IT-EXPLORE Jurnal Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi ISSN 2828-7940, e-ISSN 2829-1727. DOI: 10. 24246/itexplore. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2026 Journal homepage: https://ejournal. edu/itexplore Klasifikasi serangan malware berbasis citra menggunakan algoritma YOLOv11 Daniel Darren Richardo 1. Theophilus Wellem 2 * 1,2 Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga. Indonesia Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Malware merupakan ancaman keamanan siber yang terus berkembang dan menuntut metode deteksi yang lebih efektif. Sistem deteksi konvensional berbasis signature memiliki keterbatasan dalam mengidentifikasi varian baru mendorong pengembangan pendekatan berbasis deep learning. Penelitian ini mengimplementasikan dan mengevaluasi empat varian algoritma YOLOv11 . , s, m, . untuk klasifikasi malware berbasis representasi visual citra. Dataset yang digunakan terdiri dari 22. 056 citra malware dan benign, yang dibagi menjadi 70% training, 15% validation, dan 15% testing dengan 8 kelas . dware, backdoor, benign, downloader, spyware, trojan, virus, wor. Setiap model dilatih selama 100 epoch dengan batch size 32 menggunakan Google Colab dengan GPU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua varian mencapai akurasi tinggi . ,8%-98,1%) dengan YOLOv11m sebagai model terbaik . ,1%). YOLOv11n menawarkan keseimbangan optimal antara akurasi . ,9%) dan efisiensi . ,5M parameter, 0,3 ms/img inferens. yang ideal untuk aplikasi real-time. Penelitian ini melampaui metode sebelumnya seperti k-NN . ,18%) dan hybrid CNN . ,55%) dengan keunggulan kecepatan inferensi yang sangat superior . ,3-0,9 ms/img vs puluhan hingga ratusan ms/im. , membuktikan efektivitas YOLOv11 untuk deteksi malware yang cepat, akurat, dan scalable. Dikirim: 12 Nopember 2025 Direvisi: 13 Februari 2026 Diterima: 28 Maret 2026 Kata Kunci: Malware. YOLOv11m. Deep Learning. Klasifikasi Citra Keywords: ABSTRACT Malware. YOLOv11m. Deep Learning. Image Classification Malware represents an evolving cybersecurity threat that demands more effective detection methods. Conventional signature-based detection systems have limitations in identifying new variants, driving the development of deep learning-based approaches. This research implements and evaluates four variants of the YOLOv11 algorithm . , s, m, . for malware classification based on visual image representation. The dataset consists of 22,056 malware and benign images, divided into 70% training, 15% validation, and 15% testing across 8 classes . dware, backdoor, benign, downloader, spyware, trojan, virus, wor. Each model was trained for 100 epochs with batch size 32 using Google Colab with GPU support. Results demonstrate that all variants achieve high accuracy . 8%-98. with YOLOv11m as the best performer . 1%). YOLOv11n offers optimal balance between accuracy . 9%) and efficiency . 5M parameters, 0. ms/img inferenc. ideal for real-time applications. This research surpasses previous methods such as K-NN . 18%) and hybrid CNN . 55%) with superior inference speed . 9 ms/img vs tens to hundreds of ms/im. , proving the effectiveness of YOLOv11 for fast, accurate, and scalable malware detection. This is an open access article under the CC BY-SA license IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 Richardo. Wellem Corresponding Author: Theophilus Wellem Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Notohamidjojo 1-10. Salatiga. Indonesia Email: theophilus. wellem@uksw. PENDAHULUAN Ancaman keamanan siber dalam bentuk perangkat lunak berbahaya atau malware menjadi semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi yang pesat . Malicious Software . adalah program komputer yang bertujuan untuk merusak, mengganggu, atau memperoleh akses ilegal ke sistem tanpa sepengetahuan pengguna . Sistem deteksi malware konvensional yang mengandalkan byte pattern . ignature-based detectio. menunjukkan keterbatasan signifikan dalam mengidentifikasi varian malware baru atau yang telah mengalami modifikasi dengan malware yang sudah ada sebelumnya . Kondisi ini mendorong pengembangan metode inovatif yang memanfaatkan teknologi machine learning dan deep learning untuk menutupi kelemahan tersebut. Di antara berbagai pendekatan yang dikembangkan, transformasi file malware menjadi representasi visual dalam bentuk citra yang dianalisis menggunakan teknik computer vision menunjukkan potensi yang signifikan . Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan struktur visual yang unik dari setiap jenis malware sebagai dasar identifikasi. Algoritma You Only Look Once (YOLO) telah terbukti sebagai salah satu metode deteksi objek paling efektif dalam bidang computer vision . YOLOv11 yang merupakan salah satu algortima terbaru dari keluarga YOLO, menghadirkan berbagai penyempurnaan signifikan dalam aspek akurasi dan efisiensi komputasi dibandingkan dengan versi-versi sebelumnya . Meskipun berbagai pendekatan deep learning berbasis Convolutional Neural Network (CNN) telah menunjukkan performa yang baik dalam klasifikasi malware berbasis citra, sebagian besar penelitian terdahulu masih menghadapi keterbatasan pada latensi inferensi yang relatif tinggi. Keterbatasan ini menjadi kendala utama dalam penerapan sistem deteksi malware secara real-time, terutama pada lingkungan jaringan dan sistem yang menuntut respons cepat. Oleh karena itu, diperlukan model yang tidak hanya akurat, tetapi juga mampu melakukan inferensi secara cepat dan efisien. YOLOv11 dipilih dalam penelitian ini karena arsitektur terbarunya, seperti blok Cross Stage Partial Kernel Size 2 (C3K. dan modul Spatial Pyramid PoolingAeFast (SPFF), dirancang untuk mengekstraksi fitur spasial secara efisien pada citra bertekstur kompleks. Karakteristik ini menjadikan YOLOv11 sangat relevan untuk citra malware yang bersifat abstrak dan tidak menyerupai objek natural. Selain itu, model YOLOv11 tersedia dalam lima varian: n . untuk efisiensi maksimal pada perangkat terbatas, s . untuk keseimbangan optimal, m . untuk akurasi lebih tinggi, l . untuk performa superior, dan x . xtra-larg. untuk akurasi maksimal dengan kebutuhan komputasi tertinggi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas empat varian YOLOv11 . , s, m, . dalam klasifikasi citra malware dan benign dari dataset Malware Benign Image Classification Dataset, menganalisis trade-off antara akurasi dan efisiensi komputasi dari masing-masing varian, serta mengidentifikasi model yang paling sesuai untuk berbagai skenario deployment menggunakan pembagian dataset dengan proporsi dataset 70% untuk training, 15% untuk validation, dan 15% untuk testing. Sementara secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sistem deteksi malware dengan akurasi tinggi dan efisiensi yang optimal, memberikan solusi aplikatif bagi organisasi dalam meningkatkan keamanan infrastruktur teknologi informasi, serta menjadi dasar bagi pengembangan sistem deteksi malware secara real-time di masa depan. KAJIAN PUSTAKA Malware merupakan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk merusak atau memperoleh akses ilegal pada sistem komputer . Jenisnya sangat beragam dengan mekanisme serangan yang berbeda-beda, dan setiap jenis malware memiliki cara kerja serta tujuan yang khas dalam menyerang sistem. Sebagai contoh, virus mampu mereplikasi diri dan menginfeksi file lain, sedangkan worm dapat menyebar otomatis melalui jaringan tanpa memerlukan host file. Trojan biasanya menyamar sebagai aplikasi sah untuk menipu pengguna, sementara ransomware mengenkripsi data korban dan meminta tebusan. Selain itu, spyware berfungsi mencuri informasi pribadi, adware menampilkan iklan yang mengganggu, dan backdoor Richardo. Wellem IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 memberi akses ilegal berkelanjutan bagi penyerang . Keragaman karakteristik tersebut menjadikan deteksi malware sebagai permasalahan yang kompleks dalam bidang keamanan siber. Metode deteksi malware telah berkembang dari pendekatan konvensional menuju teknik berbasis pembelajaran mesin. Pendekatan berbasis pola atau pattern . ignature-based detectio. efektif untuk malware yang sudah dikenal, namun tidak berlaku untuk mengenali varian baru atau malware yang telah dimodifikasi . Analisis heuristik mencoba mengatasi hal ini dengan mendeteksi perilaku mencurigakan, tetapi sering menghasilkan tingkat kesalahan . alse positiv. yang cenderung tinggi . Keterbatasan metode ini mendorong pengembangan metode berbasis machine learning dan deep learning yang dapat mempelajari pola kompleks pada komputer secara otomatis tanpa campur tangan manual. Salah satu pendekatan inovatif adalah mengubah file biner malware menjadi representasi visual dalam bentuk citra grayscale atau RGB. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Nataraj dkk. mengonversi setiap byte dari file executable menjadi nilai piksel sehingga terbentuk pola visual khas untuk setiap keluarga malware . Pendekatan berbasis citra memungkinkan pemanfaatan teknik computer vision tanpa memerlukan proses reverse engineering manual serta dilaporkan memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap variasi kode lokal. Penelitian lanjutan juga menunjukkan bahwa representasi citra berbasis perilaku runtime relatif lebih stabil terhadap teknik obfuscation dan polymorphism, karena perubahan kode lokal tidak selalu mengubah pola spasial global citra secara signifikan . Dalam konteks ini, arsitektur deep learning yang mampu mengekstraksi fitur spasial global, seperti YOLOv11, menjadi relevan karena dapat menangkap pola distribusi visual utama yang tetap konsisten meskipun terjadi modifikasi kode lokal akibat obfuscation atau polymorphism. Pada penelitian ini, konversi malware menjadi citra tidak dilakukan melalui pemetaan byte satu dimensi ke dua dimensi secara langsung. Sebaliknya, citra dibentuk berdasarkan representasi perilaku runtime malware yang diperoleh melalui analisis dinamis menggunakan Cuckoo Sandbox. Urutan pemanggilan API dan argumennya diekstraksi dan diproses menggunakan pendekatan n-gram untuk menghasilkan vektor fitur Vektor ini kemudian dinormalisasi ke rentang 0Ae255 dan dipetakan ke dalam matriks dua dimensi dengan ukuran tetap. Dengan demikian, variasi ukuran file biner tidak memengaruhi struktur spasial citra input, sehingga setiap sampel malware direpresentasikan secara konsisten dan dapat dibandingkan antar Pada konteks klasifikasi malware berbasis citra, berbagai arsitektur deep learning telah diterapkan dengan hasil yang menjanjikan. Venkatraman dkk. mengembangkan pendekatan hybrid deep learning berbasis CNN yang mencapai akurasi 96,55% . Penelitian ini membuktikan bahwa deep learning mampu mengekstrak fitur visual secara hierarkis tanpa proses feature engineering manual. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya menggunakan CNN konvensional yang memerlukan waktu inferensi cukup lama sehingga kurang ideal untuk aplikasi real-time. Algoritma YOLO menjadi solusi potensial karena merupakan metode deteksi objek single-stage yang mampu melakukan prediksi dalam satu forward pass melalui jaringan . Keunggulannya terletak pada kecepatan dan efisiensi, menjadikannya ideal untuk sistem klasifikasi real-time. Versi terbaru. YOLOv11, membawa peningkatan signifikan melalui arsitektur backbone baru dengan blok Cross Stage Partial Kernel Size 2 (C3K. dan modul Spatial Pyramid Pooling Ae Fast (SPFF) yang meningkatkan ekstraksi fitur multiskala serta konteks spasial . Meskipun awalnya algortima ini dirancang untuk deteksi objek, kemampuan ekstraksi fiturnya yang kuat membuat YOLOv11 sangat potensial untuk melakukan tugas klasifikasi malware berbasis citra. Berdasarkan kajian terhadap penelitian-penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa meskipun pendekatan klasifikasi citra malware telah menunjukkan performa yang baik, masih terdapat celah penelitian pada aspek efisiensi komputasi dan latensi inferensi untuk mendukung aplikasi real-time. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi lebih lanjut terhadap arsitektur deep learning yang mampu memberikan keseimbangan antara akurasi dan efisiensi komputasi. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengevaluasi performa beberapa varian YOLOv11 dalam tugas klasifikasi citra malware dan benign. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen untuk menguji performa pada empat varian algoritma YOLOv11 (YOLOv11n. YOLOv11s. YOLOv11m, dan YOLOv11. dalam klasifikasi malware berbasis citra. Untuk menjaga reproducibility, seluruh eksperimen dijalankan dengan menetapkan random seed 42 pada proses pembagian data dan inisialisasi model. Tahapan penelitian ditunjukkan pada Gambar 1, dimulai dari menyiapkan dataset, preprocessing, training model, evaluasi hasil, hingga testing. IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 Richardo. Wellem Gambar 1: Tahapan penelitian Dataset yang digunakan berasal dari Malware Benign Image Classification Dataset dengan total 22. citra malware dan benign . Dataset ini terdiri dari beberapa kategori malware, antara lain adware, trojan, virus, worm, spyware, backdoor, dan downloader, serta kategori benign. Distribusi data untuk masing-masing kelas ditunjukkan pada Gambar 2. Untuk menjaga konsistensi dan keseimbangan data, setiap kelas dikurangi secara acak sebesar 50% sehingga diperoleh distribusi yang lebih terkontrol. Pengurangan dataset sebesar 50% dilakukan secara acak dan proporsional pada setiap kelas untuk mengatasi ketidakseimbangan data, khususnya pada kelas benign yang memiliki jumlah sampel lebih Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi bias model terhadap kelas mayoritas, meningkatkan generalisasi model, serta menekan beban komputasi selama proses training tanpa menghilangkan karakteristik utama dari masing-masing kelas malware. Dataset yang digunakan dalam penelitian ini kemudian dibagi menggunakan metode stratified sampling dengan proporsi 70% untuk training . 718 citr. , 15% untuk validation . 654 citr. , dan 15% untuk testing . 655 citr. Tahap preprocessing dilakukan dengan mengubah ukuran citra menjadi 224y224 piksel agar sesuai dengan kebutuhan input model YOLOv11. Selain itu, citra dinormalisasi secara otomatis melalui pipeline default YOLO. Pada penelitian ini, data augmentation tidak diperlukan karena variasi data sudah mencukupi untuk proses pembelajaran model. Gambar 2: Distribusi data masing-masing kelas pada dataset Setiap varian YOLOv11 dilatih selama 100 epoch dengan batch size 32, learning rate 0. 001, dan optimizer AdamW. Selama proses pelatihan, model secara otomatis menyimpan weights terbaik berdasarkan kinerja Proses ini dilakukan menggunakan Google Colab dengan dukungan GPU, dengan total waktu komputasi sekitar 7 jam. Evaluasi model dilakukan pada data validasi dan data uji menggunakan metrik akurasi, precision, recall, dan F1-score. Selain itu, confusion matrix digunakan untuk menganalisis distribusi prediksi tiap kelas. Dari sisi efisiensi, setiap model juga dievaluasi berdasarkan jumlah parameter, ukuran model. GFLOPs, dan waktu inferensi per citra. Perbandingan hasil antar varian digunakan untuk menganalisis trade-off antara akurasi dan efisiensi komputasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengimplementasikan dan mengevaluasi empat varian model YOLOv11 (YOLOv11n. YOLOv11s. YOLOv11m, dan YOLOv11. untuk klasifikasi malware berbasis citra. Setiap model dilatih menggunakan dataset yang terdiri dari 7. 718 citra training, 1. 654 citra validation, dan 1. 655 citra testing dengan 8 kelas yang berbeda yaitu adware, backdoor, benign, downloader, spyware, trojan, virus, dan Analisis Performa Model Evaluasi terhadap keempat varian YOLOv11 memperlihatkan akurasi yang sangat tinggi untuk klasifikasi malware berbasis citra, yaitu berkisar antara 97,8% hingga 98,1% seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Model YOLOv11m mencatat akurasi tertinggi 98,1%, disusul YOLOv11n . ,9%). YOLOv11l . %), dan YOLOv11s . ,8%). Hasil ini menunjukkan bahwa transformasi file malware menjadi representasi visual memberikan karakteristik yang dapat dipelajari dengan baik oleh model deep learning. Pendekatan deep learning telah terbukti menjadi teknik yang menjanjikan dalam berbagai metode deteksi malware . Richardo. Wellem IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 Tabel 1 Perbandingan Antar Model Model Accuracy Precision Recall F1-Score Params GFLOPs YOLOv11n YOLOv11s YOLOv11m YOLOv11l Inference . s/im. Untuk metrik precision, recall, dan F1-score, semua model menunjukkan konsistensi yang sangat baik dengan nilai di atas 0,984. YOLOv11s dan YOLOv11l mencapai precision dan recall tertinggi dengan nilai 0,9852 dan 0,9849, sementara YOLOv11n dan YOLOv11m mencatat nilai yang sedikit lebih rendah tetapi masih sangat kompetitif dengan nilai 0,9847 dan 0,9843. Konsistensi tinggi pada semua metrik evaluasi ini mengindikasikan bahwa model mampu mengenali pola visual yang unik dari setiap jenis malware dengan sangat baik, serta memiliki robustness tinggi terhadap variasi data . Analisis Proses Training Gambar 3 menunjukkan kurva training dan validation loss serta accuracy selama 100 epoch pelatihan untuk keempat varian YOLOv11. Semua model berhasil mencapai konvergensi dengan stabil, ditandai dengan penurunan loss yang konsisten hingga mendekati titik jenuh. Model YOLOv11n dan YOLOv11s konvergen lebih cepat dan mulai mencapai plateau pada epoch 60Ae70, sedangkan YOLOv11m dan YOLOv11l memerlukan waktu lebih lama tetapi menghasilkan loss akhir yang lebih rendah Ai menandakan kemampuan pembelajaran yang lebih dalam. Gambar 3: Grafik hasil training IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 Richardo. Wellem Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dataset yang digunakan berasal dari Malware Benign Image Classification Dataset dengan total 22. 056 citra malware dan benign. Dataset ini terdiri dari beberapa kategori malware, serta kategori benign. File malware Windows Portable Executable (PE) pada dataset ini tidak digunakan secara langsung dalam bentuk biner mentah. Dataset yang digunakan telah melalui proses konversi perilaku malware menjadi representasi citra berbasis API-call yang disediakan oleh sumber Setiap sampel malware dianalisis secara dinamis menggunakan Cuckoo Sandbox untuk mengekstraksi urutan pemanggilan API beserta argumennya selama eksekusi runtime. Informasi API-call tersebut kemudian diproses menggunakan pendekatan n-gram untuk membentuk vektor fitur numerik yang merepresentasikan pola perilaku malware. Vektor fitur ini dinormalisasi ke dalam rentang nilai 0Ae255 dan dipetakan ke dalam bentuk matriks dua dimensi sehingga menghasilkan citra grayscale berukuran awal 128y128 piksel. Selanjutnya, seluruh citra dilakukan proses resizing menjadi 224y224 piksel menggunakan interpolasi bilinear tanpa penerapan padding atau cropping tambahan. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan ukuran citra dengan kebutuhan input model YOLOv11. Analisis Confusion Matrix Berdasarkan confusion matrix yang ditunjukkan pada Gambar 4, semua model menunjukkan kemampuan klasifikasi yang sangat baik dengan tingkat kesalahan klasifikasi yang minimal pada seluruh kelas. Modelmodel ini menunjukkan kemampuan yang konsisten dalam membedakan antara kelas malware dan benign, serta mampu membedakan antar jenis malware yang berbeda dengan akurasi tinggi. Distribusi prediksi pada diagonal utama confusion matrix menunjukkan tingkat true positive yang sangat tinggi untuk semua kelas, dengan intensitas warna yang dominan pada diagonal mengindikasikan klasifikasi yang akurat. Gambar 4: Confusion matrix tiap varian YOLOv11 Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa kesalahan klasifikasi yang muncul umumnya terjadi pada kelas yang memiliki kemiripan visual, seperti antara virus dan worm, atau antara trojan dan backdoor. Hal ini dapat dijelaskan karena beberapa jenis malware memiliki struktur biner dan pola visual yang mirip, kondisi tersebut menyebabkan tumpang tindih fitur spasial pada citra malware, sehingga model mengalami kesulitan dalam membedakan kedua kelas tersebut secara konsisten, khususnya pada sampel dengan karakteristik perilaku yang saling mendekati. Namun demikian, tingkat kesalahan tersebut tergolong sangat Richardo. Wellem IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 kecil dan tidak berdampak signifikan pada performa keseluruhan. Selain itu, hampir tidak ditemukan kesalahan antara kelas malware dan benign, menandakan kemampuan model yang sangat baik dalam membedakan file berbahaya dari file sah . Perbandingan performa antar versi YOLO menunjukkan konsistensi dalam kemampuan deteksi dengan trade-off yang jelas antara akurasi dan kecepatan . Efisiensi Komputasi dan Trade-off Analisis efisiensi komputasi menunjukkan adanya trade-off yang jelas antara akurasi dan kompleksitas YOLOv11n sebagai model terkecil dengan 1,5M parameter dan 3,2 GFLOPs menunjukkan waktu inferensi tercepat yaitu 0,3 ms/img, namun tetap mempertahankan akurasi yang sangat tinggi sebesar 97,9%. Pendekatan alternatif seperti Graph Neural Network (GNN) juga menunjukkan potensi dalam klasifikasi malware berbasis similarity . YOLOv11s dengan 5,4M parameter dan 12,0 GFLOPs memberikan keseimbangan yang optimal antara performa dan efisiensi dengan waktu inferensi 0,5 ms/img. Model ini menawarkan compromise yang baik untuk aplikasi yang membutuhkan akurasi tinggi namun tetap mempertimbangkan efisiensi komputasi. Sementara itu. YOLOv11m dan YOLOv11l meskipun memiliki parameter yang lebih besar yakni 10,3M dan 12,8M, hanya memberikan peningkatan akurasi yang marginal namun dengan peningkatan waktu inferensi yang signifikan menjadi 0,8 ms/img dan 0,9 ms/img. Hal ini menunjukkan bahwa untuk aplikasi praktis, model yang lebih kecil dapat memberikan hasil yang sebanding dengan efisiensi yang jauh lebih Evaluasi Model Pada Data Testing Evaluasi visual pada data testing menunjukkan bahwa sebagian besar prediksi model memiliki confidence score di atas 0,95, yang mengindikasikan model memiliki tingkat keyakinan tinggi dalam memprediksi hasil proses klasifikasi. Hasil evaluasi pada data testing ditunjukkan pada Gambar 5. Pada konteks implementasi nyata, prediksi dengan confidence score di bawah ambang batas tertentu, misalnya 0,90, dapat ditandai sebagai prediksi berisiko dan diarahkan ke tahap analisis lanjutan menggunakan metode dynamic Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan keandalan sistem deteksi malware dengan meminimalkan risiko kesalahan klasifikasi pada prediksi dengan tingkat keyakinan rendah. Selain itu, analisis terhadap sampel hasil prediksi menunjukkan bahwa model mampu mengklasifikasikan berbagai jenis malware dengan benar bahkan pada kasus-kasus yang secara visual memiliki pola yang kompleks atau noise yang tinggi. Gambar 5: Hasil testing pada model YOLO IT-EXPLORE Vol. No. Hal 232-240 Richardo. Wellem Pada kasus kesalahan prediksi, nilai confidence cenderung menurun . ekitar 0,85Ae0,. , menandakan adanya ambiguitas pada pola visual yang dianalisis. Hal ini dapat dimanfaatkan dengan menetapkan ambang batas . tertentu sebagai indikator prediksi yang memerlukan verifikasi manual atau analisis tambahan. Pada implementasi nyata, sistem dapat dikonfigurasi untuk memberikan alert atau meminta konfirmasi dari metode deteksi lain apabila confidence score di bawah nilai ambang. Secara keseluruhan, hasil testing visual ini memvalidasi performa kuantitatif yang telah diukur sebelumnya dan menunjukkan bahwa model tidak hanya akurat secara statistik tetapi juga reliable dalam aplikasi praktis dengan berbagai variasi input . Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya dalam bidang klasifikasi malware berbasis citra. Nataraj dkk. yang menggunakan algoritma kNearest Neighbor berhasil mencapai akurasi 97,18% . , sementara Venkatraman dkk. dengan pendekatan hybrid CNN mencapai akurasi 96,55% . Penelitian ini berhasil melampaui kedua hasil tersebut dengan akurasi tertinggi 98,1% menggunakan YOLOv11m, menunjukkan superioritas arsitektur YOLOv11 dalam tugas klasifikasi malware berbasis citra. Keunggulan yang paling signifikan dari penelitian ini terletak pada efisiensi waktu inferensi yang sangat cepat, yaitu berkisar antara 0,3 hingga 0,9 ms/img, jauh lebih cepat dibandingkan metode CNN konvensional. Kombinasi antara akurasi tinggi dan efisiensi komputasi yang unggul, menjadikan sistem ini sangat potensial untuk diterapkan dalam deteksi malware otomatis berbasis machine learning pada lingkungan sistem nyata. SIMPULAN DAN SARAN Implementasi dan evaluasi empat varian YOLOv11 dalam penelitian ini memberikan hasil yang sangat baik dan memuaskan untuk klasifikasi malware berbasis citra. Keempat varian mencatat akurasi tinggi pada rentang 97,8% hingga 98,1%, di mana YOLOv11m meraih performa paling tinggi . ,1%), disusul YOLOv11n . ,9%). YOLOv11l . %), dan YOLOv11s . ,8%). Nilai precision, recall, dan F1-score di atas 0,984 pada semua model membuktikan konsistensi dalam mengenali pola visual malware. Transformasi malware menjadi representasi visual terbukti efektif sebagai input untuk deep learning, melampaui penelitian sebelumnya yang menggunakan K-NN . ,18%) dan hybrid CNN . ,55%). Penelitian ini mengidentifikasi trade-off jelas antara akurasi dan efisiensi komputasi. YOLOv11n menawarkan keseimbangan optimal dengan akurasi 97,9%, parameter 1,5M, dan waktu inferensi 0,3 ms/img, ideal untuk aplikasi real-time dan edge computing. YOLOv11m memberikan akurasi tertinggi namun dengan kompleksitas lebih besar . ,3M parameter, 0,8 ms/img inferens. , cocok untuk sistem yang mengutamakan presisi maksimal. Analisis training menunjukkan tidak ada overfitting signifikan, dan evaluasi visual mengonfirmasi reliability model dengan confidence score mayoritas di atas 0,95. Pendekatan YOLOv11 terbukti superior dalam kecepatan inferensi . ,3-0,9 ms/im. dibanding CNN konvensional . uluhan hingga ratusan ms/im. , menjadikannya sangat cocok untuk deteksi malware realtime di lingkungan produksi. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan eksplorasi dataset yang lebih besar dan beragam untuk meningkatkan generalisasi model, evaluasi terhadap deteksi zero-day malware dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan anomaly detection atau open-set recognition, mengingat model YOLO pada dasarnya bersifat closed-set dan hanya mampu mengenali kelas malware yang telah dilatih sebelumnya . Pengembangan sistem hybrid yang mengombinasikan analisis visual dengan pendekatan static dan dynamic analysis juga berpotensi meningkatkan keandalan sistem dalam menghadapi variasi malware modern . Dari sisi implementasi praktis, pengembangan API dan integration framework dapat mempermudah adopsi sistem dalam infrastruktur keamanan siber yang telah ada. DAFTAR PUSTAKA