JURNAL BASICEDU Volume 8 Nomor 4 Tahun 2024 Halaman 3251 - 3261 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ira Restu Kurnia1. Anita Zahra2A. Alifya Zhafira3. Arimbi Lolita Hayuningtyas4. Izzah Lailatul Fazriah5. Robiatul Adawiah6. Safnatun Nazah7 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Pelita Bangsa. Indonesia1,2,3,4,5,6,7 E-mail: restuirakurnia@pelitabangsa. id1, anitazahra2004@gmail. com2, alifyaazhafira@gmail. lolitaarimbi@gmail. com4, izzahlailatul3@gmail. com5, adawiahr628@gmail. safnatunnazah06@gmail. Abstrak Masalah yang dihadapi siswa dalam layanan bimbingan pribadi dan sosial tentunya berbeda. Sebagian besar masalah pribadi yang muncul di sekolah dasar berasal dari kurangnya perhatian orang tua. Permasalahan di SDN KarangJaya 02 lebih mengarah kepada hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya. Perihalnya berlandaskan atas tahapan pertumbuhan yang lagi terlaksana. Murid di sekolah dasar condong berurusan melalui faktor lingkungan disekitarnya. Dari sebabnya peranan orang tua masih amat diperlukan guna perkembangan anak dalam hasil belajar disekolah. Penelitian tersebut mempunyai maksud guna mendapaati persoalan yang banyak terjadinya di SDN KarangJaya 02. Metode penelitian tersebut memakai jenisnya kualitatif melalui tekhnis penghimpunan data wawancara di SDN KarangJaya 02. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwasanya persoalan murid di sekolah dasar masih kuat kaitannya melalui posisi keluarga atas hidup individu mereka, dan pengaruh media sosial. Peran orang tua sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan sekolah, terutama dengan memperhatikan anak dalam bermain media sosial. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar juga masih belum menyeluruh keberadaannya. Kesimpulan dari penelitian ini problematika layanan BK di sekolah dasar karna tidak adanya guru bimbingan dan konseling, tidak adanya pelatihan tentang layanan bimbingan dan konseling, serta kurang memadainya fasilitas layanan bimbingan dankonseling di SDN KarangJaya 02. Kata Kunci: Permasalahan. Layanan Konselor. Peserta didik. Abstract The problems faced by students in personal and social guidance services are certainly different. Mostpersonal problems that arise in elementary school stem from a lack of parental attention. The problems at SDN KarangJaya 02 are more focused on the individual's relationship with the surrounding environment. The matter is based on the growth stages that are currently being carried out. Students in elementary schools tend to deal with environmental factors around them. This is why the role of parents is still very necessary for children's development in learning outcomes at school. This research aims to find out the problems that often occur at SDN KarangJaya 02. The research method uses a qualitative type through interview data collection techniques at SDN KarangJaya 02. The results of this research can be concluded that the problems of students in elementary schools are still strongly related to the position of the upper family. their individual lives, and the influence of social media. The role of parents is very important in adjusting to school, especially by paying attention to children when playing on social media. Guidance and counseling services in elementary schools are still not comprehensive. The conclusion from this research is that there are problems with guidance and counseling services in elementary schools because there are no guidance and counseling teachers, no training on guidance and counseling services, and inadequate guidance and counseling service facilities at SDN KarangJaya 02. Keywords: Problems. Counselor Services. Students. Copyright . 2024 Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah A Corresponding author : Email : anitazahra2004@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan krusial atas membentuk kepribadian murid jadi individu dan sebagai bagian masyarakat. sekolah lebih dari sekedar tempat belajar. Sekolah merupakan suatu sistem komponen yang terintegrasi dengan baik. Salah satu aspek sistem sekolah yang bertugas membantu sistem sekolah lain dalam menyelesaikan masalah adalah bimbingan serta konseling. Lewat berbagai bentuk aktivitas serta layanan pendukung berbasis norma, bimbingan dan konseling ialah pelayanan bantuan yang di beri ke peserta didik, secara perorangan ataupun kelompok, agar mereka dapat bertumbuh sebaik-baiknya atas bidang kemampuan belajar, perencanaan karir, dan pendidikan. perkembangan kehidupan pribadi dan sosial. Sesuai menelaah bagaimana layanan bimbingan serta konseling dilaksankan di sekolah dasar terkhususnya di SDN Karangjaya 02 serta permasalahan yang muncul pada anak-anak merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Komponen krusial dalam melaksanakan program pendidikan adalah pemberian bimbingan dan Membantu anak menjadi orang dewasa yang berkembang dengan baik, produktif, dan berbudaya baik adalah salah satu tujuan utama layanan bimbingan dan konseling. Menurut (A. Juntika. Nurihsan. Yusuf, 2. , prinsip bimbingan serta konseling yang dikenal dengan AuBimbingan untuk SemuaAy mengutarakan bahwasanya tiap orang memiliki hak yang sama guna menerima layanan tersebut tanpa membedakan siapa, dari mana, atau dari mana. kondisi apa yang mereka alami. Sementara itu (Badrujama, 2. menjelaskan Bimbingan konseling merupakan serangkaian program yang ditawarkan kepada siswa melalui aktivitas individu dan kelompok untuk membantu mereka mengatasi masalah dan menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri dan optimal. (Ratu, 2. mengatakan bahwa bimbingan adalah permintaan, bantuan, atau pertolongan yang diberikan kepada seseorang atau sekumpulan orang untuk menghindari atau mengatasi masalah dalam kehidupan mereka untuk membantu mereka mencapai kesejahteraan hidup. Menurut (Hartono, 2. , seorang konselor dituntut untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya dan memiliki kemampuan yang diperlukan untuk menawarkan terapi. Kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proses konseling dari awal hingga akhir adalah kemampuan yang dibutuhkan seorang Dalam memberikan layanan konseling individu, konselor masih kurang memanfaatkan bakat konselingnya, terbukti dari fenomena yang ada di industri. Meskipun beberapa penelitian telah mengkaji mengenai penerapan layanan serta bimbingan konseling di sekolah dasar, terdapat beberapa gap yang perlu di analisis lebih lanjut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Arsini, 2. sudah membahas tentang konsep bimbingan konseling di sekolah dasar. Akan tetapi, penelitian ini hanya membahas konsepnya saja belum mencakup permasalahan-permasalahan yang ada di sekolah dasar. Selain itu, penelitian oleh (Yusmaini Ayu Batubara & Jihan Farhanah. Melina Hasanahti, 2. , telah membahas tentang pentingnya konseling bagi peserta didik. Namun, dalam penelitian ini belum secara rinci mengidentifikasi permasalahan apa saja yang terjadi di sekolah dasar sehingga kegiatan konseling penting bagi peserta didik. Sementara itu penelitian oleh (Ridwan, 2. telah mengkaji tentang peran guru dalam bimbingan konseing siswa sekolah dasar. Peneliti ini menekankan bahwasanya guru mempunyai figur konselor yang penting guna memecahkan segala permasalahan yang berkaitan dengan jiwa manusia untuk menghindari sifat-sifat negatif. Masih banyak siswa yang menghadapi permasalahan atau situasi di sekolah yang mengganggu kemampuan belajarnya. Mereka melakukan tindakan tersebut karena berbagai alasan. Dampak jangka panjang tidak akan baik jika masalah ini tidak diatasi. Mungkin ada beberapa alasan mengapa mereka harus lebih sering bersekolah, seperti rasa malas, perundungan, atau keterlambatan proses pendidikan yang akan merugikan mereka dalam jangka panjang. Menurut (Elsi Novarita, 2. , tujuan pendidikan di sekolah adalah untuk mendukung anak dalam mewujudkan seluruh potensi dirinya dan mempersiapkan mereka untuk sukses Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. sebagai dewasa muda di bidang sosial, agama, dan akademik. Mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa inilah yang dimaksud dengan pendidikan dalam rangka proses pembelajaran (Rismayanti & Nuryanto. METODE Pada penelitian tersebut memakai tekhnik kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk meneliti kehidupan sosial yang natural/ilmiah. Penelitian kualitatif yang memiliki tujuan untuk mencari sejumlah sumber melalui memakai cara penghimpunan datanya yang bermacam-macam. Cara penghimpunan keterangan pada penelitiannya adalah menggunakkan cara observasi dan wawancara, yang membahas secara tertentu mengenai topik yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar. Ada 2 tahapan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini, pertama melakukan observasi yang terdiri dari 3 tahapan: . observasi deskriptif, . observasi terfokus, . observasi terseleksi. Kedua, peneliti melakukan wawancara kepada siswa di sekolah dengan tahapan sebagai berikut: . menentukan partisipan, . menyiapkan pokok masalah, . membuka alur wawancara, . melaksanakan wawancara, . mengonfirmasi hasil wawancara, . menuliskan hasil wawancara, . mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara. Penelitiannya menggunakan teknik analisis data yang berbetuk deskriptif, jenis penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi layanan konseling dan memberikan penjelasan serta pemahaman tentang data yang Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan foto sebagai bahan referensi selama wawancara sebagai bukti pendukung data yang telah dikumpulkan peneliti. Temuan pada penelitiannya diinginkan bisa memberi wawasan bagi sekolah dasar mengenai pentingnya layanan konseling dan bagaimana menerapkannya secara efektif untuk mendukung perkembangan peserta didik secara holistic dan memberikan partisipasi yang signifikan atas menerapkan pelayanan bimbingan serta konselor di tingkat SD. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian layanan konselor Terjemahan istilah bahasa Inggris AuguidanceAy dan AucounselingAy adalah bimbingan dan konseling. AuBimbinganAy atau akar kata AupanduanAy menggambarkan tindakan seperti mengarahkan, membantu, mencari tahu, menyiapkan, memimpin, menasihati, atau mendemonstrasikan. Oleh karena itu, membantu atau memimpin dapat dipahami sebagai bimbingan. Untuk membantu setiap orang memahami dirinya sendiri, mempelajari lingkungan sekitarnya, dan membuat rencana masa depan, bimbingan adalah proses pemberian dukungan dari orang lain atau spesialis kepada individu atau kelompok. (Hanung Sudibyo, 2. mengatakan bahwa konseling atau counseling adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang untuk mengatasi masalah kehidupannya dengan melakukan wawancara dengan cara yang sesuai dengan keadaan seseorang agar mereka dapat hidup lebih baik. Konseling merupakan proses dimana seorang konselor mendapat bantuan dalam memahami fakta-fakta terkait dengan pilihan, rencana, atau Menurut (Winkel, 2. , konseling adalah pertemuan tatap muka atau konseling yang berfokus pada permasalahan yang sedang dihadapi oleh dua orang. Hasil pertemuan tidak ditentukan sebelumnya. Guru konseling mempunyai tanggung jawab untuk mendukung, meningkatkan, dan mendorong perkembangan terbaik setiap siswa di bawah pengawasannya. Komunikasi langsung antara klien dan guru pembimbing berlangsung dalam suasana tatap muka. berbicara tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan tantangan yang dihadapi siswa. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan yang membantu siswa, baik Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. secara individu maupun kelompok, menjadi mandiri dan berkembang secara optimal dalam segala bidang, termasuk bimbingan pribadi, sosial, akademik, dan karir (Prayitno, 1. Hal ini mereka lakukan melalui berbagai layanan pendukung dan kegiatan yang sesuai dengan norma yang berlaku. Tujuan akhir dari layanan bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu mencapai potensi maksimalnya, dengan mempertimbangkan tahap perkembangan, kecenderungan . eperti riwayat keluarga, latar belakang pendidikan, dan situasi sosial ekonom. , dan faktor kontekstual yang mendukung. Tujuan khusus dari bimbingan dan konseling adalah untuk menciptakan tujuan-tujuan yang luas, yang, tergantung pada kompleksitas permasalahannya, berhubungan langsung dengan hambatan-hambatan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. Kemampuan seorang siswa untuk: . mencapai potensi maksimalnya. mengatasi hambatan kesadaran diri. memahami konteks sekolah, keluarga, tempat kerja, sosial ekonomi, dan budaya. mengatasi hambatan pemecahan masalah. mengatasi hambatan dalam mengarahkan keterampilan, minat, dan bakatnya pada bidang pendidikan dan pekerjaan. memperoleh bantuan dari luar yang diperlukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang tidak dapat diselesaikan di sekolah, semuanya merupakan tujuan khusus dari layanan bimbingan dan konseling yang diberikan di sekolah. Permasalahan Pelayanan Konselor yang ada di SDN Karangjaya 02 Berdasarkan hasil penelitian melalaui wawancara menyatakan bahwa di SDN KarangJaya ini memiliki beberapa peremasalahan, sehingga sekolah tersebut harus menerapkan layanan bimbingan dan konselor. Permasalahan yang terjadi pada peserta didik di SDN KarangJaya 02 diantaranya adalah. Keterlambatan Sekolah Guru kelas bertanggung jawab atas kehadiran dan ketidakhadiran siswa. oleh karena itu, mereka harus mampu mencatat informasi siswa secara akurat. Analisis dan penyajian data kehadiran dan ketidakhadiran siswa dalam bentuk grafik atau tabel merupakan tugas yang diberikan. Dalam buku absensi juga dicatat murid yang tak hadir, serta murid yang hadir di sekolah harus dicatat kehadirannya oleh guru. Dengan kata lain, presensi berfungsi sebagai pencatatan kehadiran siswa secara menyeluruh, yaitu buku catatan ketidakhadiran siswa. Yang terpenting, agar siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar harus tiba pada waktu yang telah ditentukan. Datang sesuai waktu yang ditentukan pada jam masuk sekolah merupakan salah satu faktor agar belajar dapat berjalan dengan nyaman. Tetapi bagi para peserta didik datang dengan sesuai jam yang ditentukan merupakan hal yang sulit. Terlambat didefinisikan sebagai datang tidak tepat waktu, secara umum, keterlambatan pelaporan ke sekolah didefinisikan sebagai kegagalan untuk mematuhi waktu yang diberikan oleh sekolah atau untuk mematuhi aturannya. Ada dua keterlambatan peserta didik datang ke sekolah (Prayitno, 1. Keterlambatan Sengaja Banyaknya peserta didik terlambat dikarenakan adanya beberapa faktor pemicu yang tidak rasional sehingga dapat memberikan penyebab dalam alasan yang tidak sesuai. Keterlambatan Yang Tidak disengaja Banyak peserta didik tidak masuk sekolah karena hujun lebat, saling menunggu teman atau kondisi lainnya dan mengakibatkan mereka terlambat ke sekolah. Dapat disimpulan bahwa perilaku yang tidak tepat waktu yang sudah ditentukan atau bisa disebut dengan terlambat itu termasuk golongan prilaku yang akan berdampak buruk pada diri siswa karena siswa sudah melanggar peraturan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara di SDN KarangJaya 02 mempunyai permasalahan pada peserta didik salah satunya yaitu siswa A mempunyai kebiasaan jarang masuk sekolah dari kelas 3 sd. Salah satu penyebab faktor tersebut adalah, siswa A sering kali terlambat bangun pagi karna jam tidur yang berantakan, gadget Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. yang tidak sering di kontrol oleh orang tua juga termasuk penyebabnya siswa A ini keasyikan bermain game Bukan hanya itu, konselor kebiasaan jarang masuk sekolah karna faktor ekonomi, terkadang orang tua siswa A tersebut yang tidak mempunyai uang saku untuk siswa A agar pergi ke sekolah, ini adalah penyebab siswa A terkadang tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah. Pada hari itu siswa A mau berangkat ke sekolah namun sedihnya tas yang ia punya tidak layak untuk dipakai. Keadaan ekonomi orang tuanya pun tidak memadai, dan terjadi kembali siswa A tidak masuk sekolah. Permasalahan tersebut yang menyebabkan siswa A menjadi keterlambatan belajar di sekolah. Data siswa terlambat dalam 1 minggu terkahir disajikan pada tabel 1: Tabel 1. Data Siswa Terlambat Hari Jumlah Siswa terlambat Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Jumlah Siswa Terlambat Gambar 1. Jumlah Siswa Terlambat Gambar 2. Wawancara bersama narasumber: siswa A Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Kesulitan Belajar Guru dan orang tua dapat memotivasi siswa untuk mengatasi permasalahan belajar yang disebabkan oleh kurangnya minat belajar, atau mereka dapat menggunakan pendekatan pemberian hadiah sebagai cara untuk menghidupkan kembali kegembiraan dan minat siswa. Siswa yang kesulitan secara akademis karena masalah kesehatan dapat menerima dukungan dari orang tuanya. Orang tua harus memberi anak mereka sarapan sebelum sekolah karena ini membantu mereka fokus. Tantangan pembelajaran sebagian besar disebabkan oleh dua jenis penyebab: pengaruh internal dan eksternal. Unsur internal mencakup hal-hal seperti emosi, bakat, minat, kecerdasan, kesehatan, dan biologi. Menurut (Sulistyowati, 2. , variabel eksternal meliputi lingkungan, suasana hati di rumah, dan sekolah. Di sini, guru memainkan peran penting dalam membantu siswa memperhatikan pelajaran dan terlibat di Mereka juga harus memakai bahasa yang lugas serta gampang dimengerti peserta didik (Nani N. Perilaku siswa yang menunjukkan kesulitan belajar selama proses belajar mengajar antara lain mudah terganggu, mudah bosan, sulit fokus, mudah lupa, malas, dan mudah lelah (Fatah, 2. Temuan penelitian menunjukkan bahwa banyak siswa SDN KarangJaya 02 yang masih kesulitan dalam Tantangan belajar yang dialami siswa bermacam-macam, seperti yang dialami siswa B SDN KarangJaya 02 di Kelas 5. Tantangan belajar siswa tersebut disebabkan oleh dinamika keluarga, lingkungan sekolah, dan kecanduan bermain game online. Pada faktor lingkungan sekolah Siswa B yang dipengaruhi teman sebangkunya ini cenderung tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan meteri, karena sering mengobrol di kelas sehingga mereka tidak mengerti apa yang guru sampaikan. Siswa B juga tidak aktif dalam bertanya di kelas, tidak aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan hanya memilih untuk berdiam saja. Tetapi perasaan yang dialami siswa B ini ketika tertinggal materi dia merasa sedih melihat temannya yang sudah lebih dulu memahami materi. Faktor keluarga yang dialami adalah siswa tersebut kurang diperhatikan dalam belajar, seharusnya sebagai orang tua lebih banyak meluangkan waktu untuk mendampingi anaknya dan memantau hasil belajar anak tersebut. Media sosial juga menjadi salah satu faktor penghambat siswa kesulitan dalam belajar, banyak aplikasi game online yang membuat siswa kecanduan untuk bermain gadget secara terus menerus tanpa batas waktu, dari aplikasi game online ini seharusnya sebagai orang tua juga harus membatasi waktu bermain gadget agar tidak lupa waktu untuk belajar. Dari kejadian tersebut membuat siswa B tertinggal kelas dan harus mengulang pembelajaran dikelas sebelumnya. Guru sudah berusaha membantu siswa agar tidak tertinggal pelajaran, tetapi dari siswa yang memang acuh dalam belajar dan lebih sering bermain dengan temannya. Data siswa kelas 5 yang mengalami kesulitan belajar pada tabel 2. Tabel 2. Penyebab Kesulitan Belajar Penyebab Kesulitan Belajar Jumlah Siswa Perhatian keluarga Lingkungan Fasilitas belajar Total Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Penyebab Gambar 3. Penyebab Kesulita Belajar Gambar 4. Wawancara Bersama Narasumber : Siswa B Bullying Menurut penelitian Yuyarti, bullying secara spesifik digambarkan sebagai Autindakan permusuhan yang dilakukan secara sadar dan sengaja dengan tujuan untuk menyakiti, seperti menakut-nakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan terorAy (McCulloch, 2. Hal ini mencakup tindakan yang disengaja dan tidak disengaja baik secara terang-terangan maupun terselubung, dilakukan oleh seorang anak atau sekelompok anak, di depan umum atau di belakang seseorang, terlihat atau disamarkan dengan keramahan. Penindasan yang disengaja terhadap korban secara fisik atau mental yang dilakukan oleh individu atau sekelompok individu dikenal sebagai penindasan. Jika semua orang yang terkait dengan organisasi atau sekolah berkomitmen untuk mengatasi dan menghilangkan penindasan, maka perilaku seperti ini dapat Komunitas sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, pengajar serta murid bisa berkolaborasi untuk menghentikan perbuatan bullying di sekolah. Ada empat kategori yang termasuk dalam penindasan: . Penindasan verbal: ini mengacu pada penggunaan kata-kata atau komunikasi tertulis untuk menghasut intimidasi, ejekan, fitnah, ejekan, dan ancaman untuk menyakiti orang lain. Penindasan sosial: ini terjadi di tempat umum dan mencakup tindakan seperti menyuruh orang lain untuk tidak berteman dengan seseorang, menyebarkan informasi palsu tentang seseorang, atau mempermalukan orang lain di depan orang banyak. Penindasan fisik: merujuk pada perilaku kekerasan seperti memukul, mencubit, menendang, mendorong, meludah, merampas, atau menyebabkan kerusakan pada properti orang lain. Cyberbullying: tindakan apa pun yang menggunakan teknologi komunikasi dan informasi untuk mendorong sikap bermusuhan yang disengaja dan/atau terus-menerus oleh individu atau kelompok. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Penindasan menyakiti korbannya dan juga orang yang menindasnya. Korban bullying mungkin menderita disfungsi sosial, kecemasan, insomnia, gejala depresi, dan rendah diri hingga tidak ingin bersekolah (Sampson, 2. Tidak hanya itu SDN KarangJaya 02 juga masih banyak peserta didik yang mengalami kasus pembullyan, dalam hasil penelitian ini peneliti mewawancarai salah satu peserta didik yang dimana para peserta didik tersebut adalah seseorang yang terlibat dalam kasus pembullyan. Peserta didik yang berinisial C merupakan pelaku dari kasus pembullyan yang ada di SDN KarangJaya 02. Peserta didik berinisial C melakukan tindakan pembullyan secara non verbal, ia membully siswa lain sehingga siswa lain mengalami trauma tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. Kasus ini terjadi karena ada beberapa faktor diantaranya yaitu, faktor keluarga, faktor lingkungan, serta faktor ekonomi. Peserta didik melakukan tindakan tersebut karena kurangnya perhatian dari orangtua, teman sebaya, dan orang-orang terdekat. Peserta didik berinisial C ini juga melakukan tindakan pembullyan karena ia juga mengalami hal serupa yaitu korban pembullyan. Peserta didik merasa kesal dan tidak terima atas tindakan tersebut, sehingga peserta didik berinisial C mempunyai dendam terhadap orang-orang yang Namun Peserta didik berinisial C tidak hanya membalas tindakan tersebut kepada seseorang yang sudah membullynya tetapi ia membalas juga kepada peserta didik lainnya. Dalam kasus ini guru sudah menindak lanjuti kepada peserta didik berinisial C dengan cara menasehati dan memberi sanksi kepada Dengan adanya sanksi tersebut pelaku menyadari bahwa apa yang sudah ia lakukan itu tidak benar, dan ia menyesal atas tindakan tersebut. Untuk kasus pembullyan yang membuat korban trauma sudah terselaikan secara kekeluargaan dan saling memaafkan. Data siswa kelas 6 yang mengalami bullying serta menjadi pelaku bullying : Tabel 3. Penyebab Bullying Penyebab Bullying Faktor Lingkungan Faktor Ekonomi Faktor Keluarga Total Jumlah Siswa Jumlah Siswa Gambar 5. Penyebab Bullying Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Gambar 6. Wawancara bersama narasumber: siwa C Penerapan layanan konselor di SD Dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling di sekolah dasar dapat membantu siswa dalam mengenali dan mengungkapkan perasaan mereka (Andriani & Hariyani, 2. Studi mengindikasikan bahwa perilaku sosio-emosional siswa, seperti keterampilan mereka dalam berinteraksi dengan teman dan menjadi lebih terbuka, dapat ditingkatkan melalui bimbingan kelompok. Penerapan layanan bimbingan yang terusmenerus dapat mengurangi frekuensi dan intensitas bullying di sekolah serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Berikut merupakan upaya-upaya yang sudah diterapkan di sekolah SDN Karangjaya 02 melalui layanan bimbingan konseling: Upaya prevetif Kata "pencegahan" berasal dari bahasa Latin, "pravenire," yang berarti meramalkan atau menghindari terjadinya suatu peristiwa. Tindakan preventif, secara sederhana, adalah langkah-langkah yang diambil untuk menjaga ketertiban sosial dengan mencegah munculnya masalah. Strategi penyelesaian masalah preventif merujuk pada usaha untuk menyelesaikan masalah sebelum masalah tersebut muncul. Tujuan utama dari tindakan pencegahan adalah memahami dasar-dasar permasalahan sosial dan menghindari Memberikan ancaman kepada anak-anak untuk menghentikan mereka dari melanggar peraturan atau tersesat. Risikonya berasal dari kemungkinan adanya pembalasan fisik dan intimidasi terkait tindakan yang dilakukan. Upaya represif Setelah berangkat, guru memberi siswa waktu untuk beradaptasi sebelum mendekati mereka dan memberikan instruksi. Instruksi ini diberikan dengan meminta anak-anak untuk bersama-sama menilai apakah tindakan mereka sudah benar dan sesuai dengan norma sosial. Ini juga dilakukan untuk mempertahankan hubungan yang kuat dengan anak dan mengembalikan situasi ke kondisi normal. Tindakan represif adalah bentuk kontrol sosial yang diterapkan untuk memperbaiki pelanggaran dengan berusaha mengembalikan kondisi ke keadaan semula (Suyanto, 2. Upaya persuasif Guru memberikan instruksi dan nasihat kepada siswa agar mereka dapat mempelajari perilaku yang benar serta mengakui kesalahan mereka sendiri. Dalam bidang pendidikan, sekolah berperan sebagai lembaga yang menyediakan layanan untuk menerapkan mekanisme kontrol sosial, termasuk penanaman nilai-nilai dan kepatuhan terhadap ketaatan sosial yang telah ditetapkan (Idi. , 2. Berdasarkan definisi tersebut, sekolah menerapkan teknik persuasif untuk mengembangkan pendidikan moral anak dengan mengintegrasikannya dalam kurikulum. Untuk memajukan perdamaian, pendidikan moral juga disesuaikan dengan standar estetika dan norma sosial yang berlaku. Jurnal Basicedu Vol 8 No 4 Tahun 2024 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Menganalisis Permasalahan dan Menerapkan Layanan Konselor bagi Peserta Didik di Sekolah Dasar Ae Ira Restu Kurnia. Anita Zahra. Alifya Zhafira. Arimbi Lolita Hayuningtyas. Izzah Lailatul Fazriah. Robiatul Adawiah. Safnatun Nazah DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. Upaya koersif Ketika anak-anak melanggar batas, instruktur akan menerapkan hukuman fisik seperti mendorong atau menampar untuk mengendalikan perilaku mereka dan memastikan hanya perilaku yang pantas yang Keterlibatan pihak berwenang di sekolah, seperti kepala sekolah dan guru, dalam pemecahan masalah secara kolaboratif dan pelaksanaan tindak lanjutnya. Upaya koersif Ketika anak-anak melampaui batas, instruktur akan menggunakan hukuman fisik seperti mendorong atau menampar mereka untuk mengendalikan perilaku mereka dan memastikan bahwa hanya perilaku yang pantas yang terjadi. partisipasi pihak lain yang berwenang di sekolah, seperti kepala sekolah dan guru, melalui pemecahan masalah secara kolaboratif dan tindakan lanjutnya. Dalam hasil penelitian melalui observasi wawancara bersama salah satu tenaga pendidik yang ada di SDN Karangjaya 02 menyatakan bahwa, dengan adanya permasalahan yang terjadi di SDN KarangJaya 02 tenaga pendidik sepakat untuk menerapkan layanan bimbingan dan konselor sesuai dengan upaya-upaya yang sudah dibahas diatas. Dengan upaya-upaya tersebut beberapa kasus dan malasah yang terjadi pada peserta didik dapat terselaikan dan memulihkan keadaan sehingga berjalan kembali seperti semula. Dalam penelitian terkait penerapan layanan bimbingan konseling di sekolah dasar, memiliki beberapa keterbatasan yang mempengaruhi validitas dan generalisasi hasil penelitian, serta pemahaman yang lebih luas tentang efektivitas bimbingan konseling dalam konteks pendidikan. Pada penelitian ini, peneliti hanya mengandalkan teknik pengumpulan data seperti wawancara dan observasi yang mungkin tidak mencakup seluruh aspek dari layanan bimbingan konseling. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya pemahaman yang komprehensif tentang efektivitas layanan tersebut dalam mengatasi masalah yang dihadapi siswa, seperti bullying. KESIMPULAN Menurut temuan penelitian, layanan bimbingan serta konseling harus disertakan di sekolah dasar. Tujuan keseluruhannya pada layanan bimbingan serta konseling yakni guna membantunya masyarakat dalam mengembangkan diri mereka selaras melalui kemampuan serta bakat terbaik mereka, berdasarkan tahap perkembangan, kecenderungan . isalkan latar belakang keluarga, pendidikan, serta status sosial ekonom. , dan desakan lingkungan yang baik. Pada layanan bimbingan serta konseling, berbagai strategi dapat digunakan, antara lain strategi koersif, persuasif, resesif, dan preventif. Perundungan, ketidakmampuan belajar, dan keterlambatan sekolah merupakan beberapa permasalahan yang sedang ditangani oleh SDN KarangJaya 02. DAFTAR PUSTAKA