Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 BUDAYA LELES ORANG MANGGARAI SEBAGAI SUATU FENOMENA SOSIAL DALAM TERANG FILSAFAT METAFISIKA HEIDEGGER Raimundus Awur awurraimundus6@gmail. Armada Ryanto fxarmadacm@gmail. Matias Jebarus Adon mathiasjebaruadon@gmail. Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Abstrak Fokus penelitian ini membahas fenomena . budaya Leles Orang Manggarai dalam konteks perubahan sosial yang disebabkan oleh pengaruh teknologi modern. Kondisi saat ini menunjukkan penurunan kebersamaan dan kerja sama dalam budaya ini. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode telaah pustaka, wawancara, dan pendekatan filosofis Heidegger untuk menjelaskan perubahan dalam budaya kerja sama ini. Hasil telaah pustaka dan wawancara mengungkapkan dinamika budaya Leles yang telah mengalami transformasi akibat interaksi dengan teknologi modern. Hal ini berdampak pada penurunan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama yang sebelumnya kuat dalam masyarakat Manggarai. Dalam konteks filosofis Heidegger, penelitian ini mengkaji implikasi metafisika terhadap budaya Leles yang telah mengalami perubahan tersebut. Hasil penelitian kualitatif ini memberikan wawasan tentang bagaimana teknologi modern telah memengaruhi budaya dan nilai-nilai sosial, serta bagaimana pemikiran Heidegger dapat digunakan untuk merenungkan perubahan dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dampak teknologi terhadap budaya dan kerja sama dalam masyarakat Manggarai. Yang perlu digarisbawahi di sini bahwa kajian ini tidak dimaksudkan, meneliti Masyarakat manggarai seluruhnya . iapa itu masyarakat Manggara. , dan juga tidak mengulas fenomena sosial secara universala seperti halnya teori sosiologi. Tetapi lebih menekankan manfaat sosial dari budaya Leles. Fenomena sosial hadir sebagai wadah refleksi dalam konteks ini. Kata Kunci: Budaya Leles, (Orang Manggara. Fenomena Sosial. Heidegger Abstract This research focuses on the . cultural phenomenon of Leles Orang Manggarai in the context of social change driven by the influence of modern technology. Current conditions indicate a decline in unity and cooperation within this culture. The study employs a qualitative approach with literature review, interviews, and Heideggerian philosophical analysis to elucidate the changes in this cooperative culture. Literature review and interviews reveal the dynamics of Leles culture that has undergone transformation due to interactions with modern technology, resulting in a decline in the previously strong values of unity and cooperation in Manggarai society. In the philosophical context of Heidegger, the research examines the metaphysical implications for the changed Leles culture. The qualitative findings provide insights into how modern technology has influenced culture and social values, and how Heideggerian thought can be applied to contemplate societal changes. This research contributes significantly to understanding the impact of technology on culture and cooperation in Manggarai It is essential to underline that this study does not aim to examine the entire Manggarai society or address social phenomena universally, like sociological theories. Instead, it emphasizes the social benefits of Leles culture, presenting social phenomena as a reflective framework in this context. Keywords: CultureAiLeles, (Manggarai Peopl. Social Phenomenon. Heidegger PENDAHULUAN Era modern ini ditandai dengan perkembangan teknologi dan globalisasi, yang mempengaruhi masyarakat sehingga cenderung mengalami perubahan dalam pola perilaku dan pandangan hidup mereka. Perubahan dalam berprilaku dan minsed telah membawa dampak signifikan terhadap cara kita berinteraksi dengan dunia, manusia Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 dan lingkungan hidup. Perubahan car akita berinteraksi telah memperluas jangkauan pengaruh ke dalam budaya dan nilai-nilai yang memengaruhi individu. Heidegger mengatakan bahwa meskipun teknologi membawa pengaruh baik tapi juga ia menunjukkan wajahnya yang seram, manusia tidak lagi berrelasi dengan baik terhadap alam maupun sesamanya (Setyo and Wibowo 2. Dalam konteks ini, muncul sebuah fenomena yang patut diperhatikan, yaitu peningkatan sikap individualisme dalam masyarakat. Peningkatan sikap individualisme dalam Masyarakat karena perkembangan teknologi dan globalisai telah mengikis system kerja sama orang manggarai dalam budaya leles. Kajian kali ini hendak menggeluti fenomena sosial yang terjadi dalam budaya leles orang manggarai, yakni penyusutan nilai kerja sama segai dasar hidup Bersama sehari-hari. Berfilsafat yang bertolak dari keseharian adalah dasar. Berfilsafat sehari-hari atau yang disebut berfilsafat AufenomenologiAy (Armada Riyanto 2. yakni mengabdi hidup sehari-hari manusia. Maka, fenomena sosial bukan seperti suatu hal yang di luar konteks keseharian. Dan memang penekannya bukanlah pada etimologi atau pengertian fenomena. Fenomena hadir sebagai wadah refleksi. Dalam banyak aspek kehidupan, kita melihat bahwa orang cenderung lebih fokus pada diri mereka sendiri, memprioritaskan kepentingan pribadi, dan mungkin mengabaikan nilai-nilai kerja sama dan solidaritas yang mungkin pernah mendominasi masyarakat Ada dorongan kuat untuk mencapai kesuksesan pribadi, pemenuhan kebutuhan pribadi, dan pengembangan diri yang sering kali mengesampingkan aspek-aspek kolaboratif dan ketergantungan sosial. Hal ini menjadi relevan ketika kita menghubungkannya dengan pemikiran filosofis Martin Heidegger dan tradisi budaya Leles di Manggarai Timur. Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis terkenal, telah menyoroti konsep AuDaseinAy . eberadaan manusi. dalam pemikirannya. Dalam karyanya. Heidegger menggali eksistensial manusia dan makna keberadaan mereka dalam dunia ini (Hardiman, 2003. Dia menekankan bagaimana individu memiliki peran penting dalam cara mereka merenungkan makna eksistensialnya dan hubungannya dengan dunia sekitarnya. Namun, dalam zaman modern yang cenderung individualis, pertanyaan tentang bagaimana manusia merenungkan dan menjalani eksistensinya mungkin menjadi semakin relevan (Aenulguri et al. Manusia berdasarkan eksistensinya adalah dia yang berbudaya, karena manusia tidak lepas dari yang Namanya kebudayaan dan Masyarakat (Antonius Atososkhi Gea. Antonia Panca Yuni Wulandari, 2002. Keduanya berbeda namun sangat berkaitan erat. Masyarakat Manggarai erat kaitannya dengan budaya Manggarai, dalam konteks ini budaya Leles. Budaya Leles di Manggarai Timur menyajikan suatu kontrast yang menarik. Leles adalah sistem kerja bersama yang berakar dalam tradisi masyarakat Manggarai, yang mencerminkan nilai-nilai kerja sama, ketergantungan sosial, dan saling membantu. Leles adalah manifestasi nyata dari kerja bersama, di mana anggota komunitas secara sukarela bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Mereka berbagi tenaga, waktu, dan sumber daya tanpa memikirkan kompensasi finansial. Ini menciptakan pengalaman keterlibatan dan eksistensi yang mendalam, di mana individu tidak hanya merenungkan makna hidup mereka tetapi juga merasakan ketergantungan dan interaksi sosial yang kuat. Oleh karena itu, tulisan ini akan menjelajahi bagaimana pemikiran Heidegger tentang eksistensialisme dan pandangan waktu berkaitan dengan fenomena individualisme dalam masyarakat modern, sementara juga mengeksplorasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip budaya Leles di Manggarai Timur yang bertujuan untuk mendorong kerja sama, solidaritas, dan ketergantungan sosial. Dalam hal ini, kita akan mencoba memahami bagaimana tradisi Leles dan pemikiran Heidegger dapat memberikan wawasan yang relevan tentang bagaimana manusia merenungkan makna eksistensial mereka, terutama dalam era yang semakin cenderung individualis. Budaya Leles, sebuah sistem kerja sama yang mendalam dan khas dalam kehidupan masyarakat Manggarai di Indonesia, telah menjadi sebuah fenomena sosial yang semakin menonjol dalam era modern. Fenomena ini mencerminkan perubahan yang signifikan dalam dinamika sosial masyarakat Manggarai, dengan implikasi yang meluas terhadap keharmonisan dalam masyarakat. Dalam konteks ini, pendekatan Metafisika Heidegger menawarkan sudut pandang yang mendalam untuk memahami Budaya Leles sebagai aspek yang tak terpisahkan dalam kehidupan sosial mereka. METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, yang memungkinkan kita untuk menggali nuansa dan konteks yang lebih dalam dari Budaya Leles. Tulisan ini akan menjelaskan secara mendalam tentang Budaya Leles Orang Manggarai dan relevansi Filsafat Heidegger dalam menganalisis fenomena ini. Latar belakangnya adalah perubahan relasi sosial yang semakin memburuk dan kurangnya keharmonisan dalam Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 masyarakat Manggarai. Melalui kajian ini, kita akan berusaha untuk memahami peran Budaya Leles dalam masyarakat Manggarai saat ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya Leles Orang Manggarai Budaya Leles adalah sebuah sistem kerja sama yang telah tertanam dalam kehidupan masyarakat Manggarai selama berabad-abad. Leles berarti AupertolonganAy atau AubantuanAy dan mencerminkan nilai-nilai kolektivitas yang kuat dalam masyarakat Manggarai. Budaya Leles melibatkan konsep saling membantu antara anggota masyarakat, terutama dalam konteks pertanian, upacara adat, dan masalah sosial. Dalam Budaya Leles, membantu sesama adalah tugas bersama, dan ini menciptakan ikatan sosial yang erat di antara masyarakat Manggarai. Pada umumnya Masyarakat Manggarai memiliki tradisi Leles, dalam hal bekerja. Secara khusus tradisi ini masih sangat kuat dan sangat di kenal di kalangan Masyarakat manggarai bagian Timur. Kabupaten Manggarai Timur rupanya salah satu wilaya dengan budaya leles paling kuat. Leles itu sendiri jika diartikan memang tidak jarang didengar, leles berarti AuGotong RoyongAy yang merupakan tradisi kerja masyarakat Manggarai yang saling Pada umumnya dalam budaya Leles Masyarakat secara bergotong royong untuk menyelesaikan suatu Leles biasanya berlaku untuk pekerjaan yang cukup berat, seperti Membajak Sawah, mengetam padi, membangun rumah, membuka perkebunan baru, dll. Namun dalam konteks ini sebutan gotong royong rupanya tidak akan di pakai, karena frase ini hanya ingin memantik pemahaman tentang Audimensi kerja sama orang Ay Leles dalam hal ini akan sering diartikan sebagai Audimensi kerja sama. Ay Leles dalam kamus bahasa manggarai artinya adalah Aubahu-membahuAy (Lon et al. Ada dua sebutan dalam sistem kerja leles Masyarakat Manggarai (Khususnya Kecamatan Sambi Rampas. Kab. Manggarai Timu. yakni Emi Lime dan Leko Lime (Lon et al. Kata atau frase tersebut jika diartikan secara harafia adalah seperti berikut. Emi berarti AoambilAo dan Lime berarti AutanganAy sedangkan leko berarti Aumembalas, balasan, memberikan hal serupa kepada orang lain. Ay Jadi, jika dijelaskan adalah seperti berikut: Emi Lime . mbil, tanga. , dimaksudkan bagi orang yang pergi bekerja ke lahan . awah, kebu. seorang lain dengan maksud menyumbangkan tenaganya dan berdasarkan kesepakatan akan mendapat balasan terhadapnya dalam suatu pekerjaan yang sama dan tempo waktu yang sama juga. Dan balasan dari yang terkait . rang pertama yang dikenai sasaran emi lim. itulah yang nantinya akan disebut Leko Lime . alas, tanga. Kenapa digunakan term tangan, karena dengan tangan memungkinkan orang melakukan suatu pekerjaan. Emi Lime dapat diartikan Mengambil, mengumpulkan tenaga/pekerja dan Leko Lime berarti membalas dengan tenaga (Roby Felix: 2. Untuk memperjelas sistem kerja Leles adalah demikian. A dan B membantu si C dan D saat membajak sawah selama kurun waktu tiga hari, nanti berikutnya si C dan D yang membantu si A dan B selama 3 hari untuk pekerjaan yang sama, yakni bajak sawah. Jadi, sistem kerja Leles adalah Tenaga dibayar Tenaga. Dalam budaya leles ada berapa poin yang dapat dipetik. Pertama, memang dimaksudkan untuk meringankan pekerjaan, namun juga dengan Leles. Masyarakat akan memupuk kerukunan dan keakraban diantara mereka, dikarenakan dalam kebiasaan ini, mereka akan makan dan minum bersama dan saling berbagi cerita. Perlu diketahui budaya Leles tidak dipungut upah berupa barang atau uang. AuKerja Leles ini bukan suatu pemaksaan, tetapi dilakukan apabila ada kesepakatan di antara kamiAy tutur Siprianus Roni, pada kesempatan wawancara pada 16 Oktober 2023. Dalam budaya Leles, semua bekerja bahumembahu, bekerja sama sebagai satu kelompok. Tradisi Leles sangat meringankan pemilik lahan, karena tidak perlu mencemaskan upah/gaji para pekerja dan juga pekerjaan akan semakin lancar karena semua akan berperan, baik perempuan maupun laki-laki. Tetnunya akan dibagi lagi ke dalam berapa bagian, misalkan pekerjaan yang berat atau keras akan dilakukan oleh laki-laki dan yang ringan oleh perempuan. Rupanya tradisi leles juga sangat mengedepankan keadilan dan dalam hal ini masih diperhatikan kesetaraan Gender, tidak memaksudkan perempuan lebih lemah dibandingkan laki-laki. Leles bukanlah suatu keterpaksaan bagi setiap orang yang Kehidupan sosial Masyarakat manggarai memang sangat terbantu berkat kebiasaan ini. Refleksi mendalam terkait budaya Leles memang tidak sederhana untuk direnungkan. Kerap kali setiap warga yang melakukan Leles semakin menambah keakuran atau keakraban. AuDalam suatu Kesmpata wawancra Servolus Abul mengakui. AuKami saling berbagi bukan saja dalam hal tenaga, tapi setiap kali berkumpul untuk bekerja, selalu membagi cerita dan dialog bersama yang semakin mencairkan suasan sehingga kami semakin akrabAy . /10/2. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Dalam tradisi Leles, poinnya bukan saja mengenai menyelesaikan suatu pekerjaan, melainkan juga memupuk keakraban warga menjadi bonus. Frans Armin anggota Leles di Bea Weli. Desa Golo Wune. Kecamatan Lambaleda Selatan. Manggarai Timur, mengunkapkan ini pada 5/4/2022 (Izman 2. Sayangnya. Selama beberapa dekade terakhir. Budaya Leles telah mengalami perubahan yang signifikan. Dengan masuknya pengaruh modernisasi, masyarakat Manggarai menghadapi tekanan untuk mengadopsi praktik-praktik yang lebih Perubahan dalam struktur sosial dan ekonomi telah menyebabkan pergeseran dalam nilai-nilai tradisional, mengancam keberlanjutan Budaya Leles. Fenomena Sosial Budaya Leles Eksistensi fenomena merujuk pada keberadaan atau adanya fenomena dalam dunia nyata. Dalam konteks ini. AufenomenaAy merujuk pada peristiwa, objek, atau kejadian yang dapat diamati, dialami, atau dibuktikan dalam Eksistensi fenomena mengacu pada kenyataan bahwa sesuatu itu benar-benar ada dan dapat dikenali atau diidentifikasi (Sujarwa 1999. Dalam berbagai konteks, eksistensi fenomena dapat memiliki makna yang Dalam ilmu pengetahuan, eksistensi fenomena dapat merujuk pada keberadaan atau kenyataan suatu gejala atau objek yang dapat diamati atau diukur secara empiris (Armada Riyanto 2. Misalnya, eksistensi fenomena alam seperti perubahan cuaca, gerhana matahari, atau gempa bumi adalah fakta yang ada dalam dunia Fakta sosial dalam budaya ini adanya kesatuan, kespakatan. Dikatakan demikian, karena sejatinya untuk membaur atau bergabung dalam kelompok Leles, seorang atau sekelompok orang perlu duduk untuk berrunding bersama, terkait kesepakatan yang akan diambil dalam proses berjalannya kerja sama. Yang perlu dibahas dalam sebuah perkumpulan dan kebersamaan ini adalh terkait waktu . amanya pekerjaa. , tempat dan jenis pekerjaan, dan jumlah anggota yang hadir. Suatu ungkapan yang mungkin pas dalam hal ini adalah Auberat sama dipikul ringan sama dijinjing,Ay karena di sana ada dimensi keadilan. Pernyataan yang sering dikaitkan dengan berkumpul bersama untuk mengambol sebuah keputusan dalam fenomena sosial masyarakat Manggarai adalah lonto leok atau duduk bersama (Adon 2. Fenomena dalam pengetian ini akan lebih merujuk pada suatu wadah refleksi filosofis seputar pristiwa, objek, kejadian yang dapat diamati dalam budaya Leles orang manggarai. Secara umum, eksistensi fenomena adalah konsep dasar dalam memahami dunia di sekitar kita (Wahid 2. Ini menekankan bahwa hal-hal yang kita amati atau alami adalah nyata dan ada dalam konteks pengalaman kita. Pengalaman yang di maksudkan adalah pengalaman rill Masyarakat Manggarai dalam menjalankan budaya leles ini. Bagaimanapun, fenomena budaya ini sangatlah dalam karena filsafat keseharian menerangkan bahwa leles mecakup kebiasaan yang akan membantu individu berrelasi dengan yang lain. Relasi dalam artian adalah aku dan yang lain . ku dan Lya. saling berhubungan mencakup serangkaian relasionalitas . elasi sehari-har. dengan kesadaran yang mendalam terkait peran seorang dihadapan alam dan sesamanya (Riyanto. Armada. Marcelius Ari Christy 2. Fenomena sosial budaya leles mencetuskan relasi yang intim dan mendalam dan penuh makna. Dalam budaya ini tentu ada kebersamaan sosial yang akan berpengaruh terhadap relasi yang baik dalam keseharian hidup masyarakat. Heidegger Martin Heidegger . adalah seorang filsuf asal Jerman yang dianggap salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah filsafat abad ke-20 (Tjahyadi. Dia dikenal karena kontribusinya terhadap fenomenologi, eksistensialisme, dan hermeneutika. Karya-karyanya sering kali kompleks dan kontroversial, dan dia telah berpengaruh besar dalam berbagai bidang filsafat, termasuk filsafat fenomenologi, metafisika, ontologi, dan filsafat politik. Salah satu karya paling terkenal Heidegger adalah AuBeing and TimeAy (AuSein und ZeitA. , (Hardiman 2. yang diterbitkan pada tahun 1927. Dalam karya ini, ia memperkenalkan konsep-konsep seperti AuDaseinAy . ksistensi manusi. AucareAy . , dan AuauthenticityAy . Heidegger menggagas pandangan bahwa makna dalam hidup manusia sangat terkait dengan pemahaman kita tentang keberadaan . dan waktu. Heidegger juga dikenal karena pemikirannya tentang teknologi, di mana dia menyelidiki dampak teknologi modern pada kehidupan manusia dan lingkungan. Selain itu, dia memiliki pengaruh yang signifikan dalam filsafat politik dan pemikiran politik, terutama dalam konteks filsafat eksistensial dan fenomenologi (Drianus 2. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Martin Heidegger adalah seorang filosof eksistensialis dan fenomenologis yang dikenal dengan pemikirannya yang kritis terhadap tradisi metafisika Barat. Dia mengembangkan serangkaian pemikiran yang menyoroti peran metafisika dalam sejarah pemikiran Barat dan mencoba untuk merumuskan pendekatan filosofis baru yang mengatasi masalah-masalah yang dia identifikasi dalam tradisi metafisika (Helwig. Hong, and Hsiaowecksler, n. Berikut adalah beberapa teori-teori metafisika dalam pemikiran Martin Heidegger yang penting untuk dilihat: Pengabaian Ontologi Tradisional: Heidegger mengkritik ontologi tradisional, yang ia anggap sebagai fokus pada entitas atau objek yang ada sebagai hal paling mendasar dalam pemikiran Barat. Dia berpendapat bahwa konsep Aukualitas-kualitasAy yang lebih mendasar dalam tradisi metafisika harus menjadi eksistensi manusia itu sendiri, yang ia sebut sebagai AuDaseinAy. Dalam ontologi Heidegger. Dasein adalah subjek yang ada dalam dunia dan memiliki kemampuan untuk memberikan makna dan nilai kepada entitas-entitas yang ada (MuAoammar 2. Heidegger juga menekankan konsep AuketerlibatanAy sebagai alternatif untuk pandangan tradisional tentang subjek dan objek terpisah. Menurutnya. Dasein selalu sudah terlibat dalam dunia dan bukan entitas yang netral atau terpisah dari dunia. Dalam hal ini, keterlibatan adalah dasar dari pengalaman manusia. Gagasan AuWaktuAy: Heidegger menyoroti peran waktu dalam pengalaman manusia. Dia berpendapat bahwa waktu adalah elemen kunci dalam pemahaman eksistensi manusia. Waktu bukan hanya dimaknai sebagai urutan kronologis, tetapi juga sebagai dimensi yang terlibat dalam pembentukan makna dan identitas. Gagasan AuKesunyianAy (Gelassenhei. , (Riyanto 2. Heidegger mengajukan konsep AukesunyianAy sebagai cara untuk menghadapi permasalahan metafisika. Kesunyian adalah ide tentang merelakan diri untuk melepaskan kendali dan membuka diri pada misteri eksistensi. Ini adalah upaya untuk mengatasi upaya manusia untuk mengendalikan dan mendefinisikan semua aspek kehidupan dan, sebaliknya, meresapi pengalaman dengan demikian menerima keterbatasan manusia dalam pemahaman dunia. BUDAYA LELES SEBAGAI FENOMENA SOSIAL TERANG METAFISIKA MARTIN HEIDEGGER Terowongan metafisika yang ditawarkan oleh Martin Heidegger dan tradisi Leles dalam masyarakat Manggarai, khususnya di Kabupaten Manggarai Timur, memiliki kaitan mendalam yang dapat dijelaskan melalui pemahaman akan eksistensialisme dan nilai-nilai kultural yang berakar dalam kedua konsep tersebut. Dalam konteks ini, terowongan metafisika mengacu pada pandangan Heidegger tentang bagaimana manusia merenungkan makna eksistensinya di dunia (Liana et al. , sedangkan Leles adalah sebuah tradisi yang menunjukkan bagaimana masyarakat Manggarai secara kolektif merenungkan dan menghayati makna kerja sama dan solidaritas. Heidegger mengeksplorasi konsep Dasein, yang merujuk pada eksistensi manusia yang berada dalam dunia ini (Dawami and Rifqi 2. Dasein menuntun individu untuk mempertanyakan makna eksistensinya, mengeksplorasi pertanyaan tentang hidup, kematian, dan makna dalam konteks yang lebih luas. Dalam hal ini, tradisi Leles di Manggarai Timur dapat dilihat sebagai manifestasi konkret dari eksistensialisme dalam tindakan. Saat masyarakat Manggarai berkumpul untuk melakukan pekerjaan bersama, mereka secara efektif merenungkan makna kerja sama dan solidaritas. Mereka menggabungkan eksistensialisme dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pemikiran Heidegger tentang teknologi juga memiliki relevansi dengan budaya Leles. Heidegger mengkritik pandangan tradisional tentang teknologi yang bersifat instrumental dan lebih menekankan pada pandangan teknologi sebagai mode eksistensial manusia. Dalam hal ini. Leles mencerminkan pandangan Heidegger bahwa teknologi bukan hanya alat, tetapi juga sebuah aspek yang mendalam dalam eksistensi manusia (Setyo and Wibowo 2. Ketika masyarakat Manggarai bekerja bersama dalam semangat Leles, mereka melibatkan teknologi sederhana seperti alat pertanian tradisional dan bahan bangunan. Ini bukan sekadar penggunaan alat, tetapi juga merupakan ekspresi eksistensial mereka dalam merawat dan mempertahankan budaya dan tradisi mereka. Selain itu. Heidegger menekankan pengaruh bahasa dalam pemahaman eksistensial manusia. Dalam tradisi Leles, bahasa adalah sarana komunikasi utama yang membantu masyarakat Manggarai berkolaborasi dengan efektif (Deki 2. Kata-kata dan simbol-simbol dalam bahasa mereka mengandung makna budaya dan nilai-nilai yang mendalam. Dengan cara ini, bahasa menjadi alat untuk merenungkan makna eksistensi dan budaya dalam konteks Leles. Dalam kesimpulan, terowongan metafisika Heidegger dan tradisi Leles di Manggarai Timur memiliki keterkaitan yang mendalam dengan pemahaman eksistensialisme, teknologi, bahasa, dan nilai-nilai kultural. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Keduanya memungkinkan manusia untuk merenungkan dan mengaktualisasikan makna kehidupan dan kerja sama kolektif dalam konteks budaya dan lingkungan Dalam konteks sistem kerja Leles di Masyarakat Manggarai, terdapat dua istilah yang penting, yaitu AuEmi LimeAy dan AuLeko LimeAy, yang memiliki relevansi dengan perspektif Heidegger tentang teori kritis tentang Secara harfiah. Emi berarti 'ambil' dan Lime berarti AutanganAy, sementara leko berarti Aumembalas atau balasanAy, memberikan hal serupa kepada orang lain. Emi Lime merujuk pada individu yang pergi untuk bekerja di lahan milik orang lain dengan niat untuk menyumbangkan tenaganya, dan sebagai akibat dari kesepakatan tersebut, ia akan menerima balasan dalam bentuk pekerjaan yang sama pada waktu dan kondisi yang sama. Leko Lime adalah istilah yang mengacu pada balasan yang diberikan oleh individu yang pertama kali menerima bantuan Emi Lime. Dalam konteks ini, penggunaan istilah AutanganAy adalah signifikan, karena tangan merupakan alat yang memungkinkan seseorang untuk melakukan pekerjaan fisik. Penggunaan istilah Emi Lime dan Leko Lime dalam budaya Leles menggambarkan aspek yang mendalam dalam kerja sama dan solidaritas masyarakat Manggarai. Hal ini juga relevan dengan perspektif Heidegger tentang keterlibatan dan peran individu dalam dunia. Heidegger menekankan pentingnya keterlibatan individu dalam kegiatan sehari-hari sebagai bagian integral dari eksistensi manusia. Dalam konteks Emi Lime, individu yang pergi bekerja pada tanah orang lain dengan niat memberikan tenaganya menunjukkan keterlibatan mereka dalam tindakan kerja sama yang mengakui kebutuhan bersama dan saling bergantung dalam masyarakat mereka. Selanjutnya, istilah Leko Lime menggarisbawahi ide bahwa individu yang awalnya menerima bantuan Emi Lime akan memberikan balasan dalam bentuk pekerjaan yang sama. Ini mencerminkan siklus keterlibatan dan balasan, yang sesuai dengan perspektif Heidegger tentang bagaimana manusia secara aktif terlibat dalam dunia sekitarnya dan menjalin hubungan dengan sesama. Keterlibatan ini juga mengandung aspek temporal, di mana pekerjaan dilakukan pada waktu dan tempo yang sama. Dengan demikian, konsep Emi Lime dan Leko Lime dalam tradisi Leles Masyarakat Manggarai menciptakan pemahaman yang dalam tentang keterlibatan, kerja sama, dan eksistensi manusia dalam dunia, sejalan dengan pandangan Heidegger tentang bagaimana individu merenungkan makna eksistensinya dalam tindakan sehari-hari dan dalam keterlibatan dengan orang lain Sistem kerja Leles dalam budaya Manggarai Timur dapat dijelaskan sebagai berikut: A dan B membantu C dan D dalam pekerjaan membajak sawah selama tiga hari, dan selanjutnya C dan D akan membantu A dan B dalam pekerjaan yang sama selama tiga hari berikutnya. Dengan kata lain. Leles adalah sistem di mana tenaga dibayar dengan tenaga. Konsep ini menunjukkan ketergantungan dan kerja sama yang dalam antara anggota Dalam konteks ini, terdapat beberapa poin yang menonjol dalam budaya Leles. Pertama-tama, meskipun tujuannya adalah untuk meringankan beban pekerjaan. Leles juga memupuk kerukunan dan keakraban di antara anggota masyarakat. Selama periode Leles, mereka makan dan minum bersama, berbagi cerita, dan menghabiskan waktu bersama-sama. Leles bukan sekadar pertukaran tenaga, tetapi juga kesempatan untuk mempererat hubungan sosial di komunitas. Yang perlu ditekankan adalah bahwa budaya Leles tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk barang atau Semua anggota masyarakat bekerja bersama bahu-membahu tanpa mempertimbangkan kompensasi Hal ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas dan saling membantu yang mendasari budaya Leles. Tidak ada perbedaan gaji atau upah antara mereka. semua bekerja untuk kebaikan bersama. Dalam budaya Leles, semua orang berpartisipasi dalam pekerjaan dengan semangat kerja sama. Tradisi ini meringankan pemilik lahan karena mereka tidak perlu khawatir tentang pembayaran upah kepada pekerja. Semua anggota komunitas berkontribusi, baik laki-laki maupun perempuan, sesuai dengan kemampuan dan peran Pekerjaan yang berat biasanya dilakukan oleh laki-laki, sementara pekerjaan yang lebih ringan dapat dijalankan oleh perempuan. Ini menunjukkan bahwa budaya Leles mendasarkan diri pada prinsip kesetaraan gender, menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki memegang peran yang sama pentingnya dalam keberhasilan Penting untuk menekankan bahwa Leles bukanlah keterpaksaan bagi siapa pun yang melakukannya. Leles adalah suatu tindakan sukarela yang dipraktikkan oleh masyarakat sebagai bentuk solidaritas dan kerja sama. Tidak ada tekanan atau paksaan untuk berpartisipasi dalam Leles. itu adalah pilihan yang diambil secara sadar oleh individu sebagai wujud dukungan dan saling ketergantungan dalam komunitas. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Sekarang, mari kita kaitkan konsep Leles dengan teori waktu Martin Heidegger. Heidegger mengeksplorasi pandangan tentang waktu dalam karyanya AuSein und ZeitAy (Wujud dan Wakt. Dia memandang waktu sebagai fenomena yang kompleks dan fundamental dalam eksistensi manusia. Heidegger membedakan dua jenis waktu: AuWaktu terukurAy . lock tim. dan AuWaktu yang tumpang tindihAy atau overlapping time (Asman and Riyanto Dalam konteks Leles, kita dapat melihat bagaimana waktu terukur mungkin memiliki peran penting. Pekerjaan Leles berlangsung dalam periode yang telah diatur sebelumnya, dengan pembagian waktu yang jelas, yaitu tiga hari bagi masing-masing kelompok. Ini mencerminkan pemahaman manusia tentang waktu yang terukur, di mana waktu diatur dan dipecah menjadi segmen-segmen tertentu. Namun, yang lebih menarik adalah konsep "Waktu yang tumpang tindih" dalam pemikiran Heidegger. Waktu yang tumpang tindih dalam pemikiran Heidegger mengacu pada pemahaman bahwa waktu tidak selalu berjalan linear dan teratur. Manusia mengalami waktu yang tumpang tindih saat mereka terlibat dalam tindakan autentik yang menghadirkan mereka sepenuhnya di sini dan sekarang. Dalam budaya Leles, kita bisa melihat bahwa selama periode Leles, anggota komunitas sepenuhnya hadir dalam pekerjaan mereka. Mereka terlibat dalam interaksi sosial yang intens dan merenungkan makna eksistensial kerja sama dan solidaritas mereka. Ini menggambarkan bagaimana Leles menciptakan pengalaman waktu yang tumpang tindih, di mana individu merasakan waktu dengan intensitas dan makna yang mendalam. Dalam pandangan Heidegger, pengalaman waktu yang tumpang tindih adalah saat individu merenungkan makna eksistensial mereka. Dalam konteks Leles, waktu tumpang tindih adalah saat masyarakat Manggarai Timur merenungkan makna kerja sama, solidaritas, dan keberadaan mereka dalam dunia ini. Ini menciptakan momen yang mendalam di mana mereka merenungkan makna kehidupan dan hubungan mereka dengan sesama. Dengan demikian. Leles dapat dilihat sebagai implementasi praktis dari konsep waktu Heidegger yang tumpang tindih, di mana individu merenungkan makna eksistensial mereka dalam kerja sama dan solidaritas dalam komunitas mereka Martin Heidegger, menciptakan kerangka kerja yang relevan untuk menganalisis Budaya Leles dalam konteks sosial yang semakin kompleks. Heidegger menekankan pentingnya AuDaseinAy atau Aueksistensi manusiaAy dalam hubungan dengan dunia sekitarnya. Dalam konteks ini. Dasein adalah individu yang terlibat dalam aktivitas sosial, dan dalam hal ini, anggota masyarakat Manggarai yang menjalani Budaya Leles, jangan sampai terpengaruh oleh perkembangan teknologi. Bagi Heidegger, teknologi tidak hanya merujuk pada alat atau perangkat fisik, tetapi juga pada cara manusia berhubungan dengan dunia dan diri mereka sendiri (Liana et al. Dalam dunia modern, teknologi memengaruhi cara manusia berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Desain, dalam konteks ini, dapat dianggap sebagai aspek teknologi yang membentuk bagaimana manusia berinteraksi dengan objek, lingkungan, dan bahkan diri mereka sendiri. Jadi, meskipun Heidegger tidak secara eksplisit membahas desain, pemikirannya tentang Dasein, teknologi, dan makna dalam dunia dapat dihubungkan dengan cara manusia merancang dan menciptakan makna dalam dunia mereka. Desain dapat dipahami sebagai bagian dari cara manusia menghadirkan dunia dan berinteraksi dengan teknologi di dunia modern. Heidegger juga menggambarkan konsep AuwaktuAy sebagai aspek penting dalam pemahaman eksistensi Bagi masyarakat Manggarai, waktu memiliki makna yang mendalam dalam pelaksanaan Budaya Leles. Acara-acara adat dan siklus pertanian mengikuti ritme alam dan waktu tradisional. Namun, modernisasi telah membawa perubahan dalam persepsi waktu, dan ini telah mempengaruhi pelaksanaan Budaya Leles. Sedangkan konsep "Pengabaian Ontologi Tradisional" dalam pemikiran Martin Heidegger berkaitan dengan upaya filosofisnya untuk menggeser fokus dari pemikiran Barat yang telah terlalu berpusat pada entitas-entitas yang ada (Seiend. menuju pertanyaan ontologis yang lebih mendasar tentang apa yang ada atau Sein (Drianus 2. Heidegger menekankan bahwa ontologi tradisional, dengan penekanannya pada objek dan substansi, telah mengabaikan pertanyaan fundamental tentang makna eksistensi manusia dan hubungannya dengan dunia. Dalam konteks budaya Leles orang Manggarai, konsep ini bisa dipahami sebagai upaya untuk menggeser fokus dari tindakan kerja sama yang tampak pada permukaan . eperti gotong royon. ke pertanyaan yang lebih mendalam tentang makna tindakan ini dalam pengalaman manusia Orang Manggarai dalam budaya Leles menjalankan sistem kerja sama yang melibatkan bantuan saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan, tetapi ini tidak semata-mata masuk dalam kerangka gotong royong tradisional yang seringkali berkaitan dengan pemberian tanpa harapan pengembalian. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Dalam kerja sama Leles, ada aspek yang lebih dalam yang mencerminkan aspek pengabaian ontologi tradisional Heidegger. Ini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang mendasari tindakan kerja sama ini, apakah hanya berhubungan dengan tindakan fisik atau memiliki makna yang lebih mendalam yang mencakup eksistensi Heidegger akan menekankan bahwa perbuatan manusia, seperti kerja sama dalam budaya Leles, tidak hanya menjadi objek tindakan tetapi juga merupakan manifestasi dari eksistensi manusia yang selalu sudah terlibat dalam dunia. Pemikiran filosofis Heidegger dapat merangsang refleksi dalam konteks budaya Leles. Bagaimana makna dan eksistensi manusia terlibat dalam tindakan kerja sama seperti Leles? Apakah ada dimensi yang lebih mendalam dalam tindakan ini yang mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang manusia dan dunianya? Kesimpulannya, konsep AuPengabaian Ontologi TradisionalAy dalam pemikiran Heidegger mengajak kita untuk merenungkan makna tindakan manusia dan hubungan manusia dengan dunianya melampaui sekadar entitas atau objek. Dalam budaya Leles orang Manggarai, ini dapat membantu menggali makna yang lebih dalam dari kerja sama mereka dan mengarah pada pertanyaan ontologis tentang apa yang mendasari tindakan manusia dalam budaya ini serta bagaimana tindakan ini memahami eksistensi manusia dalam dunia karena manusia sejatinya terlibat aktif dalam relasi dengan sesama dan alam sekitar. Ide keterlibatan menjadi alternatif penting terhadap pandangan tradisional tentang pemisahan antara subjek . dan objek . , dan dalam konteks budaya Leles, konsep keterlibatan ini menyoroti dimensi unik dari kerja sama dan kolaborasi. Kita cenderung memandang dunia sebagai sesuatu yang terpisah dan eksternal dari kita sebagai individu. Subjek dan objek dianggap terpisah satu sama lain, dan hubungan antara manusia dan dunia sering diartikan sebagai pengamatan objektif dan pasif. Dalam kerangka pandangan ini, manusia sering dianggap sebagai pemerhati yang netral, mengamati dunia dari Namun, dalam budaya Leles, kita melihat bahwa manusia tidak hanya menjadi pemerhati pasif, melainkan agen yang aktif dalam menjalani hidup mereka. Mereka terlibat dalam tindakan kerja sama yang mencakup membantu orang lain dalam pekerjaan mereka, yang menggambarkan gagasan Heidegger tentang AuketerlibatanAy di mana manusia selalu terlibat dalam dunia, bukan sebagai subjek yang terpisah dari dunia. Dalam budaya Leles, terdapat dimensi keterlibatan yang mendalam, di mana individu berkontribusi pada tugas dan pekerjaan bersama dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama. Ini mencerminkan bagaimana manusia adalah bagian integral dari dunia mereka, dan bagaimana tindakan manusia tidak terbatas pada pengamatan pasif, melainkan melibatkan partisipasi aktif dalam proses sosial dan pekerjaan. Hal ini sesuai dengan pemikiran Heidegger bahwa manusia adalah makhluk yang terlibat dalam dunia, dan keterlibatan adalah bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Namun, penting untuk diingat bahwa budaya Leles saat ini menghadapi tantangan signifikan. Di era modern yang semakin gejolak, nilai-nilai tradisional seringkali terancam oleh perubahan sosial, ekonomi, dan Masyarakat modern seringkali lebih fokus pada individualisme, keserakahan, dan pembagian kerja yang lebih terpisah. Budaya Leles, dengan penekanan pada keterlibatan aktif dalam membantu sesama, mungkin menghadapi tantangan dalam menjaga dan memelihara nilai-nilai ini. Dalam konteks ini, pemahaman tentang keterlibatan dalam budaya Leles menjadi sangat penting. Masyarakat Manggarai perlu merenungkan kembali nilai-nilai keterlibatan dan bagaimana mereka dapat mempertahankannya dalam perubahan zaman. Bagaimana mereka dapat memahami makna keterlibatan ini dalam dunia yang semakin kompleks dan terhubung secara global? Bagaimana keterlibatan ini dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang eksistensi manusia dalam dunia? Dengan begitu, konsep "Kritik terhadap Kategori Keterlibatan" dalam pemikiran Heidegger tidak hanya membantu kita memahami budaya Leles orang Manggarai, tetapi juga merangsang refleksi yang mendalam tentang bagaimana menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai keterlibatan dalam budaya ini. Dalam era modern yang cenderung memisahkan subjek dan objek, pemahaman ini menekankan pentingnya terus mempertahankan dan meneruskan tradisi kerja sama yang kuat dalam budaya Leles dan mengenali dimensi keterlibatan yang dalam yang menjadi bagian dari identitas manusia dan eksistensi mereka. Karenanya ada penekanan agar keterlibatan anggota tetap memperhatikan waktu yang baik dan cukup sesuai kebutuhan dalam konteks kebersamaan kerja leles. Budaya Leles orang Manggarai adalah suatu sistem kerja sama yang melibatkan bantuan dan kolaborasi dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan bersama. Di dalam budaya Leles, waktu memainkan peran yang sangat penting dan memiliki dimensi yang berbeda dalam pemahaman eksistensi manusia. Dalam konteks budaya Leles, perlu dijelaskan lebih rinci bagaimana konsep waktu dan elemen-elemen yang Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 terkait dengannya dalam budaya ini berkaitan dengan gagasan Martin Heidegger tentang peran waktu dalam pengalaman manusia. Budaya Leles memiliki tata kelola waktu yang sangat terstruktur dan disiplin. Waktu memiliki nilai yang sangat tinggi dalam budaya ini. Pada waktu tertentu, anggota kelompok atau masyarakat Leles akan berkumpul untuk bekerja sama dalam menyelesaikan suatu tugas, seperti pertanian atau membangun rumah. Setiap anggota harus hadir pada waktu yang telah ditentukan, karena keterlibatan aktif dalam pekerjaan bersama sangat penting dalam budaya ini. Waktu dianggap sebagai sumber daya yang berharga dan harus dihargai. Pemahaman ini tentang waktu mencerminkan pentingnya keterlibatan dalam budaya Leles, di mana individu aktif berpartisipasi dalam pekerjaan bersama. Pembagian waktu dalam budaya Leles sangat terstruktur. Ada waktu untuk bekerja dan waktu untuk Pembagian waktu ini mencerminkan prinsip keterlibatan aktif dan juga memungkinkan masyarakat Manggarai untuk mengelola sumber daya mereka dengan bijak. Ketika anggota masyarakat berkumpul untuk bekerja, mereka terlibat sepenuhnya dalam tugas tersebut, sehingga waktu bekerja sangat intens dan efisien. Setelah selesai bekerja, ada waktu untuk bersantai dan berinteraksi sosial. Pembagian waktu ini mencerminkan cara mereka menghormati waktu kerja bersama dan juga mencerminkan bagaimana waktu memainkan peran dalam membentuk makna dalam hidup mereka. Waktu dalam Pembentukan Makna: Gagasan Heidegger tentang waktu sebagai elemen kunci dalam pengalaman manusia dapat diterapkan pada budaya Leles. Waktu dalam budaya Leles tidak hanya dianggap sebagai urutan kronologis, melainkan juga sebagai dimensi yang terlibat dalam pembentukan makna dan identitas. Ketika masyarakat Manggarai berkumpul untuk bekerja bersama, waktu tersebut tidak hanya digunakan untuk mencapai tujuan praktis . enyelesaikan tuga. , tetapi juga untuk membangun hubungan sosial, memelihara nilainilai budaya, dan menciptakan identitas kelompok. Pembagian waktu ini mencerminkan bagaimana waktu berkontribusi pada pembentukan makna dalam kehidupan mereka. Pentingnya Keterlibatan Aktif: Keterlibatan aktif dalam budaya Leles adalah aspek penting dalam pemahaman waktu dan eksistensi manusia. Ketika individu terlibat secara aktif dalam tugas-tugas bersama, waktu menjadi sarana untuk mengaktualisasikan nilai-nilai budaya dan memperkuat identitas mereka. Waktu bekerja bersama memungkinkan mereka untuk merasakan rasa solidaritas, saling menghormati, dan saling bergantung. Dengan demikian, waktu menjadi alat untuk membangun makna dalam kehidupan mereka, bukan hanya sebagai alat untuk mengukur durasi. Pentingnya Melestarikan Nilai-Nilai Budaya: Dalam konteks budaya Leles, perubahan zaman dapat mengancam nilai-nilai tradisional. Modernisasi dan perubahan sosial seringkali membawa perubahan dalam pandangan terhadap waktu dan keterlibatan aktif. Oleh karena itu, penting untuk menjaga dan melestarikan nilainilai budaya yang terkait dengan waktu dan keterlibatan aktif. Hal ini mencerminkan pemikiran Heidegger tentang bagaimana eksistensi manusia harus selalu terlibat dalam dunianya, dan bagaimana waktu memainkan peran dalam membentuk makna eksistensi tersebut. Dalam rangka memahami bagaimana budaya Leles orang Manggarai terkait dengan gagasan Heidegger tentang waktu, kita melihat bahwa waktu dalam budaya Leles bukan hanya sekadar ukuran kronologis, melainkan elemen penting dalam pembentukan makna dan identitas manusia. Pembagian waktu yang terstruktur mencerminkan pentingnya keterlibatan aktif dalam pekerjaan bersama, dan waktu digunakan sebagai alat untuk membangun makna dalam kehidupan mereka. Penting untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya ini dalam era modern yang seringkali mengubah pandangan terhadap waktu dan keterlibatan aktif. Dengan cara ini, budaya Leles dapat terus menjadi sumber kekayaan budaya dan makna bagi masyarakat Manggarai. Dengan demikian fenomena di balik budaya leles mengingatkan kita akan pentingnya kerjasama, saling bahu-membahu, menghargai kelsetarian hubungan manusia dan sesame serta alam disekitarnya. Ada suatu pilar kedisiplinan dan keadilan serta kerja sama yang lebih baik dan bermartabat. KESIMPULAN Budaya Leles Orang Manggarai adalah fenomena sosial yang mendalam dan berharga. Dalam konteks perubahan sosial dan modernisasi, peran Budaya Leles dalam menjaga keharmonisan masyarakat Manggarai semakin penting. Dengan menggunakan kerangka kerja Metafisika Heidegger, kita dapat memahami peran Budaya Leles dalam konteks yang lebih luas dan mendalam. Melalui kajian pustaka dan penelitian kualitatif, kita dapat mengurai perubahan dalam Budaya Leles dan mencari solusi yang memungkinkan untuk menjaga Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 keberlanjutan sistem kerja sama ini dalam masyarakat Manggarai yang semakin kompleks. Dengan demikian, tulisan ini memberikan wawasan yang lebih baik tentang Budaya Leles dan relevansinya dalam era modern yang terus berubah. Teknologi-teknologi meskipun sering mengahantui relasi kita dengan sesame dan system kebersamaan kita dengan orang lain, dengan refleksi ini kita tetap sadar bahwa ada Lyan di sekitar, yang datang memberi kesempurnaan dalam hidup bermasyarakat, berbudaya dan bernegara. Tulisan ini bukan sebagai suatau batasan utuk terus merefleksikan budaya Leles dalam kajian fenomena filsafat atau ilmu-ilmu lain. Masih banyak makna dan dimensi-dimensi yang dapat diuraikan dan diambil sebagai filsafat sehari-hari terkait budaya Leles. Dari budaya Leles orang Manggarai ini dapat dipetik atau diambil suatu pencapaian yang akan menjadi pedoman atau pegangan hidup, yakni kita tetap perlu membangun sistem kerja sama yang baik dengan tetap memperkatikan dimensi-dimensi positif didalamnya. Kita tidak peru berpikir terlalu jauh, bahwa relasi kita hanya akan bergantung baik pada teknologi canggih. Kita memiliki teman, sahabat . di sekitar yang memiliki hak untuk kita sapa sebagai sesame manusia. Meskipun begitu banyak kebutuhan dan tuntutan tetapi dengan melihat pemahaman dan ekspresi sesama terkait hakektat keindahan, harapan, keadilan, waktu bekerja sama, dan tanggungjawab akan membawa kita pada keharmonisan relasi dengan yang lain, baik sesama maupun alam sekitar. DAFTAR PUSTAKA