Jurnal AGRINIKA. September-2020. : 130-142 Respon Berbagai Varietas Padi pada Lahan Organik dengan System of Rice Intensification (SRI) di Sragen Umi Barokah1* dan Untung Susanto2 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Subang. Indonesia *Korespondensi : barokahumi@yahoo. Diterima 05 September 2020/Direvisi 12 September 2020/Disetujui 23 September 2020 ABSTRAK Padi merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang mutlak harus terpenuhi. Strategi untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut yaitu dengan melakukan upaya peningkatan produktivitas dengan cara intensifikasi pertanian salah satunya adalah dengan penerapan teknologi terpadu menggunakan metode System of Rice Intensification (SRI) dan budidaya secara organik. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni tahun 2017 di desa Sambirejo. Kecamatan Sukorejo. Kabupaten Sragen. Sebanyak empat puluh varietas padi yang berasal Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. Subang Jawa Barat diuji dalam penelitian ini. Penanaman dilakukan secara pindah tanam dengan menggunakan bibit berumur 15 Hari Setelah Sebar (HSS) sebanyak 1bibit/lubang tanam pada plot berukuran 2 m x 2 m dengan dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Penelitian ditata dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan empat ulangan. Teknik budidaya dilakukan secara organik dengan petunjuk pengelolaan tanaman terpadu. Pengamatan dilakukan terhadap karakter keragaan agronomis dan hasil. Hasil analisis varian menunjukkan terdapat perbedaan antar varietas yang diuji pada semua karakter agronomis dan hasil. Varietas yang memberikan respon yang baik pada lahan organik dengan sistem SRI di lokasi penelitian adalah Varietas Membramo. Sintanur. Inpari 13. Inpari 32 dan Inpari 5 Merawu sedangkan varietas yang memberikan respon kurang baik pada penelitian adalah varietas Batutegi dan Lusi. Kata Kunci: Organik. Padi. Varietas ABSTRACT Rice is the most essential staple food of Indonesian. The strategy to meet these food needs is through efforts to increase productivity by means of agricultural intensification. One of efforts to increase productivity is the application of integrated technology using the System of Rice Intensification (SRI) method and organic cultivation. The research was conducted from March to June 2017 in Sambirejo. Sukorejo. Sragen. Forty rice varieties originating from the Center for Rice Research. Sukamandi. Subang. West Java were tested in this study. Planting was carried out by transplanting using 1 seedlings of 15 days after dispersing (HSS) / planting hole on a plot measuring 2 m x 2 m with a spacing of 20 cm x 20 cm. The research was organized using a completely randomized block design with four replications. Cultivation techniques are carried out organically with guidelines for integrated plant management. Observations were made on the character of the agronomic performance and yield. The results of the analysis of variance showed that there were differences between the varieties tested on all agronomic characters and yields. Varieties that responded well to organic land Page 130 of 13 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA with the SRI system at the study site were Membramo. Sintanur. Inpari 13. Inpari 32 and Inpari 5 Merawu varieties, while the varieties that responded poorly to the study were Batutegi and Lusi varieties. Keywords: Organic. Rice. Varieties PENDAHULUAN Padi . merupakan tanaman pokok masyarakat Indonesia dan 50% populasi manusia di dunia (Seyoum et al. Kebutuhan pangan nasional terus me-ningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk (Mahmud & Purnomo, 2. Berdasar data BPS total konsumsi beras per kapita sebesar 139 kg per tahun atau 380 gram per hari sehingga total kebutuhan beras nasional mencapai 28 juta ton per tahun dengan jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 sebesar 254,9 juta jiwa. sebesar 254,9 juta jiwa. Strategi untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut yaitu dengan melakukan upaya peningkatan produktivitas dengan cara intensifikasi antara lain dengan penggunaan varietas unggul, pemberian pupuk organik, pengairan yang cukup, dan peningkatan teknologi produksi Penerapan teknologi yang populer saat ini adalah teknik budidaya SRI (System Rice Intensificatio. (Berkelaar, 2. Metode SRI adalah teknologi produktivitas tanaman padi, pendekatan dalam praktek budidaya padi yang pengolahan tanah, tanaman, dan air yang ramah lingkungan. Keunggulan metode SRI : tanaman hemat air, hemat biaya, hemat waktu, produksi meningkat dan ramah lingkungan (Stoop, 2011. Zhao et , 2. Dibandingkan dengan praktik standar, pabrik SRI telah terbukti mengembangkan sistem root yang banyak (Barison & Uphoff, 2011. Thakur et al. , 2013. Uphoff, 2. Komponen dalam metode SRI adalah pemberian pupuk organik sesuai dengan kebutuhan Ketergantungan terhadap pupuk anorganik dan pestisida dalam usaha tani padi sangat tinggi, sehingga penggunaannya seringkali berlebihan. Hal ini terkait dengan respon tanaman terhadap penggunaan pupuk anorganik sangat cepat, nyata, dan didorong oleh adanya kebijakan pupuk murah melalui subsidi, terutama urea (Donggulo et al. , 2. Penggunaan pupuk kimia yang dilakukan secara terus menerus dapat mempengaruhi aktivitas organisme tanah dan menurunkan produktivitas pertanian padi dalam jangka panjang serta tidak ramah lingkungan (Maridjo et al. , 2. Penggunaan input buatan terutama pupuk dan pestisida untuk kegiatan di sektor pertanian ditengarai merupakan salah satu penyebab gejala kerusakan dan Penggunaan pestisida yang salah atau pengelolaannya yang tidak bijaksana akan dapat menim-bulkan dampak negatif baik langsung maupun tidak langsung bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Berdasarkan uraian di atas maka upaya peningkatan produktivitas sebagai upaya mengatasi kerusakan lingkungan dan sumber daya alam mulai diterapkan dengan sistem pertanian organik karena lebih sehat, aman dan ramah lingkungan. Pertanian organik merupakan kegiatan Page 131 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA bercocok tanam yang akrab dengan Pertanian organik berusaha meminimalkan dampak negatif bagi alam Pertanian organik merupakan pertanian masa depan. Ciri utama pertanian organik adalah penggunaan pupuk organik dan pestisida organik (Agarwal et al. , 2. Pertanian organik mendorong perbaikan sumber daya yang dimiliki manusia, yaitu perbaikan sumber daya alam, perbaikan sumber daya sosial, perbaikan sumber daya ekonomi, dan Pertanian organik diterapkan sebagai solusi untuk mem-perbaiki kualitas lahan adalah dengan penggunaan pupuk organik sebagai upaya untuk mengatasi ketergantungan terhadap pupuk kimia (Sulistyawati & Nugraha, 2. Para petani percaya bahwa mem-perbaiki tanah kesuburan merupakan salah satu bentuk investasi alami untuk beras mereka keberlanjutan karena mereka juga berpikir bahwa tanah yang lebih baik akan menghasilkan pendapatan dan kehidupan yang lebih baik (Sukristiyonubowo et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon berbagai varietas padi yang diterapkan dengan teknik budidaya SRI dengan menggunakan pupuk organik di Sragen. Jawa Tengah. BAHAN DAN METODE Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni tahun 2017 di desa Sambirejo. Kecamatan Sukorejo. Kabupaten Sragen. Lokasi penelitian sudah menerapkan budidaya tanaman secara organik mulai tahun 2012 bahkan sudah mendapat julukan desa organik. Sebanyak empat puluh varietas padi yang berasal Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. Subang Jawa Barat diuji dalam penelitian ini. Penanaman materi yang diuji dilakukan secara pindah dengan menggunakan bibit berumur 15 Hari Setelah Sebar (HSS) sebanyak 1bibit/lubang tanam pada plot berukuran 2 m x 2 m dengan dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Penelitian ditata dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan empat Teknik budidaya dilakukan Pengamatan dilakukan terhadap karakter keragaan agronomis tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbungaA jumlah malai, jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah hampa per malai, berat gabah isi per rumpun, seed set . , bobot 1000 butir dan hasil. Data hasil pengamatan diinput kemudian dianalisis dengan menggunakan software statistic SAS dan beda rata-rata antar galur diuji menggunakan metode uji DMRT pada ambang taraf kesalahan sebesar 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis varian menunjukkan terdapat perbedaan antar varietas yang diuji pada semua karakter agronomis dan hasil (Tabel . Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan yang terjadi memang diindikasikan karena perbedaan antar varietas padi, bukan semata karena pengaruh lingkungan. Hasil pengamatan pada karakter hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa varietas Inpari 13 memberikan respon hasil yang paling tinggi dibandingkan varietas yang lainnya pada budidaya Page 132 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA organik dengan sistem SRI yaitu 5. ton/Ha. Hal ini dikarenakan Inpari 13 memiliki jumlah anakan yang tinggi yaitu 13 anakan, jumlah malai 12 buah, berat gabah isi 32 gram/rumpun dan seed set atau fertilitas malai 76%. Namun demikian varietas Ciherang. Mekongga. Logawa. Membramo. Sintanur. Way Apo Buru. Cilamaya. Cisadane. Lusi. IR42. Inpari1. Inpari 5 Merawu. Inpari 6 Jete. Inpari 24. Inpari 32. Inpari 42. Inpari 43. Inpara 3. Inpara 5. Inpago 9. Hipa 8. Inpari Sidenuk. PR42096-B-4-1-SBY-0-CRB-0. BP14352e-1-2-3Op-Jk-0 dan Derti juga memberikan respon yang tinggi terhadap karakter hasil walaupun tidak berbeda Berbeda halnya dengan varietas Batutegi yang memberikan respon hasil yang paling rendah dibandingkan dengan varietas yang lainnya yaitu 2. 5 ton/ha. Ini dikarenakan varietas Batutegi memiliki jumlah anakan dan jumlah malai yang sedikit yaitu 6 anakan dan 4 malai sehingga hasilnya kecil. Meningkatkan potensi hasil dapat dilakukan dengan meningkatkan hasil biomas dan/atau indek panen. Meningkatkan biomas tidak sukar, karena dengan menanam tanaman pada lingkungan yang cukup sinar matahari dan lahan subur tanaman akan tumbuh dengan baik sehingga produksi biomasnya tinggi (Chapagain et al. Penggunaan pupuk organik di lahan sawah sangatlah penting karena dapat meningkatkan hasil gabah kering (Adviento-Borbe & Linquist, 2. , menyebutkan bahwa pupuk organik mampu meningkatkan hasil gabah padi kering panen secara nyata. Dalam meningkatkan produksi padi perlu produksi, termasuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah dengan memanfaatkan jerami padi. Menurut (Heffer et al. , 2. , pemberian 5 ton/ha jerami dapat meng-hemat pemakaian pupuk KCl sebesar 100 kg/ha dan penggunaan jerami padi sebanyak 5 ton/ha selama 4 musim tanam dapat menyumbang hara sebesar 170 kg K, 160 kg Mg, dan 200 kg Si. Varietas Cigeulis mempunyai tinggi tanaman paling pendek yaitu 85 cm dibandingkan dengan varietas yang lainnya sedangkan varietas Inpara 7 justru mem-berikan respon tinggi tanaman yang paling tinggi yaitu 124 cm jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Tanaman padi yang pendek biasanya tahan rebah sehingga akan mengurangi kegagalan panen. Karena itu, batang yang kokoh dan pendek merupakan sifat yang dibutuhkan untuk meningkatkan potensi hasil. Pada karakter pengamatan jumlah anakan, varietas Inpari 32 memiliki jumlah anakan dibandingkan varietas yang lainnya. Namun Ciherang. Ciliwung. Mekongga. Situ Bagendit. Logawa. Membramo. Sintanur. Way Apo Buru. Cilamaya Muncul. Aek Sibundong. IR42. Inpari 1. Inpari 5 Merawu. Inpari 9. Inpari 10. Inpari 19. Inpari 24. Inpari 25. Inpari 33. Inpari 38. Inpari 42. Inpari 43. Inpara 3. Inpara 5. Inpara 7. Inpago 9. Hipa 8. Hipa Jatim 2. Inpari Sidenuk. PR42096-B-4-1-SBY-0CRB-0. BP14352e-1-2-3Op-Jk-0 dan Derti memiliki jumlah anakan berkisar 1015 anakan. Ini berbanding terbalik Page 133 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA dengan varietas Batutegi yang memiliki jumlah anakan paling sedikit yaitu 6 anakan dibanding dengan varietas yang Tabel 1. Analisis varians karakter agronomis dan hasil 40 varietas padi yang ditanam pada lahan organik dengan sistem SRI di Sragen Variabel Pengamatan Nilai F Probabilitas Hasil Tinggi Tanaman Jumlah Anakan Umur Berbunga 50% Jumlah Malai Gabah Isi/malai Gabah Hampa/malai Berat Gabah Isi/rumpun Seed Set Berat 1000 butir Keterangan: ** = berbeda sangat nyata pada Pada karakter jumlah malai. Inpari 32 juga memiliki jumlah malai paling banyak yaitu 13 malai jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Namun demikian, varietas Ciliwung. Mekongga. Situ Bagendit. Membramo. Sintanur. Way Apo Buru. IR 42. Inpari 1. Inpari 5 Merawu. Inpari 6. Inpari 9. Inpari 10. Inpari 13. Inpari 24. Inpari 33. Inpari 38. Inpari 43. Inpara 3. Inpara 5. Inpago 9. Hipa Jatim 2 dan Derti juga memiliki jumlah malai per rumpun yang tinggi berkisar 9-12 malai walaupun tidak berbeda nyata. Ini berbeda dengan varietas Batutegi yang memiliki jumlah malai paling sedikit yaitu 4 malai per rumpun jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Perolehan jumlah malai per rumpun berkaitan erat dengan kemampuan tanaman menghasilkan mempertahankan berbagai fungsi fisiologis Semakin banyak anakan yang terbentuknya anakan yang menghasilkan 1%, * = berbeda nyata pada Hal ini sejalan dengan pendapat Murayama . yang menyatakan bahwa pada saat tanaman mulai bunga dialokasikan ke bagian generatif tanaman . dalam bentuk tepung. Selain itu, terjadi juga mobilisasi karbohidrat protein dan mineral yang ada di daun, batang dan akar untuk dipindahkan ke malai. Pada karakter pengamatan jumlah gabah isi per malai, varietas Batutegi justru memiliki jumlah gabah isi per malai paling banyak yaitu 169 butir jika dibandingkan dengan varietas yang Varietas Hipa 8 juga memiliki jumlah gabah isi per malai yang tinggi pula yaitu 144 butir walaupun tidak berbeda nyata. Berbeda halnya dengan varietas Lusi yang memiliki jumlah gabah isi per malai paling kecil yaitu 21 butir jika dibandingkan dengan varietas yang Persentase dan jumlah gabah lingkungan sebelum, pada saat atau Page 134 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA setelah pem-bungaan, terutama iklim . urah hujan dan jumlah hari huja. Selain itu, perbedaan jumlah gabah isi per malai yang dihasilkan dari masingmasing varietas disebabkan oleh faktor masing-masing (Aleminew et al. , 2019. Krishnan et al. Sarangi et al. , 2. Hal ini sejalan dengan pendapat Bandaogo et al. jumlah gabah isi per malai dipengaruhi oleh faktor genetik. Di samping itu faktor lingkungan ikut berperan dalam tinggi rendahnya jumlah gabah permalai. Dengan ketersediaan nutrisi yang cukup akan memacu pertumbuhan akar dan pembentukkan sistem perakaran tanaman yang baik sehingga tanaman dapat mengambil unsur hara lebih banyak sehingga akan memacu pembentukan bunga dan memperbesar presentase bu-nga jadi. Hal ini terjadi karena pemupukan organik di tanah selain memperbaiki struktur tanah, tanaman mudah menyerap unsur hara di dalam tanah dan meningkatkan kandungan hara di dalam tanah (Styger & Uphoff, n. Pada karakter pengamatan berat gabah isi per rumpun, varietas Inpari 13 memiliki berat gabah isi per rumpun paling tinggi yaitu 32 gram jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Varietas Ciherang. Mekongga. Situ Bagendit. Membramo. Sintanur. Way Apo Buru. Cisadane. Aek Sibundong. Inpari 5 Merawu. Inpari 6 Jete. Inpari 10. Inpari 24. Inpari 32. Inpari 33. Inpari 38. Inpari 43. Inpara 5. Inpago 9. Hipa 8 dan BP14352e-1-2-3Op-Jk-0 juga memiliki berat gabah isi per rumpun yang tinggi juga yaitu berkisar 22 sampai 29 gram walaupun tidak berbeda nyata. Berbeda halnya dengan varietas Lusi yang memiliki berat gabah isi per rumpun yang paling kecil yaitu 3 gram jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Varietas Inpago 9 memiliki jumlah gabah hampa per malai paling sedikit yaitu 18 butir jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Sama halnya dengan varietas Ciherang. Ciliwung. Mekongga. Situ Bagendit. Cigeulis. Membramo. Sintanur. Way Apo Buru. Cilamaya Muncul. Cisadane. Aek Sibundong. Inpari 1. Inpari 6 Jete. Inpari 7. Inpari 10. Inpari 13. Inpari 24. Inpari 32. Inpari 33. Inpari 38. Inpari 42. Inpari 43. Inpara 3. Inpara 5. Inpari Sidenuk. PR42096-B-4-1-SBY-0-CRB-0. BP14352e -1-2-3Op-Jk-0 dan Derti yang juga memiliki jumlah gabah per malai yang sedikit yaitu berkisar 20 sampai 40 butir. Ini berbanding terbalik dengan varietas Lusi yang justru memiliki jumlah gabah hampa per malai yang sangat banyak yaitu 103 butir. Jika suatu varietas jumlah gabah hampa per malainya sangat banyak maka hasil produksinya akan Berbeda jika suatu varietas jumlah gabah hampa per malainya sedikit maka hasil produksinya akan tinggi. Pada variabel pengamatan seed set atau fertilitas malai, varietas Situ Bagendit menunjukkan respon yang paling tinggi yaitu 85% jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Ini ditunjukkan sama dengan varietas Ciherang. Ciliwung. Mekongga. Cigeulis. Membramo. Sintanur. Way Apo Buru. Cisadane. Aek Sibundong. Inpari 1. Inpari 7. Inpari 10. Inpari 13. Inpari 24. Inpari 32. Inpari 33. Inpari 38. Inpari 42. Inpara 3. Inpara 5. Inpago 9. Hipa 8. Inpari Sidenuk. PR42096-B-4-1-SBY-0-CRB-0 Page 135 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA BP14352e-1-2-3Op-Jk-0 yang juga memiliki seed set atau fertilitas malai yang cukup tinggi yaitu berkisar 72 sampai Perbedaan persentase fertilitas malai ini diduga disebabkan oleh faktor genetik dari tiap varietas tanaman padi yang ditanam. Jika suatu varietas memiliki seed set atau fertilitas malai yang tinggi maka daya tumbuh benih akan tinggi sehingga hasil yang diperoleh akan tinggi Ini berbanding terbalik dengan varietas Lusi yang memiliki seed set atau fertilitas malai paling kecil yaitu 18% jika dibandingkan dengan varietas yang Jika suatu varietas memiliki seed set atau fertilitas malai yang kecil maka daya tumbuh benih akan rendah dan hasil Persentase gabah isi meru-pakan salah satu indikator produktivitas tanaman, semakin tinggi persentase gabah isi yang diperoleh suatu varietas menandakan varietas tersebut mempunyai produktivitas yang tinggi (Mahmud & Purnomo, 2. Varietas Inpari 5 Merawu pada variabel menunjukkan respon yang paling tinggi yaitu 30 gram jika dibandingkan dengan varietas yang lainnya. Ini ditunjukkan respon yang sama pada varietas Inpago 9 yang juga memiliki bobot 1000 butir yang tinggi pula yaitu 28 gram. Namun demikian, berbeda dengan varietas Inpari 9 yang memberikan respon terhadap variabel bobot 1000 butir paling kecil dibandingkan dengan varietas yang lainnya yaitu 21 gram. Varietas yang bobot 1000 butirnya kecil diduga akan memberikan hasil produksi yang kecil. Berdasarkan pengamatan pada Tabel 2, varietas yang dibudidayakan pada lahan organik dengan sistem SRI di desa Sambirejo, kecamatan Sukorejo. Kabupaten Sragen Sragen antara lain: C Varietas Membramo memiliki hasil 5 ton/Ha, jumlah anakan 11, jumlah malai 10, berat gabah isi per rumpun 26 gram dan seed set atau fertilitas malai 74% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 37 butir C Varietas Sintanur memiliki hasil 5. ton/Ha, jumlah anakan 12, jumlah malai 11, berat gabah isi per rumpun 26 gram dan seed set atau fertilitas malai 79% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 26 butir C Varietas Inpari 13 memiliki hasil 5. ton/Ha, jumlah anakan 13, jumlah malai 12, berat gabah isi per rumpun 32 gram dan seed set atau fertilitas malai 76% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 33 butir C Varietas Inpari 32 memiliki hasil 5. ton/Ha, jumlah anakan 16, jumlah malai 13, berat gabah isi per rumpun 28 gram dan seed set atau fertilitas malai 79% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 22 butir C Varietas Inpari 5 Merawu memiliki 6 ton/Ha, jumlah anakan 14, jumlah malai 12, berat gabah isi per rumpun 27 gram dan bobot 1000 butir yang tinggi 30 gram. Varietas-varietas ini cocok untuk dibudidayakan di lahan organik dengan metode SRI. Berbeda halnya dengan Page 136 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA Tabel 2. Keragaan agronomis dan hasil 40 varietas padi yang ditanam pada lahan organik dengan sistem SRI di Sragen Varietas Hasil GABSI Bgabsi GABHAM Ciherang 4 abcdefgh 101 efgh 10 abcde 9 bcdefg 104 cde 23 abcdef 22 hijk 82 abc Ciliwung 6 bcdefgh 110 abcdefg 12 abcd 10 abcdef 84 def 21 bcdef 27 efghijk 75 abcdefg Mekongga 1 abcdefgh 104 defgh 13 abcd 11 abcdef 96 cdef 26 abcde 21 hijk 82 abcd Situ Bagendit 6 abcdefgh 100 efgh 11 abcde 9 abcdefg 134 bc 28 ab 23 ghijk Cigeulis 2 defgh 9 de 9 bcdefg 81 def 18 bcdef 21 ijk 79 abcdef Logawa 8 abcdefg 97 ghi 12 abcd 8 cdefg 95 cdef 19 bcdef 43 cdefgh 69 defghi Memberamo 5 abcde 109 abcdefg 11 abcde 10 abcdef 104 cde 26 abcde 37 cdefghijk 74 abcdefgh Sintanur 5 abcd 114 abcdef 12 abcd 11 abcdef 95 cdef 26 abcde 26 efghijk 79 abcdefg Way Apo Buru 4 abcdef 104 defgh 14 abcd 11 abcdef 79 def 23 abcdef 21 hijk 79 abcdefg 27 bcd Cilamaya Muncul 2 abcdefgh 92 hi 12 abcd 9 bcdefg 104 cde 21 bcdef 40 cdefghijk 72 bcdefgh Cisadane 8 abcdefgh 114 abcdef 8 de 7 fg 115 bcd 23 abcdef 38 cdefghijk 75 abcdefg 27 bcde 1 gh 106 defgh 12 abcd 10 abcdef 84 def 24 abcdef 27 efghijk 75 abcdefg Lusi 1 abcdefgh 106 defgh 10 bcde 7 fg IR42 1 abcdefgh 109 abcdefg 15 abc 11 abcdef 15 ef 42 cdefgh Inpari 1 9 abcdefgh 92 hi 10 abcde 10 abcdefg 84 def 20 bcdef 27 efghijk 75 abcdefg Aek Sibundong Inpari 5 Merawu Inpari 6 Jete Inpari 7 B1000 26 bcdefgh 26 bcdefg 6 ab 110 abcdefg 14 abcd 12 abcd 78 efd 27 abc 41 cdefghij 66 ghi 27 bcd 22 op 4 abcdefgh 108 bcdefgh 9 cde 9 abcdefg 96 cdef 23 abcdef 38 cdefghijk 71 bcdefgh 27 bcdef 2 efgh 104 defgh 9 cde 8 defg 67 ef 26 efghijk 72 abcdefgh 28 bc Inpari 9 2 defgh 117 abcd 12 abcd 11 abcdef 69 ef 16 def 48 cde Inpari 10 6 bcdefgh 103 defgh 11 abcde 10 abcdef 78 def 22 abcdef 22 hijk 78 abcdefg Inpari 13 13 abcd 12 abc 105 cde 33 defghijk 76 abcdefg Inpari 19 6 bcdefgh 105 defgh 11 abcde 8 defg 101 cdef 19 bcdef 45 cdefg 69 cdefghi Inpari 24 99 fghi 12 abcd 9 abcdefg 90 def 22 abcdef 24 fghijk 79 abcdef Inpari 25 2 efgh 102 defgh 11 abcde 9 bcdefg 75 def 16 def 28 bc 23 lmnop Page 137 of 142 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA Varietas Hasil GABSI Bgabsi GABHAM B1000 Inpari 32 5 abc 100 efghi 82 def 28 ab 22 hijk 79 abcdefg 27 bcdef Inpari 33 0 abcdefg 103 defgh 11 abcde 12 abc 81 def 27 abcd 23 hijk 78 abcdefg 28 bc Inpari 38 6 bcdefg 104 defgh 11 abcde 11 abcde 98 cdef 29 ab 25 fghijk 80 abcdef 26 bcdefg Inpari 42 9 abcdefg 96 ghi 11 abcde 8 efg 102 cde 19 bcdef 33 defghijk 75 abcdefg 23 klmnop Inpari 43 8 abcdefg 96 ghi 15 abc 12 ab 81 def 22 abcdef 38 cdefghijk 68 fghi Inpara 3 0 abcdefg 108 bcdefg 9 abcd 10 abcdefg 100 cdef 23 abcdef 34 defghijk 74 abcdefg Inpara 5 101 defgh 13 abcd 12 abc 86 def 26 abcde 20 jk 81 abcde Inpara 7 3 cdefgh 10 abcde 6 gh 104 cde 16 def 46 cdef 68 fghi Inpago9 9 abcdefgh 101 efgh 12 abcd 10 abcdef 104 cde 29 ab 85 ab Batutegi 123 ab 16 cdef 67 fghi HIPA8 6 abcdefgh 123 abc 10 abcde 8 efg 144 ab 25 abcdef 51 cd 74 abcdefgh HIPA Jatim2 1 fgh 102 defgh 11 abcd 9 abcdefg 89 def 21 bcdef 61 hi Inpari Sidenuk 8 ab 116 abcde 12 abcd 8 fg 105 cde 20 bcdef 31 defghijk 76 abcdefg PR42096-B-41-SBY0-CRB-0 0 abcdefgh 99 fghi 10 abcde 9 cdefg 103 cde 21 bcdef 25 fghijk 80 abcdef BP14352e-1-2-3Op-Jk-0 9 abcdefgh 114 abcdef 10 abcde 8 defg 99 cdef 22 abcdef 33 defghijk 75 abcdefg Derti 9 abcdefgh 107 cdefgh 13 abcd 11 abcdef 77 def 21 bcdef 36 cdefghijk 69 efghi 23 mnop 28 ab 23 klmnop 27 bcde DMRT 5% Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5% TT=tinggi tanaman . JA= jumlah anakan. UB= umur berbunga 50 % (HSS). JGABSI= jumlah gabah isi/malai. GABHAM= jumlah gabah hampa/malai. SS= seed set (%). B1000= bobot 1000 butir . H= hasil . /h. Page 138 of 142 Umi Barokah dan Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA varietas Batutegi dan Lusi yang memberikan respon yang kurang baik jika dibudidayakan di lahan organik dengan metode SRI di lokasi penelitian. Varietas Batutegi memiliki hasil 2. 5 ton/Ha, jumlah anakan 6, jumlah malai 4, berat gabah isi per rumpun 16 gram, seed set atau fertilitas malai 67% dan bobot 1000 butir yang kecil yaitu 24 gram sedangkan Varietas Lusi karena memiliki jumlah anakan 10, jumlah malai 7, jumlah gabah isi per malai 21 butir, berat gabah isi per rumpun 3 gram, seed set atau fertilitas malai 18% dan bobot 1000 butir 23 gram serta jumlah gabah hampa per malai yang tinggi yaitu 103 butir sehingga varietas ini tidak cocok dibudidayakan dengan metode SRI di lahan organik. Metode SRI menyebabkan perubahan nyata pada sehingga meningkatkan perkembangan akar dan anakan (Thakur et al. , 2. KESIMPULAN Varietas yang menunjukkan respon baik jika dibudidayakan pada lahan organik dengan sistem SRI di Desa Sambirejo. Kecamatan Sukorejo. Kabupaten Sragen Sragen antara lain: Varietas Membramo memiliki hasil 5 ton/Ha, jumlah anakan 11, jumlah malai 10, berat gabah isi per rumpun 26 gram dan seed set atau fertilitas malai 74% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 37 butir Varietas Sintanur memiliki hasil 5. ton/Ha, jumlah anakan 12, jumlah malai 11, berat gabah isi per rumpun 26 gram dan seed set atau fertilitas malai 79% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 26 butir Varietas Inpari 13 memiliki hasil 5. ton/Ha, jumlah anakan 13, jumlah malai 12, berat gabah isi per rumpun 32 gram dan seed set atau fertilitas malai 76% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 33 butir Varietas Inpari 32 memiliki hasil 5. ton/Ha, jumlah anakan 16, jumlah malai 13, berat gabah isi per rumpun 28 gram dan seed set atau fertilitas malai 79% dan jumlah gabah hampa per malai yang kecil yaitu 22 butir Varietas Inpari 5 Merawu memiliki 6 ton/Ha, jumlah anakan 14, jumlah malai 12, berat gabah isi per rumpun 27 gram dan bobot 1000 butir yang tinggi 30 gram. Varietas yang menunjukkan respon kurang baik jika dibudidayakan pada lahan organik dengan sistem SRI di Desa Sambirejo. Kecamatan Sukorejo. Kabupaten Sragen Sragen antara lain: Varietas Batutegi karena memiliki 5 ton/Ha, jumlah anakan 6, jumlah malai 4, berat gabah isi per rumpun 16 gram, seed set atau fertilitas malai 67% dan bobot 1000 butir yang kecil yaitu 24 gram Varietas Lusi karena memiliki jumlah anakan 10, jumlah malai 7, jumlah gabah isi per malai 21 butir, berat gabah isi per rumpun 3 gram, seed set atau fertilitas malai 18% dan bobot 1000 butir 23 gram serta jumlah gabah hampa per malai yang tinggi yaitu 103 butir. Page 139 of 13 Umi Barokah & Untung Susanto. Respon Berbagai VarietasA UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini terlaksana atas kerja sama Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Pad. dengan Japan ASEAN Integration Fundation (JAIF). DAFTAR PUSTAKA