Psikotes: Jurnal Ilmu Psikologi. Komunikasi, dan Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No. 1 Maret 2025 PROSES PEMBELAJARAN BAHASA DI PONDOK PESANTREN FAHMUSSALAM AL-AZIZIYAH DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI INTUITIF 1Fahrurrozi. S, 2Sayed Muhammad Ichsan, 3Al Halim Kusuma Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Yayasam Haiah Nusratul Islam. Indonesia Corresponding E-mail: sitinursalsabyila@gmail. ABSTRACT Arabic language learning is a central part in shaping the personality of students in understanding and knowing Arabic as a whole and in-depth for future generations, and the current tendency of Arabic language learning focuses on the empirical ratio aspect marked by the use of Western theory as a basis for learning so that spiritual aspects are only taught in the private sphere. Pesantren Fahmussalam provides a new breakthrough in Islamic education by making the teachings of tarekat alawiyah in Arabic language learning, namely the practice of the book Maulid Dhiyau Al-Lami ' by Habib Umar bin Salim bin Hafidz. The method used in this research is qualitative with a literature study approach and interviews as a research base, where researchers make direct observations in observing Arabic language learning at fahmussalam Islamic boarding school. The results of this study indicate that Intuitive Psychology is a new breakthrough in Arabic language education, where participants make spiritual aspects in the learning process not only limited to mere practice, so as to be able to provide and hone their intuitive abilities. Keywords: Intuitive. Pondok Pesantren Fahmussalam. Tarekat Alawiyah This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CCBY International license. E-ISSN: 3032-2421. DOI: 10. 59548/ps. JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Pendahuluan Pembelajaran bahasa Arab mengalami berbagai tantangan dalam revolusi 0, dimana setiap penyelenggara pendidikan, baik akademisi, pakar, pendidik dan lain sebagainya harus memberikan terobosan baru berupa inovasi kreatif dalam menghadapi perkembangan global yang semakin pesat. Inovasi kreatif ini muncul dengan adanya berbagai pendekatan dalam pembelajaran bahasa Arab. Een Tur'aeni dalam penelitiannya yang berjudul Implementasi Pendekatan Fungsional dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Mtsn Al-Hilal menyatakan bahwa ada delapan pendekatan dalam pembelajaran bahasa Arab yang sampai saat ini masih terus dikaji dan diteliti di perguruan tinggi di Indonesia diantaranya: Pertama, pendekatan formal . l-madkhal al-rasmi. Kedua, pendekatan fungsional . l-madkhal al-wadzif. Ketiga, pendekatan integral . l-madkhal almutakami. Keempat, pendekatan sosiolinguistik . l-madkhal al-ijtimaiy allughawi. Kelima, pendekatan psikologis . l-madkhal al-nafsi. Keenam, pendekatan psikolinguistik . l-madkhal al-nafsiy al-lughawi. Ketujuh, pendekatan behavioristik . l-madkhal al-suluk. Kedelapan, pendekatan komunikatif . l-madkhal al-ittishali. (Tur'aeni, 2. Dari kedelapan pendekatan tersebut, istilah pendekatan intuitif tidak muncul sebagai salah satu pendekatan solusi dalam pembelajaran bahasa Arab, dimana dalam disiplin ilmu matematika, pembelajaran berbasis intuisi sudah mulai banyak dijumpai dalam referensi ilmiah baik buku maupun jurnal. Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian tentang pendekatan intuitif dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai langkah atau terobosan baru dalam mengantisipasi perkembangan dunia global. Istilah intuisi memang tidak ditemukan dalam berbagai referensi mengenai pendekatan pembelajaran bahasa Arab, namun peneliti meyakini bahwa kajian mengenai intuisi termasuk dalam ranah pendekatan psikologi atau al-madkhal al-nafsiy. Pendekatan Psikologi Intuitif dalam pembelajaran bahasa Arab memberikan stimulus kepada pembelajar berupa kreativitas dan reflektifitas yang terlihat dalam kegiatan keterampilan berbahasa (Susiawati et al. , 2. Intuisi dalam pendekatan psikologi lebih relevan untuk dikaji dalam pembelajaran bahasa Arab, karena hampir sebagian kajian tentang intuisi merujuk pada ilmu filsafat atau tasawuf yang mengarah pada kajian pengalaman spiritual. Peneliti tidak sampai pada tahap tersebut, namun intuisi dalam penelitian ini berfokus pada penggunaan intuisi dalam pembelajaran bahasa Arab dimana intuisi memiliki empat karakter di dalamnya, yaitu Pertama, pengambilan posisi kritis. Kedua, aktif. Ketiga, inisiatif pribadi. Keempat, tanggung jawab sosial (Abdul Munib & Qomar, 2. Keempat karakter di atas PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM seperti yang dijelaskan oleh Abdul Munib dan Subaidi Qomar memberikan gambaran bahwa peran intuisi dalam pembelajaran dapat dilakukan sebagaimana banyak penelitian yang menjelaskan peran intuisi dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, penting kiranya intuisi diberikan sarana dalam penelitian, sehingga terdapat kekayaan wawasan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di masa yang akan datang. Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka dilakukan untuk melihat sejauh mana penelitian ini telah diteliti atau dilakukan oleh orang lain sebelumnya, dan juga tentu saja untuk menunjukkan sisi kebaruan dari penelitian ini. Sejauh penelusuran dan pencarian yang peneliti lakukan, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang membahas mengenai peran intuisi dalam pendidikan, baik dalam bentuk laporan penelitian disertasi, tesis, skripsi, artikel jurnal ilmiah. Peneliti belum menemukan penelitian terdahulu yang secara spesifik membahas tentang peran intuisi dalam pembelajaran bahasa Arab. Di antara penelitian-penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai Penelitian yang ditulis oleh Zulfahmi Lubis, menyebutkan bahwa intuisi dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan dalam pendidikan Islam dengan merujuk pada pandangan Abd Wahhab Asy-Sya'rani (Lubis, 2. Lebih lanjut. Zulfahmi Lubis menjelaskan bahwa ada empat aspek utama jika intuisi dijadikan sebagai sumber ilmu, diantaranya Pertama, intuisi merupakan proses penyingkapan tabir hati, sehingga peserta didik mendapatkan ilmu yang benar dengan dua cara, yaitu mujahadah atau anugerah dari Allah Swt. Kedua, proses intuisi yang dijelaskan oleh Abd Wahhab Asy-Sya'rani harus melewati beberapa maqam diantaranya adalah dzikir, berdiam diri, puasa jaga malam, menyendiri. Ketiga, keistimewaan pengetahuan intuitif adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung, yang datangnya langsung dari Allah Swt. Keempat, pengetahuan intuitif sangat relevan dan dibutuhkan dalam pendidikan Islam, dengan menjadikan Allah Swt sebagai Maha Guru. Penelitian yang dilakukan oleh Sofia Sa'o, melakukan penelitian tentang berpikir intuitif sebagai solusi dari rendahnya prestasi belajar di bidang matematika. Sofia Sa'o mengemukakan bahwa permasalahan dalam belajar matematika dapat diselesaikan dengan metode berpikir intuitif, dimana berpikir intuitif akan muncul melalui tiga faktor, yaitu perasaan, intrinsik dan intervensi. Selain itu, berpikir intuitif memiliki karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh metode berpikir lainnya, yaitu dapat memunculkan ide secara tiba-tiba yang diistilahkan dengan feeling dalam pemikiran siswa (Sa'o. Penelitian lebih lanjut mengenai intuisi oleh Mulyaningrum Lestari, ia menjelaskan bahwa model pembelajaran berbasis intuisi lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran ekspositori. Pernyataan ini didasarkan pada fakta PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM bahwa intuisi dapat digunakan sebagai metode berpikir dan menghasilkan berbagai ide dalam memecahkan masalah, dan lebih lanjut ia menyatakan bahwa intuisi memiliki tiga karakteristik, antara lain. Pertama, sarana untuk memecahkan Kedua, masukan untuk membuat keputusan moral. Ketiga, sebagai instrumen dalam memfasilitasi kreativitas (Lestari, 2. Penelitian lain yang berkaitan dengan intuisi juga dilakukan oleh Suheri Sahputra Rangkuti yang menyatakan bahwa tasawuf memiliki andil yang besar dalam menggagas intuisi dalam pendidikan, selain itu ada juga penelitian Mutia. Rochmad. Isnarto yang menyatakan bahwa kehadiran intuisi sangat penting dalam pembelajaran sebagai sarana untuk menemukan solusi. Dengan demikian, penelitian disertasi ini memiliki aspek kebaruan, karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, memiliki perbedaan dari aspek tujuan, fokus yang berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, serta metode dan teori yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pendekatan intuitif dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai terobosan dalam menemukan metode atau strategi pembelajaran bahasa Arab dalam menghasilkan pemahaman yang mendalam terhadap bahasa Arab. Metode Penelitian Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian disertasi ini menggunakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang berupa investigasi sosial, yang didasarkan pada data. Penggunaan data relatif tidak terstruktur, yang memiliki tujuan untuk menekankan subjektivitas dalam penelitian dalam menelaah sejumlah kasus yang dilakukan secara alamiah dan rinci. Proses penelitian ini secara alamiah akan mengeksplorasi peran intuisi dalam pembelajaran bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif, yang dapat diartikan dengan menjelaskan suatu keadaan faktual secara sistematis dan akurat dalam pemahaman konteks secara khusus dan holistik, yang digunakan untuk menjelaskan secara mendalam dan apa adanya dari hasil pengumpulan data. Tugas peneliti dalam hal ini adalah menjelaskan, memahami, tentang interpretasi dan situasi yang berbeda serta kekhasan penyebab dan konsekuensinya. Penelitian kualitatif deskriptif dipilih, karena paradigma ini dianggap dapat memberikan gambaran atau sketsa yang jelas mengenai peran intuisi dalam pembelajaran bahasa Arab yang selama ini belum dilakukan secara sistematis, artinya kajian mengenai intuisi masih berjalan dalam tataran teoritis, dan dari beberapa penelitian yang sudah ada lebih banyak terfokus pada pembelajaran PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Sumber Data Penelitian Sumber utama dalam penelitian kualitatif adalah sumber data dari kata-kata dan tindakan dan selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain sebagainya. Data dalam penelitian ini dapat dikategorikan sebagai data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengambilan data langsung pada subjek informasi yang dicari dalam penelitian ini. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain dan tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Pengecekan Keabsahan Data Penelitian Pengecekan keabsahan data penelitian merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam sebuah penelitian agar data yang dihasilkan dapat dipercaya, dijadikan acuan dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, pengecekan keabsahan data merupakan langkah untuk mengurangi kesalahan dalam proses memperoleh data penelitian. Moleong dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif menjelaskan bahwa terdapat empat bentuk pengecekan keabsahan data, antara lain pertama, kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas yang dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama, kredibilitas. Peneliti memegang peranan penting dalam penelitian kualitatif dalam menentukan dan menjustifikasi data, sumber data dan kesimpulan, serta hal-hal yang dianggap penting untuk menghindari bias pada data. Uji kredibilitas merupakan salah satu langkah dalam mengantisipasi hal tersebut, dimana peneliti membuktikan data yang diamati dan sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Kedua, transferabilitas, pemberian informasi dalam penelitian kualitatif dapat diwujudkan secara rinci, jelas, sistematis, dan komprehensif. Peneliti berusaha memberikan semua yang dibutuhkan pembaca agar temuan dalam penelitian ini dapat dipahami secara mendalam. Ketiga, dependabilitas, pengertian dependabilitas adalah pemeriksaan terhadap proses penelitian dengan cara mengaudit hasil dari proses penelitian, hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti, mulai dari konsep penelitian, penyaringan data penelitian, penafsiran hasil penelitian dan pelaporan hasil penelitian. Keempat, konfirmabilitas, ditujukan dalam penelitian ini sebagai penilaian yang disertai dengan bahan-bahan yang tersedia, meliputi deskripsi, temuan penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Hasil dan Pembahasan Pondok Pesantren Fahmussalam Pondok Pesantren Fahmussalam merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang terletak di Kabupaten Deli Serdang. Sumatera Utara, yang menerapkan sistem pembelajaran berbasis qawaid dan tarjamah, artinya para santri ditekankan pada kemampuan membaca kitab-kitab kuning, dan setelah itu secara perlahan-lahan diarahkan pada kemampuan berbahasa Arab. Peneliti menemukan hal yang menarik dari pondok pesantren fahmussalam, di mana dalam proses pembelajaran PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM bahasa Arab, para santri diikutsertakan dengan praktik tasawuf, yaitu tarekat Hal ini menarik, dan merupakan pengulangan sejarah, dimana ajaran tarekat dipadukan dengan pendidikan seperti yang dilakukan oleh Turki Utsmani pada masa pemerintahannya, menjadikan beberapa ajaran tarekat sebagai dasar pendidikan (Mukarom, 2. Pendiri Pesantren Fahmussalam menjelaskan bahwa perkenalannya dengan ajaran tarekat Alawiyah berawal dari pertemuannya dengan seorang murid Habib Umar bin Hafidz, generasi pertama, yang bernama Ustadz Mufti Nasihin (Karimuddin, 2. Ustadz Mufti Nasihin memiliki peran besar dalam mengenalkan ajaran tarekat Alawiyah kepada Fahmi Karimuddin, dengan menjadikan kitab Maulid Dhiya ul Lami' Habib Umar bin Hafidz sebagai salah satu bentuk amalan bagi para santri dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi menarik dan unik bagi Pesantren Fahmussalan dan merupakan satu-satunya pesantren di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan yang menerapkan ajaran tarekat dalam proses pembelajarannya, karena pesantren lainnya berbasis Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah Gontor yang tidak berorientasi pada komunikasi bahasa Arab kepada santri. Psikologi Intuitif dalam Pembelajaran Bahasa Arab Istilah intuisi berasal dari bahasa Inggris intuition, yang berasal dari bahasa Latin intueri-intuitus melihat, in adalah dalam, sedangkan tueri melihat (Bagus, 2. Thresa Jane Hardman mendefinisikan intuisi sebagai melihat, menuju, dan merenungkan (Hardman, 2. Begitu juga dengan Melissa Cai Shi dan Anne M. Lucietto yang mendefinisikan intuisi sebagai firasat, naluri yang dimiliki setiap orang dalam mengambil keputusan (Cai Shi & Lucietto, 2022. Hardman, 2. Intuisi merupakan istilah lain dari firasat atau naluri yang dipahami sebagai bentuk pemahaman langsung yang diawali dengan perenungan yang mendalam. Perenungan merupakan salah satu instrumen dalam menggunakan intuisi sebagai metode pembelajaran. Adapun secara garis besar intuisi diartikan dengan beberapa pengertian diantaranya Pertama, kemampuan yang dimiliki seseorang tanpa pengaruh logika atau rasional. Kedua, memahami sesuatu dengan naluri, atau hati nurani tanpa bantuan penalaran secara sadar. Ketiga, pemahaman secara spontan atau langsung terhadap kebenaran yang tidak memerlukan perantara atau bantuan logika atau rasional (Hardman, 2. Zulfahmi Lubis dalam penelitian disertasinya menjelaskan bahwa intuisi secara sederhana dapat dijabarkan dalam tiga bentuk antara lain Pertama, pengetahuan yang dapat dipahami dari hati sanubari manusia. Kedua, pengetahuan yang datang dari alam kesadaran. Ketiga, pengetahuan yang datang tanpa melalui rasio . (Lubis, 2. Intuisi merupakan salah satu pendekatan yang tidak asing lagi, dan sering terdengar dalam kegiatan terutama di bidang pendidikan. Pada kenyataannya, intuisi dipandang sebagai sesuatu yang misterius, subjektif dan sejenisnya yang membuatnya tidak mungkin diterapkan, dan sangat tidak mungkin diterapkan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, dalam pengamatan penulis di Indonesia, intuisi masih berkutat pada tataran teori, dan dari beberapa referensi hanya ada satu PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM disiplin ilmu yang sudah mulai menggunakan intuisi, yaitu matematika. Pembelajaran bahasa Arab saat ini dapat dijumpai berbagai macam pendekatan dalam proses pembelajarannya, baik pendekatan komunikatif atau Communicative Approach, pendekatan humanistik atau humanistic approach, pendekatan berbasis media atau media-based approach, pendekatan Aural-Oral atau Aural Oral Approach, dan yang terakhir adalah pendekatan analitik dan non analitik atau analytical and anon analytical approach (Hijriyah, 2. Pendekatan tersebut merupakan bagian dari berbagai cara yang dapat diterapkan, namun pada realita yang ada saat ini, pembelajaran bahasa Arab hanya terfokus pada tiga hal, antara lain Pertama, kajian dalam pembelajaran bahasa Arab terfokus pada aspek gramatikal atau kaidah tata bahasa bahasa Arab sebagai bahasa agama. Kedua, pembelajaran bahasa Arab masih mengalami kesulitan untuk menciptakan lingkungan bahasa karena ketiadaan penutur asli atau penutur asli bahasa Arab. Ketiga, adanya kesulitan untuk menentukan kurikulum bahasa yang sesuai dan teruji dengan baik (Umam, 2. Ketiga perspektif tersebut dapat dirasakan saat ini dalam pembelajaran bahasa Arab, bahkan terasa kaku dan tidak ada antusiasme dari para siswa untuk mempelajarinya. Jika ditelusuri secara mendalam, bahwa bahasa Arab merupakan jembatan atau sarana dalam mengetahui ajaran agama Islam secara mendalam, karena bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an dan para ulama menjelaskan ajaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Arab, sehingga penguasaan bahasa Arab menjadi hal yang harus dimiliki, agar tidak bergantung pada buku-buku terjemahan. Peneliti memandang bahwa bahasa Arab sebagai bahasa agama, memiliki kedekatan makna dengan intuisi, karena seperti yang kita pahami bersama bahwa intuisi merupakan pengetahuan bawah sadar atau pengetahuan yang bersumber dari hati nurani, yang muncul secara tiba-tiba, dan agama memberikan akses terhadap hal tersebut. Pada kenyataannya, belum ada penelitian khusus yang menjelaskan tentang peran intuisi dalam pembelajaran bahasa Arab, dan kajian tentang intuisi masih sangat eksklusif dalam kajian keislaman dan belum tersentuh bagaimana penerapannya dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, menjadi suatu hal yang harus dilakukan sebagai umat Islam, agar kajian intuisi dapat AumembumiAy khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memunculkan pendekatan-pendekatan baru, serta dapat dijadikan solusi dalam menghadapi revolusi industri 5. Intuisi sama halnya dengan berpikir, namun bedanya dalam pandangan Carl Gustav Jung merupakan fungsi dasar dari jiwa yaitu alam bawah sadar, dan memungkinkan terjadinya hubungan antara berbagai hal yang melekat pada diri seseorang. (Hardman, 2. Jiwa yang bekerja di alam bawah sadar menjadi salah satu peran dalam pendidikan Islam dalam membentuk peserta didik dalam proses pembelajaran, dan latihan spiritual menjadi penting dengan menumbuhkan semangat, motivasi, dan memunculkan berbagai macam inspirasi yang memunculkan kreatifitas baik bagi pendidik maupun peserta didik. PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Proses pembelajaran bahasa Arab saat ini khususnya di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan Sumatera Utara berorientasi pada kemampuan komunikatif, yaitu peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab secara aktif, namun seperti yang dirasakan, aspek spiritual belum dapat dirasakan oleh peserta didik yang ditandai dengan belum adanya pengamalan alim ulama yang bersumber pada ilham atau intuisi. Pengamalan Maulid Dhiya ul Lami Habib Umar bin Hafidz Kitab Maulid Dhiya ul Lami tidak seperti kitab biasa yang bersumber dari aspek rasio, empiris dan sejenisnya, namun seorang Habib Umar bin Hafidz menulis isi dalam kitab Maulid Dhiya ul Lami bersumber dari ilham, yaitu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada seseorang yang dicintainya. Kitab Maulid Dhiya ul Lami oleh Oky Maulana Mufti dalam penelitiannya yang berjudul Keindahan Bahasa Maulid Dhiya'u Al-Lami' Bi Dzikri Maulidi Al-Nabi Al-Syafi'i: KaryaHabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz (Studi Analisis Statisti. menjelaskan bahwa isi dari kitab ini adalah syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari kekuatan ruh yang menyatu dalam ma'rifah dalam diri seorang Habib Umar bin Hafidz (Mufti. Hum, 2. Penjelasan yang diungkapkan oleh Oky Maulana Mufti menggambarkan bahwa kita Dhiyau AlLami' merupakan sebuah inspirasi yang Allah SWT berikan kepada Habib Umar bin Hafidz, tentunya akan memberikan efek dan dampak yang besar bagi siapa saja yang membacanya, terutama dalam dunia pendidikan berbasis asrama. Asrama merupakan tempat yang ideal untuk menerapkan psikologi intuitif yang terstruktur dan pembiasaan rutin atau istiqomah merupakan bagian sentral dalam mengamalkan ajaran Islam. Kitab Dhiyau Al-Lami ' karya Habib Umar bin Hafidz merupakan sebuah proses yang diawali dengan pembiasaan rutin, sehingga petunjuk Allah SWT yang berupa ilham dapat terwujud. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi SAW yang artinya. Telah menceritakan kepada kami Abd al-Azizi bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari ayahnya dari Abi Salamah dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya ada di antara umatku yang mendapatkan intuisi dan sesungguhnya ada pula di antara umatku yang termasuk di dalamnya, yaitu Umar bin Khattab aAy (Lubis, 2. Zulfahmi Lubis menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan ibadah secara rutin selama 40 hari, maka Allah SWT akan membuka penghalang atau seorang hamba akan mendapatkan intuisi yang datangnya langsung dari Allah SWT. Angka 40 memiliki dasar yang jelas seperti yang dijelaskan oleh Suhrawardi bahwa penciptaan Nabi Adam as, sebelum ditiupkan ruh ke dalam dirinya, mengadukaduk tanah selama 40 hari, dan angka ini menjadi sentral dalam kajian tasawuf dalam mendapatkan intuisi (Lubis, 2. Begitu juga dalam kitab Dhiyau Al-Lami ' dimana terdapat 12 bait yang dimaksudkan sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW , dan terdapat tiga surah, yaitu surah al-Fath, surah al-Taubah, dan surah al-Ahzab, dan surah al-Ahzab yang disimbolkan sebagai bulan kelahiran PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Nabi Muhammad SAW dalam kalender hijriyah, yaitu Rabiul Awal, dan keseluruhan bait jika dihitung berjumlah 63 bait yang melambangkan usia Nabi Muhammad SAW, yaitu 63 tahun (Mufti. Hum, 2. Kode rahasia tersebut sangat melekat dalam kajian intuisi dalam perspektif Islam, dan hal ini tidak dapat dipahami secara mendalam di Pondok Pesantren Fahmussalam, oleh karena itu angka sentral tersebut dapat diamalkan guna mendapatkan ilham dari Allah SWT. Kitab Maulid Dhiya ul Lami 'I merupakan bagian sentral di samping amalanamalan lain dalam ajaran tarekat alawiyah dan selalu diamalkan dalam berbagai kegiatan, seperti Majelis Ta'lim, namun tidak dilembagakan dalam pendidikan Islam sebagaimana pesantren Fahmussalam. Adanya program ini memberikan stimulus kepada santri, yang mampu memberikan dan mengasah kemampuan intuitif setiap santri sehingga memberikan arah baru dalam pendidikan Islam di era kontemporer yang hanya menitikberatkan pada akal dan empiris semata dan spiritualitas hanya ditempatkan pada ranah privat. Dampak Pelaksanaan Maulid Dhiyau Al-Lami' dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Fahmussalam Pengamalan kitab Maulid Dhiyau al-Lami ' memiliki dampak tersendiri khususnya bagi santri dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Kepala Pesantren Fahmussalam menjelaskan bahwa beliau tidak sepenuhnya memahami apa itu intuisi, dan jika berbicara tentang dampak pengamalan kitab Dhiyau al-Lami ' maka hal tersebut benar adanya, terutama dalam membentuk perilaku santri (Karimuddin, 2. Prilaku santri dijelaskan oleh pimpinan Pesantren ketika seorang santri yang tidak dapat dilakukan pembinaan di salah satu pesantren modern, dan diserahkan ke pesantren Fahmussalam dengan harapan agar tingkah lakunya dapat berubah. Ini dirasakan manfaatnya saat ini ketika santri tersebut pulang ke rumah dan keluarga merasa terkejut melihat dampak yang besar tentang perubahan sifat anaknya (Karimuddin, 2. Hal ini memberikan sebuah bukti bahwa kejiwaan memberikan peranan besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, perubahan tingkah laku, dan adanya hal-hal yang baik terhadap semangat belajar peserta didik (Dadan Mardani & Iis Susiawati, 2. Intuisi telah dilakukan kajian dalam akademisi Barat, dan Islam juga memilikinya melalui pengamalan para sufi yaitu ajaran tarekat, dan kitab Maulid Dhiyau al-LamiAo memberikan peranan yang berarti, dalam membentuk sebuah kondisi yang nyaman dan tenang, sehingga pengamalan spiritual memberikan pengaruh yang siginifikan dalam pengasahan intuisi yang dimiliki peserta didik, salah satunya dalam perlombaan antara Pesantren se Kabupaten Deli Serdang dengan adanya pengetahuan yang dating secara tiba-tiba ketika menjawab pertanyaan dari dewan Simpulan Lembaga pendidikan Islam yang concern dalam pembelajaran bahasa Arab adalah pondok pesantren, dan di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan sistem PSIKOTES: JURNAL ILMU PSIKOLOGI. KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2 NO. 1 MARET 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM pondok pesantren yang berjalan menggunakan kurikulum dari pondok pesantren modern Gontor-Ponorogo yaitu Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI) yang menekankan pada orientasi komunikasi aktif dalam berbahasa Arab, dan output yang dihasilkan adalah menjadi pendidik atau guru. Aspek spiritual tidak menjadi fokus utama dalam proses pembelajaran bahasa Arab model kurikulum KMI, artinya hany berfokus kepada pengamalan primer, yaitu membaca al-Quran, sedangkan pengamalan sekunder belum ditemukan. Pesantren Fahmussalam memberikan arah baru dalam pendidikan Islam di Kabupaten Deli Serdang dan sekitarnya dengan memadukan ajaran tarekat Alawiyah dalam proses pembelajaran Arab, sehingga memberikan dampak yang baik kepada peserta didik dalam hal Tarekat Alawiyah merupakan salah satu tarekat yang sederhana dalam pengamalannya dibandingkan tarekat lainnya, yaitu tidak adanya baiat antara mursyid dan murid dalam proses pengamalannya, sehingga siapa saja dapat mengamalkan apa yang telah menjadi kekhasan dalam tarekat Alawiyah, salah satunya kitab Dhiyau al-LamiAo karya Habib Umar bin Salim bin Hafidz. Apa yang dilakukan oleh Pesantren Fahmussalam adalah sebagai bentuk pengulangan dari apa yang telah dilakukan oleh Dinasti Turki Usmani dengan menjadikan ajaran tarekat sebagai basis pembelajaran di lembaga pendidikan, sehingga ini memberikan dampak yang penting dalam membentuk kepribadian para peserta Daftar Pustaka