Volume 10. Nomor 01. Juni 2019 Hal. HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PENGENDALIAN FAKTOR RESIKO PREDIABETES (Relationship Level of Knowledge and Control Behavior Towards the Risk Factors in Prediabete. Puguh Santoso*. Novita Setyowati* * Departemen KMB. Akper Dharma Husada Kediri ABSTRAK Prediabetes adalah gangguan toleransi peran insulin yang tidak maksimal dimana belum terkategori ke dalam DM. Tanda dan gejala yang tidak diketahui oleh penderita prediabetes dalam 3-5 tahun mendatang tanpa adanya modifikasi gaya hidup dan pemeriksaan atau monitoring glukosa darah secara rutin dapat berubah menjadi DM tipe 2. Oleh karenanya penderita sangat perlu memiliki perilaku pengendalian agar manifestasi menjadi DM tidak terjadi. Perilaku pengendalianakan dilakukan dengan baik apabila didahului oleh tingkat pengetahuan dan sikap yang baik dari penderita prediabetes itu sendiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pengendalian terhadap factor resiko pada prediabetes. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan sudah dilakukan uji validitas sebelum digunakan. Sample yang digunakan sebanyak 40 orang dengan teknik pengambilan sample Purposive Sampling. Analisa data menggunakan uji Spearmant rank untuk menguji hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku, sedangkan uji analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan Sikap dengan Perilaku factor resiko. Hasil penelitian didapatkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik dengan perilaku yang baik yaitu sebanyak 25 orang . ,12%) dengan p-value 0,000 (<0,. yang artinya terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku pengendalian factor resiko. Berdasarkan hasil tersebut maka pencegahan primer dengan KIE . onfirmasi, informasi , dan edukas. tentang kondisi prediabetes dan perilaku pengandalian factor yang beresiko menjadi DM sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat khususnya kelompok beresiko. Kata kunci : Prediabetes. Tingkat Pengetahuan. Perilaku Pengendalian ABSTRACT Prediabetes is a disorder of tolerance to the role of insulin that is not optimal where it has not been categorized into DM. Signs and symptoms unknown to people with prediabetes in the next 3-5 years without lifestyle modification and routine blood glucose testing or monitoring can turn into type 2 diabetes mellitus. Therefore patients need to have control behaviors so that manifestations of DM do not occur. Control behavior will be done well if it is preceded by a good level of knowledge and attitude from the prediabetes sufferer. The purpose of this study was to find out whether there was a relationship between the level of knowledge and control behavior towards the risk factors in prediabetes. This research method is quantitative, the research design used is descriptive correlative with a cross sectional approach. Data collection uses questionnaires and validity tests have been carried out before use. The sample used was 40 people with Purposive Sampling sampling techniques. Data analysis used the Spearmant rank test to test the relationship between the level of knowledge and behavior, while the ChiSquare analysis test to determine the relationship between Attitudes and Risk Factor Behavior. The results showed the majority of respondents had a good level of knowledge with good behavior as many as 25 people . 12%) with p-value 0,000 (<0. which means there is a relationship between the level of knowledge and behavioral. Primary prevention with IEC . onfirmation, information, and educatio. about the condition of prediabetes and the behavior of controlling the risk factors for DM can increase knowledge and awareness of the community, especially groups at risk. Keywords: Prediabetes. Level Knowledge. Control behavior PENDAHULUAN 336 penduduk atau sekitar Menurut estimasi data WHO maupun 564 penduduk mengalami DM. IDF memaparkan data angka kasus Yang telah terdiagnosis sebesar 30,4% DM di Indonesia berdasarkan hasil atau sekitar 3. 236 penduduk dan survey tahun 2008 menempati urutan yang belum terdiagnosis sebesar 69,4% ke empat tertinggi di dunia setelah atau sekitar 8. 329 penduduk Cina. India dan Amerika yaitu 8,4 juta Penyandang pre diabetes seringkali tidak menyadari kadar glukosa yang melebihi 21 juta jiwa pada tahun 2025 meningkat akibat tidak ada tanda dan sedangkan onset prediabetes masih ditegakkan DM, adanya komplikasi Ketika Sedangkan WHO mikrovaskuler meningkat 2-4 kali lipat PERKENI, (Soegondo, 2008. Fajriyanti, 2. Hal lebih tinggi dua kali lipat daripada tersebut terjadi akibat keterlambatan diabetes (Garber et al, 2008 dalam Sovia. Etty. Kuntarti, 2. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2013 melakukan wawancara untuk Penyebab prediabetes menjadi DM tipe menghitung proporsi diabetes mellitus 2 dipengaruhi oleh berbagai factor pada usia15 tahun ke atas. Dan resiko, seperti obesitas. BMI, aktivitas hasilnya menunjukkan sebesar 6,9% fisik, asupan makanan karbohidrat, protein, lemak, dan serat. paham bagaimana dan mengapa harus mengubah perilakunya. Oleh karena itu, peneliti menjadi Modifikasi gaya hidup perlu dilakukan tertarik untuk melakukan penelitian oleh penderita prediabetes dimana pengetahuan terkait perawatan diri dan tentang perilaku pengendalian factor pencegahan tentang prediabetes harus berjalan maksimal. Keberhasilan dalam mencapai perubahan sikap maupun METODE DAN ANALISIS perilaku membutuhkan pembelajaran. Penelitian . (Wulandini, dkk, 2. Pengetahuan observasional dengan menggunakan atau kognitif merupakan aspek yang pendekatan crosectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sukorame. terbentuknya tindakan atau perilaku Populasi penelitian ini adalah semua Pengetahuan merupakandasar DM. Sedangkan sampel yang digunakan berjumlah 50 Pemilihan selanjutnya mempunyai inisiatif untuk Dengan melakukan suatu tindakan berdasarkan pengetahuannya, perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan dan sikap yang positif akan berlangsung lama . ong lastin. (Notoatmodjo, 2. Semakin banyak penderita prediabetes mengerti tentang terdiagnosa DM, dengan pemeriksaan GDP 100-125 mg/dl dan TGT dengan GDPP 140-199 mg/dL dan mampu pengetahuan (Notoatmodjo, 2. Perilaku responden berusia 40-59 tahun, tidak melakukan aktivitas secara mandiri, mampu menjawab pertanyaan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kadar gula darah pada pasien DM pengendalian factor resiko. Instrument Tabel 1Data Karakteristik Responden Puskesmas Sukorame Kota Kediri pengetahuan pengendalian kadar gula darah diukur dengan menggunakan Usia < 45 tahun 45-50 tahun Eo 50 tahun Jenis Kelamin Pendidikan Laki laki Perempuan SMP SMA Bekerja Tidak bekerja Instrumen pengetahuan mengacu pada Wakeup For Karakteristik Prediabetes 2007terdiri dari 25pertanyaan dengan bentuk Closed Ended Questions jenis Dichotomy Question dengan jawaban AuYaAy . dan AuTidakAy . (Nursalam. Untuk observasi, responden mengisi lembar observasi factor factor yang beresiko (Aktivitas. IMT). Uji hipotesis yang mengunakan Pearson correlations , uji ini menguji dua variabel apakah ada hubungan atau Pekerjaan Prosentase (%) Tabel 1. 2 Distribusi kadar glukosa darah responden di wilayah kerja Puskesmas Sukorame Kota Kediri Status TGT GDPT GDPT TGT Total Frekuensi Prosentase (%) Dari prosentase kadar glukosa darah terlihat jumlah keseluruhan prediabetes dengan prosentase GDPT 54% . tidak antara tingkat pengetahuan dan perilaku pengendalian factor factor resiko prediabetes. Jika harga p value , 0,05 maka Ho ditolak yang artinya ada huungan antara dua variabel tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan tabel 1. 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 50 tahun . ,3%), mayoritas jenis kelamin perempuan . %) dengan tingkat pendidikan SMP . ,9%) serta tidak bekerja . ,6%). Tabel 1. 3 Distribusi Data Responden Perilaku Pencegahan Faktor Resiko Puskesmas Sukorame Kota Kediri Faktor Resiko Aktivitas fisik Kepatuhan . Baik . (%) Berdasarkan Perilaku Pengendalian Sedang Kurang . (%) . (%) responden dominan baik . %) dan kepatuhan asupan energy berkategori cukup . %). Tabel 1. 4 Uji Pearson Correlation pengendalian di wilayah kerja Puskesmas Sukorame Kota Kediri . Tingkat Perilaku Pengendalian Baik Sedang Kuran P = 0,000 Baik Cukup Kura-ng Total dan perilaku pengendalian yang cukup sebanyak 19 orang . %). Hasil uji pearso correlation menunjukkan p value 0,000. Hasil ini membuktikan hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pengendalian factor resiko pada prediabetes di wilayah Puskesmas puskesmas sukorame Kota Kediri Hal terjadi karena mayoritas responden berpendidikan tamat SMP dan SMA sehingga responden pernah mengenal dominan memiliki tingkat pengetahuan responden prediabetes di wilayah pengendalian menunjukkan responden sebanyak 38% tingkat pengetahuan Jumlah Hasil uji analisis hubungan tingkat Hasil penelitian ini menunjukkan Sukorame Kota tentang penyakit DM. hasil penelitian Fajriyanti . yang menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan prediabetes sudah baik. Perilaku pengendalian kadar glukosa darah pada sebagian responden masih cukup . %), hal ini sejalan dengan penelitian Fajriyanti . bahwa pengendalian kadar glukosa darah yang buruk dapat berpengaruh pada DM, prediabetes yang tidak memodifikasi Kediri. perilaku yang beresiko 3-4 tahun kemudian akan menjadi DM Tipe 2. Pembahasan Pengetahuan mengenai prediabetes merupakan salah satu variabel yang prediabetes menjadi DM dimana sehingga membentuk pola perilaku yang khas. Rerata usia responden berusia 53 tahun dengan pengendalian kadar glukosa darah buruk. Pada proses penuaan, sel beta pankeas mengalami penurunan baik jumlah dan fungsinya Penelitian yang dilakukan oleh Catur A . yang menyebutkan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki pengendalian kadar glukosa darah atau metode. Sebesar 50% responden yang buruk. Hal ini sejalan dengan tidak mengonsumsi buah 2-4 porsi penelitian yang dilakukan dimana sehari, ada yang lebih dan ada yang tidak makan buah karena tidak begitu pengendalian buruk sebesar 80%. Dimana salah satu sifat wanita yang keterbatasan ekonomi dan takut gula menyukai selingan makanan yang darah tinggi jika makan buah karena cenderung manis. Selain itu hasil mengenai praktik diet DM yang belum Trsinawati . , diterapkan oleh responden. Berbagai menyebutkan bahwa sebagian besar kemungkinan faktor kurang baiknya berhubungan dengan kondisi glukosa darah juga sejalan dengan penelitian tumpukan lemak yang berlebih akan yang dilakukan oleh A. K Prima yang menghambat sistem kerja insulin didalam tubuh (Ellyza dkk, 2. pengukuran makanan/diet sehari-hari Secara umum responden mengaku hal yaitu pengetahuan, sikap, dukungan yang paling sulit dalam mengatur keluarga, dan jenis metode konseling makan adalah tidak dapat menahan (Sri Anani. Ari U. Praba G. nafsu makan dan sering merasa lapar. Asupan Sebesar 75% responden tidak mengatur komponen utama dalam makanan yang jadwal makan selingan karena tidak mengetahui cara mengatur jadwal dan glukosa darah. Karbohidrat disertai 62,5% protein menstimulasi sekresi insulin responden yang tidak menakar jumlah dan menurunkan respon glukosa darah makanan sesuai dengan kebutuhan terhadap glukosa. Selain hal tersebut. AungemilAy. Sebesar Dari Sudoyo makan dari sebelum didiagnosis DM dikarenakan tidak mengetahui cara dimakan akan dicerna menjadi asam amino, sedangkan asam amino yang masuk ke dalam tubuh berguna untuk resistensi terhadap insulin. Menurut teori Puspitasari . lemak tubuh, apabila asam amino pada pankreas merupakan lemak yang menyebabkan ketidakstabilan kadar Visceral Adipose Tissue (VAT), yaitu glukosa darah didalam tubuh Teori yang dikemukan oleh Depkes RI tubuh bagian dalam, semakin tinggi . menyebutkan bahwa asupan lemak maka sensitivitas insulin akan semakin rendah. organ-organ merupakan salah satu faktor penyebab diabetes mellitus, salah satu asupan makan tersebut adalah karbohidrat. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan makan maka semakan besar akan bahwa terdapat hubungan pengetahuan mengalami diabetes mellitus dan nilai tentang prediabetes sebesar 39,3% normal asupan karbohidrat didalam tubuh 45%-50%. Hal ini sesuai dengan Penanganan yang tepat hasil penelitian terkait pengendalian untuk prediabetes dengan memberikan . =0,. Asupan dibuktikan dalam penelitian ini yaitu berkaitan dengan peningkatan oksidasi kebutuhan energi dan IMT. Hal sesuai dengan hasil penelitian terkait pengendalian asupan lemak masih buruk . =0,. Ketika lemak diolah untuk memperoleh energi kadar asam lemak didalam darah akan meningkat, tingginya asam lemak didalam darah Saran Prediabetes merupakan peringatan fase akan hadirnya DM hanya tidak ada keluhan yang khas sehingga banyak orang yang tidak mengetahui sehingga terhadap prediabetes. Kegiatan seperti pemerikasaan DM. KEPUSTAKAAN