PENGARUH POST PURCHASE REMORSE TERHADAP NEGATIVE EMOTIONS, LEVEL OF SATISFACTION. EXTENT OF RUMINATION DAN BRAND SWITCHING (STUDI PADA KONSUMEN GENERASI Y PENGGUNA SMARTPHONE DI INDONESIA) Baramadya1. Purwanto2. Mochamad Fatchurrohman3 Universitas WR Supratman Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mahardhika e-mail: baramadya@gmail. Received June 13th 2023 Revised Aug 17th 2023 Accepted Sept 30th 2023 ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of post-purchase remorse on the level of satisfaction, the extent of rumination and brand switching, the effect of post-purchase remorse on negative emotions and level of satisfaction, the effect of post-purchase remorse on negative emotions and the extent of rumination. The population and sample in this study are all smartphone users in the millennial generation in Indonesia who have financial independence. By using the purposive sampling method, the number of samples in this study was 171 respondents. The analysis technique used is Structural Equation Modeling (SEM) using the Analysis of Moment Structures (AMOS) version 24. 0 program. The results showed a significant influence between the variables of post-purchase remorse, level of satisfaction, negative emotions, extent of rumination, and brand switching. Insignificant influence occurs in the relationship of negative emotion variables to level of satisfaction and extent of rumination. Keywords: Post purchase remorse, negative emotion, level of satisfaction, extent of rumination, brand switching, millennials, smartphones. PENDAHULUAN Berawal dari pemahaman teori tentang consumer decision process menurut Hawkins dan Motherbaugh . menjelaskan perjalanan dalam diri konsumen tentang pemenuhan kebutuhan akan produk atau jasa terdapat lima faktor psikologis dan sosiologis sebelum seorang konsumen dalam membuat keputusan konsumsi, diantaranya adalah yang pertama situations factor ialah waktu dan tempat yang diikuti dengan pengetahuan menciptakan stimulus yang berakibat pada Kemudian tahap kedua problem recognition yaitu hasil dari perbandingan actual state dan desire state. Tahapan ketiga merupakan information search dimana seorang konsumen membutuhkan semua informasi tentang produk dan jasa yang ingin dibeli dan dikonsumsi. Selanjutnya masuk ke tahap empat dimana dibutuhkan evaluasi dan seleksi terhadap adanya alternatif lain yang berakibat pada pemilihan outlet dan Masing-masing berlangsung dengan tujuan, pemikiran, dan kebutuhan untuk mendefinisikan bagaimana dan sampai sejauh mana itu akan terjadi, serta dampak yang seharusnya dilalui pada tahapan kelima adalah post purchase, dimana perilaku konsumen setelah melakukan pembelian dan konsumsi atas barang dan jasa akan melakukan evaluasi. Karena hal ini akan Media Mahardhika Vol. No. September 2023 berdampak pada perilaku pembelian Tahap post purchase yang dilalui konsumen memiliki kajian tersendiri bila ditinjau melalui sudut pandang kajian ilmu marketing, karena pemasar memiliki peran penting yang harus diketahui serta dipahami mengenai pengaruh post purchase seperti halnya motif apa saja yang harus dihindari oleh pemasar agar konsumen dapat melakukan pembelian kembali . epurchase intentio. sehingga perusahaan dapat mengambil keuntungan dalam penjualan. Namun di lain sisi banyak dijumpai kasus pembelian produk atau jasa hanya sebagai tolak ukur keberhasilan pemasar (Akbari dan Radmand, 2. Sebagaimana banyak dijumpai media iklan dan metode lain dalam pemasaran yang mampu meningkatkan Karena sejatinya seorang pemasar mampunyai pengalaman dan keterampilan tidak hanya mampu menjual produk dan jasa melainkan menjaga hubungan antar konsumen agar terjalin hubungan jangka panjang yang bersifat mutualisme dengan perusahaan, sehingga konsumen dapat dengan mudah merekomendasikan produk kepada konsumen lain. Konsumen konsumen melakukan keputusan final dalam pembelian yang tidak sesuai dengan harapan, akan tetapi keputusan tersebut merupakan keputusan terbaik bila dibandingkan alternatif potensial produk sejenis (Loomes dan Sugden, 1. , dimana menurut Landman . mendefinisikan regret adalah Aua more or less painful judgment and state of feeling sorry for misfortunes, transgressions, or mistakeAy. Perasaan regret yang terjadi begitu cepat dalam pemikiran tentang suatu keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Sedangkan dalam kajian theory regret sendiri banyak dijumpai dalam berbagai bidang ilmu, dimana teori tersebut ditemukan pada bidang ilmu penelitian economics (Bell, 1982. Loomes dan Sugden, 1. tentang pengambilan keputusan yang bersifat irrasional, dan ilmu psychology (Gilovich dan Medvec, 1995. Kahneman dan Tversky, 1982. Landman, 1. , hingga kini banyak mengalami perkembangan dan temuan dimana kajian regret muncul pada ilmu marketing secara khusus yaitu tentang consumer behavior, seperti pada penelitian Simson dkk, . regret muncul melalui kecenderungan dalam perilaku konsumen, dan motivasi pembelian, (Dholakia, 2. menjelaskan tentang involvement untuk menilai resiko. Watson dan Spence . menjelasan tentang menghindari regret dari perilaku post-purchase menggunakan penilaian emosi konsumen yang muncul. Sedangkan dalam penelitian tentang kajian teori regret terdapat istilah lain yang juga perlu diketahui oleh pemasar yaitu remorse yang memiliki pengertian menurut Inman dkk . yaitu ketika konsumen melakukan keputusan pembelian yang dianggap paling baik dari produk alternatif sejenis akan tetapi konsumen selalu berpikir bahwa ada produk sejenis yang lebih baik dari pembelian yang telah dilakukan, atau sebuah situasi dimana konsumen memiliki pemikiran dan perasaan yang dihasilkan dari pernyataan Authe feeling is for doingAy dengan perasaan tidak menyenangkan. Akan tetapi pendapat lain menurut Zeelenberg dan Pieters . Lee dan Cotte . menjelaskan tentang arti remorse yaitu sebuah perasan yang tidak menyenangkan dari pemikiran yang dihasilkan dari membandingkan statement Auwhat this isAy dan Auwhat this could beAy. Ketika keinginan dalam pemikiran berbeda dengan pembelian produk yang telah dilakukan, padahal keputusan pembelian yang dilakukan merupakan keputusan terbaik dari alternatif sejenis yang tersedia, maka perasaan remorse akan Pada post purchase remorse tersendiri dapat terjadi pada kasus jangka Media Mahardhika Vol. No. September 2023 panjang dan jangka pendek, untuk kasus remorse yang terjadi pada jangka pendek adalah tanggapan langsung dari perasaan atas hasil pembelian, sedangkan jangka panjang adalah hasil dari pemikiran dan gagasan yang disebabkan oleh apa yang telah terjadi setelah melakukan konsumsi saat waktu tertentu (Bui dkk, 2. Adanya sifat remorse pada konsumen akan berpengaruh pada emosi individu . egative emotion. , dan akan berdampak pada extent of rumination melalui pengalaman konsumen. Rumination sendiri berawal dari kejadian yang kurang menyenangkan bersifat berulang dan saling terkait dalam pemikiran konsumen pada pembelian produk yang serupa sehingga konsumen merasa dejavu akan keputusan yang dilakukan (Martin dan Tesser, 1. , pengalaman yang bersifat berkala secara berulang pada benak kosumen yang hadir secara tiba-tiba setelah melakukan pembelian tanpa adanya stimuli dari lingkungan. Ruminative thinking termasuk pemikiran pengambilan keputusan yang kurang menyenangkan akan menimbulkan sebuah konsekuensi yang harus dihadapi oleh konsumen pada kejadian paska pembelian yang ada dalam diri seseorang konsumen (Rothermund, 2. , dengan kata lain bahwa seseorang harus memperkirakan resiko yang dihadapi setelah melakukan pengambilan keputusan pembelian (Brunstein dan Gollwitzer, 1. Pada kejadian tertentu penjabaran mengenai ruminative thinking mempunyai hubungan dengan negative emotion dan contribute to depression (Pyszczynski dan Greenberg, 1. Mempertimbangkan hal ini, maka banyak akibat yang timbul pada konsumen remorse. Sehingga topik ini menarik untuk diteliti bila digabungkan dengan aspek satisfaction levels dan brand switching behavior, dan penelitian ini akan memberikan penjelasan mengenai hubungan remorse pada negative emotion dan ruminative thinking dalam teori perilaku konsumen pada konteks bahasan consumer decision process. Peran penting pada penelitian post purchase remorse berawal pada sebuah perjalanan yang mengacu pada topik tentang merek yang menyatakan bahwa dampak dari brand satisfaction merupakan brand performance (Anderson dan Sullivan. Yi, 1. Namun temuan dalam penelitian menyarankan bahwa brand performance tidaklah cukup untuk mengisi kekosongan dampak yang menjadi tolak ukur pada brand alternative oleh sebab itu membutuhkan penjelasan pada post-purhase decision making (Inman dkk, 1997. Tsiros and Mittal, 2. , dimana konsumen mengetahui ketika terjadi pemilihan merek alternatif seharusnya menjadi lebih puas, melainkan ketika konsumen sudah memilih brand performance yang baik masih terdapat perasaan remorse dalam benak konsumen. Perasaan itulah yang muncul mempunyai dampak negative pada satisfaction levels (Inman dkk, 1. , sehingga dampak buyer remorse berkorelasi dengan brand switching. Kesimpulannya dampak pada remorse timbul mempunyai peran penting pada pemasar untuk dapat memahami dan mengembangkan brand loyalty serta mampu memelihara hubungan jangka panjang antara konsumen. Penelitian akan dilakukan sesuai penelitian Akbari dan Radmand . Bui dkk . serta penelitian ini dilakukan pada variasi konsumen yang berbeda, karena menurut Maziriri dan Madinga . memberikan penjelasan bahwa konsumen yang termasuk dalam generasi Y . merupakan konsumen yang rentan untuk melakukan buyer remose. Karakteristik generasi Y sendiri menurut Beutell dan Wittig-Berman . yaitu pengusaan teknologi yang tinggi, sehingga generasi ini cenderung lebih banyak menggunakan teknologi dan internet yang Media Mahardhika Vol. No. September 2023 lebih baik dari pada sebelumnya. Pemilihan produk smartphone dirasa sesuai, karena perkembangan smartphone di Indonesia semakin kompetitif dan sulit diprediksi peluncuran produk terbaru dari berbagai merek yang tersedia di pasaran, maka peneliti menduga terdapat konsumen remose setelah melakukan konsumsi smartphone. Hal ini dengan ditandai banyaknya penggunaan internet yang berbasis broadband, karena sejatinya smartphone merupakan gabungan dari handphone dan internet (Baily dkk. Sedangkan kemunculan smartphone sangat berpengaruh sebagai alat komunikasi dalam bisnis, politik, ekonomi dan sosial (OAoLeary dan OAoLeary, 2. Melihat fenomena ini maka akan dilakukan penelitian pada pengguna smartphone untuk kategori generasi Y yang lahir pada tahun 1981 sampai 1999 (Beutell dan Wittig-Berman. Selaras dengan pola masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif, dan berdasarkan data bahwa generasi terbanyak penduduk Indonesia tahun 2017 merupakan generasi Y 34% . juta jiw. , generasi X 20% . juta jiw. dan generasi baby boomers 13% . juta jiw. dari total populasi penduduk indonesia sesuai data Badan Pusat Statistik. Dengan melihat sudut pandang pentingnya usia produktif dalam berbelanja maka dirasa ada kesesuaian antara post purchase remorse pada smartphone sebagaimana kerap kali dijumpai dalam berbagai kasus, seperti halnya kepemilikan smartphone lebih dari satu jenis banyak ditemukan, karena menurut A. Neilsen Indonesia pada tahun 2016 mengatakan bahwa barang yang paling banyak diminati oleh konsumen indonesia adalah kategori fashion, gadget dan produk elektronik . Maka kajian ini ingin memberikan gambaran generasi millennials khususnya di Indonesia karena Indonesia merupakan negara keempat dengan populasi terbanyak didunia setelah Cina. India. Amerika oleh sebab itu Indonesia merupakan pangsa pasar dunia bagi produsen smartphone yang potensial bila ditinjau dari segi perekonomian dunia. TINJAUAN PUSTAKA Hubungan Post Purchase Remorse terhadap Level of Satisfaction Berdasarkan Inman dkk . post purchase remorse merupakan kejadian yang timbul saat konsumen melakukan keputusan pembelian yang dianggap terbaik dari produk alternatif sejenis akan tetapi konsumen selalu berpikir bahwa ada produk sejenis yang lebih baik dibandingkan pembelian yang telah dilakukan dikala itu. Sedangkan menurut Medvec dkk . tingkat kepuasan terjadi ketika penilaian ekspektasi pada atribut produk oleh konsumen dirasakan cocok dengan realita pada pembelian maka tingkat kepuasan akan diterima. Konsumen yang merasakan satisfaction merupakan dampak terhadap suatu kejadian proses antara prepurchase expectation dan post-purchase experience (Mital dkk, 1998. Sheth dkk, 1. atau bisa dikatakan sebagai ekspresi pembelian dari keputusan yang dilakukan. dan juga menurut Kotler dan Armstrong . dan Thomson dkk . adalah ekspresi kepuasan atau tidaknya konsumen terjadi pada perbandingan actual dan desire atas produk atau jasa setelah dikonsumsi. Apabila seorang konsumen mempunyai perasaan menyesal dalam pembelian dikarenakan keputusan pembelian yang dilakukan tidak sesuai harapan, padahal keputusan pembelian yang dilakukan dibandingkan alternatif pilihan produk yang tersedia maka konsumen akan merasa kurang puas dalam melakukan pembelian produk Sehingga hubungan resiprokal antara post purchase remorse dan level of satisfaction saling berkaitan. Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis pertama yaitu: Media Mahardhika Vol. No. September 2023 H1: post purchase remorse mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap level of satisfaction. Hubungan Post Purchase Remorse terhadap Negative Emotions Definisi post purchase remorse menurut Inman dkk . terjadi dalam diri konsumen ketika melakukan keputusan final dalam pembelian yang dianggap paling baik dari produk alternatif sejenis akan tetapi konsumen selalu berpikir bahwa pasti ada produk sejenis yang lebih baik dari pembelian yang telah dilakukan saat itu. Sedangkan dalam kasus ini peran negative emotions mempunyai dampak beraneka ragam seperti pada konsumen yang puas atau tidaknya karena kecenderungan perilaku paska pembelian yang timbul dapat (Zeelenberg dan Pieters, 2. Pada banyak kasus konsumen mempunyai pengalaman pada negative emotions pada suatu pembelian, sebagai contoh ketika konsumen ingin membeli sebuah produk dengan karakteristik dan atribut yang sesuai harapan di pasaran maka konsumen akan berpikir untuk memilih produk terbaik yang ada sehingga setelah dilakukan keputusan pembelian konsumen merasa produk yang dibeli tidak sesuai karena konsumen selalu berpikir pasti ada produk lain yang lebih baik dari pada produk yang telah dikonsumsi, hal ini menyebabkan emosi dalam diri Seperti yang dilansir oleh Drolet dan Luce . White . menyatakan konsumen cenderung mencari pemecahan masalah yang dihadapinya dengan mencari alternatif lain dari penyedia layanan lainnya sebagai luapan bentuk mengurangi emosi yang dihasilkan atas pembelian produk atau Sehingga dapat disimpulkan ketika terjadi perilaku post purchase remorse maka konsumen merasakan negative emotions dalam keputusan pembelian yang dilakukan, sehingga menjadikan berkaitan diantara Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis kedua, yaitu: H2: post purchase remorse mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap negative emotions. Hubungan Post Purchase Remorse terhadap Extent of Rumination Pada dasarnya ketika kondisi seorang konsumen mengalami rumination akan mengalami penurunan kemampuan dalam membuat rencana yang efektif dalam menentukan keputusan pembelian (Hong. Dampak kesimpulan bahwa rumination menjadi penyebab ketakutan, stress dan depresi dalam diri konsumen (Rosen dan Hochwarter. Karena rumination sendiri akan berakibat pada perasaan negatif berkali-lipat setelah melakukan kesalahan dalam keputusan pembelian yang dilakukan (Lyubomirsky dkk, 1. , sehingga hal tersebut yang menjadikan berhubungan dari keduanya, sebagai contoh ketika seorang konsumen yang mempunyai masa lalu yang pembelian karena selalu ada perbandingan dalam mengevaluasi produk yang telah dikonsumsi, maka hal ini menimbulkan perasaan kecewa yang berkesinambungan sehingga dalam menentukan keputusan pembelian selanjutnya diharapkan tidak terulang kembali. Akan tetapi perasaan kecewa inilah yang menaungi dalam diri konsumen secara berulang hingga terbentuk pengalaman buruk dalam benaknya sehingga menyenangkan yang dihadapi pada setiap kejadian pembelian produk yang serupa. Dapat disimpulkan ketika konsumen selalu memikirkan perbandingan produk yang telah dikonsumsi dengan produk lain yang sejenis maka konsumen telah mengalami rumination dalam pembelian yang dilakukan, hal ini yang menyebabkan hubungan antara post purchase remorse dan extent of rumination adalah saling berkaitan. Berdasarkan uraian Media Mahardhika Vol. No. September 2023 dan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis ketiga yaitu: H3: post purchase remorse mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap extent of rumination. Hubungan Post Purchase Remorse terhadap Brand Switching Hal ini terjadi pada evaluasi dalam pemikiran konsumen atas varietas brand yang ada melalui pencarian informasi berdasarkan harga standart (Vaidyanathan. Berbeda perbandingan dua brand (Levin, 2. dan pengalaman kepuasan sebelumnya dalam pembelian juga mengakibatkan untuk beralih merek pada produk sejenis dikarenakan unsur bosan atau ingin memilih sesuatu dengan pengalaman baru (Inman dkk, 1. karena ketidakpuasan berpengaruh langsung pada remorse (Inman dkk, 1. sedangkan remorse berpengaruh pada sikap brand switching (Zeelenberg dan Pieters, 1. Remorse dipicu akibat penilaian seseorang tidak mampu mengubah suatu keadaan karena produk yang diharapkan dirasa tidak sesuai dengan keputusan pembelian yang dilakukan karena konsumen selalu berpikir ada produk sejenis yang lebih baik, padahal keputusan yang dilakukan merupakan keputusan terbaik dalam memilih alternatif produk sejenis yang tersedia. Menurut McCrae . menyebutkan penilaian yang baik merupakan penilaian atas ancaman dan tantangan, dimana semua tindakan terdapat resiko dan keuntungan. Konsumen akan cenderung memilih tantangan akan hal baru dalam pembelian dibandingkan pengaruh ancaman atas pengalaman buruk terdahulu, hal ini yang menjadi penyebab terjadinya brand switching. sehingga menjadi terkait adanya tingkat kepuasan pada perilaku setelah pembelian dimana brand switching akan dilakukan lebih sedikit pada konsumen yang mengalami tingkat kepuasan yang tinggi atau dengan kata lain harapan konsumen terpenuhi selama melakukan konsumsi, seperti dalam penelitian (Howell. Ehrenberg dkk, 2. penurunan atau peningkatan yang terjadi dalam perilaku brand switching terjadi apabila konsumen mengalami diterima atau ditolaknya harapan terhadap pembelian suatu brand. Hal ini selaras pada penelitian Hetts dkk . Inman Zeelenberg . Krishnamurthy dan Sivaraman . bahwa post purchase remorse akan mempengaruhi perilaku brand switching pada konsumen untuk pembelian akan datang melalui keingintahuan konsumen. Karena konsumen yang remorse tidak adanya kesesuaian dengan harapan dalam melakukan konsumsi, hal ini disebabkan konsumen selalu berpikir dalam membandingkan produk yang telah dikonsumsi dengan produk sejenis lainnya. Maka bisa disimpulkan bahwa adanya post purchase remose pada konsumen juga menjadi penyebab adanya kecenderungan konsumen melakukan brand switching. Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis keempat. H4: post purchase remorse mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap brand switching. Hubungan Negative Emotions terhadap Level of Satisfaction Secara umum kodrat manusia merupakan pencari kesenangan, karena demikian manusia akan mencari sumber yang berbeda dari lingkungan sekitar dan peraturan dari daerah yang nyaman untuk dihuni (Panksepp. Menurut perilaku konsumen terdapat indikasi hubungan yang saling terkait antara negative emotions pada konsumsi yang dilakukan (Menon dan Dube, 2007. Lerner dan Keltner, 2. Seperti yang Richins . penyebaran kuisioner untuk mengetahui jumlah emosi manusia yaitu sebanyak 175 multidimensional scaling dapat mengetahui beberapa daftar emosi yang terkait dimensi Media Mahardhika Vol. No. September 2023 dalam melakukan konsumsi. Dalam penelitian Reynolds dkk . juga ditemukan kemunculan adanya sifat amarah dalam melakukan konsumsi dan hal ini seperti keadaan frustasi, marah, dan jengkel yang saling terkait akibat dari konsumsi yang dilakukan karena pengaruh hasil tingkat kepuasan dari produk atau jasa yang Sedangkan menurut Yi dan Baumgartner . menjelaskan mengenai sifat negative emotions dalam batasan ketentuan seperti kemarahan, kekecewaan, penyesalan dan kekhawatiran dikarenakan tidak terpenuhi ekspektasi konsumen pada atribut produk. Bui dkk . memberikan gambaran konsumen yang mengalami remorse pada pengalamannya cenderung munculnya negative emotions dalam melakukan keputusan pembelian kembali, karena sebagai tolak ukur pada negative emotions mampu mempengaruhi level of satisfaction pada saat proses konsumsi dilakukan (Martin dan Tesser, 1. Sehingga dapat disimpulkan adanya negative mempengaruhi level of satisfaction secara Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis kelima, yaitu: H5: negative emotions mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap level of Hubungan Negative Emotions terhadap Extent of Rumination Menurut penjelasan Martin dan Tesser . mengenai takaran pada negative emotions mampu mempengaruhi extent of rumination melalui pengalaman konsumen saat dan setelah melakukan konsumsi. Menurut penelitian Drolet dan Luce . memberikan gambaran mengenai negative emotios dan extent of rumination, hal ini terjadi ketika konsumen mencari alternatif rekomendasi atas penyedia produk atau jasa dengan tujuan mengurangi negative emotions yang disebabkan pembelian dan konsumsi dari produk atau jasa tertentu yang dirasa kurang menyenangkan karena pemikiran ideal tentang atribut produk tidak dapat dicapai saat melakukan konsumsi pada produk yang dibeli dan dikonsumsi oleh Menurut Bougie dkk . ketika terdapat negative emotions pada konsumen setelah melakukan pembelian karena harapan tidak sesuai, maka akan memberikan dampak berupa perasaan khawatir dan waspada pada pembelian selanjutnya. Jadi bisa disimpulkan bahwa negative emotions akan menyebabkan extent of rumination atas konsumsi dari keputusan pembelian yang dilakukan. Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis keenam, yaitu: H6: negative emotion mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap extent of Hubungan Level of Satisfaction terhadap Extent of Rumination Dalam kasus ini hubungan muncul karena adanya hasil dari kinerja produk yang tidak sesuai ekspektasi yang menyebabkan penurunan tingkat kepuasan setelah dilakukan konsumsi produk atau dengan kata lain meningkatnya level of rumination terjadi karena konsumen selalu beranggapan bahwa adanya produk alternatif sejenis lebih baik dari pada pembelian yang telah dilakukan (Carver dan ScheierAos, 1. Rumination berawal pada beberapa kejadian yang berulang dan saling terkait dalam pemikiran masa lalu kerena keputusan pembelian yang dilakukan setelah dilakukan konsumsi atas produk (Martin dan Tesser, 1989, 2. tejadi ketika pengalaman konsumen mengalami flash back secara berkelanjutan tanpa adanya pengaruh lingkungan sekitar tentang evaluasi keputusan pembelian yang dianggap kurang tepat. Berdasarkan Carver dan ScheierAos . 1, 1. dalam konsep self-evaluative mengenai rumination secara signifikan mempengaruhi perilaku dan konsumen akan memberikan timbal balik Media Mahardhika Vol. No. September 2023 terhadap apa yang telah dikonsumsi. Menurut Martin dan Tesser . 9, 2. rumination merupakan teori yang menjelaskan sebuah proses perjalanan yang dirasakan konsumen saat mengalami perbedaan aktual dan ideal dalam memperoleh sesuatu kenyamanan dalam mengkonsumsi produk, ketika ekspektasi konsumen tidak terpenuhi maka level satisfaction akan menurun sehinga extent of rumination secara tidak langsung akan menurun dan sebaliknya. Maka bisa dijelaskan apabila pemikiran ideal konsumen dalam mengkonsumsi produk tidak terpenuhi karena terlalu banyak memikirkan dan membandingkan produk sejenis yang lebih bagus maka kepuasan konsumen menurun sehingga akan dibayangi oleh pengalaman buruk yang terjadi dalam pemikiran yang dirasakan oleh konsumen setelah dilakukan konsumsi atas produk, hal ini yang menjadikan hubungan antara kedua variabel. sehingga hubungan level of satisfaction dan extent of rumination saling berkaitan secara Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis ketujuh, yaitu: H7: level of satisfaction mempunyai pengaruh positif dan signifikan extent of merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini Karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis (Subiyanto, 2. Dalam penelitian ini, metode pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling yang dilakukan dengan prosedur purposive Dimana definisi purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian (Burns dan Bush. Tehnik analisis dalam penelitian ini menggunakan SEM (Structural Equation Modellin. menggunakan AMOS (Analysis of Moment Structure. 0, ukuran sampel dalam SEM diperoleh berdasarkan dari jumlah konstruk yang digunakan. Menurut Hair dkk, . menjelaskan bahwa role of thumb jumlah minimum sampel untuk analisis model struktural adalah dengan menggunakan sampel besar yaitu antara 100 sampai 200 responden atau lebih. Selain itu menurut Ghozali . memberikan rekomendasi ukuran sampel antara 100 sampai 200 digunakan untuk memenuhi estimasi maximum likelihood, dalam penelitian ini sampel yang diambil sesuai kriteria sebanyak 171 responden untuk melakukan pengujian. Sampel tersebut sudah melewati screening untuk menghindari data bias atau outlie METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabelvariabel tersebut harus didefinisikan dalam bentuk operasional pada masing-masing Reliabilitas Level of Satisfaction Post-Purchase Remorse Negative Emotions Media Mahardhika Vol. No. September 2023 Extent of Rumination H6 Gambar Kerangka Konseptual Penelitian Sumber Data Primer Terdapat beberapa jenis variabel yang digunakan dalam penelitian ini, adapun jenis variabel tersebut antara lain: Variabel eksogen, yaitu variabel yang merupakan predictor atau penyebab bagi variabel lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel eksogennya (X) adalah post purchase remorse. Variabel endogen, yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain atau variabel yang tergantung pada variabel Dalam penelitian ini yang menjadi variabel endogen (Y) adalah level of satisfaction (Y. , extent of rumination (Y. , dan brand switching (Y. , negative emotions (Y. PEMBAHASAN Pengaruh Post Purchase Remorse terhadap Level of Satisfaction Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada pengaruh post purchase remorse terhadap level of satisfaction berpengaruh negatif dan signifikan terhadap level of Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi post purchase remorse yang dialami seseorang, semakin turun pula level of satisfaction yang dirasakan. Begitu pula sebaliknya semakin rendah post purchase remorse yang dialami seseorang, semakin meningkat pula level of satisfaction yang Kekuatan hubungan linier antara post purchase remorse dengan level of satisfaction sebesar -0,73 yang termasuk ke dalam kriteria korelasi sangat kuat. Hasil penelitian ini didukung oleh Heitman dkk . Patrick dkk . , dan Darke dkk . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh negatif dari post purchase remorse dengan level of satisfaction. Dalam penelitian menyebutkan faktor penentu kepuasan sebagian besar berasal pada atribut produk sedangkan perasaan kecewa paska pembelian smartphone disebabkan dalam diri konsumen yang selalu beropini selalu ada merek lain yang sejenis dibandingkan produk yang telah dikonsumsi, jadi bisa disimpulkan apabila pembelian produk smartphone tidak sesuai karena konsumen selalu berpikir tentang produk pembanding yang sejenis maka mempengaruhi kepuasan dalam pembelian sehingga keduanya mempunyai hubungan yang bersifat resiprokal. Pengaruh Post Purchase Remorse terhadap Negative Emotions Berdasarkan hasil pengujian hipotesis mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap negative emotions menunjukkan bahwa semakin tinggi post purchase remorse yang dimiliki seseorang maka semakin tinggi pula negative emotions yang dirasakan oleh konsumen, begitupula sebaliknya semakin rendah post purchase remorse yang dialami Media Mahardhika Vol. No. September 2023 seseorang maka akan semakin menurun negative emotions yang dialami konsumen. Hal ini dibuktikan dengan adanya hubungan linier antara post purchase remorse dengan negative emotions sebesar 0,68 yang termasuk kedalam kriteria korelasi sangat Hasil penelitian ini didukung oleh Bui dkk . , dan Akbari dan Radmand . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dari post purchase remorse terhadap negative emotions karena pada saat melakukan pembelian smartphone konsumen lebih mengerti apa yang diinginkan dan dikonsumsi, sehingga kekecewaan yang muncul setelah melakukan pembelian smartphone cenderung rendah yang dikarenakan sifat perbandingan produk sejenis lain yang ada dalam diri konsumen, maka secara langsung emosi negatif konsumen setelah melakukan konsumsi juga muncul dengan tingkatan yang rendah karena adanya perasaan senang dan bahagia dalam memperoleh smartphone baru dengan atribut produk yang kekinian. Pengaruh Post Purchase Remorse terhadap Extent of Rumination Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menyatakan bahwa post purchase remorse berpengaruh positif dan signifikan terhadap extent of rumination. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi post purchase remorse yang dialami seseorang maka semakin tinggi pula extent of rumination yang dirasakan konsumen, begitu pula ketika semakin rendah post purchase remorse yang dialami maka semakin rendah extent of rumination yang dialami konsumen. Kekuatan hubungan linier antara post purchase remorse dengan extent of rumination sebesar 0,34 yang termasuk dalam kriteria korelasi cukup kuat. Hasil penelitian ini didukung oleh Inman dkk . dan Martin dan Tesser . dan Zeelenberg dan Pieter . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dari post purchase remorse terhadap extent of rumination dikarenakan sudut pandang konsumen mengenai produk smartphone mengenai ada kualitas maka ada harga dimana keduanya saling berhubungan sehingga konsumen lebih mengerti dalam mencari informasi yang cocok mengenai perkiraan karakteristik smartphone mana yang sanggup memenuhi kebutuhannya dalam kegunaan sehari-hari. Kesimpulannya konsumen mengalami kekecewaan pasca pembelian smartphone yang rendah sehingga perasaan konsumen memiliki perasaan negatif paska pembelian smartphone yang dilakukan dengan kategori rendah pula, hal ini yang menjadikan keduanya saling Pengaruh Post Purchase Remorse terhadap Brand Switching Berdasarkan hasil pengujian hipotesis bahwa post purchase remorse berpengaruh positif signifikan terhadap brand switching, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi post purchase remorse yang dialami konsumen maka menyebabkan semakin meningkat brand switching yang dilakukan oleh konsumen untuk kedepannya. Begitu juga sebaliknya semakin rendah post purchase remose yang dialami konsumen maka semakin rendah brand switching yang dilakukan konsumen. Kekuatan hubungan linier antara post purchase remorse dengan brand switching sebesar 0,40 yang termasuk dalam kriteria korelasi cukup kuat. Hasil penelitian ini didukung oleh Inman dan Zeelenberg . Hetts dkk . , dan Krishnamurthy dan Sivaraman . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dari post purchase remorse terhadap brand Hal ini memberikan gambaran ketika konsumen mengalami penyesalan diakibatkan adanya perbandingan produk yang telah dikonsumsi dengan produk sejenis yang dianggap lebih baik, maka konsumen selalu berpikir untuk melakukan hal baru yang bersifat menyenangkan dengan beralih merek dalam melakukan pembelian. Media Mahardhika Vol. No. September 2023 diantaranya membeli produk dengan merek baru sebagai memuaskan rasa penasaran yang ada dalam diri konsumen dari pada mengulang pembelian produk dengan merek yang sama. Pengaruh Negative Emotions terhadap Level of Satisfaction Berdasarkan hasil pengujian hipotesis bahwa negative emotions berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap level of satisfaction. Hal ini menunjukkan baik tinggi maupun rendah negative emotions seorang konsumen saat berbelanja tidak memiliki pengaruh terhadap level of satisfaction yang dimiliki. Kekuatan hubungan linier antara negative emotions dan level of satisfaction sebesar -0,90 yang termasuk dalam kriteria korelasi sangat kuat. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Frijda dkk . Roseman dkk . dan Zeelenberg dan Pieter . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh negatif yang signifikan antara negative emotions dan level of Hal ini menjelaskan bahwa tidak signifikannya pada emosi negatif konsumen terhadap kepuasan dimungkinkan oleh beberapa hal diantaranya terdapat riset mengaitkan kepuasan dengan perceived quality menurut Babakus dkk . dan tidak berkaitan dengan emosi negatif karena ada perbandingan dengan produk yang tidak dibeli, dengan kata lain konsumen bias tetap puas . tau tidak pua. dengan produk smartphone yang dimiliki walaupun konsumen memiliki emosi negatif . tau positi. akibat perbandingan dengan smartphone lain karena kepuasan lebih dipengaruhi oleh kualitas dan bukan dari perbandingannya antar smartphone. Pengaruh Negative Emotions terhadap Extent of Rumination Berdasarkan hasil pegujian hipotesis menjelaskan bahwa negative emotion berpengaruh positif dan signifikan terhadap extent of rumination. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi negative emotions yang ada dalam diri seseorang maka semakin tinggi pula extent of rumination yang Begitu pula sebaliknya semakin rendah negative emotions yang ada maka semakin rendah pula extent of rumination yang dimiliki. Kekuatan hubungan linier antara negative emotions dengan extent of rumination sebesar 0,23 yang termasuk kedalam kriteria korelasi cukup kuat. Hasil penelitian ini didukung oleh Martin dan Tesser . dan Lyubomirsky dan NolenHoekema . yang menyatakan ada pengaruh positif pada negative emotion terhadap extent of ruminaton karena tingkat emosi negative pasca pembelian smartphone tergolong rendah. hal ini memberikan gambaran ketika konsumen telah melakukan konsumsi atas pembelian smartphone pada waktu itu, maka yang dirasakan sebuah smartphone dengan teknologi terkini, sehingga konsumen tidak memikirkan pengalaman buruk dimasa lalu mengenai smartphone saat ini. Pengaruh Level of Satisfaction terhadap Extent of Rumination Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menjelaskan bahwa level of satisfaction berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap extent of rumination. Hal ini memberikan gambaran bahwa semakin tinggi atau rendah level of satisfaction seseorang maka tidak berpengaruh terhadap extent of Kekuatan hubungan linier antara level of satisfaction dengan extent of rumination sebesar 0,16 yang termasuk dalam kriteria korelasi sangat Hasil penelitian ini didukung oleh Bui dkk . dan Akbari dan Radmand . Yang mengungkapkan adanya pengaruh tidak signifikan antara level of satisfaction dengan extent of rumination. Hal ini dapat dijelaskan ketika konsumen merasakan puas Media Mahardhika Vol. No. September 2023 atau tidak puas setelah melakukan keputusan pembelian smartphone yang dilakukan atas penilaian berdasarkan atribut produk, maka konsumen tidak merasakan rumination atau traumatic karena konsumen selalu mencari produk baru dalam perkembangan teknologi smartphone terkini yang ingin dikonsumsi selanjutnya, maka hal ini yang menjadikan keduanya tidak berhubungan. Gambar Full SEM (Structural Equation Modellin. Sumber Data Primer tetap bangga dengan pilihan produk yang telah dikonsumsi. Sedangkan produk yang menjadi pilihan terbaik konsumen saat ini harus menjaga kepercayaan konsumen bahwa produk pilihannya merupakan terbaik dibandingkan produk alternatif sejenis lainnya karena produk pilihannya yang banyak dicari dipasaran sehingga konsumen merasa tidak salah dalam memilih PENUTUP Pemilihan endorser yang sesuai Simpulan dan Saran dirasa perlu karena sebagai gambaran bahwa Terdapat beberapa hal yang perlu produk yang digunakan oleh bintang iklan diperhatikan mengenai dampak post terbaik memberikan dampak pada opini purchase remorse dalam pembelian konsumen mengenai ketepatan dalam smartphone yang dialami oleh konsumen keputusan pembelian. Dan yang terakhir diantaranya yang harus diperkuat mengenai bagaimana perusahaan melayani konsumen aspek penggunaan iklan yang bersifat paska pembelian smartphone dimana reinforcement kepada konsumen yang telah memilih merek tersebut, karena media iklan yang mampu meyakinkan konsumen untuk centre terdekat dengan pelayanan yang Media Mahardhika Vol. No. September 2023 ramah mengenai produk defect. Kerena sejatinya banyak faktor yang harus diperhitungkan oleh perusahaan mengenai post purchase remorse pada kasus smartphone yang notabene merupakan produk berteknologi dengan siklus hidup cenderung pendek dibandingkan produk lain karena perkembangan dan tuntutan jaman semakin berkembang sehingga kehidupan manusia dituntut untuk lebih efektif dan efisien dalam bekerja dan berbisnis, apabila perusahaan mengerti apa yang dinginkan oleh konsumen maka secara langsung akan berdampak pada benefit perusahaan pada kurun waktu jangka pendek dan jangka Hal ini yang nantinya akan meningkatkan profit dan citra perusahaan dimata konsumen akan datang. Riset ini hanya memberikan gambaran mengenai dampak post purchase remorse pada smartphone yang dilakukan pada generasi Y. Maka saran pada penelitian berikutnya bagi akademisi dapat dilakukan pelebaran hasil analisis mengenai dampak kemungkinan yang mampu mempengaruhi post purchase remorse dimana untuk melihat hal tersebut dapat dilakukan pada penelitian dengan objek lain yang dirasa cocok dengan membandingkan dampak yang dihasilkan pada kharakteristik lain dari segi generasi X. Y dan Z yang dilihat dari faktor gender, karakteristik konsumen, perusahaan dan jenis industri pada faktor-faktor siatuasional Sehingga penelitian selanjutnya didapat informasi untuk lebih memperdalam hasil analisis tentang dampak pada variabel post purchase remorse. DAFTAR PUSTAKA