sifat fleksibelnya Abah Olot terhadap pengalaman baru dan tidak termakan zaman, tidak mengubah sisi original karinding namun mampu mengembangkan karinding dengan cara mengkolaborasikan alat musik karinding dan celempung. Halter sebut membuat karinding kembali mendapatkan daya tariknya dimasyarakat. Bergaulnya Abah Olot dengan komunitas Common Room yang didalamnya beranggotakan seniman dan pemuda kreatif Bandung, membuka pintu harapan karinding dan dirinya untuk dapat dikenal dalam komunitas musik metal Ujungberung yang berisikan pemusik-pemusik dengan aliran musik underground dan death metal. Abah Olot mulai berbagi ilmu pada mereka tentang karinding sehingga membuka kesempatan lahirnya persepsi baru dimana karinding dapat dimainkan dan dikolaborasikan tidak hanya dengan alat musik buhun lainnya, tetapi juga dapat dimainkan dengan alatalat musik dan dalam aliran musik yang Bahkan pada suatu kesempatan Gambar 6 Kolaborasi Karinding dengan Koto dari Jepang (Dokumentasi:https://w. com/channel/UCASjgwwbKLvlt4J51a0Uqag. ManJasadOfficial, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 karinding, bukan dengan hanya membeli karinding dari Abah Olot sebagai mainan tradisional seperti maksud mereka sebelumnya. Bukan hanya sekedar pertanyaan dan keraguan saja yang pada saat itu datang kepada Abah Olot, ada pula sebuah penentangan atas pergerakan Abah Olot dalam melestarikan karinding, yaitu mengenai karinding yang dilarang diperjual-belikan. Menurut Abah Olot, rumor tersebut berasal dari orang-orang yang tidak dapat berkarya, namun ingin namanya diakui. Bahkan sebenarnya Abah tidak memperjual-belikan karinding, para apresiatorlah yang saat itu memberi harga Karinding buatannya dan Abah Olot kini memang memperjual-belikan karinding, namun Abah tidak pernah memperjualbelikan keilmuan dari karinding tersebut. Siapapun yang ingin belajar memainkan atau membuat karinding tidak pernah dipungut biaya sedikitpun oleh Abah Olot. Menurut Abah Olot, memperjual-belikan karinding termasuk kepada cara untuk melestarikan karinding itu sendiri. Ada beberapa cara untuk melestarikan karinding menurut Abah Olot, orang yang membuat karinding itu melestarikan, orang yang membeli karinding itu melestarikan, orang yang memainkannya itu melestarikan, bahkan yang mengundang untuk main itu juga cara melestarikan. Jadi orang yang membuat, orang yang memainkan, orang yang mengapresiasi dan orang yang menjual bahkan membeli adalah bentuk dari pelestarian. awancara Abah Olot. Nia Kurmasih Pontoh . 2: . mengemukakan bahwa konsep awal pelestarian adalah konservasi, yaitu sebuah upaya melestarikan dan melindungi sekaligus memanfaatkan sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru tanpa menghilangkan makna kehidupan dan budayanya. Abah Common Room bersama Chieko Fukuda, seorang seniman musik tradisional dari Jepang memainkan karinding dengan alat tradisional Jepang, yaitu alat musik Koto. Menurut Munandar . kreativitas adalah hasil interaksi antar individu dengan lingkungannya, kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur-unsur yang sudah ada, yaitu pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh seseorang selama hidupnya, baik dari lingkungan sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Semiawan . juga menjelaskan bahwa kreativitas adalah modifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi konsep baru atau menyatukan dua konsep lama yang dikombinasikan menjadi sebuah konsep baru. Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang . nternal locus of evaluatio. Maksud dari internal locus of evaluation adalah kondisi dimana seseorang lebih dapat memutuskan sendiri apa yang ia inginkan untuk kehidupannya dapat dikatakan sebagai sebuah keyakinan dari pada mengikuti atau terpengaruh oleh pemikiran orang lain. Awal mula Abah Olot terjun untuk melestarikan karinding, banyak pertanyaan dan keraguan yang keluar dari orang-orang disekitar Abah Olot. Hal ini disebabkan oleh pamor karinding yang redup, bahkan orang-orang mulai banyak yang tidak mengetahui apa itu karinding sebelumnya. Abah Olot dianggap berjudi saat itu, namun Abah Olot memiliki sebuah keyakinan yang tinggi untuk dapat melestarikan karinding. Zaini Alif . awancara, juli 2. mengatakan bahwa saat pertama kali dirinya bertemu dengan Abah Olot, keyakinan Abah Olot atas karinding yang harus dilestarikan sangatlah kuat,keyakinan tersebut menjadi salah satu alasan pada saat itu Zaini Alif dan kawan-kawan terdorong hatinya untuk membantu Abah Olot melestarikan Ferrari. Herdini. Afriyanto: Proses Kreatif Abah Olot dalam Melestarikan Karinding nilai filosofi yakin, berarti bahwa kita harus yakin dengan apa yang dipegang sebelum kemudian dimainkan dan berguna bagi banyak orang. Setelah yakin, pemain karinding biasa mulai menabuh karinding dengan sabar, tidak tergesa-gesa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu keras,tidak terlalu Artinya adalah sebaik-baik urusan adalah yang berada ditengah-tengah dan dilakukan dengan sabar. Yang terakhir adalah sadar, berhubungan erat dengan upaya terus-menerus untuk mencapai hal yang baik, pantang menyerah dan kreatif dalam menyusun langkah-langkah yang diyakini benar. Tiga hal tersebutlah yang diyakini oleh Abah Olot dapat menjadi tuntunan hidup bagi Seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya Abah Olot meyakini bahwa seorang seniman itu harus nyeni, yaitu perilaku nu kudu hade, juga mengikuti dasar arti kata Sunda yaitu susun wanda yang berarti menata perilaku menjadi sosok manusia yang baik, baik terhadap sesama manusia maupun diri sendiri. Olot hingga kini tidak meninggalkan nilai budaya yang ada pada karinding, walaupun kini karinding sudah dimainkan dan mengalami peralihan fungsi, filosofi yang terkandung dalam karinding tetap ia junjung tinggi. Selain itu menurut Mang Hendra. Abah Olot masih melakukan ritual mipitamit dari mulai penebangan batang bamboo hingga proses pengeringannya. AuBetapa indah filosofiAu Yakin. Sabar. SadarAy yang terkandung dalam karinding. Tiga hal ini jika sudah biasa disatukan dalam harmoni maka akan sangat berguna dalam membentuk kepribadian manusia yang unggul dalam sisi-sisi kehidupannya. Manusia yang sederhana, arif, harmonis, dan memiliki ketenangan jiwa AyRahman Filosofi di atas adalah makna budaya yang muncul dari alat musik karinding. Filosofi tersebut dipegang teguh oleh Abah Olot dalam kehidupannya. Karinding adalah alat musik tradisional yang memiliki kekayaan intelektualitas dibalik bentuknya yang sederhana. Bentuk karinding dibagi menjadi tiga, yaitu pacepengan, cecet ucing dan paneunggeulan. Kemampuan untuk bereksperimen, untuk AubermainAy dengan konsep-konsep. Rogers (Baihaqi, 2008: . mengatakan sebuah pengalaman akan hidup saat seseorang dapat membuka diri terhadap pengalaman tersebut, dengan kata lain orang tersebut fleksibel dalam melihat dan menerima pengalaman atau situasi yang baru. Zaini Alif berpendapat bahwa. AuKepribadian Abah Olot yang fleksibel adalah salah satu kekuatan Abah Olot untuk dapat mengadaptasikan karinding ke setiap tahapan umur dan zaman Ay. awancara Zaini Alif, 2. Dapat disimpulkan bahwa Abah Olot adalah seseorang yang terbuka dengan pengalaman dan situasi yang baru dimana ia melihat sebuah kecenderungan karinding yang akan membosankan jika tetap dimainkan tunggal dengan metode Gambar 7 Abah Olot Memainkan Karinding (Dokumetasi: Muhammad Luthfi Ferrari, 2. Bagian pertama dari karinding yaitu panyecepengan, merupakan bagian dimana pemain karinding harus memegangnya dengan baik. Panyecepengan serta cara pemain memegang karinding mengandung Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 2 Desember 2021 seperti dahulu kala, maka ia membuat celempung untuk dikolaborasikan dengan Abah Olot memiliki sifat yang terbuka dan menerima pengalaman baru untuk dapat tetap mempertahankan kelestarian karinding. Sebetulnya, temuannya adalah hal yang kecil Karena ia dapatkan sebagai bentuk pewarisan, namun mengkolaborasi temuan-temuan kecilnya yaitu karinding, celempung dan alat-alat yang ia modifikasi menjadi sebuah hal yang besar untuk kelangsungan pamor dari karinding. seperti kohkol latung, celempung ryntyng, celempung melodi, keprak, gong tiup bahkan dengan vokal. Konsep tersebut diaplikasikan kedalam kelompok musiknya. Giri Kerencyng. Hal tersebut membuat karinding yang sebelumnya merupakan kalangeunan menjadi alat musik yang dapat dipertunjukkan dalam kelompok musik. SIMPULAN Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinstik dan ekstrinsik dari Abah Olot sangat berpengaruh kepada kreativitasnya dalam melestarikan Dengan motivasi tersebut. Abah Olot menjadi sosok yang memikirkan bagaimana sebuah alat musik buhun yaitu karinding bias terus lestari. Dari pemikiran tersebut, maka lahirlah ide-ide dimana karinding harus dapat berkembang dan diminati oleh masyarakat. Salah satu dari buah pemikirannya adalah mengkolaborasi karinding dengan alat musik lain, dalam hal ini Abah Olot mengolaborasikan karinding dengan celempung dan alat musik bamboo lainnya yang ia produksi Setelah berhasil menemukan harmoni antara karinding dan celempung. Abah Olot memainkannya bersama Giri Kerencyng agar dapat menjadi contoh bagaimana karinding dapat dimainkan bersama dalam sebuah kelompok musik, dan dikolaborasikan dengan alat musik lain juga dengan vocal verbal. Selain memperlihatkan bagaimana karinding dapat dimainkan dalam kelompok musik, ia juga memperkenalkan filosofi karinding yang dijadikannya sebagai budaya yang ditanam secara turun temurun dilingkungan keluarganya. Hal tersebut dilakukan walaupun karinding dimainkan berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh pendahulu sebelumnya, namun karinding tetap memiliki nilai sebagai sebuah tuntunan hidup. Gambar 8 Abah Olot Memaikan Karinding dengan Alat Musik Bambu Lainnya (Dokumentasi: Muhammad Luthfi Ferrari. Dari temuan yang peneliti dapatkan, dapat disimpulkan bahwa kreativitas Abah Olot dalam melestarikan karinding yaitu dengan mengkombinasikan konsepkonsep lama menjadi sebuah konsep baru dan memodifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru. Pertama, adalah memodifikasi celempung dan kohkol dengan motivasi agar karinding dapat dimainkan dengan alat musik lain. Dari hasil modifikasi tersebutlah Abah Olot menciptakan kohkol latung dan celempung ryntyng. Kedua, adalah mengkolaborasi karinding dan celempung agar dapat dimainkan bersama yang setelahnya dipadukan dengan alat musik bambu lain Ferrari. Herdini. Afriyanto: Proses Kreatif Abah Olot dalam Melestarikan Karinding Daftar Pustaka