CARMIN Journal of Community Service Vol. 4 No. Peningkatan Keterampilan Masyarakat Desa untuk Membuat Jamu Nusantara Tersaintifikasi sebagai Produk Unggulan Desa Wahyu Nugroho1. Noverda Ayuchecaria2. Defilia Anogra Riani2. Shesanthi Citrariana2. Atilla Dian Dewanti Gintoro 2, dan Eka Jonathan Krissilvio1 Program Studi Pendidikan Kimia. FMIPA. Universitas Palangka Raya. Palangka Raya. Indonesia Program Studi Farmasi. FMIPA. Universitas Palangka Raya. Palangka Raya. Indonesia * noverdayuchecaria@mipa. ABSTRACT Herbal medicine is a hereditary heritage of local wisdom of the Indonesian people. The Ministry of Health through the Health Research and Development Agency runs a herbal medicine scientification program. However, there are still few people who understand how to make scientific herbal medicine. The purpose of this community service is to disseminate the skills of making scientific herbal medicine concoctions to the community. Community service was carried out in Tuwung Village. Kahayan Tengah District. Pulang Pisau Regency. Central Kalimantan Province with the method of providing material and training in making scientific herbal medicine directly. Participants were given a questionnaire to start the satisfaction of the community service services carried out including Reliability. Responsiveness. Assurance. Empathy. Tangible evidence. The results of the community service showed that all dimensions scored Good. Keywords: making nusantara herbal medicine scientificated. pulang pisau regency, superior village product. tuwung kahayan tengah village ABSTRAK Jamu merupakan warisan turun temurun kearifan lokal masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menjalankan program saintifikasi jamu. Namun masih sedikit masyarakat yang memiliki pemahaman cara membuat jamu yang tersintifikasi. Tujuan pengabdian ini adalah menyebarluaskan ketrampilan membuat ramuan jamu saintifik kepada masyarakat. Pengabdian masyarakat dilakukan di Desa Tuwung. Kecamatan Kahayan Tengah. Kabupaten Pulang Pisau. Provinsi Kalimantan Tengah dengan metode pemberian materi dan pelatihan pembuatan jamu saintifik secara langsung. Peserta diberikan kuesioner untuk memulai kepuasan layanan pengabdian yang dilakukan meliputi Keandalan . Daya tanggap . Kepastian . Empati . Bukti fisik . Hasil pengabdian menunjukan bahwa semua dimensi mendapatkan skor Baik. endidikan ke jenjang perguruan tinggi NU yang ada di Indonesia melalui Kerjasama internasional. Keywords: Membuat jamu nusantara tersaintifikasi. Kabupaten Pulang Pisau. produk unggulan Desa Tuwung Kahayan Tengah How to cite: Nugroho. Ayuchecaria. Riani. Citrariana. Gintoro. , & Krissilvio. Peningkatan keterampilan masyarakat desa untuk membuat jamu nusantara tersaintifikasi sebagai produk unggulan desa. Carmin: Journal of Community Service, 4. , 95-100. PENDAHULUAN Bagi masyarakat Indonesia, jamu adalah resep turun temurun dari leluhurnya agar dapat dipertahankan dan dikembangkan. Bahan-bahan jamu sendiri dapat dapat diambil dari tumbuh- This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. A2024 Carmin: Journal of Community Service Nugroho et al. , 2024 tumbuhan alami. Jamu merupakan warisan turun temurun kearifan lokal masyarakat Indonesia untuk memelihara kesehatan dan menyembuhkan penyakit (Amilia et al. , 2024. Satriyati et al. Triyandi et al. , 2. Namun demikian, sebagai pengobatan tradisional, jamu masih dianggap kekurangan bukti ilmiah dalam hal khasiat dan keamanan. Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi jamu karena percaya memberikan manfaat yang cukup besar terhadap kesehatan baik untuk pencegahan dan pengobatan terhadap suatu penyakit maupun dalam hal menjaga kebugaran dan kecantikkan (Pratiwi et a. , 2021. Safitri et al. , 2. Pengetahuan masyarakat akan penggunaan jamu sebagai alternatif dan pendamping pengobatan masih sangat rendah dan belum terlalu populer di masyarakat. Masyarakat meyakini obat tradisional dapat mengobati penyakit ringan dan berat, namun pengetahuan mengenai takaran dosis, efek samping obat yang mungkin muncul serta cara pengolahan obat yang digunakan belum banyak diketahui oleh masyarakat (Aryzki & Ayuchecaria, 2. Pemanfaatan penggunaan obat tradisional yang belum banyak mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah menyebabkan pengetahuan tentang tanaman obat tradisional ini menjadi memudar di kalangan masyarakat (Novaryatiin et al. , 2021. Rukmana & Zulkarnain, 2. Jamu merupakan warisan budaya bangsa yang sudah digunakan secara turun temurun diwariskan sejak nenek moyang yang harus kita jaga dan lestarikan (Setiawan et al. , 2. Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menjalankan program saintifikasi jamu (SJ) berdasarkan Peraturan Kementerian KesehatanRI No. 003/PerMenKes/I/2010 telah membuktikan khasiat jamu dengan metode penelitian berbasis Program saintifikasi jamu merupakan pembuktian ilmiah . vidence base. melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan, riset keamanan dan kemanfaatan jamu (Siswanto. Jamu adalah obat tradisional yang secara global sudah menjadi agenda kebijakan dan program WHO yaitu Traditional Medicine Strategy 2014-2023 (Siahaan & Aryastami, 2. Indonesia secara regional ASEAN sudah menjadi negara yang menjadi referensi/rujukan terkait Clinical Trial on Herbal Medicine dan Development of Medicinal Plant Gardene (Silalahi. Secara regional Asia Pasifik. Indonesia juga berhasil mempromosikan Traditional Medicine menjadi satu materi Life Sciene di agenda APEC (Rahmawati et al. , 2. Pemanfaatan jamu untuk memelihara kesehatan oleh masyarakat untuk preventif, promotif dan kuratif, diharapkan dapat mengurangi pengeluaran biaya kesehatan. Dengan memanfaatkan ramuan tersebut diharapkan keluhan awal dapat ditangani dengan jamu, sehingga tidak menjadi Masyarakat juga dapat memanfaatkan lahan sekitar untuk membudidayakan tanaman obat ini (Saikhu, 2. Hasil uraian diatas pengabdi tertarik utuk ikut serta dalam menyebarluaskan ketrampilan membuat ramuan jamu saintifik kepada masyarakat luas sehingga masyarakat mampu secara mandiri mengobati keluhan awal dalam menangani penyakit tidak menular (PTM). Tujuan setelah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat diharapakan masyarakat mampu membuat ramuan jamu saintifik secara mandiri dengan memanfaatkan tanaman obat yang ada dilingkungan sekitar. Selain itu, jamu tersaintifikasi tersebut akan dirancang menjadi produk unggulan desa dan masyarakat diberikan pelatihan pengurusan izin edar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. METODE Pengabdian masyarakat di Desa Tuwung. Kecamatan Kahayan Tengah. Kabupaten Pulang Pisau. Provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Mei-Agustus 2024. Adapun yang menjadi mitra kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah Masyarakat, anggota PPK dan Prangkat/Pejabat Desa Tuwung. Kecamatan Kahayan Tengah. Kabupaten Pulang Pisau. Provinsi Kalimantan Tengah. Adapun metode pengabdian dapat diringkas dalam bentuk alir berikut. Tahap Persiapan Koordinasi awal dengan Lurah Desa Tuwung. Kecamatan Kahayan Tengah. Kabupaten Pulang Pisau. Provinsi Kalimantan Tengah untuk mensosialisasikan kegiatan, sekaligus meminta kerjasama dengan kelompok tani, masyarakat sekitar serta perangkat pemerintahan sebagai koordinator wilayah saat pelaksanaan. Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 96 Nugroho et al. , 2024 Survey waktu dan tempat pelaksanaan, dipilih ketika waktu senggang masyarakat. Pendataan target peserta yang akan mengikuti pelatihan tersebut. Persiapan alat dan bahan pelatihan yang tepat, sehingga pelatihan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Pendekatan persuasif kepada target peserta dengan maksud agar masyarakat mengerti tujuan dari program ini. Penyusunan materi/slide/brosur pelatihan yang berisi petunjuk teknis dan materi pelatihan yang akan diberikan. Tahap Pelaksanaan Pelatihan dilakukan secara langsung dan diikuti oleh warga yang sudah didata sebelumnya, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Adapun tahapan pelaksanaan adalah sebagai Penyuluhan teknis, berisi presentasi materi oleh pakar sesuai bidang. Peserta pelatihan akan diberikan slide dan buku saku yang dapat membantu peserta memahami materi yang diberikan. Persiapan alat dan bahan untuk kegiatan praktik lapangan. Praktik lapangan berisi kegiatan pembuatan Jamu Saintifik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian masyarakat diawali dengan melakukan survey pemilihan tempat dan peserta. Pemilihan tempat ditentukan dengan mempertimbangkan akses warga dan kelengkapan sarana Tempat yang dipilih adalah Balai Basarai yang berada ditempat yang mudah dikases seluruh RT/RW di wilayah Kelurahan tersebut. Sasaran peserta dalam pelatihan ini dipilih mewakili berbagai kelompok diantaranya warga, anggota PKK dan perangkat desa sejumlah 43 Pelatihan dimulai dengan pemaparan materi tentang pemanfaatan tanaman obat sebagai jamu tradisional, proses pengolahan bahan baku jamu mulai dari pencucian, sortir basah, cara pengeringan, sortir kering hingga proses penyimpanan yang baik agar bahan baku simplisia kering dapat tahan disimpan hingga 3 bulan. Secara kebiasaan selama ini di kalangan masyarakat kurangnya pengetahuan membudidayakan tanaman berkhasiat, salah satu bentuk pelatihan yang dapat diberikan adalah memberikan keterampilan kepada warga agar dapat mengolah hasil budidaya produk yang bernilai jual dari tanaman obat sebagai jamu tradisional (Ayuchecharia et al. , 2. Berikut buku saku resep jamu saintifik tertera pada Gambar 1. Gambar 1 Buku saku resep jamu saintifik Materi selanjutnya adalah proses peracikan jamu yang sesuai dengan jumlah dan cara penggunaan agar tepat dosis dan memperoleh manfaat setelah minum jamu yang diolah. Materi tersebut selain dipaparkan juga dirangkum dalam buku saku yang dibagikan kepada peserta. Penggunaan jamu secara saintifik perlu diperhatikan karena untuk merasakan manfaatnya maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: . Ketepatan takaran/dosis. Ketepatan waktu Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 97 Nugroho et al. , 2024 Ketepatan cara penggunaan. Ketepatan pemilihan bahan secara benar. Ketepatan pemilihan tanaman obat atau ramuan obat tradisional untuk indikasi tertentu. Peserta mengisi kuesioner yang dibagikan setelah proses pemaparan dan demo peracikan Kuesioner berisi beberapa dimensi penilaian seperti Keandalan . Daya tanggap . Kepastian . Empati . Bukti fisik . Keandalan . adalah dimensi yang menggambarkan kemampuan memberikan layanan yang sesuai dalam hal ini adalah pemberian materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta dalam proses pembuatan jamu saintifik (Suliyanthini et al. , 2. Hasil penilaian peserta dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Keandalan . Pertanyaan Kegiatan Pelatihan Sesuai dengan Kebutuhan Mitra Kegiatan Pelatihan dapat memberikan solusi permasalahan mitra Mekanisme Pelatihan Sesuai dengan Keinginan Mitra Hasil Pelatihan dapat di implimentasikan/dilakukan secara mandiri oleh mitra Materi yang diberikan telah sesuai Keterangan: TS: tidak setuju. KS: kurang setuju. S: setuju. SS: sangat setuju Hasil penilaian menunjukan bahwa peserta yang bertindak sekaligus mitra pengabdian ini memberikan penilaian pada kolom setuju dan sangat setuju dengan persentase yang dapat dilihat pada Tabel 1. Hal ini menggambarkan bahwa peserta menyatakan bahwa materi yang diberikan telah sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. Daya tanggap . merupakan dimensi yang menilai daya tanggap panitia/pemateri dalam memberikan layanan kepada peserta meliputi memberikan kesempatan peserta untuk bertanya dan kesesuaian waktu. Hasil daya tanggap peserta tertera pada Tabel 2. Tabel 2 Daya tanggap . Pertanyaan Pelaksanaan kegiatan tepat waktu Dokumen kegiatan dibuat dengan cepat Pelayanan informasi oleh narasumber/ panitia pelaksana dilakukan secara cepat Keterangan: TS: tidak setuju. KS: kurang setuju. S: setuju. SS: sangat setuju Tabel 2 menunjukkan sebagian kecil sebanyak 3% memberikan nilai kurang setuju pada ketepatan waktu kegiatan. Hal ini terjadi karena antusias yang luar biasa dari masyarakat masyarakat dalam sesi tanya jawab dan pada saat demo peracikan jamu dengan total lima pertanyaan sehingga waktu kegiatan selesai lebih lama dari yang dicantumkan pada undangan. Namun peserta terlihat puas dengan proses pelayanan informasi dan dokumentasi dilakukan pemateri/ panitia. Kepastian . adalah dimensi yang berkaitan dengan sikap yang diberikan oleh pemberi layanan yang dapat menimbulkan rasa percaya penerima layanan dalam hal ini adalah mitra pengabdian, hasilnya tertera pada Tabel 3. Tabel 3 Kepastian . Pertanyaan Pemberian kuesioner setelah kegiatan dilakukan dengan tepat Pelayanan konsultasi tetap dilakukan setelah kegiatan dilakukan Adanya pemberitahuan kontak/ nomor yang dihubungi setelah kegiatan berlangsung Keterangan: TS: tidak setuju. KS: kurang setuju. S: setuju. SS: sangat setuju Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 98 Nugroho et al. , 2024 Tabel 3 menunjukan bahwa panitia pengabdian selalu berkomunikasi baik dengan memberikan nomor kontak dan memberikan konsultasi bahkn setelah acara pengabdian selesai. Hal ini juga berkaitan dengan Desa Tuwung yang merupan mitra kontiu dalam kegiatankegiatan lain yang diadakan oleh FMIPA Universitas Palangka Raya dalam melakukan pembianaan berkelanjutan. Empati . dalam suatu pelayanan adalah adanya suatu perhatian, keseriusan, simpatik, pengertian dari semua pihak yang terlibat dalam kegiatan, hasilnya tertera pada Tabel 4. Tabel 4 Empati . Pertanyaan Pemateri/narasumber/panitia menunjukkan kepedulian kepada peserta Komunikasi saat pelaksanaan kegiatan berlangsung baik dan lancar Pemateri menjawab semua pertanyaan Keterangan: TS: tidak setuju. KS: kurang setuju. S: setuju. SS: sangat setuju Penilaian yang diberikan peserta terhadap dimensi empati memperlihatkan bahwa pihak yang terlibat dalam program pengabdian memiliki kepedulian dan komunikasi yang baik terhadap Bukti fisik . merupakan bukti fisik dalam kualitas pelayanan adalah bentuk aktualisasi nyata secara fisik dapat terlihat atau digunakan pada proses pengabdian masyarakat, hasilnya tertera pada Tabel 5. Tabel 5 Bukti fisik . Pertanyaan Media pelatihan (Buku dan presentas. jelas Sarana dan prasarana pelatihan baik Keterangan: TS: tidak setuju. KS: kurang setuju. S: setuju. SS: sangat setuju Masyarakat memberikan penilaian bukti fisik . yang baik terlihat pada Tabel 5 dimana sebesar 58%s setuju dan 42% sangat setuju media pelatihan yang digunakan jelas dan sebanyak 40% setuju serta 60% sangat setuju sarana dan prasarana pelatihan baik. Kegiatan pengabdian dengan tema pengolahan jamu saintifik ini dilakukan selain meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam meracik jamu yang sesuai dengan takarannya. Juga untuk memberikan kesadaran bahwa pengobatan tradisional yang tidak dilakukan secara tepat akan menimbulkan masalah kesehatan lebih lanjut. Hal ini senada dengan pengabdian yang dilakukan oleh Nasrulloh et al. yang menyatakan terdapat peningkatan keterampilan masyarakat tentang pengolahan secara sederhana jamu herbal. Selain itu juga dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian (Berlianto et al. , 2. Pada pelatihan ini diberikan tips bagaimana meminum jamu dengan benar dilihat dari suhu, ramuan, jenis penyakit, penggunaan bersamaan dengan minuman lain, dan lamanya penggunaan jamu yang aman serta cara penyimpanan bahan baku jamu berdasarkan bentuk bahannya. SIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pembuatan jamu saintifik telah berhasil dilaksanakan dan mencapai tujuan kegiatan yang diinginkan. Hal ini ditunjukkan oleh penilaian dimensi kepuasan peserta peserta setelah mengikuti kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA