Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 OPTIMALISASI TATA LETAK GUDANG Ae AREA SIMPAN: STUDI KASUS DI PT. GMS Agung Chandra Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Mercu Buana Jakarta Email: agungchandra_07@yahoo. ABSTRAK Salah satu benefit dari tata letak yang optimal adalah bisa menghasilkan ruang yang tidak boros. Penelitian yang dilakukan di PT. GMS dengan kondisi 24 lokasi simpan menghasilkan dimensi ruang simpan, panjang 4 m, lebar 12. 6 m, lebar lorong 1. 8 m, jumlah lorong 6 buah, dan produktivitas lorong sebesar 42. Semakin banyak jumlah lokasi simpan, maka ruang simpan yang dibutuhkan akan semakin luas. dan semakin banyak jumlah lokasi simpan maka waktu untuk melakukan picking juga semakin Kata Kunci: tata letak optimal, dimensi ruang ABSTRACT One of the benefits optimal layout is to produce efficient space. The research conducted at PT. GMS with 24 picking locations shows that length of the main aisle 4 meter, width 6 meter, aisle width 1. 8 meter, number of aisles is 6, and aisle space percentage is When the number of aisle increases, space needed becomes larger. and picking time also increases Keywords: optimal layout, space dimension, number of location, space, picking time PENDAHULUAN Tata letak gudang mempengaruhi biaya pergudangan. Tata letak yang optimal bisa memberikan ruang yang optimal Ae ruang yang tidak boros dan memperlancar arus material . aterial flo. Dengan tidak borosnya ruang dan arus material yang lancar maka akan terjadi biaya yang optimal bagi perusahaan. Pada penelitian ini berfokus pada tata letak gudang Ae area picking, hal ini dikarenakan picking merupakan aktivitas yang memiliki porsi paling besar dalam biaya Order picking mencakup sekitar 55% bialya operasional gudang karena jumlah tenaga kerja terbanyak dan waktu terbanyak dibandingkan dengan aktivitas pergudangan yang lain. Dalam merancang tempat simpan dan system pergudangan, hal yang ingin dicapai adalah:memaksimalkan penggunaan ruang, memaksimalkan penggunaan peralatan, memaksimalkan penggunaan buruh, memaksimalkan akses semua material, dan memaksimalkan proteksi semua material (Tompkins, et al, 2. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah merancang dimensi lokasi simpan dan jumlah lorong/aisle yang optimal di PT. GMS. TINJAUAN PUSTAKA Ada 2 jenis permasalahan tata letak: posisi penempatan berbagai departemen seperti aktivitas utama pergudangan . eceiving, put away, storage, order picking, dan shippin. dan penempatan peralatan / perlengkapan, ruang simpan, jalur, dan (De Koster, et al, 2007. Bartholdi & Hackman, 2. Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Model tata letak pergudangan bertujuan meminimalkan jarak tempuh untuk menyimpan . dan mengambil . rder pickin. sebuah item barang. Jarak tempuh ini dipengaruhi oleh dimensi gudang, panjang lorong . ick aisle dan cross aisl. , picking method, material handling systems, supporting information technology METODE PENELITIAN Untuk mendapatkan dimensi lokasi simpan dan jumlah lorong yang optimal maka diperlukan langkah Ae langkah sebagai berikut: Menentukan lebar lorong/aisle Menurut Tompkins, et al . bahwa pengaturan lorong/aisle arrangement diperlukan untuk menghasilkan aliran yang efektif. Jika sebuah lorong dirancang terlalu sempit maka akan menimbulkan kemacetan / congestion yang bisa membuat waktu picking lebih lama dibandingkan dengan tidak adanya kemacetan/congestion. Kemacetan atau congestion dapat terjadii dengan kondisi sebagai berikut: Satu, dua atau lebih picker ingin mengambill barang pada lokasi yang sama. Dua, dua atau lebih picker dimana salah satunya menunggu untuk melewati picker yang sedang melakukan proses Tiga, dua atau lebh picker yang saling berhadap Ae hadapan atau dengan kata lain picker tersebut sedang berlawanan arah. Gambar 1. Situasi Kemacetan dalam Picking (Furmans, et al, 2. Namun sebaliknya jika sebuah lorong dirancang terlalu lebar maka akan menimbulkan pemborosan ruang dan dengan ruang yang semakin besar maka bisa menyebabkan semakin rendahnya housekeeping. Hal terbaik adalah mendapatkan lebar lorong yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya pada gudang tersebut menggunakan forklift, maka tentunya lebar lorong yang harus disediakan adalah lebar lorong yang memungkinkan untuk sebuah forklift melakukan perputaran. Untuk lebar lorong. Tompkins, et al . merekomendasikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Type of Flow and Aisle Width Type of Flow Aisle Width . Tractor 3-ton forklift 2-ton forklift 1-ton forklift Narrow aisle truck Manual platform truck Personnel Ae doors opening from one side Personnel Ae doors opening from two side Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Cara perhitungannya adalah: Satu, menentukan lokasi simpan per layer (Q). Dua, menentukan dimensi . 1 dan b. lokasi simpan seperti pada gambar berikut: Gambar 2. Parameter Tata Letak (Sumber: Dukic & Opetuk, 2. Untuk formula d sampai f bersumber dari Dukic & Opetuk, 2012: Satu, menghitung jumlah lorong Ae n1 yang optimal untuk area simpan. n1 A l1 A b2 Banyak atau sedikitnya jumlah lorong mempengaruhi waktu untuk melakukan order picking, karena semakin besar jumlah lorong yang harus dilalui maka waktu travel yang harus dihasilkan akan semakin besar juga. Hal yang harus dilakukan untuk meminimalkan order picking, salah satunya adalah dengan menerapkan routing method yang sesuai. Ada berbagai macam routing method yakni: S Ae shape. Return. Optimal. Combined. Combined plus, dan Aisle to aisle. Metode routing yang paling mudah diterapkan adalah metode S-shape dan Return. Untuk metode lainnya, seorang picker tidak bisa mengingatnya dengan mudah. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode routing adalah sebagai berikut: Satu. Menghitung panjang aisle - Lr Lr A Menghitung lebar area simpan - Br Br A n1 . l1 A n1 . Mengukur ratio produktivitas Ae ASP (Aisle Space Percentag. Ae> 0. 1 sampai 0. 15 (Sule, , 1994, p. menggunakan rumus: Space yang ditempati oleh aisle Total space Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Gambar 3. Metode Routing Diagram alirnya dapat digambarkan sebagai berikut: Menentukan lebar lorong Menentukan jumlah lokasi simpan Menentukan dimensi lebar simpan Menentukan jumlah lorong yang optimal Menentukan panjang lorong Menentukan lebar area simpan Mengukur rasio produktivitas Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Gambar 4. Diagram Alir Metode Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Space PT. GMS saat ini memiliki 24 lokasi picking (Q) dan tiap lokasi yang tersedia bisa menampung pallet berukuran 1. 2 meter . x 1 meter . Sedangkan lebar lorong picking diproyeksikan untuk narrow aisle truck . Dengan demikian menghasilkan perhitungan sebagai berikut: Jumlah lorong . Ae n1 dengan rumus: n1 A l1 A b2 24 x 1 A 2. 4 C 3 aisle 2 x 1. 2 A 6 x 0. Panjang lorong / length of aisle: Lr A 24 x 1 Lr A A4m Lebar area simpan Ae Br: Br A n1 . l1 A n1. Br = 3 x 2 x 1. 2 3 x 1. 8 = 12. Setelah didapatkan angka Ae angka ini, maka layout yang optimal dapat diplot seperti pada gambar 5. n1 A Lr = 4 m Br = 12. Gambar 5. Tata Letak Optimal Ae Area Simpan Untuk produktivitas - . ASP (Aisle Space Percentag. n1 x Lr x b2 3 x 4 x 1. A 0. 429 A 42. Lr x Br 4 x 12. Secara ASP, hasil ini tidak seproduktif seperti yang direkomendasikan atau dengan kata lain space yang ditempati aisle terlalu banyak. Kemudian penulis juga memikirkan lokasi simpan beberapa tahun ke depan seiring dengan bertambahnya outlet maka secara otomatis diperlukan juga penambahan A Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 lokasi simpan. Gambar 6 menunjukkan estimasi kebutuhan space dan layout yang Q b1 . L1 . n1 Lr . Br . Aisle Space Total Space ASP - % Gambar 6. Hasil Estimasi n1. Lr. Br, dan ASP Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Pada gambar tersebut terlihat bahwa dengan semakin banyaknya lokasi picking maka baik aisle space maupun total space yang dibutuhkan akan semakin besar pula. Korelasi antara jumlah lokasi picking dengan space dapat diilustrasikan dengan grafik dibawah ini: Dengan mengetahui hubungan antara lokasi picking dengan space, maka bisa ditentukan pula layoutnya, apakah menggunakan dedicated layout atau flexible layout. Jika dedicated layout tentunya akan menggunakan space yang lebih banyak lagi karena untuk setiap item atau setiap SKU memiliki lokasi picking yang sudah ditentukan, dengan kata lain lokasi tersebut hanya boleh digunakan untuk menyimpan SKU tertentu saja. Sedangkan untuk flexible layout bisa lebih menghemat space karena pada SKU atau item barang bisa menempati lokasi yang saat penyimpanannya sedang kosong atau dengan kata lain lokasi simpan untuk picking bisa berbeda Ae beda dari waktu ke waktu. Keuntungan dari dedicated layout yakni mempermudah untuk seorang picker dalam mengambil barang karena lokasi simpannya tidak berubah-rubah sehingga lebih mudah untuk dipelajari. sedangkan untuk fleksible layout lebih sulit untuk diingat karena lokasi simpannya berpindah Ae pindah terus sehingga waktu untuk melakukan picking akan lebih lama dibandingkan dengan dedicated layout. Di PT. GMS ini, dengan lahan yang tidak luas maka lebih cocok untuk menggunakan metode layout yang flexible. Gambar 7. Grafik Hubungan Jumlah Lokasi Picking dengan Space Untuk kebutuhan ruang simpan tentunya harus mempertimbangkan juga lahan dan biaya lahan per meter perseginya. Untuk lokasi pabrik yang harga lahannya tidak terlalu mahal, maka perusahaan masih memungkinkan untuk memiliki lahan yang luas, hal ini berguna untuk investasi jangka panjang pada saat item yang dimilikinya kian tahun kian bertambah. Tapi untuk lokasinya di pusat kota, tentunya harga lahan juga semakin mahal, oleh karena itu factor menggunakan racking bertingkat bisa digunakan, dan dapa disesuaikan dengan tinggi Level ketinggian bisa level 0, level 1, level 2, level 3, dan seterusnya. Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Hal lain yang perlu disiapkan dalam menyimpan barang menggunakan racking adalah pembuatan table untuk jumlah item per palletnya, dan ini berguna pada saat proses receiving . sehingga operator atau petugas pada saat penerimaan barang bisa langsung melakukan proses stacking sesuai dengan ketinggian yang diijinkan pada saat proses storage. Seperti diketahui bahwa waktu picking terdiri dari beberapa komponen proses aktivitas, yakni: Waktu picking. Waktu travel, dan Waktu menunggu yang biasanya disebabkan oleh adanya faktor kemacetan/congestion. Dengan adanya tabel jumlah kemasan per pallet juga mempercepat operator / picker pada saat melakukan persiapan pengambilan . item yang tercantum pada pick list. Picker bisa dengan cepat menghitung kebutuhan barang yang tercantum pada pick list. Dengan kata lain, waktu picking menjadi lebih cepat dibandingkan tanpa adanya table guidance. Efek lain dengan semakin cepatnya waktu picking maka akan produktivitas picker dalam melakukan picking juga meningkat dan efek selanjutnya adalah terjadi penurunan biaya untuk proses picking di warehouse. Untuk penelitian berikutnya perlu dikembangkan dengan mensimulasikan jumlah picker agar didapat waktu picking yang optimal dengan jumlah picker yang optimal juga terhadap layout yang optimal. Efek Tata Letak Terhadap Waktu Picking Pada table 2 akan dibuktikan juga pengaruh jumlah lokasi (Q) terhadap waktu Disini akan diambil ilustrasi pada Q = 30 dan Q = 36. Waktu picking yang dihitung adalah dengan menggunakan metode routing S-Shape. Return dan Optimal. Kalkulasi waktu picking menggunakan software Warehouse Real Time Simulator (WRTS) dari Wroclaw University. Penggunaan software yang dipakai dihitung dengan menggunakan 1 . orang picker saja. Dengan demikian belum menggunakan faktor Optimal route . 15:48:42 Pick lists Replications . Gambar 7. Layout dengan Q = 30 Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 Optimal route . 15:57:43 Pick lists Replications . Gambar 8. Layout dengan Q = 36 Hasil dari kalkulasi untuk ketiga metode routing Ae S Shape. Return, dan Optimall time yang digunakan terdapat pada table 3. Tabel 3. Waktu Picking untuk Metode Routing: S Shape. Return, dan Optimal Day Day 1 Day 1 Day 1 Day 1 Day 1 Day 1 Forklift Number of pick number lists completed Working time Routing method Number of slots in a rack 7:05:01 7:34:18 6:40:44 7:18:51 7:52:30 6:53:14 S-shape Return Optimal . S-shape Return Optimal . Pada table 3 diatas menunjukkan bahwa pada saat jumlah lokasi . umber of slots in a rac. per kolom bertambah, maka waktu picking . orking tim. nya juga Ambil contoh routing method dengan menggunakan Optimal. pada saat jumlah lokasinya berjumlah 5, total jumlah lokasi = 30, maka waktu pickingnya . orking tim. adalah 6:40:44. sedangkan pada saat jumlah lokasinya berjumlah 6. jumlah lokasi = 36, maka waktu pickingnya . orking tim. adalah 6:53:14. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa semakin banyak jumlah lokasi per kolomnya maka waktu pickingnya akan bertambah. Jurnal PASTI Volume X No 1, 108 Ae 117 PENUTUP Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi untuk area simpan gudang di PT. GMS yang optimal dengan perencanaan 24 lokasi simpan adalah panjang lorong utama/main aisle (L. = 4 m, lebar area simpan (B. = 12. 6 m, jumlah lorong . = 6, lebar lorong . = 6 feet C1. 8 m. Untuk ASP . isle productivit. Efek jumlah lokasi terhadap tata letak adalah pada saat jumlah lokasi picking (Q) bertambah maka space yang dibutuhkan juga akan semakin luas. Jika jumlah lokasi picking (Q) semakin banyak maka waktu pickingnya menjadi bertambah juga, hal ini ditunjukkan dengan menggunakan software simulasi: Warehouse Real Time Simulator. DAFTAR PUSTAKA