Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Volume 1 Nomor 1 . 12-25 http://jurnal. id/index. php/madrosatuna PROBLEMATIKA SLOW LEARNER Nana Suryana Program Studi PGMI IAILM Suryalaya nana_aljoe@gmail. ABSTRACT In the learning process, teachers will face a variety of differences that children have, for example children who are slow to follow learning. A slow learner is not a stupid child. Children of slow learners are only delays in following the teaching and learning process compared to other children. This is caused by wrong perceptions of children, emotional disturbances, and errors in education. Keywords: Slow learner, perception, emotional disturbances, and learning. ABSTRAK Dalam proses pembelajaran, guru akan menghadapi berbagai perbedaan yang dimiliki anak, misalnya anak yang lambat mengikuti pembelajaran. Pelajar lambat bukanlah anak bodoh. Anak-anak yang lambat belajar hanya penundaan dalam mengikuti proses belajar mengajar dibandingkan dengan anak-anak lain. Hal ini disebabkan oleh salah persepsi anak, gangguan emosi, dan kesalahan dalam Kata kunci: Pelajar lambat, persepsi, gangguan emosi, dan pembelajaran. PENDAHULUAN Dalam konteks ke Indonesiaan, pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan juga bertujuan mengembangankan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona. Makna di atas memberikan implikasi bahwa pendidikan seyogyanya berfokus memfasilitasi proses perkembangan individu sesuai dengan nilainilai agama dan kehidupan yang dianut (Solehuddin & Hatimah, 2007:1. Untuk mewujudkan hakikat, fungsi, dan tujuan pendidikan tersebut, perlu didukung dengan berbagai hal. kurikulum yang adaptif . ang mampu merespons tuntutan masa depan ana. , pendidik yang profesional, sarana prasarana yang memadai, lingkungan belajar yang kondusif, dan dukungan penuh baik dari pemerintah maupun masyarakat yang sinergis. Diterima: Januari 2018. Disetujui: Pebruari 2018. Dipublikasikan: Juni 2018 Problematika Slow Learner Secara prinsip peserta didik berhak untuk memperoleh peluang mencapai kinerja akademik . cademic performanc. yang memuaskan (Yusuf, 2010:. , karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Ana. Namun dalam realitas kehidupan, belum setiap anak atau peserta didik memperoleh peluang yang sama. Banyak faktor yang menyebabkan hilangnya peluang dimaksud antara lain. terdapatnya perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing anak, baik pada aspek fisik, intelegensi, sosial, emosi, maupun peluang memperoleh kesempatan pendidikan. Perbedaan-perbedaan tersebut tentu akan berdampak pada kemampuan peserta didik mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Anak yang memiliki intelegensi . rata-rata tentu akan sangat berbeda cara belajarnya dengan anak yang intelegensinya di bawah rata-rata. Anak yang intelegensinya rata-rata atau lebih akan dengan mudah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran. Sebaliknya anak yang intelegensinya rendah akan menghadapi kesulitan dalam menjalani proses pendidikan dan pengajaran di sekolahnya. Hasil penelitian Mardianti . misalnya, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar . low learne. di MTs Madani Alauddin Paopao, memiliki nilai rata-rata 61,03 . i bawah standar yang ditentukan. Penelitian Malik . juga menyimpulkan bahwa pembelajar yang lambat akademis, pada umumnya menghadapi kesulitan dalam mengerjakan tugas yang membutuhkan abstrak, simbolis, dan keterampilan konseptual (Lowenstein, 2. Laju anak-anak yang lamban dalam belajar, tertinggal dalam pengembangan keterampilan perkembangan moral mereka. Mereka cenderung memahami konsep dasar kehidupan . aitu interaksi sosial, gaya komunikasi, keterampilan ingatan, dan pola berpiki. sekitar 1-2 tahun kemudian dibandingkan dengan teman sebaya (Carroll, 2002. Gouwens. Kaznowski, 2. Saat ini masih banyak sekolah masih menyelengarakan pendidikan yang ditujukan kepada anak yang memiliki kemampuan rata-rata atau lebih. Peserta didik yang lamban dalam mengikuti proses pembelajaran . ow learne. kandang menjadi beban bagi guru, menjadi bahan tertawaan anak yang lain, dianggap musibah, dan yang paling mengkhawatirkan adalah guru tidak lagi memiliki keinginan untuk memfasilitasi anak tersebut. Guru Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner berprinsip lebih baik Aumengorbankan satu anak ketimbang dua puluh anakAy. Pada umumnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah dewasa ini masih berjalan klasikal. Pembelajaran seorang guru di dalam kelas menghadapi sejumlah besar siswa dalam waktu yang sama menyampaikan bahan pelajaran yang sama pula. Bahkan metodenya pun satu metode yang sama untuk seluruh anak didik. Guru beranggapan bahwa seluruh siswa dalam satu kelas mempunyai kemampuan, kesiapan dan kematangan, serta kecepatan belajar yang sama. Dapat kita bayangkan sebagai akibat pengajaran klasikal ini, guru tidak memperdulikan adanya perbedaan individual pada siswa-siswanya. Siswa yang cepat akan terhambat kemajuannya oleh kawan-kawan yang lain, sebab mereka yang dalam satu kelas dituntut harus maju bersama-sama. Sebaliknya anak yang lambat seolah-olah dipaksakan untuk berjalan cepat. Hal ini mendorong pembelajaran tidak belajar efektif efisien dan tidak Ketidakmampuan guru melihat perbedaan-perbedaan individual anak dalam kelas yang dihadapi, banyak membawa kegagalan dalam memelihara dan membina tenaga manusia secara efektif. Pengajaran klasikal yang melihat sejumlah anak dengan pemberian pengajaran yang sama ini, tentu saja tidak sejalan dengan asas pembelajaran yang bersifat perbedaan individu, yang menekankan bahwa pembelajaran harus mampu melihat adanya perbedaan yang dimiliki setiap individu. Siswa berbeda dalam kondisi jasmani seperti anak yang tidak normal, anak normal, dan bahkan perbedaan kebiasaan seperti pemakaian bahasa, sikap dorongan belajar, sebagai akibat lingkungan sosial yang berbedabeda. Perbedaan individual anak semacam itu perlu mendapat perhatian guru di kelas apabila mereka mengharapkan agar setiap anak dapat berhasil, yaitu dapat mengembangkan potensial secara penuh, yang justru sangat diperlukan untuk mendukung kemajuan ekonomi dan teknologi masyarakatnya (Suryosubroto, 1997:83-. Kalau siswa tidak diberdayakan sesuai potensi dan perbedaanperbedaan yang dimilikinya, persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana masa depan peserta didik yang slow learner tersebut. Oleh karenanya, guru sebagai orang yang dekat dalam proses pembelajaran, orang tua sebagai pendidik pertama dan utama, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, perlu memiliki pemahaman yang komprehensif terkait dengan anak slow learner, bagaimana gejalanya, apa faktor penyebab terjadinya, dan bagaimana cara penanganannya. Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner Pemahaman terhadap perbedaan anak, sangatlah diperlukan oleh guru, terutama untuk mengelompokan siswa dan menyusun tujuan pembelajaran yang sesuai tumbuhkembang peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Slow Learner Secara terminologi slow learner diartikan orang yang mengalami keterlambatan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Chaplin . mengatakan, slow learner suatu istilah nonteknis yang dengan berbagai cara dikenakan kepada anak-anak yang sedikit terbelakang secara mental, atau yang berkembang lebih lambat dari kecepatan normal. Anak slow learner anak yang bodoh atau anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata. Mereka memiliki rata-rata IQ antara 70-90 (Cooter & Cooter Jr, 2014. Wiley, 2. , sebuah tingkatan IQ yang memungkinan seseorang dapat belajar dengan baik. Mereka cenderung memiliki tingkat pengusaan materi yang rendah, padahal materi tersebut merupakan prasyarat bagi kelanjutan di pelajaran berikutnya, sehingga mereka sering harus mengulang (Bruton, dalam Sudrajat, 2. Mereka . low learne. , bukan tergolong anak terbelakang mental, mereka memiliki prestasi belajar rendah atau di bawah rata-rata anak pada umumnya pada salah satu atau seluruh area akademik. Siswa yang lambat dalam proses belajar, biasanya membutuhkan waktu yang lebih, dibandingkan sekelompok siswa lainnya, yang memiliki taraf pontensi intelektual yang sama (Nadhir, dkk, 2009 : 12-14. Ratna & Dany, 2011: 144 dan Surya,1985 : . Dalam teorinya, anak yang mengalami keterbelakang . ambat dalam belaja. dikelompokkan menjadi tiga kategori. Kategori pertama terdiri dari siswa yang sangat terbelakang karena perkembangan mental terbelakang yang sering disertai kendala tambahan, seperti kekurangan fisik, sakit-kesehatan, dan pengalaman verbal terbatas di rumah dan emosional gangguan. Masalah pendidikan mereka sangat akut sehingga membutuhkan pendidikan khusus perawatan di luar sekolah biasa. Kategori kedua terdiri dari under achievers yang kemampuannya tidak begitu terbatas tapi tetap memiliki lebih banyak kesulitan dalam belajar daripada rata-rata anak-anak. Tidak adanya sekolah, keadaan pribadi yang tidak menguntungkan, atau lingkungan yang tidak memadai kondisi keterbatasan lebih lanjut kemajuan mereka. Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner Kegagalan untuk mengenali dan menyediakan untuk masalah mereka adalah salah satu penyebab utama penyebab keterbelakangan mereka. Kategori ketiga terdiri dari pembelajar lambat yang memiliki kemampuan kognitif sangat terbatas. Penyebab kegagalan mereka berkisar kesulitan perseptual tertentu terhadap ketidaksesuaian Siswa-siswa ini membutuhkan beberapa bentuk pengajaran khusus atau remedial untuk membuat kemajuan yang nyata (Kirk. dan Chauhan . Siswa yang lamban, yang memiliki IQ rata-rata, dan siswa yang berbakat dapat diklasifikasikan sesuai dengan tingkat belajar mereka. Istilah "terbelakang" atau "pelajar yang lamban" hanyalah diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak mampu mengatasi masalah tersebut, bukan pada sisi tingkat kepemilikan IQ. Slow leraner tidak ada kaitan dengan kecerdasan dan keterbelakangan Slow learner hanyalah sebuah kondisi dimana seseorang membutuhkan waktu yang bebeda dengan orang lain untuk memahami sebuah konsep, materi, dan mengikuti proses belajar mengajar. Anak slow learner bukan anak bodoh, bukan anak bermasalah, dan bukan anak yang harus diperlakukan secara tidak wajar oleh guru dalam sebuah proses belajar mengajar. Tetapi anak yang harus memperoleh perlakukan sama seperti anak-anak yang lainya. Ciri-ciri Slow Learner Menurut Rashmi Rekha Borah dalam Jurnal yang berjudul AuSlow Learners: Role of Teachers and Guardians in Honing their Hidden Skills. Volume 3. Nomor 2 . , 139-143: AuSecara umum, siswa belajar lambat menunjukkan beberapa karakteristik berikut ini : Pertama, pelajar yang lamban berulang kali tidak dewasa dalam hubungan mereka dengan orang lain dan berperilaku buruk di . Kedua, mereka tidak bisa melakukan banyak masalah atau kompleks dan bekerja dengan baik perlahan. Mereka kehilangan jejak waktu dan tidak bisa menyampaikan apa yang telah mereka pelajari dari satu tugas ke yang lain dengan baik. Mereka tidak mudah menguasai keterampilan yang bersifat akademis, seperti tabel atau aturan ejaan. Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner . Mungkin sifat yang paling menjengkelkan adalah ketidakmampuan mereka untuk memiliki tujuan jangka panjang. Menurut Nadhir, dkk . 9 : 12 -. , gejala atau ciri anak yang mengalami slow learner dapat dilihat dari beberapa ciri berikut ini : Memiliki perhatian dan konsentrasi yang singkat. Mereaksi yang lambat. Kemampuan untuk mengerjakan hal-hal yang abstrak dan menyimpulkan terbatas. Kemampuan terbatas dalam hal menilai bahan yang relevan. Keterlambatan dalam menghubungkan dan mewujdukan ide dengan kata-kata. Gagal mengenal unsur dalam situasi baru. Belajar lambat dan mudah lupa. Berpandangan yang sempit. Dan tidak mampu menganalisa, memecahkan masalah, serta berpikir Sedangkan menurut Nurjan dkk. 9: . gejala-gejala anak yang lambat belajar antara lain: . Perhatian dan konsentrasi singkat . Reaksinya lambat . Kemampuan terbatas untuk mengerjakan hal-hal yang abstrak dan menyimpulkan. Kemampuan terbatas dalam menilai bahan yang relevan . Kelambatan dalam menghubungkan dan mewujudkan ide dengan kata-kata. Gagal mengenal unsur dalam situasi baru . Belajar lambat dan mudah lupa . Berpandangan sempit, tidak mampu menganalisa, memecahkan masalah, dan berfikir kritis. Menurut Roldan dalam bukunya Learning Disabilities and Their Relation to Reading, mengemukakan pendapatnya bahwa ciri-ciri umum siswa lamban belajar adalah sebagai berikut: Penyebab Slow Learner Secara umum, penyebab slow learner terdiri dari dua yaitu faktor dalam diri anak . dan luar diri anak . Yang termasuk faktor intern adalah: Kemampuan dasar . ntelegensi/kecerdasan. Khadijad, 2016 : 89. Sarlito, 2013. yang dimiliki oleh peserta didik. Kuranya bakat khusus untuk situasi belajar tertentu. Kurangnya motivasi atau dorongan untuk belajar. Terkait dengan motivasi atau semangat belajar ini. Abu-Hamaor & Al-Hmouz pernah melakukan penelitian dengan judul A Study of Gifted High. Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner Moderate, and Low Achievers in Their Personal Characteristics and Attitudes Toward School and Teachers, 2. Situasi pribadi terutama emosional yang dihadapi peserta didik Faktor jasmaniah, seperti cacat tubuh. Faktor bawaan . seperti buta warna, kidal, cacat tubuh, dan sebagainya (Surya, 1985 : 87-. - termasuk intelegensi. Berdasarkan 111 penelitian yang diidentifikasi dalam sebuah survei pustaka dunia tentang persamaan intelegensi dalam keluarga (Atkinson, dkk, 1983 : 133 dalam Agustin, 2014 : . , terdapat korelasi antara IQ orang tua dan anaknya. Semakin tinggi proporsi gen yang serupa pada dua anggota keluarga, semakin tinggi kolerlasi rata-rata IQ mereka. Hubungan korelasi kembar satu zigot diasuh bersama 0,82, diasuh terpisah 0,47, diasuh terpisah 0,24. Orang tua/anak 0,40. Orang tua angkat/anak 0,31. saudara sepupu 0,15. Sedangkan faktor ektern berupa lingkungan. Lingkungan yang baik dapat mempengarhui anak untuk memiliki IQ yang tinggi, begitu Menurut Atkinson, dkk, 1993 : . , gen dapat dianggap penentu batas atas dan bawah intelegensi atau penentu rentang kemampuan intelektual, tetapi pengaruh lingkungan akan menentukan dimana letak IQ anak dalam rentang tersebut. Penelitian BPPS . membuktikan bahwa ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi budaya keluarga dengan mental subnormalisasi anak. Lingkungan bisa berarti asupan nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi, iklim emosional keluarga, pola komunikasi yang digunakan kelurga, serta gaya perlakuan apa yang digunakan keluarga terhadap anak. Lingkungan juga berati semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivias belajar anak. Dalam pandangan Muhibin Syah ( 2014 : . , lingkungan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu. Lingkungan keluarga, contoh ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga. Lingkungan perkampungan/masyarakat, perkampungan kumuh . lum are. dan teman sepermainan . eer grou. yang nakal. Lingkungan sekolah, contoh kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah. Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner Kelainan slow learner menggambarkan adanya sesuatu yang kurang sempurna pada pusat susunan syaraf, kemungkinan ada syaraf yang tidak berfungsi lagi karena telah mati atau setidak-tidaknya telah lemah. Keadaan yang demikian biasanya terjadi semasa anak masih dalam kadungan ibunya, atau pada saat dilahirkan, atau dapat pula karena faktor dari dalam . dan luar . Dalam padangan psikolog Asep Harul Ghani, ada tiga hal yang menyebabkan anak mengalami slow learner yaitu : Salah persepsi. Anak bisa mempersepsikan guru sebagai sosok yang tidak menyenangkan, membosonkan, bahkan menakutkan. Persepsi ini akan berdampak lemahnya motivasi anak untuk mengikuti proses belajar mengajar. Ketika motivasi lemah maka diduga akan berdampak terhadap lembatnya belajar. Akan juga bisa mempersepsikan bahwa mata pelajaran yang diikutinya adalah mata pelajaan yang sulit, tidak menyenangkan, dan membosankan. Ketika kondisi ini terjadi, maka akan berdampak pula pada lemahnya motivasi mengikuti proses pembelajaran, dan akhirnya anak mengalami lambat dalam mengikuti proses pembelajaran tersbut. Gangguan Emosi. Adakalanya anak datang ke sekolah membawa situasi emosi yang tidak menguntungkan. Misalanya anak berangkat ke sekolah meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Hal ini akan mempengaruhi emosi anak dalam mengikuti pelajaran. Dia tidak dapat focus terhadap materi yang disampaikan guru, akibatnya dia lambat dalam memahami materi, dan akhrinya akan berpengaruh terhadap prestasi akademiknya. Kesalahan kebiasaan dalam belajar. Anak yang belajar dengan kebiasaan yang jelek maka akan memiliki kesulitan dalam belajar. Misalnya ada anak yang kebiasaan menulisnya adalah cara miring, maka dia akan sangat membutuhkan energi yang lebih banyak. Ketika energi yang dikeluarkan lebih banyak, maka emosi dia akan Ketika emosi anak terganggu maka akan mengganggu terhadap fokus belajar, dan akhrinya akan mempengaruhi cepat lambatnya anak memahami materi pelajaran di kelas. Penanganan Anak Slow Learner Untuk menangani anak slow learner dibutuhkan pengetahuan dan Menangani anak slow learner pada proses belajar mengajar, guru dapat mempertimbangan banyak hal antara lain: Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner Pahami bahwa anak membutuhkan lebiah banyak pengulangan, 3 sampai 5 kali untuk memahami suatu materi dibanding akan yang Maka kebutuhan penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan famileir yang dapat membantu proses generalisasi. Kegiatan tutorial baik di sekolah mapun di rumah. (Elu Jangid & Umed Sigh Inda. Gunakan metode demonstrasi dan pentunjuk visual sebanyak mungkin untuk menghindari verbalisme. Pada awal pembelajaran ajarkan konsep yang sederhana untuk modal memahami pelajaran berikutnya. Sederhanakan petunjuk. Kenali gaya belajar anak, baik visual, auditori, maupuan kinestetik. Merujuk pada ketiga faktor penyebab terjadinya slow learner yaitu. tejadinya salah persepsi, gangguan emosi, dan kebiasaan yang salah dalam belajar, maka penanganannya antara lain : Kesalahan persepsi Untuk menghindari terjadinya kesalahan persepsi anak, sebelum proses belajar mengajar guru harus mampu menjadi guru yang menyenangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan guru mampu menampilkan sikap dan sifat ke Dalam sebuah mahfudhot dikatakan AuKun Abban Qobla An Takuuna MurobbianAy . adilah engkau bapak/ibu sebelum engkau menjadi Maksudnya, sebelum engkau menampilkan sebagai guru, tampilkan duru sikap,sifat dan kasih sayang sebagai orang tua. Ketika kondisi tersebut sudah terbangun, maka persepsi anak yang positif terhadap guru akan Sementara untuk mengatasi persepsi yang salah terhadap materi, guru dapat mendesain pembalajaran dengan desain yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang merangsang anak untuk aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan . oy learning ful. Melalui pembiasaan, anak akan merubah persepsi yang awalnya materi dianggap sulit, menjadi . Gangguang Emosi. Menghadapi anak yang mengalami gangguan emosi, guru harus mampu menghargai anak sesuai kondisi emosi saat itu. Misalnya ada anak yang di kelas terdiam, guru harus segera mendakati anak dan berkomunikasi. NakA. kenapa murung? Ada apa di rumah?. Dan sebagainya. Sadarilah ketika anak dalam kondisi emosi seperti ini, lalu guru menyapanya, maka Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner anak akan merasa ada yang memperhatikan. Dan dari kondisi itupula akan mampu menstabilkan emosi anak. Kesalahan kebiasaan dalam belajar. Menghadapi anak yang kebiasaan belajar yang salah, guru dapat melakukan perlakuan dengan merubah kebiasaan tersebut dengan kebiasaan yang baik. Proses merubahnya dengan melakukan kebiasaan belajar yang baik secara perlahan-lahan. Dalam kasus kebiasaan menulis sambil miring misalnya, guru mengajak anak untuk berlatih menulis dengan kertas berada di depan dada dan posisi duduk yang tegak. Kalau perlakukan ini rutin dilakukan, maka akan akan menjdi terbiasa menulis dengan benar. Ketika menulis dengan benar, berati anak tidak banyak mengeluarkan energi yang banyak sehingga tidak menyedot emosinya. Ada tujuh hal yang juga dapat dilakukan oleh guru untuk mengatasi anak slow learner, yaitu : Memahami karakteristik anak. Sebelum menerapkan suatu metode dalam mengatasi anak yang lambat dalam memahami pelajaran, terlebih dahulu guru harus tahu bagaimana karakter anak tersebut. Misalkan apakah Anak tersebut nakal atau malas, hiperaktif, pendiam, penyendiri dan lain-lain. Menerapkan metode tertentu kepada anak yang lambat memahami Setelah mengetahui karakter anak langkah selanjutnya adalah memilikan metode pembelajaran yang bisa mengatasi masalah anak yang lambat memahami pelajaran, metode tersebut cukup diterapkan pada anak yang terkait. Hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif metode yang digunakan dalam mengatasi anak tersebut selain itu anak yang mengalami kesulitan belajar memang harus diperlakukan istimewa dari anak yang lain. Memilikan tempat duduk yang tepat. Langkah lainnya dalam mengatasi anak yang lambat memahami pelajaran adalah dengan memberikan posisi atau tempat duduk yang membuatnya bisa lebih jelas mendengar penjelasan guru, sebaiknya anak yang lambat memahami pelajaran diberikan tempat duduk diposisi paling depan. Hal tersebut bertujuan agar guru mudah mengontrol siswa yang terkait, dan siswa akan lebih fokus dalam menerima pelajaran. Teman sebangku yang cerdas dan penolong. Metode lain dalam mengatasi anak yang lambat memahami pelajaran adalah memilikan Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner teman sebangku yang cerdas dan memiliki jiwa sosial. Sehingga ketika anak yang lambat dalam memahami pelajaran tidak paham suatu hal kemudian bisa bertanya kepada teman sebangku selain itu ketika dia duduk berdekatan dengan anak yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar, anak tersebut lama kelamaan juga akan tertular oleh semangat belajar yang dimiliki teman sebangkunya. Memberikan tugas tambahan . Cara yang bisa guru lakukan dalam meningkatkan pemahaman siswa yang lambat dalam memahami pelajaran adalah dengan memberikan tugas tambahan. Tugas tambahan tersebut bisa berupa PR dalam bentuk teks atau tugas membaca dll. Tujuannya adalah agar anak bisa mengejar ketertinggalan dari siswa lain yang memiliki tingkat pemahaman yang cukup baik. Meminta bimbingan guru BK. Langkah lainnya dalam mengatasi anak yang lambat memahami pelajaran adalah dengan meminta bantuan kepada guru BK agar menangani anak tersebut. Karena seperti yang kita ketahui tugas guru BK adalah menganalisa faktor atau penyebab munculnya suatu masalah belajar yang dialami peserta Dan guru BK memang dibekali dengan ilmu yang membahas tentang bagaimana cara Mengatasi siswa yang bermasalah baik dalam aspek psikologis atau dalam aspek aplikatif. Konsultasi dengan orang tua anak atau siswa. Cara lain dalam mengetahui penyebab seseorang lambat dalam memahami pelajaran adalah dengan konsultasi langsung dengan orang tua siswa. Baik menanyakan bagaimana perilaku anak ketika berada di rumah, kebiasaan anak atau hubungan emosional antara orang tua dan anak. Selain itu guru juga bisa memberikan arahan kepada orang tua anak bagaimana sebaiknya mendidik anak dengan baik dan benar. Karena biasanya masalah belajar yang ditampakkan oleh anak di sekolah berasal dari lingkungan keluarga misalkan kondisi keluarga anak yang tidak harmonis, ekonomi keluarga yang rendah, perhatian orang tua yang minim dll sehingga berdampak pada sikap dan tingkah laku anak di sekolah. ttp://w. com/2016/12/17, diunduh 31 Oktober 2. Anak adalah titipan dan amanah dari Allah Swt. Dalam diri anak melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya (Delphie . dalam Ali dkk, 2007 : . Oleh karenanya anak harus difasilitasi supaya tubuhkembangnya sesuai kehendak Allah. Sungguh sangat berdosa, ketika Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner orang tua dan guru mensia-siakan amanat tersebut. Anak slow learner harus ditangani secara serius, kalau tidak maka anak akan kehilangan masa Sesungguhnya masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur, paling panjang, dan paling dominan bagi seorang murrobi . untuk menanamkan norma-norma yang mapan dan arahan yang bersih ke dalam jiwa dan sepak terjang anak-anak didiknya. Apabila masa ini dapat dimanfaatkan oleh seorang murobbi secara maksimal dengan sebaikbaiknya, tentu harapan yang besar untuk berhasil akan mudah diraih pada masa mendatang, sehingga kelak sang anak akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang tahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan, beriman, kuat, kokoh, lagi tegar. (Rahman, 2000 : . Penanganan anak slow learner dapat dilakukan dari dua sudut, yaitu sudut prevenatif dan kuoretif. Dari sudut preventif lebih diarahkan pada upaya menekan terjadinya kealinan, terutama kelainan negatif melalui pendekatan medis maupun psikologis dan pedagogis. Upaya koretif melalui pemberian tindakan dan pengobatan yang tepat baik dengan pendekatan medis maupun psikologis pedagogis (Purwanta, 2. PENUTUP Dari pembahasan di atas, kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut : Hakikat slow learner adalah kondisi dimana seseorang siswa membutuhkan waktu yang relatif lama berbeda dengan siswa yang memiliki taraf pontensi intelektual yang sama. Ciri anak yang mengalami slow learner dapat dilihat dari beberapa hal. Memiliki perhatian dan konsentrasi yang singkat. Mereaksi yang lambat. Kemampuan untuk mengerjakan hal-hal yang abstrak dan menyimpulkan terbatas. Kemampuan terbatas dalam hal menilai bahan yang relevan. Keterlambatan dalam menghubungkan dan mewujdukan ide dengan kata-kata. Gagal mengenal unsur dalam situasi Belajar lambat dan mudah lupa. Berpandangan yang sempit. Dan tidak mampu menganalisa, memecahkan masalah, serta berpikir kritis. Secara umum penyebab slow learner terdiri dari dua yaitu faktor dalam diri anak . dan luar diri anak . termasuk didalamnya kesalahan persepsi anak, gangguan emosi, dan kebiasaan belajar yang salah. Penaganannya anak slow learner, antara lain dalam bentuk preventif dan korektif baik dengan pendekatan medis, psikologis, maupun pedagogis. Ada beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan antara lain : Madrosatuna: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1. 12-25 Nana Suryana Problematika Slow Learner Guru lebih memahami perbedaan-perbedaan anak . iferensiasi individua. , baik karakter dan gaya belajar anak, sehingga memudahkan untuk menentukan kelas dan materi yang disampaikan sesuai tumbuhkembang anak. Orang tua menyiapkan lingkungan sosial dan kultur yang memungkinkan anak tumbuhkembangan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA