Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Februari 2024: 41-48 IGHDHAB. AINA ADZHABU. DAN UHIBBUKI JIDDAN ANALISIS FORM TIGA PUISI NIZAR QAbANI Ikhwan Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor Indonenesia Email: ikhwan@unpad. ABSTRAK. Penelitian ini menganalisis secara deskriptif form yang digunakan oleh Nizar Qabbani dalam tiga puisi di dalam antologi puisinya yang berjudul Au100 Risalah HubbAy. Analisis dilakukan untuk mengungkapkan makna puisi dari sisi bentuk dan gaya bahasa melalui pendekatan New Criticism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa yang digunakan oleh Nizar Qabbani di dalam puisi-puisinya didominasi oleh metafora, simile, personifikasi, dan hiperbola. Selain itu dugunakan pula paralelisme, metominia, retoris, antitesis, dan polisindeton. Gaya bahasa tersebut digunakan untuk mengungkapkan tema tentang kemarahan yang dipenuhi cinta dan janji di dalam Ighdab, cinta sejati dan rasa kehilangan di dalam Aina Adzhabu, serta cinta sejati di dalam Uhibbuki Jiddan. Semuanya merupakan tema tentang cinta yang luar biasa dengan kesan yang menggairahkan. Kata Kunci: Puisi. New Criticism. Nizar Qabbani. Risalah Hubb ABSTRACT. This research analyzes qualitative descriptively about form . anguage styl. that is used by Nizar Qabbani in three poems in his poetry in anthology of "100 Risalah al-Hubb". It is used for expressing the meanings of Nizar QabbaniAos poems through the New Criticism approach. The results show that the language style used by Nizar Qabbani in his poetry is dominated by metaphor, simile, personification and hyperbole. Apart from that, parallelism, metominia, rhetoric, antithesis and polysyndeton are also used. This language style is used to express the themes of anger filled with love and promise in AuIghdabAy, true love and loss in AuAina AdzhabuAy, and true love in AuUhibbuki JiddanAy. All of them are themes about extraordinary love with a passionate impression. Keywords: Poems. New Criticism. Nizar Qabbani. Risalah Hubb PENDAHULUAN Imajinasi manusia selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa, unik, dan bahkan sulit untuk diprediksi. Di antara imajinasi yang selalu tumbuh berkembang antara lain adalah karya sastra, karya imajinatif yang mempunyai fungsi estetik dan karakteristik masing-masing, baik dalam bentuk puisi, prosa maupun drama. Salah satu hal dari ketiga genre tersebut, puisi merupakan bahan kajian yang menarik untuk diteliti mengingat memberikan banyak bahasa kias di dalamnya. Puisi menggunakan bahasa bahasa yang lebih padat dan simbolik dibandingkan dua genre sastra yang lain. Pradopo . 2: . menjelaskan bahwa puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya . Puisi memiliki unsur-unsur berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan pengarang. Hal inilah yang menjadikan bahasa puisi lebih sulit dan mempunyai kerumitan dalam menangkap Tingkat kesulitan di dalam bahasa puisi mengakibatkan dibutuhkan pendekatan khusus guna memahami bentuk dan maknanya secara Pendekatan yang tepat untuk membedah makna puisi secara otonom dari sisi bentuk dan makna adalah New criticism. Pendekatan ini tidak membutuhkan perangkat seperti sosiologi, lain-lain mengungkapkan maksud yang terkandung dalam puisi-puisi tersebut. Dalam konteks ini. Hawkes . alam Siswantoro, 2010: . mengungkapkan bahwa karya sastra harus dipahami sebagai karya yang otonom, tanpa melibatkan rujukan maupun kriteria-kriteria di luar dirinya. Artikel ini difokuskan pada analisis form . aya bahas. yang terdapat di dalam puisi. Fokus tersebut dipilih karena gaya bahasa merupakan sarana untuk menguraikan makna estetik puisi. Tanpa menguraikan gaya bahasa, maka puisi hanya akan dipenuhi simbol-simbol yang sulit Objek material dari penelitian ini adalah puisi Ighdhab. Uhibbuki Jiddan dan Aina Adzhabu karya Nizar Qabbani dalam antologinya yang berjudul Au100 Risalah HubAy. Ketiga puisi tersebut menarik untuk dikaji melalui pendekatan new criticism karena penuh dengan bentuk gaya bahasa semisal paradok, ironi dan sebagainya. Puisi-puisi Nizar Qabbani tergolong puisi bebas dengan tanpa mengabaikan pola metrum. sinilah letak kepiawaian Qabbani sebagai penyair dalam menghayati beragam fenomena di sekitar Ighdhab. Aina Adzhabu, dan Uhibbuki Jiddan Analisis Form Tiga Puisi NizarQabani (Ikhwa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kehidupannya, baik dalam masalah hubungan interpersonal, sosial-politik, bahkan agama. Meskipun demikian, kebanyakan puisi Nizar Qabbani memeiliki kecenderungan dalam mengekspresikan tema tentang cinta. Atas hal itulah. Nizar Qabbani dijuluki di dunia Arab sebagai SyaAoir al-hubb (Penyair Cint. yang sarat makna, nilai, dan metafora sehingga menggugah New Criticism New Criticism merupakan aliran alam sastra, diperkenalkan dan baru berkembang tahun 1930 (Suroso dkk, 2008: . Istilah New Criticism pertama kali dikemukakan oleh John Crowe Ransom dalam bukunya The New Criticism . dan ditopang oleh I. Richard dan T. Eliot. Sejak Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren menerbitkan buku Understanding Poetry . , model kritik sastra ini mendapat perhatian yang luas di kalangan akademisi dan pelajar Amerika selama dua dekade. Penulis new criticism lainnya yang penting adalah Allen Tate. Blackmur, dan William K. Wimsatt. Jr. (Abrams, 1981: 109-. New Criticsm memandang teks sastra sebagai suatu sistem dan suatu struktur yang utuh. Sebagai suatu sistem/struktrur karya sastra dibangun oleh komponen-komponen teks sastra yang saling berkaitan satu sama lain membentuk suatu bentuk dan makna. Unsur-unsur yang membangun teks sastra dan kaitannya dalam membentuk sistem. Pandangan New Criticism terhadap sastra merupakan hal yang spesial. Sastra dipandang sebagai karya otonom, mandiri dan tidak tergantung pada unsur-unsur lain di luar sastra. Sastra menjadi objek dalam dirinya sendiri, harus terpisah dari pengarang maupun pembaca. Pendekatan semacam itu membuat New Criticism dikenal sebagai pendekatan yang mengarahkan . , lepas dari pengarung pengarangnya . ntentional fallac. , riwayat terjadinya serta pendapat pembaca . ffective fallac. dan kaum kritisi . erey of paraphras. Sastra bagi new criticism adalah sesuatu yang unik dan mempunyai bentuk yang sangat baik, sehingga selayaknya harus didekati dari dirinya sendiri, tak ada yang ditambah ataupun dikurangi. Perhatian New Criticism hanya pada meaning, yaitu makna karya itu, dan hanya itulah yang dapat dipahami dan dikupasnya, tanpa mengikutsertakan niat atau maksud pengarang. Para menganggap berbagai model kritik yang berorientasi kepada aspek-aspek di luar karya sastra . sebagai suatu kesalahan besar. Orientasi kepada maksud pengarang disebut sebagai suatu penalaran yang sesat. Makna sebuah puisi tidak boleh dikacaukan dengan kesan yang diperoleh pembaca karena dapat terjerumus dalam struktur sintaksis dan semantik. Untuk mengetahui arti itu hanya diperlukan pengetahuan mengenai bahasa dan sastra. New Criticsm berpendapat bahwa karya sastra . ermasuk puis. merupakan kesatuan yang telah selesai, sebuah gejala estetik yang bersifat Sastra sangat terhindar dari sifat Menurut Wimsatt . alam Hartoko, 1989: . sajak jangan dicampurkan dengan kesan . yang diperoleh oleh pembaca. Jika mengikuti affect fallacy itu, maka akan terjerumus dalam kritik subjektivis dan impresionis. Menurut Brooks . alam Hartoko, 1989,h. kesatuan yang merupakan ciri khas sebuah puisi tidak dapat diparafrasekan atau diuraikan dengan cara AubiasaAy. Sebagaimana layaknya drama, puisi juga mementaskan sesuatu yang di dalamnya mengekspresikan ketegangan-ketegangan di antara unsur-unsurnya yang perlu dipecahkan lewat konflik. Jean Peaget, sebagaimana dikutip Hewkes . 7: . , memberi tiga macam ciri stuktur di dalam karya sastra sebagai entitas otonom: gagasan menyeluruh . he idea of holenes. , . he transformatio. , dan gagasan pengaturan diri secara intrinsik . he idea of self regulatio. yang memungkinkan pembentukan makna sekaligus penafsiran baru. Roland Barthes, seperti diungkapkan Damono . 9: . menjelaskan ciri khas pendekatan ini. Pertama, perhatian tertuju kepada keseluruhan kepada totalitas. Kedua, tidak hanya menelaah stuktur . lahir, tetapi juga struktur batin. Ketiga, struktur tidak bersifat anti kausal, yaitu tidak menyangkut karya sastra dengan sesuatu yang lain. Maren Grisbach . alam Junus . 5: . memberikan tiga ciri kakateristik sebuah struktur. Pertama, dalam struktur ada hubungan antara unsur-unsur sebuah karya sastra yang merupakan suatu system interaksi antar unsur-unsurnya Kedua, dalam struktur ada suatu yang abstrak yang menyatukan hal-hal yang berbeda untuk memperoleh hokum universal. Ketiga, struktur tidak menyangkut tinjauan Menurut Teeuw . 4: . prinsip struktur yakni: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Wholeness, unity, complexity. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam suatu struktur tersebut Ighdhab. Aina Adzhabu, dan Uhibbuki Jiddan Analisis Form Tiga Puisi NizarQabani (Ikhwa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 membentuk suatu totalitas dan bahwa antara unsur-unsur dalam suatu struktur tersebut terdapat saling menjalin makna. Makna salah satu unsur ditentukan oleh unsur lainnya dan juga ditentukan oleh makna totalitasnya. Unsurunsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh dan bulat dalam kesatuan yang unsur-unsurnya masih tampak. Prinsip yang mendasari teknik analisis New Critcism adalah . struktur bertujuan membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail dan sedalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan unsurunsur karya sastra yang membentuk makna menyeluruh, . struktur tidak menjumlahkan unsur-unsur, . struktur berusaha menyemantikkan hubungan struktur yang ada dalam puisi. Hubungan struktur ini biasa ditandai dengan hunbungan kohesif baik pada tingkat struktur morfologis, struktur sintaksis maupun struktur semantik dan . struktur menganggap bahwa keseluruhan makna karya sastra berada pada keterpaduan struktur total. METODE Metode penelitian new criticism pada dasarnya dapat diklasifikasi ke dalam lima ciri, yaitu: pertama, close reading atau pembacaan tertutup tanpa melibatkan di luar karya tersebut, yakni dengan mencermati karya sastra dengan teliti dan mendetail baris demi baris, kata demi kata, dan sampai ke akar-akar katanya. Kedua, empiris, yakni penekanan pada analisis dan penguraian kasus-kasus tekstual. Ketiga, otonomi atau penekanan analisis pada aspek intrinsik Keempat, concreteness, sebagai implikasi dari proses pembacaan karya sehingga membuatnya concrete atau hidup. Kelima, bentuk . , ini titik berat kajian new criticism adalah dalam karya sastra, yaitu keberhasilan penyair atau penulis dalam diksi . emilihan kat. , imagenary . etafora, simile, onomatope. , paradoks, ironi, dan sebagainya. HASIL DAN PEMBAHASAN ANALISIS FORM PUISI NIZAR QABBANI Form dalam Puisi Ighdhab Puisi Ighdhab merupakan puisi Nizar Qabbani yang ditulis dalam 41 baris dengan rima bebas namun didominasi oleh pengulangan bunyi /AA/ di 2-4 baris berdekatan secara tidak teratur. Bunyi ini dikendalikan oleh bunyi akhir larik pertama ighdhab ka mA tasyAA. Dalam analisis gaya bahasa terhadap puisi Ighdab terdapat berbagai macam gaya bahasa yang berhasil diungkap antara lain simile, metafora, paralelisme, metominia, dan retoris. Pertama, simile. Gaya bahasa simile merupakan gaya bahasa yang membandingkan dua objek dengan kata kiasan tertentu. Kata ka-at thifl berarti seperti anak kecil. Penggambaran menghadirkan kata Aoseperti anakAo. Kata Ka-at Thifl juga terdapat juga dalam baris setelahnya /Wa AoindamA tahtaju ka-at thifl ilA HanAny/ jika engkau membutuhkan, maka engkau seperti anak kecil yang butuh belas kasihan. Kata Ka-at Thifl yang kedua berfungsi juga sebagai penegasan ungkapan yang pertama. Kedua, metafora. Gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua obyek tertentu tanpa menggunakan kata pembanding seperti. Pada bait ini tampak perbandingan jika tidak ada gelombang, maka tidak akan ada Samudra. Dari membandingkan hukum sebab akibat dengan gelombang dan badai, atau lebih mudahnya dijelaskan jika tidak ada sesuatu, maka tidak mungkin ada rasa marah yang besar seperti marahnya gelombang, hal itu dikarenakan ada hubungan sebab akibat antara badai dan Gelombang yang dahsyat dan besar akan datang jika ada badai yang kuat juga. Penggambaran metafora juga tampak dalam bait berikut Engkau adalah bumi dan langit. Bagi penyair, engkau adalah seperti halnya bumi yang sangat indah, dan begitu mulia seperti langit. Pengambaran objek yang dilakukan oleh penulis menandakan begitu besar dan kuatnya cinta penulis terhadap sang kekasih. Ketiga, majas paralelisme. Gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi. Pengulangan di bagian awal dinamakan anafora, sedang di bagian akhir disebut epifora. Kata Jadilah badaiAjadilah hujan merupakan bentuk Paralelisme Anafora. Paralelisme anafora terjadi karena adanya pengulangan di awal kalimat. Paralelisme Epifora juga tampak dalam kutipan berikut Marahlah seperti kau mau/ Lukai rasaku seperti kau mau/, pengulangan epifora seakan- akan memberikan penegasan dan penguatan makna terhadap kepasrahan penyair kepada kekasihnya. Keempat, gaya bahasa lain yang terdapat dalam puisi tersebut adalah metominia. Metominia adalah bahasa kias pengganti nama, yaitu berupa penggunaan atribut sebuah obyek atau penggunan sesuatu yang sangat dekat dengan Ighdhab. Aina Adzhabu, dan Uhibbuki Jiddan Analisis Form Tiga Puisi NizarQabani (Ikhwa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 objek yang digantikan (Prapdopo, 2000: . Kata Aulukai rasakuAy merupakan metominia dari menyakiti perasaan. Kata AuJirakhAy bermakna luka yang teramat dalam. Luka teramat dalam sangatlah sakit, sehingga penulis menggunakan metominia melukai yang dalam untuk menggantikan kata menyakiti perasaan. Kelima, gaya bahasa retoris, yaitu gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat tanya, tetapi sebenarnya tidak bertanya. Gaya bahasa ini biasanya digunakan untuk penegasan suatu masalah. Gaya bahasa Retoris tampak dalam kutipan bait puisi Ighdhab berikut: /Engkau seperti anak kecil yang berbuat sia-sia/ Yang dipenuhi dengan tipuan /Bagaimana waktu Kata Aybagaimana waktu kecilnyaAy merupakan penegasan dan penguatan untuk kalimat Perilaku marah yang dilakukan oleh kekasih si aku merupakan marah seperti anak kecil yang dipenuhi dengan tipuan. Dari penggambaran bentuk gaya bahasa di atas dapat diungkapkan bahwa makna dari puisi Ighdab adalah amarah, cinta, dan janji. Rasa amarah termanifestasi dalam judul puisinya. Ighdab merupakan fiAoil amar . ata imperati. dari kata Ghadaba yang berarti marahlah. Pada bait pertama tampak bahwa si aku menyuruh marah terhadap kekasihnya, menyuruh untuk melukai perasaannya, menyuruh untuk meluapkan amarahnya dengan memecahkan pot-pot bunga dan memecahkan kaca bahkan menyuruh kekasihnya untuk mengancam akan mencintai orang lain selain dia. Penggambaran sifat marah juga tampak dalam bait selanjutnya si aku tampak menggambarkan rasa marah kekasihnya, namun satu sisi si aku juga menggambarkan bagaimana kecantikan kekasihnya. Rasa marah kekasih aku juga digambarkan seperti sebagai badai dan Marah yang seperti badai dan gelombang adalah marah yang luar biasa. Walaupun kekasih si aku marah seperti hujan dan badai, karena cinta si aku yang begitu besar, maka si aku selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Si aku merasa marahnya sang kekasih seperti sikap seorang anak kecil yang sia-sia yang penuh dengan tipuan, sehingga rasa marah kekasih aku terhadapnya akan sia-sia. Cinta yang begitu besar si aku terhadap kekasihnya tidak bisa membuatnya marah, dan menganggap marah kekasihnya seperti marah anak kecil. Di sisi lain jika sang kekasih bosan si aku menyuruhnya pergi. Namun lagi-lagi karena cintanya yang begitu besar si aku sangat sedih dengan kepergiannya /Adapun aku, maka aku / Akan mencukupkan dengan air mata dan kesedihan / Diam adalah keangkuhan / Kesedihan adalah keangkuhan. Sebelum kepergian kekasihnya, si aku tak lupa berpesan untuk kepadanya kapan saja dia mau. Rasa cintanya yang begitu besar terhadap kekasihnya menyebabkan dia bisa memaafkan segalaa kesalahan kekasihnya, bahkan meminta kepada kekasihnya untuk kembali padanya kapan saja dia mau. Hal tersebut tampak dalam kutipan puisi berikut Pergilah pada hatiku kapan kau mau / Engkaulah dalam kehidupan anganku / EngkauAadalah bumi dan langit. Form dalam Puisi Aina Adzhabu Aina Adzhabu merupakan syair Nizar Qabbani yang ditulis dalam 32 baris. Syair ini diawali dengan ungkapan / lam aAoid DariyaA ilA aina adzhabu /. Syair ini disusun dengan rima tidak teratur tetapi memiliki metrum dasar fAAoilAtun. Ditinjau dari aspek form . anguage styl. , di dalam syair ini terdapat gaya bahasa Hiperbola. Simile, antithesis. Pertama, gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa ini dimanfaatkan oleh penyair untuk menggambarkan obyek, ide dan lain-lain dengan memberikan bobot tekanan secara berlebihan untuk memperoleh efek yang instan (Siswantoro, 2005,h. Kata Setiap hariAaku merasa engkau begitu dekat / Setiap hariAaku merasa wajahmu sebagai hukuman. Dari bait tersebut penyair tampak ingin mengatakan bahwa dia sangat kehilangan atas kepergian kekasihnya yang bernama Dariya. Setiap hari, sejak kepergian Dariya, ia merasa seakan-akan Dariya masih begitu dekat dengannya, menemaninya setiap waktu. Namun ketika ia sadar bahwa Dariya telah pergi, ia merasa sedih sekali, ia seakan-akan merasa sebagai seorang yang terhukum karena kepergian Dariya. Perasaan terhukum digambarkan secara berlebihan oleh penulis dengan memberikan gaya bahasa hiperbola: Wajahmu menjadi hukuman. Gaya hiperbola lain tampak dalam kutipan puisi berikut Sungguh diriku terhadap dirinya sangat kagum / Puisi-puisi tinggal di tamantaman matanya / Jika bukan karena matanyaAtidak akan ada puisi yang ditulis. Penulis kekaguman terhadap kekasihnya sehingga muncul cinta yang begitu besar terhadapnya. Penyair menggambarkan keindahan dan kecantikan kekasihnya dengan mengatakan Puisi-puisi tinggal di taman matanya penggunaan ungkapan Aupuisi-puisi tinggal ditaman matanyaAy merupakan upaya penulis untuk menggambarkan kecantikan dan keindahan Bagi penulis, mata kekasihnya merupakan wakil dari kecantikan dan keindahan Ighdhab. Aina Adzhabu, dan Uhibbuki Jiddan Analisis Form Tiga Puisi NizarQabani (Ikhwa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 memberikan gaya bahasa hiperbola bahwa pusipuisi tinggal di taman-taman matanya. Seperti kita ketahui, taman secara denotatif berarti kebun yang indah untuk rekreasi dan bersantai. Penggunaan mengambarkan bahwa keindahan dan kecantikan kekasihnya adalah inspirasi penulis untuk membuat puisi- puisinya. Hal itu ditegaskan dengan bait selanjutnya Aujika bukan karena matanyaAtidak akan ada puisi yang ditulisAy. Kedua, gaya bahasa simile. Gaya bahasa ini terdapat di dalam puisi Aina Adzhabu. dalam kutipan berikut /Telah meresap di pori- pori kulitku / Seperti setetes embun, meresap. Kata Auseperti setetes embunAy, merupakan bentuk dari gaya bahasa simile. Kata seperti embun bermakna bahwa kelembutan Dariya adalah seperti embun yang menyejukkan hatinya, bahkan pada baris sebelumnya dikatakan, bahwa setetes embun yang merupakan bentuk dari kelembutan kekasihnya yang menyejukkan telah meresap didalam pori-pori kulitnya. Hal tersebut menandakan bahwa kekasihnya tersebut adalah orang yang sangat berarti bagi dirinya. Ketiga, gaya bahasa antitesis. Gaya bahasa Antitesis adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya Gaya bahasa antitesis tampak dalam kutipan puisi berikut /Kepergianmu, membuat suli untuk biasa / Kehadiranmu, membuatku lebih sulit/. Dalam kutipan puisi tersebut tampak kata-kata AuKepergianmu dan kehadiranmuAy, dalam kata-kata tersebut terdapat pertentangan antara kepergian dan kehadiran. Kata-kata tersebut digunakan oleh penulis untuk menegaskan bahwa keberadaan dan kepergian kekasihnya adalah suatu hal yang sulit. Kepergiannya merupakan kesedihan baginya, hal tersebut karena rasa cintanya yang begitu besar, sedangkan keberadaan kekasihnya adalah merupakan suatu hal yang juga sulit, hal tersebut karena konflik-konflik yan terjadi antara dirinya dan kekasihnya. Dari pengungkapan form diatas, maka dapat dilihat makna dari puisi Aina Adzhabu adalah cinta sejati dan rasa kehilangan terhadap kepergian Dariya. Kepergian Dariya . adalah akibat dari sikap dan pertengkaran antara Dariya dan si aku. Puisi ini diawali dengan ungkapan kepergian Dariya: /Dariya belum kembali / Setiap hariAaku merasa engkau begitu dekat / Setiap hariAwajahmu menjadi hukuman. Dari kutipan puisi di atas, tampak bagaimana si aku sangat kehilangan Dariya, si aku merasa Auharus kemana lagi untuk mencarinyaAy. Seakan-akan si aku sudah sangat lelah dalam mencarinya. Hal itu dikarenakan cintanya yang begitu besar kepada Dariya. Bahkan kepergian Dariya menyisakan kesedihan yang sangat dalam. Walaupun Dariya sudah pergi jauh, namun karena cinta si aku yang begitu dalam menyebabkan si aku merasa Dariya begitu dekat. Namun berbagai kesalahan yang dibuatnya seakan-akan si aku merasa terhukum akibat segala kesalahannya. Pada bait selanjutnya tampak bagaimana pengambaran cinta si aku terhadap Dariya yang begitu besar. Bagaimana akuAbagaimana aku mencintaimu, sehingga / Diriku terhadap dirinya sangat kagum / Puisi-puisi tinggal di taman matamu / Jika bukan karena matamu, tidak aka nada puisi yang ditulis. Dari kutipan puisi di atas tampak sekali bagaimana kekaguman dan rasa cinta yang begitu dalam si aku terhadap Dariya. Bahkan cintanya yang begitu dalam menyebabkan si aku bertanya-tanya Aubagaimana akuAbagaimana aku mencintaimuAy. Kemudian pada baris selanjutnya diungkapkan kekaguman si aku terhadap kekasihnya. Aujiwaku . terhadap dirinya sangat kagumAy. Penggunaan kata nafsun yang berarti AojiwaAo mempunyai arti dan penekanan bahwa cinta aku terhadap Dariya datang dari hati dan jiwa yang Kepergian Dariya adalah akibat konflik dengan tokoh aku. Hal tersebut tampak dalam larik-larik: Sejak aku mencintaimu, laut dan semuanya / Menjadikan air matamu meresap / Cintamu yang bar-barAlebih besar dariku / Tapi mengapaAengkau begitu keras kepala. Tampak dalam kutipan puisi tersebut bagaimana cinta dan konflik yang terjadi antara si aku dan Dariya. Bahkan si aku meyakini walaupun cinta Dariya adalah cinta yang liar . ar-ba. , tetapi cinta Dariya sangat besar kepadanya. Kemudian dalam baris selanjutnya tampak si aku bertanya mengenai sikap dan kekakuan Dariya. Sikap kekakuan tersebutlah yang menjadikan Dariya kemudian si aku menyadari segala Hal tersebut tampak dalam bait: Maafkan akuAjika engkau terus bermimpi / Dan memberimu pakaian sutra yang berbordir / Aku selalu berangan- anganAandai engkau dekat dipelupuk mataku/. Dalam kutipan puisi tersebut tampak bagaimana si aku meminta maaf atas segala sikapnya. Apa yang tampak diberikannya lewat materi . aju sutra yang berbordi. ternyata tidak membahagiakan Dariya. Si aku juga meminta maaf karena hanya memberikan impian yang indah pada kekasihnya. Dalam baris selanjutnya tampak si aku meminta kepada Dariya untuk memberikan pemahaman mengena dirinya Ighdhab. Aina Adzhabu, dan Uhibbuki Jiddan Analisis Form Tiga Puisi NizarQabani (Ikhwa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 dan kepribadiannya. Hal itu tampak dalam kutipan berikut Beri tahu aku siapa engkau? Sungguh yang kurasakan / Aku merasa seperti mengejar kelinci / Engkaulah misteri yang nyata dalam hidupku. Form dalam Puisi Uhibbuki Jiddan Puisi Ukhibbuki Jiddan disusun dalam 43 baris yang didominasi oleh larik-larik yang hanya terdiri dari satu dan dua kata. Hanya larik-larik tertentu yang dibangun dengan lima sampai enam Berdasarkan tipografinya, puisi ini terdiri atas enam bait yang masing-masing bait dipisahkan dengan jeda berupa titik-titik. Ditinjau dari sisi form . aya bahas. , puisi ini digubah dalam gaya bahasa polisindeton, simile, personifikasi, dan hiperbola. Pertama, polisindeton. Gaya bahasa ini merupakan kebalikan asindeton, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hal berturutturut dengan menggunakan kata penghubung. Gaya bahasa tersebut tampak dalam kutipan puisi berikut Angin, dan Petir, dan awan, dan Guntur, dan salju dan api. Gaya bahasa tersebut merupakan gaya bahasa Pelisindeton, dimana penulis menyebutkan hal-hal yang berturut-turut dengan kata penghubung dan. Gaya bahasa ini berfungsi untuk memberikan penguatan keadaan Kedua, simile. Dalam sastra Arab, gaya bahasa ini dikenal dengan istilah tasybih, yaitu bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata Gaya bahasa Simile tampak dalam kutipan puisi berikut /Aku sangat mencintaimu / Dan aku tahu, aku berada di rimba matamu, sendiri berperang / Aku seperti kebanyakan orang gila yang mencoba berburu bintang. Dari kutipan tersebut tampak bagaimana penulis sangat indah mengungkapkan rasa cinta yang begitu besar kepada kekasihnya. Si aku sangat sadar bahwa dia sedang sendiri berperang untuk mendapatkan cinta kekasihnya. Tampak si aku mengibaratkan dirinya dengan gaya bahasa simile seperti kebanyakan orang gila . Karena cintanya yang amat besar, si aku mengibaratkan dirinya seperti semua orang gila yang berusaha untuk berburu Kegilaan yang timbul dari si aku adalah karena cinta yang teramat besar. Ketiga, personifikasi. Gaya bahasa personifikasi adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia. Gaya bahasa personifikasi tampak dalam kutipan /Dan aku tahu waktu bercinta telah usai / Kata-kata yang indah telah mati/. Maksud dari kata indah yang mati adalah si aku sudah tidak mampu lagi menggambarkan lagi dengan kata-kata, karena kata-kata telah habis untuk menggambarkan cintanya. Keempat, hiperbola, yaitu gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan. Dalam puisi Uhibbuki Jiddan ditemukan banyak bentuk dari gaya bahasa Hiperbola. Contoh dari gaya bahasa hiperbola tampak dalam kutipan puisi berikut /Aku sangat mencintaimu, dan aku tahu aku hidup terasing/. Kata hidup terasing merupakan bentuk majas hiperbola, dimana si aku membesar-besarkan kehidupannya yang terasa sepi sendiri, kesepiannya menjadikan ia merasa hidup terasing. Hal tersebut karena cintanya yang begitu besar terhadap kekasihnya. Kata lain yang termasuk dari gaya bahasa Hiperbola adalah seperti dalam kutipan puisi berikut Dan aku tahu, untuk sampai kepadamu / kepadamu harus bunuh Kata Aobunuh diriAo digunakan untuk mengambarkan bagaimana perjuangan si aku untuk mendapatkan kekasihnya, ia sangat sadar bahwa untuk mendapatkan kekasihnya haruslah dibayar dengan harga yang sangat mahal yaitu Gaya bahasa hiperbola juga tampak dalam kutipan puisi berikut Dan aku telah membakar semua kapal-kapal yang ada di belakangku, dimana si aku sudah sangat bertekad kuat dengan apa yang dicintainya. Kata sudah membakar semua kapal-kapal yang ada di belakangnya merupakan bentuk dari gaya bahasa hiperbola yang membesar- besarkan sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh si aku, namun arti sesungguhnya si aku sudah bulat dengan cintanya dan tak ada pilihan lain. Bentuk lain dari gaya bahasa hiperbola tampak dari ungkapan: Dan jalan untuk bertemu dengan ayahmu / Dihadang dengan ribuan bala tentara. Tampak dalam kutipan bagaimana sulitnya untuk mendapatkan hati Bahkan untuk mendapatkan restu dari orang tua kekasihnya pun sangat mustahil. Kesulitan yang dialami oleh aku diibaratkan seperti dihadang ribuan tentara. Dari pengungkapam form gaya bahasa tersebut, maka makna dari puisi Uhibbuki Jiddan adalah cinta sejati dan perjuangan untuk mendapatkan cinta. Kata Uhibukki Jiddan berarti Aoaku sangat mencintaimuAo. Kata sangat mencintaimu sendiri berarti upaya untuk mendapatkan cinta lewat perjuangan, karena kata tersebut berasal dari kata kerja yang menunjukkan suatu aktivitas. Perjuangan tampak Ighdhab. Aina Adzhabu, dan Uhibbuki Jiddan Analisis Form Tiga Puisi NizarQabani (Ikhwa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 dalam bait-bait puisi berikut. Aku sangat mencintaimu / Aku tahu, jalan kemustahilan adalah panjang / Aku tahu bahwa engkau adalah wanita pujaan / Tapi, aku tidak punya pengganti. Dalam bait lain dinyatakan bahwa cinta si aku yang sangat besar terhadap kekasihnya digambarkan seperti perjuangan seorang diri dan dalam keterasingan. Engkau terasingAdi antara kamu dan di antara aku / Angin, petir, awan. Guntur, salju dan api / Dan aku tahu, untuk sampai padamuAkepadamu harus bunuh diri. Dalam bait lain dikatakan, bahwa si aku sadar bahwa rasa cintanya kepada kekasihnya adalah ketidakpastian, hal tersebut tampak dalam bait puisi berikut Aku sangat mencintaimu, dan aku tahu, aku berlayar dilaut matamu tanpa kepastian / Aku meninggalkan pikiranku, dan aku berlariAberlari bersama kegilaanku. Dari kutipan puisi tersebut, tampak sekali bagaimana aku sadar bahwa cintanya kepada kekasihnya sangat sulit. Si aku menggambarkannya dengan kata-kata Auaku berlayar dilaut matamu tanpa kepastianAy, namun cintanya yang begitu besar meneguhkan hatinya. Hal tersebut digambarkan dalam bait selanjutnya bahwa dia meninggalkan segala logika pikiranya dan berlari seperti orang Dalam bait lain dikatakan bahwa si aku sadar, bahwa dia merasa sendiri berjuang demi cintanya yang diibaratkan hidup sendiri berjuang dihutan matamu. Dia juga sadar bahwa dia seperti orang gila yang berburu bintang dilangit untuk mendapatkan kekasihnya. Hal yang sangat sulit mengenai cintanya tampak juga dari sikap orang tua kekasihnya. Hal tersebut tampak dalam kutipan puisi berikut: Dan jalan sampai ke rumah ayahmu / Dikepung oleh ribuan tantara / Dan tetaplah cintaku, meskipun keyakinanku / Bahwa menyebut namamu adalah kekafiran. Meskipun sangat sulit untuk mencintai kekasihnya, si aku akan terus berusaha untuk mencintai dan mendapatkan kekasihnya. Usaha tersebut akan terus dilakukan walaupun harus Bahkan ia akan sangat senang jika si aku kemudian mati, sedangkan bibir kekasihnya mengucapkan kemenangan atas usahanya untuk mendapatkan cintanya. Pada akhir puisinya terdapat diksi. Dan aku mengetahui ahir dari cerita itu / dan aku tetap mencintaimu / Aku sangat mencintaimu. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan yang sangat indah dari Nizar Qabbani. Walaupun ia tahu akan gagal dengan cintanya dan akan mati karena cintanya, ia tetap mencintai kekasihnya. SIMPULAN Hasil analisis mengungkapkan terdapat berbagai ragam gaya bahasa yang digunakan oleh Nizar Qabbani. Gaya bahasa tersebut adalah simile, metafora, personifikasi, hiperbola, paralelisme, metominia, retoris, antitesis, dan Tiga yang disebut pertama merupakan gaya bahasa yang sering digunakan di dalam puisi ighdhab. Aina Adzhabu, maupun Uhibbuki Jiddan. Variasi gaya bahasa yang digunakan mengindikasikan kepiawaian Nizar Qabbani dalam bermain kata melalui puisi, dan gaya bahasa tersebutlah yang membuat puisinya indah dan terkesan hidup. Gaya bahasa Nizar Qabbani dalam ketiga mengungkapkan amarah, cinta dan janji dalam puisi Ighdab. ekspresi tentang tema cinta sejati dan rasa kehilangan atas kepergian sang kekasih di dalam puisi Aina Adzhabu. serta, tema cinta dan perjuangan di dalam puisi Uhibbuki Jiddan . DAFTAR PUSTAKA