Jurnal Terbit Vol. 3 No. 2, 30 Maret 2026 | E-ISSN: 3026-2895 HUMA BETANG SEBAGAI KERANGKA EPISTEMOLOGIS PENDIDIKAN HUMANIORA Bidin STAI Kuala Kapuas. Indonesia Email: bidinhd1973@gmail. Diterima 20 November 2025 Info Artikel Disetujui 16 Maret 2026 Terbit 30 Maret 2026 Keywords: Huma Betang Humanities Education Local Wisdom ABSTRACT This study examines the relevance of Huma Betang values as an epistemological foundation for strengthening humanities education in Kapuas Regency. Grounded in the understanding that humanities education plays a strategic role in shaping studentsAo character, ethics, and cultural awareness, this research explores how Dayak Ngaju local wisdom particularly the values of solidarity, deliberation, equality, mutual cooperation, and tolerance can be systematically integrated into curriculum and instructional practices. Using a qualitative approach based on interviews and observations, the study finds that Huma Betang values are not only rich in philosophical depth but are also embedded in the daily life of the community, giving them strong potential as a source of local epistemology for humanities education. Effective implementation of these values requires ethnopedagogical training for teachers, the development of official Huma Betang based learning modules, and structured collaboration among schools, educational authorities, and customary Dayak institutions. The study concludes that strengthening humanities education through local wisdom enhances the relevance of learning, reinforces studentsAo cultural identity, and fosters socially adaptive character within a multicultural Kata Kunci: Huma Betang Pendidikan Humaniora Kearifan Lokal ABSTRAK Penelitian ini menganalisis relevansi nilai-nilai Huma Betang sebagai basis epistemologis dalam penguatan pendidikan humaniora di Kabupaten Kapuas. Berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan humaniora memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, etika, dan kesadaran budaya peserta didik, studi ini meninjau bagaimana kearifan lokal Dayak Ngaju khususnya nilai kebersamaan, musyawarah, kesetaraan, gotong royong, dan toleransi dapat diintegrasikan secara sistematis ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran. Melalui pendekatan kualitatif berbasis wawancara dan observasi, penelitian menemukan bahwa nilainilai Huma Betang tidak hanya kaya secara filosofis, tetapi juga hidup dalam keseharian masyarakat sehingga memiliki potensi besar sebagai sumber epistemologi lokal bagi pendidikan humaniora. Implementasi integrasi ini membutuhkan pelatihan etnopedagogi bagi guru, penyusunan modul resmi berbasis Huma Betang, serta kolaborasi struktural antara sekolah, dinas pendidikan, dan komunitas adat. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan humaniora berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan relevansi pembelajaran, memperkokoh identitas budaya siswa, dan menumbuhkan karakter sosial yang adaptif dalam masyarakat multikultural. Copyright and License: Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about Bidin PENDAHULUAN Pendidikan humaniora memiliki posisi penting dalam sistem pendidikan Indonesia karena berfokus pada penguatan nilai kemanusiaan, budaya, etika, dan kemampuan reflektif yang dibutuhkan masyarakat majemuk. Secara historis, bidang ini tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk moral, identitas budaya, dan kesadaran kritis suatu peran yang makin relevan di tengah perubahan sosial dan tuntutan demokrasi modern. Di era globalisasi dan digitalisasi, arus informasi dan budaya populer mempercepat perubahan nilai generasi muda, sementara polarisasi sosial semakin terasa. Sekolah idealnya menjadi ruang untuk menumbuhkan toleransi dan dialog antarbudaya, namun pelaksanaannya sering terhambat oleh kurangnya materi kontekstual, keterampilan guru dalam pendidikan multikultural, dan resistensi sosial. Dalam situasi ini, kearifan lokal menjadi sumber pengetahuan yang kaya nilai dan praktik budaya, tetapi belum dioptimalkan. Muatan lokal seharusnya berfungsi sebagai jalur integrasi kearifan lokal ke pembelajaran formal, namun implementasinya masih beragam dan belum Karena itu, penguatan muatan lokal perlu diposisikan sebagai sumber epistemik penting bagi pendidikan karakter dan humaniora, bukan sekadar tambahan kurikulum. Salah satu contoh kearifan lokal yang kaya dan relevan adalah falsafah Huma Betang/rumah panjang Dayak yang dalam praktik sosial berfungsi sebagai arena kehidupan kolektif, pengambilan keputusan bersama . , solidaritas, dan regulasi norma sosial. Huma Betang merepresentasikan sistem nilai yang menekankan kebersamaan, persamaan martabat, gotongroyong, dan resolusi konflik secara kolektif. dengan demikian ia bukan hanya artefak material, tetapi juga episteme sosial yang membentuk cara berpikir dan bertindak komunitas Dayak Ngaju. Beberapa kajian etnografi dan antropologi modern menegaskan bahwa nilai-nilai Huma Betang masih dipraktikkan dalam interaksi sosial dan memiliki potensi transformasional ketika diaktualisasikan ke ranah pendidikan formal. Oleh karena itu. Huma Betang layak dilihat sebagai sumber pengetahuan lokal yang dapat memformalkan nilai-nilai humaniora di tingkat sekolah. Pemilihan konteks Kabupaten Kapuas sebagai fokus penelitian didasari oleh alasan historis, demografis, dan kultural. Kabupaten Kapuas merupakan salah satu kawasan di Kalimantan Tengah dengan konsentrasi komunitas Dayak Ngaju dan tradisi rumah betang yang berakar kuat pada 1 Kasdin Sihotang. AuPROBLEMATIKA EKSISTENSIAL PENDIDIKAN HUMANIORA BERBASIS MEDIAAy 01, no. 1Ae14. 2 Zahra Nabilah et al. AuTantangan Multikulturalisme Terhadap Solidaritas Kewarganegaraan Dalam Masyarakat MajemukAy 2 . : 82Ae89. 3 Muhammad Faiz. AuAnalisis Kurikulum Nasional Dan Muatan LokalAy 3 . : 5881Ae97. 4 Maria Lidya Wenas Sabda Budiman. Yelicia. AuFILOSOFI HUMA BETANG SUKU DAYAK NGAJU SEBAGAI UPAYA PEMBINAAN GEREJA SECARA KONTEKSTUAL BERDASARKAN KISAH PARA RASUL 2:42-47,Ay Ejournal IAKN Manado, 2023, 42Ae47. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin kehidupan sehari-hari masyarakat tepi sungai Kapuas. Sejarah pemukiman, pola organisasi sosial, dan praktik ritual di Kapuas mencerminkan bahwa Huma Betang bukan sekadar simbol tetapi bagian dari tata nilai kolektif yang berpengaruh pada relasi sosial dan pendidikan informal di komunitas Konteks Kapuas juga menunjukkan adanya upaya lokal . nisiatif komunitas, kegiatan budaya, kerja sama tokoh adat dengan lembaga pendidika. untuk mempertahankan dan merevitalisasi kearifan lokal fenomena yang menjadi peluang implementasi pedagogis di sekolah. Sumber sejarah dan dokumen pemerintah daerah menguatkan posisi Kapuas sebagai ruang budaya Dayak yang relevan untuk kajian ini. Urgensi mengangkat Huma Betang sebagai kerangka epistemologis pendidikan berakar pada beberapa kebutuhan praktis dan teoretis yaitu kebutuhan untuk mengembalikan relevansi pendidikan humaniora dengan pengalaman hidup lokal agar materi ajar dapat menginternalisasi nilai moral dan identitas budaya, kebutuhan strategis untuk memperkuat pendidikan karakter yang efektif berdasarkan nilai-nilai yang sudah hidup dalam komunitas, kebutuhan politis-kultural untuk menjembatani pendidikan formal dan otoritas adat sehingga generasi muda tidak kehilangan akar kulturalnya di tengah arus modernisasi. Dengan mengangkat Huma Betang sebagai landasan epistemik, pendidikan humaniora dapat bergerak dari sekadar transfer pengetahuan tekstual menuju proses pembelajaran yang menumbuhkan kapasitas etis, kapabilitas dialog sosial, dan keterampilan hidup kolektif semua hal yang sangat diperlukan bagi warga negara dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Beberapa studi lapangan dan kajian implementasi kearifan lokal telah merekomendasikan langkah-langkah praktis untuk integrasi semacam ini, mulai dari perancangan modul muatan lokal hingga pelatihan guru berbasis etnopedagogi. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini mengambil posisi bahwa memformalkan Huma Betang ke dalam kerangka epistemologis pendidikan humaniora di Kabupaten Kapuas tidak sekadar relevan melainkan mendesak sebagai upaya menjembatani tradisi budaya dengan tuntutan pendidikan kontemporer, sekaligus memberikan alternatif pedagogi kontekstual yang memperkaya kurikulum nasional. 5 Kapuas Bersinar. AuSejarah Kabupaten Kapuas,Ay 2025, 11Ae13. 6 Faiz. AuAnalisis Kurikulum Nasional Dan Muatan Lokal. Ay . ttps://kapuaskab. Bidin TINJAUAN PUSTAKA Konsep Huma Betang Huma Betang, dalam tradisi Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, bukan sekadar bangunan fisik tetapi mencerminkan nilai-nilai filosofi mendalam yang menjadi prinsip hidup Menurut Loi. Kwirinus, dan Peri. Huma Betang melambangkan nilai kebersamaan . , musyawarah . onsep hafakat basar. , dan gotong-royong . sebagai sistem moral yang menopang kehidupan sosial masyarakat Dayak. Di dalam konstruksi sosial Dayak, norma-norma seperti kejujuran, kesetaraan, dan solidaritas juga sangat dijunjung tinggi, yang tercermin dalam struktur kehidupan di betang. Beberapa studi etnografi menggarisbawahi bahwa Huma Betang tidak boleh dipahami hanya sebagai rumah panjang secara fisik, tetapi sebagai ruang epistemologis sebuah tempat di mana kehidupan kolektif, pertukaran pemikiran, dan keputusan bersama berlangsung. Nilai hapakat . dan handep . otong-royon. merupakan inti filosofi Huma Betang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Seran dalam jurnal etnografi juga mencatat bahwa betang mengandung nilai kekeluargaan, kesederhanaan, dan pendidikan karakter turun-temurun dalam komunitas Dayak sebagai bagian dari filosofi hidup mereka. 10 Dengan demikian. Huma Betang bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan simbol sistem nilai kultural yang mengatur norma sosial dan epistemik masyarakat Dayak Ngaju. Epistemologi dalam Pendidikan Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat, asal-usul, dan batas pengetahuan manusia, sekaligus mempertanyakan bagaimana pengetahuan diperoleh, divalidasi, dan siapa yang memiliki otoritas untuk menyampaikannya dalam konteks pendidikan. Dalam perspektif kearifan lokal, epistemologi lokal merujuk pada sistem pengetahuan yang tumbuh dari tradisi, pengalaman, nilai sosial, sejarah, dan praktik hidup suatu komunitas. Pada budaya Dayak, sistem pengetahuan ini mencakup ritual, norma sosial, serta cara hidup yang telah teruji dalam relasi manusia dan alam. 7 Anjelinus Loi. Dismas Kwirinus, and Heribertus Peri. AuTHE CONCEPT OF " HUMA BETANG " AS A MODEL OF THE VALUES OF THE PHILOSOPHY OF LIFE OF THE DAYAK COMMUNITY IN,Ay JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN HUM 14, no. : 219Ae27, https://doi. org/10. 26418/j-psh. 8 Loi. Kwirinus, and Peri. 9 I Wayan Adi Putra Ariawan Daniel Pandu Mau. Yesarela Pandu Mau. Rizal Kurniansah. AuThe Preservation and Adaptation of Betang Culture in Central Borneo in the Era of Globalization Pelestarian Dan Adaptasi Budaya Betang Di Kalimantan Tengah Dalam Era Globalisasi,Ay JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN HUMANIORA 15, no. 599Ae613, https://doi. org/10. 26418/j-psh. 10 Eliana Yunitha Seran. AuDALAM PERSPEKTIF NILAI FILOSOFI HIDUP ( Studi Etnografi : Suku Dayak Desa . Desa Ensaid Panjang Kecamatan Kelam Permai )Ay 5, no. : 28Ae41. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin Epistemologi lokal tidak hanya menjadi penanda identitas budaya, tetapi juga setara nilainya dengan pengetahuan akademis modern. Temuan penelitian etnopedagogi menunjukkan bahwa integrasi pengetahuan lokal dalam kurikulum dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan relevan bagi siswa. Pendekatan Etnopedagogi dan Indigenous Knowledge Etnopedagogi adalah pendekatan pedagogis yang mengkombinasikan nilai, praktik, dan pengetahuan adat dalam proses pendidikan. Dengan menggunakan etnopedagogi, guru tidak hanya mengajar kurikulum akademik, tetapi juga menerjemahkan nilai-nilai lokal seperti musyawarah, kolektivitas, dan gotong-royong menjadi pengalaman pembelajaran. Indigenous knowledge . engetahuan pribum. menjadi komponen epistemik yang valid dan sangat berpotensi untuk membentuk karakter peserta didik yang berakar budaya lokal, sekaligus berkompetensi global. Pendidikan Humaniora Pendidikan humaniora adalah ranah disiplin ilmu seperti sejarah, filsafat, budaya, etika, dan seni, yang bertujuan mengembangkan pemahaman kemanusiaan, nilai moral, dan kesadaran sosialAebudaya pada peserta didik. Melalui pendidikan ini, siswa tidak hanya diajarkan apa pengetahuan, tetapi juga mengapa dan bagaimana pengetahuan itu menjadi relevan bagi kehidupan manusia, menumbuhkan refleksi mendalam atas makna eksistensi dan relasi Peran pendidikan humaniora dalam pembentukan karakter sangat strategis. Dengan nilainilai humaniora, siswa dilatih berpikir kritis, mengembangkan empati, dan menghargai perbedaan budaya, sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab sosial. Misalnya, integrasi etika dan keterikatan sosial dalam pembelajaran holistik dapat meningkatkan empati, toleransi, dan rasa keadilan pada siswa. Nilai-nilai humaniora seperti sejarah, seni, dan etika juga bisa memperkuat pendidikan karakter di sekolah dasar atau madrasah, membantu membangun kesadaran moral dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Namun, pendidikan humaniora di Indonesia menghadapi tantangan signifikan. Salah satu isu utama adalah kurikulum yang lebih menitikberatkan pada aspek kognitif mutu akademik, sehingga materi lokal dan nilai-nilai budaya sering kurang tergarap. Selain itu, pelatihan guru dalam mengajar humaniora secara kontekstual relatif terbatas. Faktor globalisasi dan komersialisasi pendidikan juga memperlemah posisi humaniora banyak sekolah lebih fokus pada STEM atau kompetensi teknis, sedangkan pembelajaran humaniora kerap dipinggirkan. 11 Kristiani Natalina. AuPotensi Integrasi Kearifan Lokal Dayak Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sekolah Dasar Kota Palangka Raya,Ay Jurnal Inovasi Pendidikan 4, no. : 1Ae16. 12 Aulia Syahrina. AuIntegrasi Nilai-Nilai Humaniora Dalam Pendidikan Berbasis Karakter Di Madrasah IbtidaiyahAy 3, 2 . : 133Ae50. Bidin Penelitian menunjukkan bahwa tanpa penguatan nilai lokal dan multikultural, pendidikan karakter bisa kehilangan relevansi terhadap identitas budaya siswa. 13 Dengan demikian, memperkuat pendidikan humaniora di sekolah Indonesia tidak hanya penting untuk pengayaan intelektual, tetapi juga sebagai wahana membangun karakter etis, toleran, dan berorientasi sosial khususnya bila diintegrasikan dengan kearifan lokal dan pendekatan multikultural. Relevansi Huma Betang terhadap Pendidikan Humaniora Nilai-nilai utama Huma Betang seperti kesetaraan, musyawarah, kolektivitas, dan gotong-royong sangat selaras dengan tujuan pendidikan humaniora untuk membentuk karakter sosial dan etis. Dalam filosofi Huma Betang, semua anggota komunitas memiliki peran yang sama dalam musyawarah dan pengambilan keputusan, menunjukkan bahwa kesetaraan dan tanggung jawab bersama adalah bagian dari cara hidup komunitas. Hubungan falsafah lokal Huma Betang dengan pembentukan karakter menjadi sangat penting karena melalui nilai-nilai tersebut, pendidikan humaniora bisa lebih kontekstual dan Misalnya, penelitian tentang pewarisan pendidikan karakter menggunakan filosofi Huma Betang di Palangka Raya menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti toleransi, gotong-royong, dan musyawarah ditanam melalui kegiatan budaya, keteladanan masyarakat, dan pendidikan 15 Selanjutnya, kajian Sharon Michelle O. Pattiasina menunjukkan bahwa filosofi Huma Betang mendukung harmoni antaragama dan membangun identitas nasional di tengah masyarakat multikultural. Beberapa studi juga menyoroti hubungan antara nilai Huma Betang dan nilai Pancasila. Pelu dan Tarantang menemukan bahwa nilai-nilai betang sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Pancasila seperti persatuan, keadilan sosial, dan musyawarah mufakat. 17 Melalui integrasi ini. Huma Betang menjadi jembatan epistemik antara kearifan lokal dan nilai-nilai nasional memperkuat pendidikan humaniora dengan akar budaya sambil mendukung pemahaman dan identitas kebangsaan. 13 Pipit Widiatmaka and Mohammad Yusuf Hidayat. AuPendidikan Multikultural Dan Pembangunan Karakter ToleransiAy 09, no. : 119Ae33. 14 Loi. Kwirinus, and Peri. AuTHE CONCEPT OF " HUMA BETANG " AS A MODEL OF THE VALUES OF THE PHILOSOPHY OF LIFE OF THE DAYAK COMMUNITY IN. Ay 15 Siti Badriah. AuMewariskan Pendidikan Karakter Melalui Filosofi Huma Betang Di Kota Palangka RayaAy 10, no. : 227Ae39. 16 Sharon Michelle O Pattiasina. AuHuma Betang Ao s Philosophy : Interreligious Harmony and Weaving of National Identity in Palangka RayaAy 21, no. : 21Ae30, https://doi. org/10. 23971/jsam. 17 Ibnu Elmi. A S Pelu, and Jefry Tarantang. AuInterkoneksi Nilai-Nilai Huma Betang Kalimantan Tengah Dengan PancasilaAy 14, no. : 119Ae26, https://doi. org/10. 23971/jsam. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi dan studi Pendekatan etnografi dipilih untuk memahami secara langsung praktik nilai-nilai Huma Betang dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju di Kapuas, sehingga interpretasi epistemologisnya dalam pendidikan humaniora dapat ditarik secara kontekstual. Lokasi penelitian mencakup wilayah-wilayah di Kabupaten Kapuas yang masih mempertahankan tradisi Huma Betang. Informan terdiri atas tokoh adat, guru humaniora, kepala sekolah, siswa, serta pihak Dinas Pendidikan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif pada kegiatan adat dan aktivitas komunal, serta dokumentasi berupa foto, catatan adat, dan materi pembelajaran berbasis kearifan lokal. Data pustaka meliputi jurnal, buku, dan artikel mengenai Huma Betang, etnopedagogi, dan pendidikan humaniora. Seluruh data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, kemudian diverifikasi dengan teknik triangulasi sumber untuk memastikan konsistensi temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Epistemologis Huma Betang Struktur Pengetahuan Lokal sebagai Episteme Dayak Peneliti mewawancarai tokoh adat pada 14 November 2025 dan menemukan bahwa bagi masyarakat Dayak Ngaju. Huma Betang adalah Autata berpikir bersamaAy . hared epistemic framewor. , bukan sekadar rumah panjang. Ini ditegaskan oleh salah satu tokoh adat di Kecamatan Timpah: AuHuma Betang itu bukan cuma tempat tinggal, tapi cara kami memahami dunia. Semua keputusan harus dibahas bersama, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi. Ay Pernyataan tersebut didukung observasi musyawarah adat saat peneliti menghadiri hapakat handep untuk persiapan gawai panen. Semua keputusan, dari pembagian tugas hingga urutan ritual, diputuskan bersama melalui diskusi terbuka. Tidak ada dominasi satu Observasi ini sejalan dengan temuan penelitian Ni Nyoman Rahmawati yang menegaskan bahwa Huma Betang mencerminkan empat pilar epistemologis: kebersamaan, kejujuran, kesetaraan, dan toleransi 18 Analisis menunjukkan bahwa Huma Betang berfungsi sebagai struktur pengetahuan lokal . di komunitas Dayak Ngaju. Bangunan betang bukan sekadar rumah fisik, tetapi cerminan cara berpikir kolektif, norma sosial, dan etika sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai inti seperti kebersamaan . , musyawarah . afakat Ni Nyoman Rahmawati. AuImplementasi Nilai Keharifan Lokal https://doi. org/https://doi. org/10. 33363/tampung-penyang. (,Ay Tampung Penyang. Bidin basar. , kesetaraan, dan integritas membentuk fondasi epistemologis komunitas. Studi Filosofis Huma Betang menyimpulkan empat elemen utama: kebersamaan, kejujuran, kesetaraan, dan toleransi, yang terus hidup dalam praktik sosial masyarakat Dayak. Dalam kerangka etnopedagogi, nilai-nilai tersebut menunjukkan epistemologi relasi sosial, di mana pengetahuan dianggap bukan milik individu tunggal melainkan hasil interaksi dan musyawarah antar anggota komunitas. Prinsip handep . otong-royon. misalnya, menunjukkan bahwa pengetahuan dan tindakan kolektif saling menguatkan: orang berkontribusi bersama untuk membangun harmoni dan menyelesaikan masalah sosial. Demikian pula, hafakat basara mencerminkan tata norma pengambilan keputusan secara mufakat, yang mendidik cara berpikir dialogis dan egaliter. Nilai-Nilai Epistemologis yang Menjadi Basis Pendidikan Analisis data memperlihatkan empat nilai inti Huma Betang: Kebersamaan . yang artinya pengetahuan dibangun melalui kerja kolektif. Musyawarah . yang artinya proses berpikir lahir dari dialog, bukan instruksi satu arah. Integritas & kejujuran yang artinya kepercayaan antarsesama menjadi syarat distribusi informasi dan keputusan. Kesetaraan yang artinya Autidak ada kasta pengetahuanAy sehingga setiap orang berhak Peneliti juga mewawancarai guru sejarah 18 November 2025 dan mengatakan: AuDi sekolah sekarang, anak belajar sendiri-sendiri. Padahal kalau ikut nilai betang, belajar itu harus bareng, harus bantu teman. Ay Komentar ini memperlihatkan kontras antara epistemologi lokal dan praktik kelas modern. Hal menunjukkan bahwa Huma Betang berfungsi sebagai struktur pengetahuan lokal . di komunitas Dayak Ngaju. Bangunan betang bukan sekadar rumah fisik, tetapi cerminan cara berpikir kolektif, norma sosial, dan etika sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai inti seperti kebersamaan . , musyawarah . afakat basar. , kesetaraan, dan integritas membentuk fondasi epistemologis komunitas. Studi Filosofis Huma Betang menyimpulkan empat elemen utama: kebersamaan, kejujuran, kesetaraan, dan toleransi, yang terus hidup dalam praktik sosial masyarakat Dayak. 19 Halpiani Supriadi. AuPENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL HUMA BETANG DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN ISMUBA KELAS X IPS DI SMA MUHAMMADIYAH KASONGAN,Ay 2020, 118Ae25. 20 Supriadi. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin Dalam kerangka etnopedagogi, nilai-nilai tersebut menunjukkan epistemologi relasi sosial, di mana pengetahuan dianggap bukan milik individu tunggal melainkan hasil interaksi dan musyawarah antar anggota komunitas. Prinsip handep . otong-royon. misalnya, menunjukkan bahwa pengetahuan dan tindakan kolektif saling menguatkan: orang berkontribusi bersama untuk membangun harmoni dan menyelesaikan masalah sosial. Demikian pula, hafakat basara mencerminkan tata norma pengambilan keputusan secara mufakat, yang mendidik cara berpikir dialogis dan egaliter. Relevansi Huma Betang terhadap Pendidikan Humaniora Koneksinya dengan Nilai Humaniora Universal Observasi menunjukkan bahwa nilai toleransi dan kesetaraan terlihat jelas pada interaksi antarwarga di Betang Katunjung. Saat peneliti mengamati ritual mangan handep, setiap orang duduk tanpa membedakan usia, status sosial, atau ekonomi. Semua makan dari hidangan yang sama. Aktivitas ini mencerminkan nilai humaniora seperti egalitarianisme, kemanusiaan, dan solidaritas, yang secara teoretis relevan dengan pendidikan karakter Peneliti juga mewawancarai seorang siswa kelas XI pada 18 November 2025 yang ditemui saat diskusi budaya mengatakan: AuDi rumah kami diajari jangan sombong, semua orang sama. Kalau beda pendapat, kita bicarakan pelan-pelan. Ay Ini menunjukkan internalisasi nilai musyawarah ke dalam sikap remaja. Pengembangan Identitas dan Literasi Budaya Nilai Huma Betang berperan penting dalam membentuk identitas kebudayaan. Dalam observasi saat kunjungan ke SDN Sei Ahas, siswa memperagakan cerita rakyat Sangiang sebagai bagian dari pembelajaran PPKn. Kegiatan ini memadukan seni, budaya, dan nilai toleransi. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa integrasi budaya lokal memperkuat jati diri siswa dan keterampilan sosial. Nilai-nilai Huma Betang sangat relevan dengan pendidikan humaniora. Kebersamaan, musyawarah, dan gotong-royong mencerminkan nilai kemanusiaan universal yang juga menjadi tujuan humaniora: membentuk individu yang tanggap sosial, empatik, dan etis. Dalam pendidikan humaniora, pengintegrasian nilai-nilai betang dapat meningkatkan literasi budaya siswa memperkuat kesadaran identitas lokal sekaligus budaya masyarakat Dayak Ngaju. Binus University. AuPentingnya Pendidikan Humaniora Dalam Pembentukan Karakter | BI. Https://Binus. Ac. Id/2025/03/Pentingnya-Pendidikan-Humaniora-Dalam-P. ,Ay 2025, 1Ae6. 22 Halpiani Supriadi. AuPENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL HUMA BETANG DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN ISMUBA KELAS X IPS DI SMA MUHAMMADIYAH KASONGAN,Ay Hadratul Madinah 8, no. II . 3082, https://doi. org/https://journal. id/index. php/jhm/article/view/3082/2195. Bidin Selain itu, filosofi Huma Betang mendukung pengembangan kompetensi humaniora, seperti berpikir kritis . elalui musyawara. , kemampuan berkolaborasi . elalui kerja sam. , dan kesadaran historis-budaya . elalui pemahaman tradisi betan. Tanpa akar nilai lokal seperti ini, pendidikan humaniora bisa kehilangan konteks penting dan menjadi semata transfer pengetahuan akademis. Kondisi Implementasi Humaniora di Kabupaten Kapuas Kurikulum Humaniora Belum Kontekstual Wawancara dengan kepala sekolah pada 20 November 2025 yang mengungkapkan bahwa muatan lokal budaya Dayak masih bersifat formalitas dan tidak benar-benar masuk pada pembelajaran humaniora: AuMuatan lokal ada, tetapi tidak banyak guru yang betulbetul memahami nilai Huma Betang. Jadi sering hanya teori, tidak praktik. Observasi pada 6 RPP yang dikumpulkan dari guru sejarah dan PPKn memperlihatkan bahwa tidak ada integrasi eksplisit nilai Huma Betang, kecuali materi budaya lokal yang sangat umum. Minimnya Pelatihan dan Sumber Pengetahuan Guru Guru-guru yang diwawancarai pada 18 Nopember 2025 mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan kurikulum berbasis etnopedagogi. Salah satu guru PPKn menyatakan: AuKalau mau ajarkan nilai lokal, kami harus belajar sendiri. Tidak ada modul Kadang takut salah tafsir nilai adat. Ay Analisis dokumen Dinas Pendidikan juga menunjukkan belum ada pedoman pembelajaran berbasis Huma Betang yang terstandardisasi. Temuan lapangan menunjukkan bahwa saat ini kurikulum humaniora di Kapuas relatif umum dan belum terkontekstualisasi dengan kearifan lokal Huma Betang. Banyak sekolah belum menyusun RPP atau modul ajar yang secara eksplisit mengintegrasikan nilai betang. Hal ini diperkuat oleh keterbatasan sumber daya pendidik: guru umumnya belum dibekali dengan pemahaman etnopedagogi atau filosofi lokal, sehingga sulit menerjemahkan nilai-nilai betang ke dalam aktivitas pembelajaran. Selain itu, dokumentasi lokal . eperti cerita adat, filosofi betang, praktik musyawarah betan. belum secara sistematis diolah sebagai materi pembelajaran. Sejumlah sekolah belum menjalin kolaborasi intensif dengan tokoh adat atau komunitas Dayak dalam merancang pembelajaran berbasis kearifan lokal. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 11 Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin Model Integrasi Nilai Huma Betang dalam Pendidikan Humaniora Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL Ada. Observasi implementasi proyek mini betang di SMPN 3 Selat menunjukkan dampak positif: siswa bekerja berkelompok, berdiskusi, dan mempraktikkan nilai handep. Guru memfasilitasi diskusi adat sebagai bagian dari asesmen formatif. Kolaborasi Sekolah dengan Tokoh Adat Dalam salah satu observasi kegiatan hari budaya, tokoh adat memimpin simulasi Siswa belajar menyampaikan pendapat dengan sopan, menerima perbedaan pendapat, dan mengambil keputusan bersama. Observasi & Wawancara dengan tokoh adat pada 14 November 2025 mengatakan: AuAnakanak harus belajar cara orang Dayak menyelesaikan masalah. Tidak boleh keras kepala, harus mufakat. Ay Praktik Handep dalam Aktivitas Sekolah Observasi kerja bakti pada 12 November 2025 di SMA di Kapuas Hilir memperlihatkan bahwa guru memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menekankan prinsip handep dan Guru Sejarah mengatakan: AuIni bukan cuma bersih-bersih. Ini latihan tanggung jawab bersama seperti di Huma Betang. Ay Kesesuaian Teoretis Model ini sejalan dengan penelitian-penelitian terbaru yaitu: Integrasi kearifan lokal meningkatkan karakter dan kompetensi sosial. Pembelajaran berbasis budaya lokal efektif meningkatkan toleransi dan literasi Berdasarkan data wawancara, observasi, dan dokumentasi, penelitian mengusulkan model integrasi nilai betang dalam pendidikan humaniora yaitu: Pembelajaran berbasis proyek budaya misalnya proyek PjBL dengan tema AuMembangun Mini BetangAy di sekolah untuk menginternalisasi nilai kerjasama, gotongroyong, dan musyawarah. Kolaborasi antara guru dan tokoh adat tokoh adat dilibatkan sebagai narasumber dalam pembelajaran, memberi ceramah nilai, serta membimbing simulasi musyawarah siswa. 23 Erika Sari. Iin Nurbudiyani, and Asep Solikin. AuPenerapan Manajemen Berbasis Sekolah Budaya Huma Betang Menuju Transformasi Karakter Peserta Didik (Studi Kasus: Sekolah Dasar Di Palangka Ray. Ay 20, no. September . 24 Asep Solikin and Muhammad Wahdini. AuInternational Journal of Social Science and Human Research Huma Betang Local Wisdom from an Islamic Perspective : Religious Moderation in Central KalimantanAy 07, no. : 838Ae44, https://doi. org/10. 47191/ijsshr/v7-i01-108. Bidin . Aktivitas kelas dan komunitas diskusi adat, simulasi musyawarah betang, praktik handep . erja komunita. , dan dialog tentang teologi ekologi . engacu pada nilai betan. yang melibatkan siswa dan masyarakat lokal. Model ini sejalan dengan penelitian manajemen sekolah berbasis Huma Betang yang menunjukkan bahwa nilai-nilai betang dapat mentransformasi karakter siswa melalui indikator kebersamaan, transfer pengetahuan, dan kesetaraan. 25 Selain itu, internalisasi falsafah rumah betang untuk membentuk sikap toleransi sudah dibuktikan dalam penelitian Roso Sugiyanto dkk. , di mana nilai toleransi dan gotong-royong dari betang menjadi pedoman moral sehari-hari. 26 Berikut adalah model implementasi yang diusulkan berdasarkan temuan penelitian dan analisis nilai: Tabel 1: Model Implementasi Pendidikan Humaniora Berbasis Huma Betang Komponen Deskripsi Implementasi Aktor Terlibat Output / Aktivitas Contoh Pedoman nilai piagam etika Landasan Filosofis Memasukkan nilai-nilai inti Huma Betang . ebersamaan, musyawarah, gotong-royong, kesetaraa. sebagai dasar epistemologis pendidikan. Dinas Pendidikan, tokoh adat. Kurikulum & Silabus Menyusun RPP dan silabus muatan lokal yang mengintegrasikan nilai betang dalam pelajaran humaniora (PPKn. Sejarah. Sosiolog. Guru, tim Silabus muatan lokal. RPP tematik dengan proyek budaya. Metode Pembelajaran Metode aktif: pembelajaran berbasis proyek (PjBL), role-play musyawarah, story-telling adat, diskusi musyawarah komunitas. Guru, siswa, tokoh adat Sumber Belajar & Materi Menggunakan naskah adat, monografi lokal, wawancara tokoh adat, video dokumenter, modul muatan lokal. Perpustakaan. Proyek AuMembangun Huma Betang MiniAy, simulasi Modul ajar, koleksi cerita lokal, video Aktivitas SekolahKomunitas Kolaborasi antara sekolah dan komunitas adat dalam kegiatan budaya: festival Huma Betang, kerja bakti, musyawarah siswa. Sekolah, tokoh Festival adat adat, orang tua, sekolah, kerja LSM lokal sosial komunal. Sari. Nurbudiyani, and Solikin. AuPenerapan Manajemen Berbasis Sekolah Budaya Huma Betang Menuju Transformasi Karakter Peserta Didik (Studi Kasus: Sekolah Dasar Di Palangka Ray. Ay 26 Roso Sugiyanto. Abdul Rahman Azahari, and Wawan Kartiwa. AuTUNAS Memang Falsafah Huma Betang Ini Sengaja Dibuat,Ay 2019, 36Ae43. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 13 Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin antar generasi. Peran Guru & Tokoh Adat Guru sebagai fasilitator nilai, tokoh Guru, tokoh adat sebagai mentor dan adat, kepala narasumber nilai filosofi betang. Mentoring filosofi betang, sesi kunjungan ke betang. Evaluasi & Indikator Menyusun indikator karakter betang: sikap toleransi, kolaborasi. Gunakan rubrik penilaian karakter. Guru, kepala Rubrik siswa, refleksi Kebijakan & Dukungan Pemda Advokasi kebijakan muatan lokal Huma Betang di kurikulum, penyediaan anggaran kegiatan budaya, regulasi kerja sama sekolah-adat. Pemerintah daerah. Dinas Pendidikan, tokoh adat Peraturan sekolah tentang muatan lokal, tahunan, nota (MoU) dengan komunitas adat. Pelatihan & Pelatihan bagi guru tentang Pengembangan etnopedagogi dan nilai lokal Huma Betang. Workshop penyusunan modul lokal. Pengembang LSM budaya Workshop, kearifan lokal. Media & Teknologi Tim IT sekolah, guru. Portal elearning muatan lokal, nilai betang. Memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan nilai betang, membuat modul digital, dan platform pembelajaran kearifan Model tersebut bersifat fleksibel dan kontekstual: sekolah dapat menyesuaikan dengan skala dan kapasitas lokal masing-masing. Bidin Tantangan Implementasi dan Strategi Penguatan Tantangan yang Teridentifikasi Berdasarkan wawancara dan observasi: Kurangnya literatur akademik. Tokoh adat sering berbeda pendapat tentang makna betang dan guru bingung memilih interpretasi. Guru belum terlatih etnopedagogi. Wawancara dengan guru yang menerangan: AuKami perlu pelatihan khusus, bukan hanya seminar biasa. Ay . Kebijakan sekolah belum suportif. Observasi menemukan bahwa tidak ada anggaran khusus untuk kegiatan berbasis budaya. Resistensi sebagian guru AuTakut ribetAy dan menganggap nilai budaya kurang relevan dengan capaian akademik. Strategi Penguatan Analisis menunjukkan perlunya pelatihan intensif etnopedagogi yang difasilitasi Dinas Pendidikan, penyusunan modul resmi Huma Betang sebagai acuan pendidikan humaniora, serta kolaborasi struktural antara sekolah dan Dewan Adat Dayak. Integrasi nilai Huma Betang juga harus masuk secara formal ke dalam kurikulum muatan lokal, bukan sekadar kegiatan tambahan. Temuan lapangan melalui wawancara dan observasi menegaskan bahwa Huma Betang memiliki potensi besar sebagai kerangka epistemologis pendidikan humaniora karena nilai-nilainya tidak hanya kuat secara filosofis, tetapi juga nyata dalam kehidupan masyarakat. Implementasi pendidikan berbasis Huma Betang membutuhkan kerja sama erat antara guru dan komunitas adat, dukungan kurikulum yang relevan, dan pelatihan guru yang berlandaskan etnopedagogi agar penerapannya lebih efektif dan kontekstual. KESIMPULAN Huma Betang memegang makna epistemologis yang sangat kaya dan relevan bagi pendidikan humaniora di Kabupaten Kapuas. Nilai-nilai filosofis seperti kebersamaan, musyawarah, kesetaraan, gotong royong, dan toleransi, yang melekat dalam kultur Huma Betang, sangat sejalan dengan tujuan pendidikan karakter dan humaniora. Dengan mengusung model implementasi berbasis nilai lokal, sekolah formal dapat menerapkannya melalui strategi kurikulum yang kontekstual, metode pembelajaran yang partisipatif, serta kolaborasi erat dengan komunitas Namun, terdapat tantangan signifikan dalam prosesnya, terutama terkait pemahaman guru terhadap nilai-nilai Huma Betang, dukungan kebijakan yang belum optimal, dan perbedaan interpretasi antar generasi. Meski demikian, peluang penguatan sangat besar apabila dilakukan At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 15 Huma Betang sebagai Kerangka Epistemologis Pendidikan Humaniora di Kabupaten Kapuas Bidin melalui pelatihan guru yang intensif, pengembangan modul pembelajaran berbasis lokal, dan upaya digitalisasi warisan budaya Huma Betang agar lebih mudah diakses dan dihayati oleh generasi Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas berperan merumuskan kebijakan muatan lokal Huma Betang dalam kurikulum humaniora serta menyediakan anggaran untuk kolaborasi sekolah dan komunitas adat. Sekolah dapat menjalankan pilot project pembelajaran berbasis modul Huma Betang, menghadirkan tokoh adat sebagai narasumber, dan menyelenggarakan festival budaya. Guru berkontribusi melalui pelatihan etnopedagogi, penyusunan modul dan RPP berbasis nilai lokal, serta mengajak siswa dalam proyek budaya. Komunitas adat mendukung dengan membuka ruang dialog, berbagi cerita tradisional, dan mendampingi kegiatan musyawarah maupun kerja Sementara itu, peneliti dan akademisi melakukan evaluasi implementasi, mengkaji efektivitas modul, dampak karakter siswa, serta mengembangkan peluang digitalisasi kearifan lokal Huma Betang. REFERENCES