JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Strategi Pengembangan Kemasan Makanan Untuk Mendukung Prilaku Konsumen Ramah Lingkungan Dengan Menggunakan Metode SWOT N Nelfiyanti1*. E Ernyasih2. Ratri Ariatmi Nugrahani3. Andry Setiawan4. Muhammad Aditia Al-Hafidz11. Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510 Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Ahmad Dahlan. Cireundeu. Tangerang Selatan 15419 Teknik Kimia. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510 Teknik Industri. Institut Sains dan Teknologi Nasional Jl. Moch. Kahfi II No. 30 Jakarta Selatan 12640 Email: Nelfiyanti@umj. ABSTRAK Dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan lingkungan hidup semakin mendapat perhatian, sehingga mendorong masyarakat dan perusahaan untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan. Salah satu permasalahan yang memprihatinkan adalah penggunaan kemasan pangan yang ramah lingkungan. Pencemaran lingkungan meningkat secara signifikan dengan penggunaan kemasan sekali pakai atau plastik tradisional, terutama jika menyangkut sampah yang sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi pengembangan kemasan makanan ramah lingkungan dengan pendekatan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. guna mendukung perilaku konsumen yang lebih sadar Kemasan makanan ramah lingkungan semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya kesadaran akan dampak limbah plastik terhadap ekosistem. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi. Responden dalam penelitian ini mencakup konsumen, produsen makanan, serta ahli lingkungan hidup dan desain kemasan. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode SWOT diperoleh bobot IFE (Internal Factor Evaluatio. sebesar 0,33 sedangkan pada EFE (Eksternal Factor Evaluatio. sebesar 0,05. Berdasarkan bobot yang telah diperoleh pengembangan kemasan ramah lingkungan ini masuk dalam kuadran 1 dan dapat menggunakan strategi growth oriented strategy. Kata kunci: Analisis SWOT. Kemasan Makanan. Ramah Lingkungan Abstract Environmental issues have drawn more attention in recent years, which has prompted individuals and businesses to seek out more sustainable solutions. The usage of environmentally friendly food packaging is one of the issues that has to be addressed. Using single-use packaging or conventional plastic greatly increases environmental pollution, particularly when it comes to garbage that is hard to break down. order to encourage more ecologically conscious customer behavior, this study attempts to identify a SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities, and Threat. approach for creating environmentally friendly food packaging. As more people become aware of the harm that plastic trash causes to the environment, there is a growing interest in environmentally friendly food packaging. Through in-depth interviews and observation, data was gathered using descriptive qualitative research methodologies. Consumers, food manufacturers, and specialists in packaging and the environment were among the respondents in this study. Using the SWOT approach, the results showed that the external factor evaluation (FEE) was 0. 05 and the internal factor evaluation (IFE) weight was 0. The development of ecologically friendly packaging falls under quadrant 1 and can employ a growth-oriented strategy, according to the weight that has been determined. Keywords : Environmentally Friendly. Food Packaging. SWOT Analysis. DOI: /10. 24853/jisi. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi PENDAHULUAN Tantangan dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan lingkungan hidup semakin mendapat perhatian, sehingga mendorong masyarakat dan perusahaan untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan. Salah satu permasalahan yang memprihatinkan adalah penggunaan kemasan pangan yang ramah Pencemaran lingkungan meningkat secara signifikan dengan penggunaan kemasan sekali pakai atau plastik tradisional, terutama jika menyangkut sampah yang sulit terurai. Kementerian Perindustrian Indonesia mendorong pelaku korporasi untuk berpegang pada empat nilai manfaat ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesehatan dalam penggunaan kemasan (Kemenprin, 2. Menurut (Nguyen et al. , 2. Konsumen cenderung mengaitkan kemasan ramah lingkungan dengan bahan yang dapat terurai secara hayati dan dapat didaur Oleh karena itu, diperlukan solusi pengemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti yang terbuat dari bahan daur ulang, bahan yang dapat terbiodegradasi dengan baik, atau bahan nabati. Biodegradasi merupakan proses penguraian kimiawi suatu bahan oleh perubahan pada sifat fisik kemasan (Coury. Kemasan ramah lingkungan tidak hanya menawarkan solusi untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan tetapi juga memberikan nilai tambah bagi merek yang Konsumen cenderung memilih produk yang mendukung keberlanjutan, sehingga penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat meningkatkan daya saing di pasar. Menurut (Popovic et al. , 2. Pengetahuan konsumen tentang dampak lingkungan dari kemasan sangat mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Akan tetapi, masih banyak konsumen yang masih kurang informasi tentang bahan kemasan baru seperti kemasan berbasis bio (Ketelsen et al. , 2. Namun, penerapan kemasan ramah lingkungan menghadapi berbagai tantangan. Harga dan kualitas produk sering kali lebih penting bagi konsumen dibandingkan dengan aspek ramah lingkungan dari kemasan, serta biaya produksi yang cenderung lebih tinggi, keterbatasan teknologi, serta kurangnya kesadaran dan edukasi di kalangan produsen maupun konsumen menjadi hambatan utama (Oloyede & Lignou, 2. Oleh karena itu. P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X diperlukan analisis strategis untuk memahami peluang dan ancaman dalam pasar, serta kekuatan dan kelemahan dari penggunaan kemasan ramah lingkungan. Analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. menjadi alat yang relevan untuk mengevaluasi potensi dan tantangan dari kemasan makanan ramah Penelitian (Setiawardani et al. menggunakan analisis SWOT untuk memahami kekhawatiran pelanggan dan mengusulkan desain kemasan makanan bawa pulang yang sesuai berdasarkan masukan Analisis SWOT adalah cara sederhana untuk memeriksa situasi terkini suatu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman nya (Fisher et al. , 2. Dengan analisis ini, diharapkan dapat dirumuskan strategi yang efektif untuk mendorong adopsi kemasan berkelanjutan secara lebih luas, baik oleh pelaku industri makanan maupun konsumen. TINJAUAN PUSTAKA Kemasan Menurut (Abdullah et al. , 2. pengemasan makanan adalah sistem terkoordinasi yang transportasi, dan konsumsi makanan dengan dampak negatif terhadap lingkungan paling Kemasan makanan bertujuan untuk memperpanjang umur simpan, mencegah kontaminasi bahan kimia, dan memberikan kenyamanan pelanggan. Pengemasan makanan adalah proses pengangkutan dan penyimpanan bahan makanan untuk dikonsumsi dengan menggunakan berbagai wadah, antara lain kotak, kantong, tas, cangkir, nampan, kaleng, tabung, dan botol (Hughes, 2. SWOT Analisis SWOT adalah teknik untuk menilai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman suatu organisasi, rencana, proyek, program, individu, atau aktivitas bisnis apa pun (Kumar & Praveena, 2. Elemen pengaruh internal dan eksternal suatu bisnis atau proyek tertentu dapat ditemukan dengan menggunakan pendekatan SWOT. Analisis SWOT mengevaluasi peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal untuk membantu perumusan (Belal Dahiam Saif Ghaleb, 2. Metode ini merupakan alat perencanaan strategis yang paling umum digunakan untuk menilai JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI faktor internal dan eksternal dari suatu Kekuatan (Strength. Kekuatan suatu organisasi adalah elemen internal yang memberikan keunggulan atau keunggulan kompetitif. Hal ini dapat berupa aset, keterampilan, atau kualitas menguntungkan organisasi lainnya. Kelemahan (Weaknesse. Kelemahan Masalah internal yang dikenal sebagai kelemahan dapat mengganggu menempatkannya pada posisi yang tidak menguntungkan dalam persaingan. Hal ini bisa berupa kurangnya dana, keahlian, atau kualitas buruk lainnya Peluang (Opportunitie. Peluang adalah kekuatan luar yang dapat dimanfaatkan organisasi untuk mencapai Hal ini dapat berupa pergeseran pasar, modifikasi peraturan, atau peluang lain yang dapat membantu perusahaan. Ancaman (Threat. Ancaman Elemen eksternal yang disebut ancaman berpotensi membahayakan atau mempersulit suatu organisasi. Hal ini dapat mencakup persaingan, pergeseran pasar, atau variabel luar lainnya yang dapat mempersulit pencapaian tujuan perusahaan. Menurut (Irham, 2. dalam menganalisis secara lebih tentang SWOT, maka perlu dilihat faktor eksternal dan internal sebagai bagian penting dalam analisis SWOT, yaitu: IFE (Internal Factor Evaluatio. Faktor internal ini mempengaruhi terbentuknya strengths and weakness (S and W). Dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi yang Berikut perhitungan dari IFE ini: IFE : Total nilai kekuatan Ae total nilai kelemahana. APers 2. EFE (External Factor Evaluatio. Faktor Eksternal ini mempengaruhi terbentuknya Opportunities and Threats (O and T). Dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi-kondisi yang terjadi di luar perusahaan yang mempengaruhi dalam pembuatan keputusan perusahaan. Berikut rumus perhitungan dari EFE ini: EFE : Total nilai Peluang Ae total nilai Ancaman a. APers 2. Matriks Ruang (Space Matrik. Volume 11 No 2 Agustus 2024 Matriks SPACE merupakan kerangka empat kuadran yang menunjukkan apakah strategi agresif, kompetitif, defensif atau konservatif yang paling sesuai untuk suatu organisasi tertentu (Rangkuti, 2. Stability Mendirikan Strategi Rasionalisasi -5 -4 -3 -2 -1 Retrenchment Mendukung Strategi Defensif Expansion Mendukung Strategi Agresif Combination Mendukung Strategi Diversifikasi Gambar 2. 1 Kuadran Analisis SWOT Kuadran 1, merupakan situasi yang cukup menguntungkan untuk memanfaatkan peluang yang ada, organisasi mempunyai kekuatan dan peluang. Kuadran 2, merupakan keadaan dimana kekuatan internal nya meskipun terdapat beberapa ancaman. Memanfaatkan peluang jangka panjang adalah pendekatan yang perlu dipraktikkan Kuadran 3, memiliki banyak potensi pasar, permasalahan atau kekurangan internal. Rencananya adalah untuk mengurangi jumlah masalah internal yang dihadapi Kuadran 4. Merupakan situasi yang sangat sejumlah risiko dan kelemahan internal di Kuadran 4 yang merupakan kondisi yang sangat negatif METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode Pendekatan ini dipilih untuk memahami fenomena secara mendalam terkait persepsi konsumen, serta kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) dalam penggunaan kemasan makanan yang mendukung perilaku ramah lingkungan. Desain Penelitian Desain penelitian ini menggunakan studi kasus untuk menganalisis implementasi kemasan makanan ramah lingkungan pada JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi beberapa perusahaan makanan atau produk Studi kasus dilakukan untuk faktor-faktor memengaruhi pilihan kemasan dan bagaimana kemasan tersebut mendorong perilaku konsumen yang lebih sadar Populasi dan Sampel Populasi: Penelitian ini melibatkan konsumen produk makanan dengan kemasan ramah lingkungan, pelaku usaha makanan, dan ahli di bidang lingkungan hidup atau desain kemasan. Sampel: Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling untuk memilih responden yang relevan dengan Sebagai contoh, responden yang dipilih adalah konsumen yang telah menggunakan produk serta pakar atau akademisi yang berkompeten di bidang ini. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui: Wawancara: Untuk perspektif mendalam dari konsumen, produsen, dan ahli. Observasi: Melihat langsung penggunaan dan respons konsumen terhadap kemasan ramah lingkungan di tempat-tempat Penyebaran kuesioner: untuk mendapatkan data langsung dari responden terkait faktor internal . ekuatan dan kelemaha. dan faktor eksternal . eluang dan ancama. yang memengaruhi kemasan makanan ramah lingkungan Validitas dan Reliabilitas Data Tujuan dari uji validitas ini adalah untuk memastikan apakah instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data benar-benar mengukur apa yang ingin diukur atau seberapa efektif alat ukur yang dikembangkan dapat mengukur instrumen tertentu yang selanjutnya akan diukur. Apabila nilai rxy lebih besar dari pada nilai kritik pada r tabel dan dengan tingkat kepercayaan tertentu maka dinyatakan P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X valid, sebaliknya jika rxy lebih kecil dibandingkan r tabel maka hasilnya dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 2. Uji Reliabilitas bertujuan menentukan apakah kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data dianggap dapat diandalkan atau tidak. Analisis Cronbach Alpha digunakan dalam uji reliabilitas ini dengan tingkat akurasinya 5%. Data dikatakan reliabel atau konsisten dalam pengukuran bila nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,70 (Ghozali, 2. Teknik Analisis Data Analisis SWOT: Data yang diperoleh dianalisis menggunakan kerangka SWOT untuk mengidentifikasi: Strengths (Kekuata. : Faktor internal yang mendukung penggunaan kemasan ramah Weaknesses (Kelemaha. : Faktor internal yang menghambat penerapan kemasan ramah lingkungan. Opportunities (Peluan. : Faktor eksternal yang memberikan kesempatan untuk mendorong kemasan ramah lingkungan. Threats (Ancama. : Faktor eksternal yang menjadi tantangan dalam implementasi kemasan ramah lingkungan. Data dianalisis secara kualitatif dengan meninjau pola dan hubungan antar faktor dalam matriks SWOT. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan membuat faktor internal dan eksternal. Data yang dikumpulkan adalah data mengenai kondisi kemasan makanan yang ada saat ini dan rancangan kemasan ramah lingkungan. Sebelum dilakukannya penyebaran kuesioner, penelitian ini menyusun faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. matrik IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summar. dan EFAS (External Strategic Factors Analysis Summar. untuk JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI menjabarkan kondisi internal dan eksternal. Berikut faktor IFAS dan EFAS yang sudah disusun melalui FGD dengan pakar yang Internal Kekuatan (Strength. Material terbarukan dan ramah lingkungan: Mengurangi dampak . Meningkatkan Memberikan nilai tambah di mata konsumen yang peduli lingkungan. Mendukung tren keberlanjutan global: Sejalan dengan inisiatif lingkungan dunia dan regulasi pemerintah. Daur ulang atau terurai secara alami: Mengurangi limbah plastik di . Peningkatan kesadaran konsumen: Kemasan ini menjadi simbol produk yang bertanggung jawab secara sosial. Kelemahan (Weaknesse. Harga lebih mahal: Biaya produksi dan bahan baku lebih tinggi dibandingkan kemasan konvensional. Keterbatasan daya tahan: Beberapa bahan ramah lingkungan kurang tahan air, minyak, atau panas. Akses terbatas ke bahan baku: Bahan kemasan ramah lingkungan belum tersedia secara luas. Infrastruktur daur ulang yang belum merata: Sulit mencapai efisiensi pengelolaan limbah di daerah tertentu. Kesulitan perubahan skala produksi: Produsen kecil mungkin kesulitan mengadopsi kemasan ini. Eksternal Peluang (Opportunitie. Dukungan Pemerintah semakin ketat terhadap plastik sekali pakai, menciptakan peluang untuk kemasan alternatif. Permintaan pasar yang meningkat: Konsumen muda lebih memilih produk dengan dampak lingkungan yang rendah. Inovasi teknologi: Penelitian dan pengembangan dapat menurunkan biaya dan meningkatkan performa bahan ramah lingkungan. Volume 11 No 2 Agustus 2024 . Mitra strategis: Potensi kolaborasi dengan organisasi atau institusi yang mendukung keberlanjutan. Pengembangan pasar ekspor: Produk dengan kemasan ramah lingkungan memiliki keunggulan di pasar global. Ancaman (Threat. Persaingan harga dengan kemasan konvensional: Konsumen masih sensitif terhadap harga. Kurangnya kesadaran konsumen: Tidak semua konsumen memahami nilai tambah kemasan ramah . Ketergantungan pada teknologi baru: Jika inovasi lambat, perkembangan kemasan ini dapat terhambat. Fluktuasi biaya bahan baku: Harga bahan ramah lingkungan dapat dipengaruhi oleh pasar global. Perubahan kebijakan internasional: Ketergantungan pada pasar luar negeri dapat terganggu oleh regulasi yang berubah. Setelah faktor internal dan eksternal dibuat, maka tahap selanjutnya adalah penyebaran kuesioner dilakukan maka tahap selanjutnya adalah dengan menguji instrumen hasil penyebaran kuesioner kepada konsumen dan produsen sebanyak 30 sample. Dan 5 pakar ahli yang berkompeten dibidang kimia dan Uji Instrumen penelitian . Uji Validitas Berikut ini hasil pengolahan data menggunakan SPSS untuk variabel SWOT dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 4. 1 Hasil Uji Validitas Nilai r Nilai r Atribut Ket Hitung Tabel 0,770 0,361 Valid 0,798 0,361 Valid 0,574 0,407 0,506 0,501 0,361 0,361 0,361 0,361 Valid Valid Valid Valid JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi 0,445 0,361 0,700 0,361 0,465 0,361 0,787 0,361 0,923 0,361 0,447 0,361 0,594 0,361 0,697 0,361 0,812 0,361 0,710 0,361 0,578 0,361 0,550 0,361 0,678 0,361 0,770 0,361 Sumber: perhitungan SPSS P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Jumlah responden dalam pengujian ini sebanyak 30 orang, sehingga nilai r tabel dengan df = . - . = 28 pada a = 5% yaitu 0,361. Berdasarkan tabel 4. diatas dapat dinyatakan bahwa atribut pada penelitian ini sudah valid dikarenakan nilai r hitung > r tabel. Setelah perhitungan uji validasi selesai, maka tahap selanjutnya adalah melakukan perhitungan reliabilitas. Reliabilitas Pengujian reliabilitas ini menggunakan Alpha Cronbach menggunakan aplikasi SPSS dengan tingkat keyakinan sebesar 95%. Berikut hasil perhitungan Alpha Cronbach dengan menggunakan aplikasi SPSS. Tabel 4. 2 Hasil Uji Reliablitas Cronbach's Alpha N of Items Ket Reliabel Sumber: hasil perhitungan SPSS Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa instrument penelitian ini sudah bisa dikatakan reliable, karena nilai cronbachAos alpha > 0,7. SWOT Setelah faktor-faktor yang diperoleh dari pengumpulan data yang telah dilakukan, maka pembobotan dan rating terhadap setiap faktor. Faktor Eksternal kemasan makanan ramah lingkungan dinilai dengan menggunakan matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE). Faktor ini mengkaji kekhawatiran yang berkaitan dengan pasar industri. Variabel internal kemasan pangan baik kelebihan maupun kekurangannya yang dianggap signifikan diketahui melalui penerapan Internal Factor Evaluation (IFE). Berikut tabel hasil pembobotan dan rating masing-masing faktor Tabel 4. 3 Matrik IFE Indikator Bobot Rating Nilai Strengths (Kekuata. Material terbarukan dan ramah Meningkatkan citra Mendukung tren keberlanjutan global Daur ulang atau terurai secara alami Peningkatan kesadaran konsumen Total Weaknesses (Kelemaha. Harga lebih mahal Keterbatasan daya Akses terbatas ke bahan baku Infrastruktur daur ulang yang belum Kurangnya edukasi kepada konsumen Total Sumber: hasil perhitungan Berdasarkan tabel 4. 3 didapatkan nilai matriks IFE (Internal Factor Evaluation ) didapatkan nilai skor faktor kekuatan . sebesar 1 dan nilai skor faktor kelemahan . JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 adalah sebesar 0,33, sehingga nilai IFE adalah sebagai berikut: IFE : Total nilai kekuatan Ae total nilai kelemahanaPers IFE: 1 Ae 0,67 = 0,33 Setelah perhitungan IFE dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah perhitungan EFE (External Factor Evaluatio. Berikut tabel perhitungan EFE: Tabel 4. 4 Matriks EFE (External Factor Evaluatio. Indikator Bobot Rating Nilai Matriks SWOT Perhitungan faktor IFE dan EFE yang sudah dilakukan, maka tahap selanjutnya dapat digambarkan ke dalam diagram SWOT yang dapat dilihat pada Gambar dibawah ini. Stability Mendirikan Strategi Rasionalisasi Expansion Mendukung Strategi Agresif -5 -4 -3 -2 -1 0. Retrenchment Mendukung Strategi Defensif Combination Mendukung Strategi Diversifikasi Opportunities (Peluan. Peningkatan kesadaran Dukungan regulasi Inovasi teknologi Mitra strategis Globalisasi tren Total Threats (Ancama. Persaingan harga dengan kemasan Kurangnya kesadaran Ketergantungan pada teknologi baru Krisis ekonomi Fluktuasi biaya bahan Total Sumber: hasil perhitungan Berdasarkan tabel 4. 3 didapatkan nilai matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation ) didapatkan nilai skor faktor Opportunities (Peluan. sebesar 0,79 dan nilai skor faktor Threats (Ancama. adalah sebesar 0,74, sehingga nilai EFE adalah sebagai berikut: EFE : Total nilai Peluang Ae total nilai Ancaman a. aPers EFE: 0,79 Ae 0,74 = 0,05 Gambar 4. 1 Matriks SWOT Berdasarkan pada Gambar 4. 1 diatas dapat dilihat bahwa kemasan makanan ramah lingkungan ini berada pada posisi kuadran I. Pada posisi ini strategi yang sesuai untuk pengembangan kemasan makanan yakni dengan memanfaatkan kekuatan yang sudah dimiliki kemudian mencari peluang baru yang belum ada di dalam kemasan sebelumnya antara masyarakat akan pentingnya kemasan makanan yang ramah lingkungan. Analisis SWOT yang digunakan pada penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengeksplorasi beberapa kemungkinan perencanaan strategi baru demi mendukung prilaku konsumen yang ramah lingkungan. Rumusan alternatif strategi merupakan yang digunakan untuk mengembangkan kemasan ramah lingkungan. Adapun matriks SWOT untuk pengembangan kemasan makanan ramah lingkungan dapat dilihat sebagai berikut: Strategi SO (Strengths-Opportunitie. Mengoptimalkan penggunaan bahan ramah lingkungan sebagai nilai jual Mengembangkan kemitraan strategis Mengikuti tren global dan lokal terkait Menggunakan teknologi untuk inovasi desain dan bahan Meningkatkan edukasi konsumen JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi Strategi ST (Strengths-Threat. Menonjolkan keunggulan citra merek Memperluas edukasi pasar untuk Diversifikasi bahan baku Mengantisipasi krisis ekonomi Memanfaatkan tren keberlanjutan Strategi WO (Weaknesses- Opportunitie. Mengurangi biaya produksi melalui Memperluas akses ke bahan baku Membangun infrastruktur daur ulang Menawarkan Mengatasi keterbatasan daya tahan Strategi WT (Weakness-Threat. Mengoptimalkan efisiensi operasional Mengembangkan kampanye pemasaran Menciptakan produk yang kompetitif secara harga Menghadapi fluktuasi biaya bahan Mengatasi ketergantungan teknologi Berdasarkan skor yang didapatkan dari matriks SWOT menunjukan bahwa pengembangan kemasan makanan ramah lingkungan ini berada pada kuadran 1. Posisi ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Pengembangan kemasan makanan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth Oriented Strateg. Berikut strategi yang digunakan pada posisi Growth Oriented Strategy: Tabel 4. 5 Growth Oriented Strategy Mengoptimalkan Menonjolkan penggunaan bahan material lingkungan terbarukan sebagai nilai jual sifat daur ulang P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Mengembangkan kemitraan strategis Mengikuti global dan lokal Menggunakan inovasi desain dan Meningkatkan edukasi konsumen atau terurai secara keunggulan produk dalam kampanye Berkolaborasi lingkungan, atau pemerintah untuk akses ke bahan inovasi teknologi Memanfaatkan dukungan regulasi terhadap kemasan ramah lingkungan, insentif pemerintah Memanfaatkan inovasi teknologi untuk menciptakan lebih tahan lama Mengadakan kampanye edukasi lingkungan untuk JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI loyalitas konsumen Volume 11 No 2 Agustus 2024 dan luaran penelitian sehingga dapat berjalan dengan lancar. Sumber: pengolahan data primer KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan metode SWOT untuk mengembangkan strategi kemasan makanan yang ramah lingkungan didapatkan nilai bobot IFE sebesar 0,33 dan EFE 0,05, sehingga masuk dalam kuadran 1 matriks SWOT pada poin (Strength- Opportunit. yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada dan mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. Analisis peluang dan kekuatan tersebut adalah dengan menggunakan kemasan yang dapat didaur ulang dan ramah lingkungan, salah satu bahan untuk membuat kemasan yang ramah lingkungan adalah dengan menggunakan ampas tebu dan kulit jagung, pengembangan kemitraan yang strategis dengan cara berkolaborasi dengan pemerintah dan lingkungan sekitar terkait dengan mempercepat inovasi teknologi, melihat tren terkini terkait dengan keberlanjutan dengan cara memanfaatkan dukungan dan regulasi untuk mempercepat pengembangan kemasan makanan yang ramah lingkungan, penggunaan teknologi untuk melakukan inovasi desain dan bahan dengan cara memanfaatkan teknologi untuk membuat kemasan makanan yang lebih tahan lama dan ekonomis yang ramah lingkungan, peningkatan pengetahuan dan kesadaran konsumen akan pentingnya kemasan yang ramah lingkungan. UCAPAN TERIMAKASIH