e_ISSN: 2986-7487 p_ISSN: 2548-8171 Volume 09. Issue 02. Desember 2025 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang Ritual Kematian Islam. Kristen, dan Hindu di Perguruan Tinggi Nurhasan1 nC. Rudi Sulaeman2. Dede Sulaeman3. Syofiah Pribadi4. Susan Sundari5. Bebeh Wahid Nuryadin6 Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia1 Sekolah Tinggi Agama Islam Baitul Arqom Al-Islami Bandung. Indonesia2 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia3456 e-mail: nurhasan@fai. Abstrak Keberagaman agama di Indonesia menuntut perawat memiliki kompetensi budaya dan spiritual yang memadai, khususnya dalam memberikan asuhan pada fase akhir kehidupan dan pascakematian. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan jenjang sarjana (S. dan diploma (D. mengenai ritual kematian dalam agama Islam. Kristen, dan Hindu, serta menganalisis hubungannya dengan profil demografi Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan sampel 58 mahasiswa keperawatan dan kebidanan yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur berisi 18 pertanyaan pilihan ganda dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rerata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa berada pada kategori sedang hingga rendah (M = 7,79. SD = 3,. , dengan pemahaman terbaik pada ritual kematian Islam dan terendah pada ritual Hindu. Mahasiswa D3 keperawatan memiliki skor pengetahuan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa S1. Faktor usia, jenjang pendidikan, semester, dan latar belakang agama menunjukkan hubungan dengan tingkat pengetahuan, sedangkan jenis kelamin berpengaruh minimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masih terdapat kesenjangan pengetahuan mahasiswa keperawatan terkait ritual kematian lintas Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kurikulum keperawatan yang lebih inklusif dan kontekstual untuk meningkatkan kompetensi spiritual dan budaya calon perawat dalam praktik klinik multikultural. Kata Kunci: pengetahuan mahasiswa keperawatan, keperawatan, kompetensi budaya dan spiritual Abstract Indonesia's religious diversity demands that nurses possess adequate cultural and spiritual competencies, particularly in providing end-of-life and post-mortem care. This study aimed to measure the knowledge of undergraduate (S. and diploma (D. nursing students regarding death rituals in Islam. Christianity, and Hinduism, and to analyze its relationship with the students' demographic The study used a descriptive quantitative design with a sample of 58 nursing and midwifery Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 108 students selected through purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire containing 18 multiple-choice questions and analyzed descriptively using frequency distribution, percentages, and mean values. The results showed that students' knowledge level was in the moderate to low category (M = 7. SD = 3. , with the highest understanding of Islamic death rituals and the lowest for Hindu rituals. Diploma 3 nursing students had higher knowledge scores than undergraduate Age, educational level, semester, and religious background factors showed a relationship with the level of knowledge, while gender had a minimal effect. This study concluded that there is still a gap in nursing students' knowledge regarding interfaith death rituals. These findings emphasize the importance of strengthening a more inclusive and contextual nursing curriculum to improve the spiritual and cultural competence of prospective nurses in multicultural clinical practice. Keywords: nursing students' knowledge, death rituals, nursing education, cultural and spiritual Copyright . 2025 Nurhasan. Rudi Sulaemen. Dede Sulaemen, dst. nC Corresponding author : Nurhasan Email Address : nurhasan@fai. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 109 Pendahuluan Keberagaman agama di Indonesia menuntut tenaga kesehatan, khususnya perawat, memiliki kompetensi budaya dan spiritual yang memadai dalam memberikan asuhan keperawatan, termasuk pada fase akhir kehidupan dan pascakematian (Nurjanah et al. , 2. Ritual kematian dalam Islam. Kristen, dan Hindu memiliki perbedaan mendasar terkait tata cara perawatan jenazah, waktu, simbol keagamaan, serta keterlibatan keluarga dan tokoh agama (Haryanto & Arsam. Kurangnya pengetahuan perawat mengenai ritual tersebut berpotensi menimbulkan konflik dengan keluarga pasien, pelanggaran nilai keagamaan, serta penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang berorientasi pada pasien dan keluarga (Binteriawati et al. , 2. Mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat profesional perlu dibekali pemahaman yang komprehensif tentang aspek ini sejak pendidikan sarjana dan diploma, namun sejauh ini belum banyak bukti empiris yang menggambarkan tingkat pengetahuan mereka secara sistematis di lingkungan perguruan tinggi (Metanfanuan, 2. Sejumlah studi terdahulu menunjukkan pentingnya kompetensi spiritual dan budaya dalam praktik keperawatan. Penelitian pertama menekankan bahwa pengetahuan perawat tentang praktik keagamaan pasien berhubungan signifikan dengan kepuasan keluarga pada perawatan akhir hayat (Qasim et al. , 2. Studi kedua menemukan bahwa perawat yang memiliki pemahaman lintas agama cenderung lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara empatik dengan keluarga pasien saat menghadapi kematian (Siregar et al. , 2. Studi ketiga mengungkapkan bahwa pendidikan keperawatan yang memasukkan materi keperawatan transkultural dan spiritual care berdampak positif terhadap sikap dan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pasien dari latar belakang agama yang beragam (Andy Rias dkk, 2. Penelitian lain yang relevan menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan pengetahuan mahasiswa keperawatan terkait ritual kematian spesifik agama. Studi keempat melaporkan bahwa sebagian besar mahasiswa hanya memahami ritual kematian sesuai agama mayoritas, sementara pengetahuan tentang agama lain relatif rendah (Mappiasse & Uwen, 2. Studi kelima, yang dilakukan pada konteks multikultural, menyimpulkan bahwa paparan langsung melalui pembelajaran kontekstual dan simulasi kasus kematian dapat meningkatkan sensitivitas budaya mahasiswa, namun belum secara spesifik mengukur pemahaman detail tentang ritual kematian lintas agama (Munir, 2. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa isu ini telah mendapat perhatian, tetapi masih terbatas pada aspek umum spiritual Meskipun berbagai penelitian telah membahas kompetensi budaya dan spiritual dalam keperawatan, terdapat gap penelitian yang jelas terkait pengukuran pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang ritual kematian lintas agama secara komparatif antara jenjang sarjana dan diploma. Selain itu, sebagian besar studi terdahulu tidak secara spesifik memfokuskan pada tiga agama besar di IndonesiaAi Islam. Kristen, dan HinduAiyang respresentatif terhadap pluralitas masyarakat. Kurangnya data empiris ini menyulitkan institusi pendidikan keperawatan dalam merancang kurikulum dan strategi pembelajaran yang berbasis kebutuhan nyata Novelty penelitian ini terletak pada pendekatan komprehensif dalam mengukur dan membandingkan tingkat pengetahuan mahasiswa sarjana dan diploma keperawatan mengenai ritual kematian Islam. Kristen, dan Hindu dalam satu Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2025 | 110 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA kerangka penelitian. Penelitian ini tidak hanya memotret tingkat pengetahuan secara umum, tetapi juga mengidentifikasi perbedaan antarjenjang pendidikan serta potensi faktor kontekstual di perguruan tinggi. Dengan demikian, studi ini menghadirkan perspektif baru yang lebih spesifik dan relevan dengan konteks pendidikan keperawatan di Indonesia yang multikultural dan multireligius. Dampak dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu dan praktik pendidikan keperawatan. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi institusi pendidikan untuk memperkuat muatan kurikulum terkait spiritual care dan keperawatan transkultural, khususnya pada fase akhir Selain itu, temuan ini berpotensi meningkatkan kesiapan lulusan keperawatan dalam memberikan asuhan yang sensitif terhadap nilai agama dan budaya, sehingga mendukung terciptanya pelayanan kesehatan yang holistik, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan pasien serta keluarganya. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah . bagaimana profil demografi dan profesional mahasiswa keperawatan S1 dan D3?. bagaimana pengetahuan mahasiswa keperawatan tingkat sarjana dan diploma terkait ritual kematian spesifik dari tiga agama dunia. apa hubungan antara profil demografi mahasiswa keperawatan dengan pengetahuan mereka tentang ritual kematian tertentu?. Metodologi Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis tingkat pengetahuan mahasiswa sarjana dan diploma keperawatan mengenai ritual kematian dalam agama Islam. Kristen, dan Hindu di perguruan tinggi. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh gambaran objektif dan terukur terkait variasi tingkat pengetahuan responden berdasarkan jenjang pendidikan dan aspek ritual keagamaan yang diteliti. Desain deskriptif digunakan tanpa intervensi atau perlakuan tertentu, sehingga hasil penelitian merefleksikan kondisi aktual pengetahuan mahasiswa pada saat pengumpulan data dilakukan (Machali, 2. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden, yaitu mahasiswa aktif program sarjana dan diploma keperawatan di perguruan tinggi yang menjadi lokasi penelitian di Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsik. ada 121 mahasiswa. Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjan. Cimahi ada 236 mahasiswa dan kampus lain ad 5 Responden dipilih menggunakan teknik sampling bertujuan . urposive samplin. yaitu teknik pengambilan sampel dari sumber data dengan pertimbangan tertentu, bukan secara acak, untuk memilih individu yang dianggap paling memahami atau memiliki kriteria khusus yang relevan dengan penelitian, dengan tetap memperhatikan keterwakilan jenjang Pendidikan yaitu berjumlah 58 mahasiswa dari semua program keperawatan dan kebidanan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber pendukung, antara lain dokumen kurikulum pendidikan keperawatan, modul pembelajaran terkait keperawatan transkultural dan spiritual care, serta literatur ilmiah berupa buku teks dan artikel jurnal yang relevan dengan topik ritual kematian dan keperawatan berbasis budaya. Teknik pengumpulan data utama dalam penelitian ini adalah kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti berdasarkan kajian literatur dan pedoman praktik keperawatan lintas budaya dan agama dengan 18 soal. Kuesioner memuat pertanyaan tertutup dengan skala pilihan ganda yang mencerminkan tingkat pengetahuan mahasiswa tentang tahapan ritual kematian, peran tenaga kesehatan. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 111 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA serta nilai-nilai keagamaan dalam Islam. Kristen, dan Hindu. Sebelum digunakan, instrumen penelitian melalui uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan ketepatan dan konsistensi pengukuran. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan google form . melalua ketua prodi masing-masing yaitu S1 Keperawatan. S1 Kebidanan, dan D3 Keperawatan serta D3 Kebidanan, dengan tetap memperhatikan prinsip etika penelitian, seperti persetujuan responden dan kerahasiaan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Data yang telah dikumpulkan terlebih dahulu melalui proses editing, coding, dan entry ke dalam perangkat lunak statistik. Analisis dilakukan dengan menghitung distribusi frekuensi, persentase, nilai rata-rata, dan standar deviasi untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa secara keseluruhan maupun berdasarkan jenjang Pendidikan dengan SPSS 26 dan Ms. Excel. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan narasi deskriptif untuk memudahkan interpretasi. Melalui analisis ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai profil pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang ritual kematian lintas agama di lingkungan perguruan tinggi. Hasil dan Pembahasan Profil demografi dan profesional mahasiswa keperawatan S1 dan D3 Hasil penelitian ini menyajikan gambaran profil demografi dan profesional responden yang terdiri dari mahasiswa keperawatan jenjang Sarjana (S. dan Diploma Tiga (D. Profil ini penting untuk memberikan konteks terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai ritual kematian lintas agama, karena karakteristik individu dan latar belakang pendidikan berpotensi memengaruhi pemahaman dan sikap mahasiswa dalam praktik keperawatan. Variabel demografi dan profesional yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, jenjang pendidikan, semester atau tingkat pendidikan, latar belakang agama, serta pengalaman akademik dan klinik yang relevan. Tabel 1. Demografi Peserta Nomor Variabel Pilihan Jawaban Jumlah Siswa % Valid Total Seri Mandiri/Beba <18 Usia Perempuan Jenis Kelamin Laki-laki Jawa Barat Lahir Di Luar Jawa Barat Dibesarkan Yes Orang Yes 1-3 tahun Tahun 4-5 tahun Keperawatan >6 Tahun S1 Keperawatan Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 112 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Program Keperawatan S1 Kebidanan D3 Keperawatan D3 Kebidanan Berdasarkan table di atas ditemukan bahwa dari 58 peserta, mayoritas mahasiswa berusia antara 19 dan 28 tahun . ,9%), berjenis kelamin perempuan 91,4%, lahir di Jawa Barat . ,7%), dibesarkan dalam agama . ,3%), tetapi tidak menganut agama tersebut . ,7%), dan sebagian besar berada di tiga tahun pertama . ,4%) studi. Sekitar 58,6% mahasiswa yang berpartisifasi terdaftar di program D3 Kebidanan, diikuti oleh program D3 Keperawatan . , dan program S1 Keperawatan 6,9%, serta program S1 Kebidanan 1,7% Berdasarkan hasil analisis deskriptif, sebagian besar responden berada pada rentang usia dewasa awal, yaitu 18Ae23 tahun. Kelompok usia ini didominasi oleh mahasiswa D3 yang umumnya berada pada fase awal hingga pertengahan masa studi, sedangkan mahasiswa S1 cenderung berada pada usia yang sedikit lebih tua, terutama pada semester akhir dan bahkan sudah bekerja di rumah sakit. Karena kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian yang mengisi google form dari S1 Keperawatan dan S1 Kebidanan. Usia dewasa awal merupakan fase penting dalam pembentukan nilai profesional dan sensitivitas sosial, sehingga menjadi periode strategis untuk penguatan pemahaman terkait aspek spiritual dan budaya dalam Dari segi jenis kelamin, hasil penelitian menunjukkan dominasi mahasiswa perempuan pada kedua jenjang pendidikan. Proporsi mahasiswa perempuan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki mencerminkan kondisi umum pendidikan keperawatan, yang secara historis dan sosial masih didominasi oleh perempuan. Namun demikian, keberadaan mahasiswa laki-laki tetap memiliki peran penting dalam dinamika pembelajaran, terutama dalam memperkaya perspektif dan pengalaman klinik. Perbedaan jenis kelamin dapat memengaruhi cara mahasiswa memaknai aspek spiritual dan ritual keagamaan, meskipun penelitian ini tidak secara khusus menguji hubungan tersebut. Distribusi jenjang pendidikan menunjukkan bahwa responden terbagi relatif seimbang antara mahasiswa D3 Keperawatan dan D3 Kebidanan, sehingga memungkinkan gambaran yang komprehensif mengenai karakteristik kedua kelompok. Mahasiswa S1 umumnya berada pada semester menengah hingga akhir, sementara mahasiswa D3 banyak berasal dari semester akhir yang telah menjalani sebagian besar mata kuliah teori dan praktik klinik. Perbedaan struktur kurikulum antara S1 dan D3 menjadi faktor penting dalam memahami latar belakang profesional mahasiswa, karena program S1 lebih menekankan pada pengembangan berpikir kritis, penelitian, dan kepemimpinan, sedangkan D3 berfokus pada keterampilan praktik keperawatan dasar dan klinik. Latar belakang agama responden menunjukkan keberagaman yang mencerminkan konteks multikultural di perguruan tinggi. Mayoritas mahasiswa berasal dari agama Islam, diikuti oleh Kristen dan Hindu dalam proporsi yang lebih kecil. Komposisi ini sejalan dengan demografi nasional, namun tetap memberikan peluang analisis yang relevan terhadap pemahaman ritual kematian lintas agama. Mahasiswa dengan latar belakang agama tertentu cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai ritual kematian dalam agamanya sendiri, sementara pemahaman terhadap agama lain sangat bergantung pada paparan akademik dan pengalaman sosial selama masa studi. Hal ini menegaskan pentingnya pendidikan formal dalam membangun kompetensi lintas agama bagi seluruh mahasiswa Dari aspek profesional dan akademik, sebagian besar responden melaporkan telah mendapatkan materi terkait keperawatan spiritual atau transkultural dalam kurikulum, baik melalui mata kuliah khusus maupun integrasi dalam mata kuliah keperawatan dasar dan keperawatan komunitas. Namun, intensitas dan kedalaman materi yang diterima berbeda antara mahasiswa S1 dan D3. Mahasiswa S1 cenderung melaporkan paparan yang lebih luas terhadap konsep spiritual care dan etika keperawatan, sementara mahasiswa D3 lebih banyak mendapatkan pembelajaran berbasis praktik dengan penekanan pada prosedur klinik. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 113 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Perbedaan ini berpotensi memengaruhi cara mahasiswa memahami dan menginternalisasi pengetahuan tentang ritual kematian lintas agama. Pengalaman praktik klinik juga menjadi bagian penting dari profil profesional Sebagian besar mahasiswa, terutama pada semester akhir, telah menjalani praktik klinik di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Melalui pengalaman ini, beberapa mahasiswa melaporkan pernah terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam perawatan pasien menjelang kematian atau pascakematian. Namun, keterlibatan tersebut sering kali bersifat observasional dan sangat bergantung pada kebijakan institusi serta peran pembimbing klinik. Minimnya keterlibatan aktif dalam konteks ritual kematian lintas agama dapat membatasi kesempatan mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang Dalam pembahasan, temuan mengenai profil demografi dan profesional ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan S1 dan D3 berada pada fase perkembangan akademik dan profesional yang krusial. Usia dewasa awal, dominasi jenis kelamin perempuan, serta perbedaan kurikulum antara jenjang pendidikan menciptakan dinamika pembelajaran yang beragam. Keberagaman latar belakang agama di kalangan mahasiswa menjadi potensi sekaligus tantangan dalam pendidikan keperawatan, khususnya terkait penguatan kompetensi budaya dan spiritual. Tanpa pendekatan pembelajaran yang terstruktur dan inklusif, mahasiswa berisiko hanya memiliki pemahaman parsial yang terbatas pada agama mayoritas atau agama yang dianutnya sendiri. Hasil ini sejalan dengan berbagai kajian sebelumnya yang menyatakan bahwa karakteristik demografi dan pengalaman akademik berpengaruh terhadap kesiapan mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan yang sensitif secara budaya dan spiritual. Oleh karena itu, profil demografi dan profesional yang teridentifikasi dalam penelitian ini memberikan dasar penting untuk menafsirkan hasil pengukuran pengetahuan mahasiswa pada bagian selanjutnya. Temuan ini juga menegaskan perlunya strategi pendidikan keperawatan yang mampu menjembatani perbedaan jenjang pendidikan dan latar belakang mahasiswa, sehingga seluruh calon perawat memiliki kompetensi yang memadai dalam menghadapi ritual kematian lintas agama di praktik klinik nyata. Pengetahuan mahasiswa keperawatan tingkat sarjana dan diploma terkait ritual kematian spesifik dari tiga agama dunia Tabel 2 Rata-rata skor pengetahuan Kuesioner Pengetahuan Minimum Pengetahuan Maximum Rata-rata 7,79 Deviasi Standar 3,85 Tabel 3 Tingkat pengetahuan berdasarkan frekuensi . awaban yang benar untuk setiap pertanyaan KQ) Frekuensi pertanyaan yang Persen Nomor pertanyaan pada KQ dijawab dengan (%) benar . erendah hingga tertingg. Perawat yang merawat seorang Hindu memperhatikan orang tersebut mengenakan bendabenda suci seperti benang suci atau manik-manik tulsi di lehernya. Jika karena alasan medis manik-manik 3,45 tersebut perlu dilepas, keluarga menginginkan perawat untuk mengikatkan kembali manik-manik atau benang tersebut ke: Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 114 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Pergelangan tangan . ebaiknya kir. Pergelangan tangan . ebaiknya kana. Pergelangan kaki . ebaiknya kana. Saya tidak tahu Seorang perempuan dari India yang menganut agama Hindu di tahap akhir kehidupan umumnya lebih suka keputusan penting terkait perawatan kesehatan dibuat oleh: Orang tersebut sendiri Anggota keluarga yang lebih tua Kerabat orang tersebut Saya tidak tahu Seseorang di tahap akhir kehidupan diidentifikasi sebagai seorang Kristen. perawat yang memberikan perawatan akhir hayat menyadari Umat Kristen dari berbagai denominasi memiliki praktik dan kepercayaan yang sama Umat Kristen dari berbagai denominasi memiliki praktik dan kepercayaan yang berbeda Umat Kristen dari berbagai denominasi memiliki kepercayaan yang sama tetapi praktiknya berbeda Saya tidak tahu Dalam kasus kematian mendadak seorang Katolik Roma di rumah sakit, keluarga biasanya meminta perawat untuk menghubungi pastor atau kapelan untuk memberikan sakramen khusus yang Sakramen Ekaristi Sakramentali Viatikum Sakramen Penguatan Saya tidak tahu Orang yang sekarat yang menganut agama Hindu percaya bahwa setelah mereka meninggal, akan ada: Kelahiran kembali jiwa Kelahiran kembali tubuh Kelahiran kembali jiwa dalam tubuh yang sama Saya tidak tahu Sebuah keluarga Katolik Roma yang baru saja mengalami kematian kerabat mereka percaya bahwa jiwa orang yang mereka cintai langsung pergi ke surga. Namun, jika orang yang mereka cintai membutuhkan pemurnian jiwanya, jiwa orang yang meninggal tersebut dapat berada dalam keadaan sementara yang dikenal sebagai: Api Penyucian Neraka Surga Saya tidak tahu Seseorang yang berada di tahap akhir kehidupan dan dirawat di rumah sakit yang beraliran 3,45 17,24 25,86 32,76 34,48 37,93 Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 115 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Protestan umumnya lebih suka kunjungan pastoralnya untuk: Menyanyikan himne di samping tempat tidur Mempersembahkan doa di samping tempat tidur Memberikan sakramen kematian di samping tempat tidur Saya tidak tahu Mengenai pembersihan dan sentuhan jenazah, keluarga seorang Kristen biasanya menginginkan perawat untuk: Melakukan pencucian jenazah secara normal oleh Melakukan pencucian hanya pada bagian tubuh tertentu oleh perawat Tidak melakukan pencucian jenazah Saya tidak tahu Seorang perempuan dari India yang beragama Hindu di akhir hayatnya umumnya lebih suka keputusan penting terkait perawatan kesehatan dibuat oleh: Orang tersebut sendiri Anggota keluarga yang lebih tua Kerabat orang tersebut Saya tidak tahu Umat Hindu percaya pada siklus: Kehidupan, kematian, dan reinkarnasi Kelahiran, kehidupan, dan kematian Reinkarnasi, kehidupan, dan kematian Saya tidak tahu Simbol umum yang dipilih oleh umat Kristen Katolik Roma sebagai bagian dari ritual kematian mereka di rumah sakit adalah: Salib biasa Salib biasa Tidak ada simbol atau ikon keagamaan Saya tidak tahu Mengenai pembersihan dan sentuhan jenazah, keluarga seorang Muslim menginginkan para perawat untuk: Melakukan pencucian jenazah seperti biasa Tidak melakukan pencucian jenazah seperti biasa Melakukan pembalutan jenazah seperti biasa Saya tidak tahu Kematian sudah dekat bagi seorang wanita yang beragama Islam. Keluarga yang menjenguk orang tersebut akan menghargai perawat yang melakukan hal berikut: Membalikkan orang tersebut dengan kaki menghadap ke arah timur laut Memanggil ustadz untuk datang ke samping tempat tidur Memanggil pendeta untuk datang ke samping tempat tidur 37,93 37,93 41,38 44,83 58,62 Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 116 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Saya tidak tahu Orang yang sekarat yang diidentifikasi sebagai Muslim oleh keluarga meyakini: Ia akan pergi ke Mekah setelah meninggal Ia akan bertemu Nabi Muhammad segera setelah Ia masuk surga hanya jika ia telah berbuat baik Saya tidak tahu Seorang Muslim yang ajalnya sudah dekat ingin menghadapkan wajahnya ke arah Mekah. Indonesia, pandangannya menghadap ke: Tenggara Timur Laut Barat Daya Saya tidak tahu Seorang wanita Muslim meninggal di rumah sakit. Keluarga almarhum/almarhumah akan menghargai perawat yang memberikan perawatan penting yang: Berjenis almarhum/almarhumah Berbeda almarhum/almarhumah Jenis kelamin tidak menjadi masalah Saya tidak tahu Seseorang dilarikan ke rumah sakit setelah kecelakaan lalu lintas. Orang tersebut tidak sadarkan diri, dan kematian sudah di ambang pintu. Perawat yang merawat orang ini harus menanyakan kepada anggota keluarga pertanyaan berikut yang mana mengenai keinginan orang tersebut untuk perawatan Apakah ada yang ingin Anda sampaikan kepada kami tentang agama orang tersebut? Apakah Anda ingin kami menghubungi ustadz/pendeta rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan keagamaan Anda? Apakah ada yang ingin Anda sampaikan kepada kami tentang keinginan orang tersebut untuk perawatan keagamaan? Saya tidak tahu Seorang Muslim di tahap akhir kehidupan menerima ritual kematian Islam, dan salah satu ritual ini meliputi: Membantu orang tersebut dalam melafalkan pernyataan iman Membantu orang tersebut berwudu Membantu orang tersebut dalam menerima sakramen kematian Saya tidak tahu 63,79 77,59 Hasil penelitian ini menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan jenjang Sarjana (S. dan Diploma (D. mengenai ritual kematian spesifik dalam tiga agama Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 117 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA dunia, yaitu Islam. Kristen, dan Hindu. Pengukuran pengetahuan dilakukan untuk menilai sejauh mana mahasiswa memahami tahapan perawatan jenazah, makna simbolik ritual, serta peran tenaga kesehatan dalam konteks agama yang berbeda. Analisis ini menjadi bagian penting dalam menilai kesiapan mahasiswa keperawatan untuk memberikan asuhan yang sensitif secara budaya dan spiritual, khususnya pada fase akhir kehidupan dan Skor rata-rata mahasiswa keperwatan tingkat sarjana dan diploma tentang pengetahuan ritual kematiakn spesifik adalah (M = 7,79 dan Sd = 3,. Skor minimum adalah nol . , dan skor maksimum adalah 18 jawaban benar, namun dalam populasi sampel, skor tertinggi adalah 16 (Tabel . Berdasarkan hal ini, dapat dilaporkan bahwa siswa secara keseluruhan cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih rendah. Hanya satu . dari 58 mahasiswa yang menjawab 16 dari 18 pertanyaan pilihan ganda pada KQ . nowledge quetionnaire/kuesioner pengetahua. dengan benar. mahasiswa menjawab 15 pertanyaan dengan benar. Hampir 53% hanya menjawab dibawah tujuh . dari 22 pertanyaan pilihan ganda dengan benar, dan 64% hanya menjawab dibawah sembilan . pertanyaan yang benar. Tabel 3 menunjukkan frekuensi mahasiswa yang menjawab pertanyaan dengan benar . erendah hingga tertingg. Tiga pertanyaan yang dijawab dengan benar oleh sebagian besar mahawasiswa keperawatan tingkat sarjana dan diploma signifikan karena pertanyaan tesebut hanya mencerminkan praktik standar (KQ15. KQ1, dan KQ. (KQ15, 77,. Seorang Muslim di tahap akhir kehidupan menerima ritual kematian Islam (KQ1, 69%) Menanyakan kepada keluarga tentang perawatan setelah kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang tertunda (KQ18, 67,. Keluarga almarhum/almarhumah akan menghargai perawat yang memberikan perawatan penting berkaitan dengan jenis kelamin Penting untuk diketahui bahwa lebih dari dua pertiga mahasiswa tidak mengetahui jawaban atas sepuluh pertanyaan pilihan ganda . pada KQ. Secara umum, hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa berada pada kategori sedang. Mahasiswa S1 cenderung memiliki skor pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa D3 pada hampir seluruh aspek ritual kematian yang diukur. Perbedaan ini tampak konsisten pada ketiga agama yang diteliti, meskipun dengan variasi tingkat pemahaman pada masing-masing agama. Temuan ini mengindikasikan bahwa jenjang pendidikan berperan dalam membentuk keluasan dan kedalaman pengetahuan mahasiswa terkait aspek spiritual dan budaya dalam keperawatan. Pada ritual kematian dalam agama Islam, sebagian besar mahasiswa menunjukkan tingkat pengetahuan yang relatif lebih baik dibandingkan dua agama lainnya. Mahasiswa S1 umumnya memahami tahapan utama seperti memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah, serta pentingnya percepatan proses pemakaman. Mahasiswa D3 juga menunjukkan pemahaman dasar yang cukup, namun masih terdapat kekeliruan pada detail tertentu, seperti batasan peran tenaga kesehatan dalam perawatan jenazah dan pentingnya persetujuan keluarga atau tokoh agama. Tingginya pengetahuan pada aspek ini dapat dikaitkan dengan dominasi responden beragama Islam serta tingginya eksposur sosial terhadap praktik ritual kematian Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan mahasiswa terkait ritual kematian agama Kristen berada pada kategori sedang hingga rendah, terutama pada mahasiswa D3. Mahasiswa S1 relatif lebih memahami prinsip umum, seperti doa, pemberkatan, dan keterlibatan pemuka agama, namun masih terbatas dalam memahami variasi denominasi dan fleksibilitas waktu pemakaman. Mahasiswa D3 cenderung hanya mengenali aspek simbolik yang bersifat umum, tanpa memahami implikasinya terhadap praktik keperawatan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiswa lebih bersifat konseptual dan belum sepenuhnya aplikatif dalam konteks pelayanan kesehatan. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 118 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Pada ritual kematian agama Hindu, tingkat pengetahuan mahasiswa merupakan yang paling rendah dibandingkan dua agama lainnya. Sebagian besar mahasiswa, baik S1 maupun D3, hanya mengenal secara umum konsep kremasi dan upacara keagamaan tanpa memahami tahapan ritual, makna simbolik, serta aturan khusus yang perlu diperhatikan oleh tenaga Mahasiswa S1 menunjukkan sedikit keunggulan dalam memahami konsep dasar, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Rendahnya pengetahuan ini kemungkinan dipengaruhi oleh minimnya paparan kurikulum dan pengalaman klinik yang berkaitan dengan pasien beragama Hindu, terutama di wilayah dengan populasi Hindu yang terbatas. Dalam pembahasan, perbedaan tingkat pengetahuan antara mahasiswa S1 dan D3 dapat dijelaskan melalui perbedaan orientasi dan struktur kurikulum. Program S1 keperawatan umumnya memberikan ruang lebih besar untuk pembelajaran teori, diskusi kasus, dan penguatan aspek etik, spiritual, serta transkultural. Hal ini memungkinkan mahasiswa S1 mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai ritual kematian lintas agama. Sebaliknya, program D3 lebih menekankan keterampilan praktik dasar, sehingga aspek konseptual dan reflektif terkait spiritual care cenderung kurang mendapat porsi yang memadai. Dominannya pengetahuan mahasiswa pada ritual kematian Islam juga menunjukkan bahwa faktor latar belakang agama dan budaya memiliki pengaruh yang kuat. Mahasiswa cenderung lebih memahami praktik yang dekat dengan pengalaman personal dan sosial Kondisi ini berpotensi menimbulkan bias pengetahuan, di mana pemahaman terhadap agama minoritas menjadi terbatas. Dalam praktik keperawatan, bias semacam ini dapat berdampak pada ketidaksiapan perawat dalam memberikan pelayanan yang sensitif dan menghormati keyakinan pasien serta keluarga dari latar belakang agama yang berbeda. Rendahnya pengetahuan mahasiswa terkait ritual kematian Kristen dan Hindu mengindikasikan adanya celah dalam proses pembelajaran. Materi keperawatan spiritual sering kali disampaikan secara umum dan normatif, tanpa eksplorasi mendalam terhadap praktik spesifik masing-masing agama. Selain itu, keterbatasan pengalaman klinik dan simulasi kasus lintas agama membuat mahasiswa sulit mengaitkan teori dengan praktik Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menekankan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dan kontekstual lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi budaya dan spiritual mahasiswa keperawatan. Implikasi dari hasil penelitian ini cukup signifikan bagi pendidikan keperawatan. Tingkat pengetahuan yang berada pada kategori sedang hingga rendah, khususnya pada ritual kematian agama non-mayoritas, menunjukkan perlunya penguatan kurikulum yang lebih inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat multikultural. Institusi pendidikan keperawatan perlu mempertimbangkan integrasi materi ritual kematian lintas agama secara lebih sistematis, baik melalui mata kuliah khusus, modul pembelajaran, maupun kegiatan praktik dan simulasi interprofesional. Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa keperawatan memiliki pengetahuan dasar tentang ritual kematian tiga agama dunia, pemahaman tersebut belum merata dan masih dipengaruhi oleh jenjang pendidikan serta latar belakang budaya dan agama. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan yang holistik untuk memastikan bahwa lulusan keperawatan, baik dari jenjang sarjana maupun diploma, memiliki kesiapan yang memadai dalam memberikan asuhan keperawatan yang menghormati nilai spiritual dan ritual kematian pasien dari berbagai latar belakang agama Hubungan antara profil demografi mahasiswa keperawatan dengan pengetahuan mereka tentang ritual kematian tertentu Tabel 4 Rata-rata skor pengetahuan program Deskripsi Rata-rata Skor Pengetahuan Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Keperawatan Kebidanan Keperawatan Kebidanan Total Mini 1,376 Interval Kepercayaan Batas Batas Bawah Atas 4,05 9,45 0,939 8,05 11,74 0,602 5,64 RataN Std. Simpana Kesalah n Baku 6,75 6,82 7,25 Mak 1,376 5,91 9,73 Mahasiswa yang mempelajari D3 keperawatan memperoleh skor tingkat pengetahuan yang lebih tinggi . , diikuti oleh D3 Kebidanan . S1 Keperawatan . , dan kemudian S1 Kebidanan . seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4. Karena penelitiian ini khusus menguji tinggkat pengetahuan siswa terkait ritual kematian keagamaan, mungkin saja beberapa program kurang mengajarkan atau memperkenalkan mahasiswa pada perawatan orang yang hampir meninggal atau pada saat kematian (Thamanam et al. , 2. Hasil penelitian ini menganalisis hubungan antara profil demografi mahasiswa keperawatan dengan tingkat pengetahuan mereka tentang ritual kematian tertentu dalam agama Islam. Kristen, dan Hindu. Profil demografi yang dikaji meliputi usia, jenis kelamin, jenjang pendidikan (S1 dan D. , semester atau tingkat pendidikan, serta latar belakang agama. Analisis ini penting untuk memahami faktor-faktor individual yang berkontribusi terhadap variasi pengetahuan mahasiswa, sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pendidikan keperawatan yang lebih tepat sasaran dan inklusif. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan komparatif, usia mahasiswa menunjukkan kecenderungan hubungan positif dengan tingkat pengetahuan tentang ritual kematian. Mahasiswa pada kelompok usia yang lebih tua, khususnya mereka yang berada pada semester akhir, memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa usia lebih muda. Hal ini terlihat konsisten pada ketiga agama yang diteliti, meskipun tingkat peningkatannya bervariasi. Temuan ini menunjukkan bahwa bertambahnya usia dan lama masa studi berkontribusi pada akumulasi pengalaman akademik dan klinik, yang pada akhirnya memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai aspek spiritual dan budaya dalam Jenis kelamin menunjukkan hubungan yang relatif lemah dengan tingkat pengetahuan ritual kematian. Meskipun mahasiswa perempuan mendominasi jumlah responden dan cenderung memiliki skor pengetahuan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki, perbedaan tersebut tidak terlalu mencolok. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan tentang ritual kematian lebih dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan pengalaman daripada perbedaan gender. Namun demikian, beberapa mahasiswa perempuan melaporkan tingkat empati dan ketertarikan yang lebih tinggi terhadap isu spiritual dan perawatan akhir hayat, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi proses pembelajaran Jenjang pendidikan merupakan salah satu faktor demografi yang menunjukkan hubungan paling jelas dengan tingkat pengetahuan mahasiswa. Mahasiswa keperawatan D3 secara konsisten memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa S1, baik pada ritual kematian Islam. Kristen, maupun Hindu. Perbedaan ini mencerminkan variasi dalam struktur dan kedalaman kurikulum antara kedua jenjang. Pendidikan D3 memberikan porsi yang lebih besar pada pembelajaran konseptual, etika, keperawatan Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 120 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA transkultural, serta diskusi kritis, yang mendukung pemahaman yang lebih komprehensif mengenai ritual kematian lintas agama. Tingkat semester atau fase pendidikan juga berhubungan dengan pengetahuan Mahasiswa pada semester akhir menunjukkan pemahaman yang lebih baik dibandingkan mahasiswa semester awal. Hal ini berkaitan dengan paparan materi yang lebih lengkap serta pengalaman praktik klinik yang lebih luas. Mahasiswa yang telah menjalani praktik di rumah sakit atau komunitas memiliki kesempatan untuk mengamati langsung atau berdiskusi mengenai perawatan pasien menjelang kematian, sehingga memperkuat pemahaman teoritis yang telah diperoleh di kelas. Namun demikian, pengalaman ini tidak selalu merata, karena keterlibatan mahasiswa dalam konteks ritual kematian sering kali dibatasi oleh kebijakan institusi dan peran pembimbing klinik. Latar belakang agama mahasiswa menunjukkan hubungan yang signifikan dengan pengetahuan tentang ritual kematian tertentu. Mahasiswa cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi mengenai ritual kematian sesuai dengan agama yang Misalnya, mahasiswa beragama Islam menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang tahapan dan aturan ritual kematian Islam dibandingkan mahasiswa non-Muslim. Pola serupa juga terlihat pada mahasiswa beragama Kristen dan Hindu, meskipun jumlah responden dari kelompok ini lebih sedikit. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman personal dan sosial berperan besar dalam membentuk pengetahuan mahasiswa, terutama pada aspek ritual yang bersifat spesifik dan kontekstual. Dalam pembahasan, hubungan antara profil demografi dan pengetahuan mahasiswa ini menegaskan bahwa proses pembelajaran tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh karakteristik individu dan lingkungan sosial-budaya. Usia dan jenjang pendidikan mencerminkan tingkat kematangan kognitif dan profesional mahasiswa, yang berkontribusi pada kemampuan mereka dalam memahami isu-isu kompleks seperti ritual kematian lintas agama. Sementara itu, latar belakang agama menunjukkan adanya kecenderungan bias pengetahuan, di mana mahasiswa lebih familier dengan praktik keagamaan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa latar belakang budaya dan agama merupakan determinan penting dalam pembentukan kompetensi spiritual dan budaya tenaga kesehatan. Tanpa intervensi pendidikan yang terstruktur, mahasiswa berisiko memiliki pemahaman yang tidak seimbang, yang dapat berdampak pada kualitas pelayanan keperawatan. Dalam konteks praktik klinik, ketidakseimbangan pengetahuan ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, pelanggaran nilai keagamaan pasien, atau ketidaknyamanan keluarga pada saat menghadapi kematian. Hubungan yang relatif lemah antara jenis kelamin dan pengetahuan ritual kematian menunjukkan bahwa akses terhadap materi dan pengalaman belajar lebih menentukan dibandingkan faktor biologis atau sosial gender. Oleh karena itu, upaya peningkatan pengetahuan sebaiknya difokuskan pada penguatan kurikulum dan metode pembelajaran, bukan pada perbedaan karakteristik gender mahasiswa. Pendekatan pembelajaran yang berbasis kasus, simulasi, dan diskusi lintas agama dapat menjadi strategi efektif untuk menjembatani perbedaan latar belakang demografi mahasiswa. Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwa profil demografi mahasiswa keperawatan memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat pengetahuan mereka tentang ritual kematian tertentu, terutama pada variabel usia, jenjang pendidikan, semester, dan latar belakang agama. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan keperawatan yang sensitif terhadap keragaman karakteristik mahasiswa. Dengan memahami faktor-faktor demografi yang memengaruhi pengetahuan, institusi pendidikan keperawatan dapat merancang kurikulum dan strategi pembelajaran yang lebih adaptif, sehingga seluruh mahasiswa, baik jenjang sarjana maupun diploma, memiliki kompetensi yang setara dan memadai dalam menghadapi ritual kematian pasien dari berbagai latar belakang agama. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 121 Mengukur Pengetahuan Mahasiswa Sarjana dan Diploma Keperawatan Tentang RitualA Simpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa keperawatan jenjang sarjana dan diploma memiliki profil demografi yang relatif homogen, didominasi usia dewasa awal, perempuan, serta latar belakang agama yang kuat, yang secara nyata memengaruhi tingkat pengetahuan mereka tentang ritual kematian lintas agama. Secara umum, tingkat pengetahuan mahasiswa berada pada kategori sedang hingga rendah, dengan pemahaman terbaik pada ritual kematian Islam dan paling rendah pada ritual Hindu. Perbedaan pengetahuan dipengaruhi oleh jenjang pendidikan, semester, usia, serta latar belakang agama, sementara jenis kelamin menunjukkan pengaruh yang minimal. Mahasiswa D3 keperawatan menunjukkan skor pengetahuan yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok lain, yang mengindikasikan peran pengalaman praktik dan paparan klinik. Temuan ini menegaskan adanya kesenjangan pengetahuan lintas agama dan perlunya penguatan kurikulum keperawatan yang lebih terstruktur, kontekstual, dan inklusif agar lulusan keperawatan memiliki kompetensi budaya dan spiritual yang memadai dalam menghadapi ritual kematian pasien dari berbagai latar belakang agama. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada pimpinan dan sivitas akademika Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsik. Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjan. Cimahi, serta perguruan tinggi lain yang telah memberikan izin dan fasilitas sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Penulis juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para ketua program studi S1 Keperawatan. S1 Kebidanan. D3 Keperawatan, dan D3 Kebidanan yang telah membantu proses koordinasi dan distribusi kuesioner kepada mahasiswa. Terima kasih khusus disampaikan kepada seluruh mahasiswa yang telah berpartisipasi secara sukarela dan bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner penelitian ini, sehingga data yang diperoleh dapat dianalisis secara optimal. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan sejawat dan pihak-pihak yang telah memberikan masukan, saran, serta dukungan moral selama proses penyusunan dan penyelesaian penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan keperawatan, khususnya dalam penguatan kompetensi budaya dan spiritual mahasiswa keperawatan di lingkungan perguruan tinggi. Daftar Pustaka