[VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA MILENIAL DENGAN RESILIENSI SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BANDAR BATANG Wiyanto1. Tri Suyati2. Farikha Wahyu Lestari3 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Semarang Email: Limpung123@gmail. Abstak. Wiyanto. AyPengaruh Pola Asuh Orang Tua Milenial dengan Resiliensi Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Bandar BatangAy. Skripsi Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Semarang, penelitian ini dilatar belakangi oleh tingkat resilensi atau ketahanan siswa dalam menyikapi berbagai persoalan hidup masih rendah yang dipengaruhi oleh pola asuh orang tua siswa SMA Negeri 1 Bandar Batang, khususnya di kelas XI IPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh pola asuh orang tua dengan resiliensi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA dengan jumlah 180 siswa. Kelas XI IPA 1 adalah kelas yang digunakan untuk Tryout. sampel dalam penelitian ini yaitu 124 siswa yang diambil dengan teknik simple random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala resiliensi siswa dan skala pola asuh orang tua. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat pengaruh yang positif signifikan antara pola asuh orang tua milenial dengan resiliensi siswa kelaas XI SMA Negeri 1 Bandar Batang. ini dibuktikan dengan nilai t hitung > t tabel yaitu 0,587 dengan nilai signifikansi 5% . ,00 < 0,. Besar koefisien determinasi 0,026 yang berarti sebesar 26% resiliensi siswa dipengaruhi oleh pola asuh orang tua milenial, sedangkan sisanya dapat dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata Kunci: Pola Asuh Orang Tua. Resiliensi. PENDAHULUAN Remaja adalah masa peralihan yang dialami manusia setelah anak-anak menuju pendewasaan, rentang usia sekita 12-20 tahun. Perubahan yang dialami pada masa remaja meliputi fisik, kognitif, sosial dan watak atau kepribadian (Gunarsa, 2006: Remaja saat ini adalah remaja era digital yang menghadapi banyak tantangan hidup yang beragam seperti pergeseran nilai, kurangnya waktu bersama keluarga, [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . tekanan teman sebaya, beban kurikulum yang berat, kecanduan gadget, serta minimnya komunikasi dengan orang tua (Rakhmawati, 2016: . Lingkungan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kelangsungan hidup manusia. Di antara sekian banyak lingkungan yang ada, lingkungan keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Orang tua menjadi figur utama dalam lingkungan keluarga dan diharapakan dapat membentuk karakter-karakter yang baik dalam diri seorang anak serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk masa perkembangannya, juga menanamkan nilai-nilai moral yang benar sebagai pedoman untuk kehidupan anak. Kondisi keluarga yang baik akan bepengaruh positif dan sebaliknya kondisi keluarga yang buruk, akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan anak. Erickson (Yusuf 2006:. mengatakan bahwa delapan tahap perkembangan psikologis dalam kehidupan seseorang bergantung pada pengalaman yang diperolehnya dalam keluarga. Pada kenyataannya dalam sebuah keluarga, orang tua tidak selalu memberikan dukungan yang positif pada proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Kondisi keluarga yang kurang harmonis akan memberikan dampak negatif terhadap perilaku anak. Tallent . alam Zuraidah 2016: . menyatakan bahwa anak yang berasal dari keluarga harmonis akan menganggap rumah sebagai tempat yang menyenangkan, karena semakin sedikit masalah diantara orang tua makin sedikit pula maslah yang dialami anak. perilaku-perilaku yang menyimpang, seperti tidak sopan, tidak mengerjakan tugas sekolah, tidak memiliki motivasi untuk belajar, dan suka mencari perhatian dari orang lain. Salah satu perlindungan khusus yang dapat diberikan adalah melalui pencegahan, yaitu membangun ketangguhan . sehingga memiliki kemampuan dalam mencegah, mengantisipasi, beradaptasi, dan menghadapi masalah. Resiliensi bersifat universal dan penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Resiliensi merupakan kebutuhan manusia untuk menghadapi tantangan dalam setiap proses Manusia akan senantiasa dihadapkan pada situasi dimana harus Banyak orang menilai dirinya resilien, tetapi kenyataannya, terkadang manusia masih mengalami kesulitan untuk menghadapi persoalan secara Seorang mampu memiliki ataupun mengasah resiliensi tergantung pada cara berpikir terhadap segala kemungkinan yang akan muncul . dan [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . bagaimana mengubah cara berpikir tersebut. Dengan adanya resiliensi, memungkinkan individu yang mengalami masa terendah akan mampu bangkit kembali sekuat atau bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Hal ini karena seseorang akan membiarkan kesulitan atau kegagalan mendatangi dan menimpa agar kemudian dapat menemukan cara untuk bangkit kembali (Suryadi, 2018: . Benard . 4: . mengemukakan bahwa resiliensi dapat dilihat dari personal strengths yang dimiliki oleh individu. Personal strengths adalah karakteristik individu yang biasa disebut dengan aset internal atau kompetensi individu yang berhubungan dengan perkembangan yang sehat dan kehidupan yang berhasil. Teknologi memang membuat anak semakin berkembang, anak menjadi semakin pandai dan dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi. Namun, seiring berjalannya teknologi yang semakin berkembang dan fasilitas serta kenikmatan hidup yang ditawarkan, tuntutan dan tekanan dari orang tua pun semakin berat, akibatnya anak mengalami depresi, melakukan kenakalan dan bahkan melakukan tindakan patologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan remaja dan membentuk diri remaja adalah keluarga. Aunillah & Moordiningsih . 0: . menjelaskan bahwa konflik yang terjadi dalam keluarga merupakan salah satu konflik dalam kehidupan yang dianggap paling berat. Djamarah . 4: . menjelaskan secara singkat bahwa orang tua memiliki peran penting dan strategis dalam menentukan arah mana dan kepribadian anak yang bagaimana yang akan dibentuk. Selanjutnya. Hendriani . 8: . menjelaskan bahwa gaya pengasuhan atau pola asuh yang diterapkan dalam suatu keluarga turut berpengaruh terhadap resiliensi. Penelitian yang dilakukan oleh Permata & Listiyandini menyatakan bahwa pola asuh yang berperan paling besar terhadap resiliensi adalah pada pola asuh ibu otoritatif dan pola asuh ayah otoritatif. Sedangkan, pola asuh yang tidak berperan terhadap resiliensi adalah pola asuh ayah permisif (Permata & Listiyandini, 2015: Dengan ii peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai AuPengaruh Pola Asuh Orang Tua Milenial dengan Resiliensi Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Bandar BatangAy. METODOLOGI PENELITIAN [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Penelitian . menghubungkan antara dua variabel yang bertujuan untuk mengungkap bagaimana pengaruh pola asuh orang tua milenial dengan resiliesi siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA N 1 Bandar Batangyang terdiri dari 180 siswa yang tersebar dalam lima kelas. Dengan jumlah sampel 124 siswa. Teknik sampling adalah teknik yang digunakan untuk mengambil sampel. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah simple random sampling. Peneliti menggunakan simple random sampling karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). variabel bebas dari penelitian ini adalah pola asuh orang tua sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini yaitu resiliensi siswa. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket yang sudah diuji kevalidannyadengan menggunakan Software SPSS Ver. 15, dengan jumlah pernyataan 22 butir untuk angket pola asuh orang tua dan 18 butir pernyataan untuk angket resiliensi siswa. Pada penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis menggunakan Product Moment. Analisis korelasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara pola asuh orang tua milenial dengan resiliensi siswa, selanjutnya untuk menguji hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier barganda. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis data merupakan hal penting dalam penelitian ini. Dalam bagian ini dikemukakan deskripsi hasil penelitian berdasarkan instrumen penelitian pola asuh orang tua milenial dan resiliensi siswa kelas XI IPA SMA N 1 Bandar Batang. Adapun hasil penelitian dapat dilihat menggunakan analisis deskriptif dengan bantuan Software SPSS ver. Deskripsi Resiliensi Siswa Data resiliensi siswa diukur dengan menggunakan angket yang terdiri dari 17 item pernyataan dengan menggunakan skala 1 sampai 4. Adapun hasil analisis deskriptif variabel resiliensi siswa dengan jumlah data (N) 124 subjek mempunyai skor maksimal sebesar 79 dan skor minimum sebesar 47 dengan rata-rata sebesar 64,49 > 6,564 standar deviasi. hal tersebut berarti meunjukkan bahwa nilai mean dapat [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . digunakan sebagai representasi dari keseluruhan data. Untuk menentukan tinggi rendahnya variabel resiliensi siswa digunakan 5 kategori yaitu: Sangat Tinggi. Tinggi. Sedang. Rendah dan Sangat Rendah. Kategori Kriteria Frekuensi (N) Prosentase 17 Ae 26 Sangat Rendah 27 Ae 36 Rendah 37 Ae 46 Sedang 47 Ae 56 Tinggi 57 Ae 68 Sangat Tinggi Berdasarkan hasil analisis di atas, dijelaskan bahwa peserta didik yang memiliki resiliensi sangat tinggi berjumlah 3 . %) siswa, siswa dengan resiliensi tinggi berjumlah 49 . %) siswa, siswa dengan resiliensi sedang berjumlah 32 . %) siswa, siswa dengan resiliensi rendah berjumlah 28 . %) siswa, dan siswa dengan resiliensi sangat rendah berjumlah 12 . %) siswa. Dengan demikian maka resiliensi siswa di kelas XI SMA Negeri 1 Bandar Batang mayoritas berada pada kategori tinggi. Deskripsi Pola Asuh Orang Tua Data pola asuh orang tua diukur dengan menggunakan angket yang terdiri dari 20 item pernyataan dengan menggunakan skala 1 sampai 4. Adapun hasil analisis deskriptif tehadap variabel pola asuh orang tua menunjukkan kategorisasi untuk setiap siswa yang memiliki pola asuh orang tua demokrasi/demokratis memiliki nilai rata-rata 29,99, siswa dengan pola asuh orang tua permisif memiliki nilai ratarata 27,39, dan siswa dengan pola asuh orang tua otoriter memiliki nilai rata-rata 29,27. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas XI IPA SMA N Bandar Batang memiliki pola asuh orang tua demokratis dengan nilai rata-rata 29,99. Uji normalitas yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji one sample kolmogrov smirnov test. Apabila signifikansi p < 0,05 atau 5% maka data tidak berkonstribusi Berdasarkan hasil uji tersebut, diketahui bahwa nilai Sig. -taile. yaitu 0,778. Karena nilai Sig. pada resiliensi siswa dan pola asuh orang tua > 0,05 maka Ho diterima dan berdistribusi normal. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa, b Mos t Extreme Differences Uns tandardiz ed Residual ,0000000 3,78295429 ,059 ,052 -,059 ,659 ,778 Mean Std. Deviation Abs olute Pos itive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Tes t dis tribution is Normal. Calculated from data. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas, dari hasil perhitungan uji homogenitas diketahui bahwa nilai signifikansinya adalah 0,016, karena nilai signifikansi > 0,05 Test of Homogeneity of Variances Pola Asuh Levene Statis tic 4,248 Sig. ,016 Analisis regresi linier sederhana dilakukan untuk mengetahui tingkat pengaruh antara dua variabel yaitu variabel dependen terhadap variabel independen. Nilai koefisien regresi pola asuh orang tua adalah 0,878 bernilai positif, sehingga jika pola asuh mengalami kenaikan 1 nilai maka keputusan resiliensi akan meningkat sebesar 0,878. Dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 artinya pola asuh orang tua berpengaruh terhadap resiliensi siswa. Coefficientsa Model (Constan. Pola Asuh Unstandardized Coefficients Std. Error 7,540 3,652 ,878 ,056 Standardized Coefficients Beta ,817 2,064 15,661 Sig. ,000 ,000 Dependent Variable: Resiliensi Untuk mengetahui koefisien regresi masing-masing variabel independen, uji selanjutnya yang dilakukan yaitu uji regresi sederhana berganda. Variabel pola asuh demokratis memiliki nilai beta 0,281 paling besar dari nilai beta pola asuh permisif dan pola asuh otoriter. Artinya, variabel pola asuh demokratis paling banyak [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . digunakan menjadi pola asuh kepada anak-anak siswa kelas XI IPA SMA N Bandar Batang, semakin baik pola asuh demokrartis maka semakin meningkatkan resiliensi siswa dengan baik. Coefficientsa Model (Cons tan. Demokratis Permisif Otoriter Uns tandardized Coefficients Std. Error 66,123 7,405 ,281 ,191 -,077 ,181 -,272 ,212 Standardized Coefficients Beta ,145 -,041 -,122 8,930 1,474 -,425 -1,287 Sig. ,000 ,002 ,672 ,200 Dependent Variable: Res iliensi Selanjutnya dilakukan uji korelasi product moment untuk mengetahui besar pengaruh pola asuh orang tua terhadap resiliensi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bandar Batang adalah 0,587 dengan nilai signifikansi 0,000 E 0,005, maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap resiliensi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bandar Batang. Correlations PolaAsuh Res iliensi Pears on Correlation Sig. -taile. Pears on Correlation Sig. -taile. PolaAsuh Res iliensi ,587** ,000 ,587** ,000 **. Correlation is s ignificant at the 0. 01 level . -taile. PEMBAHASAN Hasil data untuk penelitian pola asuh orang tua generasi milenial yang dominan diterapkan kepada siswa kelas XI IPA SMA N 1 Bandar Batang antara lain, pola asuh orang tua demokrasi/demokratis memiliki nilai rata-rata 29,99, siswa dengan pola asuh orang tua permisif memiliki nilai rata-rata 27,39, dan siswa dengan pola asuh orang tua otoriter memiliki nilai rata-rata 29,27. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas XI IPA SMA N 1 Bandar Batang memiliki pola asuh orang tua demokratis dengan nilai Sig. -taile. yaitu 0,778 > 0,05, maka dapat disimpulkan Ho diterima dan berdistribusi normal Pengujian hipotesis variabel pola asuh orang tua demokratis terhadap resiliensi siswa adalah sebesar 0,002 < 0,05 dan nilai t hitung 1. 474 > 0,175, maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang berarti pola asuh demokratis berpengaruh terhadap resiliensi. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Berdasarkan hasil penelitian tipe pola asuh demokratis menunjukan adanya pengaruh terhadap tingkat resiliensi siswa. Orang tua dengan pola asuh demokratis cenderung melatih anak untuk dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, orang tua meminta anak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang keluarga dan nasibnya sendiri, orang tua juga mendorong anak untuk berperilaku baik dengan penguatan positif (Kasiati, dkk 2012: . Pola asuh ini membuat anak dapat lebih leluasa untuk dapat mengekspolasi hal-hal yang diinginkannya, menjadi manusia yang bertanggung jawab, dan memiliki keterampilan dalam pemecahan masalah karena sikap mandirinya. Hal ini tentunya relevan dengan ciri orang yang resilien yaitu memiliki keterampilan pemecahan masalah, otonomi, keteampilan sosial, maupun kesadaran akan tujuan masa depan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pneelitian yang telah dilakukan dengan judul AuPengaruh Pola Asuh Orang Tua Milenial dengan Resiliensi Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bandar BatangAy dapat disimpulkan pola asuh orang tua berpengaruh terhadap resiliensi siswa kelas XI SMA N 1 Bandar Batang. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan SPSS version 15 yaitu nilai Pearson Corelation sebesar 0,587 dengan nilai signifikansi 0,000 E 0,005, yang artinya terdapat pengaruh pola asuh orang tua terhadap resiliensi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bandar Batang. Yang paling berpengaruh adalah pola asuh orang tua demokratis dengan nilai rata-rata 29,99. Dapat disimpulkan siswa kelas XI IPA SMA N 1 Bandar Batang sebagian besar pola asuh orang tuanya adalah demokratis. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telal dipaparkan pada bab sebelumnya, maka peneliti menemukan beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan, yaitu: Pihak Sekolah Sekolah hendaknya meningkatkan lagi program bimbingan konseling yang diberikan kepada siswa, karena hal tersebut dapat mempengaruhi siswa dalam meningkatkan dan mengolah resiliensi dirinya agar semakin baik lagi. Siswa [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Siswa hendaknya memperhatikan pada saat bimbingan konseling di kelas diberikan agar semakin dapat meningkatkan resiliensi diri siswa. Peneliti Selanjutnya Penelitian ini adalah langkah awal dalam memahami permasalahan pada siswa Sekolah Menengah Atas, berkenan dengan resiliensi siswa dan persepsi siswa terhadap pola asuh orang tua. untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk melibatkan faktor-faktor lain seperti guru, teman sebaya, status sosial ekonomikeluarga dan sebagainya yang diduga mempengaruhi resiliensi pada siswa. DAFTAR PUSTAKA