Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. INSECURE SEBAGAI KRISIS PEMAHAMAN HAKIKAT MANUSIA. MENCARI JATI DIRI DIANTARA JASAD DAN RUH MELALUI MURAQABAH Assifa Retno Devanti Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka retnoassifa@gmail. Quellativa Clevaranu Salsabilah Liberto Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka sarusabiralbrto@gmail. Info Artikel Submit : 10 Juli 2025 Revisi : 15 Agustus 2025 Diterima : 20 Agustus 2025 Publis : 22 Oktober 2025 Abstract Fenomena insecure merupakan salah satu krisis yang dialami banyak individu dalam era modern, seringkali dipahami hanya dari sisi psikologis. Namun, krisis ini juga merefleksikan ketidakseimbangan antara aspek jasad dan ruh dalam diri manusia. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk menelaah insecurity sebagai krisis eksistensial yang lahir dari putusnya manusia dengan hakikatnya sebagai makhluk dengan jasmani dan rohani. Dengan menggunakan metode studi literatur, penelitian ini mengkaji berbagai perspektif psikologi, filsafat, dan spiritualitas Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa insecure bukan hanya persoalan kurang percaya diri atau trauma masa lalu, tetapi juga cerminan dari hilangnya kesadaran akan peran ruh dalam kehidupan. Upaya penyelarasan antara jasad dan ruh, melalui praktik kontemplatif seperti muraqabah, menjadi solusi yang ditawarkan untuk mengembalikan keseimbangan diri. Tulisan ini menyarankan bahwa pemahaman tentang manusia secara utuh sangat penting dalam menangani problematika insecure di masa kini. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 Keywords P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 Insecure. Tasawuf. Ketimpangan Jasad dan Ruh. Spiritualitas Islam. Muraqabah. Pendahuluan Waktu masih berjalan, seiring bersamaan dengan jiwa dan raga. Tiada hentinya kita sebagai manusia terus belajar dan berkembang demi ujung yang dirasa tiadanya. Dalam perjalanan tersebut, memilih mana yang baik dan yang tidak baik seolah menjadi makanan sehari setiap hari. Langkah-langkah seolah harus berhati-hati, atau terus abai yang penting diri selalu dirasa aman terkendali. Hingga suatu waktu, diri mulai kehilangan arah. Langkah mulai memelan hingga berhenti dan tidak tahu ke mana harus pergi. Terlalu banyak jalan persimpangan di depan mata. Era globalisasi kian meningkatkan teknologi guna memudahkan kehidupan. Sebuah kehidupan dimana manusia modern hidup dalam dunia yang semakin cepat, bising, dan sarat akan tuntutan sosial. Di tengah arus informasi yang deras dan standar kesuksesan yang semakin sempit, banyak individu mengalami perasaan tidak aman terhadap diri mereka sendiri, atau yang dikenal dengan istilah insecurity. Insecurities menurut kamus besar bahasa Inggris, memiliki arti AuketidakamananAy. Menurut Abraham Maslow, insecure adalah suatu keadaan dimana seseorang yang merasa tidak aman,menganggap dunia sebagai sebuah hutan yang mengancam dan kebanyakan manusia berbahaya dan egois. Orang yang mengalami insecure umumnya merasa ditolak dan terisolasi, cemas, pesimis, tidak bahagia, merasa bersalah, tidak percaya diri, egois dan cenderung neurotic. Neurotic yaitu kecemasan yang tidak memperlihatkan sebab dan ciri khas yang obyektif 1. Secara psikologis, insecurity seringkali dikaitkan dengan pengalaman masa kecil, tekanan sosial, atau gangguan harga diri. Namun, kajian semata dari aspek psikis belum tentu cukup untuk menjelaskan akar terdalam dari perasaan ini. Insecurities atau rasa ketidakamanan merupakan perasaan cemas, kurang percaya diri, dan merasa tidak aman yang seringkali muncul dalam kehidupan seseorang. Dalam psikoterapi Islam. Insecurities Hakim. Insecure dalam Ilmu Psikologi ditinjau dari Perspektif Al-QurAoan. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 dipandang sebagai kondisi yang terjadi akibat kurangnya rasa syukur dan kepercayaan diri terhadap apa yang telah Allah berikan. 2 Faktor yang menyebabkan seseorang mengalami Insecurities terdapat dari luar atau dalam diri individu. Dari beberapa faktor internal yaitu perasaan kesepian, tidak percaya diri dengan diri sendiri, sifat perfeksionis, kecemasan dan takut bersosialisasi, dan beberapa faktor eksternal yaitu Perlakuan overprotektif dari keluarga. Perlakuan dibanding-bandingkan. Penolakan dari orang lain. Trauma masa lalu, dan Kegagalan dalam pendidikan atau pekerjaan. Salah satu penyebab seseorang merasa insecure adalah karena individu tersebut belum memiliki pemahaman yang kuat tentang siapa dirinya. Dalam psikologi, hal ini disebut dengan konsep diri . elf-concep. , yaitu cara seseorang memandang dan menilai dirinya sendiri. Carl R. Rogers memiliki pandangan bahwa dorongan utama setiap orang adalah untuk menyadari potensinya, yang memungkinkan mereka untuk mencapai tahap manusia yang paling tinggi atau menjadi manusia seutuhnya. 4 Rogers mengibaratkan manusia seperti bunga yang dapat berkembang secara maksimal dalam kondisi yang tepat, namun tetap dapat dikontrol oleh lingkungannya. Dengan kondisi yang tepat, manusia juga demikian. Tidak berbeda dengan bunga, manusia memiliki potensi yang berbeda karena mereka ditakdirkan untuk tumbuh dalam berbagai cara yang sesuai dengan pribadinya. Rogers percaya bahwa manusia memiliki fitrah yang baik dan kreatif. Jika seseorang memiliki keyakinan diri yang negatif atau memiliki rintangan-rintangan eksternal yang lebih mendominasi mereka, mereka akan memiliki sifat destruktif. Adilla. Penanganan Insecurities menurut pendekatan psikoterapi islam. Skripsi. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh Amanda. Azzahroh. , & Wulandari. Augus. Penanganan Insecure pada Remaja dengan Pendekatan Terapi Sholat dan Dzikir. In Proceeding Conference on Psychology and Behavioral Sciences (Vol. 3, pp. Rogers. On becoming a person. https://w. com/Becoming-Person-C-RRogers/dp/0094540209 Jarvis. Teori-teori psikologi : pendekatan modern untuk memahami perilaku, perasaan dan pikiran manusia. Nusamedia. https://e-library. id/index. php?p=show_detail&id=4066 Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 Dalam Al-QurAoan, perasaan gelisah, takut berlebihan, atau tidak percaya diri dapat dipahami sebagai akibat dari kegelisahan ruhani dan jauh dari kesadaran akan jati diri sebagai makhluk ciptaan Allah. Allah berfirman pada surah Adz-Dzariyat :56 aOaIa aEaCaEaaIaaOaEaIaauaEa EaOa aOIA AuDan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Ay Manusia diciptakan dengan fitrah untuk mengenal dan menyembah Tuhannya. Namun, ketika manusia lebih terikat pada dunia lahiriah seperti penampilan, status sosial, atau pengakuan dari orang lain, ia mulai kehilangan koneksi dengan hakikat dirinya yang sejati sebagai hamba Allah. Dari sinilah rasa tidak aman dan tidak utuh . bisa Pada dasarnya, setiap manusia memiliki beberapa kebutuhan, termasuk kebutuhan primer dan sekunder, seperti kasih sayang, kenyamanan, penghargaan diri, kebebasan, pencapaian, dan ingin tahu, dan yang terpenting adalah agama. Dengan demikian, manusia dapat mengatasi segala masalah dalam hidup, seperti mengatasi rasa tidak aman dengan menggunakan pendekatan agama. Perlu diketahui bahwa perasaan insecure ini tidak muncul sewaktu manusia lahir, karena Allah sudah menetapkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sesuai dengan firmanNya dalam QS. At-Tn : 4. aAEaCaEaCaI EaIaaIaOaIaCaOaOaIA Surah diatas memiliki arti AuSungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknyaAy Pernyataan tersebut juga dikuatkan dengan penafsiran Wahbah Az-Zuhaili . dalam tafsir Al-Munirnya bahwa manusia diciptakan dengan sempurna dan seimbang Firdaus. Zubaidi. , & Sapputri. Berdamai dengan diri sendiri, kapan ini dilakukan? Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 dari segi bentuk, ukuran, dan keistimewaannya oleh Allah. 7 Karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, jika sampai saat ini muncul perasaan tidak nyaman, itu dapat berdampak baik secara internal maupun eksternal karena Allah telah mentakdirkan manusia menjadi makhluk yang sempurna. Tidak peduli seberapa kuat atau lemah seseorang. Allah memandang manusia itu seperti pada awal penciptaan yaitu sungguh amat baik atau sangat bernilai dihadapannya. Ini menunjukkan bahwa setiap individu di antara kita memiliki kewajiban untuk menunjukkan rasa syukur terhadap Hakikat manusia terdiri dari kumpulan konsep dan ide dasar tentang manusia dan tujuan eksistensi mereka di dunia ini. Pengertian hakikat manusia berkaitan dengan "prinsip adanya" manusia, dengan kata lain, pengertian hakikat manusia terdiri dari kumpulan konsep tentang "sesuatu yang olehnya" manusia memiliki karakteristik khas yang memiliki sesuatu martabat khusus (Louis Leahy, 1. Aspek-aspek hakikat manusia berkenaan tentang asal-usulnya . isalnya, manusia sebagai makhluk Tuha. , struktur metafisikanya . isalnya, manusia sebagai kesatuan badan-ru. , dan karakteristik dan makna eksistensi manusia di dunia . isalnya, manusia sebagai individu, sosial, budaya, susila, dan Esensi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah tidak hanya sebatas AojasadAo. Dalam penelitian milik Hejazi . 9 menyebutkan beberapa pandangan tentang manusia, seperti filsuf Ludwig WittgensteinAimenyebutkan jika manusia berpusat pada diri yang terbenam dalam proses berpikir dan pada kesadaran diri akan proses ini. Wittgenstein menulis : AuGagasan berpikir sebagai suatu proses di dalam kepala, dalam ruang yang sepenuhnya terisolasi, menjadikan berpikir sebagai sesuatu yang gaib. Ay Wittgenstein menghindari paradigma ini dan menunjukkan bagaimana proses berpikir Aokhas manusiaAo merupakan konstruksi sosial dan bukan proses internal yang Az-Zuhaili. , al-Kattani. Mujiburrahman. Subadi. Ikhwani. , & Bahreisy. Tafsir AlMunir aqidah syari'ah manhaj:(Adz-Dzaariyaat-At-Tahrii. juz 27 &28. Gema Insani. Sumantri. Hakikat Manusia dan Pendidikan. Universitas Terbuka Repository. Hejazi. AoHumankind. The Best of MoldsAoAiIslam Confronting Transhumanism. Sophia, 58. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 tersembunyi di dalam pikiran manusia. Padahal, menurut Hejazi sendiri, hakikat manusia dalam tradisi Islam lebih banyak ditemukan dalam sifat sosial manusia, daripada dalam keterampilan berpikir dan kesadaran diri mereka. Dimensi sosial yang melekat pada manusia dalam tradisi Islam juga diakui oleh penerjemahan kata AumanusiaAy dalam bahasa Arab di dalam Al-QurAoan, yang mengandung makna yang berbeda-beda. Dari sudut pandang spiritual maupun filosofis, manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk transenden yang mencari makna, arah, dan keutuhan. Ketidaktahuan atau keterputusan dari sisi ruhani ini dapat menimbulkan kekosongan batin, yang pada gilirannya memunculkan krisis identitas dan perasaan insecure. Penelitian tentang insecurity dengan jasad dan ruh masing-masing telah banyak dilakukan. Namun, eksplorasi penelitian mengenai insecurity pada pandangan agama islam masih berada di lingkup hubungan masalah dengan tinjauan pada kitab Al-QurAoan. Sebagian besar penelitian menghubungkan permasalahan insecurity dengan hakikat manusia yang hanya dipahami sebatas aspek lahiriah tanpa memperhitungkan batiniah, objek yang tunduk pada naluri dan kebutuhan duniawi, atau pun sebuah materi tanpa mempertimbangkan dimensi spiritual atau eksistensial yang menyertainya. Oleh karena itu, tulisan ini berupaya mengkaji insecurity bukan semata sebagai gangguan psikologis, melainkan sebagai cerminan krisis pemahaman akan hakikat manusia secara utuh, jasad, dan ruh, dan cara menyelaraskannya dengan salah satu metode meditasi yang dilakukan oleh para sufi, yakni muraqabah. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. yaitu dengan mengumpulkan dan menelaah berbagai sumber tertulis yang relevan seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan karya tokoh-tokoh di bidang psikologi, filsafat, dan spiritualitas. Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dan reflektif, karena tujuan utama tulisan ini bukan untuk mengukur suatu gejala secara kuantitatif, tetapi untuk memahami dan mengkaji secara mendalam makna di balik perasaan insecure yang dialami Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 Penulis mencoba mengaitkan berbagai teori dan pandangan mengenai konsep diri, hakikat manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani, serta bagaimana ketidakseimbangan antara keduanya dapat memicu krisis pemahaman diri. Melalui proses membaca, menganalisis, dan mensintesis berbagai pemikiran, tulisan ini berusaha menghadirkan pandangan yang lebih menyeluruh dan bermakna mengenai insecure sebagai bagian dari pergulatan eksistensial manusia. Pembahasan Insecurity sebagai ketimpangan antara jasad dan ruh Insecurity dapat dipahami sebagai gejala batiniah yang timbul akibat ketimpangan antara aspek jasad . ubuh fisi. dan ruh . imensi spiritua. dalam diri manusia. Ketika seseorang terlalu terfokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani seperti penampilan, status sosial, materi, dan pengakuan dari lingkungan tanpa menyeimbangkannya dengan kebutuhan rohani seperti pencarian makna, kedekatan dengan Tuhan, dan internalisasi nilai-nilai moral, maka akan muncul kekosongan dalam jiwa. Ketimpangan ini membuat seseorang mudah terjebak dalam perasaan tidak puas, selalu merasa kurang, dan tidak percaya diri meskipun secara lahiriah tampak Aubaik-baik sajaAy. Dengan kata lain, insecure muncul karena manusia kehilangan orientasi hakikinya, yaitu sebagai makhluk ruhani yang memiliki tujuan hidup lebih tinggi dari sekadar eksistensi fisik. Dalam perspektif ini, insecurity bukan hanya masalah psikologis atau sosial, tetapi merupakan refleksi dari krisis keseimbangan internal antara tubuh yang terlihat dan jiwa yang tersembunyi. Dalam pandangan tasawuf, manusia terdiri dari dua komponen utama: jasad sebagai unsur material yang berasal dari tanah, dan ruh sebagai unsur ilahiah yang berasal dari Tuhan (QS. As-Sajdah: . Ketika manusia mengabaikan dimensi ruhani, ia cenderung terjebak dalam orientasi duniawi yang dangkal. Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menjelaskan bahwa manusia yang tidak mengenali hakikat dirinya akan hidup dalam kebingungan spiritual, karena lebih mengutamakan hawa nafsu ketimbang menyucikan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 10 Ruh yang seharusnya menjadi pusat kendali jiwa malah terpinggirkan oleh dominasi jasad dan ego. Fenomena ini juga mendapat perhatian dalam psikologi transpersonal yang menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam kesehatan jiwa. Vaughan . 11 menyebut kondisi Auspiritual disconnectionAy sebagai akar dari krisis makna yang sering kali tampak dalam bentuk kecemasan, depresi, dan perasaan hampa, semuanya gejala yang lazim ditemukan dalam kondisi insecure. Oleh karena itu, ketimpangan antara jasad dan ruh ini harus dipahami bukan hanya sebagai ketidakseimbangan psikologis, tetapi sebagai krisis ontologis yang membutuhkan pendekatan spiritual. Salah satu jalan dalam tasawuf untuk mengatasi ketimpangan ini adalah dengan muraqabah, yakni kesadaran penuh akan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Melalui muraqabah, seseorang tidak hanya mengenal dirinya secara lahiriah, tetapi juga menyadari dimensi batiniahnya yang terdalam. Dengan demikian, praktik spiritual ini menjadi sarana untuk menyelaraskan kembali jasad dan ruh, membangun keutuhan diri, serta mengatasi akar dari insecurity itu sendiri. Krisis Makna dan Spiritualitas akan Insecurity Meskipun Allah SWT. telah memberikan penciptaan yang sebaik-baiknya yang paling sempurna kepada manusia, tidak dipungkiri jika manusia itu sendiri masih meragukan akan makna dirinya sendiri. Dalam buku Essays on Values . 12 menyebutkan Simmias filsuf asal Yunani mengemukakan teori harmoni jiwa dalam dialog Phaedo karya Plato. Menurut teori tersebut jiwa manusia terdiri dari harmoni bagian-bagian tubuh yang keberadaan jiwanya bergantung padanya. Dengan kata lain, menurutnya, jiwa bergantung dengan tubuh, bukan sebaliknya. Ghazali. Ihya Aoulum al-din. https://doi. org/10. 1163/9789004662087 Vaughan. What is Spiritual Intelligence? Journal of Humanistic Psychology, 42. , 16Ae33. https://doi. org/10. 1177/0022167802422003 Constyncio. , & Mayer Branco. (Eds. Essays on Values: Volume 1. Instituto de Filosofia da Nova (IFILNOVA). Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 Bagi seorang individu yang memiliki insecurity, akan merasakan krisis pemaknaan yang mirip dengan teori Simmias tersebut. Dalam dialog tersebut. Socrates menolak teori tersebut dengan alasan. teori harmoni tidak dapat menjelaskan keutamaan moral atau pengetahuan, karena keduanya mengandalkan jiwa. Menurutnya, jika jiwa hanyalah harmoni, maka ia tidak bisa mengendalikan tubuh, karena harmoni adalah hasil, bukan Selain itu, sering kali jiwa menentang dorongan tubuh seperti menahan diri dari makan saat lapar yang menunjukkan bahwa jiwa lebih dari sekadar hasil fisik tubuh. Perasaan insecure oleh seorang individu, menunjukkan rasa ketidakamanan. Hilangnya perasaan aman tersebut dapat menyebabkan seseorang timbul rasa curiga, membela diri. Melanie Greenberg . menyebutkan terdapat 3 alasan umum seseorang merasa insecure : riwayat kegagalan atau penolakan, kurangnya kepercayaan diri karena kecemasan sosial, dan dorongan rasa Hal inilah yang mendorong individu akan krisis makna dan spiritualisme yang mereka hadapi dari rasa insecure. Dalam penelitian milik Sabil dan Karnita . menyebutkan jika rasa insecure yang berlebihan dapat menyebabkan dampak negatif dan mengacu pada kesehatan mental, diantaranya yakni depresi, aktivitas sehari-hari menjadi terganggu, dan mudah menganggap dirinya tidak berharga. Upaya menyelaraskan Jasad dan Ruh dari Insecurity Terkadang perasaan insecure memang tidak dapat dihindari. Insecure bisa hadir dari aspek manapun, mulai dari tekanan sosial, stereotip, hingga dorongan diri untuk menjadi sempurna yang menurut pribadi seorang individu itu sendiri berbeda dengan yang lain. Qatrunnada. Firdaus. Karnila. , & Romli. Fenomena Insecurity di Kalangan Remaja dan Hubungannya dengan Pemahaman Aqidah Islam. IQ (Ilmu Al-qur'a. : Jurnal Pendidikan Islam, 5. Greenberg. The stress-proof brain: Master your emotional response to stress using mindfulness and neuroplasticity. New Harbinger Publications. Sabil. , & Karnita. Perancangan buku jurnal interaktif untuk membantu mengelola rasa insecure pada remaja. FAD, 1. , 15-15. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 Namun, sebagai pemeluk agama, terutama seorang muslim, menjadi hal penting untuk senantiasa melakukan refleksi diri . atau tafakur. Rothman . mendefinisikan muraqabah sebagai menyelaraskan diri dengan batin kita secara holistik qalb . ati spiritua. , aql . kal, pikira. , nafs . iwa, eg. , dan ruh . serta terhubung dengan Tuhan secara spiritual melalui ruh. Rothman juga terkadang menggunakan kata tafakur . ontemplasi/perenunga. untuk menggambarkan fenomena yang serupa. 16 Dalam melakukan meditasi ini, individu mengamati atau merawat nafs . Ini termasuk mengamati pikiran, tindakan, dan keadaan spiritual dalam diri. Melalui proses meditasi ini, individu memperoleh pengetahuan tentang jiwa dan hubungannya dengan Sang Pencipta, yakni Allah SWT. Dengan menjadi sadar akan perasaan batin dan lingkungan sekitarnya, seorang individu yang sedang melakukan muraqabah bisa melakukan perubahan pandangan tentang insecure tentang dirinya bukan sebagai kelemahan, namun sebagai suatu AosinyalAo pada diri yang belum kita pahami atau yang kita rawat sepenuhnya. Dengan melakukan muraqabah, kita melatih kesadaran bahwa Allah SWT. sebagai Sang Pencipta senantiasa terhubung dengan kita secara spiritual untuk membimbing kita agar jujur dan menerima diri kita Melakukan muraqabah juga bisa dilakukan dengan menerima insecure kita sebagai ujian pada nafs. Dengan begitu, kita bisa membangun pemikiran bahwa Allah SWT. mengetahui kelemahan dan rasa tidak aman yang dirasakan dan senantiasa mempercayai bahwa Dia-lah yang akan mencintai setiap kelemahan kita, sebagaimana dalam surah AlBaqarah Ayat 216: Au. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi . kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ay Muraqabah bukan hanya tentang menyadari bahwa kita sedang dilihat oleh Allah, tapi juga merasa dilindungi, dicintai, dan dibimbing-Nya. Melalui muraqabah, perasaan Isgandarova. Mindfulness Techniques and Practices in Islamic Psychotherapy: The Power of Muraqabah. Taylor & Francis. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442 -5907 E-ISSN 2797-2585 insecure tidak lagi menjadi musuh, tetapi sebuah jendela untuk mengenal diri, menyucikan hati, dan mendekatkan diri pada Tuhan Sang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Kesimpulan Insecurity bukan sekadar fenomena psikologis yang muncul akibat tekanan sosial atau kegagalan personal, melainkan cerminan dari krisis eksistensial yang lebih dalam: ketimpangan antara jasad dan ruh. Ketika manusia terlalu fokus pada pemenuhan aspek jasmani seperti penampilan, status, dan materi tanpa keseimbangan dengan kebutuhan spiritual seperti makna hidup, hubungan dengan Tuhan, dan nilai-nilai ruhani, maka terjadilah kehampaan jiwa. Insecurity pun hadir sebagai sinyal atas kehilangan orientasi hakiki manusia sebagai makhluk ruhani yang diciptakan dengan tujuan ilahiah. Dalam perspektif tasawuf, jiwa manusia bukan sekadar hasil harmoni tubuh seperti dalam teori Simmias, melainkan sumber yang mampu mengendalikan jasad dan mengarahkan hidup menuju kesempurnaan spiritual. Oleh karena itu, upaya penyembuhan dari rasa insecure tidak cukup hanya melalui pendekatan psikologis konvensional, tetapi juga memerlukan pendekatan spiritual, yakni dengan muraqabah, sebuah praktik kontemplatif untuk menyadari kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Melalui muraqabah, individu diajak untuk mentafakuri kondisi batinnya, menerima rasa insecure sebagai bagian dari ujian jiwa . , serta mengembalikan kesadaran akan cinta dan perlindungan Allah. Dalam kesadaran ini, insecurity tidak lagi menjadi beban yang melemahkan, tetapi jendela untuk menyelami hakikat diri dan memperkuat hubungan Dengan menyelaraskan jasad dan ruh, manusia dapat menemukan kembali jati dirinya sebagai hamba Allah yang utuh, bernilai, dan dicintaiAibukan karena pencapaian lahiriahnya, tetapi karena kesadarannya akan makna hidup yang sejati. DAFTAR PUSTAKA